Cryophilism

redstained

scriptwriter Liana D. S.

starring

actress Kim Yoojung and EXO’s Xiumin

genre Surrealism, Romance duration Oneshot (2,5K+ words) rating PG-17

.

Lirik ‘Baby Don’t Cry’ dan kisah asli ‘Gadis Penjual Korek Api’ bukan milik saya.

.

[Warning] Bizarre surrealism! Susah dibayangkan! Judul merupakan neologisme alias kata bentukan baru (yang ngawur), jadi mohon diabaikan!

.

Glasshouse of Amorose (n.): 1. a key of woman’s pleasure, 2. the art of loving and dying.

Cryophilism (n.): addiction to ice or snow.

***

Di sudut terluar kota ini, ada sebuah rumah kaca milik Matahari yang memiliki koleksi mawar terbaik di dunia. Setiap hari, selalu masuk beberapa gumpal Tanah, membawakan mawar baru nan unik dari seluruh penjuru bumi. Mawar-mawar yang bisa ditanam di sini tidak sembarangan; Matahari hanya menginginkan mawar-mawar dengan kriteria khusus. Dua di antaranya yang terpenting adalah warna menawan dan aroma khas yang menyihir. Setelah lolos seleksi ketat ini, mawar-mawar terpilih akan ditanam dalam pot-pot mewah dengan siraman cahaya langsung dari Matahari. Selama musim semi, mereka akan tumbuh dan menguarkan keharuman luar biasa, menarik semua wanita untuk datang ke rumah kaca tersebut. Matahari dengan liciknya menerapkan tarif tinggi bagi para calon pengunjungnya agar dapat menikmati wangi mawar-mawar itu—yang tentu saja menghasilkan untung besar karena wanita suka keindahan dan keharuman. Bukanlah sebuah anomali jika pengunjung terus bertambah meskipun harga tiket masuk menguras kantung. Ini karena mawar-mawar yang ada di sana memang sangat memuaskan pandang, menghilangkan letih, dan mengundang lebih banyak orang untuk menelan bulat-bulat kecantikan mereka.

Namun, setelah musim semi, para mawar dalam rumah kaca mengemban satu tugas besar: menyenangkan para wanita dengan seluruh nyawa yang mereka punya.

Inilah Glasshouse of Amorose, kunci dari segala bentuk kebahagiaan wanita.

***

Di musim dingin, Matahari sedang baik-baiknya. Karena Amorose sering sepi pada bulan-bulan ini, Matahari menurunkan harga tiket gila-gilaan; inilah ‘baik-baiknya Matahari’ yang dimaksud. Ia bahkan pernah menukar sekeranjang korek api dengan sebuah pelayanan termahal Amorose. Hebatnya lagi, pengunjung yang membayar kelewat murah itu bukan seorang wanita.

Belum menjadi wanita, tepatnya, karena ia masih belia. Umurnya mungkin separuh dari rata-rata umur pengunjung Amorose.

Yoojung nama gadis itu.

“Ma-maaf… Aku tak bisa membayar lebih…” ucapnya saat menyerahkan keranjang rotan berisi kotak-kotak korek api pada Matahari. Bola api yang duduk santai di kursi langit itu mengibaskan tangannya. “Sudahlah. Masuk dan temukan mawar yang kau suka, lalu bawa dia dalam bilik hatimu. Sebaiknya cepat; jeritan luka-lukamu membuatku gila!”

Karena takut dimarahi Matahari lagi, Yoojung buru-buru masuk ruang mawar yang, kata orang-orang, aromanya saja sudah membahagiakan. Ini terbukti; ruangan luas itu layaknya spa yang merilekskan persendian Yoojung. Pipi merahnya menghangat hanya dalam sepersekian sekon; ia tak pernah menemukan mawar-mawar cantik sebanyak ini! Melihat mereka semua membuat Yoojung kagum sekaligus merasa salah tempat. Dia ‘kan kotor, penuh luka, berpakaian compang-camping… sungguh tak pantas masuk rumah kaca elit ini.

Tapi toh ia sudah membayar.

