A Story of Tomorrow [Renewed]

krisho (2)

scriptwriter Liana D. S.

starring

EXO’s Suho (Kim Joonmyun) and Wu Yi Fan

ft. all EXO members

duration Oneshot (4,3K+ words) genre Tragedy, Hurt/Comfort rating Teen and Up

.

dibuat sambil mendengarkan ‘Angel’, ‘Don’t Go’, dan ‘Miracles in December’ dari EXO dalam dua versi, silakan mendengarkan juga selama membaca!

[picture taken from http://stuffpoint.com/exo/image/376661/krisho-4-picture/]

.

Masing-masing kita memiliki banyak alternatif ‘hari esok’—dan ini salah satu alternatif ‘hari esok’ leader EXO.

***

30 Agustus 2014

Konser tunggal EXO yang bertajuk ‘The Lost Planet’ kembali digelar, kali ini bertempat di Guangzhou, Cina. Para penampilnya—siapa lagi kalau bukan sebelas pemuda tampan dari planet luar tata surya—sedang dalam perjalanan menuju lokasi konser. Van mereka sangat ramai karena bocah-bocah ini sibuk bercanda untuk menghilangkan tegang.

“Kkaebta.” Baekhyun memulai permainan sambung kata. Chanyeol mengeluarkan tawa khasnya yang seperti monster. Ia menyebutkan satu kata tak bermakna yang terdengar sangat aneh, lalu menunjuk si kulit susu. “Ayo, Hun!”

Si magnae mengucapkan kata yang lebih aneh (jangan lupa cadelnya) dan menekan satu tombol di ponsel. Permainan sambung kata ini rupanya berkelanjutan di van sebelah, tempat para member Cina (dan dua member Korea EXO) berada. Sesuai urutan main yang telah ditentukan sebelum naik van, Sehun menghubungi kakak Beijing tercintanya (para member EXO jelas tak terpisahkan biarpun beda van, bukan?).

“Lu Han-hyeong, giliranmu.”

Luhan tertawa malu setelah menjawab telepon. “Haruskah? EXO-K saja yang main. Ini bodoh.”

“Bodoh, tapi menyenangkan! Daripada kita tegang!” Baekhyun membela diri. Chanyeol, Chen, dan Lay menyetujui. Lay bahkan menyuruh Luhan cepat-cepat menjawab. “Setelah ini giliranku. Ayo cepat, supaya aku bisa menyebutkan kataku!”

“Baik, baik,” Luhan menyebutkan katanya, “Silakan, Xing.”

Lay dengan bahagia meneruskan suku kata terakhir Luhan. “Kyungsoo!”

D.O. menggeleng cepat sambil menahan tawa. Ia mengoper gilirannya dengan menghubungi Tao—yang kontan menjawab sesemangat Lay. Tao kemudian berteriak keras lewat ponselnya, memanggil Kai. “Giliranmu!”

Kai diam saja. Tao berteriak lagi. “Ayo, Jongin!”

“Hm… aku pas. Joonmyun-hyeong saja yang jawab.” ucap Kai sambil tersenyum lemah. Tao berkedip-kedip cepat keheranan. “Kau kenapa?”

Suho yang ada di dekat Kai mengamati sang adik dengan seksama. Aneh. Sebagai magnae berstatus lead dancer, biasanya semangat Kai selalu tinggi. “Jongin, kau sakit?”

“Tidak, Hyeong. Cuma agak capek, tetapi aku tidak apa-apa.”

“Oh… Kau mengantuk?”

“Sedikit. Lanjutkan saja mainnya. Ayo, Hyeong.”

Chanyeol dan Sehun menelengkan kepala mereka ke arah Kai. “Kelihatannya dia benar-benar sakit,” Chanyeol menyambar ponsel Kai yang masih terhubung dengan Tao, “Minseok-hyeong, ada yang butuh dipijat, nih!”

“Heh?” Xiumin yang bertelinga peka segera mendekat ke ponsel Tao, “Siapa?”

Kai segera menggeleng. Bisa mati dia kalau dipijat Xiumin—biarpun badannya kecil, tenaga Xiumin dapat menghancurkan kaleng cola.

Suho tertawa. “Tidak jadi, Hyeong, nanti saja pijatnya,” Sang leader beralih pada magnaenya, “Biarkan Jongin istirahat supaya bisa tampil maksimal nanti. Sehun, ambilkan bantal kecil di dekatmu.”

Patuh, Sehun menyerahkan bantal leher pada Suho. Dia tidak bicara apa-apa, tetapi mukanya jadi serius, mengkhawatirkan partner-in-crime-nya. Kai memasang bantal itu di leher, lalu memejamkan mata. Suho meletakkan telunjuk di depan bibir dan para member melanjutkan permainan dengan lebih tenang. Suho menyebutkan katanya, lalu kembali ke Xiumin, bersambung ke Chen, dan berputar lagi ke Baekhyun.

Kkaebsong!”

“Sst!!!” Chen dan D.O. sama-sama menegur Baekhyun yang volume suaranya susah diatur itu, “Jongin sedang tidur!!!”

Baekhyun manyun. “Tapi Jongin itu ‘kan susah bangunnya. Biar aku berteriak, dia juga tak akan dengar.”

