Voidoplasty

voidoplasty

scriptwriter Liana D. S.

starring

Apink’s Chorong and soloist Lu Han

feat Apink’s Bomi and Naeun

genre Surrealism, Romance, Drama duration Oneshot (3,2K+ words) rating PG-17

.

Lirik ‘Baby Don’t Cry’ bukan milik saya.

.

[Warning] Bizarre, inconsistent surrealism! Susah dibayangkan! Judul merupakan neologisme alias kata bentukan baru (yang ngawur), jadi mohon diabaikan! (A little tips: bayangkan tokoh seperti aslinya, kalau susah membayangkan bentuk lain.)

.

Glasshouse of Amorose (n.): 1. a key of woman’s pleasure, 2. the art of loving and dying.

Voidoplasty (n.): repairment of a hollow.

***

Di sudut terluar kota ini, ada sebuah rumah kaca milik Matahari yang memiliki koleksi mawar terbaik di dunia. Setiap hari, selalu masuk beberapa gumpal Tanah, membawakan mawar baru nan unik dari seluruh penjuru bumi. Mawar-mawar yang bisa ditanam di sini tidak sembarangan; Matahari hanya menginginkan mawar-mawar dengan kriteria khusus. Dua di antaranya yang terpenting adalah warna menawan dan aroma khas yang menyihir. Setelah lolos seleksi ketat ini, mawar-mawar terpilih akan ditanam dalam pot-pot mewah dengan siraman cahaya langsung dari Matahari. Selama musim semi, mereka akan tumbuh dan menguarkan keharuman luar biasa, menarik semua wanita untuk datang ke rumah kaca tersebut. Matahari dengan liciknya menerapkan tarif tinggi bagi para calon pengunjungnya agar dapat menikmati wangi mawar-mawar itu—yang tentu saja menghasilkan untung besar karena wanita suka keindahan dan keharuman. Bukanlah sebuah anomali jika pengunjung terus bertambah meskipun harga tiket masuk menguras kantung. Ini karena mawar-mawar yang ada di sana memang sangat memuaskan pandang, menghilangkan letih, dan mengundang lebih banyak orang untuk menelan bulat-bulat kecantikan mereka.

Namun, setelah musim semi, para mawar dalam rumah kaca mengemban satu tugas besar: menyenangkan para wanita dengan seluruh nyawa yang mereka punya.

Inilah Glasshouse of Amorose, kunci dari segala bentuk kebahagiaan wanita.

***

Musim panas.

Pukul delapan pagi ini, datang satu boneka plastik cantik yang basah kuyup dengan pakaian koyak. Kondisinya tidak begitu baik, tetapi kelihatannya boneka itu tidak terlalu memikirkan. Rautnya hampa ketika melepas bros rubi pada pakaiannya dan menyerahkan benda tersebut pada Matahari.

“Aku ingin kebahagiaan. Apa ini cukup untuk membayarnya?”

Mata Matahari nyaris meloncat keluar soketnya. Itu rubi asli! Rubi jauh lebih mahal dari pelayanan yang diminta si boneka, jadi demi menghormati ‘tamu VIP’ ini, Matahari bersikap sesopan mungkin.

“Mari, Nona. Kami memiliki bermacam-macam mawar—“

Si boneka mengangkat sebelah tangan, membungkam Matahari seketika. “Namaku Chorong, jadi jangan panggil aku ‘Nona’. Sok manis sekali.”

“Ah, maafkan saya… Chorong,” Matahari menyimpan sedikit rasa kesal karena perkataan tamunya yang tak berubah nada dari awal, “Nomor pot mawar Anda tertera pada kartu yang saya berikan. Mawar 1950 ada di selasar selatan…“

“Ya sudah. Biar kucari sendiri,” Chorong menghalau Matahari pergi, “Terima kasih sudah mengantarku.”

Sambil meringis canggung sekaligus jengkel, Matahari meninggalkan ruang mawar dan naik lagi ke langit.

