Snow White and The Huntsmen

snow white n the huntsmen

by Liana D. S.

Lu Han, Jessica, and Super Junior’s Heechul

ft. Wu Yi Fan, f(x)’s Amber, EXO’s Lay and Tao

Romance (turned awry), Friendship, Fantasy, Oneshot (4,5K+ words), Mature (PG-17)

Terinspirasi dari ‘Snow White and The Seven Dwarves’ karya Grimm Brothers.

[Warning] OOC! (Duizhang!Luhan, gentle Jessica), gross battle, antagonist!Heechul

Kecantikan yang berlebihan merupakan dosa perusak cinta.

“Aku Jessica. Salam kenal.”

***

“Pimpinan, ayo buka kantongnya!” Mata Tao berbinar tatkala memandangi kantung kulit besar yang terisi penuh di hadapannya. Itu bayaran atas berhasilnya misi pengawalan hari ini. Tao perkirakan jumlahnya lebih besar dari yang sudah-sudah karena si penyewa jasa adalah saudagar terkaya di seantero negeri.

“Hei, Tao, menjauhlah dari sana!” Amber, satu-satunya prajurit wanita dalam kelompok prajurit bayaran itu, menarik Tao dari kantung upah mereka, “Aku ‘kan juga mau mengambilnya!”

Tao merengut, lalu membuka mulutnya, hendak marah, tetapi rekannya Lay mencegah. “Jangan ribut. Nanti semua dapat bagian, kok.”

“Benar. Kalian mengantrelah untuk mendapatkan jatah. Biar Pimpinan yang membaginya,” Kris mendorong kantung besar pada pemimpinnya, “Luhan, silakan.”

Kantung kulit yang Kris sodorkan diterima sepasang tangan seputih salju. Si empunya tangan menarik kantung ke sisinya. Sebuah senyum miring nan angkuh tersungging di bibir merah mungil sang pemimpin.

Dialah Luhan.

“Kalian tidak pernah tenang kalau masalah keping emas.” Dengan sekali tarik, Luhan melepaskan tali yang mengikat kantung. Kemilau dari dalam kantung tersebut membuat para prajurit  penasaran—dan hampir semua membulatkan mulut kagum ketika Luhan menumpahkan isi kantung itu. Bukan hanya keping emas yang mereka dapatkan, ternyata, tetapi juga sejumlah besar batu mulia bernilai tinggi.

“Asyik! Asyik! Kita akan pesta besar!” Tao mengambil segenggam emas pada masing-masing tangan, lalu melemparkannya ke udara. Amber pun  mengikuti, tetapi Luhan berdehem keras, menghentikan keduanya hampir seketika.

“Bukankah Kris sudah mengatakan untuk diam dan menunggu?”

Suara Luhan dingin dan jauh, menakutkan. Tao dan Amber buru-buru meletakkan keping-keping emas itu sebelum bersembunyi di belakang Lay. Mereka berdua bungkam hingga Luhan memberikan bagian mereka.

Luhan memang berkulit pucat, bermata sayu, dan bersuara lembut, tetapi ia seorang ahli pedang yang sangat disegani. Tak hanya karena kemampuannya, Luhan juga dihormati karena wibawanya. Sekali dia bicara, siapapun akan patuh, bahkan seorang pendekar bertombak macam Tao, pemanah api macam Kris dan Amber, maupun penyihir penguasa seribu segel macam Lay. Kelompok prajurit bayaran pimpinan Luhan sedemikian hebat hingga para penyair berkata ‘penjahat yang berani melawan Luhan dan kawan-kawannya sebodoh kura-kura yang tak tahu apa itu tempurung’. Ya, hanya penjahat saja yang Luhan lawan; ia tidak sudi menerima misi dari menteri-menteri penipu atau saudagar-saudagar licik. Tujuannya semata untuk menegakkan kebenaran.

Namun, kebenaran akhirnya dihadapkan pada ujian terberat.

***

Siang itu harusnya menjadi siang yang damai bagi lima prajurit kita jika saja tak ada lengking ketakutan seorang wanita di depan markas mereka.

“Tolong, tolong aku! Siapapun, tolong! Mereka membakar rumahku!”

Kelima prajurit mendapati seorang wanita berambut coklat ikal yang pakaiannya terbakar di beberapa bagian. Wajahnya tertutup jelaga dan kakinya terluka.

“Nona, apa yang terjadi?” Luhan berlutut, matanya bersitatap dengan wanita muda yang sedang mencoba bangkit dari jatuhnya itu.

“Ada penyihir jahat… membakar rumahku…. Mereka mengincar gadis-gadis sepertiku supaya dapat mengambil darah kami…”

Belakangan, tersebar rumor bahwa penguasa-penguasa sihir hitam membunuh para gadis karena darah gadis muda dapat membantu meningkatkan kekuatan mereka. Mulanya, Luhan dan kawan-kawan tidak menganggapnya serius, tetapi setelah mereka menemukan langsung korban dari si penyihir, akhirnya Luhan bertindak.

“Lay, sembuhkan gadis ini. Amber, kau jaga mereka berdua. Kris, Tao, ikut aku.”

