Sweetly Beautiful (1/2)

scriptwriter Liana D. S.

f(x)’s Amber x Lu Han

Friendship-ish Romance, Drama, Hurt/Comfort, Slice of Life, Two-shots (total 5K+ words), Teen and Up

.

celebrating Amber’s (upcoming) 1st Mini Album ‘Beautiful’ and Lu Han’s cover of ‘Sweet as Honey’ (OST ‘Comrades: Always a Love Story’)!

[Warning] alur pasaran; fic romance newbie! crack-pair HanBer! padat narasi dan flashback! kata terlarang tidak disensor!

.

Amber, gadis California tomboy yang jago basket dan taekwondo, sudah bosan dijuluki street guy, wild punk, dan sesuatu semacam itu. Ia ingin, sekali dalam hidupnya, dipanggil cantik.

***

Part 1

Lapangan basket ini menghidupkan sangat banyak kisah dalam hidup Amber. Gadis bernama lengkap Amber Josephine Liu itu memang lumayan banyak menghabiskan waktu luang di sana semasa kuliah dulu. Tidak seperti gadis lain yang hobi berbelanja, Amber lebih memilih olahraga: basket, taekwondo, bahkan kadang panahan. Bukan hanya kecintaannya pada olahraga yang membedakannya dengan gadis seusianya; Amber pun punya style khas. Jika dilihat sekilas, sulit menebak apakah Amber laki-laki atau perempuan karena gayanya ini. Snapback, hoodie, celana jeans (tentu yang tidak ketat karena itu terlalu ‘cantik’ menurutnya), sneakers, plus ransel warna gelap yang tersampir asal di bahu kadang mengaburkan identitas gendernya. Gara-gara ini pulalah, Amber bisa bersahabat dengan pria maupun wanita. Teman-teman kuliahnya tidak bosan memberinya julukan seperti ‘bocah jalanan’, ‘womanizer’ (karena gadis-gadis sering menganggapnya tampan), ‘si liar Jo’ (sesuai nama tengahnya, Josephine), dan sebagainya.

Namun, suatu hari, seseorang memandangnya dengan cara yang berbeda. Cara yang paling membanggakannya sebagai wanita.

Oh, Amber begitu merindukan segala hal tentang pemuda itu, termasuk pertemuan pertama mereka di lapangan basket ini.

“Kamu baik, ya. Terima kasih sudah menolongku, padahal yang lain justru memusuhi mahasiswa asing sepertiku ini.”

Senyum terkembang tanpa sadar di wajah teduh Amber. Masih lekat betul di benaknya, siang musim semi kala itu. Amber sedang suntuk memikirkan mobil ayahnya yang lenyap gara-gara taruhan bodohnya di arena balap. Tentu saja ayahnya marah besar dan melarangnya membawa mobil selama satu semester. Satu semester! Bagaimana Amber tak pusing? Hari itu, Amber benar-benar mati rasa; semua ajakan bersenang-senang ditolaknya. Dia ingin main basket sebentar saja, lalu pulang dan meratapi nasib seharian.

Beruntung, pemuda itu menggagalkan rencana Amber.

“Aku Lu Han. Sebelumnya, maafkan aku, bahasa Inggrisku tidak begitu baik… Aku berasal dari Cina. Senang bertemu denganmu.”

Rasanya ganjil melihat seseorang berwajah oriental yang benar-benar berasal dari Cina di California. Teman sekelas Amber banyak yang berwajah Asia, tetapi mereka semua lahir dan besar di Amerika. Karenanya, Lu Han, yang sejurusan tapi berlainan kelas dengan Amber ini, menjadi istimewa.

“Kenapa sih kau tidak melawan Theo dan Sal? Malah tersenyum pada mereka. Orang-orang rasis sebaiknya dihajar supaya mereka mendapat pelajaran!”

“Pelajaran apa? Tentang kekerasan? Mereka sudah mengerti itu, tetapi mereka tidak mengerti bagaimana caranya bersahabat. Mengajarkan orang bersahabat tentu tidak dengan memukul, bukan?”

“Ah… dunia ini terlalu keras kalau dihadapi tanpa pukulan!”

“Nyatanya, aku baik-baik saja karena ditolong olehmu, Amber.”

“…Sialan.”

Lu Han itu sangat mengherankan. Di mata Amber, pemuda itu seperti lumut kamar mandi: mudah dihancurkan. Diinjak-injak. Dilumatkan. Diperlakukan seperti apapun tidak membalas, membuat Amber gemas dan sesekali menendangi bokong orang-orang itu untuk Lu Han.

