Mirror-like Sky

exo-mama-chanyeol-and-kris-e1334127711861

Mirror-like Sky

by Liana D. S.

.

Wu Yi Fan (as Kris) and EXO’s Chanyeol

Friendship, Fantasy, fail!Comedy, Oneshot (2,9K+ words)

General

.

Terinspirasi dari MV ‘MAMA’ dan teaser member EXO.

.

Melatih Chanyeol itu rasanya seperti terbakar di neraka. Secara harfiah.

***

“Ah, panas, panas.” Chanyeol mendesis, berusaha keras mempertahankan api di telapak tangannya supaya tetap menyala. Kris menyilangkan tangan di depan dada seraya mendengus bosan. “Api memang panas. Jaga fokusmu dan bakar kayu itu. Arahkan kekuatanmu pada potongan kayu itu saja, jangan sampai memantul ke tempat lain seperti tadi.”

“Baiklah…” Chanyeol terkekeh, api di tangannya membesar penuh semangat, “Kayu, bersiaplah untuk berubah menjadi abu!”

Wush!

Sebentar kemudian, potongan kayu bakar beberapa kaki di depan Chanyeol hangus. Chanyeol memutar tubuh menghadap sang pelatih, memamerkan senyum lebar kekanakannya yang secerah pagi. “Hyeong, aku berhasil!”

“Belum, apimu masih terlalu besar,” Raut wajah Kris tidak berubah, “Selain itu…”

Tunggu.

Kris terdiam. Ia merasa punggungnya tersengat.

Ups.

Chanyeol meringis, lalu berjalan mundur beberapa langkah. Apinya memantul lagi dan punggung Kris jadi korban. Sayang, niatnya untuk kabur diam-diam gagal. Pemuda berkaki panjang itu segera mengambil langkah seribu ketika Kris menembakkan api balik ke arahnya.

“Park Chanyeol, kubilang ‘bakar kayunya’, bukan ‘bakar punggungku’! Kembali kau!!!”

Bukannya takut, Chanyeol malah tertawa kegirangan sambil meminta maaf.

Dikejar Kris merupakan bagian paling menyenangkan dalam latihan pengendalian api.

***

“Nah, sudah baik sekarang. Selamat berlatih kembali.” ucap Lay usai menutup luka bakar kecil di punggung Kris dengan kekuatan penyembuhnya. Chanyeol mendesah lega. “Kalau ada Lay-hyeong, berapa kalipun aku membakar Kris-hyeong, tidak akan ada masalah!”

Kris menghadiahi juniornya dengan jitakan sayang. Lay tertawa. “Tapi kau juga harus cepat menguasai teknik pengendalian api dan pemanggilan phoenix,” Sang penyembuh memperingatkan, “Jika tidak segera, kita tidak bisa membelah Pohon Kehidupan dan menyembunyikannya di dua dimensi berbeda seperti kata manuskrip tetua. Kekuatan Merah terus mengeringkannya, lho.”

“Aku mengerti, Hyeong. Aku selalu berusaha sebaik mungkin, kok. Lagipula, selain aku, masih ada Baekhyun, Tao, dan Sehun yang belum menguasai kekuatan mereka, ‘kan?” Chanyeol menanggapi santai.

“Tidak. Mereka bertiga sudah menguasai kekuatan masing-masing. Tinggal kau yang belum bisa.” ucap Lay lagi. Chanyeol ternganga. “Bohong! Kemarin, cahaya Baekhyun masih seperti lampu rusak, berkedip-kedip!”

“Itu ‘kan kemarin,” sahut Kris seraya melingkarkan lengan kokohnya di leher panjang Chanyeol, “Makanya, berlatihlah yang benar supaya kau cepat mahir—dan supaya aku bisa segera lepas darimu!”

Bibir Chanyeol mengerucut. “Kau begitu inginnya menyingkirkanku?”

Kris tidak menjawab. Ia terlebih dahulu berterima kasih pada Lay sebelum meninggalkan sang penyembuh menuju tempat latihan. Chanyeol tentu tak puas selama belum mendapat jawaban dan akhirnya kembali bertanya, “Kau tidak menyukaiku, ya, Hyeong?”

“Bukan begitu.” jawab Kris tanpa menoleh sedikitpun pada sang junior.

