Vocal’s Curse

large

by Liana D. S.

Red Velvet’s Wendy, TVXQ!’s Max Changmin

ft. Red Velvet Members, some SM artists

Vignette (2,5K+ words), Friendship, (twisted) Horror w/ chara development, General

[Warning] MAJOR GENRE TWIST!

Changmin punya rahasia gelap yang hanya diketahui segelintir orang di agensi. Wendy sebentar lagi akan mengetahuinya.

***

Shine on me… Let it shine on… Uhuk!”

Fokus Irene, Seulgi, dan Joy seketika teralih pada Wendy yang baru saja batuk. Gadis berwajah kebarat-baratan itu memerah mukanya, malu. “Ma-maafkan aku, teman-teman…”

Meski lelah karena harus mengulangi latihan koreografi berkali-kali karena berbagai alasan, tiga gadis lain tidak menyalahkan Wendy. Sebaliknya, Seulgi memandang cemas Wendy dalam diam. Si magnae Joy pun ikut khawatir. “Eonni, kenapa?”

“Aku tersedak gara-gara pengaturan napasku agak kacau… Aduh, aku benar-benar menyesal… Menyanyi sambil menari itu sulit juga, tetapi karena kalian semua bisa melakukannya, aku juga harus bisa!” tekad Wendy.

“Bagian kami tidak sesusah ‘shine on me’ milikmu, jadi wajar kalau kau merasa kelelahan karenanya.” ujar Seulgi, maklum pada beban yang ditanggung teman sebayanya sebagai main vocal. Wendy tertawa canggung sambil mengusap kepala belakangnya. “Itu tak terlalu sulit, kok… Aku saja yang kurang menguasai tekniknya…”

“Tapi kau harus sesegera mungkin memperbaiki dirimu, Wendy,” Leader Irene berucap tegas, “Waktu debut kita sebagai girl group baru, Red Velvet, sudah dekat. Kita harus tampil sesempurna mungkin.”

Wendy tahu itu, tetapi tidak benar-benar memikirkannya hingga Irene yang mengatakan. Eonni tertua di grup itu memang terkenal perfeksionis dan paling jarang melakukan kesalahan, makanya Wendy jadi takut begitu kena tegur.

“Baik…”

Joy buru-buru memeluk Wendy dari samping dan berkata pada Irene, “Jangan marahi Wendy-eonni, Irene-eonni….”

Aih, rupanya adik-adikku salah tangkap, mungkin itu pikiran Irene. Sang pemimpin yang bahkan tampak lebih muda dari magnaenya itu melunakkan ekspresinya. “Aku tidak marah… Aku cuma mengingatkan soal panggung debut kita yang sudah tinggal selangkah lagi,” Senyum manis tersungging di bibir si leader imut, “Supaya penampilan kita memuaskan bagi kita sendiri, juga orang lain, bukankah satu-satunya cara adalah terus memperbaiki diri? Ya, maksudku kita semua, bukan cuma Wendy yang harus berbenah.”

Ruang latihan hening. Gadis-gadis yang lebih muda sedang merenungkan ucapan sang leader ketika tiba-tiba, Irene menepukkan tangannya. “Sebaiknya, kita istirahat dulu untuk memulihkan tenaga. Wendy…”

“Eh?” Yang dipanggil mengangkat pandang, “Ya, Eonni?”

“Kalau butuh saran soal teknik vokal yang baik, coba temuilah Changmin-sunbaenim. Suaranya adalah satu dari yang terkuat di sini; mungkin dia bisa membantumu.”

***

Wendy kurang akrab dengan para senior di agensi tempatnya bernaung, tetapi demi mencapai kesempurnaan teknik vokalnya, ia beranikan diri mendekati salah seorang dari mereka. Di tangan Wendy, ada sekotak kecil takoyaki yang dibelinya bersama Seulgi dengan susah-payah, mencuri waktu latihan. Changmin-sunbaenim suka makan apa saja, harus disuap dulu dengan ini biar semuanya lancar, nasihat Seulgi yang memang jauh lebih mengenal para senior.

TVXQ. Wendy menelan ludah ketika melihat poster yang terpasang dekat ruang latihan duo itu. Dengan konsep yang sedemikian edgy dan kuat, TVXQ memang tiada tandingan; bahkan setelah sekitar sepuluh tahun debut, Wendy pikir duo ini masihlah yang paling elit di SM Entertainment. The Rising Gods of The East, eh? Sial. Berarti Wendy sebentar lagi akan menemui sesosok dewa. Dewa dari Timur dengan pita suara yang tak putus-putus.

