Informal

i5p0ptjbb9jpa

scriptwriter Liana D. S.

EXO’s Sehun and Xiumin

ft. SNSD’s Taeyeon, Sooyoung, Sunny (Lee Sunkyu), and EXO’s Chen (Kim Jongdae)

Family, Comedy, Ficlet (858 words), Teen and Up (anak kecil dilarang mencontoh apa yang Sehun lakukan!!!)

[summoning SONGHYUN: aku membuat FF Sehun untukmu! XD]

.

Sehun ingin sekali-kali mengerjai Minseok, tetapi malah begini hasilnya.

***

Walaupun libur, Sehun tetap harus pergi ke kampus hari itu untuk mengumpulkan tugas kuliah. Sungguh sial, kemarin dia terlambat menyerahkan laporannya ke koordinator kelas, jadilah ia ditinggalkan. Hari itu adalah deadline tugas dan kantor dosen masih buka, jadi Sehun hanya perlu meletakkan tugasnya di meja sang dosen, menandatangani buku administrasi, dan pergi.

Rencananya sih begitu.

“Jangan lama-lama.”

Sehun mengangguk pada Minseok, kakak sepupunya, yang barusan bicara. Minseok-lah yang mengantar Sehun ke kampus dengan mobil, sekalian berangkat kerja. Kafe tempat Minseok bekerja sebagai barista searah dengan kampus Sehun. Selain itu, Sehun juga berencana untuk berkunjung ke kafe itu. Siapa tahu dapat gratisan? Jadi, daripada buang-buang energi, ia akan langsung tancap gas bersama Minseok ke kafe usai tugasnya beres.

Setelah selesai dengan urusan tugasnya, Sehun bermaksud langsung keluar untuk menemui Minseok, tetapi ia berpapasan dengan beberapa sunbae semester enam. Noona-noona itu, untuk suatu alasan yang tidak begitu jelas, hobi sekali mengikuti Sehun ke mana pun. Yah, sebenarnya bukan hanya mereka saja yang begitu. Ada juga hoobae-hoobae semester dua yang mengejarnya setiap bertemu di kantin, lalu beberapa teman seangkatannya juga…

Rupanya, Sehun masih terlalu polos untuk sadar bahwa dia sangat tampan; daripada jadi mahasiswa ekonomi, dia lebih baik jadi anggota grup idola saja. Dia menganggap gadis-gadis itu hanya ingin berteman dengannya, maka ia menyambut baik mereka. Menambah teman ‘kan bagus; Sehun jadi sering dapat bantuan mengerjakan tugas.

“Sehuna! Sekarang ‘kan hari libur, kok kamu masih ke sini?” sapa seorang dari sunbae-sunbae itu.  Sehun menjawab singkat, ramah. “Aku terlambat mengumpulkan tugas. Kemarin sore kantor dosen sudah tutup duluan saat aku masih kuliah, jadi aku kumpulkan hari ini saja, Taeyeon-noona.”

“Kamu anak yang rajin, ya. Beda dengan adik lelakiku…” puji seorang sunbae yang lain. Sehun menggeleng, berusaha bersikap rendah hati. “Justru karena aku tidak rajinlah, aku jadi terlambat mengumpulkan tugas ini…”

“Setidak-tidaknya kamu masih mau datang meski hari libur demi tugas itu. Kalau adikku… dia lebih mementingkan tidurnya daripada nilai. Huh, susah sekali diberitahunya…”

“Memangnya kau sendiri tidak begitu, Sooyoung?” tanya gadis yang  Sehun panggil Taeyeon pada teman tingginya yang tadi mengeluh.

Percakapan antara Sehun dan para sunbae entah mengapa menjadi panjang. Barangkali karena Sehun terus menanggapi demi alasan kesopanan, sedangkan para perempuan… tahu sendiri bagaimana mereka kalau sudah keasyikan ngobrol. Hal ini menyebabkan Minseok, yang menunggu di mobil, mulai bosan menunggu. Juga cemas.

Apa Sehun ada masalah dengan dosen atau tugasnya?

Minseok keluar mobil dan menguncinya, kemudian mengambil ponselnya di saku. Ia baru akan menelepon Sehun ketika satu pemikiran mencegahnya.

Kalau aku menelepon saat Sehun bertemu dengan dosennya, bukankah itu akan sangat mengganggu? Tidak jadi, deh.

Oh, Minseok, dugaanmu itu sangat…

…tepat.

Segera setelah Minseok menginjakkan kaki di koridor utama fakultas ekonomi, ia melihat adiknya dikerubungi gadis-gadis seperti butiran padi yang diperebutkan ayam-ayam di peternakan. Minseok memutar bola matanya. Ia tak heran dengan pemandangan macam ini; dari SMA, Sehun sudah banyak penggemar.

“Sehun! Ayo, cepat! Aku sedang buru-buru, nih!”

