Time Boils The Rain

Untitled-1

Scriptwriter : Liana D. S. | Fandom : EXO | Main Casts : Kim Jongdae (EXO Chen), Wu Yi Fan | Support Casts: Kim Minseok (EXO Xiumin), Kim Joonmyun (EXO Suho), Byun Baekhyun | Duration : Oneshot (3K+ words) | Genre : Friendship, w/ chara development | Rating : General

“Waktu terus berputar, menguapkan hujan deras yang memberatkan langkah. Ketika hujan reda, ada bintang berpendar di salah satu langit—dan naga api akan terbang di langit yang lain.”

***

[Disclaimer] Lirik lagu ‘What is Love’, Time Boils The Rain’, dan ‘The Best Luck’ adalah milik penulisnya masing-masing.

***

Kim Jongdae melewati setahun masa trainee dengan lancar. Debut yang ia nantikan tiba juga tanpa perlu ia kejar-kejar. Bermodalkan suara emas, Jongdae menginjakkan kaki di panggung showcase—

sebagai Chen.

“Tunggu,” Beberapa minggu sebelum showcase, Jongdae mendapat berita mengejutkan, “J-jadi, grup ini terbagi dua? Subgrup Korea dan Mandarin seperti Super Junior? Dan aku masuk subgrup Mandarin?”

“Begitulah informasi yang kuterima. Jongdae, kau dan Minseok-hyeong akan bergabung dengan empat member Cina di subgrup itu. Kau juga akan menyanyikan lagu berbahasa Mandarin nantinya, jadi mulai sekarang, kau harus belajar bersama Minseok-hyeong.

Oh, padahal Jongdae terlanjur dekat dengan Joonmyun, pemuda yang barusan bicara itu. Joonmyun ditunjuk menjadi pemimpin subgrup Korea, sayangnya, dan Jongdae anggota subgrup Mandarin. Maka, mereka berdua akan terpisah.

Pemimpin subgrup Mandarin adalah seorang pemuda berbadan besar berkaki panjang dengan kontur wajah tajam. Rupawan secara keseluruhan, tetapi juga menyeramkan. Semua anggota takut padanya, termasuk anggota subgrup Korea. Mungkin, lebih tepatnya bukan takut yang mereka rasakan. Pernahkah kalian bertemu seseorang yang sangat tinggi, sangat tampan, dan sangat diam, lalu kalian menciut seperti tikus karena kesan yang ia ciptakan? Seperti itulah gambaran suasana pertemuan para member dengan pemimpin subgrup Mandarin ini. Dia tak tergoyahkan bagai patung batu, tak tersentuh bagai guci porselen antik di museum.

Sang pemimpin bukan orang yang Jongdae pilih untuk didekati pertama kali dalam subgrupnya. Ada Kim Minseok, teman ‘sebangsanya’, yang bersikap seperti kakak lelaki sungguhan. Pemuda berlesung pipit juga baik sekali, namanya Zhang Yi Xing. Tak lama, Jongdae pun dekat dengan si muka bayi (berusia ratusan tahun) Lu Han karena Jongdae dan flower boy satu ini sama-sama vokalis utama di subgrup. Huang Zi Tao, adik termuda dalam subgrup (tetapi berwajah paling mengancam), masih sulit didekati karena si magnae tidak banyak bicara, melankolis, dan kadang cengeng. Walaupun tidak dekat, Jongdae tetap menyayangi Zi Tao seperti adik kandung, mengingat anak itu meninggalkan kampung halaman di usia belia dan butuh banyak kasih.

Alasan lain Jongdae tidak dekat dengan Zi Tao adalah karena sang adik termuda dekat dengan pemimpin subgrupnya.

Sebagai anggota subgrup Mandarin, Jongdae mengikuti showcase dan serangkaian kegiatan promosi single debut mereka, ‘MAMA’, di Cina. Itu artinya, Jongdae tidak akan pulang ke dorm di Korea. Artinya pula, itu malam pertamanya di dorm Cina, dengan rekan sekamar yang sudah ditentukan manajer. Siapa lagi kalau bukan si leader naga api?