Setelah si gadis memberitahukan di mana rumahnya, Luhan, Kris, dan Tao berangkat dengan senjata masing-masing. Mereka sangat siap untuk membasmi ‘hama hitam’ itu; bahkan kuda mereka berlari lebih cepat demi menghadapi si penyihir. Sayang, ketika tiga prajurit tiba di tempat yang dimaksud, mereka tidak melihat apapun selain puing-puing hangus.

Luhan merasakan tekanan sihir yang kuat dari puing-puing itu. Rahangnya terkatup rapat, marah. Ia kenal betul siapa yang mungkin meninggalkan sihir sepekat ini,

“Kuduga kau telah mengetahui asal dari sihir ini, Luhan.”

Setelah mengamati dengan seksama reruntuhan rumah di depannya, Luhan menatap Kris yang baru saja bicara. “Kalian merasakannya juga?”

“Ya, dan pemilik tekanan sihir semacam ini hanya satu di seluruh negeri.”

Luhan berdecih, menyesal karena terlambat datang. “Ayo kita kembali untuk membicarakan ini dengan Amber dan Lay. Serangan Kim Heechul bukan perkara main-main; kita butuh strategi yang lebih matang.”

Tiga ksatria berkuda pulang. Selama perjalanan, otak Luhan bekerja keras, menyusun beberapa rencana untuk mengalahkan penyihir yang tadi ia sebut.

Kim Heechul merupakan mimpi buruk abadi bagi semua orang, meskipun serangan terakhirnya adalah sepuluh tahun lalu, ketika Luhan masih baru belajar ilmu pedang. Dia penyihir kegelapan terkuat yang namanya bahkan terlarang diucapkan. Kemampuannya sangat luas, dari meramu racun hingga mengendalikan orang mati untuk menghabisi yang hidup. Luhan rasa, dalam kasus kali ini, Heechul menggunakan teknik kedua; ia mencium bau anyir yang sangat mengganggu di rumah gadis tadi. Ya, untuk melumpuhkan seorang gadis lemah memang hanya butuh beberapa ‘boneka’, bukan? Tak perlu muncul langsung.

Pembicaraan lima prajurit berlangsung cukup lama. Semua rencana yang Luhan pikirkan selalu bercela. Luhan memijit pelipisnya yang berdenyut. Pertempuran kali ini jelas tak akan mulus.

Setelah serangan terakhirnya bertahun-tahun silam, informasi tentang Kim Heechul makin berkurang. Belum lagi kemungkinannya memperkuat diri juga besar. Banyak yang tidak kami ketahui tentang dirinya!, keluh sang pemimpin. Ia menghela napas panjang dan memejamkan mata, mengerahkan seluruh keahliannya membuat rencana, tetapi fokusnya teralihkan oleh erangan lemah seorang gadis.

Korban sang penyihir hitam baru saja tersadar dari pingsannya. Segera Lay memeriksa kondisi gadis itu, dibantu Amber. Tiga prajurit lainnya turut mendekat.

“Kelihatannya semua luka sudah menutup sempurna,” ujar Lay lega, “Nona, apa kau benar-benar merasa pulih?”

Si gadis mengangguk lemah, helai-helai rambut panjangnya bergerak menutupi sebagian wajah. Amber menyibakkannya—dan tersingkaplah tabir yang menutupi guris-guris air mata di pipi pualam si gadis ikal.

“Hm… mungkin dia belum sepenuhnya sembuh, Lay,” Amber, sebagai sesama perempuan, turut merasakan pedih daam hati si gadis, “Hei, jangan takut pada kami. Ehm, baiklah, ada baiknya kita mulai perkenalan dulu. Namaku Amber dan aku perempuan walau penampilanku begini. Salam kenal.”

Bagaimana Amber mengulurkan tangan dan tersenyum ramah berhasil memecah kebekuan. Merasa disambut, si gadis menjabat tangan Amber, segaris tipis senyum merekah di wajahnya.

“Aku Jessica. Salam kenal juga.”

Harus Luhan akui bahwa tanpa jelaga dan air mata, gadis yang ditolongnya ini—Jessica—tergolong cantik. Rambutnya halus, panjang tergerai. Kulitnya terawat dan pipinya bersemu manis. Bibir tipisnya yang merah begitu lembut dan semakin menggoda ketika tersenyum. Jemarinya lentik, kukunya berkilau. Tubuhnya pun sangat indah, perawakan mungil yang disukai banyak pria. Jika Heechul menginginkan Jessica, maka itu tak aneh. Gadis cantik adalah mangsa favorit penyihir itu karena selain dapat menambah kekuatan, darah mereka akan menjaga penampilan supaya tetap menawan.

“Maukah kau menceritakan padaku apa yang terjadi dengan rinci? Itu pasti sangat membantu kami menentukan strategi untuk mengalahkan sang penyihir.” pinta Luhan tanpa basa-basi setelah semua prajurit berkenalan dengan Jessica. Lay menyikutnya di punggung. “Kau ini. Lakukan sesuatu untuk menenangkannya lebih dulu.”

Luhan mendesah panjang. Ia tipe pria berhati dingin yang sulit menangani hal sensitif macam ini. Ingin rasanya menyuruh Amber dan Lay ‘membuka jalan’, tetapi dia tak mau dianggap tak becus. Dipandangnya Jessica selama beberapa saat; gadis itu masih tampak sedih, yang cukup Luhan pahami alasannya.

