Melodrama Byun

tumblr_static_tumblr_static_39bkd6dfkasksokscgks88g8w_640

 by Liana D. S. 

EXO’s Xiumin and Baekhyun

Friendship, Comedy(fail!), Vignette (1,5K+ words), General

.

.

Teman akrab Minseok adalah kesunyian, tetapi ketika Baekhyun yang terdiam, Minseok rela menistakan dirinya untuk membuat Baekhyun bicara.

***

“Baekhyun-ah! Buka pintunya! Aku minta maaf!”

Tak ada respon dan Minseok mendengus kesal. Inilah mengapa ia selalu berhati-hati dalam berbicara: supaya tidak menyakiti hati orang. Akan tetapi, sedewasa apapun Minseok bersikap, ia manusia juga yang bisa terpeleset.

Masalahnya dengan Baekhyun bermula ketika member EXO yang paling berisik itu masuk dorm dengan raut sedih, sore itu sepulang dari klinik. Minseok, member lain yang tidak ada jadwal selain Baekhyun, mengangkat alisnya tanda bertanya. Yang aneh, Baekhyun tidak menjawab dengan serangkaian kata tanpa jeda seperti biasa, melainkan dengan mengetik sesuatu di ponsel. Kemudian, ia menunjukkan apa yang tertera di monitor ponsel itu pada Minseok.

‘Dokter menyarankanku untuk tidak bicara selama sehari penuh. Katanya itu menjaga pita suaraku, Hyeong.’

Kalau kita mundur lebih jauh, kita akan tahu bahwa sejak dua hari lalu, Baekhyun terserang flu, tetapi ia tidak peduli dan terus manggung hingga suaranya kering. Sifat cerewet Baekhyun memperburuk semuanya, jadi wajar jika dokter menyarankan hal ini untuk kesehatannya.

Minseok adalah pecinta ketenangan, maka tak heran, senyumnya terbit meski ia berusaha menyembunyikan. Baekhyun tidak bicara sehari penuh? Wow, apa yang lebih baik daripada itu?

Pikiran ini kejam sekali, Minseok tahu, dan dia menyesal sempat memikirkannya.

Baekhyun sedang sensitif, jadi ketika ia melihat senyum samar Minseok, ia segera berlari ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Alarm Minseok menyatakan bahwa dia telah membuat Baekhyun tersinggung—dan di sinilah dia sekarang: merayu.

Demi semua member, Baekhyun adalah orang terakhir yang ingin dirayunya, tetapi Minseok tidak ingin merusak pertemanan dengan siapapun. Ia lempar semua harga diri dan memohon-mohon supaya Baekhyun memaafkannya.

“Baekhyun-ah… Aku memang kasar sudah menertawakanmu yang sedang sakit… Maafkan aku…”

Masih tidak berespon. Minseok memutar otak, tetapi perutnya tiba-tiba bergemuruh.

Aha!

Minseok membuat dua cup ramen di dapur, lalu berjongkok di depan kamar Baekhyun. Satu cup ramen panas diletakkannya di dekat celah pintu supaya aromanya bisa sampai pada si penghuni kamar. Setelah itu, ia makan ramennya sendiri dengan cara paling tidak elit: sambil bersila di lantai dengan suara ‘sruup, sruup’ yang keras.

Bukan style Minseok sama sekali, tetapi biarlah.

“Byun Baekhyun… aku tahu kau sebenarnya mau…” Sekali lagi, Minseok menyeruput kuah dengan semangat seperti di iklan, “Hm, bau kuahnya saja sudah lezat… Apalagi minya, hm… kau pasti tak bisa menahan godaan ini!”

Apa tidak ada yang mau menawari Minseok menjadi bintang iklan solo?

Terdengar ‘kruyuk’ yang panjang dari dalam. Bunyi perut Baekhyun. Haha, Minseok tahu rayuannya hampir berhasil.

Atau tidak?

Beberapa lama kemudian, Baekhyun masih belum tergoda, padahal ramen Minseok sudah habis dan cup Baekhyun sendiri akan dingin. Minseok harus memutar otak lagi.