Harusnya Wendy mempersiapkan lebih dari sekadar takoyaki sebagai persembahan.

Ruang latihan sedang sepi, artinya tidak ada yang latihan. Ragu, Wendy membuka pintu ruangan itu. Hanya ada Changmin, duduk di kursi. Kaki kirinya menjuntai jauh dari kursi yang didudukinya, sedangkan kaki kanannya disilangkan, tumitnya tertumpu pada lutut kaki kiri. Jari-jari tangannya yang panjang dengan cekatan mengupas pisang.

Changmin-sunbaenim benar-benar makan apa saja di mana saja, batin Wendy.

Setelah menggigit pisangnya sekali, Changmin mengunyah perlahan, kelihatan sangat menikmati buah kuning panjang manis di tangannya. Ia begitu asyik sebelum menyadari bahwa seorang juniornya mengawasi di dekat pintu.

“Oh, Wendy, bukan?”

Berbeda dengan Changmin yang menyapanya seolah mereka teman lama, Wendy langsung gugup dan kebingungan. “Anu… Sunbae… Itu…”

Changmin menatap Wendy dengan mata lebar seraya mengunyah pisangnya. Bukan menatap Wendy, sih; lebih tepatnya menatap kotak di tangan Wendy. Detektor makanan spesial milik Changmin sedang aktif-aktifnya, rupanya.

Benar saja.

“I-ini… Takoyaki… Kubeli bersama Seulgi, silakan dinikmati…” Rambut berombak Wendy terayun pelan saat ia menunduk dan menyerahkan kotaknya pada Changmin. Gayanya seperti gadis-gadis di drama yang menyerahkan sekotak cokelat Valentine pada pemuda yang ditaksir. Changmin, yang baru saja menelan gigitan terakhir pisangnya, mengerjap senang. “Buatku? Terima kasih, ya! Tahu saja aku gampang lapar.”

Secepat kilat, Changmin menyambar kotak Wendy. Aroma menggiurkan dari ikan serut dan bumbu-bumbu takoyaki membangkitkan rasa lapar ratusan kali lipat. Sekali lagi, Changmin tenggelam dalam cita rasa masakan Jepang yang sudah lama tak ia makan itu, berhubung TVXQ jarang manggung di Jepang. Sedang Wendy masih mematung, tak tega mengganggu Changmin yang seolah belum makan beratus-ratus tahun.

Padahal itu ‘kan hanya takoyaki.

Menyadari arah pandang Wendy, Changmin mengangkat lidi yang ditancapi sepotong takoyaki. “Kau mau juga? Kita bisa berbagi, lagipula ‘kan kau yang membawanya.”

“Hm… Ah, tidak… Itu buat Changmin-sunbae saja… Aku ke sini bukan untuk makan…” Wendy tersenyum kikuk, “Aku… aku mau belajar menyanyi….”

Mulut Changmin yang terus mengunyah bekerja sinkron dengan otaknya yang sibuk mengingat sesuatu.

Wendy, sebelum ini, sudah cukup dikenal di belantika musik Korea karena suaranya. Sekarang, ia ditempatkan di posisi prestise lead vocal dalam grup yang akan didebutkan. Menurut Changmin pribadi, Wendy memiliki teknik vokal yang paling bagus di antara personel grup yang akan didebutkan ini. Yang menjadi pertanyaan adalah: kenapa Wendy ingin belajar menyanyi, seolah dia masih pemula? Dan kenapa Changmin yang dihampiri? Penyanyi hebat di agensi ini ‘kan masih banyak?

“Irene-eonni merekomendasikan Sunbae karena Sunbae-lah yang suaranya paling kuat.”

Ini rupanya alasan Wendy. Mulut Changmin membulat, sesaat kemudian ia manggut-manggut. “Kukira temanmu itu benar juga,” katanya, sombong sedikit, “tapi kupikir kau sudah cukup baik. Kau mengisi satu soundtrack untuk dramaku, bukan? Kau sangat bagus di sana, lalu apa lagi yang ingin kau pelajari?”

Wendy langsung menggeleng. “Changmin-sunbaenim masih lebih stabil dibanding aku, juga mampu menyeimbangkan dance dengan nyanyian sehingga tidak gampang kelelahan! Tolong ajari aku rahasianya supaya bisa sehebat Sunbae!”