“Tetap saja. Kasihan, tau, dia kecapekan.”

Baekhyun hendak protes lagi, tetapi tidak jadi karena Xiumin sang tetua berwibawa berdehem, cukup keras hingga masuk ponsel Chen dan terdengar di van sebelah.

“Iya deh, maafkan aku.”

Kata-kata aneh kembali bersambung. Sehun sempat berhenti cukup lama karena tidak menemukan kata yang lucu. Kakak-kakaknya menggoda dan hampir menimbulkan keramaian lagi, tetapi D.O. setia membungkam mereka. Suho tersenyum saja, membiarkan Kai bersandar di bahunya tanpa sadar. Ia selalu merasa tenang jika para membernya bahagia seperti sekarang. Ia menyempatkan diri bermanja dalam kebahagiaan itu supaya mampu bertahan dalam badai. Perjalanan mereka sulit dan Suho-lah yang paling kesulitan, memikul tanggung jawab atas apa yang dilakukan sepuluh anggotanya di hadapan publik.

Yah, satu hal yang bagus adalah sejak kehilangan satu member, EXO jadi semakin dekat satu sama lain. Tidak ada rahasia, semua berbagi supaya dapat saling menguatkan dan tidak ada yang lepas lagi.

Hyeong,” panggil D.O—dialah member yang koneksinya paling kuat dengan Suho, “Kok tiba-tiba tersenyum?”

“Aku hanya sedang senang.”

“Senang kenapa?”

“Karena—“

***

Pertanyaan D.O. tidak pernah terjawab.

***

Bruak! Crash!!!

“Jongin, awas!!!”

“Xing! Yi Xing!!! Ukh, uhuk!”

“Jongdae di mana?!”

“Minseok-hyeong terjebak, tolong dia…”

“S-sakit… Yeol-hyeong…”

“Kyungsoo… dia masih di mobil…”

***

30 Agustus 2014

Sebuah kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan dua mobil dan dua van terjadi di Guangzhou, Cina. Lima belas orang tewas, tiga orang luka berat, dan dua orang luka ringan akibat peristiwa ini. Sebelas korban tewas berasal dari van yang mengangkut personel boy group Korea EXO yang hendak menyelenggarakan konser tunggal ‘The Lost Planet’.

***

4 September 2014

Jika dibolehkan, Suho ingin disuntik mati saja. Atau menggantikan tempat pengemudi van supaya ia tewas bersama sepuluh membernya. Ya. Sebelas orang di van tewas, tetapi hanya sepuluh dari mereka yang merupakan member EXO.

“Pasien ini sulit berkoordinasi. Keadaan mentalnya tidak baik. Bahkan keluarganya tidak bisa mendekatinya karena ia cenderung melukai orang-orang yang ada di dekatnya.”

“Aku tahu ini berat, tetapi mekanisme pembelaan egonya juga jelek, sehingga keadaannya memburuk. Apa yang harus kita lakukan?”

“Diazepamnya tidak bisa masuk, pula. Kita harus panggil dokter lagi!”

Para perawat yang bicara dalam bahasa Mandarin di luar kamar tidak diacuhkan Suho. Apalah yang dia pedulikan saat ini selain para membernya yang telah pergi. Apa yang harus ia katakan pada orang tua para member? Bagaimana ia mempertanggungjawabkan kematian sepuluh rekannya? Bagaimana ia dapat mengisi sebelas posisi jika ia sendirian? Bagaimana dengannya? Sanggupkah ia bertahan tanpa sepuluh membernya dalam bayang-bayang kenangan dua tahun ke belakang?

Sehun, Kai, Tao. Magnae manja yang akhir-akhir ini makin penurut dan dewasa. D.O. ‘Ibu’ pengganti yang menjadi wakil leader. Chanyeol, Chen, Baekhyun. Beagle line yang mencerahkan suasana dengan mengesampingkan kelelahan mereka sendiri. Lay. Boneka Mashi Maro yang memiliki kebaikan seluas samudera. Luhan dan Xiumin. Hyeong tertua yang menjalankan tugas mereka dengan kebijaksanaan masing-masing.

Suho ingin mati.

Suho sungguh ingin mati daripada disiksa kesepian.

Tak ada yang dapat Suho ajak berbagi perasaan. Pertama, karena orang Korea di sini hanya orang tua dan kakaknya—mereka sudah diusir Suho dengan kasar saat pertama menginjakkan kaki di kamar. Kedua, tak ada yang bersama sepuluh member selama dirinya, jadi tentu tak ada yang mengerti kehilangan ini.

Samar, Suho mendengar suara ibunya di depan kamar, berbicara dengan seorang pria muda.

Dalam bahasa Korea.

Aneh. Ini ‘kan di Guangzhou. Siapa yang bisa bahasa Korea selancar—

“Akan saya usahakan. Baik. Saya permisi.”

Suho kenal betul suara berat itu. Bertahun-tahun bersama pemilik suara ini menanamkan memori yang kuat di kepala Suho.

Pintu terbuka.

“Mau apa kau?” sambut Suho dingin. Terdengar pintu tertutup setelahnya. Suho harap pintunya tertutup dari luar… sayang, yang terjadi malah sebaliknya.

Orang yang masuk kamar menjawab, “Aku menjengukmu, Joonmyun.”