Jongdae menatap punggung Kris, pemimpinnya, dengan debaran yang aneh.

Orang ini besar betul… Takut…

“Chen?”

Glk! “Y-ya, Kris-hyeong?”

“Kenapa memandangiku?”

Bahkan suara berat pria muda Guangzhou ini mengintimidasi Jongdae. “Tidak… tidak ada apa-apa… Maaf, aku cuma kecapekan, jadi kurang konsentrasi.”

Kris diam. Ia membuka pintu kamar, lalu masuk dengan Jongdae di belakangnya. Setelah meletakkan barang-barang, Jongdae berniat mandi, tetapi kemudian ia ingat leadernya. “Hyeong, mau pakai kamar mandi duluan?”

“Tidak. Pakai saja. Aku akan lama nanti.”

“Aku bisa menunggu.”

Kris berlutut di samping kopornya dengan earphone  terpasang di salah satu telinga, ujung lain tertancap di MP3 player. Seraya membuka kopor, ia berkata, “Duluan saja, Chen.”

Jongdae membuka pintu kamar mandi dengan perlahan. Matanya belum berpindah dari Kris—yang sibuk mengeluarkan aneka rupa produk perawatan kulit. Itu mau dipakai semua?

Pantas saja dia sangat tampan.

“Kau bilang apa tadi?”

O-oh. Tampaknya, Jongdae keceplosan. “Bukan hal penting! Aku mandi dulu!”

Usai mandi dan berganti pakaian yang lebih nyaman, Jongdae merapikan alat-alat mandinya dan melompat ke tempat tidur. Kegiatan promosi di Cina lumayan padat, jadi waktu istirahat sangat berharga bagi para member. Meski yah… Jongdae tak tahu bagaimana malam ini akan terlewati dengan naga yang tidur di sampingnya.

Omong-omong, selain menyeramkan, Kris juga membangkitkan rasa penasaran. Pemuda itu tidak benar-benar dekat dengan para anggota; Zi Tao hanya menganggapnya kakak yang baik, pelindung yang hebat, dan tukang traktir. Selesai. Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupannya sebelum trainee, apa passionnya, genre musik apa yang ia suka…

Hei.

Mumpung Kris-hyeong masih di kamar mandi, cek MP3 playernya, ah… Barangkali ada lagu bagus…

Memastikan Kris tidak keluar dalam waktu dekat, Jongdae merangkak menuju player Kris. Di playlistnya, banyak lagu hip-hop berbahasa Inggris, beberapa lagu bahasa Mandarin. Lagu yang diputar Kris sebelum masuk kamar mandi terpause. Hanya satu lagu itu yang menemani Kris sepanjang perjalanan pulang, terlihat dari indikator ‘ulang satu’. Jongdae termenung membaca judul lagu itu. Kenapa Kris-hyeong mendengarkan ini terus-menerus?,  batinnya, memasang earphone dan memainkan lagu.

“I lost my mind when you walk into my sight

The whole world around you get in slow motion

Please tell me if this is love

Love is everywhere, it makes me forget pain, share sadness, learn to care

Still able to embrace after fighting and crying

Please tell me if this is love.” (EXO Lu Han and Chen – What is Love)

Rasanya agak ganjil menemukan lagu macam ini di playernya Kris, apalagi diputar berulang.

“Mau pinjam playerku?”

Deg!

“Whoa!” Buru-buru Jongdae mencopot earphone, mempause lagu, dan menyerahkan player pada pemiliknya, “Ma-maafkan aku, Hyeong! Aku cuma penasaran apa isi playlistmu… Maafkan aku…”

Di luar dugaan, Kris tidak menyemburkan api atau melempar Jongdae ke angkasa. “Tak masalah.” ucapnya tenang, kembali menikmati musik. Jongdae berbaring miring di ranjangnya sendiri, menatap sang pemimpin.