Tapi Lu Han tidak lemah. Amber salah besar. Persepsinya tentang Lu Han berubah seiring waktu berjalan.

“Oh, kau sering mengirim artikel ke ‘Times’?”

“Tidak terlalu, sih… Tulisanku masih berantakan, tetapi aku berusaha dan syukurlah, edisi kali ini dimuat.”

“Kenapa kau susah betul mencari tambahan biaya hidup di sini? Kerja paruh waktu lebih mudah!”

“Sudah. Sebagian pendapatan kerja paruh waktu itu, ditambah honor menulis artikel ini, aku kirim pada keluargaku di Beijing sana.”

“…Hah? Kau masih sempat bekerja untuk keluargamu saat kau sendiri sibuk kuliah?”

“Adik-adikku ingin kuliah di universitas yang bagus, jadi aku dan ibuku harus mulai menabung.”

“Kau… tidak lelah?”

Rencana Amber untuk berpesta petang itu gagal total karena bertemu Lu Han di tengah jalan. ‘Si boneka salju’, begitu Amber memanggilnya karena kulit Lu Han lebih pucat dari anak lain di kampus, baru saja keluar dari kantor surat kabar. Lu Han menyandang ranselnya di dua bahu dan dengan semangat berjalan pulang ketika Amber (dengan mobil teman yang ia pinjam diam-diam) menyapanya. Amber menawarinya pulang dan terjalinlah percakapan di dalam mobil. Mulanya canggung karena Amber yang ceplas-ceplos dan Lu Han yang super sopan agak tidak klop, tetapi kisah Lu Han berhasil menyentuh sisi lembut Amber—dan dari situlah, Amber jadi lebih mengenal Lu Han. Keluarga Lu Han di Beijing ada tiga orang: seorang ibu dan dua adik kelas 2 SMA. Sebagai anak sulung, Lu Han merasa bertanggung jawab untuk menanggung beban keuangan keluarga, termasuk membiayai sekolah adik-adiknya. Lu Han selalu menggebu setiap kali bercerita tentang dua adiknya ini, mengatakan mereka sangat pandai, rajin, dan punya cita-cita tinggi. Inilah yang menguatkannya untuk terus berjuang di tanah asing California.

Setelah Lu Han turun dari mobil, Amber merenung cukup lama.

Hingga ia memutuskan untuk pulang.

Ia tidak bisa berpesta saat Lu Han sedang bekerja keras.

Sejak itu, Amber menganggap bahwa Lu Han amat tangguh.

 “Kau tahu, Amber, kupikir Lu Han itu gay.”

“Apa?!”

“Masa kau tidak lihat, sih? Sikapnya itu lain dari sikap lelaki pada umumnya. Dia terlalu lembut. Lelaki normal tidak akan seperti dia. Lagipula, wajahnya juga cantik sekali, bahkan lebih cantik darimu. Barangkali dia pakai riasan khusus untuk menarik pria lain?”

“Yang terakhir itu tidak akan kukomentari karena terlalu absurd. Untuk sikapnya, menurutku dia hanya tidak ingin bertindak sembarangan. Dia ‘kan orang Cina, belum biasa dengan cara bergaul kita. Siapa tahu dia takut berbuat salah? Ya, dia orang yang baik.”

“…Amber, tidak ada yang menganggap Lu Han itu baik. Dia menjijikkan dan aneh. Gawat, kau mulai terpengaruhi olehnya, ya?”

Tentu saja Amber bingung mendengar ucapan temannya ini, sesaat setelah si teman tahu apa yang menghalangi Amber berpesta malam sebelumnya. Apanya yang terpengaruh? Menjijikkan apa? Lu Han senormal manusia-manusia lain, mungkin lebih baik hati saja. Teman-teman Amber pasti sulit menerima, mengingat mereka terbiasa kasar dan kurang peduli masalah perasaan.

Tapi Amber mengerti. Hati Amber tidak dikeraskan oleh dentum musik atau alkohol di klub, meskipun ia kerap bersentuhan langsung dengan itu semua.

“Aku benci membuat laporan macam ini. Suliiiit!!!”

“Jangan mengeluh terus. Nanti pekerjaanmu tidak selesai-selesai. Nah, masukkan data ini ke kolom kedua dan…”

“Aku benci jadi anak rajin: melelahkan!”