“Jenguk saja mantan membermu yang sudah meninggal, Wu Yi Fan!”

Bentakan Suho membuat pria bernama Wu Yi Fan itu mematung. Yi Fan menarik napas dalam. Rasa sakit kembali menusuknya, tetapi dia tidak boleh menunjukkan getar dalam suaranya pada Suho.

“Aku sudah menjenguk mereka semua. Aku juga berusaha menghadiri semua upacara pemakaman, walau tidak sampai selesai.”

Dan Yi Fan melihat betapa banyaknya luka di tubuh masing-masing member akibat kecelakaan itu. Ia tak bisa membayangkan sedahsyat apa kecelakaan yang menimpa mereka dan merasa sama buruknya dengan Suho karena tidak ikut mati.

Keadaan korban yang hidup malah lebih buruk.

“Pergi.”

“Tidak akan.”

“Pergi kubilang.”

“Tidak sampai kau mau makan.”

“Aku akan mencabut infusku dan lari kalau kau tidak pergi.”

“Jangan coba-coba melakukannya.”

Frustrasi karena Yi Fan tidak mengindahkan perintahnya, Suho meraba-raba infus, hendak melepas selang tipis itu. Yi Fan cepat tanggap. Ia jauhkan satu tangan Suho dari tangan yang tertancapi infus.

“Lepaskan aku! Aku ingin melihat para memberku! Jika pengkhianat sepertimu saja bisa menemui mereka, kenapa aku tidak?” berontak Suho, kakinya menendang-nendang asal hingga selimutnya tersibak tak karuan. Ia berniat menyingkirkan Yi Fan darinya, tetapi gagal. Cengkeraman Yi Fan semakin kuat.

“Kau tidak perlu melakukannya karena itu akan menyakitimu.”

“Selama ini, aku menemani mereka melewati berbagai macam rasa sakit, bahkan saat kau pergi! Kenapa untuk yang terakhir ini, aku harus takut sakit? Akan kususul mereka. Akan kususul!”

“Joonmyun, hentikan.” Suara Yi Fan menegas.

“Sehun, Jongin, Tao! Para magnae menungguku!”

“Joonmyun, mereka sudah tiada.”

“Kyungsoo! Baek! Yeol! Jongdae! Aku harus pulang!”

“Joonmyun!”

“Minseok-hyeong, Lu Han-hyeong, dan Yi Xing tidak akan bisa mengatasi mereka semua!”

Putus asa, Yi Fan membaringkan Suho dengan paksa dan menahan dua tangan pucat nan kurus itu di sisi. Didudukinya kaki Suho supaya pemuda itu tidak dapat bergerak.

“Bagaimanapun, dulu aku pernah menjadi leader juga, Joonmyun. Patuhlah atau aku akan memaksamu.”

Suho mengerang. “Kapan kau jadi leader? Kau lari, Yi Fan! Kau tidak mengerti!”

“Aku mengerti,” sela Yi Fan, “Meski sebentar, aku pernah bersama mereka semua. Aku sama kehilangannya denganmu, karenanya aku datang.”

Dari semua orang yang mungkin merasa kehilangan karena peristiwa ini, perasaan Yi Fan-lah yang paling mendekati perasaan Suho. Orang tua para member tentu sedih karena kehilangan putra mereka, tetapi perasaan mereka jelas tidak sama persis untuk sembilan orang lainnya.

Namun, Suho merasakan kesedihan yang sama untuk kesepuluh membernya.

Begitu pun Yi Fan.

Suho berhenti memberontak. Entah untuk keberapa kali, bulir-bulir bening turun dari balik perban yang menutup matanya. Ia sedih dan malu karena tidak menyikapi masalah ini dengan dewasa sesuai yang diharapkan banyak orang. Yah, ekspektasi orang-orang terhadapnya sebagai leader boy group ini kadang terlalu tinggi.

Satu-satunya yang memahami betapa berat hal ini hanya Yi Fan.

Suho masih belum mampu melenyapkan kebenciannya terhadap Yi Fan yang dulu pergi mendadak, tetapi ia harus mengakui bahwa Yi Fan senasib dengannya dalam beberapa hal. Termasuk saat ini.

Keheningan yang mengisi kamar, juga rasa letih, membuat Suho mengantuk. Di tengah kesadarannya yang terombang-ambing, Suho merasakan satu titik hangat jatuh ke punggung tangannya.

Jika Suho dapat melihat, ia yakin akan mendapati wajah menangis Yi Fan yang jelek itu.

Suho tertawa.

“Bodoh. Jangan menangis.”

Lalu ia tertidur.

***

8 September 2014

Perban mata Suho dibuka, tetapi ia tidak melihat apapun selain beberapa area kelabu gelap dan hitam. Ia tidak begitu terkejut. Beberapa hari sebelumnya, ia sudah diberi tahu bahwa kecelakaan telah merenggut penglihatannya.

Malah Yi Fan yang tampak sangat terpukul.

“Apa? Jangan lambai-lambaikan tanganmu di depanku seperti Eomma!” kata Suho pada Yi Fan saat merasakan angin menerpa wajahnya.

“Maaf,” Suara Yi Fan merendah, “Kau benar-benar tidak dapat melihatku?”

