Their Night

riddle

Scriptwriter: Liana D. S.

f(x)’s Victoria (Song Qian), Lu Han, OC Lu Han’s father

ft. Wu Yi Fan, EXO’s Lay (Zhang Yi Xing), and EXO’s Tao (Huang Zi Tao)

Vignette (1,9K+ words), Family, Psychology, slight!Supranatural, Teen and Up

answer of [Riddle] Their Morning, read this first if you don’t mind 🙂

Terinspirasi dari kisah Billy Milligan, pria dengan 24 kepribadian. Tidak ada kepentingan komersial apapun dari penulisan FF ini.

Awalnya, Song Qian mengira putra semata wayangnya, Lu Han, bisa melihat hantu.

***

Awalnya, Song Qian mengira putra semata wayangnya, Lu Han, bisa melihat hantu.

Mama… aku boleh minta tolong?” tanya Lu Han kecil malu-malu pada Song Qian di suatu sore, “Ambilkan buku bergambar di rak yang atas…”

Tumben sekali Lu Han membaca buku bergambar. Biasanya anak itu menenggelamkan diri dalam ensiklopedia sastra, bacaan yang menurut anak ‘normal’ usia empat tahun membosankan karena cenderung monokrom. Yah, Lu Han memang sedikit unik.

“Kamu mau baca apa? ‘Pemanah Matahari’? ‘Sepuluh Bersaudara’? Atau…”

‘Kisah Kelinci dan Rusa’,” pinta Lu Han, “Yi Xing menyukai gambarnya, tetapi tidak bisa membacanya. Aku akan mengajarinya membaca nanti.”

Dahi Song Qian berkerut, tetapi kemudian ia tersenyum kembali. Ia menyerahkan buku pada anaknya yang manis itu dan bertanya, “Siapa Yi Xing? Temanmu?”

Lu Han memeluk bukunya dengan gembira.

“Adikku.”

Setelah itu, Lu Han berlari kecil ke kamar dan menutupnya dari dalam.

Song Qian menghela napas, berpikir. Ia yakin anaknya hanya satu, maka Lu Han tak mungkin punya adik.

Lalu siapa Yi Xing?

Kata ibu-ibu tetangga, anak-anak mampu melihat apa yang tidak dilihat orang dewasa. Song Qian bergidik. “Apa saya harus memanggil seseorang untuk mengusir ‘apa yang tidak bisa dilihat’ itu?” tanyanya, tetapi tetangga depan rumahnya menggeleng seraya tertawa. “Kau bilang Lu Han bicara dengan anak-anak, bukan? Hantu anak-anak ‘kan tidak menyakiti, jadi biarkan saja.”

“Benar. Dukun-dukun kadang membuat hantunya takut. Hantu yang ketakutan bisa lho menyerang manusia tiba-tiba.”

“Iya, Qian. Lebih baik dekati saja anakmu dan ajak dia bermain bersama lebih sering!”

Song Qian mengikuti saran terakhir ini, tetapi seberapapun seringnya ia bermain dengan Lu Han, ‘teman’ Lu Han tak pernah absen dari pembicaraan. Nama Yi Xing selalu disebut, bahkan kini, ada dua nama lagi: Wu Fan dan Zi Tao. Lu Han menyebut Wu Fan sebagai kembarannya, sedangkan Zi Tao dijulukinya ‘adik panda’.

“Lalu… lalu… Wu Fan bilang dia melihat biola yang besar sekali di majalah sekolah…”

“Lu Han, boleh Mama potong ceritamu?” sela Song Qian. Lu Han mengangguk, bingung. Song Qian tidak pernah menghentikan ceritanya secara mendadak begini.

“Lu Han… Maaf ya, tetapi setiap kamu bermain, Mama tidak melihat Yi Xing, Wu Fan, atau Zi Tao. Orang lain juga tidak melihat. Karena itu, tolong jangan menyebut nama mereka lagi. Mereka tidak ada.”

Manik coklat Lu Han melebar.

“Kalau kamu terus bicara dengan mereka, teman-temanmu akan menganggapmu aneh.“

“Mereka ada!!!” teriak Lu Han, matanya berkaca-kaca, “Mereka saudaraku yang selalu mau bermain denganku, tidak seperti teman-teman di sekolah yang terus mengerjaiku! Wu Fan selalu melindungiku kalau aku dikasari. Yi Xing mengusap air mataku dan Zi Tao memelukku. Bagaimana Mama bisa bilang mereka tidak ada?”