Akhirnya, Luhan merangkum tangan si gadis dan berkata sehati-hati mungkin.

“Percayalah padaku dan teman-temanku, Jessica. Kau sudah berada di tempat yang aman, jadi kau bebas membagi perasaanmu dengan kami.”

Empat prajurit lain membulatkan bibir mereka heran. Pemimpin mereka ternyata tidak selamanya galak. Lihat, Jessica saja mulai buka suara. Rona malu-malu menyembul tanpa permisi saat Jessica perlahan menarik tangannya dari Luhan. Kisah penyerangan Heechul bergulir satu persatu, termasuk tentang terbunuhnya adik Jessica sepuluh tahun lalu. Jessica berjuang menahan isaknya tiap menyebut nama sang adik, tetapi bentengnya tetap runtuh di belakang.

“Krystal masih sangat muda… Dia belum paham apa yang menjadikannya mangsa penyihir kegelapan itu… Dia putri kecil yang harusnya bisa bermain-main dan tumbuh menjadi gadis yang cantik, tetapi kesempatannya telah dihancurkan…”

Mendengarkan tragedi pembunuhan gadis cilik ini, para prajurit makin membenci Heechul. Luhan-lah yang paling besar rasa marahnya.

Bagaimana mungkin si tua itu membunuh gadis kecil yang tak bersalah hanya demi memenuhi ambisinya? Sungguh kejam. Dia harus dimusnahkan sebelum korban lain berjatuhan!

Jessica mencengkeram roknya, mencegah satu lagi air mata untuk turun. “Aku tahu aku tak memiliki kemampuan bertarung sehebat kalian, tetapi aku mau berusaha. Jika ada yang bisa kulakukan untuk membantu kalian mengalahkan pembunuh adikku…”

“Ya, Jessica,” Luhan menatap Jessica lurus-lurus, “Kau ingin bergabung dengan kami, bukan?”

Menggigit bibir bawahnya samar, Jessica mengangguk takut. Ketegasan Luhan agaknya menciutkan nyali siapapun yang bicara dengannya, tetapi tekad Jessica sudah bulat, tak hendak mundur. Beruntung, Luhan menerimanya.

“Mulai hari ini, kau harus bekerja keras.”

Empat prajurit menatap pemimpin mereka tak percaya. “Kau yakin akan memasukkannya?” bisik Tao, “Jessica akan terluka di medan tempur nanti, kasihan dia.”

“Tapi dia menginginkannya,” Luhan bersandar pada dinding ruangan, “Lagipula, dia istimewa di mataku. Aku dapat menemukan apa yang tidak kalian lihat padanya.”

Terbata, Jessica mengucapkan terima kasih.

“Aku akan berjuang sekuat tenaga, Pimpinan!”

***

Jessica kini telah resmi menjadi anggota kelompok prajurit bayaran Luhan. Di luar ekspektasi mereka, Jessica memiliki semangat berlatih yang tinggi, terutama teknik pedang. Mengabaikan sisi anggunnya yang terkikis, Jessica mengayunkan pedangnya siang dan malam.

Tak hanya Jessica, menurut pandangan anak buahnya, Luhan juga agak berbeda. Jika Kris, Tao, Amber, dan Lay lebih menyukai Jessica yang feminin, Luhan sebaliknya. Ia tersenyum diam-diam saat mengawasi Jessica berlatih. Entahlah, barangkali Jessica yang dikuncir kuda dengan keringat bereleran dan kulit tangan menebal akibat terlalu lama memegang pedang lebih menarik bagi Luhan. Walaupun banyak tanda cinta yang tertangkap, Luhan tetap menolak mengakui perasaannya pada Jessica, membuat Amber dan Tao kesal. Kadang, mereka berdua mendumel karena ketidakjujuran Luhan, tetapi telinga Luhan peka, sehingga mereka selalu berakhir ‘mengenaskan’ di bawah ancaman pedang Luhan.

“Teknik yang bagus, tapi belum cukup untuk mengalahkanku,” ujar Luhan usai menyarungkan pedangnya; lagi-lagi, pedang Jessica berhasil dihempaskannya ke tanah, “Yah… dengan ini, latihan kunyatakan selesai. Mulai besok, kau dapat ikut kami menjalankan misi.”

Sudut-sudut bibir Jessica  naik,  bangga sekaligus deg-degan dengan misi pertamanya. “Menurutmu, aku benar- benar sudah cukup baik? Aku sungguh tidak ingin merepotkan kelompok karena ketidakmampuanku.”

“Apa kau ragu dengan keputusan pemimpinmu sendiri sekarang?”

“Tidak,” Cepat Jessica menggeleng, “Aku percaya padamu, Pimpinan. Terima kasih atas bimbinganmu selama ini.”

“Aku hanya membantu seseorang yang semisi denganku untuk mengalahkan…”

“Apa-apaan ini? Kupikir hubungan pria-wanita bisa lebih berwarna daripada sekadar latihan pedang.”

Kalimat Kris membuat Jessica tersipu. “Hubungan kami saat ini tidak lebih dari seorang murid dan gurunya, Kris.”