Yoojung menyusuri selasar-selasar panjang yang kanan-kirinya dipadati pot-pot marmer. Semua mawar tersenyum, memberi salam, atau mengangguk ramah padanya. Si gadis menutupkan mantel ke dada, khawatir kalau-kalau perasaan senangnya—karena penghormatan para penghuni Amorose—tumpah dan menodai lantai. Mencoba untuk tidak digetarkan oleh pesona mawar-mawar itu, Yoojung mengalihkan pandang ke sederet angka pada kartu pengunjung.

1950.

Yoojung berdebar-debar.

Seperti apa mawarku nanti, ya? Semoga dia baik dan memahamiku…

Pot-pot di ruang mawar pertama bernomor 1 sampai 1000, maka Yoojung melangkah ke ruang kedua. Sama seperti ruang sebelumnya, aroma alami embun mawar membaur memenuhi udara, tetapi satu yang menarik perhatian Yoojung: peppermint.

Kaki Yoojung secara otomatis bergerak ke selasar selatan. 1910. 1920. 1930. 1940.

“Kim Yoojung, bukan?”

Alangkah terkejutnya Yoojung setibanya ia pada pot 1950. Setangkai mawar biru pucat, pemilik aroma peppermint yang Yoojung sukai, berlutut di hadapan bak pelayan. Sebagai seorang gadis yang biasa diperlakukan seperti pelayan, Yoojung jadi sungkan menerima perlakuan ini, tetapi kemudian sang mawar tersenyum.

Oh, Tuhan.

Mawar itu cantik sekali.

“Namaku Xiumin, mawarmu malam ini.”

Mendadak Yoojung gemetar. Ia memegangi jubah bertudungnya untuk meredam gigil gugup yang harusnya tak muncul. Yoojung dalam masalah; ia tak berpengalaman dengan lelaki asing—Xiumin itu mawar jantan, omong-omong—tetapi luka-lukanya menjerit sangat keras. Yoojung tak dapat menguasai diri; ketidaksabaran para luka melemparkan gadis itu pada Xiumin.

Harum… Dia harum…

Tunggu.

“Ah! Maaf!” Yoojung tersadar ia mestinya segera menarik diri dari Xiumin, bukannya menghirup dalam-dalam embun yang membasahi tangkai sang mawar. Hal semacam itu, setahunya, hanya dilakukan orang dewasa, jadi anak-anak tak boleh meniru. Mengingat ini, wajah Yoojung merah padam. Ia berniat menjauh dari Xiumin, tetapi tak disangka, Xiumin melingkarkan daun-daunnya lembut pada tubuh Yoojung.

“Kau tampak kelelahan dan sakit. Tidak ingin beristirahat sebentar? Lihat, luka-luka ini cukup lebar,” Xiumin dengan hati-hati melepas satu luka Yoojung, lalu meremasnya sampai hancur, “Mari masuk ke bilik hatimu. Ceritakanlah semuanya—tentu jika kau siap.”

Apa yang membawa Yoojung ke Amorose?

Satu demi satu, air mata Yoojung mengalir turun. Benaknya dilintasi sabetan rotan yang mendarat keras di sisi-sisi tubuhnya…

“Aku takut… Aku takut, Xiumin-ssi…”

Bahu gadis dalam dekapan Xiumin terguncang-guncang oleh isak. Xiumin mengenyahkan bulir-bulir bening dari pipi Yoojung, tak menyangka akan menemukan pengunjung serapuh ini. Kira-kira apa, atau siapa, yang tega mengoyak Yoojung? Apapun itu pastilah sangat kejam dan dingin hingga jantung Yoojung pecah berserakan dalam dadanya, beberapa potong bahkan beku.

Perlahan, Xiumin membopong Yoojung dan membuka kunci bilik hati gadis kecil itu. Berdua, mereka masuk kamar sempit yang berantakan tersebut.

***

Kalau memperhatikan bilik hati Yoojung, Xiumin pastikan Yoojung bukan dari keluarga berada. Dinding bilik itu terbuat dari kayu murah dan tidak dibangun dengan baik. Dalam kamar itu hanya ada ranjang reyot, sepasang kursi-meja keriput, dan lemari doyong yang terisi baju-baju lusuh. Tak ada boneka, bunga, keriangan ataupun teman seperti bilik hati gadis-gadis belia pada umumnya. Lantai bilik berlubang-lubang, ternoda serpihan kenangan, darah kering dari jantung, dan potongan-potongan jantung itu sendiri.