“Tidak semelelahkan orang tua yang bekerja untuk membiayaimu kuliah, kok. Ayo, lanjutkan. Aku akan membantumu.”

“Bisakah kau tidak membawa-bawa orang tua dalam masalah laporan ini?”

“Maaf, tetapi aku hanya ingin mengingatkanmu tentang jerih-payah mereka. Kau tidak ada masalah dengan orang tuamu, ‘kan?”

“Tidak… juga. Eh, sebenarnya ada, sih.”

“…Hm, baiklah… Setelah laporannya selesai, kau bisa membicarakannya denganku kalau mau.”

Semakin banyak Amber menghabiskan waktu dengan Lu Han (yang kebanyakan di perpustakaan—mengapa pula Amber tiba-tiba rajin begini?), semakin sering Amber merenung. Kata-kata Lu Han selalu berhasil membuatnya berpikir panjang. Seperti misalnya soal taruhan mobil yang melenyapkan mobil orang tua Amber; bahkan Amber sendiri tidak pernah ingin menebusnya lebih dari sekadar maaf. Akan tetapi, Lu Han mengingatkannya akan bakti seorang anak—yang anehnya memotivasi Amber untuk lulus dengan nilai baik demi menebus mobil itu. Nasihat-nasihat serupa tidak pernah menyentuh Amber, padahal.

Barangkali karena yang menyampaikannya bukan seorang pemuda Beijing yang sedang merindukan orang tuanya, nun jauh di sana.

Orang tua Amber beberapa kali melihat putri mereka diantarkan Lu Han pulang dan menganggap pemuda itu sangat menarik. Memang terkadang, Amber dan Lu Han mengerjakan tugas hingga agak larut. Amber menertawakan Lu Han yang bilang jalanan tidak aman bagi wanita pada malam hari. Maksud Amber… ayolah, dia ‘kan jago taekwondo, masa butuh boneka salju serapuh Lu Han untuk melindunginya?

“Tetap saja. Aku harus memastikan dirimu baik-baik!”

Biarpun tindakan Lu Han ini dari satu sisi sangat konyol, Amber menghargai satu hal.

Perhatian.

Tak pernah Amber menerima perhatian sebegitu intens selain dari orang tuanya. Amber pun merasa tak pantas mendapatkannya, tetapi diam-diam, ia sangat menikmati perhatian ini. Ia menyukai anggukan sopan Lu Han pada dua orang tuanya, juga senyum teduh Lu Han padanya sebelum pulang sendiri.

Diam-diam pula, Amber membenci bagaimana Lu Han membalikkan punggung menjauhi rumahnya. Punggung yang melengkung itu menyembunyikan kesepian di negeri orang demi sebuah cita-cita…

Apakah Lu Han kedinginan saat berjalan sendirian tiap malam?

Apakah Lu Han ingin ditemani sebelum tidur?

Apakah Lu Han memimpikan keluarganya usai jatuh tertidur?

Bayang-bayang kesepian Lu Han malah menghantui Amber, jadi Amber melepas beberapa malam berpesta demi Lu Han.

“Kenapa kamu ke sini? Biasanya ke klub.”

“Aku ingin menemanimu, boleh?”

“Boleh saja, tapi tempatku sederhana dan tidak ada hiburannya…”

“Tak apa. Di rumahku ada televisi, tetapi ayah dan ibuku tetap saja mengobrol ramai di depannya. Televisi itu jadi terabaikan.”

“Kesimpulannya, perbincangan hangat juga bisa lebih menghibur dari televisi? Baiklah, aku kalah. Kita di beranda saja, ya? Aku akan ambilkan cemilan.”

“Bawakan yang banyak!”

“Wah, stok makanan ringanku akan segera habis, nih.”

“Duh, aku ini ‘kan bukan Cookie Monster-nya ‘Sesame Street’ yang menghabiskan seisi kulkasmu!”

Lelucon-lelucon kecil Lu Han mulai dapat menimbulkan tawa Amber. Dulu, Amber menganggap selera humor Lu Han terlalu dangkal, dengan lelucon-lelucon yang kering sekali. Sekarang, walau isi guyonannya sama, Amber tertawa lepas, pertanda mereka berdua telah makin akrab. Karena keterbukaan Amber pulalah, Lu Han jadi merasa diterima. Di tanah yang bermil-mil jauhnya dari Beijing, bukankah sebuah keajaiban menemukan teman yang benar-benar tulus?

