Before Ignition

by Liana D.S.

Apink’s Chorong

ft. Jay Park (Park Jaebeom), EXO’s Chanyeol, f(x)’s Luna (Park Sunyoung), and Super Junior’s Leeteuk (Park Jungsoo)

mention of another Parks

Family, slight!Hurt/Comfort, Vignette (2K+ words), Teen and Up

side story of Ignition ~야생 거리~

Karena hadiah yang dibuat dengan cinta bukan hanya cokelat atau kue atau sweater. Chorong punya versinya sendiri.

***

Pagi itu, seorang gadis manis berusia sepuluh tahun menghabiskan hari libur bersama setumpuk novel. Park Chorong nama gadis itu. Ia putri Park Jaebeom, seorang pemilik bengkel yang kadang nyambi jadi mekanik. Terlepas dari pekerjaan ayahnya yang lumayan kasar, Chorong sendiri sangat feminin dan anggun…

…walau ia akui, kadang ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya ketika menonton film action bersama sang ayah. Entah apa itu.

Chorong juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata—yang membuatnya agak sulit dapat teman. Tidak mengherankan jika ia sekarang duduk sendirian dalam kamar dan bukannya pergi main dengan gadis-gadis lain. Biasa, mereka yang iri menjauhi Chorong karena takut kalah saing dengannya. Bayangkan, sudah cantik, anggun, cerdas pula. Gadis mana yang tidak iri (atau minder)?

Ada satu, sebenarnya.

Park Sunyoung, sepupunya, malah selalu menubruknya dengan sayang setiap bertemu. Sunyoung tak malu-malu mengatakan ia iri dan ingin secantik Chorong, yang Chorong tanggapi dengan tawa ringan dan ‘kau sudah cantik meski kau pendek, tenang saja!’.

Chorong tersenyum saat teringat gadis bersuara cempreng yang lebih muda empat tahun darinya itu.

Si mungil… apa dia sekarang sudah agak tinggi, ya? Padahal kakaknya jangkung sekali…

Kakak Sunyoung, Park Chanyeol, juga baik sekali. Muka bodoh anak lelaki itu tak henti membuat Chorong gemas dan mencubitnya, apalagi kalau Chanyeol mulai melontarkan lelucon-lelucon konyol.

Hanya mereka berdua yang Chorong pikir benar-benar bisa dijadikan teman.

Anak-anak lainnya penuh kepalsuan.

Konsentrasi Chorong pada novelnya buyar ketika mendengar langkah kaki yang terburu-buru di lantai bawah. Jaebeom.

Ada apa, sih, Appa berisik betul.

Chorong melipat sedikit ujung halaman yang baru ia selesaikan, lalu turun untuk menemui ayahnya. Ia mendapati Jaebeom berpakaian lebih rapi, tidak biasanya.

Appa mau ke mana?”

“Ke rumah sakit. Minyoung-ahjumma kecelakaan dan—“

“Apa?!”

Padahal kemarin Sunyoung bilang ia dan Chanyeol akan pergi berlibur bersama ibu mereka…

…Park Minyoung.

“Ya,” Jaebeom menampakkan ekspresi sedih yang biasanya tersimpan; bagaimana ia dapat menyembunyikan itu ketika kakaknya sendiri terluka? “Chanyeol dan Sunyoung luka ringan, tetapi keadaan Minyoung-ahjumma sangat buruk.”

Chorong meremas roknya.

A-Appa, aku mau ikut ke rumah sakit!”

“Kau jaga rumah saja.”

“Aku mau ikut!!!” desak Chorong, berlari menuruni tangga, “Aku ingin ketemu Chanyeol dan Sunyoung; mereka sedang kesakitan, ‘kan? Izinkan aku menemani mereka!!!”

Setelah satu desahan panjang yang penuh pertimbangan, Jaebeom akhirnya mengajak Chorong serta.

Dalam mobil, telinga Chorong yang awas mendengarkan percakapan Jaebeom di telepon dengan seksama. Sepertinya Jaebeom dan seseorang di seberang sana membicarakan sesuatu terkait kecelakaan Minyoung,

“Lambang matahari?! Argh, sial!” Jaebeom kemudian mendesis, menyesal sudah mengumpat di depan putrinya, “Ya, ya. Aku tahu Subaru itu. Park Bom. ‘Radiant’ pasti mengetahui bahwa Yoochun-hyeong punya keluarga yang ingin ia amankan.”