“Hei, Baekhyun, apa kau tidak tahu kalau kamar mandimu ada penghuninya?”

Tiba-tiba, ada bunyi derap langkah mendekati pintu dengan cepat. Baekhyun membuka pintu, mengambil ramennya, menarik Minseok masuk, lalu menutup pintunya dari dalam.

“Luar biasa,” Minseok tertawa kecil, “Ahli hapkido ternyata takut sama hantu. Apa semua ahli bela diri begitu? Karena Tao juga.”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan meninggalkan Minseok. Ia duduk di sisi ranjang sambil makan ramen, kelihatan jengkel sekali dibilang penakut. Minseok memukul dahinya. Bukan memperbaiki keadaan, Baekhyun malah marah lagi.

“Ah, kkaebsong…”

Satu kata yang Minseok ucapkan barusan sukses membuat Baekhyun teralih dari ramen. Pemuda berbibir tipis itu mendongak dengan tatapan apa-kau-bilang-barusan-? Dengan gaya coolnya, Minseok mengulangi kata terakhir yang diucapkannya.

Kkaebso—“

Belum selesai Minseok bicara, Baekhyun sudah berguling-guling di ranjang sambil menepuk bantalnya keras-keras. (Tentu saja ia menyisihkan ramennya terlebih dulu.)  Pemuda itu lantas menyambar ponselnya dan mengetikkan sebaris kalimat dengan cepat.

‘Kau bilang ‘kkaebsong’ tadi, berarti kau harus membayar 150.000 won padaku! Kata itu ada hak patennya, tahu, tetapi karena kau muridku, aku diskon jadi 150.000 won saja! Murah, ‘kan?’

Nah, akhirnya Baekhyun yang cerewet kembali lagi. Minseok menganggap ini rekonsiliasi, jadi dia tersenyum dan melambaikan tangannya sok cuek. “Gampang, deh. Habiskan saja ramenmu, terus minum obat dan tidur.”

Baekhyun mengetik lagi.

‘Tapi aku tidak mau memaafkanmu sebelum kau melakukan apa yang kuminta.’

Glek.

“Terus,” Minseok menghembuskan napas panjang, “apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?”

***

Minseok sudah memperkirakan bahwa Baekhyun akan memanfaatkannya, tetapi jika dia menolak, mungkin Baekhyun akan membencinya selamanya. Jadi, ia terima saja segala komando Baekhyun: mengambilkan air minum, menirukan suara pelawak, dan terakhir…

“Aku sudah membersihkan kamar sesuai perintahmu, Yang Mulia,” ucap Minseok letih, memanggil Baekhyun ‘Yang Mulia’ untuk menyindirnya, “Bagaimana, kau senang mengeksploitasi hyeongmu ini?”

Baekhyun mengangguk-angguk cepat dengan cengiran segiempatnya yang lucu.

Pemuda yang jujur, batin Minseok saat memutar bola matanya malas.

Keypad diketuk dengan kecepatan jauh di atas normal. Minseok melebarkan matanya sedikit. Meskipun bibirnya tidak mengucapkan satu kata pun, Baekhyun telah memindah kemampuan bicaranya yang luar biasa itu ke ponsel dalam waktu kurang dari 24 jam.

Makhluk apa Baekhyun sesungguhnya, Minseok pun tak tahu.

‘Tulis nama panggungmu dalam hanja, tetapi pakai pantat, ya!’

Minseok mengacungkan kepalan tangannya, tetapi belum apa-apa, Baekhyun sudah bertitah lagi.

‘Nanti aku tidak mau minum obat, lho.’

Kadang orang sakit lebih berkuasa dibanding orang sehat. Lihat saja sekarang, Minseok kini tak punya daya di hadapan Baekhyun si pengancam. Mungkin, Minseok bukan takut karena diancam—

—tetapi takut Baekhyun akan lebih sakit lagi karena tidak minum obat.