“Ternyata, kau punya gitar, Amber?”

“Yup. Aku suka main gitar sambil menyanyi. Hari ini, aku ingin mengajarimu main gitar.”

“Terlambat. Aku juga punya gitar, tau, dan aku sering memainkannya.”

“Benarkah? Buktikan padaku, nyanyikan satu lagu!”

“Lagu apapun? Kalau berbahasa Cina?”

“Tak masalah!”

Suatu malam, atas permintaan Amber, Lu Han memainkan lagu klasik Cina yang bahkan seorang pecinta hip-hop macam Amber mengenalinya. Judulnya ‘Tian Mi Mi’, artinya semanis madu. Amber tidak memahami makna lagu ini, tetapi dia tetap terhanyut dalam suara lembut Lu Han yang memenuhi malam. Seraya memetik gitar, Lu Han menyanyi dengan penuh perasaan.

Sepanjang lagu, tatapan Amber terus mengarah pada Lu Han. Mencari-cari tanda kerinduan atau sakit yang dipendam. Lu Han tidak menyembunyikannya dengan rapi, jadi Amber menemukan beberapa jejak keletihan di wajah kawan perantaunya.

“Fuh.”

“Kenapa?”

“Memandangimu sambil mendengarmu bernyanyi membuatku jadi sedih. Apalagi lagu yang kau bawakan juga jadi lebih menyayat hati dari versi aslinya, padahal aku yakin terjemah kasar liriknya pasti bahagia. Bisa kau jelaskan apa yang diceritakan lagu itu dan maknanya buatmu?”

“Intinya, lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang bertemu pujaan hatinya. Sang pujaan hati memiliki senyum semanis madu—yang menggambarkan judul lagu ini. Senyum itu sangat familiar dan ternyata, sebelum bertemu di dunia nyata, si penyanyi selalu melihat senyum itu dalam mimpinya.”

Bagaimana dua hati bersatu sebelum fisik benar-benar bertemu bukan kisah cinta yang sesuai style Amber. Yang hebat, makna lagu itu mampu mengusik sisi femininnya yang terkubur. Sisi ini jugalah yang cepat menangkap makna lagu ini untuk Lu Han tanpa Lu Han menjelaskan: dalam mimpi indah, siapapun bisa menemui kekasihnya, sejauh apapun ruang dan waktu memisahkan.

Kekasih Lu Han, untuk saat itu, adalah keluarganya.

“Sebentar.”

“Kau sedang browsing? Apa yang kau cari?”

“Jangan dekat-dekat. Aku butuh ketenangan sejenak untuk membaca ini.”

Untuk membalas Lu Han yang mengirim pesan rindu pada keluarganya, Amber mencari makna keseluruhan satu lagu Cina klasik lain yang lumayan ia ingat liriknya. Tak lama kemudian, ia menutup jendela browsingnya dengan puas dan bersiap dengan gitarnya seolah mau berangkat perang.

“Aku juga akan membawakan sebuah lagu Cina untukmu. Dengarkan baik-baik; kau kira hanya kau yang bisa dua bahasa?”

“Oh? Kau belajar—”

“Pokoknya dengarkan saja. Lagu ini juga tak kalah dalam artinya untukmu.”

“Tapi aku penasaran, sejak kapan kau belajar bahasa Cina?”

“Sejak bertemu denganmu.”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir ini, wajah Amber memanas tanpa alasan jelas. Gadis itu buru-buru menyetel gitarnya dan memainkan lagu ‘The Moon Represents My Heart’. Bibir mungil Lu Han membulat kagum. Pengucapan Mandarin Amber tidak buruk-buruk juga. Tak hanya itu, suara Amber yang cenderung ngebas malah jadi ‘cantik’ sekali ketika menyanyi. Dengan lagu yang melambangkan cinta seutuh bulan, malam itu berubah sangat sempurna untuk Lu Han. Si pemuda mulai bersenandung lirih, mengikuti Amber, dan suara mereka bersatu dalam harmoni.

“Wow. Aku tidak pernah melewatkan Sabtu malam seperti ini… Kepalaku terisi banyak hal saat menyanyikan lagu tadi sampai mau pecah.”

“Apa yang kau pikirkan?”

“Orang-orang terdekatku. Ayahku, ibuku, kakakku Jackie, teman-teman masa kecilku yang membuat janji konyol untuk selalu bersama… dan aku takut.”

“Takut apa? Kau ahli taekwondo, jauh lebih menyeramkan dari apapun juga di dunia ini.”