Hyeong, kau masih mendengarkan ‘What is Love’?”

“Hah?” Kris melepas earphone di telinga kirinya.

“Apa kau mendengarkan ‘What is Love’?”

“Ya.”

“Kenapa kau mendengarkannya?”

“Kenapa?” Dahi Kris berkerut, “Aku menyukainya.”

“Kau… menyukai lagu semacam itu?” tanya Jongdae tak percaya.

“Aku sedang suka suara para main vocal, terutama kau,” Kris akhirnya mengaku, “Suaramu kuat seperti Baekhyun, tetapi… ah, entah. Pokoknya, aku lebih suka suaramu.”

Jongdae jadi malu. Tak disangka, naga terbang yang digilai fangirl ini adalah penggemarnya, jeruk kecil yang ‘tidak begitu tampak’ di grup (kecuali kalau hampir mencapai nada tinggi). “Eh, hehe… terima kasih, Hyeong… Suaraku biasa saja, kok…”

Keheningan menggantung antara Jongdae dan Kris kemudian. Jongdae tenggelam dalam pikirannya sendiri sembari terus mengamati Kris. Terlepas dari segudang produk perawatannya, Kris memang memiliki pesona alami yang sulit ditolak. Coba Jongdae punya pesona macam itu juga. Fansnya pasti akan bertambah secara eksponensial.

“Suaramu merdu sekali, Chenchen. Seandainya saja aku bisa sepertimu…”

Telinga Jongdae berdiri.

Kris—

ingin menjadi ‘bayangan’ sepertinya?

“Hahaha, Hyeong, ada-ada saja kau. Sudah kubilang, suaraku ini biasa saja,” kata Jongdae, “Kau sudah cukup keren dengan posisimu sebagai visual, rapper, dan leader EXO-M! Lagipula, kalau kau jadi aku, kau akan kehilangan semua penggemarmu.”

Kepahitan tersamar dalam suara Jongdae.

Semua member tentu ingin memiliki banyak penggemar. Sebutlah mereka rakus, tetapi sebenarnya, mereka hanya mengharapkan perhatian yang sepadan dengan kerja keras mereka. Sekarang, di antara dua belas anggota grup ini, beberapa tidak mendapat perhatian yang pantas dari fans, salah satunya Jongdae.

Kris mematikan musiknya, melepas earphone, dan berbaring telentang. “Tidak mungkin seseorang dengan kemampuan vokal sehebat dirimu sedikit penggemar,” ujarnya sebelum memejamkan mata, “Jangan khawatir. Kita baru debut. Seiring waktu, lead vocal EXO ini akan dikenal orang. Percayalah.”

Bagaimana cara Kris menyebut Jongdae sebagai lead vocal EXO (secara keseluruhan, bukan –K atau –M saja) melambungkan hati Jongdae.

“Tambahan. Betulkan lagi pengucapan Mandarinmu yang jelek itu. Aku yakin penggemarmu akan bertambah.”

“Yah, Kris-hyeong!”

***

Video musik ‘Wolf’ dan ‘Growl’, lagu baru EXO, agak berbeda dengan video musik grup lain dalam agensi ini karena disajikan dalam dua versi: dance dan drama. Di versi drama, beberapa member mendapat spotlight dengan berakting. Mereka adalah Lu Han, pemeran utama minidrama ini, Jongin alias Kai si pemeran pembantu utama, Kyungsoo alias D. O. (siapa yang bisa lupa akting kesakitannya setelah dihajar Lu Han?), dan Kris di pembuka dan penutup minidrama.

Sedangkan Jongdae masihlah lead vocal yang berebut high note  dengan Baekhyun, lead vocal  EXO-K, usai EXO-K dan EXO-M berpromosi bersama.

“Kris-hyeong seram amat, sih. Kau seperti serigala yang sedang mengamuk di adegan penutup itu.” komentar Jongdae. Kris tersenyum—pemuda itu kini bersikap lebih santai dengan para member. “Itu artinya aktingku bagus.”

