A Story of Today

tumblr_inline_mj4atzJ35i1qz4rgp

scriptwriter Liana D. S.

starring

EXO’s Suho (Kim Joonmyun), EXO’s Xiumin (Kim Minseok), Wu Yi Fan

genre Friendship, Angst, duration Vignette (2,2K+ words), rating Teen and Up

.

[‘Baby Don’t Cry’-nya EXO sangat mengundangku untuk membuat FF macam ini, jadi silakan mendengarkan.]

.

“Lu Han benar sekali! Kau jadi melankolis seperti anak perempuan yang baru putus cinta!!!”

***

Ada sebuah kafe yang popularitasnya melejit di Seoul belakangan ini. Ironisnya, bukan hidangannya yang melambungkan nama kafe tersebut, melainkan pianis di sana yang setia mendampingi para pelanggan selama ‘coffee hours’. Daya tarik pianis ini berhasil membuat kafe selalu kebanjiran gadis-gadis muda, meskipun tak jarang juga beberapa penikmat musik asli datang karena ketagihan pada permainannya. Pemuda 24 tahun dengan pesona malaikat ini dulunya dikenal sebagai pemimpin sebuah grup idola termasyhur asal Korea Selatan.

Suho adalah nama panggungnya saat itu.

Sekarang, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Kim Joonmyun.

Tak seperti biasanya, hari ini permainan Joonmyun sedikit sumbang. Ini sama sekali bukan gayanya; semua orang tahu Joonmyun itu perfeksionis sekali, dari sebelum menjadi ‘Suho’ hingga kembali lagi menjadi Joonmyun. Para fansnya menyadari cacat ini, tetapi mengabaikannya karena bagi mereka, keberadaan Joonmyun di kafe sudah lebih dari cukup. Namun, tentu saja, beberapa raut tak senang masih tertangkap mata sang pemilik kafe, membuat sang pianis mendapat peringatan halus.

“Apa kau sedang tidak sehat?” tanya sang pemilik kafe cemas setelah melayangkan tegurannya, “Kau terlihat lelah.”

Joonmyun memang sedang menyimpan masalah, tetapi buat apa diceritakan? Ia yakin si pemilik kafe juga tidak bisa membantunya. Jadi, untuk kesekian kali, Joonmyun hanya menyuguhkan seulas senyum.

“Saya baik-baik. Mungkin ini hanya pengaruh perubahan cuaca saja.”

“Ya, cuaca sering betul berubah pada bulan-bulan ini. Jaga kesehatanmu, Joonmyun.”

Pesan ini disampaikan sang pemilik kafe semata-mata karena Joonmyun penghasil uang utamanya; tentu kalimat itu memberi kesan berbeda di telinga sang pianis. Berbeda kalau ibunya yang mengatakan. Beda kalau kakaknya, atau ayahnya, atau temannya yang bilang.

Dan akan makin jauh bedanya jika salah satu dari sebelas mantan rekannya yang mengatakan.

“Terima kasih telah mengkhawatirkan saya sedemikian besar,” Joonmyun membungkuk sopan sebelum mengambil tongkat jalannya di sisi loker pegawai, “Kalau begitu, saya permisi.”

Sang pemilik kafe memandangi Joonmyun sejenak sebelum berucap, “Bukankah kau punya anjing penuntun?”

“Tidak lagi. Byul, anjing saya yang pertama, tidak menyukai anjing yang besar itu, jadi saya memberikan anjing penuntun itu pada kakak saya.”

“Oh…”

Joonmyun sekali lagi memberi salam kepada bosnya, lalu melangkah keluar seraya mengetuk-ngetukkan tongkatnya sepanjang jalan. Tongkat itulah pengganti mata untuknya sejak kecelakaan Agustus silam.

Kecelakaan yang membuat seluruh dunianya hitam.

***

“Myun-ah?”

Segera setelah membuka pintu kamar, Joonmyun disambut suara high-pitch yang sangat familiar. Suara itu mengukirkan senyum di wajah letih si pemuda malaikat.