Yoochun-ahjussi? Tapi kata Sunyoung, ayahnya sudah lama meninggal… Apa ternyata, Yoochun-ahjussi masih hidup? Lalu siapa Park Bom ini?, batin Chorong.

“Hm… oh? Park Bom  bekerja sendiri? Sebentar… Ah, benar, tentu Jinyoung tua akan mengerahkan seluruh pasukannya jika ia sudah menemukan keluarga Yoochun-hyeong. Berarti dia tidak tahu?” Jaebeom menghembuskan napas lega, “Heh, dendam pribadi Park Bom, barangkali. Pemaksa betul. Sudah tahu dia bukan seleranya Yoochun-hyeong.”

Telepon diakhiri beberapa menit setelahnya. Chorong menoleh ke kursi pengemudi.

Appa, tadi itu siapa? Kok dia membicarakan Yoochun-ahjussi?”

“Kamu mencuri dengar, ya? Itu tadi temanku. Dia bilang polisi menemukan lambang matahari kecil di bumper mobil yang menabrak mobil Minyoung-ahjumma pada rekaman CCTV lalu-lintas. Mobil itu belum ditemukan, tetapi tanda itu akan membantu menemukannya.”

“Lambang itu apa artinya?”

Jaebeom menghembuskan napas panjang. “Ini masalah orang dewasa.”

“Aku sudah cukup dewasa, ‘kan? Lagipula, ini pasti berhubungan dengan Chanyeol dan Sunyoung. Beritahu aku, Appa, atau aku tidak akan memasak untukmu lagi.”

Sialnya, Jaebeom masih bergantung pada putri cerdasnya ini kalau soal makanan di rumah.

“Jadi,” mulai Jaebeom, “Yoochun-ahjussi masih hidup, tetapi dia tergabung dalam tim pembalap liar yang bernama ‘Radiant’. Kau tahu tim pembalap liar?”

“Aku melihatnya di televisi bersamamu kemarin.”

Jaebeom lupa kalau kemarin Chorong menonton film action dengannya.

“Yah, sesuatu semacam itu. Bosnya ingin Minyoung-ahjumma, Chanyeol, dan Sunyoung supaya bergabung dengan tim, tetapi Yoochun-ahjussi ingin kehidupan yang normal bagi keluarganya. Karena itu, ia melarikan mereka bertiga dan meminta Harabeoji untuk mengawasi, tetapi kelihatannya, seseorang sudah tahu persembunyian mereka dan berusaha melukai mereka ketika Harabeoji tidak ada.”

“Park Bom-ssi?”

“Tepat.”

Siapapun Park Bom, dia wanita yang menyebalkan, simpul Chorong.

Mobil berhenti di depan rumah sakit. Jaebeom dan Chorong turun dari mobil, tetapi sebelum gadisnya melangkah masuk, Jaebeom berbisik, “Jaga apa yang kukatakan, Chorong. Chanyeol dan Sunyoung tidak boleh sampai tahu.”

***

Tangan Chorong gemetar meraih gagang pintu ruangan di mana Chanyeol dan Sunyoung berada. Masih terngiang apa kata dokter yang merawat bibinya.

Park Minyoung meninggal.

Chorong mengusap air matanya kasar.

Padahal bibinya orang yang sangat baik, cantik, dan perhatian. Orang itu menjadi pengganti ibu bagi Chorong setelah sekian tahun. Kematian Minyoung jelas menyakitkan Chorong, seakan-akan ialah yang kehilangan ibu.

Kalau aku saja seperti ini, bagaimana Chanyeol dan Sunyoung nanti? Duh, coba Appa ada di sini… Dia pasti lebih bisa menghibur Chanyeol dan Sunyoung dibanding aku…

Tapi Jaebeom sedang di kamar mayat, mengecek jenazah Minyoung.

Apa boleh buat? Chorong memantapkan hatinya, memasuki ruangan.  Satu pemandangan yang menyakitkan langsung menyambutnya.

Sunyoung terlelap dengan jejak air mata di wajah.