Ah, Changmin tahu apa yang kurang dari gadis ini. Ia tersenyum misterius setelah menyisihkan kulit pisang dan kotak takoyakinya yang sudah kosong.

“Kau yakin ingin mengetahuinya?”

Jantung Wendy berdebar lebih cepat ketika ia mengangguk dalam.

“Tapi rahasia ini dapat membuatmu menghilang dalam beberapa tahun ke depan.”

“Hah? Bagaimana bisa?” Wendy sampai harus menutup mulutnya sendiri untuk mengerem keterkejutannya. Menghilang? Kenapa menyanyi saja bisa sampai menghilang? Apalagi ekspresi Changmin memberi kesan bahwa rahasia yang akan dibongkar ini sangat berbahaya.

“Yah, ini adalah rahasia semua main vocal di agensi yang mendapat ‘tugas berat’; tahulah apa,” Changmin bersandar di kursinya, “Beberapa main vocal sepertiku, sepertimu juga, harus meraih nada tinggi di beberapa bagian, tetapi tentunya ini tidak dapat dilakukan sembarang orang. Hanya orang-orang tertentu yang benar-benar mampu melampaui beberapa oktaf; sisanya dipaksa untuk mampu sampai mereka sendiri kewalahan. Nah, ‘sisanya’ inilah yang melakukan pertukaran denganku.”

Dahi Wendy berkerut tegang. “Pertukaran… apa? Apa yang akan Sunbae lakukan seandainya aku menyetujui pertukaran itu?”

Changmin tertawa kecil. “Kau pasti sudah begitu putus asa soal bagianmu di lagu debut, benar? Kalau tidak, tentunya kau masih berlatih sekarang dan bukannya ingin tahu tentang pertukaran ini,” Pria jangkung itu melipat lengan, sok kuasa; pikiran anak polos di hadapannya telah ia ambil alih, “Benar-benar mau bertransaksi denganku, Wendy?”

“Setelah aku tahu pertukaran apa yang Sunbae inginkan.”

“Jadi, aku akan memberikanmu kekuatan yang selama ini kau inginkan. Range vokal yang luas. Stamina dan kontrol. Kau akan memiliki semua itu dan dapat menggunakannya di atas panggung, tetapi…” Changmin menunjuk kaki Wendy, “…aku akan mengambil tinggi badanmu dua milimeter setiap kau memakai kekuatanku.”

Kalimat pamungkas Changmin sukses membuat Wendy terbelalak. Gadis itu menunduk untuk melihat kakinya.

Dua milimeter.

Diganti dengan suara sehebat punya Changmin.

Well, itu menguntungkan Wendy, sebenarnya. Dua milimeter, lho. Dua milimeter saja! Murah betul suara Changmin.

“Tunggu,” Sisi kritis Wendy bekerja lagi, “Tidak ada transaksi iblis seperti itu! Pertukaran macam itu hanya ada dalam dongeng!”

“Kau jelas kurang jeli. Buktinya ada di sekelilingmu.”

Sekeliling?

“Masih tidak mengerti?” Changmin mengeluarkan MP3 playernya dan mengetuk-ngetuk beberapa panel di monitor, “Dengar ini.”

Satu melodi yang akrab mengalun kemudian dari ponsel Changmin.

‘Twinkle’. Dibawakan oleh Taetiseo, subunit beranggotakan tiga orang ‘kakak’ Wendy dari girl group SNSD. Wendy merinding ketika Taeyeon, main vocal terkuat SNSD, mencapai nada tingginya yang sangat panjang. Sebelum lagu benar-benar selesai, Changmin menekan next beberapa kali hingga sampai pada lagu ‘kakak’ Wendy yang lebih muda, girl group  f(x). ‘Nu ABO’. Dan Luna dengan ‘santainya’ melakukan hal yang sama dengan Taeyeon, padahal setahu Wendy, koreografi f(x) lebih menonjol dibanding SNSD (artinya: tenaga Luna jelas lebih besar karena terbagi untuk dance dan high note).

Lagu berikutnya, sama seperti lagu-lagu sebelumnya, diputar di bagian dengan nada-nada ‘berbahaya’. Sialnya, kali ini dibawakan oleh dua orang, Baekhyun dan Chen dari EXO, ‘kakak lelaki’ Wendy. Nada tinggi mereka terbagi dalam tiga ‘gelombang’ sama besar.

‘Wolf’.

Ya. Siapapun tahu apa yang dilakukan Baekhyun dan Chen di sana: berkelahi. Dengan pita suara.