“Bukan hanya kau. Aku bahkan tidak bisa melihat diriku sendiri.” Suho hendak turun dari ranjang. Yi Fan bersiap di samping Suho, membantunya berdiri seperti beberapa hari sebelumnya. Sayang, Suho menepis tangannya. “Aku hanya ingin ke toilet untuk cuci muka, tidak usah dibantu.”

“Kau terpeleset terakhir kali berjalan tanpa dibimbing.”

“Lepaskan, Yi Fan.”

“Kau tak pernah bisa memaksa siapapun, Myun. Kau bukan aku yang selalu memaksakan kehendakku pada yang lainnya,” Yi Fan memegang tangan Suho erat, “Kau tipe leader yang pengertian, bukan leader penguasa, jadi tidak, kau tidak bisa memaksaku. Ayo, jalan.”

Suho berdecak. Sekali lagi ia menepis tangan Yi Fan. Ia berhasil lepas, tetapi langsung kehilangan keseimbangan.

“Aku sudah bilang, ‘kan?” Yi Fan menangkap Suho tepat waktu. Suho menyingkirkan tangan Yi Fan dari bahunya. Ia tidak ingin tampak lemah, tetapi sejujurnya, Suho berterima kasih karena sudah ditolong oleh pria itu.

Suho membasuh muka. Yi Fan berdiri di belakangnya, bersandar pada dinding toilet dengan tangan terlipat di depan dada.

“Aku membencimu.” kata Suho tanpa menoleh pada Yi Fan.

“Aku tahu. Kau mengungkapkannya di hari aku pergi.”

“Kenapa sekarang kau tidak pergi setelah mengetahuinya?”

“Karena kita sedang berkabung bersama. Lagipula, kau tidak bisa berbagi rasa kehilanganmu jika tidak denganku.”

Suho mengumpat dalam hati. Kata-kata Yi Fan itu sangat tepat.

“Kau bersikap seolah-olah sangat dibutuhkan, padahal kau tidak pernah muncul di saat benar-benar dibutuhkan. Konser solo pertama kita terancam batal gara-gara kau pergi tanpa alasan, tau. Kau pikir lucu, bertindak seenaknya begitu dan menyusahkan kami?”

Tidak langsung berjawab.

“Mungkin itu kesalahan terbesar yang kulakukan. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Suho tersenyum sinis. “Terlalu terlambat untuk kembali ke EXO.”

“Belum benar-benar terlambat. ‘Kan masih ada kau. Dan kurasa aku bisa membantumu soal perasaan ditinggalkan.”

“Maksudmu?”

Yi Fan menyisipkan jemari ke sela-sela rambut hitamnya. “Ketika kau sebenarnya tidak ingin berpisah dengan teman-temanmu, tetapi kondisi memisahkanmu paksa… Kau tidak pernah mengalaminya sebelum sekarang, bukan? Aku sudah.”

Mungkin, Yi Fan sedang membicarakan perihal keluarnya dia dari boy group yang telah membesarkan namanya beberapa bulan lalu.

“Satu hal lagi. Aku ingat Sehun pernah berkata pada kita untuk tidak bertengkar. Rasanya kejam sekali kalau—“

“Jangan pernah menyebut nama member lagi di depanku!”

Yi Fan bungkam seketika. Suho menutup matanya yang mulai basah lagi. “Kumohon. Kumohon jangan.”

“Apa kau ingin lari dari kenanganmu bersama mereka? Kau akan gagal.”

“Sok tahu.”

“Sekali kau menjadi bagian dari EXO, kau akan tetap di sana, sekalipun kau keluar atau grup ini bubar. Kenangan itu akan terus melekat bersamamu.”

Yi Fan itu jujur dan kejujuran agaknya menyakitkan Suho. Akan tetapi, kejujuran tidak pernah semenyakitkan kebohongan. Demi menghiburnya, semua orang boleh bilang bahwa Suho suatu saat akan melupakan EXO, tetapi tidak. Suho hanya akan membohongi diri sendiri jika percaya itu.

Setelah sekian tahun, baru hari ini Suho dapat menghargai sepenuhnya pendapat Yi Fan.

“Besok kau keluar dari rumah sakit,” Yi Fan memecah keheningan, “Ada rencana? Jika tidak, aku akan mengajakmu pergi ke beberapa tempat.”

“Memangnya kau tidak ada jadwal?” tanya Suho dengan nada mengusir.

“Katakanlah aku gila, tapi aku sudah membatalkan semua jadwalku untuk merencanakan perjalanan ini.” jawab Yi Fan sama ketus. Suho terbelalak. Jam terbang Yi Fan sebagai solois dan aktor sangat tinggi—dan ia membatalkan semuanya?

“Kau baru saja rugi besar, Tuan Wu. Aku tidak mau ikut.”

“Kalau begitu, kau juga baru saja rugi besar karena menolak mengunjungi makam para member, Tuan Kim.”

Suho sekali lagi mengumpat dalam hati. Yi Fan mengangkat satu sudut bibirnya penuh kemenangan.

“Kau sungguh-sungguh tidak mau ikut?”

***

21 September 2014

Suho meletakkan seikat bunga di depan nisan salah satu (mantan) lead vocalnya, lalu meraba nisan itu untuk memastikan siapa yang dikunjunginya. Ia tersenyum setelah membaca ukiran hangul di nisan itu.