Kris hendak mengatakan sesuatu lagi tatkala Luhan berbalik. “Dan kalau kau mencoba mengatakan hal lain tentang kami, aku akan membelahmu jadi dua, Bocah.”

Kris mundur seketika, satu tangannya terangkat defensif. “Jangan marah. Aku hanya ingin membawakanmu apel. Bagus untuk penyegar sehabis latihan, Lay bilang.”

“Kalau hanya itu tujuanmu, harusnya langsung saja berikan. Tak perlu membual tentang hubungan pria-wanita segala.” Luhan membuka telapak tangan, siap menerima operan apel dari Kris, tetapi Kris malah memberikan buah-buah merah itu pada Jessica.

“Sopanlah di hadapan wanita, Lu. Mereka tidak melempar buah.”

Luhan mendesis jengah. “Jadi kau sekarang berani mengajariku soal tata-krama? Kau sudah bosan hidup, rupanya!”

“Kris hanya bercanda, Pimpinan. Janganlah terlalu diambil pusing.” Jessica menengahi, memberikan apel pada Luhan untuk mendinginkannya.

Merasa diselamatkan Jessica, Kris terkekeh menang, sedangkan Luhan menatapnya jengkel. “Lain kali, kau tak akan selamat!”

Bukannya meminta maaf, Kris malah berjalan pergi sambil bersiul. Luhan mendengus. Kawan-kawannya terus saja menggoda tentang Jessica, padahal ‘kan hanya Luhan yang tahu perasaannya pada gadis itu? Jessica memang luar biasa, tetapi…

…tunggu.

Jessica yang tengah mengunyah apel memiringkan kepalanya bingung karena Luhan urung menggigit apelnya. Sang ahli pedang mengendus apelnya beberapa kali dengan raut curiga.

“Pimpinan?”

“Sebentar,” Luhan mengangkat tangan, menyuruh Jessica diam, kemudian mengumpat setelah berhasil mengenali bau aneh pada apelnya, “Sialan kau, Kris!”

Terkejut, Jessica terjajar mundur dan bertanya kenapa Luhan sedemikian marah.

“Apel ini beracun!” Luhan menghempaskan apelnya, “Aku mencium racun beri putih dalam buah itu. Jelas ada yang memasukkannya ke sana dengan sengaja!”

Jessica menutup mulutnya. “T-tapi Kris…”

“Keterlaluan! Jika begini caranya bercanda denganku, akan kuladeni!” Luhan bangkit, hendak menyusul Kris, tetapi Jessica menahannya.

“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bukan mustahil apel itu jadi beracun secara alami karena gesekan beri putih yang ada di dekatnya, ‘kan?”

Luhan menepis tangan Jessica, tampak dikuasai penuh oleh emosi. “Pengkhianat itu tidak akan selamat! Biar dia rasakan akibat perbuatannya!”

Kecepatan berlari Luhan sangat tinggi, hingga Jessica kesusahan menyamainya. Ketika si gadis tiba di markas, tempat itu sudah kacau-balau. Tao tengah memegangi Luhan dari belakang, mencegahnya menyerang, sedangkan Amber dan Lay berdiri di depan Kris untuk melindunginya dari kegilaan Luhan.

“Tuduhanmu itu sama sekali tak berdasar, Pimpinan!” Kris terdengar sangat terluka; ia bahkan memanggil Luhan ‘Pimpinan’ di luar kebiasaan demi memohon ampunan, “Aku tidak melihat beri putih di dekat tempat Lay memetik apel!”

“Kau tidak melihatnya karena kau menyiapkan racun itu jauh sebelum ini dan tinggal memasukkannya!” teriak Luhan, “Terkutuk! Aku tak tahu bagaimana caramu memasukkan racun itu, tetapi jumlahnya sangat banyak! Ingin memastikan aku mati cepat? Terima kasih karena telah merencanakan kematianku sebegitu rapinya, Kris!”

“Pimpinan! Hentikan!”

Waktu seakan beku usai Jessica berteriak. Perhatian para prajurit tertuju pada gadis itu. Mata si gadis tergenangi cairan bening yang sedih. Ketegangan yang meliputi Luhan dan Kris surut karenanya, terlebih saat Jessica bicara.

“Ketika aku datang ke tempat ini dulu, kalian menawarkanku kehangatan persahabatan. Kita berlatih bersama, menyusun strategi bersama, berbagi perasaan… dan itu semua akan hancur hanya karena sebuah apel! Aku tak peduli jika yang berakhir adalah hubunganku dengan kalian karena kita baru memulai, tetapi kalian malah memilih untuk memutus ikatan antara kalian sendiri, yang terbentuk lebih lama! Kalian memalukan! Terutama kau, Luhan!”

Para prajurit tertegun. Jessica memang baik hati, maka tutur katanya pun terjaga—dan tak pernah sefrontal ini. Tao sampai melepaskan pegangannya pada Luhan, merenungkan ucapan Jessica seperti empat kawannya. Luhan memandang kosong gadis yang sesenggukan di hadapannya. Entah apa yang dipikirkan pemuda tegas itu, tetapi setelahnya, Luhan berjalan mendekati Kris.

“Maafkan aku.”