“Dasar narsis!”

Namun, di dalam hati, Jongdae semakin mengagumi Kris. Sudah leader, rapper, visual, bisa akting, lagi. Ketika satu siang Jongdae mengakui kekagumannya ini, yang dipuji hanya tertawa kecil. “Itu bukan apa-apa. Nanti kau juga akan mendapat giliran.”

“Kau menghinaku? Mana bisa aku berakting?”

“Maksudku giliran untuk tampil lebih. Kau tidak tahu kesuksesan Yesung-sunbaenim gara-gara suaranya? Sama denganmu. Akan tiba saatnya kau benar-benar bersinar. Kau ‘kan Chen: bintang. Mana mungkin redup?”

Jongdae tertunduk. Ia ragu saat itu akan datang selama ia tidak semenawan Kris.

“Tunggulah, Jongdae, dan kau akan mendapat sorotan yang pantas kau dapatkan. Kau tahu, kau lebih pantas disorot dibanding aku, mengingat bakat vokal juga kesabaranmu selama ini.”

Entah perasaan Jongdae atau bagaimana, ketika Kris menepuk bahunya, ada keletihan yang mengintip dari balik mata elang itu.

***

Usaha keras berbuah manis, kata orang. Jongdae percaya itu setelah ‘Miracle in December’ dirilis. Itulah ‘sorotan’ yang Kris bilang. Sebelumnya, lagu-lagu spesial main vocal EXO tidak benar-benar ngehits. Sekarang, Jongdae bersama Baekhyun, Kyungsoo, dan Lu Han menjadi pusat apresiasi para pecinta musik, sementara yang lain hanya ‘numpang lewat’ di video musik. Zi Tao mungkin sedikit lebih populer setelah berakting menangis dengan penuh penghayatan di video musik, tetapi yang lain sama saja.

Terlepas dari perannya di ‘Miracle in December’, Kris maju lebih cepat.

Iseng, Jongdae dan Baekhyun menonton Kris menjadi pembawa acara musik berbahasa Inggris. Saat Kris kembali ke dorm, Baekhyun langsung menertawainya. “Gayamu canggung sekali, Hyeong!”

“Diam, Baek!”

Yang ditegur tidak takut, malah lari seperti setan kecil.

Setelah Baekhyun pergi, Jongdae segera meredakan tawanya dan meluruskan apa yang mungkin dipikirkan Kris mengenai tawa itu. “Kris-hyeong, aku kira kau bagus sekali untuk MC pemula, apalagi kau membawakan acara dalam bahasa asing. Hebat, Hyeong!”

“Begitu menurutmu? Syukurlah. Aku tahu aku perlu banyak belajar, tetapi ditertawakan si bacon rasanya tidak enak,” Kris tersenyum kikuk, “Dalam waktu dekat ini, aku akan jadi MC lagi. Aku harus banyak berlatih.”

“Jadi iri. Kau sudah mencoba semuanya: jadi model, visual, leader, rapper, MC, akting… tapi kau belum pernah jadi center koreografi atau menyanyi ballad, ‘kan?”

“Akan kucoba jika sempat. Kau, dong, jadi visual sesekali. Kau lebih bagus dari si bacon cerewet itu.”

Jongdae tergelak. Posisi visual sangat menggiurkan, tetapi setelah dipikir-pikir, ia sudah cukup diperhatikan sebagai lead vocal. Tidak perlu menjadi yang lain lagi; dia bukan orang yang haus screentime. Lagipula, menjadi seorang multitalenta agak melelahkan.

Lihat saja Kris.

Sang pemimpin subgrup belum sampai ke tahap multitalenta itu, tetapi dia telah menjajal berbagai jenis pekerjaan atas perintah agensi. Sejak muncul sebagai sosok leader tampan EXO-M, Kris ditarik ke sana kemari dan itu mungkin melelahkan buat dia. Dengan screentime lumayan banyak, berpasang mata tertuju padanya, melayangkan pujian atau cercaan sesuka-suka. Perhatian kadang menyakitkan—dan menjadi anggota bayangan macam Jongdae lebih baik dalam beberapa waktu.