“Maaf, Yoojung, tetapi bolehkah aku membersihkan kamarmu dulu? Supaya kita lebih nyaman berbincang.”

“Apa tidak merepotkan?” Yoojung tak enak hati, “Ini bilikku, mestinya aku yang—“

“Tidak usah,” Xiumin sekali lagi tersenyum, “Kau datang ke Amorose untuk mendapat kesenangan, maka kau dapatkan. Duduklah di tempat tidurmu sementara aku menyapu, ya?”

Benar. Yoojung membayar untuk bersenang-senang meski hanya sebentar. Masalahnya, Yoojung sudah lupa bagaimana bersenang-senang itu. Ia tahu kerja, kerja, dan kerja saja. Dan dipukuli, mungkin.

Yah, tapi kaki Yoojung lelah sekali, jadi tak ada salahnya duduk di ranjang dan menunggu Xiumin.

Tak semua yang mengotori lantai bilik itu ‘kotoran’, sebenarnya. Itulah kesimpulan Xiumin saat menemukan seraut wajah yang dilukisi kesabaran dalam satu serpih memori Yoojung. Ada juga festival kembang api musim panas lalu di potongan lain. Mereka jelas masih berharga untuk pemiliknya. Jantung Yoojung apalagi; itu sama sekali bukan sampah. Xiumin mengumpulkan serpihan-serpihan yang ia anggap penting dan membuang sisanya. Ia kemudian menjatuhkan keping-keping itu di depan Yoojung.

“Ayo kita lomba menyusun puzzle,” Xiumin rupanya mengajak bermain, metode tepat menyenangkan anak-anak di bawah 15 tahun seperti Yoojung, “Aku menyusun kenanganmu dan kau menyusun jantungmu. Yang kalah harus menuruti perintah yang menang, bagaimana?”

Akhirnya, Yoojung menampakkan sisi kekanakan yang lama terkubur. Air matanya menguap, terganti senyum riang. “Baiklah. Aku jago main puzzle; hati-hatilah, Xiumin-ssi!”

Xiumin tertawa kecil, lega telah membuka jalan menuju Yoojung. Mereka sama-sama memegang dua kepingan sebelum Xiumin memberi aba-aba.

“Siap…. Mulai!”

Yoojung dengan bersemangat menyatukan kepingan jantungnya. Di lain pihak, Xiumin tak benar-benar ingin berlomba. Setiap potongan kenangan dipelajarinya baik-baik. Baru Xiumin mengerti bahwa wanita dalam potongan puzzlenya adalah ibu Yoojung. Sang ibu menggendong Yoojung kecil—yang membuat Xiumin jatuh cinta karena manisnya—dengan penuh kasih. Mengajak Yoojung bicara walau Yoojung baru bisa berah-uh tak jelas. Memutarkan kerincingan di atas tempat tidur Yoojung. Membaca kisah-kisah dalam potongan itu membahagiakan!

“Xiumin-ssi… uh… jangan cepat-cepat! Aku masih berusaha melelehkan bekuan ini!”

Xiumin geli melihat Yoojung kebingungan. Serpih-serpih jantung Yoojung ada yang tertutup es, sehingga tidak pas dengan potongan manapun. Yoojung tak mau kalah dari Xiumin yang sudah setengah jalan, makanya ia meminta Xiumin berhenti dulu. Xiumin menggoda gadis kecil itu dengan meningkatkan kecepatannya menyusun ingatan. “Ayo cepat, nanti kau kalah, lho!”

“Kya! Tidak mau!” Yoojung menoleh kanan-kiri (itu pertama kali Yoojung heboh sendiri dan bagi Xiumin, Yoojung lumayan imut dalam ‘fase’ ini), mencari sesuatu yang kiranya bisa melelehkan bekuan jantungnya. Diam-diam, Xiumin mencubit sedikit api cintanya dan melempar itu ke belakang seolah-olah si api jatuh dari langit. Yoojung dengan polosnya percaya bahwa api itu anugerah langit. Ia melewatkan si api ke jantungnya dan bekuan di atas sana segera mencair. Yoojung tertawa lega, lalu mencairkan potongan-potongan lain secepat mungkin.