Chorong mengedarkan pandang ke jajaran pot mewah yang membentuk selasar-selasar panjang. Pot di hadapannya bernomor 1500, berarti ia masih harus ke selatan, setidaknya empat baris lagi, untuk menemukan mawar ke-1950. Usai menyibakkan rambutnya ke belakang, Chorong melangkah cepat, mengabaikan salam dari para mawar kepadanya. Tak biasanya para mawar mengagumi tamu yang tidak memegang nomor pot mereka seperti ini—karena Chorong memang cantik. Penampilannya menarik perhatian sekalipun ia basah kuyup dengan rambut kecoklatan lepek yang menempel ke kulit cerahnya. Si boneka tidak peduli; ia sudah biasa dikagumi, tetapi telinganya menjadi waspada ketika satu gumaman menyelusup masuk.

“Sayang sekali, wanita secantik dia harus mendapatkan si sombong sok puitis itu.

“Ya, aku bahkan ragu si lilac akan menyerahkan hidupnya demi tamu istimewa ini sesuai tugas.”

Dahi Chorong berkerut tipis. Ia kurang suka mendengar bisik-bisik tak enak (apalagi dari makhluk jantan), tetapi diabaikannya karena ia tidak ingin terlibat masalah. Tujuannya ke sini untuk bersenang-senang; kenapa repot-repot mengurusi gosip orang dalam?

Tibalah Chorong di depan pot 1950.

Mawar Chorong berwarna lilac, sesuai dengan kasak-kusuk yang tadi ia dengar, dengan tangkai kelewat ramping untuk ukuran mawar jantan. Daun-daunnya tidak berigi dan bersih dari bulu yang membuat gatal, halus sekali. Si mawar tercium seperti cokelat isi karamel yang Chorong sangat sukai—dulu.

Mawar itu menatap Chorong intens.

“Apa yang kau lihat?” tanya Chorong, membuyarkan lamunan mawarnya. Tak disangka, mawar berpenampilan manis itu tersenyum miring seraya memalingkan muka.

“Bagaimana aku tidak melihat? Gayamu buruk sekali, tau! Pakaian basah dan sobek-sobek begitu sangat mencolok di tempat seindah rumah kaca ini!”

Oh? Chorong pikir mawar-mawar di Amorose berkepribadian baik semuanya, sesuai fungsi mereka untuk menyenangkan wanita. Ternyata ada juga yang ‘menantang’? Cukup menarik… hanya saja Chorong tidak bisa merasakan ‘ketertarikan’ sekarang.

“Kau mawar yang Matahari bilang akan membuatku bahagia, bukan? Siapa namamu?”

Si mawar lilac tampak sekesal Matahari karena ekspresi kosong Chorong, tetapi ia tetap menjawab ketus.

“Luhan.”

“Chorong. Salam kenal,” Kaku, Chorong menarik daun Luhan yang tidak terulur, “Sekarang, ayo masuk bilik hatiku dan buat aku bahagia.”

Para mawar di selasar selatan memandang penuh tanya Chorong dan Luhan. Bahkan setelah keduanya menghilang ke balik pintu bilik, mereka masih heran kenapa ada tamu yang begitu terburu-buru untuk mendapatkan kesenangannya.

***

Bilik hati Chorong terbuat dari plastik, dicat merah jambu-ungu seperti rumah boneka pada umumnya, tetapi becek. Tak ada perabot sama sekali, hanya ada genangan-genangan kecil jernih dan dinding basah. Dinding itu ditempeli ratusan foto aneka ukuran. Beberapa tampak tersobek dari dinding, beberapa lagi dikaburkan air, tetapi pada foto-foto yang utuh, Luhan melihat wajah yang sama.

Seorang gadis kecil.

“Selamat datang di bilik hatiku, Luhan. Lihat di sana? Itu jantungku,” tunjuk Chorong ke tengah-tengah ruangan, “Wah, dia sudah lebih kecil dari sebelumnya. Waktu kita sepertinya tidak banyak.”

