A Being

by Liana D. S.

Me, My Mom, My Neighbors, and A Girl

Horror?, Vignette (1K+ words), Teen and Up

.

.

“Ada tamu yang belakangan sering berkunjung ke lahan kosong di sebelah rumahku.”

.

[A.N.] Ini bukan fanfiction, tetapi merupakan kisah (yang semoga tidak) nyata. Karena Tao sudah kusuruh sembunyi di belakang Fan-ge, jadi aku rasa tidak akan ada yang takut dengan kisah ini. Aku cuma ingin berbagi. Aku berusaha pakai bahasa formal, tapi aneh, jadi ada sepotong-sepotong bahasa nonformal yang aku miringkan; maaf kalau jatuhnya tetap aneh.

[Warning] Tidak bermaksud ngejudge pesantren!

***

Rumahku berada di sebuah kawasan yang lumayan terpencil di Kota Malang (itu di Jawa Timur, kalau ada yang merasa asing dengan nama ini). Depan rumahku sawah, jalan menuju rumahku belum diaspal. Aku punya tetangga kanan-kiri, tapi tetangga kananku nggak punya tetangga lagi karena di samping rumahnya itu lahan kosong yang baru belakangan ini dibuat tanam jagung. Biasanya, di situlah aku, termasuk tetangga-tetangga juga, buang sampah. Kantung kresek isi sampah ditali, terus dilempar gitu aja ke lahan kosong di sisi ladang jagung itu.

Secara teori, ini disebut buang sampah sembarangan, jadi mohon jangan ditiru sekalipun dengan pengawasan ahli.

Dua minggu lalu, aku baru pulang dari pengarahan ujian praktek (ya, yang disebut Objective Structured Clinical Examination alias OSCE, inspirasi dari FF SNSD yang belakangan kuposting). Aku maunya langsung pulang, mandi, dan bikin fic yang idenya sudah muter di kepalaku, tapi ibuku dan seorang tetangga rupanya lagi main detektif-detektifan di lahan kosong yang kita bicarakan tadi.

Waktu kutanya ada apa, ibuku bilang dekat ladang jagung ada bercak darah.

“Kalau ini bisa dicek nggak, Mbak, darahnya siapa? Kamu ‘kan baru belajar forensik; ini diperiksanya gimana?” tanya ibuku dengan antusiasme yang agak terlalu berlebihan. Yah, maksudku… aku ‘kan cuma belajar forensik kurang dari dua minggu di mata kuliah elektif, jadi belum serius betul, masa sudah disuruh ngecek barang bukti?

Lagipula, yang ibuku sebut ‘bercak darah’ itu lebih mirip tanah yang menempel ke dedaunan.

…agak lebih merah, sih.

Tetangga kiriku yang ikut menyelidiki sudah memastikan itu darah, jadi ya sudahlah, aku percaya, tapi memangnya ada kejadian apa sampai tempat itu berdarah? Karena kejadiannya diperkirakan saat malam, jadi jelas kami yang tinggal di dekat lahan kosong itu nggak menyaksikan atau mendengar apa-apa. Sudah tidur. Petugas keamananlah yang lebih tahu.

Ternyata ceritanya begini.

Ada seorang santri perempuan, mungkin umur sembilan atau sepuluh tahun. Pondok pesantrennya kira-kira dua kilometer dari rumahku, tapi setiap akhir pekan santri ini pulang ke rumah orang tuanya yang masih di Malang juga. Rumah orang tuanya jauh dari rumahku—

–tapi si anak bisa menempuh jarak sejauh itu dengan jalan kaki.

Garis bawahi dua kata terakhir.

Aneh? Jelas. Jarak rumah anak itu dan ladang jagung sejauh jarak rumahku dan kampus, yang mana aku tempuh dengan naik angkot (oper tiga kali).

Nah, menurut penuturan orang tuanya, anak ini selalu kelihatan lelah setiap pulang nyantri. Dia lebih diam dan hobi melamun, hingga pada suatu malam, ya malam sebelum ditemukannya bercak darah itu oleh ibuku, si anak berjalan keluar rumah dengan pandangan kosong, dalam diam, dan jalannya lemas. Orang tuanya mengikuti dalam diam, takut mengusiknya karena anak itu seolah nggak bersama kesadarannya sendiri.

Tahu maksudku?

Si anak akhirnya berhenti.

Di depan lahan kosong yang jadi latar utama kisah ini.

Orang tuanya menunggu apa yang akan terjadi karena anak itu berdiri saja di depan sebatang pohon pisang kecil dekat ladang selama beberapa lama.

Tahu apa yang terjadi berikutnya?

Anak perempuan kecil itu mencabut pohon pisang yang bahkan lebih tinggi dari dia.