Jessica yang semula tertunduk menengadah. Amber, Lay, dan Tao terheran; dalam keadaan normal, harga diri sang pemimpin terlalu tinggi untuk mengakui kesalahan. Saat-saat seperti ini merupakan pengecualian dan diam-diam, para prajurit berterima kasih pada Jessica yang membuat ‘pengecualian’ itu. Yang paling berterima kasih tentu saja Kris.

Canggung, Kris menyambut uluran tangan Luhan.

“Aku juga minta maaf telah memberimu apel beracun itu….”

Senyum tipis menghiasi bibir Luhan tatkala ia menarik anak buah kepercayaannya dalam pelukan bersahabat.

“Aku menyesal meragukanmu. Mestinya melalui kata-kata dan pandanganmu yang jujur, aku dapat mengukur kesetiaanmu, sehingga tidak menuduhmu sembarangan.”

Kelegaan dan keharuan melanda Kris. Ia menepuk pelan punggung Luhan penuh pengertian. “Tak masalah. Siapapun yang mendapat ancaman seberbahaya itu pasti akan bertindak sepertimu.”

Pemandangan yang menyentuh ini rupanya menghanyutkan Tao dalam perasaannya sendiri. Si pendekar bertombak berusaha keras menahan sebulir air mata untuk turun.

Jessica menghampiri Tao dan mengusap bahunya lembut.

“Lepaskanlah. Aku ada di sini untukmu. Sesekali pria kuat perlu juga mengungkapkan isi hati, bukan?”

Amber geli melihat Tao terisak dan Jessica yang setia mendampinginya. “Dasar cengeng. Untung Jessica itu keibuan. Kalau aku sih, pasti langsung mengemplang si mata panda dan menyuruhnya diam.”

Lay mengangguk setuju. “Jessica adalah keajaiban. Melunakkan pemimpin kita, menjadi tempat kita bersandar, mengajarkan cinta dalam kehidupan kita yang keras… Jika Pimpinan sampai jatuh padanya, itu sangat beralasan.”

***

Insiden apel membuat lima prajurit mengawasi pemimpin mereka dengan lebih intens. Ini tidak terlalu dibutuhkan, mengingat Luhan adalah yang terkuat dan terjeli di antara mereka, tetapi sang pemimpin tetap menghargai usaha dan kasih sayang para bawahannya itu. Lagipula, pada beberapa kesempatan, Luhan benar-benar tak waspada dan, berkat kesigapan teman-temannya, terselamatkan dari maut.

Hari ini, misalnya.

Bruak!

Luhan mendongak kaget, begitu pula Jessica yang tengah berlatih dengannya. Di atas kepala Luhan, sebuah lingkaran segel menahan sebongkah batu raksasa yang hampir menimpanya.

“Pimpinan, argh… menyingkir dari situ!”

Refleks, Luhan bergeser beberapa langkah dari lokasinya semula. Tak lama berselang, si batu besar jatuh berdebam; segel penahannya telah tertutup. Lay terduduk lelah, terengah-engah. Menahan batu yang menggelinding dengan kecepatan tinggi dari puncak bukit tempat latihan butuh tenaga ekstra.

“Apa kau baik-baik saja?” Jessica membantu Lay berdiri. Pemuda berlesung pipit itu tersenyum, meyakinkan bahwa dirinya baik.

“Terima kasih, Lay. Aku sungguh tidak merasakan ancaman apapun tadi…” ucap Luhan, setengah bergumam.

“Berhati-hatilah, Pimpinan. Akhir-akhir ini, alam mulai menyerangmu tanpa sebab yang jelas,” Lay memperingatkan, “Angin kencang yang nyaris menjatuhkanmu dari tebing, pintu gua yang menutup sendiri, tumbuhan liar yang membelit kakimu di dasar sungai… Serangan itu bertubi-tubi sekali…”

Luhan mengedarkan pandang ke sekeliling, lalu berhenti pada Jessica.

“Kim Heechul,” –alangkah terkejutnya Jessica ketika nama ini meluncur ringan dari Luhan—“mungkin tahu mangsanya bersama kita.”

“Pimpinan! Kenapa kau mengucapkan nama terlarang itu?”

“Bukan namanya yang akan memanggilnya ke sini, Jessica,” sahut Luhan, “melainkan keberadaanmu. Entah kapan bahaya berikutnya muncul untuk membunuhmu, atau aku, jadi mulai sekarang, jangan jauh-jauh dari kami.”

Jessica tertunduk lesu. “Kukira bahaya berhenti mengikutiku setelah aku berada di tengah-tengah kalian…”

“Bahaya memang tidak berhenti…”

Napas Jessica tertahan karena Luhan tahu-tahu menangkup wajahnya. Semburat merah menyebar tak terkendali pada pipi si gadis ikal.

“…tetapi aku akan menghentikannya untukmu. Selalu.”

***

Hipotesis Luhan tentang sihir Heechul yang ‘mengikuti’ dirinya dan Jessica meningkatkan kekhawatiran para prajurit. Mereka menambah pengamanan lagi, kali ini Jessica termasuk yang dikawal juga. Lay membuka segel pelindung khusus untuk menolak semua penjahat yang mencoba masuk markas. Sementara itu, Kris, Amber, dan Tao akan bergantian berjaga. Selain menetapkan jadwal jaganya, sebagai tangan kanan Luhan, Kris juga membuat satu peraturan baru yang lumayan ‘beresiko’.

