Sweetly Beautiful (2/2)

tianmimi

scriptwriter Liana D. S.

f(x)’s Amber x Lu Han

Friendship-ish Romance, Drama, Hurt/Comfort, Slice of Life, Two-shots (total 5K+ words), Teen and Up

.

celebrating Amber’s (upcoming) 1st Mini Album ‘Beautiful’ and Lu Han’s cover of ‘Sweet as Honey’ (OST ‘Comrades: Always a Love Story’)!

[Warning] alur pasaran; fic romance newbie! crack-pair HanBer! padat narasi dan flashback! kata terlarang tidak disensor!

.

“Kamu lebih cantik dari gadis-gadis yang memperolokmu, percayalah.”

Satu kalimat tulus yang Lu Han bisikkan ketika membelai rambut Amber sudah cukup untuk menjungkirbalikkan hati si gadis. Detik itu, seperti Lu Han yang sudah melihat Amber dari sudut pandang berbeda sejak pertama bertemu, Amber mulai melihat Lu Han dengan cara yang berbeda pula. Dari yang semula hanya sahabat di mana Amber dapat bersandar, Lu Han menjelma menjadi pria yang sangat Amber cintai.

***

Part 2

“Astaga! Ma-maaf… Kenapa aku jadi memelukmu, ya?”

“Memangnya kenapa?”

“Bukankah itu tidak sopan?”

“Kau benar-benar aneh, Lu Han. Kau memelukku karena ingin menenangkanku, apanya yang tidak sopan dari itu? Ah… tapi tidak usah dijelaskan; aku tetap tidak akan mengerti masalah etika.”

“Lain kali jangan biarkan aku memelukmu. Begini-begini, aku juga bisa melakukan sesuatu yang tak menyenangkan padamu.”

“Eh? Hahaha, baiklah… Kau jelas sangat protektif. Omong-omong, terima kasih banyak untuk yang tadi. Aku jauh lebih baik karenamu, Lu.”

“Mm… jangan terlalu dipikirkan.”

Setelah hari itu, segala hal seolah memihak Amber dan Lu Han. Kerja keras mereka di kampus terbayar dengan prestasi yang terus meroket. Nama mereka mulai populer di kalangan dosen, membuat mereka mendapat beberapa keuntungan tanpa harus curang. Tak hanya soal prestasi, dalam hal pertemanan pun mereka beruntung. Karena mereka terus bersikap baik, lama-kelamaan banyak orang terkesan—dan mengikuti jejak mereka di kampus. Yang menjauhi mereka memang bertambah, tetapi yang mendekat lebih banyak. Mereka tidak lagi dikucilkan, sebaliknya malah dihargai. Keberuntungan mereka berlanjut hingga lulus, tetapi rupanya, keberuntungan itu tidak meningkatkan status hubungan mereka sama sekali. Amber dan Lu Han masih sebatas sahabat saat hari wisuda telah dekat.

Setangkai bunga kecil terbang melintasi Amber yang sedang duduk di lapangan basket. Kembali sebuah memori tentang Lu Han terurai. Amber berterima kasih pada bunga kecil itu yang telah mengingatkannya.

“Masih ada ya bunga yang mekar di musim dingin begini.”

“Kau memperhatikannya?”

“Tentu saja. Musim dingin ini cukup membosankan karena sedikit sekali warnanya. Putih di mana-mana, tetapi bunga ini luar biasa.”

“Kau gadis yang teliti.”

Pujian kecil Lu Han menyembulkan rona manis di wajah si tomboy. Tentu Amber mati-matian menyembunyikannya; dia punya berbagai cara untuk menghindar dari situasi semacam ini.

“Nih.”

“…Bunganya untukku?”

“Ya. Karena dia kembaranmu.”

Lu Han tertawa karena Amber menyamakannya dengan bunga kuning manis itu.

“Kenapa bunga ini kembar denganku?”

“Dia berkembang di musim dan tempat yang salah. Musim dingin dan tepian jalan tidak bersahabat dengan bunga manapun, tetapi dia memaksa untuk melawan jatuhan salju dan orang-orang yang tak acuh akan keindahannya. Dia berjuang dan kau pun sama.”