Sedangkan Xiumin kembali membaca.

Ayah Yoojung pria kasar. Ia selalu pulang dalam keadaan mabuk dan memukuli istrinya dengan dalih sang istri tidak pandai mencari uang. Konyol memang, sistem peran manusia tidak seperti itu, Xiumin pikir: pria bekerja, barulah wanita membantu seandainya darurat.

Si wanita memikirkan beragam cara untuk menolong dirinya sendiri dan putrinya, tetapi tak pernah terlaksana.

Suatu ketika, ibu Yoojung tewas setelah dihujani beribu luka oleh suaminya. Yoojung, umurnya waktu itu sekitar 6 tahun, mengguncang-guncang tubuh sang ibu, tetapi wanita baik itu telah kaku. Yoojung menangis dan ayahnya memukulinya.

Jantung Xiumin tersayat. Pedih. Untungnya jantung itu ditutupi banyak selaput, sehingga darahnya tidak sampai merembes keluar. Xiumin tidak mau Yoojung mencium amisnya.

Yoojung tumbuh menjadi remaja di bawah bayang-bayang ketakutan. Karenanya tubuh Yoojung mungil, dikerutkan kekuasaan ayahnya. Umur 10 tahun, Yoojung dipaksa menembus salju setinggi lutut untuk menjual korek api, hasil kerja sang ayah yang memang tak bisa apa-apa selain membuat itu. Tentu saja korek api tidak laku keras. Orang-orang punya api cinta sendiri-sendiri untuk menghangatkan diri di musim dingin. Ironisnya, api cinta Yoojung sudah sejak lama berubah jadi bara, tak cukup panas untuk melelehkan bekuan yang berangsur menutupi jantung.

Tapi Yoojung tetap menjadi pihak yang salah dan disabet rotan setiap pulang tanpa uang banyak.

Setiap malam.

Luka-luka itu berteriak marah dan mengganggu tidur Yoojung.

Xiumin pun ingin marah. Duri-duri yang sudah dipangkas Matahari saat ia pertama masuk Amorose serasa tumbuh kembali. Kalau bisa, Xiumin akan menghujamkan semua ‘senjata tajam’ itu pada ayah Yoojung.

“Xiumin-ssi, aku sudah selesai!”

“Wah, benarkah? Kau cepat sekali!” Xiumin tergesa memasang wajah kecewa, “Aku kalah…. Serpihan kenanganmu terlalu banyak….”

Yoojung terkekeh dan mengembalikan jantungnya ke dalam dada. “Kalau begitu, aku boleh minta apapun yang kumau, ‘kan?”

“Tentu saja.”

Diam-diam, Xiumin meremas kenangan-kenangan Yoojung tentang pria kejam bernama ‘Ayah’, mengubah semuanya jadi debu halus.

“Aku ingin… lukaku dihilangkan.”

As you wish.

Teriakan parau luka-luka Yoojung sebelumnya tertelan keceriaan saat bermain, tetapi itu tidak cukup. Menerima ‘hukumannya’, Xiumin melepaskan luka-luka itu dan memusnahkan mereka dengan mudah. Yoojung berterima kasih—dan suasana sunyi lagi.

“Lalu?”

“Eh?” Yoojung menatap Xiumin tak mengerti.

“Kau boleh meminta banyak. Sejujurnya aku melihat daftar harapan di atas kepalamu, tetapi aku menunggu kau sendiri yang meminta,” –Yoojung tersipu malu saat Xiumin mengucapkan ini—“Ayolah, sebutkan saja.”

“A-anu… tapi… itu…” –Seluruh sisi Yoojung, termasuk yang gugup, menjerat Xiumin sangat kuat, “Aku… tidak mau menyusahkan Xiumin-ssi…”

“Di Amorose, para mawar harus menyenangkan tamu mereka benar-benar,” Rigi daun Xiumin membelai pipi Yoojung, “Kau sudah terlalu sering menderita, jadi kenapa tidak bermanja sesekali?”