“Jongdae. Maaf aku terlambat datang. Selamat ulang tahun yang ke-23, ya.”

Yi Fan berdiri dekat Suho. Matanya terfokus pada ukiran nama di nisan itu. Kim Jongdae, dikenal di panggung sebagai Chen. Si penyanyi berbakat yang suaranya senantiasa memercikkan semangat dalam hati setiap orang, walau kadang bisa juga menghanyutkan pendengar dalam keharuan. Official beagle EXO yang selalu mencerahkan suasana. Ibu kedua EXO (ketiga jika selain D.O, Suho juga dihitung sebagai ibu) yang rajin mengawasi ‘anak-anaknya’. Chen yang diingat Yi Fan enam bulan sebelum ini adalah Jongdae yang demikian; rasanya setelah ditinggal Yi Fan pun Chen masih sama.

“Jongdae yang terakhir, ‘kan?” tanya Yi Fan, mengkonfirmasi ujung dari tur kematian ini. Suho mengangguk, masih mengusap nisan Chen.

“Saat debut, kita berdua seumuran dengan dia sekarang.”

Yi Fan menengadah. Mereka debut sebagai EXO dua tahun lalu. Saat itu, Yi Fan berumur 23, Suho 22.

“Teringat showcase?”

“Hm. Usai showcase, kita berdua berpisah. Kau ke Cina dengan EXO-M, aku di Korea dengan EXO-K. Memberku merindukan membermu, membermu merindukan memberku. Terutama Baekhyun, semua merindukannya.”

“Tapi kegiatan promosi tetap berjalan sendiri-sendiri hingga masuk era ‘Wolf’,” Yi Fan tertawa getir, “Kita bersatu. Dan aku ingat Chanyeol, dengan muka bodohnya itu, dikira member EXO-M oleh seorang host gara-gara tinggi badannya. Padahal kau tahu member EXO-M tidak ada yang bermuka bodoh.”

“Heh. Sejak itu, kita selalu tampil berdua belas. Kita lebih mengenal satu sama lain. Kita bekerja keras hingga sampai di puncak kesuksesan–”

“Jangan diteruskan.”

Siapapun tahu kelanjutannya. Member dengan nama panggung Kris keluar dengan alasan yang belum pasti hingga saat ini. Persiapan konser makin berat bagi sebelas yang tersisa, tetapi mereka tidak berhenti, terlepas dari fans yang terpecah dan masalah-masalah lain yang bermunculan. Justru setelah EXO menjadi sebelas orang, panggung menyambut mereka dengan lebih terbuka. Chen mulai menyanyi solo. D.O., Luhan, dan Tao masuk dunia akting. EXO mendapat banyak tawaran di variety dan menjadi MC di acara musik. Bakat yang ditampilkan di ‘The Lost Planet’ juga makin beragam.

Sekarang, Suho akan menjadi satu-satunya orang yang berdiri di atas panggung yang harusnya diisi sebelas orang.

Ah. Sial. Seandainya saja Yi Fan masih menjadi Kris, Suho tidak akan sendirian.

“Aku…” Suho membuyarkan lamunan Yi Fan, “…harus memberikan setidaknya satu panggung perpisahan untuk EXO-L.”

Yi Fan sontak menoleh. “Kau sendiri?”

“Bagaimana lagi? Memang hanya aku yang tersisa. Selain itu, apa yang telah kami mulai tidak boleh berakhir seperti ini saja.”

“Kau sendirian, Joonmyun. Kau memiliki keterbatasanmu. Atau kau lupa bahwa kau sudah buta sekarang?”

“Tidak, tetapi aku ingat Jongin bilang akan menumpahkan seluruh passionnya dan berani mati demi sebuah panggung. Aku ingat kata Tao bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini. Baekhyun juga mengatakan bahwa kehidupan adalah jalan penuh usaha. Maka aku akan berjuang menghidupkan sepuluh jiwa yang telah pergi meski hanya sendiri!”

“Apa kau lupa kata Kyungsoo bahwa EXO hanya akan bersinar di panggung jika kita berdua belas?” Suara Yi Fan meninggi.

“Jika kau ingat itu, kenapa kau tidak kembali sebelum semuanya terlambat?”

Perdebatan itu berakhir sebelum sempat klimaks.

Yi Fan sebenarnya mendukung keputusan Suho, tetapi dengan keadaan Suho kini, ia ragu Suho mampu membangkitkan sebuah panggung untuk sebelas orang tanpa melukai diri sendiri. Mungkin sedikit irrasional, tetapi alasan Suho untuk memberikan satu penampilan penutup yang tak terlupakan juga sangat kuat. Intinya, panggung yang diinginkan Suho harus berdiri. Salam perpisahan harus diberikan.

Suho tertunduk.

“Perjalanan kita bersama terlalu berharga dan aku hanya tidak ingin menyia-nyiakannya.”

Tentu saja. Yi Fan pernah merasakan sakit bersama Suho dan sepuluh orang lainnya. Yi Fan menjalani beratnya lima tahun sebelum debut yang seolah tiada akhir. Setelah debut pun, mereka terus berusaha memperbaiki diri. Jika itu berakhir tanpa kesan seperti kisah Kris-nya dulu, maka sepuluh member jelas akan kecewa.