“Tapi kau bilang kau ingin segera lepas dariku.”

“Maksudku, aku ingin segera melaksanakan rencana kita untuk membelah Pohon Kehidupan. Kita pasti akan terpisah dimensi setelah itu, bukan? Ah, sudahlah, jangan dipikirkan; otakmu yang kecil itu akan rusak kalau kau berpikir keras. Lakukan lagi latihannya dari awal.”

Chanyeol mengiyakan dan kembali berlatih hingga senja tiba.

Satu hal kini sangat mengusik jiwanya.

***

Pagi ini, tidak biasanya Chanyeol terlambat latihan. Sudah ditunggu dari saat fajar menyingsing hingga matahari meninggi, pemuda bertelinga mencuat itu tidak muncul juga. Kris mulai khawatir sekaligus kesal. Apa dia tidak tahu kalau waktu para legenda semakin sempit? Tiap detik sangat berharga, Park!, keluhnya.

Tiba-tiba, Kris menangkap bayangan Suho dari kejauhan. Didatangi Suho hanya berarti satu: berita penting.

Benar saja.

“Kris, aku minta kau menemui Chanyeol sekarang,” kata Suho, tegas, “Para tetua mengurungnya di Rumah Suci hingga ia bisa mengendalikan kekuatannya. Aku tidak boleh masuk karena mereka menganggapku tidak mampu mengurus Chanyeol.”

Dahi Kris berkerut tak senang. “Mengapa begitu? Apa hak para tetua mengurung salah satu dari dua belas legenda?”

“Karena kita legenda yang punya waktu terbatas sebelum Kekuatan Merah mengambil alih semuanya,” Suho menekankan, “Chanyeol satu-satunya yang tidak menganggap ini serius, sehingga ia tidak juga ahli mengendalikan api. Waktu pembelahan jantung Pohon Kehidupan yang direncanakan para tetua sudah dekat, Kris; Chanyeol harus segera dipaksa.”

Benar.

Kris, Suho, dan Chanyeol termasuk dalam dua belas legenda penyelamat Exoplanet dan Pohon Kehidupan. Kekuatan khusus yang telah dianugerahkan Tuhan pada mereka harus dipergunakan untuk membelah Pohon Kehidupan supaya Kekuatan Merah tidak bisa menghancurkannya. Akan tetapi, untuk membelah Pohon Kehidupan itu, semua legenda harus sudah menyempurnakan kekuatan mereka—sehingga ketidakmampuan Chanyeol jelas akan merusak rencana itu. Anehnya, menurut Kris sendiri, Chanyeol memiliki emosi yang paling stabil dibanding teman-teman seumurannya, sebagai contoh Baekhyun si pengendali cahaya dan Chen pengendali petir. Mengapa pengendalian api—yang sebenarnya tak jauh-jauh dari pengendalian emosi—tidak bisa dikuasai Chanyeol dengan cepat?

“Mengurung Chanyeol tidak akan membuatnya mahir dalam sekejap mata,” Kris membentangkan sepasang sayap api hitam di punggungnya, “Aku akan bicara pada para tetua.”

***

Chanyeol terduduk kelelahan di dalam Rumah Suci yang mirip penjara itu. Seberapapun seringnya ia mencoba mengendalikan diri, sesering itu pula apinya terlepas dan membakar sekeliling. Untung saja ia bisa menggunakan kekuatannya untuk mematikan api.  Jika tidak, bukan mustahil ia terbakar apinya sendiri juga seperti Kris tempo hari.

Kris.

Chanyeol pertama mengenal Kris saat dua belas legenda dilantik di hadapan Pohon Kehidupan. Dua belas legenda tersebut dibagi menjadi dua untuk melindungi Pohon Kehidupan yang nantinya dibelah, sehingga terdapat dua pemimpin pula di antara dua belas orang tersebut. Suho dan Kris terpilih untuk itu. Chanyeol sendiri tidak heran jika Kris terpilih; pemuda paling tinggi di antara dua belas legenda itu memang punya kharisma yang kuat. Jubah putih panjang yang hari itu dikenakan Kris menambah besar rasa hormat para legenda padanya. Namun, yang lucu, kharisma pemimpin Kris hilang setelah latihan berjalan. Para tetua memasangkan Chanyeol dan Kris karena kekuatan mereka saling bersambung—dan berkat itulah, Chanyeol jadi mengerti bahwa Kris itu target empuk untuk dijahili.

