Retrace 0: Down The Rabbit Hole

Baskerville_Incuse

scriptwriter Liana D. S.

starring

Apink’s Chorong and soloist Lu Han

feat f(x)’s Luna

genre Fantasy, Friendship-ish Romance, Anime!AU (Pandora Hearts) duration Oneshot (3,3K+ words) rating Teen and Up

.

[Disclaimer] Pandora Hearts © Jun Mochizuki

.

“Dengan Rantai Penghukumanku, aku mengadilimu.”

***

Abyss. Sebuah dimensi jauh ‘di bawah’, pusaran kekuatan yang luar biasa. Tempat ini sangat tidak stabil, sehingga jika ada benda atau manusia hidup yang masuk, mereka akan menyerap kekuatan Abyss dan menjadi makhluk bizar yang dinamakan Chain. Setiap Chain memerlukan manusia sebagai rekan kontrak supaya dapat keluar dari Abyss dengan sempurna, tetapi sebagai gantinya, si rekan kontrak dapat menggunakan kekuatan mereka sewaktu-waktu.

Karena ketidakstabilannya, Abyss memilih orang-orang tertentu untuk menjaga harmoninya. Orang-orang ini bersatu dalam klan Park yang pemimpinnya bergelar Glen. Seorang Glen wajib menjalin kontrak darah dengan lima Chain Sayap Hitam yang tercipta khusus untuk melindungi Abyss dan dunia manusia sekaligus. Selain menjaga harmoni Abyss, para Glen juga harus memusnahkan anak-anak bermata merah yang, menurut kepercayaan saat itu, membawa keburukan bagi masyarakat. Anak-anak ini disebut Putra Iblis. Menggunakan Rantai Penghukuman milik lima Chain Sayap Hitam, sang Glen harus melemparkan Putra Iblis ke dalam Abyss sesuai tradisi yang berlaku.

Ini adalah kisah seorang Glen Park dalam menjalankan tugasnya, yaitu ’menghukum’ Putra Iblis dan melindungi orang-orang dari keliaran Chain.

***

Seorang gadis berusia tujuh tahun berdiri di depan sebuah menara jam besar, dikelilingi orang-orang berjubah merah dan lima Chain Sayap Hitam. Gadis berambut gelap sepinggang itu berhadapan dengan anak laki-laki pirang sebayanya. Kaki dan tangan si anak lelaki diikat tali erat-erat. Ia tertunduk hingga iris merah darahnya tertutup poni.

“Luhan, dengan Rantai Penghukumanku, aku mengadilimu. Kesalahanmu adalah terlahir dengan mata milik Putra Iblis, yang mengancam kedamaian Abyss dan dunia manusia.”

Segera setelah si gadis menyelesaikan kalimatnya, rantai-rantai besar melilit tubuh mungil Luhan, bocah pirang yang berlutut di hadapan sang Glen. Lubang hitam terbuka di balik tubuhnya. Luhan tercekik, baik karena rantai maupun karena dinginnya lubang di belakang, tetapi ia masih berusaha untuk mendongak dan menatap wajah Glen Park yang ‘menghukumnya’.

Bahkan hingga detik terakhir, mata Luhan tidak pernah kehilangan binar, batin gadis kecil yang juga merupakan Glen termuda dalam sejarah klan Park itu. Hatinya pedih ketika Luhan menyunggingkan satu senyum getir.

“Sampai jumpa, Chorong-ah.

“Hanya karena matamu merah, bukan berarti kau bisa menghancurkan Abyss, bukan?! Itu tidak masuk akal! Aku tidak mau menghukummu!”

“Glen tidak boleh berbuat seenaknya begitu,  Chorong.”

“Hiks… tapi… tapi kau akan tersiksa di dalam sana!”

“…Selama bukan kau yang tersiksa, aku tidak apa-apa, percayalah.”