Mungkin, untuk inilah Yi Fan ada di sisi Suho.

Untuk satu panggung terakhir.

Yi Fan menggandeng Suho yang matanya mulai berkaca-kaca lagi. Suho mendongak, tetapi Yi Fan tidak memandangnya, melainkan memandang makam Chen. Lama. Suho tak tahu apa yang dipikirkan Yi Fan, tetapi kemudian, Yi Fan menarik Suho pergi.

“Yi Fan, apa yang kau lakukan?”

“Bersiap-siap untukmu,” Mendadak Yi Fan berbalik, “Sampaikan salam dulu pada Jongdae, lalu kita ke agensi dan merencanakan semuanya.”

***

15 Oktober 2014

Yi Fan melemparkan semua gengsinya demi Suho dan EXO. Beruntung, usaha dua orang ini membuahkan hasil. Mereka mendapatkan satu panggung sederhana untuk sebuah persembahan terakhir. Suho akan membawakan tiga lagu saja, tanpa dance. Demi panggung terakhir ini, Suho berlatih vokal semaksimal mungkin.

Para artis di agensi menatap Yi Fan aneh. Tak satupun dari mereka menyangka bahwa Yi Fan-lah yang membimbing Suho dalam kegelapan selama ini. Yi Fan menelan pandangan mengejek itu bulat-bulat, dalam hati bersyukur bukan Suho yang harus menerimanya. Yi Fan mendampingi Suho latihan—dan mereka kembali. Seperti dulu. Bedanya, sekarang mereka hanya berdua.

Hari itu akhirnya datang.

Slide show saja sudah membuat mereka menangis,” gumam Suho dari backstage ketika mendengar para fansnya tersedu, “Aku tak yakin aku sendiri akan kuat menyanyikan tiga lagu dan memberi salam di atas sana.”

“Tak apa. Setidaknya kau berusaha.”

Tangan Suho dengan sendirinya menghampiri tangan Yi Fan yang ada di bahunya.

“Terima kasih, Kris.”

Yi Fan terhenyak karena Suho memanggilnya dengan nama itu. “Apa?”

Kris,” Suho tersenyum, “Kumohon. Hari ini saja, jadilah EXO Kris.”

Yi Fan bingung harus mengatakan apa. Ia mendekatkan tubuh kurus Suho padanya. Mungkin supaya Suho bisa merasakan detak jantungnya yang tak teratur ketika nama panggungnya disebut lagi.

“Maaf baru pulang sekarang… Suho.”

Yi Fan menerima sebuah anggukan maklum yang melegakannya.

Slide show selesai. Ragu, Suho melangkah masuk panggung dengan Yi Fan membimbingnya. Di tengah panggung, terdapat sebuah kursi; di sanalah Suho duduk. Gemuruh memenuhi barisan penonton ketika para fans menyadari kehadiran Suho dan seseorang di sampingnya.

Musik dimainkan. Suho menghela napas dan mulai bernyanyi. Sebuah lagu tentang cinta kepada orang asing. Seseorang yang membawa sang penyanyi ke dunia baru. Seseorang yang kelak dilindungi dari berbagai bahaya oleh sayap-sayap sang penyanyi.

Kris menyanyi bersama Suho, itu jelas.

Suho gemetar ketika semua fans ikut menyanyi. Ia menggenggam tangan Kris, sedikit lega karena tak perlu melihat lautan manusia di hadapannya. Kris menggenggam balik tangannya, merasakan getaran yang lebih hebat karena bisa melihat kerumunan di sana.

Tapi keduanya berjanji untuk tidak menangis.

Lagu pertama terlewati dengan lumayan baik.

Lagu kedua berisikan permohonan pada seseorang supaya ia tidak pergi. Seseorang itu begitu indah, yang ditinggalkan akan merasa sedih jika ia benar menghilang. Bahkan jika pagi datang, sang penyanyi tidak ingin ditinggalkan—atau terjadi badai perasaan yang hebat.

Lagu ketiga adalah akhir kisah. Setelah sebuah pertemuan dan permohonan untuk tetap tinggal, akhirnya orang yang dicintai sang penyanyi harus pergi. Dari kepergian orang terkasihnya, sang penyanyi mendapatkan kekuatan baru dalam hatinya. Sang penyanyi memutuskan untuk tetap mencintai yang telah pergi. Meski begitu, perpisahan ini sangat menyakitkan hingga sang penyanyi ingin memutar mundur waktu ke suatu musim bersalju yang penuh kenangan.

Ketika lagu ketiga selesai, entah sudah berapa banyak fans yang jatuh dalam kesedihan. Padahal Suho belum menyampaikan salamnya.

“Kris,” bisik Suho, “maaf aku banyak meminta, tetapi bisakah kau memberi salam bersamaku?”

Ah. Salam yang nostalgik itu.

“Baiklah.”

Suho menghela napas sekali lagi. Ia bangkit dari duduknya, lalu menyapa fans dengan salam khas mereka.

We are one! Kami adalah EXO!”