Tawa lirih lolos dari mulut Chanyeol, menggema memenuhi Rumah Suci.

Kris adalah kakak, teman main, rekan latihan, dan pemimpin yang menyenangkan.

Tapi waktu bersamanya terlalu sebentar.

“Maksudku, aku ingin segera melaksanakan rencana kita untuk membelah Pohon Kehidupan. Kita pasti akan terpisah dimensi setelah itu, bukan?”

Kata-kata Kris lagi-lagi mengganggu pikiran Chanyeol.

“Park Chanyeol, ada tamu untukmu.” Terdengar suara seorang tetua dari luar. Pintu terbuka dan muncullah sesosok pria muda jangkung berpakaian rapi, serba hitam.

“Kris-hyeong!”

Bletak!

Padahal Chanyeol baru akan memeluk pelatihnya tercinta, tetapi si pelatih menjitaknya duluan.

“Jangan teriak-teriak,” perintah Kris, yang disambut Chanyeol dengan desis kesakitan, “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Tanpa kata, Chanyeol menaikkan alisnya, bertanya apa itu.

“Apa kau selama ini berlatih dengan sungguh-sungguh? Jawab dengan jujur atau aku akan membakarmu.”

Chanyeol menelan ludahnya sulit. “Ke-kenapa kau tiba-tiba ber—“

“Karena Suho dan para tetua dapat membedakan para legenda yang fokus berlatih dan yang main-main saja. Kau termasuk yang kedua; bodohnya aku tidak melihat itu,” sela Kris, “Sekarang, mari kita singkirkan sementara peran Luhan si pembaca pikiran. Aku ingin kau menceritakan apa yang ada dalam otak kecilmu itu hingga kau sulit konsentrasi.”

“Tidak ada apa-apa.” Anak mata Chanyeol bergeser ke samping, menghindari tatapan elang Kris. Merasa diabaikan, Kris menahan kepala Chanyeol supaya mata sang junior terkunci padanya. “Matamu seperti mata anak-anak. Tidak bisa berbohong, tetapi tidak terlalu jujur juga,” katanya sambil terus mengamati manik coklat Chanyeol, “Jadi, kau mau kita terus seperti ini atau kau akan bercerita padaku?”

Chanyeol menepis kasar tangan Kris. “Baik, baik. Aku akan cerita.”

Kris menunggu dan Chanyeol tertunduk.

“Hm… tapi jangan bilang Suho-hyeong.”

“Ya, ya, Suho tidak ada di sini. Ada apa?”

“Itu… sebenarnya aku tidak serius berlatih karena… aku takut.”

Bukan jawaban kekanakan macam ini yang Kris harapkan keluar dari mulut Chanyeol. Kris pikir Chanyeol sakit atau apa. Beruntung, tampaknya hanya beberapa alasan bodoh yang mendasari ketakutan Chanyeol itu—yang membuat Kris tergelak tanpa sadar. “Kau takut apa?”

“Takut berpisah denganmu.”

Tawa meninggalkan Kris seketika.

Chanyeol memegang telapak tangan Kris dan mengayun-ayunkannya, seolah mengajak bermain. “Hyeong, aku tahu para tetua pasti membunuhku jika mengatakan ini, tetapi kau mengerti, ‘kan? Maksudku… aku bahkan bersamamu lebih lama dibanding bersama lima anggota kelompokku. Kemudian, tiba-tiba aku akan berpisah dimensi denganmu. Rasanya pasti tidak enak.”

Di keluarganya, Kris adalah anak tunggal yang dibesarkan dengan dingin. Tak merasakan cukup kasih sayang saat pertama bergabung dengan para legenda, Kris perlahan berubah… dan dia jadi mengerti perasaan orang lain, terutama rekan latihannya, Chanyeol. Meskipun Chanyeol bertubuh hampir sama tinggi dan bersuara sama berat dengannya, bagi Kris, Chanyeol adalah adik kecil yang bodoh sekaligus manis.

Yeah, yang terakhir itu tidak akan dikatakan Kris di muka Chanyeol atau ‘bocah’ bersurai coklat itu akan salah tanggap.