Lu Han menatap Amber dengan perasaan bercampur aduk, sementara yang ditatap masih  memegang bunga, menyodorkannya pada sang kawan; pandangan Amber sendiri tertuju ke arah lain. Si pemuda Beijing tak percaya Amber mampu menemukan dirinya yang sesungguhnya: Lu Han yang berjuang sendiri di lingkungan paling tidak kondusif. Lu Han yang berusaha untuk berkembang di tengah cacian dan pengabaian. Lu Han yang sebenarnya indah, tetapi orang-orang tak punya mata untuk melihatnya. Ya, semua orang, kecuali Amber.

Lu Han menerima bunga itu dan berterima kasih. Dalam hati, dia berjanji untuk menyimpan bunga itu sebaik mungkin sebagai kenangannya yang terindah. Oh, betapa Lu Han akan merindukan Amber nanti jika dia pulang ke Cina. Apa boleh buat? Di sana tanah airnya, ke sanalah dia harus pulang. Dia rindu keluarganya, tetapi meninggalkan Amber juga memberatkan langkahnya kembali ke sana. Dalam kebimbangan inilah, Lu Han menerima berita buruk yang memaksanya pergi dari Amber.

“Mau telepon ibumu? Pakai saja ponselku.”

“Tapi biaya menelepon ke Cina ‘kan mahal…”

“Itu urusan belakang. Besok kita wisuda; keterlaluan sekali kau jika tidak menghubunginya.”

“Aku bisa pakai telepon umum.”

“Jangan mempersulit dirimu jika ada jalan mudah. Nih, cepat.”

Amber memperhatikan mimik muka Lu Han saat bicara dengan seseorang di seberang sana. Tampaknya, bukan ibu Lu Han yang mengangkat telepon, tetapi adik Lu Han: Amber mengenal suara si penjawab yang bergemerisik itu. Kegembiraan sekaligus rasa rindu yang besar tumpah ketika Lu Han bicara dengan sang adik, tetapi raut Lu Han tidak seriang semula tatkala pembicaraan beranjak lebih jauh. Bibir Lu Han berkedut, napasnya memberat, dan semua itu berujung menyedihkan dengan sebulir air mata.

Ada apa?

Lu Han menutup telepon setelah membisikkan kata-kata dalam bahasanya yang Amber yakin berfungsi menenangkan hati sang adik. Seulas senyum gemetar terukir di wajah pucat si boneka salju saat mengembalikan ponsel Amber.

“Kau kenapa, Lu? Apa kau sedih ibumu tidak bisa hadir di wisuda?”

“Beliau justru dapat menyaksikan jalannya wisuda besok tanpa perlu hadir di tempat.”

“Eh? Begitu? Kenapa?”

“Ibuku… ibuku sudah tidak di Beijing.”

“Oh? Jangan bilang dia pindah ke California.”

“Tidak. Dia pindah ke surga.”

Selama sepersekian detik, jantung Amber seakan berhenti berdetak. Pindah ke surga? Tapi seseorang tidak mungkin pindah ke surga dalam keadaan hidup.

Yang berarti satu hal.

Lu Han tertunduk dalam. Satu kali menangis sunyi di hadapan Amber sudah lebih dari cukup. Ia ingin menyimpan semua perasaan yang memberatkan untuk dirinya sendiri karena membiarkan Amber mengetahuinya hanya membebani si gadis. Itulah yang dia yakini, tetapi Amber berada di kutub pemikiran yang berbeda.

Perlahan, Amber menutup mata Lu Han tanpa menoleh pada pemuda itu.

“Aku tidak melihatmu, jadi jangan malu dan keluarkanlah semua yang kau rasakan.”

Hening mengisi ruang antara Amber dan Lu Han. Sedetik, dua detik, dan telapak tangan Amber yang menutup mata Lu Han mulai basah. Amber tidak menarik tangannya. Satu tangannya yang lain mengusap punggung Lu Han; punggung itu berguncang pelan dalam isak tertahan. Hanya dengan menyentuh punggung itu, Amber turut merasakan kesedihan Lu Han. Beberapa kali Amber mendesah panjang, berusaha kuat untuk Lu Han seperti Lu Han yang selalu kuat untuknya.

Tapi kehilangan orang tua begitu menyakitkan hingga sakitnya bisa menular cepat.

Lu Han menurunkan tangan Amber dan sekali lagi memaksakan diri tersenyum.