Changmin menghentikan playernya.

“Sekarang, putar ingatanmu pada sosok orang-orang yang membuat telingamu pecah itu. Bandingkan tubuh mereka dengan teman-teman satu grup mereka. Kau akan menyadari bahwa mereka telah bertransaksi denganku.”

Oh.

Setelah merenung agak lama, baru Wendy paham.

Dari semua orang yang menyanyikan ‘nada-nada berbahaya’ ini, tidak ada satupun dari mereka yang tinggi. Badan mereka…

Astaga.

Ketika manik kecoklatan Wendy mendarat pada kaki Changmin, ia menemukan satu hal lagi yang menjadi bukti transaksi Changmin dengan para lead vocal.

Kaki Changmin sangat panjang. Terpanjang di agensi, malah.

“Tentu saja ini akan bertambah panjang,” Changmin memainkan kakinya; ‘ini’ yang dimaksudnya adalah kaki, “terlebih ketika orang-orang yang terlibat kontrakku menggunakan kekuatanku. Haha. Mereka semakin kecil dan aku semakin besar, lalu lama-lama, mereka… psh! Hilang.”

Wendy menelan ludah.

“Nah, nah, tetapi tak usah khawatir. ‘Lama-lama’ yang tadi kubilang itu masih sangat jauh. Dua milimeter itu hanya segini,” Changmin menempelkan jempol tangannya dengan telunjuk, pertanda dua milimeter itu sangat kecil, “Tidak ada artinya dibanding kalau kau tidak bisa menyanyi dengan baik di panggung. Lagipula, anak perempuan cepat bertumbuh, jadi dua milimeter yang terambil akan cepat terganti.”

Banyak artis di agensi bilang Changmin adalah iblis berwajah malaikat. Wendy tidak percaya karena Changmin selalu memperlakukan hoobae dengan baik. Wendy juga tak percaya kutukan. Itu hanya takhayul untuk menakuti orang-orang bodoh.

Namun, tampaknya, kali ini Wendy harus percaya semuanya. Percaya bahwa kutukan itu ada. Juga percaya kalau Changmin itu iblis bersuara mahal.

“Jadi, kita lanjutkan?”

“Beri aku waktu untuk memikirkannya!” Sekali lagi Wendy kehilangan kontrol atas suaranya, hingga terdengar seperti membentak sang senior, “Beri aku waktu…. Aku ingin menjalin kontrak itu jika kesempurnaan teknik vokalku memudahkan Red Velvet, tetapi…”

“Semua yang menjalin kontrak denganku selalu meminta waktu,” sahut Changmin, kesal, “Dua hari. Setelah itu, putuskan. Aku akan melakukan sesuatu di luar batas jika kau terus-terusan bimbang.”

***

“Mau sandwich? Sebenarnya ini buat makan siang kami, tetapi kebanyakan, jadinya buat kalian saja.”

Wendy dan Joy kebetulan duduk melepas lelah di dekat ruang latihan Super Junior, ‘kakak lelaki’ (atau paman?) mereka di agensi. Orang yang mengulurkan dua potong roti isi pada Wendy dan Joy ini adalah Ryeowook, salah seorang main vocal Super Junior. Satu hal pada pria awet muda ini menarik perhatian Wendy. Yang jelas ini bukan tentang roti isi buatannya.

Tapi kakinya.

Yang tidak begitu panjang (untuk tidak bilang pendek).

Apa mungkin Ryeowook-sunbae melakukan pertukaran juga? Nada tingginya tidak begitu kentara, sih… tetapi tetap saja dia main vocal! Mungkin… mungkin…

Eonni, buatmu, nih. Bilang terima kasih sana sama Ryeowook-sunbae.” Joy membuyarkan lamunan kakak Kanadanya. Gelagapan, Wendy bangkit dan buru-buru membungkukkan tubuhnya sopan.

“Eh… iya… a… terima kasih banyak, Sunbae…”

“Kelihatannya kau kurang sehat,” Alis Ryeowook bertaut cemas, “Panggung debutmu tinggal seminggu. Kau harus terus dalam keadaan yang prima, Wendy.”

Nasihat Ryeowook ini diulang-ulang Joy di ruang latihan hingga Irene curiga. Si magnae bisa dibilang ‘melaporkan’ sakitnya Wendy pada sang pemimpin, secara tidak langsung. Wendy agak marah karena Joy mengambil kesimpulan seenaknya. Sayang, Irene sudah terlanjur turut campur.