Kris paham betul apa yang Chanyeol rasakan. Berpisah dengan seseorang yang dekat denganmu sangat membebani. Kris pun berat menjalaninya, tetapi ia ingat posisinya sebagai pemimpin yang harus memberi teladan pada teman-temannya. Ia harus profesional.

Plus, Kris mengetahui sebuah rahasia yang mengurangi rasa sedihnya berpisah dengan Chanyeol.

Buk!

Ya, Kris-hyeong, sakiiit! Kenapa aku dipukul lagi?” Chanyeol mengusap-usap rambut ikalnya cepat. Kris baru saja mendaratkan sebuah buku—‘Himpunan Manuskrip Kuno’ tulisan para tetua Exoplanet yang dipercayakan pada dua pemimpin legenda—ke kepala juniornya.

“Aku hanya menempelkan buku ini ke kepalamu. Siapa tahu dengan begitu, kau akan ingat halaman 29, Bab VI tentang ‘Langit Serupa Cermin’.”

‘Langit Serupa Cermin’?

“Tunggu,” Chanyeol mengernyit sambil memejamkan matanya rapat, berusaha mengingat bagian manuskrip yang Kris sebut, “Jangan beritahu aku, Kris-hyeong. Aku tahu, aku hapal manuskrip itu. Aku sering membacanya, kok.”

Kris menunggu lagi, tetapi kemudian menjitak Chanyeol untuk kesekian kali setelah pemuda itu meringis pasrah.

“…Menyerah, deh. Aku lupa. Hehe.”

“Buka halaman 29!” Kris menyodorkan bukunya pada Chanyeol, “Baca dengan seksama dan kau akan tahu bahwa kita tidak akan berpisah!”

Perlahan, Chanyeol menelusuri halaman demi halaman kuning manuskrip yang Kris berikan. Jemarinya berhenti pada satu halaman bertuliskan ‘Langit Serupa Cermin’.

Itulah halaman yang menuliskan bagaimana para legenda dari dua dimensi berbeda berkomunikasi dengan ‘pasangan’ mereka.

Cermin adalah sesuatu yang menghubungkan seseorang dengan bayangannya sendiri, membantu orang tersebut dalam memahami kata hatinya. Dalam hal ini, para legenda yang berpasangan diserupakan dengan manusia dan bayangannya. Berdua mereka saling memahamkan pentingnya perasaan dalam menjaga ikatan yang melindungi Pohon Kehidupan. Cara demikian membuat Kekuatan Merah tidak akan mampu menembus mereka. Pohon Kehidupan akan terlindungi di bawah ikatan kasih sayang sementara menyembuhkan diri dan memurnikan Kekuatan Merah yang berkuasa.

Ada beberapa cara para legenda dapat tetap ‘bercermin’ dengan pasangan mereka, meski berada di dunia yang berbeda. Cermin yang sesungguhnya digunakan oleh Yang Mengalir dan Yang Membekukan, serta Yang Menerangi dan Yang Menyembuhkan. Tanah menjadi cermin bagi Yang Kokoh dan Yang Menyambar, di mana mereka dipertemukan secara alami. Yang Bertiup dan Yang Tak Berhenti bercermin melalui makhluk-makhluk yang dapat hidup di antara mereka. Yang Bergerak akan menghampiri Yang Menggerakkan dan begitulah cara mereka bercermin. Terakhir, Yang Membakar Angin dan Yang Menguasai Langit akan bercermin di angkasa yang bertalian.

“’Angkasa yang bertalian’?” Chanyeol mendongak, wajahnya cerah, “Berarti kita tidak akan berpisah, ya—Aw, sakit!”

Kalian pasti tahu apa yang terjadi pada Chanyeol.

“Aku sangat yakin Suho menjelaskan ini berkali-kali pada semua anggotanya, termasuk kau. Mengapa tidak kau ingat?”

“Ya… aku ‘kan sibuk berlatih, jadi mana ingat dengan hal seremeh it—eh…” Chanyeol buru-buru menjauh karena Kris mengacungkan kepalan tangannya, “…maksudku, hal itu penting sekali sampai-sampai keluar dari kepalaku…”

Kris menghela napas panjang, terlihat lelah mengurus juniornya yang satu ini.