Yoojung deg-degan setengah mati karena sentuhan Xiumin bagaikan sengatan listrik yang mengaliri sekujur tubuhnya, tetapi Xiumin masih belum selesai. Ia membuka peti memori Yoojung dan menata rapi ingatan-ingatan si gadis di dalam sana, lalu mengunci peti rapat-rapat.

“Aku sudah memenuhi permintaan pertama dalam daftarmu: memperindah dan menata kenanganmu. Sekarang, mintalah hal lain yang ada dalam daftar itu; kalau tidak mau merepotkanku, meminta beberapa saja juga boleh.”

Yoojung tidak egois, jadi dia hanya menyebutkan sebagian isi daftarnya.

“Aku mau…” –Entah kenapa, Yoojung melontarkan satu permintaan yang menurutnya tak sopan—“…dipeluk.”

Xiumin tersenyum maklum. Dalam daftar permintaan Yoojung yang tergelar di atas kepala, sebelumnya ada ‘ingin disayang oleh ayah yang baik’, tetapi karena Xiumin menghapus kosakata ‘ayah’ dalam otak Yoojung, permintaan itu terbagi-bagi. Salah satunya adalah pelukan.

Pandangan Yoojung tertutup tangkai kurus Xiumin. Mawar biru pucat itu telah menariknya dalam satu lagi dekapan hangat.

“Bagaimana? Kamu suka?”

Yoojung mengangguk malu-malu. Xiumin itu orang asing, tetapi Yoojung mendapatkan kenyamanan yang sangat langka, membuatnya lekat tak mau berpisah. Wangi sejuk peppermint layaknya candu, menenggelamkan Yoojung dalam cinta yang sangat besar. Ia mulai berani menyebutkan keinginan-keinginan lain, semisal bertemu sang ibu melalui proyektor mimpi, memiliki buku harian dengan sampul lucu, belajar menjahit, dan membuat boneka salju raksasa. Xiumin mengabulkan masing-masing permintaan Yoojung dengan senang hati. Senyum Yoojung bagaikan kayu bakar yang membangkitkan semangat Xiumin untuk lebih membahagiakan gadis itu tiap ada permintaan baru.

Tengah malam, Yoojung terlelap dalam bilik hati usai Xiumin menyenandungkan lagu selamat tidur. Xiumin duduk di samping ranjang, menelusuri sisi wajah Yoojung yang begitu damai. Matahari akan sangat senang jika tamu yang masuk dengan tangis keluar tanpa beban menggantungi bahu.

Tinggal satu lagi. Masing-masing mawar wajib melompatkan tamu ke tempat yang lebih baik untuk hidupnya, dalam rangka membahagiakan si wanita sampai akhir meski tanpa pendampingan terus-menerus. Si mawar juga wajib menghilangkan ingatan wanita itu tentangnya supaya cinta mereka berdua tidak berbekas.

Karena cinta mereka tidak akan bersatu. Lihatlah nanti.

Xiumin memiliki rencana untuk melompatkan Yoojung ke depan sebuah panti asuhan di mana segumpal Tanah kawannya berasal. Ia memikirkan matang-matang keputusan ini, termasuk kemungkinan kambuhnya pengkristalan jantung Yoojung akibat suhu rendah di musim-musim depan.

Maka, Xiumin menanam sebuah hadiah istimewa dalam jantung Yoojung.

Fajar menyingsing. Kisah Xiumin akan tamat.

“Yoojung,” bisik Xiumin sebelum mengecup pipi gadis itu sebagai salam perpisahan, “jangan menangis lagi, ya? Carilah banyak teman dan raih impianmu. Terima kasih dan maaf tak bisa menemanimu sampai akhir.”

***

Ketika Yoojung terbangun, ia berada dalam posisi berdiri di depan sebuah panti asuhan. Angin dingin menerpanya, tetapi ia tak menggigil. Sebaliknya, angin yang membawa salju itu lari karena menemukan api yang sangat besar dalam jantung Yoojung.

Bahkan pemiliknya heran karena api misterius itu.

