Cutely Mature

BcAUkFUCcAADGG7

scriptwriter Liana D. S.

starring

EXO’s 93-liners D.O (Do Kyungsoo) and Tao

Friendship, Fluff?, Vignette (2K+ words), General

.

Ketika sikap imut Tao justru melambangkan kedewasaan yang lebih besar dari Kyungsoo.

***

Kyungsoo itu tidak imut.

Walaupun matanya bulat besar, pipinya agak tembam, bahunya sempit, dan badannya pendek (membuatnya persis gantungan kunci fluffy kesukaan anak perempuan), Kyungsoo tetap tidak imut. Kyungsoo sendiri yang menolak dibilang imut karena dia pria sejati—dan pria sejati tak suka hal yang imut. Sayang, seberapapun seringnya Kyungsoo mengingkari, ia tetaplah anggota paling imut di EXO. Semua anggota grup ini setuju untuk mengabaikan tatapan seramnya dan sikap diamnya. Seolah ada kesepakatan tidak tertulis, masing-masing dari mereka bergiliran mengerjai Kyungsoo, berusaha memercikkan sedikit ekspresi di wajah yang senantiasa datar itu.

Tapi ada satu member yang sama sekali tak pernah mengerjainya.

“Kyungsoo-ya!!!”

Tiba-tiba saja, sepasang lengan panjang yang gelap tersampir di bahu Kyungsoo ketika si mungil itu sedang memasak. Tanpa menoleh, Kyungsoo sudah tahu siapa si empunya lengan.

“Tao, turunkan tanganmu. Aku tidak bisa memotong bawang kalau kau begini.”

“Aku akan membantumu!”

“Tidak usah. Kau tunggu saja makanannya jadi.”

“Tapi aku ingin membantumu! Sekali saja!”

Pernah menonton film tentang pembunuhan berantai? Karakter wajah para pelakunya sangat mirip dengan seseorang yang sedang merayu Kyungsoo saat ini. Lihat mata elang bersudut tajam dengan kantung hitam tebal, lengkung senyum yang kadang mengerikan, dan tubuh tinggi besar itu. Sebagai informasi juga, pemuda sebaya Kyungsoo ini ahli wushu. Tongkat dan double stick adalah teman baiknya. Teman baiknya—di panggung, dalam beberapa kesempatan show-off tiap-tiap anggota EXO.

Di luar tentu tidak dipakai.

Karena di luar, Huang Zi Tao adalah bocah Qingdao pecinta damai dan disayang para hyeong.

Tao adalah lawan kata dari Kyungsoo. Jika Kyungsoo mati-matian mempertahankan image matangnya, Tao adalah raja aegyo yang tidak sungkan-sungkan mengeluarkan ‘jurus rahasia’ demi mendapat apa yang ia mau. Dengan penampilan petarung itu dia merayu, yeah; memang sedikit merusak bayangan sempurna para gadis tentangnya.

Tapi inilah Tao.

Dan inilah Kyungsoo.

“Kalau kau mau membantuku, lumatkan saja kentang yang sudah kukupas itu.”

“Aku tidak ingin melembutkan kentang. Aku mau membantumu potong-potong.”

“Kau tidak pandai memotong.”

“Pokoknya aku mau! Ya, ya? Boleh, ‘kan, Kyungsoo-ya?”

Tiap Tao bertemu Kyungsoo, pasti ada jeda khusus yang diisi keheningan. Pada jeda itulah, tatapan kosong Kyungsoo berbenturan dengan bbuing-bbuingnya Tao yang tak tertolong. Pertarungan maut ini, hebatnya, sering berujung pada kemenangan Tao, padahal anggota yang lain pasti akan kalah duluan kalau berhadapan dengan dinginnya tatapan si penyanyi.

Hari ini bukan pengecualian.

Kyungsoo mendesah panjang saat menyerahkan pisau pada Tao. “Nih. Potongannya sesuaikan dengan potonganku sebelumnya.”

Seperti anak perempuan yang berhasil dapat diskon, Tao melonjak girang dan menerima pisau bawang Kyungsoo. “Terima kasih!!! Kau baik sekali!!!” ucapnya, lalu mendekati daun bawang yang setengah terpotong dengan semangat, “Oke, akan kutunjukkan bahwa aku magnae yang pandai memasak dan tidak hanya makan!”

Kyungsoo memutar bola matanya ke atas dengan malas. Percaya diri sekali Tao.