“Bukan, aku… takut mereka akan terambil dariku suatu waktu.”

Amber menenggelamkan wajah di balik lutut yang tertekuk. Beberapa orang dari masa lalunya telah benar-benar lenyap. Tanpa kabar. Tak berjejak. Jika mengenang masa-masa bersama mereka, rasanya menyesakkan juga. Janji-janji untuk selalu bersama itu… apakah bualan anak kecil belaka? Dan sesuatu seperti itu bukan tak mungkin terjadi di masa depan. Artinya, orang-orang yang sekarang bersama Amber, yang berjanji menemaninya selamanya, pasti akan hilang juga.

“Kerinduan itu berat, tetapi seringkali wajib dienyahkan karena kalau tidak, itu akan sangat mengganggu.”

“Apa hal yang sama juga membebanimu?”

“Ya, tetapi meski banyak orang dari masa laluku telah menghilang—ayahku, contohnya—aku menjaga yang masih ada saat ini. Salah satunya kau.”

“Hah?”

“Buatku, kau sahabat yang luar biasa. Berteman denganku membuatmu dijauhi teman-temanmu, tetapi kau keras kepala.”

“I-itu cuma karena aku khawatir kau tahu-tahu bunuh diri saat sedang sendirian. Menurut riset, angka kejadian bunuh diri mahasiswa luar negeri sangat tinggi. Aku ‘kan jadi khawatir, apalagi kau juga dikerasi oleh teman-teman. Kau tak perlu merespon berlebihan begitu.”

Lu Han tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi matanya digenangi kaca-kaca kecil yang mengagetkan Amber setengah mati.

Lu Han menahan tangis.

Padahal ia sangat anti menunjukkan kelemahan pada siapapun.

“Oi, oi, kenapa kau menangis? Aku tak punya botol susu untuk menenangkanmu!”

“Tidak perlu. Kehadiranmu di sini sudah sangat cukup. Terima kasih. Terima kasih banyak, Amber.”

Untuk pertama kali dalam sejarah perkuliahannya, akhir pekan Amber terasa lebih berarti. Kehadirannya tidak hanya untuk meramaikan suasana, seperti biasa kalau bermain ke klub, tetapi benar-benar… bermakna. Seolah Amber ditakdirkan ada di sana untuk menyembuhkan jiwa yang hancur berkeping-keping karena rasa kangen.

Tangan Amber terulur untuk menghapus air mata yang nyaris menuruni pipi pualam Lu Han.

“Dasar cengeng. Aku ‘kan tidak akan pergi ke mana-mana.”

“Iya. Mungkin malah aku yang akan pergi darimu. Maaf…”

“Tak apa. Aku tahu suatu saat kau akan pulang ke Cina juga. Sebelum itu terjadi, mari kita habiskan waktu sesering yang kita bisa sebagai sahabat, oke?”

Saat tersenyum pada Lu Han, Amber telah memberikan sebuah hadiah yang selamanya akan Lu Han simpan dalam hati.

Satu senyuman semanis madu.

Lu Han menjaga supaya senyuman yang berharga itu tidak pernah pudar dari wajah Amber. Cara mewujudkannya hanya satu, yaitu dengan senantiasa membahagiakan si tomboy. Ini cukup mudah karena Amber dasarnya berpembawaan ceria. Sekalipun dirundung masalah, jika masalahnya ini tidak tergolong sangat berat, maka Amber akan tetap riang dan enerjik sepanjang hari.

Namun, pernah satu waktu, Amber merasa benar-benar remuk.

“Jadi gosip itu benar? Kau membuang waktu senggangmu dengan banci itu ketimbang berpesta dengan kami? Heh, dasar lesbian, bahkan si gay cantik saja jadi mangsamu!”

“ Sial, tidak, aku bukan lesbian dan Lu Han bukan gay! Aku menolak berpesta dengan kalian karena kalian memakai obat terlarang saat pesta!”

“Tuh, ‘kan? Kau menerima alkohol, tetapi kenapa obat-obatan tidak? Itu ‘kan sama saja! Oh ya, belakangan ini kau juga tak pernah minum; pasti gara-gara dia!”

“Tidak! Aku hanya ingin berubah! Tanpa alkohol dan teman-teman seperti kalian, aku merasa jauh lebih baik! Aku punya lingkungan baru yang nyaman, kenapa harus kembali dengan kalian, Sampah?!”