“Hai, Minseok-hyeong. Akhirnya kau datang. Sembilan hari lalu terasa seperti neraka tanpamu!”

Minseok, mantan rekan grup Joonmyun yang hari itu datang mengunjunginya, hanya terkekeh pelan. “Maksudmu pasti kebalikannya, bukan? Memang kau tidak rindu para magnae?”

“Tentu aku rindu, tetapi ocehan mereka yang tak selesai-selesai malah bikin repot!” keluh Joonmyun saat menyisihkan tongkatnya ke samping nakas, lalu merebahkan diri di ranjang, dekat Minseok.

“Kupikir Baekhyun yang paling menyusahkanmu.”

Joonmyun berdecak. “Apalagi dia! Bocah itu berkali-kali menyuruhku, ‘Telepon Kris-hyeong, telepon Kris-hyeong!’, padahal dia tahu itu mustahil!”

Kening Minseok berkerut. “Jadi kau memarahi adik-adikmu karena mereka memberikan solusi yang sebenarnya tepat untuk masalahmu?”

Hening. Joonmyun tahu Minseok benar. Adik-adiknya (Joonmyun termasuk empat besar hyeong di grupnya dulu, jadi bandmatenya yang lain bisa kita anggap sebagai ‘adiknya’) pun benar. Masalah yang berputar-putar ini pasti akan selesai jika ia menelepon Kris, mantan rekan kerjanya yang semenjak keluar dari grup dikenal sebagai Wu Yifan. Akan tetapi, selalu saja banyak dalih yang Joonmyun ajukan bila ia mulai didesak.

Seperti saat ini.

“Dia sedang sangat sibuk. Shooting film barunya di Beijing belum ada setengah jalan. Aku tidak ingin mengganggu.”

“Apa dasarmu mengambil kesimpulan itu?”

“Dia tidak meneleponku selama seminggu lebih, padahal sebelumnya dia berjanji akan menghubungiku secara berkala. Mungkin ‘kala’ itu memanjang sekarang, jadi jarak satu panggilan ke panggilan berikutnya lebih dari satu minggu,” Beban menggantung di akhir kalimat ini, “Bisa juga, dia berpikir sudah saatnya aku dilepas dan tidak butuh dukungan siapa-siapa lagi…”

Walaupun tidak bisa melihat, Joonmyun dapat merasakan tatapan membekukan Minseok padanya. Gawat. Minseok itu hyeong yang sangat disegani, tetapi dengan bodohnya, Joonmyun malah memicu konflik dengan sang ‘anggota kehormatan’. Pikiran sang mantan leader sudah berlari ke mana-mana ketika Minseok mendadak terpingkal-pingkal.

“Lu Han benar sekali! Kau jadi melankolis seperti anak perempuan yang baru putus cinta!!!”

Kalau tidak ingat bahwa Minseok lebih tua darinya, Joonmyun pasti sudah mengumpat. Enak saja hyeong tembamnya itu. Lu Han yang kemarin mengunjungi Joonmyun juga keterlaluan. Masa si tampan yang membuat para fans bertekuk lutut ini diserupakan dengan gadis-gadis labil?!

Tapi setelah dipikir-pikir, memusingkan hal semacam ini memang cukup ‘cantik’. Lelaki harusnya main tabrak tanpa mempertimbangkan resiko di hadapan.

“Aku tidak akan seperti si rusa itu yang secara frontal menekan nomor Yifan untukmu,” Minseok mengambil ponsel Joonmyun yang tergeletak di sisi bantal, merujuk pada Lu Han dengan ‘si rusa’, “Nih, telepon sendiri.”

Joonmyun mengarahkan dua maniknya pada ponsel yang Minseok sodorkan, seakan dapat memandang benda itu, ragu.

“Haruskah? Benalu sepertiku semestinya dicabut dari kehidupan Yifan, bukan?”

“Kalau kau lepas darinya,” Minseok membalikkan pertanyaan, “apa kau mampu bertahan tanpa siapa-siapa? Apa berbagi kegelapan dan kesepianmu dengan keluargamu, yang kau bilang ‘tak akan pernah mengerti perasaan ini’, akan memperbaiki semuanya?”