Luhan terhenyak. Benda yang Chorong sebut jantung itu tidak lebih besar dari separuh telapak tangan orang dewasa. Kalau bukan karena denyutnya, Luhan pasti mengira itu sampah.

“Apa yang terjadi denganmu sebelum ini? Bagaimana jantungmu mengerut hingga sekecil itu?!”

Mengejutkan. Apa yang membuat Luhan mendadak peduli pada Chorong? Terlebih dalam tatapan Luhan, tersembunyi kecemasan yang besar, seolah-olah Chorong bukan sekadar tamu asing baginya. Chorong yakin, jika ia bisa merasa, ia akan sangat terharu atas perhatian Luhan, tetapi sekarang, ia lebih memilih untuk menceritakan kisahnya secara ringkas supaya Luhan tidak banyak bertanya.

“Pemilikku membuangku ke sungai. Dulu Nona Mudaku seorang gadis kecil yang merawat semua mainannya dengan baik, tetapi waktu berjalan dan Nona Muda menjadi seperti itu,” Telunjuk Chorong mengarah pada satu foto besar seorang remaja wanita, “Dia merasa cukup tua untuk bermain dan meletakkanku di gudang. Aku ingin terus mendampinginya, tetapi dia marah dan menenggelamkanku—makanya bilik hatiku basah dan beberapa kenangan tentangnya terhapus. Jantungku dimakan arus, tetapi aku berhasil menyelamatkan sebagian. Sayangnya dengan jantung seukuran itu, aku tak akan bertahan, jadi aku datang ke sini untuk menghabiskan sedikit waktu yang kupunya dengan bersenang-senang.”

Sekilas, raut Luhan berubah. Ia memicing layaknya seseorang yang menahan sakit, lalu berbalik dan mencengkeram bahu Chorong erat-erat. Giliran Chorong yang mendesis kesakitan, tetapi selain itu, ekspresinya masih sedatar papan.

“Maksudmu kau membiarkan kematian menjemput tanpa berusaha menghindarinya?! Ada cara yang bisa kau tempuh untuk kembali hidup; kenapa kau menyerah sebegitu mudahnya?!”

Saat Luhan membentaknya, sesuatu berdenyut dalam dada Chorong. Benda merah gelap di tengah-tengah ruangan itu juga berdegup meski lemah. Ganjilnya lagi, Chorong merasa marah pula.

Padahal tanpa jantung yang utuh, Chorong harusnya tidak memiliki perasaan lagi.

Manik biru gelap Chorong menatap nanar Luhan. Nada bicaranya tidak meninggi, tetapi kemarahannya jelas tertangkap. “Apa urusanmu? Seseorang tak akan bisa hidup tanpa jantung, jadi untuk apa berusaha bertahan? Lagipula, percuma hidup jika Nona Muda tidak menginginkanku lagi.”

“Nona Muda. Nona Muda. Siapa itu Nona Muda? Dia bahkan tidak menganggapmu ada! Lupakan dia dan perbarui jantungmu; itulah kunci kebahagiaan yang sebenarnya! Nona Muda sialan itu tidak berhak atas nyawamu!”

Chorong menepis kasar daun Luhan yang mengguncang-guncang tubuhnya. Dari penuturan orang-orang, mawar Amorose memiliki nature yang menyenangkan; kenapa Luhan lain? Chorong tidak ingin malam terakhirnya di dunia diisi pertengkaran konyol, tetapi sikap Luhan benar-benar tak terkendali. Ia bahkan menjelek-jelekkan nama Nona Muda yang Chorong sayang.

“Tahu apa kau tentang cintaku pada Nona Muda? Kau, yang tidak pernah mencintai seseorang sebesar aku, jelas tak akan mengerti. Kau tidak pernah setia menungguinya tertidur. Kau tidak pernah menyaksikan ekspresi bahagianya saat bermain. Kau tidak pernah meresapi dalamnya kasih kami untuk satu sama lain di masa lampau. Kau tak mengerti betapa pedihnya kisahku yang timpang, jadi diam saja dan penuhi tugasmu untuk menyenangkanku.”