“Sampah! Berani kau memanggil Becky begitu? Dia teman baikmu!”

“Pacarmu memang sampah, Drake, dan kau juga!”

“Dasar jalang sialan!”

Anak baik-baik akan terasing di lingkungan dewasa muda, itu sebuah peraturan tak tertulis yang dihapal Amber, tetapi diterabasnya aturan itu. Melihat Lu Han, juga mahasiswa-mahasiswa luar negeri lainnya yang berkawan dengan si boneka salju, memahamkan Amber tentang beratnya perjuangan, juga masa belajar yang tak boleh ia sia-siakan. Jadi, Amber mengambil langkah berani dengan membuang semua masa lalunya yang kelam dan mulai dari nol dengan bantuan Lu Han. Sayangnya, perubahan mendadak ini tidak bisa diterima oleh teman-teman lama Amber, sehingga pertengkaran pun pecah. Baik teman wanita maupun teman pria Amber melontarkan macam-macam sindiran hingga ejekan keras, tetapi Amber tetap maju—hingga ia lapuk dan patah.

Lu Han menyaksikan itu.

Akibatnya, kepalan tangan putih Lu Han ternoda merah karena meninju Drake, (mantan) teman Amber yang mulutnya tidak terkontrol itu. Ia tak habis pikir, bagaimana pemuda itu bisa begitu kasar pada seorang gadis? Amber boleh saja tidak mengenakan pakaian-pakaian cantik, tetapi dia tetap wanita yang hatinya harus benar-benar dijaga.

Drake tidak membalas pukulan Lu Han, anehnya. Dia termangu, mungkin keheranan karena ini pertama kali Lu Han ‘meledak’. Kesempatan baik ini Lu Han gunakan untuk membawa Amber pergi.

“Kau tidak apa-apa?”

“Ya, tenang saja. Aku sudah biasa kok menghadapi kata-kata macam itu.”

“Sungguh? Kata-kata itu sangat menyakitkan… tetapi itu semua tidak benar!”

“Aku tahu, makanya ‘kan aku bilang aku sudah biasa. Aku tahu mereka salah, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.”

“Jangan berbohong padaku.”

“Untuk apa aku ber—“

“Tatap mataku kalau kau jujur, Liu.”

Nyatanya, Amber tak mampu menentang mata Lu Han. Gadis itu membuang muka—dan Lu Han tahu dia bohong. Dikatai lesbian, jalang, dan lain sebagainya merendahkan martabat seorang wanita, padahal tidak satupun dari tuduhan itu benar. Terlebih, meski berpenampilan ala berandal, ada satu sisi Amber yang lebih lembut dari wanita lain di sekitarnya. Sisi ini pasti koyak berantakan karena ejekan-ejekan tidak berdasar tadi. Maka, dengan hati-hati, Lu Han menarik Amber dalam sebuah pelukan, menyembunyikan wajah gadis itu sepenuhnya, jadi si gadis bisa menumpahkan semua perasaan tanpa khawatir dilihat. Amber terkejut, tetapi beberapa saat kemudian menemukan sesuatu yang lama dicarinya dalam dekapan itu.

Kasih sayang.

Pengertian.

Perlindungan.

Yang membuatnya enggan lepas.

***

“Kamu lebih cantik dari gadis-gadis yang memperolokmu, percayalah.”

Satu kalimat tulus yang Lu Han bisikkan ketika membelai rambut Amber sudah cukup untuk menjungkirbalikkan hati si gadis. Detik itu, seperti Lu Han yang sudah melihat Amber dari sudut pandang berbeda sejak pertama bertemu, Amber mulai melihat Lu Han dengan cara yang berbeda pula. Dari yang semula hanya sahabat di mana Amber dapat bersandar, Lu Han menjelma menjadi pria yang sangat Amber cintai.

***

BERSAMBUNG

Pertama kali upload twoshots di sini langsung crackpair coba. gatau kenapa tiba2 ngefeel gitu sama dua org ini, padahal interaksinya dikit dan aku bikin ficnya bareng gara2 mereka ‘comeback/?’ nya bareng.

Cari foto Amber yg cantik dan natural itu agak susah… sebenernya di teaser Red Light itu dia cantik tapi krn rambutnya blonde… g bgt, aku akhirnya milih yg ini…. sayang bgt di teaser album ‘Beautiful’ dia masih tomboy, padahal katanya mau dibikinin konsep baru…

Advertisements

One thought on “Sweetly Beautiful (1/2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s