[Riddle] Their Morning

riddle

by Liana D. S.

Main Casts : f(x)’s Victoria (Song Qian)| Support Casts: EXO’s Lay (Zhang Yi Xing), EXO’s Tao, Wu Yi Fan, Lu Han | Duration : Ficlet (830 words) | Genre : Family w/ a small Riddle | Rating : General

Song Qian memiliki empat putra. Ricuh? Tidak! Pagi mereka sama saja dengan pagimu.”

***

“Xing, bangunkan semuanya! Bagaimana sih, sudah jam segini masih belum siap?” teriak Song Qian yang sedang menyeterika seragam pada Yi Xing, anak lelakinya yang ketiga. Si lesung pipit terbengong sebentar di depan wajan, berpikir.

Tapi aku masih menggoreng telur. Bagaimana caranya memanggil Lu-ge, Fan-ge, dan Tao ke sini?

Tidak segera mendapat respon dari Yi Xing, Song Qian menengok ke dapur. Dilihatnya Yi Xing termenung di depan kompor seraya memegang wajan. Song Qian menghembuskan napas panjang; pasti Yi Xing sedang kambuh.

Penyakit lambat berpikir itu memang sulit disembuhkan.

“Diletakkan dulu wajannya, lalu kamu cepat ke atas. Tidak apa-apa, biar Mama yang masak.”

Senyum cerah terbentuk di wajah Yi Xing setelah Song Qian memberikan solusi atas ‘masalah pelik’ yang ia hadapi. “Baiklah, Ma. Titip telurnya, ya.”

Yi Xing buru-buru beranjak ke lantai dua. Suaranya yang lucu menggema di lorong. “Lu Han-ge! Wu Fan-ge! Taozi! Ayo bangun, mandi, dan sarapan! Aku sudah selesai dari tadi, kenapa kalian bangun saja sulit?”

Song Qian geli. Yi Xing itu, biar berteriak sekencang apapun, tetap terdengar seperti orang mengantuk.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanya ada bunyi langkah kaki dan pintu dibuka-tutup. Seseorang akhirnya turun setelah Song Qian meletakkan sepiring sarapan, telur-nasi-sosis-sayuran, dan segelas susu di atas meja.

Mama, makan…”

Zi Tao si bungsu boleh jadi berwajah paling garang di antara empat bersaudara, tetapi dialah yang paling kekanakan. Lihat, dia turun ke ruang makan sambil mengusap-usap mata dan perutnya. Masih ingin tidur, rupanya, tetapi terlalu kelaparan untuk menolak aroma sarapan.

“Itu, makan saja semuanya,” Song Qian menunjuk piring, “Tadi Yi Xing-ge yang buat. Nanti kau harus bilang terima kasih.”

“Iya. Kebetulan hari ini aku akan mengajaknya membeli gantungan kunci unicorn, tetapi aku yang membayar.”

“Memberi hadiah itu bagus sekali. Kamu memang anak baik.” Song Qian mengecup pipi si panda (karena kantung mata Zi Tao lumayan tebal seperti mata panda; ini memang bawaan sejak lahir). Zi Tao tersenyum senang karena diberi ciuman selamat pagi oleh ibunya. Wajah si seram berubah manis sekarang. Menurut Song Qian, pesona dua sisi ini pasti menjadi alasan banyaknya gadis muda yang mengerubungi rumah tempo hari.

“Jadi, bagaimana turnamen wushumu, Tao?”

“Tao terus berlatih untuk pertandingan itu. Aku optimis akan kemenangannya.”

Alangkah terkejutnya Song Qian karena tahu-tahu, anak keduanya sudah duduk di depannya, menjawab pertanyaan yang seharusnya untuk Zi Tao.

Wu Fan adalah figur kakak sekaligus ayah di keluarga ini. Sejak ayahnya meninggal, Wu Fan mengambil alih tugas pria itu, meringankan beban Song Qian. Kepemimpinannya ini terbawa sampai sekolah, membuatnya tampak lebih matang dari usianya. Plus, ia mampu memainkan cello dengan baik, sehingga fans Wu Fan jelas tidak sedikit.

“Ah, Fan, omong-omong, bagaimana latihanmu? Apa tidak apa-apa melanjutkannya dengan jari mengapal begitu?”

Walaupun selama ini bersikap dewasa, diam-diam Wu Fan juga mengharapkan perhatian. Terbukti, biar samar, keceriaan khas anak-anaknya muncul usai sang ibu bertanya.

“Jariku sudah sembuh, kok,” Wu Fan menunjukkan jemari yang terbiasa memetik dawai; kelimanya baik-baik saja, “Daripada Mama mencemaskanku, lebih baik cemaskan saja Lu Han. Permainannya ‘kan lebih keras.”

Benar. Lu Han, kembaran Wu Fan yang lebih mungil, adalah anggota klub sepak bola. Tentu kontak fisiknya akan lebih intens dibanding Wu Fan yang masuk klub musik. Seingat Song Qian, Yi Xing kemarin melapor bahwa Lu Han terjatuh cukup keras di lapangan.