“Maaf deh, Hyeong. Setelah ini, aku akan serius, janji…”

“Kau mengatakannya setiap kali berbuat salah,” ujar Kris dingin—yang lambat laun terganti senyum tulus, “tapi tidak apa-apa. Kita mulai saja lagi, pelan-pelan. Aku akan minta izin pada tetua untuk mengeluarkanmu.”

Sang pemimpin berbalik, tangan besarnya menggandeng tangan Chanyeol.

Dan selama sepersekian detik, lingkaran api kecil mengelilingi dua tangan yang saling bertaut.

Chanyeol tersenyum lagi.

Akhirnya, dia berhasil menyalakan api yang tenang.

***

Kris dan Chanyeol kembali ke hutan dengan semangat berlatih yang baru. Mereka berdiri dalam jarak kira-kira sepuluh meter.

“Chanyeol, nyalakan apimu!”

Chanyeol patuh. Warna merah-jingga cerah membelah udara di antara dirinya dan Kris. Api Chanyeol sangat stabil sehingga tampak seperti tali terbakar dari jauh.

Api lain dengan warna lebih gelap muncul di samping api Chanyeol. Api itu—milik Kris—‘membelit’ api Chanyeol yang masih diam.

“Bagus. Pertahankan kestabilan apimu sambil menyatukannya denganku.”

Chanyeol mengangguk, mengabaikan peluhnya yang jatuh satu persatu ke tanah akibat panas. Ia berkonsentrasi penuh pada dua api di depannya.

Ia tidak main-main lagi sekarang.

‘Tali api’ sudah menyatu hingga ujung. Muncullah perintah berikutnya dari Kris.

“Buka segel phoenix. Aku akan membuka segel naga. Usahakan apiku dan apimu tidak berpisah hingga phoenix dan naga terpanggil, supaya mereka dapat terlahir kembali dari api kita berdua.”

Bagaimana Kris menyebutkan ‘api kita berdua’ membuat Chanyeol geli sekaligus bahagia.

Tidak, Park Chanyeol. Fokus! Tinggal kau yang belum menguasai teknik ini; Baekhyun bahkan sudah jauh meninggalkanmu! Berusahalah supaya Kris-hyeong punya junior untuk dibanggakan!

Dua lingkaran segel, satu di bawah dan satu di atas api yang sudah menyatu, terbuka. Api di antara dua segel itu tertarik ke dua arah berbeda. Satu ke segel phoenix dan satu ke segel naga. Chanyeol mulai terengah. Membuka segel sambil mempertahankan percampuran apinya dan Kris cukup melelahkan, terlebih dalam udara panas macam ini.

“Sebentar lagi selesai,” Kris menyemangati Chanyeol dari seberang api, “Tenanglah, nanti aku minta Xiumin untuk mendinginkan kita berdua.”

Chanyeol tertawa penuh percaya diri. “Tenang, Hyeong, aku tidak kepanasan sama sekali!”

Sudut bibir Kris terangkat satu. “Baiklah, jika kau menantang,” –lingkaran segel saat ini sudah menyerap semua api—“Waktunya ‘Tarian Langit’!”

‘Tarian Langit’ merupakan tahap pembelahan Pohon Kehidupan yang terakhir. Setelah lima pasang legenda melakukan ‘tarian’ mereka, ‘Tarian Langit’ akan dilakukan Yang Membakar Angin—Chanyeol—dan Yang Menguasai Langit—Kris—sebagai penutup paling indah.

Dari dalam lingkaran segel, Chanyeol dan Kris menarik keluar sepasang hewan api raksasa. Naga dan phoenix, dengan sayap membara bagai matahari. Mata Chanyeol yang sudah bulat besar makin besar lagi. Napasnya tertahan ketika satu-dua percik api dari kepakan sayap hewan-hewan itu jatuh ke tanah.

Phoenix itu cantik sekali!!! Luar biasa!!!

“Kau tahu yang selanjutnya, bukan?” teriak Kris. Chanyeol mengacungkan jempolnya. “Siap, Hyeong!”

Keduanya berjalan dalam lingkaran ke dua arah yang berbeda, saling mengitari. Naga dan phoenix melakukan hal yang sama di angkasa. Saat itulah, Chanyeol tak hentinya menatap mata Kris, begitu pun sebaliknya.