Ketika Jongdae bertanya apakah Kris tidak gerah dengan semua kasak-kusuk itu, Kris menggeleng. “Apapun omongan orang, hidup kita ditentukan oleh diri kita sendiri. Selain itu, kalau melihatmu, aku jadi tidak bisa memprotes apa yang terjadi padaku.”

“Kenapa?”

“Soalnya kau tangguh sekali,” Ketakjuban terpancar jelas dalam tatapan Kris, “Masa traineemu berat, debutmu makin berat, dan bakatmu belum juga mendapat tempat yang patut setelah setahun ini, tetapi kelihatannya kau baik-baik saja. Makanya, aku sangat salut padamu.”

“Ah, tidak,” Jongdae mengusap-usap tengkuknya malu, “Di ‘Miracle in December’, aku sudah menunjukkan kemampuan vokalku. Itu cukup, kok.”

“Kau pantas didebutkan solo, kalau menurutku.”

“Kau juga pantas main film seperti Kyungsoo, kalau menurutku.”

Sunyi beberapa lama.

“Jadi,” Kris terkekeh, “kurasa kita hanya perlu berjuang sedikit lagi untuk meraih cita-cita itu. Benar, Jongdae?”

Sudut bibir Jongdae yang tegas terangkat manis. Jalan di dunia ini agak terjal, tetapi mengingat kemudahan yang datang baru-baru ini, optimisme muncul lagi ke permukaan.

***

Overdose’ mengejutkan fans EXO karena beberapa hal. Salah satunya…

“Tunggu. Apa yang ngedance setelah ‘come in’ di versi EXO-M adalah Sehun?”

“Itu Kris, bodoh!”

“Kris? Kris?! KRIS?! Ngedance di pembukaan?”

…adalah karena Kris.

Hyeong, akhirnya ambisimu untuk jadi lead dancer terwujud juga.” canda Jongdae usai pembuatan video musik. Kris memitingnya. “Apa maksudmu? Jadi center koreo itu tugas berat! Kalau melakukan kesalahan sedikit saja, hancur semuanya! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Jongin dan Yi Xing yang setiap album selalu jadi center.”

“Yang penting kau berusaha untuk ngedance  sebaik mungkin.”

“Tapi memang seharusnya Sehun yang mengisi posisiku di awal itu. Dia berlatih keras dan berhasil dapat spotlightnya—dia boleh mengambil punyaku juga kalau mau.”

“Jangan suram begitu,” Jongdae menyikut Kris di punggung, “Sehun memang dancer yang hebat, tetapi kalau yang hebat-hebat terus mengisi satu posisi, sisanya akan malas berlatih, ‘kan?”

Gummy smile Kris terbit. “Iya, sih.”

“Nah, sekarang satu-satunya posisi yang belum kau coba adalah posisiku,” celetuk Jongdae, “Latihan vokalmu harus digiatkan lagi. Aku mau menemanimu.”

Kris mengacak-acak rambut Jongdae. “Terima kasih atas tawarannya, Jeruk.”

***

Konser tunggal setelah kurang lebih dua tahun debut tergolong dini untuk sebuah grup dari agensi ini—tetapi grup Jongdae itu pengecualian. Bertajuk ‘The Lost Planet’, konser ini akan menampilkan dua belas alien tampan dari planet luar tata surya. Para alien kini mengenakan jas hitam untuk pemotretan poster konser. Wajah mereka berseri-seri, tak sabar menampilkan kebolehan mereka, baik secara kelompok maupun individu, untuk menghibur penggemar.