Di awang-awang, Minseok menulis kata ‘Xiumin’—nama panggungnya—dengan hanja yang sudah menancap di kepala. Setelah itu, Minseok mulai bergerak. Baekhyun tertawa tanpa suara ketika pantat Minseok beraksi, menulis huruf Mandarin yang penuh kelok-kelok itu. Akhirnya, Minseok selesai. Ia baru menyadari bahwa ternyata menulis hanja dengan pantat itu sama melelahkan dengan ngedance untuk satu lagu. Atau mungkin hanya otot ‘tuanya’ yang tidak kuat, entahlah.

‘Bagus, Hyeong! Kau terlihat seperti cacing gilig kepanasan, hahahaha!”

Sumpah, kalau Baekhyun tidak sakit, Minseok akan  melumatnya dengan teknik gulat seperti di Smackdown.

“Oke, karena aku sudah melakukan apa yang kau minta, sekarang kau mau minum obat?”

Baekhyun mengangguk dan Minseok mendesah lega. Untuk kali pertama dalam sehari ini, Baekhyun jadi anak baik juga.

Saat Minseok kembali dari lantai bawah dengan obat flu, dilihatnya Baekhyun sedang bergelung dalam selimut. Mata bocah itu terpejam kelelahan, tetapi tidak bisa terlelap. Minseok menghampirinya, mengguncang bahunya. “Baekhyun, ayo minum o—“

Oh.

Suhu tubuh Baekhyun agak hangat, tetapi ketika pemuda itu membuka mata, ia terlihat seolah sehat-sehat saja. Ia menerima obat flu dan segelas air dari Minseok, lalu meminum obatnya.

‘Terima kasih, Hyeong.’

“Ya,” jawab Minseok singkat, “Sudah merasa lebih baik?”

Baekhyun mengangguk cepat.

“Tidak pusing?”

Baekhyun hampir mengangguk, tetapi Minseok menatapnya intens, menuntutnya supaya jujur. Jawaban Baekhyun akhirnya berubah menjadi gelengan.

“Berbaringlah. Tunjukkan sebelah mana yang pusing.”

Segera setelah Baekhyun menunjuk pelipisnya, Minseok memijat daerah itu dengan hati-hati. Baekhyun yang awalnya khawatir akan kekuatan Minseok yang besar kini tidak takut lagi. Ia sangat menikmati pijatan di pelipis yang mengurangi sakit kepalanya.

‘Kupikir kau cuma menggunakan kekuatanmu untuk mengalahkan lawan saat adu panco. Ternyata, kau bisa lembut juga, ya.’

“Yah, aku ‘kan ahli dalam mengendalikan diri, jadi kekuatanku tidak akan menghancurkan kepalamu saat memijat,” Minseok terkekeh, “Rasanya aneh merawatmu yang sedang sakit begini. Maksudku, anak sepertimu ternyata tidak luput dari penyakit, padahal kau selalu terlihat ceria dan banyak tingkah, seperti tidak punya rasa lelah.”

‘Tentu saja aku punya rasa lelah, tetapi buat apa ditunjukkan? Yang ada, semua akan ikut-ikutan lelah. Aku tidak mau itu. Dalam suasana apapun, aku harus membuat orang lain senang—dan kalau ada yang tampak muram, berarti aku gagal sebagai mood-maker grup .’

Minseok tertegun.

Artis seperti Minseok dan Baekhyun memang harus mampu menyembunyikan rasa lelah dan menunjukkan keceriaan. Akan tetapi, facade seperti itu kadang-kadang lenyap  dalam beberapa kesempatan. Milik Baekhyunlah yang paling jarang hilang, baik itu di atas panggung ataupun di depan para member saja. Minseok mengira bahwa nature Baekhyun memang seceria itu, tetapi mestinya Minseok juga tahu kalau Baekhyun juga bisa sedih dan sakit.

Baekhyun mengerti bahwa orang-orang akan ceria jika dia ceria.

Jadi, meskipun dia sakit, dia akan tetap berusaha tampak bahagia.