“Apa? Tapi…” Jessica menoleh pada Luhan gugup, “…aku tak bisa tidur berdua dengan Pimpinan, Kris…”

“Maaf, Jessica, tetapi ini cara termudah untuk memastikan kau aman. Jika kau dan Luhan berada di satu tempat, kami bisa mengawasi kalian berdua sekaligus. Selain itu, bila musuh ternyata lolos dari kami, Luhan dapat melindungimu.” jelas Kris.

Putus asa, Jessica beralih pada Amber, teman akrabnya, meminta si gadis maskulin untuk membujuk Kris. Sayang, Amber hanya mengangkat bahu. “Alasan Kris itu masuk akal. Aku juga tak ingin repot mengawasi dua orang di tempat terpisah. Tenang saja, Jessica, kalau Pimpinan justru ‘mengancammu’, akulah yang akan pertama bertindak.”

‘Ancaman’ yang Amber maksud sudah jelas artinya, tetapi Luhan yang jahil memperjelasnya.

“Kau beruntung malam ini,” bisik Luhan seduktif di telinga si prajurit cantik, “Tubuhku akan sangat berguna untukmu ketika udara mendingin.”

Kaki Jessica mati rasa. Gadis itu hampir jatuh di lututnya kalau Luhan tak menangkapnya. Manik coklat Luhan berkilatan. Digodanya Jessica lebih lanjut.

“Lemas betul. Mau tidur sekarang? Lebih cepat lebih baik bagiku.”

***

Setelah para prajurit menjauhkan Jessica yang malang dari ‘serigala lapar’ itu, Jessica mulai merasa lebih baik. Ia yang menghindari Luhan seharian tetap berakhir sekamar dengan Luhan, tetapi ia menempati ranjang, sedangkan Luhan berbaring di lantai.

Tengah malam. Luhan terseret keluar alam mimpi akibat getaran samar yang menjalar pada lantai kayu. Getaran itu diikuti tekanan sihir kuat yang sangat familiar. Masih terpejam, Luhan tersenyum tipis. Angin kecil menerpa sisi wajahnya, lalu menghilang, tetapi ia tahu ancaman sesungguhnya belum hilang. Luhan menggeser tubuhnya sedikit, lalu berbalik dan membuka mata setelah duduk.

Sesuai dugaanku.

Di hadapan Luhan, Jessica masih tertidur pulas, tetapi pedang Luhan yang awalnya terletak di bawah ranjang kini melayang. Ujung pedang itu terarah ke tempat Luhan tadi tidur. Pergerakan pedang itulah yang menimbulkan angin kecil di sisi wajah Luhan.

Pedang itu telah dimantrai.

Luhan terkekeh.

“Bangunlah, Jessica.”

Tubuh si gadis menggeliat, bangun perlahan, masih memunggungi Luhan.

“Oh… atau aku salah panggil, ya?”

***

“Namamu ‘kan Kim Heechul, bukan Jessica?”

***

Terdengar kikik pelan dari gadis di atas ranjang, makin lama berubah menjadi gelak. Suara lembutnya berangsur memberat seiring dengan mengerasnya tawa.

“Jadi, kau sudah tahu, ya? Heh, kau ini mangsa yang sulit.”

Luhan tak terkejut saat Jessica berbalik. Kulitnya masih putih mulus, bibirnya masih merah menggoda, tetapi itu bukan milik prajurit wanita yang Luhan kenal. Senyum Jessica yang indah lenyap digantikan seringai kejam. Kabut hitam menyelimutinya dan ketika menghilang, muncullah penyihir berjubah putih, penyihir kegelapan terkuat yang ditakuti.

“Pimpinan! Jessica!”

Derap langkah para prajurit yang berjaga di depan markas, diikuti suara panik mereka, menginterupsi Heechul, si penyihir kegelapan yang hendak berbicara.

“Tidak hanya kau, anak buahmu pun menyusahkan.”

Kris membuka pintu kamar dan terbelalak ngeri begitu menangkap sesosok pria muda selain Luhan di dalamnya. Tiga prajurit lain pun demikian, tetapi mereka cepat menguasai diri dan mengarahkan senjata masing-masing pada Heechul.

“Tahan.”

“Tapi, Lu—“

“Kubilang tahan serangan kalian,” perintah Luhan tanpa berpaling dari Heechul, “Ada yang ingin kubicarakan dengan pria tua ini.”

“Terima kasih atas waktunya, wahai ksatria,” Sinisme tertangkap jelas dalam tiap kata Heechul, “tetapi maaf, aku bukan pria tua. Kau bisa lihat kecantikan abadiku ini, bukan?”

“Usiamu beratus-ratus kali lipat dariku, Kim Heechul, tapi darah para gadis berhasil menutupi itu. Aku yakin Jessica adalah salah satu korbanmu.”

Heechul bertepuk tangan seperti orang gila. “Kecerdasanmu memang mengagumkan, sama dengan kecantikanmu yang sangat ingin kumiliki.”

Luhan tercenung.

“Apa?”