“Keren! Keren! Akhirnya, kita punya konser tunggal sendiri!” Jongdae berucap girang pada pemuda jangkung di sampingnya sambil mematut-matut penampilan di cermin, “Hyeong, gosipnya mereka akan memberimu porsi menyanyi solo! Hebat, ‘kan? Kau harus menyanyi lebih baik dibanding saat duet dengan Lay-hyeong untuk ‘Rainbow’!”

Sayang, perasaan Jongdae tidak bersambung dengan Kris. Hati Kris tidak berada tempat itu, tergambar dari anggukannya yang hampa.

Hyeong?

Eoh? Ehm… ya, ya, aku akan latihan vokal dengan keras jika itu benar.” Kris tersenyum, tetapi senyumnya lain. Sangat lain.

Senyum itu menyakiti Jongdae, entah mengapa.

***

Seminggu sebelum konser, Jongdae mengetahui apa arti senyum terakhir Kris.

Senyum itu adalah senyum perpisahan.

Dorm hancur-lebur. Semua frustrasi, marah, benci pada pemimpin subgrup Mandarin yang pergi ketika impian terbesar mereka bersama nyaris terkabul. Ia pergi tanpa pesan, meninggalkan tanggung jawab. Bahkan rekan kerjanya, sang pemimpin subgrup Korea, sangat kecewa padanya. Zi Tao si magnae  Cina lebih sedih lagi. Leader berkhianat! Leader kejam! Kris, tidak, orang yang keluar itu bukan leader kita lagi! Kata-kata magnae terngiang di telinga Jongdae sepanjang malam.

Penggemar terpecah belah. Banyak orang berkelesak-kelesik semaunya, menduga-duga. Ada yang bilang orang itu dibatasi oleh agensi, sehingga marah dan pergi. Ada yang bilang dia sakit parah. Ada yang bilang (baca: menuduh) bahwa anggota grup menindasnya. Ada yang bilang dia dimanfaatkan oleh media massa untuk menjatuhkan agensi.

Tapi mereka yang mengatakan itu bukan Tuhan; mereka tidak mampu mengungkap isi hati orang. Alasan orang itu menghentikan kontrak tentu terkunci jauh dalam hatinya sendiri, bukan?

Jongdae diam saja, tidak membuat pernyataan atau mengirimkan tanda apapun pada penggemar seperti beberapa member, meski sama kesakitannya. Ia memilih mendatangi kamar Minseok, kakak yang lama tak dikunjunginya. Pemuda bermuka bulat itu kebetulan sekamar dengan sang naga—dan sepeninggal naga itu, kamar ditempati Minseok seorang.

“Sepi, ya, Hyeong.” Jongdae tertawa getir. Minseok tersenyum tipis menanggapinya. “Iya, sepi.”

Ketenangan Minseok sedikit membuat jengah Jongdae. “Roommatemu pergi dan kau bersikap seolah tak ada apa-apa?” tanyanya, suaranya meninggi.

“Lalu bagaimana baiknya?”

Baiknya? Baiknya pemuda yang bisa terbang itu tinggal, setidaknya sampai—ralat, tak ada ‘setidaknya’. Jongdae ingin orang itu selamanya di sisinya. Di sisi sepuluh member lainnya.

“Jongdae-ya, kita tidak sempat bersedih. Istirahat kita saja kurang karena harus berlatih dengan formasi baru untuk semua lagu kita. Mari kita kesampingkan pikiran tentang hal ini sementara dan fokus pada konser. Gagal bukan pilihan, meski sebelas orang tidak akan pernah cukup untuk mengisi dua belas posisi. Paham?”

“Ya… Hyeong.”

Minseok menghembuskan napas panjang. Itu tadi jawaban paling logis yang mampu ia berikan, tetapi bukankah Jongdae tidak menuntut jawaban logis saat ini?

“Tidurlah di kasur Duizhang jika kau mau. Kalau mau cerita, ceritalah; aku dengarkan.”

Jongdae menatap nanar langit-langit kamar setelah berbaring di kasur (mantan) pemimpinnya yang bergelar ‘Duizhang’ itu.