‘Maaf ya, Hyeong, tadi aku menyuruhmu melakukan hal-hal aneh untuk menyenangkan diriku. Hari ini, aku merasa sangat lelah dan tidak berguna… Gara-gara tidak bisa menyanyi, aku jadi tidak bisa perform dengan Kyungsoo dan Jongdae… Padahal posisiku di grup ‘kan sebagai main vocal, tetapi tanpa suaraku, aku tidak bisa apa-apa…’

Menanggapi permohonan maaf yang tulus itu, Minseok mengacak-acak rambut Baekhyun.

“Selama itu tidak di depan member lain, aku akan melakukan apapun supaya kau senang. Kau tidak perlu memikirkan ‘jabatanmu’ sebagai mood-maker grup kalau denganku karena hari ini, kita sudah lebih mengenal satu sama lain.”

Mata sipit Baekhyun melebar sedikit, dibarengi dengan senyum khasnya yang lucu.

‘Kukira dulu kau sangat membenciku karena aku berisik.’

“Memangnya siapa di dorm yang tidak berisik? Lu Han dan Yi Fan saja jadi berisik belakangan ini,” Minseok mengangkat bahunya tanda tak peduli, “Aku tidak membencimu. Malah, kau adalah salah satu adik yang paling kusayang.”

Bibir Baekhyun membulat.

Bocah itu langsung memeluk Minseok dengan erat.

“Terima kasih banyak, Minseokie-hyeong. Lain waktu, kau harus bicara denganku lebih sering, ya!”

Minseok tertawa.

“Kau melanggar perintah dokter untuk tidak bicara selama seharian.”

Tapi Baekhyun dan Minseok sebenarnya tak terlalu peduli akan hal itu.

Selang beberapa menit, Baekhyun jatuh tertidur. Minseok menaikkan selimutnya yang tersibak, mengusap rambut Baekhyun untuk terakhir kali, dan berjalan keluar kamar dengan senyum lebar di wajah. Melodrama dengan tokoh utama Byun Baekhyun telah tamat dan hidup Minseok akan kembali ramai esok harinya.

***

Melodrama [n.] :

a situation or series of events in which people have very strong or exaggerated emotions

***

TAMAT

Advertisements

12 thoughts on “Melodrama Byun

  1. huehehe..
    Baekkie dan senyum segiempatnya slalu bikin aku ketawa.. Haha

    ah.. Sepertinya aku akan sering mampir.. Jangan bosen liat ID-ku yah.. Hhe

    Like

    1. aku reply langsung 2 komen kamu di sini ya…makasih sebelumnya udh mau sering mampir ^^ pertama buat xiubaek ini… yes, jatuhnya tidak mellow! padahal kukira itu endingnya rada2 gitu tapi syukurlah g memakan ‘korban’… baek g pantes dibikinin cerita mellow hehe. kedua, buat suhan, sebenernya aku gak tau apa luhan itu keluar gara2 sakitnya atau apa, tapi akan lebih dramatis jika benar begitu, makanya di sini aku bikin dia yang super desperate krn overdose-nya itu… *eaa.

      Like

  2. kak liana secret admirermu ini kaaaakk (?) bagus banget sih kakak kalo bikin cerita jadi iri >,< kok aku jadi agak sedih waktu ada nama nya yifan ? T_T
    pokoknya kereeenn kaaakk

    Like

  3. Pertama izin save posternya, unyuk soalnya. btw, aku baru pertama kali berkunjung kemari dan langsung disuguhkan ff yang…ah pokoknya the beat tekewer-kewer. biasanya bbh dipasangin sama pcy, sehun, dll. jadi nih jrang banget kan sama minseok. dan yeah aku suka pake banget malah^^

    Like

    1. crack pair itu emang kadang sesuatu yg agak berbahaya buat dicoba, tetapi syukurlah ini disukai XD asalnya aku ngebias minseok kan tapi bbh juga unyuh puoll sehingga beginilah hasilnya. lagian skrg xiubaek itu lebih byk momennya browse aja deh 🙂
      makasih sdh mampir, silakan save posternya!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s