Karena pekerjaan memotong diambil alih, Kyungsoo berpindah ke station kentang. Keduanya kemudian tenggelam dalam pekerjaan masing-masing. Pada dasarnya, dua orang ini memang tidak terlalu cocok, dengan Kyungsoo yang terlalu dewasa untuk usianya dan Tao yang berlebihan manjanya. Namun demikian, jika mundur ke masa-masa dulu, Tao memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan trainee Kyungsoo.

“Apa itu Do Kyungsoo yang katanya punya range suara luar biasa?”

“Masa, sih? Kurasa dia memenangkan perhatian lewat penampilan saja.”

“Aku pernah mendengar dia latihan vokal; sama sekali tidak spesial! Kalah dengan para trainee yang lebih senior!”

“Tapi rumornya dia masuk grup khusus trainee-trainee yang siap debut! Bisa kau bayangkan itu?”

Memiliki bakat di atas rata-rata senantiasa bersisian dengan kedengkian orang, apalagi di dunia para trainee. Kyungsoo merasakan betul hal itu. Performanya pun turun akibat kekerasan mental yang dilakukan para trainee senior kepadanya. Beruntung, tidak semua sekejam itu. Joonmyun yang kini jadi leader EXO termasuk salah satu yang menawarkan keramahan padanya, membuat dia mampu bertahan di lingkungan keras ini.

Hampir bersamaan dengan Kyungsoo, bergabung lagi seorang trainee baru ke agensi. Kyungsoo bertemu trainee ini tanpa sengaja, suatu hari saat dia menuju ruang koreografi.

“Heh, ada lagi pengganggu menyebalkan yang masuk. Hei, kau, keluarlah dari sini!”

Kyungsoo meremas sisi celananya ketika menyaksikan seorang trainee senior melontarkan kata yang tak pantas pada si trainee baru. Tidak pernah ada trainee yang begitu frontal menyatakan kebencian pada trainee lainnya. Bahkan Kyungsoo yang sedang jadi topik panas pun tak diperlakukan demikian.

Anehnya, si trainee baru mengangguk sambil tersenyum malu-malu pada si trainee senior dan pergi begitu saja.

Apa yang dikatakan trainee senior itu berikutnya membakar Kyungsoo seketika.

“Tuh, ‘kan, dia tidak mengerti? Sudah kubilang, dia dari Cina dan bahasa Koreanya jelek sekali! Walau kuejek wajahnya seperti kerbau pun, dia pasti tetap tersenyum dan memberi salam!”

Tak tahan lagi, Kyungsoo berjalan melintasi kelompok trainee senior, dengan sengaja menabrakkan tubuh mungilnya sebelum berjalan ke arah si trainee baru. Si trainee senior marah-marah akibat tindakan ini, tetapi Kyungsoo bergerak cukup cepat untuk menghindari amukannya.

Ada ruang belajar khusus yang disediakan agensi untuk para trainee. Di sinilah mereka belajar bahasa asing, tetapi pelajaran ini tidak terlalu ditekankan untuk trainee Korea; mereka biasanya belajar bahasa Mandarin, Jepang, atau sekadar memperkaya bahasa Inggris. Lain halnya dengan trainee asing, mereka harus intens belajar bahasa Korea. Maka tak heran jika Kyungsoo menemukan trainee asing itu di dalam, membaca buku pelajaran bahasa Korea dasar. Sendirian. Si trainee menyadari kehadiran Kyungsoo dan memandangnya heran.

Untuk pertama kalinya, Kyungsoo bertindak out-of-character.

“Apa kau tak tahu kalau mereka tadi mengejekmu?!”

“Eh? Siapa—”

“Mereka mengatakan hal jelek tentangmu!”

“…Oh.”

“’Oh’? Hanya itu tanggapanmu?”

“Tidak apa-apa, kok… Lebih enak diejek saat kita tidak tahu…”

Kyungsoo mendengus kesal. Meskipun trainee ini secara fisik jauh lebih seram daripadanya, ternyata si trainee berhati lemah. Tidak ada sedikitpun niat membalas para trainee senior di wajah trainee asing ini. Benar bahwa di agensi, bertindak tak sopan (seperti membalas ejekan) dilarang keras, tetapi toh senior-senior itu melakukannya. Semua adil dalam cinta dan perang, maka boleh-boleh saja jika trainee asing itu membalas si senior dalam ‘perang’ ini, menurut Kyungsoo.

Tapi Kyungsoo tak pernah benar-benar dikuasai perasaan. Beberapa tarikan napas menenangkannya kembali. Menit berikut, Kyungsoo telah duduk berhadapan dengan si trainee baru. Sementara Kyungsoo fokus padanya, si trainee yang gugup terus fokus pada bukunya.

Bagaimana rasanya menjadi trainee di negeri orang?