Berdecak pelan, Heechul menjentikkan jari dan muncullah cermin seukuran tubuh yang memantulkan bayangan Luhan.

“Aku ini sangat pemilih, beda dengan penyihir lain. Korbanku harus memiliki fitur-fitur khusus: kulit seputih salju, semulus pualam dengan rona kemerahan, wajah terpahat sempurna, bibir merah segar yang seakan merindu kecupan, tubuh yang bagus, dan kaki jenjang,” Heechul bersandar pada cermin ajaibnya, “Biasanya yang memiliki ini semua hanyalah gadis-gadis lemah yang mudah dibodohi. Jessica dan Krystal contohnya… oh, mereka yang terbaik.

Terbaik—sebelum dirimu.”

Heechul menggeleng perlahan. “Aku tak percaya bahwa mangsaku yang paling sempurna justru seorang pria, ahli pedang, pemimpin prajurit bayaran. Bercerminlah, maka kau akan menemukan semua yang kuinginkan padamu, Cantik.”

Harga diri Luhan terluka ketika Heechul menyebutnya ‘cantik’, tetapi pantulan cermin amat jujur. Kulit seputih salju, semulus pualam dengan rona kemerahan, wajah sempurna, bibir merah segar, tubuh bagus, dan kaki jenjang…

Luhan memang cantik.

“Tapi seperti sebelumnya kubilang, kau berbeda. Kau kuat, cerdas, dan punya teman-teman yang juga menakutkan. Menyiasati hal ini, aku mencoba memainkan drama kecil menggunakan tubuh Jessica. Aku berhasil mendekati kalian, sayangnya kejelianmu dan kesetiaan bawahanmu menggangguku. Padahal aku nyaris menghabisimu; apel beracun, batu besar, kau ingat itu?”

Cermin ajaib Heechul secara bertahap berubah menjadi sebilah pedang. Ujungnya berjarak sangat dekat dengan manik coklat Luhan.

“Hal yang paling menyebalkan darimu adalah fakta bahwa kau juga penyihir, Luhan. Kekuatanmu tersembunyi rapi hingga kau menghentikan pedangmu yang kumantrai tadi. Cih, menjatuhkanmu jadi makin sulit,” Sepasang iris hitam Heechul menantang Luhan, “Sekarang aku tidak akan main-main lagi. Aku siap melawanmu terang-terangan, Perayu Ulung.”

Luhan meraih pedangnya tepat saat segel raksasa membuka di bawah kakinya. Segel itu memindah mereka semua dari markas ke sebuah padang luas. Prajurit-prajurit palsu berbau anyir—mayat hidup—muncul dari dalam segel, tetapi Luhan dan kawan-kawan tak gentar.

“Sesuai rencana, Teman-teman.”

Aura optimis Luhan membuat Heechul jengkel. “Apapun rencanamu, nyawa dan kecantikanmu akan kurebut, Luhan!”

Heechul menerjang maju bersama pasukan mayatnya. Luhan mengaktifkan segel rahasia untuk menambah kekuatan pedangnya, kemudian membalas serangan membabi-buta Heechul. Ratusan bangkai bergerak ikut menyerbu, tetapi mereka hancur oleh tombak Tao, segel Lay, dan panah api Kris serta Amber sebelum sempat menyentuh Luhan.

“Setelah semua serangan ini, kalian masih belum mengeluarkan yang terbaik?” Pedang sihir Heechul dan Luhan beradu, menimbulkan denting yang sengit, “Kau memuakkan!”

Trang, trang! Sabetan pedang Heechul mengganas, tetapi Luhan masih bisa mengatasinya.

“Berpura-pura mencintai peminjam tubuh sepertimu jauh lebih memuakkan, tau,” Luhan menebas dada Heechul, “dan kau harus membayar untuk semua rayuan sampah yang kulontarkan itu.”

Heechul terjajar mundur. Darah dari sayatan melintang di dadanya terpercik ke atas rerumputan.

“Kau sudah mengetahui siapa aku jauh sebelum ini?”

“Tentu saja,” Luhan mengangkat dagunya bangga, “Bukan hanya kau yang bisa menipu. Penyihir malang.”

Helai-helai hitam menutupi wajah Heechul. Ia berdecih dan lama-lama terbahak.

“Hahahahaha!!! Bermain denganmu sungguh seru!!!”

Luhan menunggu-nunggu serangan Heechul berikutnya…

“Aaaah!!!”

…tetapi malah jerit kesakitan teman-temannya yang terdengar. Sang pemimpin mendapati para rekannya terbelit tali dari dalam segel. Setiap beberapa detik, tali itu membara, menyakiti orang yang dibelitnya. Luhan terbelalak, geram.

“Lepaskan mereka, Kim Heechul!”

“Cara klasik ini berhasil, ya? Mangsaku yang terhebat lumpuh karena teman-temannya tersiksa! Memohonlah, ayo, atau mereka akan mati terbakar!”

Tali sihir Heechul melilit erat. Nyeri yang dirasakan para prajurit menghebat. Luhan mengertakkan giginya, frustrasi karena tak dapat melepaskan teman-temannya.

“Pimpinan!!! Ugh… jangan hiraukan kami!”