Luhan tertunduk.

Lalu terkekeh. Diam-diam, Chorong menduga jiwa Luhan sedikit terganggu.

“’Tidak mengerti’ katamu? ‘Penuhi tugasmu untuk menyenangkanku’, itu yang kau mau?”

Tangkai Luhan yang semula gundul ditumbuhi belasan duri. Tajam. Chorong terjajar mundur.

Apa dia akan menggunakan itu semua untuk membunuh…ku?

“Tidak, tentu saja. Kau ‘kan tamuku, mana mungkin aku melukaimu?” –Seperti pembaca pikiran, Luhan menjawab pertanyaan Chorong yang tak terungkap—“Aku akan menyenangkanmu. Aku tahu kunci dari semua kebahagiaan, yaitu jantung. Kulihat di sini, jantung yang kau punya sangat kecil. Kenapa tidak dibesarkan?”

Dengan tiga duri, Luhan merobek kelopaknya dan mengeluarkan segumpal benda berdegup dari dalamnya.

“Apa kau akan menjejalkan jantungmu demi menyuntikkan cinta padaku?” Chorong berpaling, “Aku sudah muak dengan perasaan, terutama cinta. Aku bisa bahagia tanpa hal itu mengisiku.”

“Kenapa kau begitu anti mencinta? Tidakkah kau ingat bagaimana dulu ketika masih bersama Nona Muda yang bagaikan malaikat itu?” Luhan memaruh jantungnya dan meletakkan satu sisi ke kelopaknya kembali. Chorong mundur selangkah—

–dan mendengar suara itu.

“Chorong-eonni, ayo main denganku!”

“Chorong-eonniku mana?! Aku mau tidur siang dengan dia!!!”

“Chorong-eonni, besok aku masuk TK!”

Suara manis itu mengisi ingatan Chorong setiap ia mundur selangkah (yang berarti Luhan mendekatinya selangkah pula). Satu demi satu, foto Nona Muda terekonstruksi seperti sediakala. Begitu seterusnya hingga Chorong benar-benar tersudut; punggungnya telah menyentuh dinding. Sang mawar masih terus mendekat, sehingga Chorong akhirnya pasrah. Tubuhnya merosot perlahan dan Luhan menangkap tangannya dengan seringai mengerikan, seakan puas karena bisa menyentuh boneka itu.

“Kau akan merasakan cinta lagi, apapun yang terjadi!”

Bibir Chorong membuka, hendak bicara, tetapi Luhan telah memeluk boneka itu sebelum sempat terlontar protes. Kemudian, tanpa Chorong menyadari, Luhan memasukkan belahan jantungnya dari punggung si boneka.

Spontan seluruh memori tentang Nona Muda membanjiri bilik hati Chorong.

Saat pertama Chorong dibeli.

Saat Chorong mengantar Nona Muda ke taman kanak-kanak dan berpisah dengannya di gerbang.

Saat Chorong dan Nona Muda menikmati cokelat isi karamel bersama.

Saat… saat mereka masih tak terpisahkan seolah direkatkan lem.

Semua tinggal kenangan. Sekarang kosong. Nona Muda sudah tidak menginginkan Chorong dan sang boneka berniat untuk melupakan gadis cilik itu. Nyatanya, Chorong gagal. Chorong terlalu menyayangi Nona Muda dan itu bukan karena jantung Luhan sepenuhnya. Jantung Luhan hanya memperbarui cinta yang tercabik-cabik arus sungai hingga rusak.

Cinta baru ini menyesakkan. Chorong mengulang-ulang satu nama, dibarengi isakan. Napasnya terputus-putus; mengenang Nona Muda amat menyiksanya, tetapi ini lebih baik dibanding jika hatinya berlubang tanpa kasih.

“Kenapa dia membuangku, padahal aku sangat menyayanginya?”