Pohon pisang.

Dicabut.

Dengan tangan kosong.

Aku yakin Xiumin, seorang pria sejati berusia 25 tahun yang terkuat di EXO, pun mungkin nggak bisa melakukannya.

Belum berakhir, si anak merusak tanaman-tanaman lain dengan membabi buta. Orang tuanya, juga petugas keamanan keliling dan ketua RT kami, akhirnya beraksi untuk menghentikan anak itu. Terapi dilakukan oleh seorang kiai, yeah, semacam itu, dan si anak mereda. Dia dibawa pulang oleh orang tuanya setelah itu.

Dari anak inilah, bercak darah pada dedaunan di lahan kosong itu berasal. Tangannya terluka saat mencabut pohon pisang secara nggak sadar.

***

Menurut kalian, apa yang membuat gadis kecil ini bisa sedemikian kuat?

***

Seminggu setelah itu, masih dengan tokoh yang sama, ada cerita baru lagi.

Aku baru pulang ujian OSCE dan untungnya itu Minggu siang yang cerah, bukan malam Jumat Kliwon.

“Mbak, ternyata anak itu balik lagi semalem,” mulai ibuku, “dan kesurupan.”

Oke, terima kasih. Sounds great untuk menghancurkan kelegaanku yang baru selesai ujian.

Anak perempuan itu sekali lagi berjalan tanpa arah dari rumahnya—yah, sebenarnya bukan tanpa arah karena anak itu kembali berakhir di lahan kosong samping rumah tetanggaku. Bedanya, dia nggak lagi berhenti di depan pokok pisang dan mencabuti tanaman. Dia berdiri di bukit sampah kecil yang aku sebut di awal kisah ini.

Tepat, ‘tempat pembuangan akhir’ jadi-jadian yang seharusnya bersih.

Saat didekati, anak itu bicara.

Dengan suara yang bukan suaranya.

Dalam bahasa Jawa kasar.

.

.

.

.

.

.

“Kamu semua, jangan ada yang berani buang sampah di tempatku lagi!”

.

.

.

.

.

.

Aku kaget berat. “Serius, Bu, anak itu bilang gitu? Lha, padahal aku ‘kan juga sering buang sampah di situ!”

“Makanya, Bu Dedi,” –tetangga kananku—“sudah nggak mau buang sampah di situ lagi, tapi deket pasar, harus jalan agak jauh dulu. Kita juga jangan buang di situ lagi, deh. Bakar aja sampahnya di halaman belakang.”

Well, sejak mendengar cerita itu, aku belum membuang sampah kering di kamar. (Pengakuan dosa yang memalukan.) Ibuku sudah menjalankan program bakar sampah di halaman belakang rumah kami. Nggak menanggulangi polusi, memang, tapi setidaknya kami ‘aman’. Bukan hanya kami, tetangga-tetangga yang hobi buang sampah di situ juga insyaf dan membuangnya di tempat yang lebih jauh. (Mungkin tetap buang sampah sembarangan, tetapi pokoknya nggak di lahan kosong itu.)

Si anak perempuan nggak pernah muncul lagi.

Dihitung dari Minggu saat aku ujian, berarti ini sudah hari keempat sejak si anak terakhir muncul. Situasi mulai kembali damai, cuma anjing-anjing tetangga yang mirip Monggu itu aja masih berisik. (Dari dulu, sih; pagi sampai malam masih aja menggonggong.) Sekadar info, tetangga kiriku orang Kristen, memelihara anjing, dan beberapa bulan sebelum ini beranak delapan. Serius, kedelapan-delapannya mirip Monggu dengan bulu lebih sedikit! Masalahnya aku bukan Jongin yang sekali lihat anjing lucu langsung pingin ngadopsi. Mereka lucu, sih, tapi sebagai orang Islam, aku malah takut mereka kontak denganku.

Oh, tunggu.

Anjing-anjing itu, baik yang kecil-kecil delapan ekor maupun ayah-ibunya, sering menggonggong kalau malam hari bahkan sebelum peristiwa yang melibatkan si anak perempuan.

***

Padahal kalian tahu ‘kan kalau anjing bisa merasakan eksistensi yang tidak tertangkap indera kita?

***

Mungkin terlalu dini buat kami semua untuk merasa aman, tetapi kurasa, selama ‘Mbah’—ehem, ini panggilan sayang adik laki-lakiku buat si penghuni lahan kosong—nggak mengganggu kami, nggak akan ada masalah.

Kami ‘kan sudah nggak membuang sampah di sana lagi, Mbah, so please spare us.

***

Moral:

 Buang sampah pada tempatnya sebelum ada yang memperingatkan, entah itu manusia–atau yang lain.

***

TAMAT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s