Tidak. Tidak bisa.

Tapi Joonmyun tidak bergerak berdasarkan jawaban itu dan membuat Minseok kesal. Beruntung, Minseok punya ambang kesabaran yang lumayan tinggi.

“Myun-ah, bukan hanya kau yang butuh dia. Naga dari galaksi lain itu juga membutuhkanmu. Tak ada lagi yang mampu memahami kesakitan kalian, maka saat satu dari kalian meninggalkan yang lain, kalian berdua akan hancur bersama.”

Benar.

Memang selama ini, Yifan bersikap lebih dewasa, sementara Joonmyun terus melapuk, tetapi siapa yang tahu isi hati orang? Bisa saja Yifan hanya merasa bertanggung jawab menjaga temannya yang lebih muda dan buta ini, sehingga mempertahankan facade kuatnya, meski di dalam sudah sangat rapuh. Ini bukan tanpa dasar; dulu, Yifan keluar dari grup paling awal karena alasan kekanakan: kelelahan, padahal yang lain mampu menjalani rutinitas dunia hiburan yang memang padat. Sangat berbeda dengan Joonmyun: penghalangnya untuk terus maju di dunia hiburan adalah hal ‘besar’, yaitu kehilangan penglihatan.

Tidak.

Yifan tidak kekanakan juga. Dia hanya tidak jujur dan Joonmyun tengah melakukan hal yang sama. Sok kuat. Tidak mau berbagi masalah. Pada akhirnya hancur juga.

“Jadi, Leader, mau menghubunginya sekarang?”

Ada senyum dalam pertanyaan Minseok yang tak perlu dijawab dan itu menular. Ajaib. Sembilan hari sebelum ini, sembilan orang berbeda dari grup Joonmyun dulu bergantian menghiburnya, tetapi tidak ada yang seberhasil Minseok. Memang tetua berwajah imut itu misterius. Entah kemampuan khusus apa yang Minseok miliki, yang jelas Joonmyun nyaman bersamanya, dalam ketenangan dan pembicaraan penuh jeda panjang untuk merenung. Candaan ringan dan tawa Minseok yang bernada tinggi itu juga…

…sangat Joonmyun rindukan.

“Aku baru sadar kalau aku sangat kangen kau, Hyeong.”

“Tapi kau lebih kangen Yifan. Makanya telepon dia.”

Tahu-tahu saja, telunjuk Joonmyun menekan angka 1: pengkode speed dialnya pada Yifan. Nada sambung terdengar kemudian, mendebarkan. Ini hanya Yifan, ini hanya Yifan, sugesti Joonmyun, tetapi jantungnya tetap saja berdetak kencang seakan mau pecah.

“Jadi mengklarifikasi ‘hubungan’ kalian saja membuatmu gugup?” Minseok tersenyum miring, “Kau betul-betul seperti seorang gadis.”

Baru saja Joonmyun akan menimpali pemuda bakpau itu…

“Halo? Joonmyun?”

…ia telah tersambung dengan Yifan.

Yang dipanggil segera mendekatkan ponsel ke telinga. “Maaf meneleponmu tiba-tiba begini.”

“Ada apa?” –Joonmyun sangat menikmati kekhawatiran dalam suara berat Yifan ini—“Kau perlu periksa lagi? Apa kau sakit?”

Iya, Ingin Joonmyun menjawab pertanyaan Yifan yang terakhir, Jika kesepian yang menyiksa ini artinya sakit, maka ya, aku sakit.

Namun, harga diri pria tidak jatuh semudah itu.

“Tidak. Cuma ingin meneleponmu. Kau sibuk?”

“Hm… tidak terlalu.”

“Bukankah proses shooting filmmu masih berlangsung?”

“Sudah selesai, kok. Kau tidak tahu? Tiga hari lalu adalah filming scene terakhir.”

Joonmyun merasa bodoh karena mengira akan mengganggu Yifan yang sedang sibuk, padahal si aktor Cina sedang menganggur total. Ia termangu sebelum merespon pendek.

“Oh.”