Setiap diperingatkan tentang kesemuan tiga adik khayalannya, Lu Han pasti menangis, tetapi karena malu, ia membekap wajahnya sendiri dengan bantal di dalam kamar supaya isaknya tidak terdengar. Kalau sudah begini, Song Qian harus berjaga 24 jam supaya Lu Han tidak menyakiti dirinya sendiri. Hari berikutnya, Lu Han akan sakit kepala dan muntah-muntah, kadang demam, lalu mengigau dalam tidur.

Igauannya pun aneh.

“Sudah, Lu. Kami tak akan muncul jika Mama tidak mau. Istirahatlah…”

“Lu Han-ge, jangan menangis…”

“Lu-ge tidur saja, aku akan menemanimu…”

Kalimat-kalimat semacam ini keluar dari bibir mungil Lu Han ketika ia sakit saja, jadi untuk menghindarinya, Song Qian tidak lagi membahas tiga adik Lu Han secara mendalam. Ia hanya meminta Lu Han untuk ‘menyembunyikan’ tiga adiknya di sekolah. Lu Han menyetujui. Teman-teman Lu Han yang nyata bertambah banyak dan Song Qian pikir, masalah selesai.

Ternyata belum.

***

Pintu rumah Song Qian didobrak tengah malam itu. Song Qian, yang setengah tertidur di sofa ruang tengah sambil memeluk Lu Han, seketika terbangun. Ia membangunkan Lu Han yang sudah lelap.

“Lu, masuk kamar, ya. Baba pulang.”

Mendengar itu, Lu Han gemetar. Ia buru-buru turun dari pangkuan ibunya dan berjalan terhuyung ke kamar, lalu mengunci diri di dalam.

“Kenapa kau baru pulang sekarang?” sambut Song Qian dingin.

“Kenapa kau peduli, hm? Apa kau merindukanku?”

Lu Han benci mendengar suara pria itu. Ayahnya jelas mabuk berat lagi. Dalam hati, Lu Han berdoa agar ayahnya tidak melukai siapapun seperti malam sebelumnya.

“Berhentilah. Kau hanya menghamburkan uang saja, padahal biaya hidup kita terus naik. Ingat, Lu Han akan masuk SD bulan depan.”

“Aku hanya ingin bersenang-senang setelah lelah mencari uang, pahamilah itu!”

“Kau tidak mencari uang sama sekali. Akulah yang mencarinya, sadarkah kau?”

Terdengar bunyi botol dihantamkan ke tembok hingga pecah. Lu Han menjauhkan daun telinganya dari pintu, lalu menyurukkan kepala ke bawah bantal. Dirapatkannya gumpalan kapuk itu ke telinga, tetapi teriakan marah ayahnya masih bisa masuk. Suara itu diikuti jerit Song Qian, bunyi benturan yang getarannya sampai kamar Lu Han, dan bunyi benda tajam bergesekan dengan kayu.

Bunyi yang terakhir membuat Lu Han terlompat dari tempat tidur.

Pasti ayahnya menarik pisau dari rak!

Mamaaa!!!

Jika saja Song Qian tidak memberontak dari suaminya yang menjambak rambutnya, maka pasti ia tak selamat. Pisau dapur yang dibawa suaminya menancap pada dinding. Rambut Song Qian patah beberapa helai di tangan suaminya, tetapi dibanding itu, ia jauh lebih peduli pada Lu Han.

“Lu, masuk kamar!”

Mama!” Bukannya menuruti perintah Song Qian, Lu Han malah berlari ke dapur. Ia memeluk Song Qian erat-erat.

“Hei, Bocah, mengurusmu benar-benar menghabiskan uangku,” kekeh pria yang tengah mengacungkan pisaunya di hadapan Lu Han, “Lebih baik kau mati saja!”

Tanggap, Song Qian balik merangkul Lu Han, menghindarkan Lu Han dari maut, tetapi itu melukai lengannya. Wanita itu mendesis kesakitan. Darah dari lengan atasnya mengalir, menetes ke lantai. Warna merah itu membangkitkan emosi yang sangat kuat dalam diri Lu Han. Air matanya turun, tetapi ia tidak terisak sedikitpun. Ia menurunkan tangan ibunya dan mengambil pisau lain dari rak. Ditancapkannya pisau itu ke paha ayahnya. Pria itu jatuh, sehingga Lu Han, yang sudah memperkirakan ini, dapat menusuk jantungnya lebih mudah.

Crat!!!

Seluruh tubuh Song Qian disergap dingin yang menggigit. Darah suaminya menggenang di sekitar tubuh yang sudah kaku. Di depan tubuh itu, Lu Han berdiri, tangannya masih menggenggam pisau. Baju, tangan, dan mukanya ternoda merah. Merah gelap.