Para fans menjerit karena pertama: harusnya salam itu diucapkan, setidaknya, oleh sebelas orang. Kedua: ‘Kris’ sebenarnya bukan lagi bagian dari EXO.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian yang telah hadir di sini, padahal ini bukanlah panggung besar seperti biasanya. Terlebih, hanya aku yang ada di sini…” Suho berdehem, “…bersama Kris.”

Jujur, Kris baik-baik saja walaupun Suho meniadakannya. Tak masalah. Toh EXO memang hanya tersisa seorang, tetapi Suho tetap menariknya masuk.

“Aku sebagai wakil dari EXO minta maaf karena hari ini tidak bisa menampilkan yang terbaik,” Suara Suho mulai bergetar di sini, “juga karena kami mendadak harus menghentikan seluruh aktivitas. Semua ini di luar kendali kami.

Panggung ini mestinya diisi sebelas—tidak—dua belas orang dan aku sangat menyesal karena tidak bisa memenuhi penantian kalian lagi. Dengan berakhirnya penampilan ini, EXO akan mengakhiri seluruh kegiatannya dari dunia hiburan, tetapi kuharap, kalian tetap mengingat kami karena setiap panggung kami bersama kalian tidak tergantikan…”

Leher Suho tercekat. Ia dalam bahaya besar. Mendadak, ia memalingkan wajah dan memberikan mikrofonnya pada Kris, padahal di rencana awal, Kris tidak mendapat jatah bicara. Gugup, Kris menerima mikrofon dan bicara dengan sangat hati-hati, seperti dulu ketika masih menjadi leader yang bergantian bicara dengan Suho.

“Aku… akan bicara atas nama Suho,” Kris merengkuh bahu Suho yang sangat rapuh itu, “EXO berterima kasih untuk dukungan dan cinta kalian. Usaha keras EXO tak akan ada artinya tanpa kalian. Aku yakin, sepuluh member lain juga akan menyimpan kenangan kita bersama. EXO memang tidak akan ada lagi setelah ini—selain di hati kalian masing-masing. Semoga semuanya berjalan baik di masa depan, untuk personel EXO dan juga kalian para fans.”

Suho menarik pelan lengan Kris, lalu membisikkan sesuatu padanya. Kris mengiyakan.

“Sebelum kami pergi,” Suho menyuguhkan senyumnya yang terindah, “bolehkah kami mendengar ‘EXO, let’s love!’ yang terakhir dari kalian?”

Kembali gemuruh memenuhi udara dari barisan penonton. Suho tertawa kecil. “Setelah aku mengatakan ‘EXO’… kalian tahu harus menjawab apa, bukan?”

Para penonton mengiyakan dan Suho, tanpa melihat pun, dapat menemukan paduan aneh antara kebahagiaan dan kesedihan dalam kerumunan fans.

Kris tersenyum sedih ketika Suho berteriak parau.

“EXO!”

Let’s love!”

Sebagai penghormatan pada semua orang yang menjawab salam penutup ini, Suho dan Kris membungkukkan tubuh mereka, mengucapkan terima kasih sekali lagi, dan berjalan menuruni panggung.

Suho terlalu lelah hingga terhuyung, membuat Yi Fan harus membantunya duduk. Pemuda yang lebih kecil berjuang melawan isaknya sendiri, sedangkan rekannya meneteskan air mata dalam sunyi. Setengah jam, tidak ada yang bertukar kata hingga Suho menautkan tangannya pada tangan Yi Fan.

“Terima kasih banyak sudah menemaniku sampai saat ini. Senang bekerja sebagai sesama leader denganmu, dulu dan sekarang.”

Satu tawa sengau lolos dari bibir Yi Fan. “Aku bukan leader.

“Jika bicara realita, sekarang aku juga bukan leader, Yi Fan,” Suho mengusap air matanya, “Aku tidak memimpin siapapun lagi. Teman-teman kita telah pergi ke tempat yang lebih baik, bukan begitu?”

“Hm,” Yi Fan kembali memeluk Suho dari sisi, “Mereka yang terbaik dan kau adalah pemimpin dari yang terbaik. Kau hebat.”

“Kau juga. Aku minta maaf telah menyebutmu sebagai orang yang mengecewakan ketika kau pergi.”

“Sepertinya kita sehati sekali hari ini. Apa kekuatan telepati Lu Han berpindah? Ya, aku juga minta maaf karena pergi dengan begitu egoisnya dan menyusahkan kalian semua.”

Ponsel Yi Fan berdering. Yi Fan sempat mendumel kesal karena merasa terganggu, tetapi ternyata itu nomor manajernya. Yi Fan mohon izin untuk mengangkat telepon dan berjalan menjauh. Percakapan di antara mereka memahamkan Suho bahwa ia telah cukup banyak menyita waktu berharga Yi Fan atas nama EXO.

Siapa yang egois sekarang?

Usai menutup telepon, Yi Fan berbalik—dan Suho langsung menubruknya. Mendekapnya seperti anak kecil yang tidak ingin dipisah dengan boneka raksasanya.

“Selamat jalan,” Suho menghela napas beberapa kali untuk menenangkan diri, “Sukses selalu, Yi Fan.”