“Benar itu? Kau sakit? Kenapa? Kau harus tidur tepat waktu, jangan makan dan minum yang aneh-aneh, atau jalan-jalan sembarangan!” omel Irene.

Wendy tertunduk. “Aku… tidak ap—“

“Jangan bilang ‘tidak apa-apa’, Wendy. Kalau kau sakit, katakan saja! Tidak boleh ada rasa sakit yang disembunyikan di antara kita atau kita tidak akan bertahan setelah debut,” Irene menepuk bahu Wendy, nadanya melembut, “Ceritalah.”

Wendy tertunduk makin dalam, menyembunyikan wajah di balik bayang-bayang rambutnya. Seulgi mendekatinya, memberikan dukungan mental dengan belaian di punggung. Joy meniru Seulgi untuk menenangkan badai dalam jiwa Wendy.

Dengan begitu banyak cinta di sekitarnya, mestinya Wendy bertambah kuat secara otomatis. Tak perlu tambahan kekuatan dari Changmin jika hanya untuk mencapai high note. Dia mampu. Pasti mampu. Dengan dukungan sebesar itu dari Irene, Seulgi, dan Joy, yang minim kata tapi dalam maknanya, apakah ia tetap tak mampu bertahan?

Di luar dugaan, tangis Wendy pecah. Si gadis kemudian memeluk Irene yang ada di depannya. Lalu Seulgi. Juga Joy. Bergantian.

“Maaf… Aku sudah menyusahkan… Aku tidak akan ber-berbuat dan ber-berpikir yang aneh-a-neh lagi… Aku a-akan berlatih saja… Maaf semuanya… Hiks…”

“Lho, lho, Eonni, kenapa?”

Duh, Park Sooyoung, jelas-jelas aku menangis!, Wendy ingin sekali melayangkan jitakan sayang pada Joy, tetapi ditahannya. Kenyataan bahwa adik kecilnya itu kelewat polos membuatnya ceria dan bersemangat lagi.

Energi positif. Yeah. Energi itulah yang lebih dibutuhkan Wendy untuk mencapai high note daripada transaksi dengan Changmin. Kasih sayang keibuan Irene, pengertian dari Seulgi, juga sikap manis Joy akan menambah suplai kebahagiaannya. Lagipula, lagu debut Wendy berjudul ‘Happiness’, maka konyol sekali seandainya Wendy menyanyikannya dengan perasaan tertekan gara-gara ketakutan pada ancaman minus-dua-milimeter-nya Changmin.

Sementara di luar ruang latihan, seseorang menguping dan terkekeh pelan.

“Aku kehilangan korban, nih.”

***

Shine on me… Let it shine on me!”

Wendy membawakan nada tingginya dengan percaya diri, seolah ia memiliki range vokal yang tak berbatas. Sepintas, Irene, Seulgi, dan Joy melemparkan tatapan bangga pada lead vocal mereka. Usaha keras dan doa memang tidak berkhianat, bukan?, itulah yang ingin mereka sampaikan.

Hembusan napas lega yang samar lolos dari Wendy yang terus tersenyum bahagia.

Untung aku tidak menyetujui kontrak bersama Changmin-sunbae… Perasaan yang hebat ini jadi terasa makin hebat berkali-kali lipat!!!

Ketika turun panggung, Wendy dan Joy langsung menangis. Bukan sedih, hanya saja dera perasaan membuat mereka bingung dan tidak tahu bagaimana mengekspresikannya selain dengan menangis. Mata Seulgi berkaca-kaca, tetapi kontrolnya bagus, jadi tidak ada tumpahan air mata darinya. Sama seperti Irene yang tangguh, gadis itu memeluk dua teman kecilnya dan mengatakan ‘kita hebat, ‘kan?’

Dari kejauhan, sang dewa timur bersuara emas mengawasi itu semua. Tangannya terlipat, punggungnya bersandar pada dinding koridor backstage. Ia sengaja datang pada panggung debut Red Velvet untuk menyaksikan hasil kerja adik-adiknya.

Terutama Wendy.

“Bukankah kita semua hebat?”

“Benar, kita semua hebat! Hiks… latihan yang melelahkan itu ternyata berhasil membawa kita ke sini….”

“Bodoh, jangan menangis!”

“Hei, kau pikir kau tidak menangis?”

Changmin ingat empat hyeongnya di TVXQ begitu terharu setelah debut, sebuah perasaan yang tidak begitu ia pahami karena Changmin tidak menantikan debut sebesar kakak-kakaknya. Akan tetapi, melihat betapa kerasnya usaha para hyeong menanamkan keharuan sendiri dalam diri Changmin.