Sebagai jawaban atas pertanyaan lirihnya, Chorong mendapat belaian lembut di bahu dan rambut. Plus aroma cokelat karamel yang memabukkan. Aroma nostalgik ini membenamkannya lebih jauh dalam lautan masa silam.

“Luhan, sakit… Cabut jantung ini… Keluarkan dari bilik hati dan dadaku…” Chorong kembali meminta, tetapi Luhan tidak merespon apa-apa selain mempererat pelukannya. Untung saja ia sudah menarik semua durinya; kalau tidak, pada titik ini Chorong akan hancur. Chorong berusaha menengadah untuk menyatakan kesungguhan permohonannya, sayang daun-daun Luhan yang melingkarinya tidak mengizinkan.

Wangi cokelat karamel kian ganas memasuki paru-paru Chorong…

…menenangkan.

Suara-suara Nona Muda tidak lagi memusingkan, malah mengantar Chorong ke kebun kecil di rumah Nona Muda. Pesta teh di sana terasa begitu hidup biarpun semu. Mainan-mainan berserakan, semuanya tertawa dan Chorong kesusahan menangkap Nona Muda karena gadis cilik itu lihai bersembunyi di antara mainannya. Satu waktu, Chorong berhasil meraih tangan Nona Mudanya—dan ketika sang nona berbalik, ia telah menjadi remaja cantik dan ceria. Ada rasa bersalah di matanya, tetapi kegembiraan karena kehadiran Chorong lebih menonjol.

“Chorong-eonni, maaf ya untuk yang kemarin!”

Dan Chorong jatuh cinta lagi. Pada Nona Muda yang telah membuangnya.

Mungkin…

“…tidak masalah kalau kau tetap mencintainya secara searah.”

Luhan mengucapkan apa yang Chorong pikirkan. Biarpun sedikit terkejut pada awalnya, Chorong memilih untuk setuju. Ia akan berusaha untuk mengatasi perasaan ini dan tetap memberikan Nona Mudanya yang terbaik dari kejauhan, tidak lagi sebagai mainannya, tetapi sebagai sahabat setia.

Cinta memang kadang melukai, tetapi sekaligus menyediakan obatnya.

“Aneh. Padahal sebelumnya, aku berniat untuk menunggu kematianku dalam kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu justru membuatku ingin hidup lebih lama lagi… Kurasa tugasmu kali ini berjalan dengan baik, Luhan,” Chorong tertawa kecil seraya mendekap Luhan balik penuh terima kasih, “Tidakkah kau ingin membanggakan dirimu untuk itu, Mawar Angkuh?”

Sunyi. Luhan diam sekali, batin Chorong, mulai khawatir dengan keadaan mawar lilacnya. Ia mencoba mendongak setelah setengah mati melonggarkan pelukan Luhan…

…dan betapa terkejutnya ia mendapati jejak-jejak basah menuruni mata Luhan.

“A-apa yang terja—astaga, jantungmu! Apa kau mau ini dikembalikan? Apa jantungmu sakit?”

“Tidak. Tidak perlu,” Luhan menghapus air matanya cepat, “Sial.”

Kenapa air mata ini tidak mau berhenti?

Bibir mungil Chorong sedikit berkedut, tak senang memperoleh umpatan Luhan.

“Tidak bosan-bosannya kau bikin orang jengkel. Lihat aku!”

Tangan plastik Chorong ternyata cukup kuat untuk mengarahkan tatapan Luhan padanya. Bulir-bulir bening di permukaan mahkota mawar itu menawan Chorong secara misterius, juga memancing rasa iba dan—

–cinta?

“Untuk apa air mata cengeng ini? Sudah, berhenti! Aku tidak suka! Dan jangan pernah mengumpatku!”