***

“Aku tidak akan pernah latihan vokal dengan Kris-hyeong karena dia sudah ‘mati’, Xiumin-hyeong.”

***

Tiga bulan berlalu.

“Kau pantas didebutkan solo, kalau menurutku.”

Biarpun bukan official debut, EXO Chen akhirnya menyanyi solo untuk original sound track sebuah drama. Tiga menit lebih diisi oleh suara beningnya saja—dan penggemarnya bertambah.

Chen merasa langkahnya tidak seberat dulu.

“Kau tidak tahu kesuksesan Yesung-sunbaenim gara-gara suaranya?”

Chen tahu. Chen tahu rasanya sukses setelah menyeret kaki melewati badai. Air mata dan keringat dikeringkan oleh waktu yang menguatkan. Hujan telah berhenti, setidaknya bagi Chen, dan melodi pelangi mengalun setelahnya.

Hari ini satu lagu. Lalu satu lagi besoknya. Lagi, lagi, dan aku akan lebih bercahaya.

“Kau ‘kan Chen: bintang? Mana mungkin redup?”

Di dorm, Chen memasang earphone, mendengarkan satu lagu dari orang yang sangat dihormatinya. Reinkarnasi sang naga api yang meninggalkan planetnya sebelum sempat menyanyi bersama Chen.

“You said that you would not part with me

and that we would be together forever

Now I want to ask you

Was it just a kid’s babble?

I did not have the heart to cheat you in our green days

Neither did I betray you at our young & stupid ages

Oh, the heavy snow, please do not erase the traces of our past

Oh, the heavy snow must not be able to erase the memory we left to each other

 What date is today? Green grasses are thick

The bright moon accompanies you a thousand miles away

Such as the autumn wind up in the coming year.”

Di player, tertera judul ‘Time Boils The Rain’.

Apa lagu ini menggambarkan perasaannya yang sebenarnya merindukan kami? Atau ia ingin meminta maaf secara tersirat karena menyakiti kami?

Chen tertawa sendiri. Mana mungkin ada sesuatu sedalam itu di balik original sound track film Cina yang ia dengarkan saat ini?

Yah, terlepas dari makna lagu itu sesungguhnya, Chen tetap bahagia mendengarkan suara si penyanyi.

“Nah, yang belum pernah kau coba adalah posisiku.”

Sekarang ‘posisi’ Chen juga sudah dicoba oleh naga itu.

Chen telah berpendar sebagai satu bintang di langit—

—dan naga api melanglang buana di langit yang lain.

***

“Di awal kepergianmu, aku sangat sakit, Duizhang, tetapi kini, apapun alasanmu meninggalkan kami, aku memaafkanmu. Tentu aku memaafkanmu setelah kau berjuang bersamaku sekian lamanya. Walaupun tak bisa melihatmu, kuharap kau bahagia di bawah langit yang lain. Kenangan tentangmu tak akan terhapus—

—Wu Yi Fan.”

***

Pria berwajah kebarat-baratan yang sedang mendengarkan musik melalui earphone itu berbalik, yakin sekali seseorang memanggilnya. Ternyata, tidak ada siapa-siapa di belakang. Pria itu melangkah lagi, tetapi berhenti tak seberapa jauh dari tempat semula. Ia menengadah.

Satu bintang berpendar di langit malam yang menaunginya.

Desau angin menghantarkan suara dari earphone si pria ke suatu tempat yang jauh.

***

“Pertemuan denganmu adalah keberuntungan bagiku. Aku senang kita bisa bersinar bersama, meski di langit yang berbeda. Hujan sudah terhapus dari hatimu, bukan?

Kim Jongdae?”

***

“My love, I miss you
It’s destiny, you can’t avoid it
Every day I’m so lucky
I want to confess my hidden heart, I love you.”

(EXO Chen for OST ‘It’s Okay, That’s Love’ – The Best Luck)

***

TAMAT

Author’s notes: Ini adalah FF gagal move on. Biarlah. Susah move on dari You-Know-Who satu ini. 