Gawat. Minseok-hyeong menyusulku! Harus cepat-cepat, nih!

“Apa dia saudaramu?” tanya seorang sunbae Sehun yang bertubuh paling pendek di antara semuanya. Sehun mengiyakan dan sunbae itu terkikik pelan. “Dia manis, ya. Sepupu? Kelas berapa sekarang?”

Tunggu sebentar.

Kelas berapa?

Kelas?!

Tiba-tiba, tercetus sebuah ide brilian di kepala Sehun.

“Sebentar ya, Sunkyu-sunbae, aku panggilkan dia,” –lalu berteriak pada Minseok—“Ya, Minseok-ah! Jangan asal panggil nama begitu di depan teman-temanku! Kau itu adik sepupuku, beraninya tidak memanggilku Hyeong! Sini kau!”

Apa?

Tapi Minseok lebih tua empat tahun dari Sehun!!!

“Oh, adik sepupu… Pantas sama manisnya!” bisik para sunbae saat Minseok berjalan mendekat.

Setengah mati Minseok menahan kekesalan saat Sehun menyampirkan lengan di bahunya.

“Nah, Sunbae, kenalkan, ini Kim Minseok, adik sepupuku. Dia kelas… berapa, Minseokie?”

Bagus! Tadi Minseok-ah, sekarang Minseokie. Kurang muda apa Minseok kini?

Baik, Oh Sehun, aku tanggapi leluconmu!

Dengan senyum lebar di wajah, Minseok menjawab pertanyaan Sehun.

“Aku baru masuk SMA tahun ini.”

***

Sehun tertawa terbahak-bahak dalam hati.

***

“Benarkah? Uwaah, anak SMA sekarang lumayan tinggi, ya… tetapi kamu tetap imut, kok!”

“Iya, iya. Susah tidak, pelajaran SMA? Sehun membantumu belajar?”

“Jangan-jangan, Sehun itu tipe kakak sepupu yang tidak baik, yang bisanya cuma tidur di rumah seharian?”

Sontak Sehun menyangkal tuduhan Sooyoung. “Tidak! Kadang aku juga mem—“

“Benar sekali, Noona, Sehun-hyeong tidak pernah membantuku. Dia sangat malas, kalau tidur selalu mengorok, dan suka buang sampah sembarangan!”

Para sunbae tertawa. “Ya ampun, ternyata Sehun seperti itu… Terima kasih ya Minseok sudah memberitahu kami. Terus-terus, apa lagi yang biasanya dia lakukan?”

“Dia sering menonton film yang aku tidak boleh menontonnya. Katanya ‘itu bukan tontonan anak kecil’, begitu. Memangnya itu film apa, aku juga tidak tahu… Lalu, Sehun-hyeong sering mengalihkan tugas rumah padaku, padahal aku ’kan sudah punya tugas sendiri. Oh ya, ada lagi—“

Segera Sehun melingkarkan lengan di leher Minseok dan menyeretnya pergi dengan muka merah padam.

***

Rekan kerja Minseok, Jongdae, mengintip ke arah meja Sehun dari dapur. “Sehun kenapa? Benjolan apa itu di kepalanya? Besar betul.” tanyanya seraya mengangkat nampan dengan secangkir kopi dan sepiring kecil mousse cake yang siap saji.

Di meja nomor delapan, Sehun memegangi dahinya sambil mendesis-desis kesakitan.

Minseok tertawa kecil. Ia mengertakkan sendi-sendi jarinya, lalu kembali ke mesin pemanggang kopi.

Jongdae meringis ngeri, paham betul apa yang terjadi sebelum ini hanya dengan isyarat jari itu.

“Untung aku tidak pernah bicara denganmu secara informal, Hyeong.

***

TAMAT

kalau lihat cover, xiumin kelihatan seperti adiknya Sehun, ya. :p

Advertisements

6 thoughts on “Informal

  1. Oh jadi Sehun mukanya tua oooooh hahaha
    don’t worry Sehun you still look so handsome for me XD
    First, big thanks udah memenuhi request aku 🙂
    Dan makasih karena berkat kamu dan Xiumin, Sehun ga bakal berani tebar pesona lagi sama noona noonanya itu hahaha XD

    Like

  2. gubrak deh hun, doyan amat ngerjain om minseok mentang-mentang dia lucu dan menggemaskan
    tampang om minseok sih imut-imut, tapi lengan dia sekarang *bikin tutup mata*
    makanya jangan jail-jail
    ceritanya keren ^^

    Like

  3. Cuma bisa ngakak.

    Aq jg sering gtu sm adekq, dikira aq adeknya, pdhl aq yg lbh tua.
    Tp ntah np di Indo kebalik ya sm di Korea. Dsni klo org dikira lbh muda malah seneng, mikirnya awet muda. Tp klo d korea, dikira lbh muda dr umurnya malah sewot.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s