“Tebas saja kepala si jelek itu, Pimpinan!”

“Bergeraklah! Demi semua gadis yang mati di tangannya!”

“Luhan, berhenti berpikir dan bertindaklah segera!”

Permohonan para prajurit memasuki telinga Luhan dan berputar di benaknya. Menyerang jelas mustahil; Heechul pasti akan langsung memusnahkan para prajurit. Menyerah adalah satu-satunya jalan untuk menolong mereka, tetapi para bawahannya menentang keras.

Akhirnya, Luhan memutuskan untuk maju selangkah.

“Kau boleh ambil kecantikan dan darahku, asalkan kau melepas teman-temanku setelahnya.”

“Jangan! Luhan, apa kau gila? Bodoh, hentikan!” Amber meronta, berusaha melepaskan diri untuk mencegah pemimpinnya bertindah gegabah. Lu Han tak mengacuhkannya, terus maju, dan Heechul tertawa menang. “Gampang, gampang. Mendekatlah lagi, Cantik, supaya aku dapat merebut kecantikanmu yang berharga itu!”

Jemari dingin si penyihir bersentuhan dengan kulit Luhan yang sehalus bayi. Heechul gemetar. Kulit halus itu sangat asli, berbeda dengan kulitnya yang terlapisi setumpuk mantra dan ramuan.

Sebentar lagi kulit ini akan jadi milikku…

Luhan merasa kulitnya tercabik setiap jari-jari Heechul menelusuri wajahnya. Melawan rasa nyeri, Luhan terus melangkah menuju si penyihir. Heechul kegirangan, kecanduan akan kecantikan si mangsa.

Luhan sungguh memabukkan.

Dan Heechul terlalu mabuk untuk menangkap senyum angkuh yang terukir di wajah sang ahli pedang.

Tanpa buang tempo, Luhan membuka sebotol kecil racun beri putih dari balik jubahnya.

***

Crash!

***

“AAAAHHH!!!”

Segel Heechul berkedip-kedip, tak stabil. Tali yang melilit para prajurit menghilang, sehingga mereka terbebas.

“Sekarang!”

Komando Luhan merupakan isyarat untuk memusnahkan segel raksasa Heechul. Kris dan Amber menembakkan lima panah api sekaligus pada segel itu, sementara Tao menghujamkan tombaknya dan Lay membuka tiga segel penghancur. Serangan simultan ini serta-merta menghancurkan segel menjadi butiran kecil-kecil.

Luhan membuang botol racun yang telah ia kosongkan. Ia tempelkan ujung pedangnya ke sisi leher Heechul. Penyihir itu meraung-raung. Wajah cantiknya meleleh akibat racun beri putih yang disiramkan Luhan dalam jumlah besar.

“Ada kalimat terakhir?” tanya Luhan datar, “Cepatlah, aku ingin memenggalmu.”

“Kurang ajar! Sialan! Apa yang kau lakukan pada wajahku?! Tak akan ku—“

“Waktu habis.”

Crat!

Dengan sekali tebas, kepala Heechul yang sudah setengah leleh terpisah dari tubuhnya. Luhan menggulirkan kepala itu ke sisi, memandanginya jijik. “Jelek sekali.” ejeknya. Dibukanya segel pemusnah di bawah tubuh Heechul—ingat, Luhan juga penyihir—dan tubuh itu lenyap terbawa angin setelah proses pemusnahan selesai.

Tamat.

Kabar burung mengenai Kim Heechul terbukti salah-kaprah. Heechul hebat, tetapi tak cukup hebat untuk mengelabui dan menundukkan Luhan, ahli pedang tercantik yang tak tertandingi.

“Pimpinaaan!!!”

Luhan tersungkur karena ditubruk-peluk Amber, Tao, dan Lay bersamaan. Mereka bertiga menolak melepaskannya, sekalipun Luhan memberontak.

“Kau selamat, syukurlah!!!”

“Aku berdebar-debar! Kukira wajahmu betul-betul akan dihisap tadi!”

“Kalau wajahmu direbut, di kelompok kita tidak ada yang cukup cantik untuk dipandangi!”

Tersinggung, Luhan menghadiahi Amber sebuah jitakan manis atas ‘pujiannya’. “Cantik hanya untuk wanita, Bodoh!”

“Lalu bagaimana kami menyebut keindahanmu, hm? Tampan?” Kris mengerling pada rekan wanitanya, “Itu lebih cocok untuk Amber.”

Luhan berdiri dan membersihkan pakaiannya dari rerumputan, lalu menyarungkan pedangnya kembali. Dihadapkannya wajahnya pada fajar yang baru menyingsing.

Untuk pertama kali, senyum angkuh Luhan tanggal, digantikan seulas ketulusan.

Luhan semakin cantik dengan senyum tulusnya…

…tetapi mari simpan pujian ini untuk gadis-gadis saja.

“Seorang pemimpin yang dihormati,” Luhan memandang rekan-rekannya dengan hangat, “tidak membutuhkan pujian rendah yang hanya ditujukan untuk keindahan fisiknya.”

***

Beauty is not a sin, even if it belongs to a man. All depends on how it affects one’s heart.LDS

***

TAMAT

Advertisements

3 thoughts on “Snow White and The Huntsmen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s