Sedangkan Chanyeol duduk memeluk lutut di lantai, sebagian wajahnya tertutup lengan. Bocah tujuh tahun itu tampaknya tidak menyadari kehadiran Chorong. Jadi, Chorong mengusap kepala yang sering dijitaknya itu dengan lembut dan hati-hati, seolah Chanyeol  barang pecah-belah yang gampang hancur.

Chanyeol menengadah. Wajahnya juga sebasah Chorong.

Noona…”

Demi mendengar suara parau Chanyeol yang masih tersisa tangisnya, hati Chorong berdarah. “Iya, aku tahu, kok.”

Perlahan, Chanyeol memeluk kaki Chorong yang berdiri di sampingnya.

“Bagaimana ini… Sunyoungie minta ditemani Eomma terus, padahal dia tahu kalau Eomma sudah meninggal, ‘kan? Chorong-noona, apa yang harus kulakukan?”

Selama beberapa menit, Chorong terpaku. Ia menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri.

Apa yang harus kulakukan buat kalian?

Chanyeol melepaskan pelukannya dan memaksa diri tersenyum. “Noona, aku tidak ingin menangis supaya Sunyoung juga tidak menangis, tetapi air mataku tidak bisa berhenti… Aku cengeng sekali, ya.”

Bagaimana Chanyeol masih dapat tersenyum? Chorong saja menangis sangat lama saat ibunya meninggal.

Kau kuat sekali.

Tentu saja. Chorong ‘kan anak perempuan, anak tunggal pula.

Tapi Chanyeol anak laki-laki dan seorang kakak.

Makanya Chanyeol bersikap lebih dewasa pada beberapa kesempatan, meskipun ia lebih muda tiga tahun dari Chorong.

Chorong melingkarkan lengan pada sang sepupu dan menepuk-nepuk punggungnya hangat.  “Anak cowok boleh cengeng sesekali. Menangislah. Sebelum Sunyoung bangun,” ucapnya lirih, “Aku ada di sini.”

Chanyeol kembali memeluk Chorong dan menenggelamkan isaknya di bahu gadis itu.

Noona, aku sangat sedih… Kenapa Eomma pergi… Appa sudah tidak ada, Harabeoji sudah tua… Apa aku sendiri yang harus menjaga Sunyoung?”

“Aku akan membantumu, Yeol. Jangan khawatir.”

Kenapa  orang-orang sebaik Minyoung-ahjumma, Chanyeol, dan Sunyoung harus mengalami ini?

Chorong mengeratkan dekapannya pada sang sepupu. Ia membenci banyak orang, tetapi hari itu, untuk pertama kalinya Chorong mengutuk orang yang ia benci.

Mengutuk siapapun yang membunuh Minyoung,  membuat Chanyeol dan Sunyoung menderita, dan memisahkan Yoochun dari mereka berdua.

Dalam perjalanan pulang, Chorong bertanya pada Jaebeom, “Kalau Chanyeol dan Sunyoung bisa ikut balapan seperti yang ada di film dan mengalahkan timnya Yoochun-ahjussi, mereka bertiga bisa berkumpul lagi, ‘kan?”

“Tentu,” Jaebeom agak terkejut dengan pemikiran gadisnya yang tiba-tiba ini, “Kenapa memangnya?”

“Kalau begitu,” Chorong menatap ayahnya tajam, tekadnya sudah bulat, “mulai besok, sepulang sekolah, izinkan aku kerja di bengkel.”

***

Sepuluh tahun berlalu dan di sinilah Chorong sekarang.

Di hadapan Ford Mustang 1967 yang sudah ia modifikasi mesinnya. Jaebeom dijamin akan ternganga dan sangat mengagumi hasil kerjanya ini, jika pria itu masih hidup. Ya, siapa yang sangka mobil tua itu punya mesin Nissan Skyline di dalamnya? Hanya untuk mobil itu, Chorong rela berlumur oli, minyak, dan berkutat dengan komponen-komponen berat selama sepuluh tahun. Sepuluh tahun, yang sebenarnya bisa ia gunakan untuk mempercantik dirinya yang sudah cantik.

Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa memberikan hadiah untuk kalian berdua.

Seminggu kemudian, Jungsoo, kakek Chanyeol dari pihak ayah, datang ke bengkel dan menginformasikan bahwa Park Bom beraksi kembali, tetapi kali ini, wanita itu menggunakan anak-anaknya untuk membawa Chanyeol dan Sunyoung ke ‘Radiant’.