Api siapa ini? Seingatku, aku tidak punya api cinta…

“Astaga, Sayang, kenapa kamu di luar? Masuklah! Apa kau sakit? Pipimu dingin… Mau sup? Kami baru saja akan sarapan…”

Pintu bangunan bercat hijau pudar itu terbuka dan keluarlah beberapa wanita berseragam dari dalam. Mereka, yang awalnya akan membersihkan halaman dari timbunan salju, terkejut karena ada seorang anak di depan panti, sendirian dengan pakaian tak layak. Dari penampilan Yoojung, para pengasuh menyimpulkan gadis itu butuh pertolongan.

“Kamu dari mana, Cantik? Kenapa sendirian? Di mana rumahmu?”

“Dari berjualan korek api.” Pertanyaan pertama terjawab, tetapi Yoojung tak bisa menjawab pertanyaan lain dengan yakin. Kenapa ia tiba-tiba berada di depan panti asuhan? Rumahnya? Di pondok kayu yang agak jauh dari situ. Kenapa dia tidak pulang?

Oh. Karena ibunya sudah meninggal. Dan Yoojung tidak punya ayah. Jadi rumah kosong. Tak ada gunanya Yoojung pulang ke sana.

Maka ketika para pengasuh membimbingnya masuk ruang makan, Yoojung pasrah saja.

Dan api cintanya meletup-letup seketika karena ruang makan dipenuhi anak-anak seusianya yang berhati semurni susu.

“Oh, ada teman baru! Selamat datang!”

***

Yoojung telah berada dalam lingkungan penuh kasih, tempat ia berbagi api cinta dengan banyak orang. Musim dingin tidak pernah dilewati dalam derita lagi…

…tetapi butir salju selalu membuatnya meneteskan satu-dua air mata.

Entah mengapa.

***

Butuh waktu satu jam bagi Matahari untuk benar-benar terbit dan beranjak dari peraduan. Ia mengusap-usap matanya untuk menghilangkan kantuk yang menggelantung, lalu berjalan menuju Amorose untuk mengecek mawar-mawarnya. Ruang pertama, tak ada yang terjadi. Ia tahu memang tak ada yang mengunjungi mawar 1 sampai 1000 semalam, jadi ia cepat masuk ruang kedua. Disusurinya selasar selatan dan, seperti dugaannya, penghuni pot 1950 mengalami perubahan.

“Bagus sekali, Xiumin,” Matahari tertawa miring ketika memungut sebutir kristal dekat pot, “Kristal air mata berharga lebih mahal dari batu mulia. Lumayan untuk menambal kerugianku bulan-bulan ini.”

Ada beberapa kristal serupa, berceceran di sekitar pot 1950. Matahari memasukkan semuanya ke saku, kemudian mencabut kristal lain berukuran lebih besar.

Patung es berbentuk mawar berwarna biru pucat.

“Aku senang kau memilih cara ‘mengakhiri tugas besar’ dengan cantik: memberikan api cinta sumber kehidupanmu untuk seorang gadis. Dengan kisah yang demikian mengharukan, kira-kira berapa penawaran tertinggi jika kau kulelang?”

***

Don’t cry, tonight, as if nothing happened.

(EXO-M – Baby Don’t Cry)

***

TAMAT

kangen IFK. aku mikir ide ini dari lama tapi gak kewujud2 juga. dan maafkan aku blm baca dan bales smua komen di tempatku, termasuk movieweek kemarin. nanti deh kalo sempat hehe. tapi yang jelas, terima kasih banyak utk kalian semua yg sdh ngikutin karyaku!

Advertisements

6 thoughts on “Cryophilism

  1. Awalnya jujur gangerti hehe. Tapi tetep kubaca, dan… aku gabisa komen apa-apa ini bagus kak. Kak liana juga detail banget jelasinnya jadi aku mudah nangkepnya. Dan pengorbanannya umin bikin haruuuu. Keep writing ya kak! 😄

    Like

    1. hai hellen, sebelumnya maaf karena komenmu berturut2 dan banyak jadi aku rapel disini gapapa kan? tapi aku sangat berterima kasih krn kamu mau membaca karya2 lamaku dan menyempatkan diri mengomen ;-; karena krisis komen belakangan terjadi padaku. terima kasih juga sudah menyukai tulisanku, jgn bosen mampir ya! XD salam kenal juga:)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s