Mama, panggil polisi.”

Suara Lu Han tak pernah serendah ini sebelumnya, membuat Song Qian ragu. Benarkah anak lelaki bersurai hitam itu putranya?

“Lu—“

“Aku bukan Lu Han. Dia sudah kusuruh pergi ke tempat yang aman.”

Tatapan tajam itu, meskipun berasal dari mata Lu Han, jelas bukan miliknya.

Aku Wu Fan.”

Song Qian menelan ludahnya sulit. Nama itu adalah nama salah satu adik khayalan Lu Han…

tetapi kenapa Lu Han yang menyebutkannya?

Keganjilan Lu Han berlanjut di kantor polisi, saat ia dimintai keterangan.

“Tolong jangan penjarakan Wu Fan-ge. Dia hanya berusaha melindungi Mama dan Lu Han-ge, Pak Polisi.”

Song Qian tahu, anak lelaki yang duduk di depan meja polisi pasti bukan Lu Han, juga bukan Wu Fan.

“Tenang, Nak. Kami hanya akan menanyakan beberapa hal padamu,” Ucapan sang polisi tidak menenangkan sama sekali, sebenarnya, “Siapa namamu?”

“Yi Xing.” Lu Han menjawab mantap.

***

Kepolisian meminta bantuan dokter jiwa untuk memeriksa Lu Han dan hasil yang keluar mengejutkan Song Qian. Wanita itu mengira diagnosis Lu Han adalah gangguan jiwa sementara karena stres, atau apalah yang lain, yang akan segera hilang.

Bukan gangguan disosiatif.

Orang mengenal gangguan ini sebagai kepribadian ganda, tetapi rasanya istilah itu kurang tepat untuk Lu Han karena anak itu memiliki empat jiwa dalam tubuhnya.

Dokter mengatakan bahwa Lu Han sudah lama mengalami hal ini, tetapi tidak separah sekarang. Guncangan emosi hebat membuatnya benar-benar ‘memecah’ diri dan tidak terkontrol. Dulu, kepribadian Lu Han yang lain akan muncul sesekali, misalnya jika dia sedang dikasari oleh anak-anak di taman bermain atau saat dimarahi Song Qian. Kini, kepribadian itu muncul sewaktu-waktu tanpa peringatan. Empat kepribadian itu, lanjut dokter, memiliki ingatan, bakat, dan pola pikir sendiri-sendiri, bahkan beberapa di antara mereka mengubah penampilan Lu Han.

Jelas sudah bagi Song Qian, siapa tiga nama yang Lu Han sebut setiap selesai bermain sendiri di kamar. Nama-nama itu adalah dirinya yang lain.

Wu Fan, ‘kembaran’ Lu Han, bersikap lebih matang dari tiga kepribadian lainnya. Berdasarkan penuturannya, ia pandai main cello, ahli dalam basket, dan (mengaku) bertubuh paling tinggi di antara semua ‘saudaranya’. Sejak melihat ayahnya hampir membunuh Song Qian, ia menjadi sangat protektif terhadap seluruh keluarga. Ia sering muncul ketika anggota keluarganya dalam bahaya, misal hampir dipukul atau dibentak. Ia akan mewujud dalam tatapan tajam dan suara Lu Han yang merendah.

Yi Xing ‘adik’ Lu Han yang setahun lebih muda, tetapi sifatnya mirip Song Qian: lembut, polos, dan penyayang. Dia suka menulis puisi, main piano, memasak, dan membersihkan rumah. Saat ada anggota keluarga yang sedih, ia akan menenangkan mereka. Jika Lu Han, Wu Fan, atau Zi Tao yang sedih, maka tentu saja, ia akan memeluk dan mengusap-usap rambutnya sendiri. Saat ‘ia’ tersenyum, lesung pipi yang samar akan muncul di wajah Lu Han.

Zi Tao si bungsu sangat pendiam di luar, tetapi sangat manja di rumah. Niatnya melindungi keluarga sama besar dengan Wu Fan. Inilah motivasinya berlatih wushu dengan keras—yang kadang mewujud saat Lu Han sedang berkelahi. Ia sama polos dan penyayang dengan Yi Xing, tetapi lebih kekanakan dan moody. Hal lain yang membedakannya adalah obsesinya pada panda. Jika Zi Tao sedang ‘muncul’, Lu Han menjadi bungkuk dan senyumnya berubah serupa kucing: ‘bersudut tajam’.