Apakah dia punya teman?

Pertanyaan-pertanyaan ini tertahan di kepala Kyungsoo karena yang keluar dari mulutnya bukan salah satu dari mereka.

“Apakah bahasa Korea sangat sulit?”

“…Iya.”

“Kenapa?”

“Aku sulit ingat… Latihan dance, vokal, semuanya bertumpuk…”

Hening. Semenit. Dua menit.

“Mau berlatih denganku?”

“Tapi ucapanku aneh… Teman-teman tak mau denganku…”

“Aku mau.”

Tanpa saling memperkenalkan diri, baik Kyungsoo dan trainee baru itu merasa lebih dekat.

Semudah itu saja.

Mungkin karena mereka sama-sama sendirian di lingkungan penuh tekanan.

Kyungsoo benar-benar melatih trainee baru itu bercakap-cakap dalam bahasa Korea hingga ada dua trainee yang masuk. Dua trainee itu berbicara dalam bahasa Mandarin dengan si trainee baru. Tatapan keduanya lekat pada Kyungsoo, yang baru sadar bahwa ia agak salah tempat. Ia baru akan beranjak pergi, merasa mengganggu, ketika si trainee baru menariknya, memintanya tetap tinggal sebentar, dengan senyum lebar di wajah.

“Yi Fan-hyeong, Yi Xing-hyeong, ini adalah temanku.”

Kalimat yang kagok ini entah kenapa terdengar manis buat Kyungsoo. Bagian terpenting yang berkontribusi memaniskan kalimat itu adalah kata yang terakhir.

‘Temanku’.

Jarang sekali ada orang yang menyebut Kyungsoo temannya secara blak-blakan begini.

“Oh ya, tapi kita lupa berkenalan. Aku Huang Zi Tao. Senang berkenalan denganmu. Namamu siapa?”

Kyungsoo merasa sedang berhadapan dengan anak umur lima tahun sambil main di kotak pasir.

(Tapi tak ada anak umur lima tahun dengan wajah pembunuh begitu, Soo.)

“Na-namaku Do Kyungsoo. Se-senang berkenalan denganmu juga.”

Dua trainee teman Tao tersenyum. Menahan tawa, sebenarnya. Kyungsoo tahu kenapa; mereka pasti menertawakannya yang tiba-tiba terbata. Padahal Kyungsoo sudah berusaha tidak banyak bicara agar rahasia kecil ini—kegagapannya setiap dilanda perasaan yang hebat—tidak terbongkar. Dia kurang beruntung karena rahasia itu justru terbuka di depan tiga orang Cina yang baru dikenalnya.

Ah.

Tapi senangnya memiliki teman baru dapat mengalahkan rasa malu karena ketahuan gagap.

Oh, mendadak Kyungsoo rindu masa lalunya dengan Tao.

“Kyungsoo-ya!”

Tep! Tangan besar Tao mendarat di bahu sempit Kyungsoo. Pemuda yang lebih tinggi kemudian menunjukkan hasil kerjanya: daun bawang yang sudah terpotong-potong rapi. “Sudah selesai. Berikutnya aku harus apa?”

“Masukkan itu ke dalam kentang. Aku akan mengaduknya bersama bumbu.”

Tao patuh. Dengan hati-hati, ia memasukkan daun bawang ke dalam wadah kentang yang sudah dilumatkan Kyungsoo. “Lalu apa lagi?”

“Sudah cukup. Untuk sementara ini, tidak ada pekerjaan potong-memotong lagi. Sana, tunggu masakannya matang.”

“Aku mau membantu lagi.”

Kyungsoo berdecak. “Kau rewel betul hari ini.”

“Aku cuma mencegahmu supaya tidak teriris lagi seperti kemarin.”

“Teriris itu hal yang wajar di dapur, Tao.”

“Tidak wajar kalau kau teriris berkali-kali dalam satu hari.”

Kadang, Kyungsoo berpikir Tao yang tidak pandai bahasa Korea lebih baik dibanding Tao yang sekarang karena Tao jadi sering menyangkal.

“Boleh, ‘kan? Aku janji tak akan mengacau…”

“Kau akan memakan bahan-bahannya.”

“Tidak.” Tao menggeleng-geleng dengan teknik terimut yang pernah ia pelajari. Kyungsoo menjulurkan lidahnya seolah mau muntah. Aegyo Tao sangat memuakkan, tetapi tetap saja…

“Argh, baiklah. Tunggu aku mengaduk kentang ini; kalau sudah selesai, bantu aku membentuknya jadi bola-bola.”