Lubang di belakang Luhan menjelma menjadi pusaran energi, menimbulkan badai di lokasi penghukuman. Angin menyulitkan siapapun untuk membuka mata, tetapi Chorong memaksa kelopaknya melawan tekanan. Ia saksikan teman terbaiknya memejam dan gemetaran, tetapi tak berteriak takut biarpun mulai tertelan Abyss. Wajah pucat Luhan membuat Chorong ingin lari ke lubang Abyss dan menariknya kembali.

Memeluknya.

Membisikkan kata-kata lembut yang menguatkan.

Tapi itu tidak mungkin.

Gugurnya beberapa helai bulu hitam dari sayap para Chain mengiringi kepergian Luhan. Lubang Abyss tertutup sempurna, para Chain tersegel kembali, dan upacara penghukuman selesai. Chorong terjatuh di atas lututnya dan tersedu. Ia tak peduli dengan jabatannya sebagai pemimpin klan, juga pemilik lima Chain kuat penjaga Abyss. Masa bodoh dengan wibawanya yang kini hancur lebur.

Hari itu, Chorong telah melenyapkan sahabat karibnya dengan tangan sendiri.

“Maafkan aku, Luhan… Maaf…”

***

Di Kediaman Kwon tengah berlangsung sebuah pesta bergengsi yang mengundang para bangsawan. Di antara mereka yang ‘senior’, ada pula para pewaris muda yang berusaha keras menarik perhatian. Beberapa dapat dikatakan ‘sukses’ karena sudah berdansa bersama seseorang. Beberapa lainnya gigit jari di sudut-sudut ruangan. Hebatnya, Park Chorong, kini seorang gadis 20 tahun bergelar Glen yang anggun dan berkharisma, termasuk salah satu dari mereka yang berada di sudut. Bukan karena tidak ada yang menginginkannya sebagai pasangan dansa, tentu saja. Dengan wajah kalem tapi tegas, tubuh ramping, dan gaun sutra berhias renda pita yang mengekspos permukaan lembut bahunya, Chorong bisa saja menjadi primadona pesta malam itu.

Namun…

“Nona Chorong, bersediakah berdansa denganku?”

…setiap seseorang mengajaknya, baik yang berpenampilan di bawah standar hingga yang luar biasa tampan, Chorong hanya menatap mereka datar dari balik kipas.

“Tidak.”

“Lain kali saja.”

Dan kalimat-kalimat pendek lain bernada sama menjadi jawaban Chorong. Dengan respon macam ini, wajar jika semua yang menawari Chorong jadi menjauh, merasa sudah mengganggu ‘perenungan’ pemimpin klan Park itu. Chorong sendiri lebih nyaman dalam kesepiannya karena ia tak suka pesta. Dari kecil, kebiasaan Chorong melarikan diri dari acara-acara formal sudah dikenal baik oleh seluruh anggota klan dan para pelayan.

Hanya satu orang yang senantiasa sanggup mengendalikan keliaran Chorong.

“Chorong?! Kau mestinya berdansa dengan para petinggi itu!”

“Tidak mau! Aku ingin denganmu saja! Kau bilang punya buku astronomi yang bagus. Tunjukkan padaku!”

“Ini bukan saatnya belajar, Chorong-ah. Kau harus menikmati pesta demi menghargai para bangsawan itu!”

“Aku malas menari; aku ingin membaca bukumu, Lu!”

“Uh… begini, deh. Bagaimana kalau aku membawakan bukunya besok, tetapi sekarang kau harus berdansa dulu?”

“Janji?”

“Janji!”

“Kalau begitu temani aku masuk, ya! Tak seru kalau tak ada kau!”

“Eh… ta-tapi… itu… anu… Chorong! Hei, jangan tarik-tarik!”

Senyum tipis menghias wajah Chorong selama kenangan tentang bocah lelaki penjaga istal itu menghampirinya. Luhan sahabat yang menyenangkan, lucu, kadang jahil, tetapi Chorong tetap menyukainya. Ini karena Luhan bersikap seolah Chorong bukan Glen jenius yang menyelesaikan Upacara Suksesi Glen sebelum ulang tahun kesepuluh. Dia memandang Chorong sebagai teman bermain biasa, membuat keduanya dapat saling mencurahkan rahasia tanpa khawatir atau kikuk.