Wajah Chorong berbinar antusias karena Jungsoo menyebutkan rencana untuk mengeluarkan Yoochun dari ‘Radiant’, melibatkan Chanyeol.

Inilah saatnya.

Sambutlah Ford Mustangmu setelah ini, Park Chanyeol.

***

“Nyaris, nyaris!” pekik Chorong frustrasi, “Kau kurang cepat berpindah gear! Ulangi!”

“Baik!”

Malam itu, Chorong mendampingi Chanyeol berlatih di sirkuit. Chanyeol masih sering gagal, berkali-kali menabrak pembatas sirkuit. Entah apa yang Chorong perbuat pada Mitsubishi ini, yang jelas si mobil sangat kuat karena dapat melalui tabrakan keras berulang tanpa kurang suatu apa. Chanyeol mengemudikannya ke garis start, siap mencoba drift yang sempurna di tikungan tajam sirkuit ini.

Sunyoung, dari luar sirkuit, merasa lega karena Chanyeol baik-baik saja, tetapi kejadian barusan membuatnya merinding.

Kenapa Oppa tidak menyerah saja?

Sementara itu, Chanyeol menghela napas panjang. Tikungan setajam yang ada di sirkuit itu hampir mustahil dilalui dalam kecepatan tinggi. Masalahnya, Chorong menjadikan tantangan hairpin bend ini sebagai tes terakhir sebelum Chanyeol dilepas. Memang jika Chanyeol sanggup melakukan drift, maka ia telah mencapai kecepatan, kekuatan, dan pengendalian diri yang maksimal, esensi dari latihan selama ini.

Kali ini harus berhasil!

Chanyeol memacu mobil. Akselerasi tidak mengganggu fokusnya. Ia kesampingkan bayang-bayang Yoochun yang terasa makin dekat. Ia abaikan raut cemas Sunyoung yang tak sengaja ia lihat. Tujuannya hanya satu: drift.

“Tikungannya! Ayo, Yeol!” teriak Chorong. Chanyeol berdecak. “Aku tahu, Noona.

Tekanan kaki Chanyeol pada pedal gas berkurang. Dengan cekatan, ia berpindah gear seiring turunnya kecepatan.

Kemudian… srak!

Oversteer.

Mobil berputar mendekati 180 derajat. Chanyeol mengerang; driftnya berhasil, tetapi itu sedikit memusingkan. Sayangnya, ia tak boleh lepas kendali. Tidak sekarang. Maka, Chanyeol bergegas mengatur posisi tubuhnya yang semula berubah, terpengaruh kelembaman, lalu memutar kemudi ke arah berlawanan untuk mengembalikan posisi mobil dalam lintasan lurus.

Chanyeol meningkatkan kecepatannya lagi, terkekeh. “Itu baru drift yang berhasil!”

“Fokus, Park Chanyeol! Lintasan ini belum berakhir!”

“Ish, iya, iya.” gerutu Chanyeol. Melaju di lintasan lurus bukan tantangan baginya, jadi ia bisa santai, tetapi menurut Chorong, mestinya Chanyeol tidak kehilangan perhatian hingga akhir. Sialnya, mempertimbangkan waktu yang mepet, Chorong akan membiarkan Chanyeol lolos saja setelah finish.

Mobil akhirnya berhenti. Chanyeol langsung melangkah keluar mobil dengan tangan terbentang ke atas. “Whooo!!! Noona, bagaimana yang tadi? Aku berhasil, ‘kan?”

“Bagaimana, ya? Sebenarnya, bagiku itu tadi kurang sempurna, tapi yah… selamat. Latihan selesai.” Chorong memiringkan kepalanya cuek, lalu mengulurkan tangan pada Chanyeol. Seperti yang Chorong bayangkan, mata Chanyeol terbuka lebar, lubang hidungnya juga, dan telinganya yang sudah mencuat itu makin mencuat setelah mendengar pernyataan kelulusan ini. Tawanya yang besar lolos kemudian saat menjabat tangan Chorong. “Terima kasih, Noona!!! Yeah!!! Akhirnya, pelatihan ini berakhir! Sunyoungie, Harabeoji, aku berha—auw! Chorong-noona, berhentilah mengemplangku!”

“Jangan senang dulu, Peri Rumah! Jalanmu masih panjang! Kau harus terus memperbaiki performamu jika ingin bertemu Yoochun-ahjussi; kau paham itu?”