“Asyik!!! Aku suka bola-bola kentang!!!” Tao bertepuk tangan riang, lalu segera bersiap dengan sarung tangan plastik. Kyungsoo mendesah panjang. “Memangnya apa yang kau tidak suka?”

Adonan sudah tercampur rata. Kyungsoo dan Tao kini tengah ‘bermain’ bersama untuk membuat bola-bola kentang kecil.

“Sudah lama ya kita tidak main sama-sama begini.” celetuk Tao, dan Kyungsoo tersenyum miring.

“Kita tak pernah bermain.”

“Bukannya selalu? Saat trainee, aku mengikutimu ke mana-mana. Sekarang, rasanya aku lebih sering bersama Joonmyun-hyeong.”

“Bagus lah. Kau jadi tidak perlu melingkarkan lenganmu padaku dan memelukku tiap ada kesempatan. Itu mengganggu, tau.”

Tao kelihatan terluka dan Kyungsoo diam-diam menyesali perbuatannya. Padahal sikap manja Tao adalah salah satu hal yang cukup dinantinya jaman trainee dulu.

“Menurutku, aku jarang menggandengmu…”

“Nyatanya, kau melakukan itu setiap bertemu denganku.”

Tao berhenti membuat bola-bola dan berpaling pada Kyungsoo. “Jadi kau tidak suka, ya? Padahal digandeng ‘kan tanda sayang…”

“Laki-laki tidak menunjukkan kasih sayang untuk satu sama lain di kehidupan nyata,” Kyungsoo membaluri bola kentangnya dengan telur dan tepung roti, lalu memasukkannya dalam minyak panas, “Aegyo dan skinship hanya untuk fanservice.

“Iya, sih, tapi kau itu… lain.”

“Alasan yang bagus sekali, Tao. Kau menempel pada semua member, tetapi kenapa hanya aku yang lain? Kau itu manja, jangan mencoba berkilah, dan sebaiknya kau hentikan sebelum usiamu bertambah lagi.” Kyungsoo membolak-balik bola-bola kentangnya, secara bersamaan menggeser Tao dari depan kompor. Dalam hati, sekali lagi Kyungsoo menyesal. Kadang ia sering mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya karena dia bingung pada perasaannya sendiri. Hal itu di luar kendalinya dan tidak mencerminkan perasaannya terhadap Tao.

Benar bahwa Kyungsoo terganggu, tetapi yang ganjil, dia juga mendapatkan kenyamanan dengan memiliki teman yang memperlakukannya sehangat Tao.

“Maaf,” Suara Tao tidak begitu terdengar karena ia sedang menunduk, “Aku cuma khawatir. Dulu ‘kan Joonmyun-hyeong pernah bilang kalau penglihatanmu buruk.”

Kyungsoo tertegun.

“Sejak debut, sepertinya kau sudah jarang tersandung dan salah posisi dance, jadi kupikir kau sudah sembuh. Ternyata, minggu-minggu belakangan, posisi dancemu agak bergeser ketika perform, lalu kau juga sering teriris saat memasak… Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan matamu, ‘kan?”

Jadwal EXO makin padat pasca comeback. Tawaran manggung, pemotretan, dan shooting iklan membanjir. Waktu istirahat para member berkurang, tetapi mereka terpapar cahaya lebih banyak. Akibatnya, beberapa member yang memiliki gangguan penglihatan seperti Kyungsoo dan Chanyeol mengalami perburukan. Chanyeol yang memiliki riwayat operasi penipisan kornea sudah aman di tangan Yi Fan dan Baekhyun, tetapi Kyungsoo, dengan korneanya yang tak rata, menganggap distorsi penglihatannya bukan masalah serius. Ia selalu mengaku pada Joonmyun, yang sebenarnya siap sedia untuk membantu, bahwa ia baik-baik dan tidak perlu kacamata seperti yang disarankan.

Tao mencoba pendekatan lain. Ia tidak mengungkapkan kecemasannya secara terang-terangan. Sebaliknya, ia bertingkah senormal mungkin, berpura-pura mengumbar aegyo, termasuk pada Kyungsoo.

Tapi aegyo satu ini beralasan.

Untuk melindungi Kyungsoo.

Tao itu penakut. Ia takut Kyungsoo jatuh. Takut Kyungsoo terluka. Takut Kyungsoo terus terjebak dalam dunia yang terdistorsi. Takut Kyungsoo takut. Karena Kyungsoo terus diam dan Tao bukan orang yang bisa membuatnya bicara.

“Tapi sudahlah. Aku minta maaf lagi karena sudah mengganggu. Aku akan menunggu di ruang tengah kalau tidak ada yang bisa kubantu lagi.”