“Terima kasih. Maaf sudah menangis seperti ini lagi…”

“Itu belum cukup, Lu Han. Aku tahu.”

Amber meneruskan ‘sesi penyembuhan’ dengan meletakkan kepala Lu Han di bahunya. Mata Lu Han masih tertutup karena kepalanya tertelungkup di bahu Amber. Bahu itu lebih sempit dari miliknya, tetapi hangat dan menyambut. Seakan tempat itu cukup lapang untuk menampung seluruh keluh-kesahnya, Lu Han pasrah dan jatuh di sana. Lupa dengan niatnya untuk tidak memeluk Amber lagi, lengan kurus Lu Han melingkar melewati bahu Amber yang lain.

“Aku letih.”

“Maka akulah tempat di mana kau bisa beristirahat.”

Amber bersungguh-sungguh. Kalau mendampingi Lu Han selamanya dapat meringankan beban pemuda itu, Amber akan melakukannya dengan rela. Sayang, Lu Han harus pulang ke Cina. Adik-adiknya masih terlalu muda untuk benar-benar mandiri, jadi Lu Han harus mengawasi mereka. Benar bahwa Amber ingin bersama Lu Han, tetapi jika itu menghalangi Lu Han bertemu keluarganya, lebih baik tidak usah saja.

Apa itu berarti kenangan mereka selama ini akan segera tertimbun layaknya album foto lama dalam gudang?

Saat wisuda, Lu Han memperoleh predikat mahasiswa asing berprestasi terbaik dari kampus. Ia berpidato di atas mimbar dengan Amber menyaksikan.

“Pemuda itu temanmu, bukan, Sayang?”

“Ya, Bu.”

“Dia pandai sekali, juga sangat sopan, aku suka. Bagaimana denganmu?”

“Apa maksud Ibu?”

“Jangan pura-pura tak paham.”

“Ibu, dia itu orang Cina. Kalau aku pacaran dengannya, maka kami akan terpisah sangat jauh! Hubungan kami tidak akan berjalan baik!”

Penyangkalan Amber pada ibunya di kursi wisudawan juga merupakan penyangkalan pada perasaannya sendiri. Amber tidak ingin kecewa karena cinta yang sudah ditumbuhkannya sekian lama berakhir begitu saja sebelum sempat diungkapkan.

Sesungguhnya, Amber menyesal.

Kebanyakan kisah cinta yang dijalin dari jarak jauh tidak berjalan mulus. Keindahan di awal akan segera terganti oleh ketidaksetiaan. Tak ada ‘bahagia selamanya’ karena masing-masing mereka menemukan pasangan baru di dua tempat berbeda. Amber 99,99% percaya bahwa persahabatan mereka juga akan tamat sesederhana itu saja, padahal harapan Amber sangat besar untuk menjalin kasih dengan Lu Han.

“Jangan lupa tetap mengontakku sesampainya di Cina, boneka salju!”

Itu permintaan Amber sebelum pesawat Lu Han terbang ke Beijing pagi itu.

Keyakinan Amber tentang awal manis dan akhir menyedihkan terbukti. Beberapa minggu pasca berpisah, Lu Han masih mengirim e-mail dan menelepon, melaporkan kondisi kekiniannya. Amber ingin sekali melompat ke Beijing, atau berteleportasi, atau apalah yang membuatnya dapat menjangkau Lu Han karena berdasarkan cerita Lu Han, sarjana lulusan luar negeri tetap saja sulit mencari kerja di Beijing. Lu Han sedang menghadapi tantangan baru dunia kerja dan Amber tak mendampinginya melalui krisis tersebut. Amber senantiasa berdoa untuk kemudahan jalan Lu Han…

…hingga komunikasi mereka terputus sama sekali.

‘Adik-adikku sudah masuk universitas yang mereka inginkan.’

Pesan terakhir Lu Han di e-mail melegakan Amber, jadi dia segera membalasnya, menanyakan di mana adik-adik Lu Han akan kuliah, apa saja persiapan mereka, dan sebagainya. Semenit, tidak dibalas. Sepuluh menit, belum ada balasan juga. Sehari berlalu, masih tak berbalas. Sebulan, tiga bulan, setengah tahun, setahun… dan lima tahun terlewatkan tanpa kabar.