“Aku mengerti… Uh, sakiit…” Chanyeol memegangi kepalanya yang berdenyut.

Chanyeol itu bodoh, tetapi Chorong sangat menyayanginya.

Ketika Chanyeol menepi untuk istirahat bersama adiknya, Chorong menerima panggilan di ponselnya.

Dari bengkel.

“Park Chorong-ssi, bengkel diserbu sekelompok orang asing! Mereka mencari Park Chanyeol dan Park Sunyoung!”

Apa ini, baku tembak?

Chorong berdecih. Anak buahnya (tepatnya anak buah ayahnya yang sekarang ia ambil alih) pasti tengah menghadapi orang-orang ‘Radiant’. Ia mengatupkan rahang, tak menyangka akan menghadapi situasi serius secepat ini. “Bagaimana Sanghyun dan Sandara?” tanyanya. Jungsoo menoleh begitu nama dua bersaudara itu disebut.

Mereka anak-anak Park Bom.

Chorong membalas tatapan bertanya Jungsoo dengan anggukan. Dari isyarat itu, Jungsoo tahu bahwa balapan mematikan akan segera dimulai.

Chanyeol harus bersiap-siap.

“Park Sanghyun dan Park Sandara… argh… berhasil lolos dari bengkel! Mereka mungkin menuju ke tempat Anda!”

“Cih. Habisi yang ada di situ, apapun yang terjadi,” Chorong menutup telepon dan memandang Jungsoo sedih, “Orang-orangku tidak bisa menahan Sanghyun dan Sandara, Harabeoji.

“Kalau begitu… Yeol, Sunyoungie! Pengejar kita kembali!” Dengan ekspresi yang masih tenang, Jungsoo memanggil cucu-cucunya.

“Lagi? Ah, sialan! Mengganggu istirahatku saja!” umpat Chanyeol.

Sunyoung tertunduk. Kotak makan yang sudah ia buka terpaksa ditutup lagi. Gadis berambut panjang itu mengikuti kakaknya setelah mengemasi kotak makan ke dalam ransel.

“Jangan pakai itu,” cegah Chorong saat Chanyeol akan memasuki mobil latihannya, “Pakai Ford di sebelah sana; anggaplah hadiah kelulusan dariku. Nih, kuncinya.”

Chanyeol menangkap kunci dari Chorong, dengan mantap menuju Ford Mustang ’67 yang terparkir di luar arena. Berbeda dengan saat pertama diberitahu akan mengemudikan mobil, raut Chanyeol kini kaku, tegang. Sebelum membuka pintu mobil barunya, ia menengok pada Chorong sekilas. “Terima kasih, Noona. Doakan aku.”

Eoh. Pasti.”

Dan Chanyeol melaju.

Chorong memandangi Fordnya dengan hati berdebar. Meski hanya sepersekian detik, Chorong mengenali ketakutan dan keraguan dalam mata Chanyeol, tetapi selain itu, ada juga semangat dan rasa ingin melindungi.

Apakah Chanyeol akan berhasil?

Chorong menggeleng cepat, mengenyahkan keraguannya sendiri.

Pasti berhasil!

Dia menggunakan Fordku, omong-omong, masterpiece dari seorang Park Chorong.

Dan Ford itu dibuat dengan cinta. Untuk Chanyeol dan Sunyoung yang mengejar orang yang mereka cintai.

***

TAMAT

so yeah, ini aku buat untuk promo main storynya yang masih belum selesai, dibikinnya kilat juga, jadi maaf kalau rada2 gantung gimana gitu. lagian, aku gak terlalu mengikuti Apink, tapi aku suka banget sama Chorong yg manis ini.

*tamatkan proposal penelitianmu itu dulu, authornim *gomen

anyway, makasih sudah baca!

Advertisements

3 thoughts on “Before Ignition

  1. Sebenernya aq udh tau ff ini kmrin2, tp bru bca skrg Li.

    Eoh,biar kutebak, ini terinspirasi dr Fast and Furious bkan? Yg tokyo drift? Ada bbrp scene yg hmpir mirip itu soal’a.
    Wktu chan bljr nge drift itu, mirip Sam wktu bljr drift jg, trus si Han teriak ‘again!’ mulu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s