“Tuh. Apa kubilang?” gumam Minseok seraya melipat tangan di belakang kepala, “Harusnya kau telepon dia lebih awal.”

Dengan suksesnya, Minseok mempermalukan Joonmyun.

“Maaf. Scene terakhir itu yang tersulit menurutku, sehingga memakan waktu paling lama untuk menyempurnakannya. Aku jadi lupa menghubungimu karena terlalu fokus pada filmku.”

“Jangan terlalu dipikirkan,” ujar Joonmyun penuh pengertian, “Kau punya pekerjaan yang harus dituntaskan. Kalau meributkan hal lain, nanti kau sendiri yang kacau.”

“Bagaimana, ya? Masalahnya, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.”

Joonmyun tersedak dan Minseok pura-pura muntah. Tanpa perlu melontarkan rayuan gombal pun, Yifan sudah cukup gila. Sekarang ditambah lagi. Sial.

“Ucapkan saja itu pada gadis lain!”

“Tapi serius. Aku kepikiran ini: ada rumor yang beredar tentangmu. Fans melihatmu dan kakakmu ke kantor psikiater. Apa yang terjadi? Mereka bilang kau depresi dan segala macam; itu tidak benar, ‘kan?”

“Kau apa?” Minseok yang mencuri dengar perkataan Yifan terlonjak kaget, “Tidak ada member yang bilang kau ke psikiater!”

Seharusnya hal itu memang dirahasiakan, tetapi fans terlalu jeli, terlalu berisik, dan terlalu sering menduga-duga. Akibatnya, sesuatu yang ingin Joonmyun simpan tertumpah semua, bahkan sampai di Beijing. Rumor itu pasti sudah benar-benar meledak.

Baik orang di belakang Joonmyun maupun yang di telepon sama-sama menuntut jawaban segera, maka Joonmyun memenuhi permintaan mereka.

“Ya. Tiga hari lalu, kakakku membawaku ke psikiater tanpa alasan jelas. Dia bilang aku mulai berhalusinasi dan mengira itu karena stres. Tapi aku tidak separah itu. Aku hanya sedikit kesepian karena—ini memalukan tapi akan kuakui—kau tidak menelepon. Kau menyalahi janji untuk rajin menghubungiku, tetapi aku baik-baik saja. Aku masih punya banyak orang yang mendukungku, apalagi dengan teleponmu hari ini; aku benar-benar bahagia!”

Joonmyun jujur, tetapi kejujuran ternyata menyakitkan Minseok. Ia tahu Joonmyun menderita. Ia juga tahu bahwa sang adik yang dulu bergelar ‘malaikat pelindung grup’ terlalu jauh dari ‘pelindungnya’ yang asli: Yifan, tetapi Minseok, juga sembilan member yang lebih dahulu berkunjung, tak bisa berbuat lebih. Mereka membiarkan Joonmyun menyembuhkan dirinya sendiri, padahal merekalah yang menorehkan luka di hati sang mantan leader.

Jadi, meskipun agak out-of-character, Minseok memeluk mantan leader yang lebih muda darinya itu.

“Maaf meninggalkanmu.”

Lupa bahwa ia masih menghubungi Yifan, Joonmyun berucap, “Tak apa, Umin-hyeong. Ini bukan salahmu.”

“Halo?” Seseorang di seberang sana dijamin sedang mengernyitkan dahi, “Kau bicara dengan siapa?”

“Minseok-hyeong. Dia berkunjung hari ini.”

Hening. Joonmyun menggenggam tangan Minseok yang tersampir di bahunya.

Yifan menghela napas berat.

“Aku tahu kau selalu mendatangi Minseok tiap dirundung masalah, tetapi bisakah, sekali ini saja, kau perlakukan aku dengan cara yang sama? Bisakah kau percaya padaku sebesar kau percaya padanya?”

Joonmyun menelan ludahnya. Pahit. Permintaan Yifan terdengar menyedihkan.

“Aku bisa, tetapi masih sulit melupakannya—melupakan mereka.”