Luhan terpaku, kagum dengan hasil kerjanya sendiri sekaligus senang tak kepalang. Chorong kembali. Senyum kekanakan itu, kata-kata ketus itu, suaranya yang melengking itu telah menggeser kehampaan sebelumnya. Seperti inilah Chorong yang asli: hidup, dan demi mengembalikan kehidupan itulah, Luhan rela mengacaukan dirinya sendiri. Keangkuhan, kemarahan, kegilaan yang ia tunjukkan sebelum memasukkan jantung dalam dada Chorong tentunya bukan murni karena jiwanya terganggu, tetapi karena ia mencintai Chorong.

Terlalu cinta. Sampai ia susah mengungkapkannya dengan benar.

Belajar dari kehancuran ekspresinya saat menghadapi Chorong sebelum ini, Luhan memutuskan untuk menyampaikan letupan-letupan dalam belahan jantungnya dengan sederhana: menyandarkan kelopaknya di bahu Chorong. Bahu itu segera basah.

Air mata Luhan dengan jujur membisikkan apa yang selama ini dipendam pemiliknya.

Aku melihatmu setiap malam dalam mimpiku. Awalnya, aku tak tahu siapa kau. Yang jelas, wajah ceriamu menjeratku. Tawa dan rona pipi itu yang paling kusuka. Meskipun kau jauh dan tak tersentuh, aku terus duduk di potku dan memperhatikan. Kau bermain dengan gadis cilik yang baru kutahu namanya Nona Muda itu. Permainanmu bodoh; bagaimana kau mengadakan pesta teh dengan poci dan cangkir plastik yang kosong? Tapi kau tak acuh. Kau masih menyeruput udara dengan sok anggun dari cangkirmu, lalu merengek karena ‘tehku kurang gula!’ Nona Muda tertawa ketika memasukkan beberapa sendok ‘gula’ ke ‘minumanmu’—dan kau tertawa karena dia tertawa.

Seperti kau yang menikmati keriangan Nona Muda, aku menikmati kerianganmu—dan ikut tertawa.

Sambil mengeluhkan diriku yang rupanya ketagihan akan kecantikanmu.

Mimpi-mimpiku indah karena kau dan senyummu ada di dalamnya, tetapi belakangan senyum itu hilang. Nona Mudamu tidak tampak lagi dan kau memandangku dengan kaca-kaca itu menutup mata birumu. Aku mestinya senang kau melihatku, tetapi tidak dengan tangisan itu. Maka ketika kita bertemu di luar mimpi dan kau memilih menyerah pada kematianmu, aku sakit, Chorong. Kau mencintai Nona Muda dan merasa sakit setelah dia pergi. Kalau kau juga pergi, aku akan merasakan pedih yang sama denganmu.

Aku egois.

Jadi aku memaksamu untuk tetap hidup dan mencintai Nona Muda karena kutahu mencintainya lebih membahagiakanmu daripada menyakitkanmu.

Dan saat kau bahagia, aku juga.

Maaf.

Maafkan keegoisanku.

Jantung baru Chorong berdebar tak teratur. Bisikan air mata Luhan mengacaukannya. Darah mewarnai pipi pucatnya dengan semburat merah muda yang hangat jika disentuh. Lengan rampingnya yang gemetar melingkari Luhan lebih erat.

‘Egois’, eh? Chorong sama egoisnya; ia berpikir untuk mati saja karena ditinggal Nona Muda, padahal di dunia ini ada beberapa yang akan kesakitan ditinggal olehnya. Tentu orang-orang ini harus dicari dulu.  Ke toko boneka. Ke panti-panti asuhan.

Atau ke rumah kaca.

“Aku mencintaimu, Bodoh,” Chorong malu-malu mendaratkan bibir lembutnya pada kelopak Luhan, “jadi berhenti membuat puisi melankolis tentang cinta yang seakan-akan searah. Kau tidak sendiri sekarang.”

Luhan melepaskan diri dari Chorong. Setelah berusaha keras, ia mampu melengkungkan seulas senyum untuk tamunya. Bukan yang sinis, bukan yang mengejek, tetapi yang tulus. Yang penuh kasih.

“Sungguh? Kau tidak perlu memaksa untuk membalas budi dengan mencintaiku.”