“Sebentar, ya. Mama akan memeriksa luka Lu Han dulu.”

Song Qian melongok ke bawah meja. Tanpa peringatan, diangkatnya celana seragam sang putra hingga sebatas lutut. Ada luka yang mengering di balik celana itu.

Si empunya kaki tentu saja kaget.

“Apa yang Mama lakukan?”

Satu suara halus memasuki telinga Song Qian. Ini bukan suara berat Wu Fan yang membuat semua wanita bertekuk lutut. Suara ini semanis suara Yi Xing, sekekanakan suara Zi Tao, dan selembut suara Song Qian sendiri.

Benar saja.

Song Qian kembali ke posisi duduknya semula dan mendapati si sulung, Lu Han, di seberang meja, lengkap dengan ekspresi terkejutnya.

“Jangan lakukan itu. Aku pria dan Mama wanita; bukankah kita punya batasan?”

Lu Han itu unik. Dia laki-laki tulen, tetapi Song Qian iri dengan kecantikannya. Suara dan gerak-geriknya begitu kalem, kontras dengan kepribadiannya di lapangan sepak bola: ambisius, keras, dan cerdas. Ia berpikiran sama dewasa dengan Wu Fan, tetapi tak jarang, sikap manjanya mengalahkan Zi Tao. Mengakunya maskulin, tetapi ia juga mengadaptasi beberapa ‘batasan’ yang biasa dimiliki wanita—termasuk dilarang menaikkan celana seenaknya seperti yang Song Qian lakukan.

“Maaf, deh. Tak usah malu begitu, Mama hanya ingin lihat luka di kakimu. Syukurlah sudah menutup,” Song Qian tersenyum, telapaknya bertumpuk menyangga dagu, “Nah, nah, cepat habiskan sarapannya, lalu berangkat. Sudah jam tujuh, lho.”

“Jam tujuh? Gawat, aku harus latihan jam setengah delapan!” Lu Han mempercepat makannya, hampir saja ia tersedak. Lepas makan, ia melesat untuk mencuci piring, lalu menyambar tas dan mencium pipi ibunya.

“Aku berangkat, Ma!”

“Jangan lari-lari, Lu! Nanti perutmu kram!”

“Ya, Ma! Sampai jumpa!”

Setelah Lu Han mengeluarkan satu-satunya sepeda di rumah, ia mengayuh sekencang mungkin, tidak ingin terlambat.

“Hati-hati!” Song Qian melambai dengan semangat, meski Lu Han tidak berbalik lagi demi membalas lambaiannya.

***

Pagi Song Qian dan empat putranya baru saja dimulai.

***

TAMAT

Aku sangat tertarik dengan FF riddle yang dicetuskan oleh salah satu SC IFK di sini (aka Kak Nyun aka bapkyr). Akhirnya riddle2 pun bermunculan, tetapi yg ori dari pencetusnya yang aku paling suka *aku sider biasanya soalnya gak bisa nebak, lagian apa juga yg mau dicomment soalnya udah bagus penulisannya *dikemplang *ampuni saya Kak. Makanya aku pingin coba bikin satu. Kurasa lain kali aku bakal bikin Creepypasta yang dicetuskan Mizuky aka aviforszumi, salah satu FF yg digemari juga.

Tapi entahlah.

Karena INI RIDDLE APAAAA? …Ini terlalu mudah.

Temen-temen, maafkan aku, kurasa aku gagal menyuguhkan riddle yang seriddle2nya. *apa sih* Ini lebih tepatnya disebut cerita yang ambigu. Multi-terjemah. Clue nggak mencukupi. Anyway. Menurut kalian, sebenarnya anak-anak Vic-ahjumma ini kenapa? Silahkan dijawab di kolom comment… Aku ingin lihat apa persepsi kita sama ^^

 

Advertisements

10 thoughts on “[Riddle] Their Morning

  1. aahh ga bisa nebak pada akhirya.. cm ngerasa aneh dengan sarapan yg cuma 1 n diabisin Tao terus pas tiba2 periksa luka Luhan pdhl yg lg diajak ngomong kan Kris.

    pas baca their night baru deh kejawab hehehe… keren keren.. 🙂

    Like

    1. hehe iya, byk juga yg bingung waktu baca riddle ini (aku ngepost di indofanfictkpop juga soalnya). kurasa aku g pandai bikin riddle, jadi sekalian aja kubikin jawabannya karena sebenernya aku pingin nulis ttg psikologi si Luhan…
      anyway, thanks for reading! ^^

      Like

  2. wah.. Krn aku udah baca their night duluan jadi yaa ga bertanya2 lagi.. Tapi seru juga kali kalo punya teman macam luhan.. Haha

    Like

  3. ini alter ego bukan? gangguan kejiwaan yang dalam satu tubuh bisa ada 2 atau dalam kasus ini empat jiwa?? maaf deh kalau gak bener^^ masih calon mahasiswa psikologi (AMIN)
    oh ya salam kenal ya buat kamu liana, namaku fin, glad to read your fict^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s