“Kita memang tidak bisa melupakan mereka, tetapi tolong, berhentilah bicara dengan mereka atau kau akan dibawa ke psikiater lagi. Bicaralah padaku saja, akan kudengarkan. Aku tidak mau membuat janji yang muluk-muluk, tetapi jika kau butuh aku, aku akan berusaha untuk siap.”

“Aku tahu, Yifan. Maafkan aku,” Getar suara Joonmyun makin kentara saat Minseok sekali lagi membisikkan maaf, “dan terima kasih.”

“Kau menangis?”

“Tidak.”

“Bagus. Aku juga tidak, biarpun Chanyeol ada di belakangku dan dia bilang akan mengajak Minseok pulang.”

Chanyeol juga mantan rekan satu grup mereka.

Joonmyun terkekeh, tetapi lehernya tercekat.

“Begitu? Ada baiknya kita berpamitan pada mereka sekarang.”

“Akan kuputus teleponnya. Nanti kuhubungi lagi. Menangislah saat itu karena aku tahu kau sudah tak tahan.”

“Heh. Peluk saja Chanyeol-mu itu. Taruhan, aku tidak akan menangis dan kau akan jadi bocah tercengeng sedunia.”

“Terserah. Titip salam saja buat Minseok.”

“Aku juga. Untuk Chanyeol.”

Telepon terputus. Joonmyun berbalik, merangkul Minseok, dan melepas isaknya di bahu sempit itu, bahu yang tidak pernah menolak dijadikan tempat bersandar itu.

Dalam diam, Minseok menepuk-nepuk pelan punggung Joonmyun. Orang itu masih sama seperti dulu saat mereka masih segrup. Masih penakut. Masih cengeng. Masih sulit dipisahkan dari Minseok pada waktu-waktu tertentu yang sarat beban. Minseok pun tak berubah. Masih tenang. Masih kuat. Masih menerima keluh-kesah Joonmyun. Yang membedakan hubungan mereka kini adalah kondisi fisik Joonmyun—secara khusus, kebutaannya—dan kondisi fisik Minseok sendiri.

“Ssh. Sudah. Kau bilang kau tak akan menangis.”

“Tidak di telepon, tetapi aku selalu bisa melakukannya di depan hyeong yang aku percayai.”

“Sayangnya Yifan benar; aku sudah tidak ada lagi untukmu,” –Minseok tertusuk, dalam—“tapi Yifan ada. Dialah hyeong kepercayaanmu sekarang, jadi relakan aku pergi. Relakan kami pergi. Dengan begitu, kau akan menjalani kehidupan yang normal lagi dengan Yifan.”

“Pergi? Kalian akan benar-benar meninggalkanku?”

Minseok menggeleng dan tersenyum manis, senyum yang selalu berhasil mempermuda penampilannya karena terbuat dari keceriaan yang tulus.

***

“Orang mati tidak pergi ke surga, Joonmyun, tetapi ke hati orang-orang tercintanya. Jadi kalau kau dan Yifan masih menyayangi kami, maka kami tidak akan pernah pergi darimu.”

***

Ada satu hal yang Joonmyun syukuri dari kecelakaan Agustus silam. Banyak hal telah direnggut darinya oleh kecelakaan itu, termasuk penglihatan, tetapi setidaknya, beberapa hal masih akan tetap bertahan.

Salah satunya kenangan.

Persahabatan.

Dan Minseok.

Juga Lu Han, Chanyeol, Baekhyun, Sehun, Zitao, Jongin, Yixing, Kyungsoo, dan Jongdae—mantan rekan satu grupnya.

Joonmyun tidak serakah, maka hal-hal yang harus dikembalikan pada pemilik asalnya akan ia lepaskan. Sepuluh orang itu bukan miliknya, jadi ia izinkan mereka pergi biarpun air matanya belum mau berhenti. Ia, sang malaikat pelindung grup EXO, membalas senyum Minseok dengan lebih indah. Lebih indah, pasti; malaikat selalu memiliki senyum yang menawan.

“Jika itu yang kau inginkan, aku hanya bisa bilang ‘sampai jumpa’. Jaga teman-teman di sana untukku.”