“Tapi, bagaimana denganmu?” Kecemasan kental terdengar dalam kata-kata Yi Fan, “Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Banyak hal. Aku akan belajar Braille, memakai tongkat, melatih Byul anjingku supaya bisa jadi penunjuk jalan, sekolah lagi mungkin, dan… dan mengenang waktuku bersama EXO,” Sudut mata Suho melengkung sedih, “Aku memiliki keluargaku, Yi Fan, jadi jangan khawatir. Walaupun ada keluarga yang sudah tidak mendampingiku, aku baik-baik saja. Lagipula, aku ini tipe pekerja keras, meski hanya untuk hal kecil.”

Bagi Yi Fan, Kim Joonmyun adalah sebuah paradoks. Joonmyun pernah menjadi salah satu batu sandungan dalam karir Yi Fan akibat pernyataannya yang terkesan menjatuhkan, tetapi di sebagian besar hidup Yi Fan, Joonmyun adalah inspirasi. Partner. Adik, dalam beberapa waktu. Kakak, di waktu-waktu lain. Pandangan Joonmyun terhadap Yi Fan juga sama—dan keduanya merasa beruntung pernah dipertemukan dalam ikatan yang cukup erat.

“Terima kasih, Joonmyun,” bisik Yi Fan, “Aku menyayangimu. Berjuanglah, karena aku juga akan berjuang.”

Joonmyun memejamkan mata, seakan menolak kepergian Yi Fan sebentar lagi. Tiap tarikan napasnya berat dan sakit.

“Terima kasih kembali, Yi Fan. Sampai jumpa. Aku juga menyayangimu.”

Sang manajer telah menunggu Yi Fan di luar lokasi konser, jadi Yi Fan harus buru-buru. Setelah melepaskan pelukannya, Yi Fan tersenyum, melambai ke arah Joonmyun (yang entah bagaimana mengetahui ini dan melambai balik), lalu pergi. Joonmyun membalikkan tubuh pula, melangkah pulang.

Hari esok telah menunggu Kim Joonmyun dan Wu Yi Fan di dua jalan berbeda. Dua jalan yang akan berujung di satu titik yang sama. Satu titik di mana sepuluh orang menunggu dengan senyum hangat nan bangga.

***

I didn’t know how thankful your love was
I thought it would stop once it ended
But every day, I’m fixing
myself to want you
I think my love will endlessly continue

I stop time
And go back to you
I open your page
In my book of memories
I am there inside

Inside that winter.

(EXO – Miracles in December)

***

TAMAT

cerita ini aslinya ditulis pada 3 September 2014, seingetku sebelum Lu Han ngajukan tuntutan, makanya di sini dia juga mati. versi aslinya (diupload di Archive of Our Own-ku) juga nggak begini, ada beberapa hal yg diubah.

dan utk yg mau tahu, lagu yg dinyanyiin KrisHo di konser terakhir itu adalah ‘Angel’, ‘Don’t Go’, dan ‘Miracles in December’. karenanya aku menyarankan kalian mendengarkan tiga lagu ini saat membaca ^^

KrisHo is just sweet, isn’t it?

apa aku berhasil melukai hati EXO-L? *author psycho

thanks for reading anyway ^^

Advertisements

11 thoughts on “A Story of Tomorrow [Renewed]

  1. entah kenapa selalu suka genre2 ky gini.. tragedinya dapet, friendshipnya apalagi dan terasa nyata… ga pernah ga sedih tiap ngulang baca cerita ini mau yg di AO3 (kyknya dulu ga sempet komen ff ini yg di AO3) ataupun yang baru diperbaharui ini… 🙂

    Like

      1. awalnya pas baca cerita ini di renewed sempet mikir kalo Luhan ikutan hidup secara dia udh keluar sblm tahun kecelakaan.. eh ternyata tahunnya dimajuin..
        aku sampe bolak balik wp-AO3 pas baca buat tau apa aja bedanya.. hehe

        semangat terus buat berkarya 🙂

        Like

  2. aku bahkan ga tau pengubahannya di mana.. Yg jelas versi AO3 waktu terbitnya ga jauh dgn tragedi ladies code.. Dan itu bikin takut setengah mati.. Hehe

    Like

  3. kak lianaa aku udah baca ini beberapa hari lalu dan akhirnya bisa sempet komenn

    aku udah baca versi ao3 dulu dan baru sempet leave kudos huhuhu maaf ya kak dan however ini kerasa lebih sakit daripada yang di ao3 hahaha padahal aku juga gak tahu bedanya di mana ((sama aja impresif sakitnya duh))

    dan kak liana kenapa bisa produktif banget nulisnya haaa iri parah :’) jadi pengen banyak baca baca di sini

    keep writing kak!

    Like

  4. Ini golden bgt kak:’)
    friendship mereka no endless like a circle:’) dan..dan terharu
    ok kk emg author yg pyscho/kick/
    Diksi nya salut bermakna sgt dlm, konflik dan penggambarannyaa udh deh amazing bgt
    fighting nulisnya ya kak!

    p.s: bolhkan aku baca karya2 kk yg lain/puppy eyes/ boleh boleh dong:*

    Like

  5. AKU AMBYAR KAKKKK!! Aku beneran nangis masa. Ini entahlah cerita jaman kapan kakak nulisnya, tapi tetep bikin sedih kak huhu.

    Haduh jangan sampe mereka mati. Ini bagus kak. Aku dapet banget feelnya. Dan ya keep writing kak! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s