Chorong menggeleng pelan, mati-matian menyembunyikan kegugupan karena senyum Luhan. “Dari semua orang, aku yang paling paham perihnya kesepian. Lagipula…” Dua tangan Chorong tertangkup di depan dada, “…jantung ini ingin selalu dekat pemiliknya.”

Kalau Luhan tidak ingat larangan Chorong untuk mengumpat, Luhan pasti sudah melakukannya.

Ia panas. Enam kata itu membakarnya, melemaskannya.

“Cukup.”

Luhan tak kuat lagi menerima ungkapan perasaan Chorong. Berada di dekat Chorong saja sudah melebihi ekspektasi, membuatnya hampir meledak kegirangan. Ini lagi. Untuk menghentikan Chorong, Luhan membawa boneka plastik yang ringan itu keluar—dengan memanggulnya.

“Hei, apa yang kau lakukan? Luhan! Tidak sopan memperlakukan seorang wanita seperti ini; turunkan aku!!!”

“Diam. Kau harus ganti bajumu yang basah itu. Aku tidak mau pemilik jantungku masuk angin!”

***

“Jantung ini ingin selalu dekat pemiliknya.”

Malam itu, Luhan tidak tidur. Ia puas-puaskan memandangi wajah lelap Chorong yang damai. Barangkali boneka cantik itu memimpikan Nona Muda. Barangkali membayangkan masuk toko mainan, siap dijual lagi dan bertemu pemilik baru yang lebih menyayanginya. Barangkali memimpikan Luhan? Pikiran ini buru-buru dilenyapkan oleh sang mawar.

“Aku mencintaimu, Bodoh.”

“Aku juga,” bisik Luhan sebelum mengecup bibir Chorong tanpa sang boneka menyadari, “maka jangan lagi merasa kesepian. Rasakan aku dalam jantungmu jika kau merasa hampa, mengerti?

Karena itu hadiah yang aku berikan untukmu.”

Luhan mengeluarkan sesuatu yang berdenyut dari dalam kelopaknya dan memasukkan benda itu dalam dada Chorong, kemudian ia berkeliling bilik hati si boneka. Disobekinya semua foto di dinding yang memuat mawar lilac—dirinya sendiri—dalam rangka menghilangkan ingatan Chorong tentangnya.

Fajar menyingsing. Semua foto Luhan sudah musnah dari bilik hati Chorong saat Luhan membopong Chorong ke sebuah toko mainan. Dibaringkannya Chorong di salah satu lemari pajangan. Dibelainya sekali lagi pipi lembut itu sebelum mengucapkan selamat tinggal.

Angin musim panas bertiup melalui celah jendela toko, mengantarkan sehelai mahkota mawar lilac beraroma cokelat karamel ke pangkuan Chorong.

***

“Chorong-eonni?”

Demi mendengar sapaan familiar ini, Chorong menoleh dan menemukan mantan pemiliknya bersama seorang anak perempuan yang jauh lebih muda, sore itu di toko mainan.

“Kau mengenal boneka itu? Belikan, Eonni, belikan!” Si gadis cilik menggoyang-goyangkan tangan kakak sepupunya, “Dia cantik dan aku ingin menjadikannya model baju-baju boneka buatan kita!”

“Eh, ah, i-iya…”

Takdir apa yang membuat Chorong kembali pada Nona Mudanya yang beranjak dewasa ini? Apalagi selepas dibayar di kasir, Nona Muda diam-diam tersenyum lebar pada Chorong.

Nona Mudanya ternyata tetap menyayanginya.

“Chorong-eonni punya bilik hati yang luas, Naeun-ah. Coba deh masuk; nanti di sana pasti banyak fotomu dan fotoku!”

“Begitu, ya?” Si gadis cilik memeluk Chorong sayang, “Aku akan buktikan ucapan Bomi-eonni di rumah! Aku akan masuk bilik hatimu!”

Tentu anggukan adalah respon Chorong terhadap permintaan ini.