Tubuh Minseok memudar sangat cepat hingga lampu tidur di belakangnya dapat terlihat.

“Pasti.” Minseok memeluk balik Joonmyun.

Detik berikutnya, Joonmyun mendapati dirinya mendekap kehampaan.

Dan Joonmyun hancur.

***

“Yifan… Minseok-hyeong sudah tak ada… Dia tak ada…”

“Aku tahu. Dia pasti sudah pergi dengan Chanyeol. Menangislah. Aku tak peduli dengan taruhan bodohmu.”

***

[30 Agustus 2014

Sebuah kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan dua mobil dan dua van terjadi di Guangzhou, Cina. Lima belas orang tewas, tiga orang luka berat, dan dua orang luka ringan akibat peristiwa ini. Sepuluh korban tewas adalah anggota boy group asal Korea Selatan, EXO, yang sedang dalam perjalanan menuju lokasi konser dunia pertama mereka, ‘The Lost Planet’. Salah satu dari korban luka berat adalah pemimpin grup EXO, Kim Joonmyun (24) yang dikenal dengan nama panggung Suho.]

***

TAMAT

take set before Luhan filed a lawsuit (but after Yifan).

XiuHonya gak kerasaaaaa padahal aku sudah berusaha uhuhuhu.Aku bingung bikin persahabatan orang2 yang tenang ini… Joonmyun itu emang kadang kekanakan tapi aku selalu susah memandangnya sebagai orang yg bersikap kekanakan di depan Minseok…kebiasaan nge-leader sih.

tapi ini berasa terlalu drama ga sih. susah bikin friendship yg sweet tapi gak alay tapi ttp tragis…

Advertisements

9 thoughts on “A Story of Today

  1. aaaaaa itu ceritanya minseok apa? hantu atau cm imajinasi? kris juga “didatangi” member?

    oalah seneng deh begitu tau ini cerita sequel dr kecelakaan itu…
    ntah knp aku msh lebih merasa krisho disini dibandingkan xiuho-nya…
    bagus bangeeettt ceritanyaaa…

    Like

    1. makasih udh dtg lagi…
      iya emang aku gagal bikin xiuho uhuuu susah bikin mereka sahabatan yg penuh feel karena mereka itu sama2 tenang seperti yg kubilang, g pantes fluffy2an :p tapi kalo krisho kok aku masih bisa ya? padahal sebenernya mereka sama2 tenang jugak. entahlah hehe

      Like

  2. awalnya aku mengira fic ini berkaitan dgn ‘a story of tomorrow’ eh tapi kok ada xiumin dll. jadi kupikir lain lagi, tapi trus kok chanyeol bareng kris udah gitu ada perbedaan ‘kondisi’ fisik..
    Dan jeng jeng jeng…ternyata bener prakiraan awal.. Huhuhu
    Btw, aku suka momen KrisHo-nya.. Haha..
    Keep writing!!

    Like

  3. SPEECHLESS GILA.
    Great story, as always. Ini kondisi apa yg sbnrnya trjdi kmu ceritain dng alur mundur. Yg baca jadinya sdkit2 brgumam ‘oh, gini. Oh jd gtu’ smp akhir dan akhirnya speechless, trnyta suho buta, gegara kecelakaan, member lain ud mati, yg datengin suho arwah2 member. Duh! Trus stlh mudeng hal itu jd berasa pngen bca ulang lg dr awal.

    Iya Li, kerasa krishonya drpd xiuhonya. Dan aq brharap bgt apa yg d ff ini trjdi. BUKAN KECELAKAANNYA, tp diam2 d blkg kamera, d blkg fans, mrk ber12 msh kontek2an, say hello gtu.

    Like

  4. AHHH KAAANNN SPEECHLESS LAGI!!!!
    Pas tau kalo Suho buta feeling nyambung sama ff kecelaaan itu. Dan ternyata bener
    Widih oppadeul hantu, mau dong kalo ganteng” macam mereka wkwkwk
    Iya nih fokusnya malah KrisHo. Abang Umin jadi malah kaya cuma cameo
    Tp tetep bagus dan suka ko ka ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s