“Namaku Park Chanyeol. Aku orang yang ceria, jadi jangan terlalu kaku denganku, Hyeong. Salam kenal!”

“Aku Kris Wu, panggil aku Kris.”

“Kris? Satu suku kata saja? Bahkan namamu tidak terdengar ramah.”

“Kita segera mulai latihan.”

“Tapi aku lapar… Makan dulu, ya, Hyeong…”

Aku akan berburu, tetapi nanti kau yang membakarnya supaya kita bisa makan. Itu latihan pertamamu: membuat api besar.”

“Langsung latihan? Argh, dasar Kris-hyeong jelek!”

“Setidaknya lebih tampan darimu.”

“’Setidaknya lebih tampan darimu’? Apa-apaan hyeong ini? Hahahahahaha!!!”

“Jangan meniruku!”

“’Jangan meniruku!’”

Jika Kris dan Chanyeol mengingat bagaimana mereka dulu berkenalan, sulit dipercaya sekarang mereka lebih dekat dari kakak-beradik sedarah. Padahal, sebelum dinobatkan menjadi legenda pelindung Pohon Kehidupan, keduanya terpisah bermil-mil oleh lautan.

Tapi kini keduanya bergerak dalam harmoni.

Kris dan Chanyeol secara mendadak menarik naga dan phoenix supaya saling menjauhi.

“Langkah terakhir!!! Woohoo!!!” seru Chanyeol, “Ayo, Hyeong!”

“Ya,” Kris tersenyum lega, “Aku tahu.”

Naga dan phoenix terbang menuju satu sama lain, lalu bertemu di tengah, dan menukik tajam ke tanah untuk mengakhiri simulasi pembelahan Pohon Kehidupan ini.

Wush!!!

Badai.

Bunga-bunga api besar terbang ke udara. Naga dan phoenix sudah menghilang, tetapi lambang mereka masih tercetak di langit, besar dan membara. Lambang dua hewan api itu berada dalam satu lingkaran—dan berikutnya, lingkaran itu terbelah.

Bersama langit.

“Whoa, Kris-hyeong, lihat, lihat, langitnya terpotong!” Dengan mulut membulat seperti ikan kehabisan air, Chanyeol menunjuk-nunjuk langit dan awan yang berangsur terbagi dua. Langit satunya berwarna lembayung dan satunya berwarna biru muda. Sayang, sebelum terpisah sepenuhnya, langit menyatu kembali, lambang hewan api lenyap, dan Chanyeol mendesah kecewa. “Yaaah, sebentar betul, padahal keren…” ucapnya, masih menengadah.

“Kita membutuhkan lima ‘tarian’ sebagai permulaan, tetapi yang tadi itu juga sudah hebat. Kau hebat, Chanyeol.” puji Kris. Chanyeol tersenyum lebar. “Kita berdua yang paling keren! Aku jadi tidak sabar melihat ‘tarian’ kita saat digabung dengan lima pasangan lainnya!”

“Kau tidak takut berpisah?” tanya Kris, sedikit menyindir, dan Chanyeol seketika menggeleng. Titik-titik keringatnya terpercik sedikit ke tanah. “’Kan kita akan bertemu lagi di angkasa yang bertalian!”

“Baguslah jika kau mengerti,” Kris menyampirkan lengannya di bahu Chanyeol, “Tinggal tiga hari lagi menuju pembelahan Pohon Kehidupan. Kau siap?”

“Sangat siaaap!!!” Chanyeol mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tetapi Kris menghentikannya.

“Ada sesuatu yang lebih penting yang harus kita lakukan sebelum membelah dimensi.”

“Eh? Apa ada tahap ‘tarian’ yang kulupakan?”

Kris menurunkan tangannya dan tersenyum jahil.

“Kita butuh mandi—dan SIAPA YANG TERLAMBAT PULANG TIDAK AKAN MENDAPATKAN MANDI SEGAR A LA XIUMIN!”

Mandi segar?

“Ah!!!” Chanyeol langsung berlari sekencang mungkin, menyusul Kris, segera setelah ia sadar apa yang akan ia lewatkan, “KRIS-HYEONG, AKU DULUAN YANG MANDIII!!! AKU BERKERINGAT LEBIH BANYAK DARIMU!!! XIUMIN-HYEONG, JANGAN BIARKAN KRIS-HYEONG MANDI ES DULUAN!!!”