Baru selangkah Tao keluar dari dapur, tangan Kyungsoo menarik kemejanya dari belakang.

“A-aku masih b-butuh bantuan untuk meniriskan k-kentangnya…”

Sial. Kyungsoo gagap lagi. Ada yang tahu kenapa? Carilah alasannya beberapa paragraf ke atas.

Permintaan Kyungsoo ini direspon Tao dengan senyum hangat yang sama sekali out-of-character. Tanpa pekikan girang. Tanpa suara girly. Tanpa sikap berlebihan yang biasa ia tunjukkan. Pemuda tinggi itu menyampirkan lengan panjangnya di bahu Kyungsoo sekali lagi, membimbing Kyungsoo supaya berjalan ke arah yang tepat.

“Sehun dan Jongin pasti tidak percaya aku masak denganmu, hihi.”

Kyungsoo hanya tersenyum. Sesekali, bolehlah ia jujur bahwa aegyo Tao sangat membantunya berkegiatan.

***

Astigmatisme (kb.):

gangguan yang terjadi pada penglihatan jika kornea tidak merata kecembungannya sehingga sinar yang masuk ke mata tidak merata pembiasannya.

***

TAMAT

Crack pair keempat! setelah pair ‘diam-diam berisik (xiubaek)’, ‘mama dan ahjumma (suhan)’, dan ‘guitar soulmate (chanlay)’, aku datang bawa ‘93% cute, 7% killer’ taosoo! kenapa pula 93%? karena mereka lahir thn 93! *apalah ini.

ada isu yg mengatakan bahwa kyungsoo itu punya astigmatisme. aku gtau sih. di ‘xoxo exo’ katanya begitu, joonmyun yg bilang. 

anyway. pair ini disebut serial killer x squishy midget combo, di salah satu tumblr shippernya ^^ makanya aku deskripsikan tao sebagai pemuda bermuka pembunuh yg ternyata full aegyo, sedangkan kyungsoo-ya adalah si cebol perebut hati semua cewek.

dengan ini, tinggal chenhun dan kairis! go go!!!

Advertisements

12 thoughts on “Cutely Mature

  1. I dont know what to say…
    First of all aku baru aja nemuin blog ini dan baru baca ff ini dan jengjengjeng! sukaa banget bangetan sama ff ini deh, gimana yaa.. bahasanya ringan dan enak dibaca. terus buat isinya sendiri aku suka gitu sama tao yang kasih perhatian dengan caranya sendiri. pokoknya suka lah! ^^

    Like

  2. aaahhhh sweet banget dibalik kelakuan Tao yg berbanding terbalik ama tampangnya ternyata ada niat baik buat D.O yg unyuu unyuu ituuu…hehehe

    ooohhh ini tuh udah diniatin crack pairnya masing2 toh… ditunggu deh 2 cerita crack pair lainnya.. 🙂

    Like

  3. manis anget anget gimana gitu bacanya kak hahahaha ((apaan)) tapi ini lucuuuuu banget aku jadi inget mereka berdua jadi tim ngehias kue di exo first box

    dan tulisan kakak alus banget kaya yang bagian masa masa trainee itu kaya emang beneran kejadian kyungsoo ngajarin tao bahasa korea dulu. pokoknya bisa alami gitu dan aku iri parah hahahaha ini ngomong apaan sih sebenernya

    waaaaaa ini bagian dari sebuah series ternyata then ill read the rest! jangan bosen liat id ku nge-spam di sini ya kak lol

    Like

  4. haii haaii reader baru imnida, aku baru nemu blog dan juga ff ini, telat banget deh akuu hihii. aku suka banget sama kyung soo aaa~ dia imut sekali. dari posternya aja aku mikirnya emg kyak kyung soo aneh dan shock gimana gitu liat aegyonya tao, hahaa lucu banget. bahasa penulisan eonni aku suka deh mudah dimengerti dan juga alurnya gk muter-muter. bner-bner kyak emg kenyataannya begitu yg di alamin sama kyung soo sma tao. good job deh.. eh tapi aku penasaran sma series yg laen, aku mau baca juga ahh..

    Like

    1. hai, salam kenal! aku juga suka kyeongsew haha, dan yg di poster itu emang momen mereka berdua yg paling top! padahal mukanya unyuan kyeongsew tapi dia gak mau aegyo…
      tapi ketar-ketir nih, aku takut momen kayak gitu gak ada lagi ke depannya *kebawa berita soal tao yg katanya mau keluar
      anyway, silakan mampir ke cerita yg lain dan terima kasih sdh komen!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s