Dahulu, Changmin merasa inferior setiap kali berhadapan dengan para hyeongnya—dan dia sudah kehilangan seluruh rasa malu itu sekarang. Ia telah setara dengan Yunho, Jaejoong, Yoochun, dan Junsu karena mereka senantiasa berbagi kekuatan.

Dahulu. Saat masih berlima.

Dan sekarang. Ketika sudah terpisah.

Ketika Wendy menyodorkan takoyaki (dan sebuah keraguan) padanya hari itu, Changmin langsung tahu apa kekurangan si gadis Kanada.

Kurang percaya diri. Kurang sokongan dari para membernya. Bukan karena para member tidak memperhatikannya, tetapi karena mereka masih baru bersama dan belum mengalami kesulitan berarti. Jadi, sekalian mengisi waktu luang, Changmin membuat ‘kesulitan berarti’ itu dengan mengerjai Wendy, memberitahunya tentang kontrak lead vocal yang sesungguhnya bohong besar. Kondisi ini mendorong Wendy ke situasi tak menyenangkan—di mana dia akhirnya merasakan pentingnya dukungan dari para eonninya, menghalanginya dari mengambil ‘jalan mudah’ yang disediakan sang dewa timur.

Dalam hati, Changmin tertawa sendiri.

Senang mengerjai kalian, Hoobae.

Tapi aku lebih senang lagi menyaksikan panggung debut kalian yang bersinar karena usaha kalian sendiri.

***

Changmin selalu menghitung berapa skor yang ia dapat setelah berhasil mengerjai hoobae. Kali ini, skornya 10-1.

Sepuluh tahun untuk Changmin.

Dan satu hari untuk Red Velvet.

***

TAMAT

author’s notes: ide ini tercetus karena aku baru sadar, main vocal yg jago high note di SM nggak ada yg tinggi kecuali Shim satu ini. Konyol, ya?

dan akhirnya kalian tahu kenapa ini genrenya TWISTED HORROR, karena emang ga ada horrornya, kontrak horrornya Changmin cuma bohongan doang dan genrenya ketwist jadi comedy. *ini bahkan gak lucu, thor*

Anyway. Seulginya agak OOC. mohon maaf. kalo menurut pandanganku, awalnya, dulu Seulgi itu cewek yg pendiam tapi selalu menyemangati temen2nya dgn menyembunyikan kelelahannya. padahal sebenernya dia itu happy virusnya RV ya? kalo Joy mah jelas. Irene pun jelas. Wendy itu kalo menurutku anaknya inosen, polosnya mirip Joy, dan gak jahil tapi bully-able. am i right?

Advertisements

4 thoughts on “Vocal’s Curse

  1. Aih, ini, ini. #nunjuk ff di atas.
    Fanficmu yg prtma kali aq baca di AO3 (tp mian ya, aq g ninggalin jejak dsna. Emg g niat sih, hehe).
    Awal’a itu iseng lg search lagu solo yg pnh dinyanyiin wendy, trus nyasar di sana, hahay.

    Btw dsni aq pengen lempar muka changcuter, eh salah, changmin pake sendal. Dy itu mbah2an’y evil sblm kyuhyun. Tp yg aq suka dy wajah’a tetep aja ky gtu dr awal debut dlu, awet muda euy. Ga heran dy msh pntes meranin ank Sma di Mimi.
    Oke sip, aq udahin cuap2q ini.

    Oh ya satu lg, gara2 Herperusmu aq jd kangen Han geng ma Luhan tau. Di saat sahabat koplakq koar2 pngen ke Busan (buat ktmuan ma pacar LDRan dy. #serius, dy pacaran sm org Busan), aq sndri lg interest plus pngen ke Beijing, mw ngukur pnjang, luas, dan volume tembok China (ga deng, brcanda)

    Like

    1. kakak keseret ke rv banget ya sekarang sejak jadi chanwen shipper *lah*
      SAMA KAKAK AKU JUGA KANGEN HANGENG LULUUUUU mereka kan udah keluar kenapa gak bikin project bareng aja? *kaisar han *putra mahkota wu *pangeran lu *uhuk
      btw ffku yg di AO3 g bakal kuposting di sini kak, updatenya ttp di sana tapi aku gatau bakal update kapan…. hiks. multichap itu emang luar biasa melelahkan

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s