Disaksikan matahari senja, Chanyeol dan Kris bermain kejar-kejaran seperti anak-anak. Lupa sementara bahwa mereka legenda. Lupa sementara bahwa tugas besar menanti mereka. Yang mereka ingat, mereka sepasang sahabat di bawah langit serupa cermin.

Tidak terpisahkan.

***

“Hacchiii!!!”

“Xiumin-hyeong, ada apa?” tanya Chen, salah seorang anggota kelompok Kris, pada rekannya yang barusan bersin. Yang ditanya menyedot ingus.

“Rasanya ada orang yang memanggilku…”

***

Hari pembelahan pun tiba. Masing-masing legenda menampilkan ‘tarian’ yang memukau, mulai dari Kai dan Luhan yang memulai pembelahan dengan ‘Tarian Penggerak’ hingga penutupnya, Chanyeol dan Kris dengan ‘Tarian Langit’ mereka. Setelah pembelahan berakhir, Chanyeol merasa tubuhnya tertolak ke belakang dengan amat keras—dan ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di dekat Pohon Kehidupan.

Kris juga sudah menghilang.

Namun, Chanyeol tahu ke mana harus mencari orang itu. Ia menengadah dan tersenyum ke angkasa yang jauh.

Seekor naga hitam terbang beberapa mil jauhnya di atas kepala.

“Hai, Kris-hyeong,” gumam Chanyeol, “Jawablah jika kau dapat mendengarku: kita akan bersama lagi dalam waktu dekat, ‘kan?”

***

“Tunggulah Pohon Kehidupan memurnikan Kekuatan Merah, Chanyeol, dan kita akan segera bersama lagi. Selama itu, aku akan terus mengawasimu dari langit lain. Jangan berbuat bodoh, mengerti?”

***

Chanyeol tertawa.

Kris masih sama saja.

***

“Laugh, cry all together, holding hands meeting that feeling
Each resemble and connect to each other
If you ever want to recover.

Wouldn’t we face our eyes anymore?
Wouldn’t we communicate? Wouldn’t we love?
Tearing up to the reality that hurts
Say MAMA if you can change it, say MAMA!”

(EXO – MAMA)

***

TAMAT

Advertisements

6 thoughts on “Mirror-like Sky

  1. huwa.. Aku akan selalu menunggu.. Saat sang naga kembali bergabung dengan phoenix-nya.. Huks.. Juga saat sang penggerak berharmoni lagi dgn yang bergerak..
    Waks.. Jadi mellow..
    Ditunggu karya berikutnyaaa..

    Like

  2. Li, bs tolong jelasin penjedaan di kalimat ini?
    ‘karena kita legenda yg pnya wktu trbatas sblm kekuatan merah mengambil alih semuanya’
    itu aja, entah aq yg kurang ngeh baca’a atw emg ada kata yg ngganjal. Tp kalo mksd’a aq ngerti sih.

    Overall, apapun itu kalo ttg chanyeol keren dh, hahay.
    Dsni dy bner2 otak’a kecil ye, nganggep omongan’a kris smp segitunya. Kelewat polos.

    Like

    1. ah iya kak, aku juga ngerasa kalimat itu aneh… maafkan daku, bagian stlh waktu terbatas itu sebenernya bisa diilangin sih, soalnya penjelasan ‘waktu terbatas dan kekuatan merah’ itu ada di bwh…
      nanti aku beneri lg, makasih kak sarannya 🙂

      Like

  3. oke kak, ini keren sangatt :v kebetulan pas aku dengerin lagu MAMA sih pas baca ff ini jadi ya gitudeh hahaha :v
    sebenernya pas sekali baca kurang ngeh sih, terus aku nggak ngerasa ketawa sama sekali, krn mungkin aku kurang fokus ato apa-_- tapi pas baca lagi dikamar, pas dengerin lagu MAMA lagi, oke, aku ketawa :v dan lebih ngeh sama ceritanya, yatuhan aku nggak tau mau dibawa kemana akhirnya komentar ini-_-
    tapi seperti biasanya sih, diksinya enteng, fantasy ringan, jelas banget, dan aku suka cara kakak jelasin karakter nya chanyeol dan kris dngan amat jelas 😀 oke, see ya!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s