Karena dianggap tidak bisa bertanggung jawab atas tindakannya, Lu Han tidak ditahan. Dokter malah menawarkan psikoterapi gratis untuk Lu Han, tetapi Song Qian menolak. Kemungkinan Lu Han sembuh sangat kecil, sedangkan terapi itu sendiri memakan banyak waktu dan tenaga. Song Qian tidak mau para dokter itu menyia-nyiakan waktu dan tenaga mereka untuk Lu Han.

Lagipula, Song Qian memiliki satu strategi bagus.

Hari pertama Lu Han masuk SD tertunda tiga bulan karena kasus pembunuhan itu. Dalam rentang waktu tersebut, Song Qian telah menyiapkan putranya supaya orang-orang di luar sana tidak menganggap Lu Han ‘berbeda’.

“Zi Tao,” panggil Song Qian pada Lu Han yang sedang ‘terisi’ Zi Tao, pagi itu di depan gerbang sekolah, “Jangan lupa pesan Mama, ya. Supaya Lu Han-ge tidak dianggap aneh, kamu harus apa?”

Zi Tao mengembangkan senyum khasnya yang serupa kucing itu.

“Pura-pura menjadi Lu Han-ge?”

“Yap,” Song Qian mengangguk riang, lalu mencium pipi Lu Han, “Berjuanglah, Tao. Menjadi Lu Han-ge lebih mudah, ‘kan?”

“Iya. Daripada jadi Wu Fan-ge, hehe, mukanya seram terus. Jangan bilang-bilang padanya ya, Ma,” Lu Han menoleh ke kanan dan kiri, takut Wu Fan memergokinya, lalu tersenyum lagi, “Tao masuk dulu, ya. Tao sudah janji pada Lu Han-ge, tidak akan menangis di sekolah, apapun yang terjadi!”

“Bagus. Kalau kamu terus begitu, nanti kamu akan sekuat Lu Han-ge. Nah, selamat belajar, Tao sayang!”

Begitulah pagi Song Qian dan Lu Han untuk seterusnya. Yi Xing, Zi Tao, dan Wu Fan sudah paham bahwa jika berada di luar rumah, mereka harus menyamar menjadi Lu Han supaya Lu Han tidak diejek. Akting mereka semakin baik seiring bertambah dewasanya Lu Han, sehingga orang di sekitar tidak tahu siapa Yi Xing, Zi Tao, atau Wu Fan. Mereka hanya tahu Lu Han, pemuda berbakat yang ahli dalam sepak bola, basket, bermain cello, piano, menulis lagu, juga wushu.

Namun, baru-baru ini, ada sesuatu yang lain lagi mengenai Lu Han. Song Qian menemukan hal ini saat sedang membersihkan gudang bersama Lu Han yang ‘diisi’ Yi Xing.

“Xing, lemari ini besar sekali. Bantu Mama membersihkannya. Lemari ini bisa kita jual ke toko barang antik nantinya.” ucap Song Qian setelah membuka kain penutup lemari tuanya. Lu Han mengiyakan. “Kalau dijual nanti laku berapa, ya? Cukup tidak untuk membayar kuliah Lu-ge?”

“Pasti cukup,” Song Qian tertawa kecil, “Kamu sangat perhatian pada kakakmu, Xi—“

Tunggu.

Siapa itu?

Cermin di pintu lemari tua memantulkan bayangan Lu Han—

–dan seorang pemuda berlesung pipit yang lebih pendek darinya.

***

Barangkali, Lu Han tidak sepenuhnya berkepribadian ganda.

***

TAMAT

ini apa sih? i want to scream in desperation.

awalnya, pertama bikin riddle itu, aku berpikir bahwa Lu Han murni berkepribadian ganda. tapi setelah riddle jadi, aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain. kalau kalian kelewat kreatif, kalian akan menemukan shape-shifter alien sebagai salah satu alternatif jawaban. juga sesuatu seperti di ‘Insidious’: pinjem badan. bisa juga Lu Han ini aktor yang kelewat mahir berakting dan karena kesepian (dia kan sering dibully waktu kecil karena kecerdasannya), dia menciptakan karakter ‘adik-adik’ dengan badannya sendiri.

makanya aku bingung -.-

ah, sudahlah. mind to review? ^^

Advertisements

16 thoughts on “Their Night

  1. KAK LIANAAAAA!!! AKU SUKA SAMA YANG INI!

    Tadinya aku kan baca yang their morning, terus aku mikir kan “kok yang berangkat luhan doang?” Terus di comment box ternyata jawabannya ada disinii. Dan wow! Aku ga kepikiran kalau ada orang yang kepribadiannya bisa 4 gituu. Dan terakhirnya……….. kenapa jadi horror gimana gituu 😦