Lima tahun itu adalah lima tahun tergelap dalam hidup Amber. Bagaimana tidak? Kenangan yang ia buat bersama Lu Han terlalu banyak dan bernilai. Mereka semua lekat di benak Amber; seribu tahun pun tak cukup untuk membasuh semuanya. Lu Han terlalu indah untuk dilupakan, sehingga alam sadar Amber yang memaksanya enyah kalah juga oleh alam bawah sadar yang rajin memunculkan Lu Han dalam mimpi. Hanya dalam bunga tidurnya, Amber bertemu Lu Han dan melakukan banyak hal menyenangkan bersama seperti dulu. Hanya di sana, Amber dapat tersenyum jujur. Karena dalam mimpi, dua orang yang saling cinta dapat berjumpa sekalipun terpisah jarak dan waktu, membuktikan rasa yang tak pernah lenyap. Seperti bulan yang tertutup awan; ada di langit, tetapi pada waktu-waktu yang kurang tepat tak bisa dipandang.

Amber kembali terkekeh pelan tatkala mengingat mimpi-mimpinya dengan Lu Han. Dalam satu mimpi, Lu Han merayunya dengan mengutip lirik lagu yang menyatukan mereka.

“Senyummu manis layaknya madu. Sisipkan bunga di telingamu dan kau akan mampu mengalahkan keindahan musim semi.”

Seandainya kata-kata setinggi itu Lu Han ucapkan untuknya, Amber akan mencubit pipinya sendiri keras-keras supaya yakin tidak berada di dunia opera sabun. Lu Han itu puitis, tetapi tidak pernah menyinggung-nyinggung soal cinta dalam tiap kalimat bijaknya. Lagipula, kalimat macam itu lebih cocok ditujukan untuk gadis Cina lemah-lembut yang setipe dengan Lu Han, bukan gadis Amerika berpembawaan santai dan pragmatis seperti Amber.

Walaupun Amber juga tak akan menolak rayuan gombal itu. Toh kedengarannya manis dan membuatnya makin mencintai Lu Han.

“Entah kenapa, aku merasa pernah melihat senyum itu di sebuah tempat. Di mana kira-kira?”

Amber terkesiap. Ia bangkit dari kursi besi di tepi lapangan basket yang telah kosong.

Lu Han berdiri di sana, beberapa langkah dari Amber. Dengan senyum yang masih sama lembut dan tatapan sayu penuh kerinduan.

“Oh, benar. Senyum itulah yang selalu kunikmati di dalam mimpi.”

Amber terpaku di tempatnya. Si boneka salju berhasil membekukannya. Benarkah ini? Lu Han yang selama lima tahun belakangan seolah tak tersentuh… kini memberi salam padanya?

Mengerti bahwa Amber tak akan mendekatinya lebih dulu, Lu Han maju dengan sedikit tergesa. Ia sibakkan rambut Amber yang menutupi telinga kiri, lalu menyelipkan setangkai bunga kecil yang telah kering di sana. Bunga kecil ini tak lain merupakan bagian kenangannya dengan Amber. Pemuda Cina itu kemudian memuji hasil kerjanya.

“Bunga kering sekalipun bisa membuatmu mengalahkan keindahan musim semi.”

Serta-merta, Amber meletakkan ujung-ujung jemarinya di bibir Lu Han.

“Aku sudah mendengar itu… dalam mimpiku, jadi tak perlu diulangi lagi,” kekeh Amber, “Jadi selama ini, kita bertemu dalam tidur?”

Senyum Lu Han kian merekah ketika menurunkan tangan Amber dari bibirnya. Giliran tangannya yang menyentuh sisi wajah Amber. Wajah yang kata orang terlalu sering terpapar matahari hingga rusak dan tidak menarik, tetapi bagi Lu Han, wajah itu telah membuatnya jatuh. Jatuh terlalu dalam dan tak bisa bangun.

“Ini bukan mimpi, ‘kan?”

Amber menahan tangan kanan Lu Han supaya tetap berada di pipinya. “Kalau ini mimpi, kau tak akan bisa menyentuhku.”

“Benar. Kau sangat jauh sampai-sampai aku hampir percaya kita tak akan bertemu lagi… Untung, dugaanku salah.”