Ide ini muncul ketika aku sadar bahwa Kakak Kri–eh, Mas Wu ini sudah nyoba berbagai posisi di EXO, tetapi main vocal belum sempat dijajal. Dan yah, ternyata dia mendapatkan posisi itu setelah sudah keluar.

Hehe, aku nggak bermaksud membuat siapapun menangis di sini *siapa yang nangis*

Tetap tersenyum, Guys! ChenFan aja senyum ke kalian! XD

10387959_525890084200115_1634368994_a

Advertisements

8 thoughts on “Time Boils The Rain

  1. AAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK~~ SERIUS INI BIKIN GALAU BERAT T__T
    Ini kasus wyf udah berapa lama sik dan masih kerasa ‘nyes’ kalau liat foto exo ot10. Kangen banget sama ot12 apalagi TaoRis :”) Liriknya Time Boils The Rain itu sebenarnya agak ‘menjurus’ ya, apalagi wyf juga punya andil bikin lirik. Gatau lah apa maksudnya LOL

    Kece banget, Kak. Enak banget buat dibaca. Love this! ❤

    Liked by 1 person

    1. nah kan jatuh lagi satu korban gara2 FF ini….
      iya menjurus, tapi itu wyf ikut bikin lirik juga? kalo ‘there is a place’ sih iya.
      aku juga suka TaoRiiiiiis ya ampun… padahal sejak EXO-K n M nyatu Tao seringnya sama Suho, Baek, n Sehuna…
      makasih udah baca ^^

      Like

  2. Four tumb for you, Li #yang 2 lagi minjem Xiumin.

    Jarang banget yah, nemu feel ChenKris, dan kamu berhasil membuatnya.

    How pity Chenzi, dy di awal dulu emang kayak tenggelam, dikalahin sama pesonanya KrisHan. But now, dy bersinar. Ya, mana ada bintang yang redup.

    Ini akunya alhamdulilah kaga nangis cirambaiyan, hahay, udh bs move on kok.
    Jujur dlu wktu Kris out aq g trlalu suka sama dy pasca out nya dr exo, krn apa ya,,, aq kalo liat muka gantengnya yang dingin jd trkesan arogan gtu, seakan-akan dy lupa dlu di exo dy syp, but tempo2 ada kalanya kangen juga sama keabsurdan dy wktu sama exo. Life is a choise lah, ada kalanya qt emang g sanggup brhadapan sm yg namanya perpisahan. Apalagi stlh baca catching glow-mu, ngobatin kangen sm galaxy satu ini.

    Ditunggu sangat MAMA NYA UMINNIEE..

    Like

  3. Makasi kak uda buat aku nangiss 😥
    Pengen deh kalo kris buat jumpa fans di indonesia aku dateng *kalohargatiketnyamurah* terus aku nanyka ke dia ‘kamu bahagia? Kamu nggak kangen sama adik adik kamu? Kamu nggak rindu suasana ribut di drom dulu? Kenapa kamu ninggalin adikmu yang jelas jelas butuh kamu? Kamu kok gitu sih?’
    Pengen gitu nanyak kek gitu ke dia 😥
    Duh gagal move on lagi akunya 😥

    Like

  4. Kyaaaa… Momentumnya pas banget karena aku abis nonton movinya Kris: Never Gone.
    Meskipun bukan fan EXO, tapi aku cukup tau EXO gegara Showtime yang 12 episode itu. Dan… Sedih emang ketika Kris tau-tau keluar..
    Hmmm… Suka ama lirik-lirik yang diselipkan dan punya arti yang caem… Trus nyambung aja ama storynya..
    Yuupp… Bener banget! Debut Chen jadi solois trus dapet lagu yang oke-oke… Aaah… suaranya.. Kalo lagu Kris malah belum tau…
    Hm… Jadi kangen ama mereka bertiga sekarang.. Hehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s