Bilik hati Chorong tidak asing bagi Nona Muda Bomi, tetapi benar-benar baru untuk Nona Muda Naeun. “Wah!!!” Naeun segera berlari ke fotonya yang sangat besar, “Itu fotoku! Akhirnya aku punya fans juga, hahaha!”

“Narsis!” Bomi menggendong Naeun dan mengarahkan gadis itu ke satu sudut, “Itu fotoku juga ada. Jangan kau pikir  Chorong-eonni cuma mengidolakanmu!”

“Sudah, tidak usah bertengkar. Ada cokelat isi karamel di meja dekat vas itu, kalau Nona Muda mau. Tapi jangan banyak-banyak.”

Naeun melompat turun dan langsung mencomot satu bulatan cokelat karamel yang lezat itu, sedangkan Bomi tertawa hangat.

“Membuangmu sungguh bukan tindakan yang tepat, tetapi beruntung kita ditakdirkan untuk selalu terikat. Maaf untuk kemarin, Eonni…

“Ya, aku senang kau berkenan menerimaku kembali,” Chorong mengacak-acak rambut Bomi bersahabat, “Selamat datang kembali ke bilik plastik sederhana ini.”

“Selamat datang juga di Kediaman Son. Omong-omong, tempat ini lebih bagus dari terakhir aku melihatnya,” puji Bomi, “terutama karena ini memuat foto cantikmu sendiri di sana.”

Oh?

Chorong baru sadar bahwa foto-fotonya punya sudut sendiri. Jika foto-foto Naeun memenuhi dua dinding, Bomi satu dinding, dan… Chorong satu dinding pula. Chorong menghampiri dinding yang ditempeli foto-fotonya tersebut.

Aku tidak ingat memasang foto-fotoku sendiri di sini… Lagipula kenapa foto-fotoku beraroma seperti cokela—

Mendadak jantung di tengah bilik tergores-gores. Bomi panik, Naeun ketakutan.

Chorong jatuh.

Eonni! Eonni kenapa?”

***

“Luhan…?”

***

Matahari menyekop keluar mawar tak bermahkota yang layu di pot 1950. Satu lagi koleksi berharganya mati, tetapi itu sepadan untuk rubi yang semalam didapatkannya.

“Layu karena kehilangan jantung,” tulis Matahari di buku besarnya usai mengubur tangkai kurus itu, “Mawar Amorose memang luar biasa untuk urusan menyenangkan wanita. Oke, saatnya mencari lagi yang rela berkorban sebesar dia.”

***

“Stop hesitating and take out my heart.”

(Luhan in EXO-M – Baby Don’t Cry)

***

TAMAT

mendadak suka chohan. jadinya begini deh.

Advertisements

9 thoughts on “Voidoplasty

  1. Owww sad ending… Keren… Pertama kali baca ff Chorong fantasy kyak gini. Bener deh, imajinasinya kerennnnn banget. Ditunggu ff Chorong yang lain ya 😀

    Like

  2. Kyaa~ nemu satu lagi yang Chohan ❤
    Demi apapun, aku suka ff ini. Pilihan diksinya bagus, imajinasinya daebak.
    Pertama aku baca, aku mikir, 'eh? mas Lulu jadi mawar?'. Awalnya aku agak susah mbayangin boneka plastik sama mawar, jadinya aku ikutin saran buat mbayangin orang aslinya.

    “Jantung ini ingin selalu dekat pemiliknya.”
    Omo… mba Chorong so sweet banget sampe Luhan ga bisa tidur XD

    Walaupun akhirnya mawar 'Luhan' mati, tapi overall bagus.

    Keep writing kak Liana! Salam Chohan shipper!!! 😀 😀 :* /apa-apaanini

    Like

  3. Aduh ini salah satu otp favku kak. Diawal luhan sok-sokan angkuh, eh di akhir malah kelewat romantis yaampunnn. Bisa apa chorong dibisikin begituan kak haha. Keep writing ya kak! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s