Napas Lu Han makin tak teratur ketika Amber memandang lurus ke dalam manik matanya. Dengan jari gemetar, Lu Han menelusuri detil wajah si gadis dan baru menyadari bahwa Amber jadi lebih cantik. Mungkin kedewasaan berperan besar, mengubahnya menjadi wanita muda yang cukup mampu merawat diri, yang sangat menyenangkan Lu Han.

Amber terbelalak, lalu tertawa kecil karena tanpa sadar, Lu Han meneteskan air mata. “Kau masih cengeng, ya?”

Tangan Lu Han yang bebas menghapus bulir bening yang jatuh.

“Aku baru sadar bahwa aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.”

Tiap senyum, tiap tawa, tiap celetuk polos, tiap gaya cuek khas Amber menyiksa Lu Han saat malam tiba. Semua itu ia temui dalam mimpi saja dan menghilang pada pagi hari. Padahal Amber sangat dekat, tetapi menghilang sebelum Lu Han benar-benar sempat merasakan kehadirannya.

Sekarang dia bisa.

Dan Amber tak tahu harus berkata apa lagi menanggapi tangis sunyi Lu Han.

Air mata itu…

…untukku?

Untuk gadis tak peka sepertiku?

Pantaskah aku menerimanya?

Tentu pantas. Setiap wanita memiliki hak untuk dicintai, dirindukan, dan Amber dapat memperoleh haknya ini dari Lu Han.

“Di Cina, aku sangat sibuk hingga sulit menghubungimu meskipun ingin. Terpisah sedemikian jauh membuatku sakit… jadi aku akan jujur padamu hari ini.”

Satu kecupan mendarat di puncak kepala Amber, menimbulkan sensasi kejut listrik yang cepat merambat. Kecupan itu menemukan tempat yang tepat untuk tinggal. Ini terbukti karena Lu Han tidak juga mengakhiri kecupan itu. Harum rambut Amber menahan Lu Han sangat lama. Karena kecupan itu pulalah, seperti kaset rusak, memori yang Amber dan Lu Han bangun bersama terputar ulang dengan urutan yang berantakan. Dari perkenalan di lapangan basket, pukulan Lu Han pada teman Amber, hari-hari di mana mereka mengerjakan tugas bersama, Amber yang diantar pulang Lu Han, kisah Lu Han tentang keluarganya, Lu Han yang memuji kecantikan Amber, bunga kuning yang tumbuh di musim salju…

…dan petikan gitar yang mengiringi kisah senyum semanis madu.

Ketika Lu Han mengakhiri kecupannya, ia dan Amber mengucapkan hal yang sama untuk satu sama lain. Dalam dua bahasa berbeda—tapi sama-sama mereka pahami.

***

“Aku mencintaimu.”

***

TAMAT

padahal ini bukan Henber tapi aku doki2 bikinnya >.< mana lagu Tian Mi Mi itu aluuuuuuuuuus banget. duh bikin ini rasanya kayak bunuh diri perlahan2.

kenapa pula belakangan ini aku jadi ngepens sama luhan padahal waktu di exo biasa aja T.T ceceeee luhaaan *no, dia bukan cewek *dilempar amber

Advertisements

7 thoughts on “Sweetly Beautiful (2/2)

  1. Suka banget ama ni ff, apalagi luhan jadi good boy disini… Oiya thor maaf aku cuma comment di endingnya aja*peace.. Jangan lupa banyakin ff berpairing HanBer-nya thor.. Keep writing

    Like

  2. Widih,, sama li, wktu luhan ud keluar entah napa aq jd respect jg ma tu rusa. Dan aq mandang dy sbg solois, jd lumayan ga nyesek. Soalnya ada kan exo-l yg msh kebayang2 Ot12.

    Aq kmrin hbs baca catching glow mu di Ao3, gara2 itu aq jd pngen baca ff amber. Secara kalo dr fx aq emg suka jg sm amber, tp kalo utk bca ff.nya blm prnah.

    Hais,, ini kayaknya lbh ngena feelnya kalo sm henry dh, kalo sm luhan gni gtw napa aq g dpt feel. #msh kebawa efek catching glow

    Like

  3. Comment nya langsung disini aja ya
    Awalnya ga kebayang pair ini hahaha
    Tapi berakhir nge-fly gimana gitu hahaha
    Sweet. Suka
    Apa lg ngebayangin Luhan nyanyi tian mi mi buat Amber WUOOHH

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s