    Ahhhh, tapi ini bagus lahh! Aku suka banget 🙂 semangat nulis ya kakkkkk 😀

    Like

  2. halo kaak ^^ salam kenal ya :3 namaku wydha 97line kekekek~

    jadi gini kak aku tadi kan baca yang ‘their morning’ karena kelewat penasaran dan gaktau juga jawaban riddle nya aku gak ninggalin komen dan langsung cuss ke sini dan aaaakkkk aku gak nyesel bacanya! ini keren kak, aku nikmatin banget pas bacanya, mengalir aja dan bayangin luhan kecil itu unyu deh /? dan setelah aku percaya bahwa lu-ge itu berkepribadian banyak di ending aku malah merinding. iya merinding yang bener bener /ketauan penakut/ jadi sebenarnya siapa yixing wufan dan tao itu? :””

    Like

    1. hai wydha… iya sebenernya jwban dari riddle ini gak murni kepribadian ganda, klo gak salah aku tulis di a.n bahwa si luhan ini mungkin ‘diganti’ jiwanya sam yixing, yifan, n tao… hehe. dgn begini jelas bukan, mereka itu siapa?
      makasih udh baca yak 🙂

      Like

    1. iya terserah pembacanya sih mau menganggap itu apa *jwban riddle macam apa ini
      jadi kan awalnya itu jawabannya adalah kepribadian ganda si luhannya, ternyata kepribadian gandanya itu disebabkan oleh ‘someone’ yg masuk ke badannya… bisa diterjemahkan seperti itu sih ehe.

      Like

  3. wahwahwah
    gilaaak
    aku kira beneran alter ego gtaunya…
    asdfghjkl kalo kamu bilang inu gak jelas atau gak bagus
    nyatanya ini bgus dan serem banget! creepy pasta nya kerasa kok aaaaaaaaaaaaa
    ya itu aja deh, semangat nulis ya kmu!

    Like

  4. Sebelumnya, mau minta maaf dulu karna ga sempet komen ff sebelumnya /digampar/ 😀
    Dan sejak baca ff yg sebelumnya, aku udh nebak kalo Lulu itu berkepribadian ganda, dan ga disangka jawabannya lumayan bener ^°^
    Tp utk yg sekarang, knp rada” horor ya kak? ><
    Sempet bingung sendiri sih, tp udh puas dpt jawabannya disini 😀
    Pokoknya ff nya kk yg terbaik lah ^^

    Like

  5. Aku baru baca ini setelah baca their morning. Woah…. ini keren banget, Li!!!
    Aku speechless mau bilang apa. Keren keren keren! /plaaak/
    Maafkan komen ga jelas ini ;-;
    Semangat terus, Liana!!

    Like

  6. Kakaaaak, aku harus komentar apa buat fiksi ini? Suka, banget! Jatuh cinta sama luhan kalo dia begitu. Aduh, tapi baca ini aku merinding kak. Mungkin karena akunya paranoid jugak *apasih daaaaan kalimat terakhir klimaks banget banget banget kak. Merinding disko, hm._.

    Like

  7. Abis baca Their morning langsung kabur kesini
    Keren!!! Suka sama ceritanya
    Ini si antar kepribadian ganda sama 1 tubuh dihuni 4 jiwa. Ya begitulah
    Soalnya kalo kepribadian ganda macam itu mama Qian ga akan liat bayangan samar di cermin kekeke
    Kebetulan aku juga punya temen kepribadian ganda, dan pernah kambuh pas kita lagi main bareng. Horror hahaha
    Tapi masih horror yg ini. Kebayang kalo Luhan beneran begini *merinding* hush

    Like

  8. Dari Their Morning yang membingungkan buatku, jadilah aku menyambangi Their Night.. Dan yap! Aku ngerti sekarang.
    Forewordnya suka: terinspirasi dari 24 Wajah Billy, yang dulu sempat aku co-pas quotenya, kira-kira gini: Aku bahagia dengan duniaku.
    4 kepribadian Luhan itu keren-keren.. Dan sebenarnya aku juga penasaran dengan kasus kepribadian ganda. Satu orang dengan banyak karakter yang biasanya tergantung sikon.. Waahh sih buatku.. Apalagi nantinya si pemilik badan kayak ‘kecurian’ waktu gitu. Lebih ke si jenius yang experience new characters in each situation, penjelasan gini malah masuk akal buatku.
    But, it’s something fresh for me… And I enjoy the ride so much…
    Jjang!! 😜

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s