Ironisnya, Luhan bahkan tidak sempat beranjak remaja karena ‘perbuatan’ Chorong 13 tahun lalu.

“Tadi pria kelima yang mengajakmu berdansa. Kau tolak lagi?” Luna, adik perempuan Chorong, menyikut kakaknya yang ‘tidak asyik’ itu, “Ayolah, kau tahu apa tanggung jawab seorang gadis lajang di pesta: mencari pasangan! Pilih satu saja, apa susahnya?”

“Susah karena tidak ada dari mereka yang cocok untukku.”

Luna menepuk dahi, telapaknya lalu turun mengusap sebagian muka. Dasar… Padahal segala tipe bangsawan ada di sini, bagaimana mungkin tidak ada yang cocok?

Ah, benar juga.

Sebuah ide tercetus di pikiran Luna, membuatnya tersenyum miring.

“Aku lupa. ‘Kan hanya Luhan yang cocok untuk Kakak.”

Eh?

“A-apa? Tidak, tentu saja tidak! Dia cuma anak kuda aneh yang kebanyakan berkhayal!”

Chorong menyebut Luhan ‘anak kuda’ karena pekerjaan bocah itu di istal.

Luna terkekeh menang setelah sukses meronakan pipi kakaknya. “Tuh, ‘kan? Mendengar nama Luhan saja, kau salah tingkah. Aih, manis sekali… Cinta pada pandangan pertama memang tak terganti!”

Puk! Ujung kipas Chorong mendarat di kepala Luna. “Jangan sembarangan. Aku tidak mencintainya seperti yang selama ini kau kira. Lagipula, aku ‘kan tidak pernah tahu bagaimana dia yang berumur 20 tahun. Siapa tahu dia akan jadi pemuda terjelek di dunia ini yang jelas bukan tipeku?” Sang Glen berbalik, “Untung dia tak sempat dewasa.”

Kemuraman yang tersirat dalam ucapan Chorong tertangkap telinga peka Luna. Manik hazel Chorong yang meredup pun menandakan bahwa kalimat barusan memiliki makna tersembunyi. Rupanya, Chorong belum bisa memaafkan dirinya karena sudah membuang Luhan ke Abyss. Berbeda dengan penjahat-penjahat yang ditelan Abyss karena dosa mereka, Luhan bersih. ‘Kesalahannya’ sebagai Putra Iblis sama sekali bukan dosa; Chorong lebih suka menyebutnya ‘variasi biologis normal’, di mana warna merah mata Luhan bukan penanda kekuatan mengancam. Warna merah itu hanya perkara pigmen iris mata, itu saja.

“Luhan tak akan senang melihatmu murung begini,” Luna menggandeng tangan Chorong dan menarik sang kakak supaya bangkit dari duduknya, “Ayo kita minum supaya tidak suntuk, lalu jalan-jalan sebentar di taman. Bagaimana?”

Ide bagus. Setelah satu-dua sesapan anggur, Chorong mengikuti Luna ke taman Kwon yang luas. Baru mereka akan mulai berjalan-jalan, satu melodi yang familiar mengalun dari ruang dansa. Melodi ini menempati satu kamar besar dalam memori Chorong.

“Tanganku lelah sekali karena memetik harpa super besar itu. Huh, padahal aku tidak berbakat dalam bidang musik, tetapi tetap dipaksa belajar. Menyusahkan.”

“Payah. Main musik itu gampang sekali; kau tidak bisa?”

“Jahat!!! Coba pegang harpa, kau pasti akan selelah aku!!!”

“…Ba-baiklah, maaf… Aku tidak pernah coba harpa, tetapi aku sering memainkan harmonika tua ini.”

“Mainkan satu lagu untukku kalau bisa!”

Chorong pernah mengajukan tantangan ini dengan asumsi Luhan tidak akan mampu memenuhinya. Sayang, Luhan ternyata pemain harmonika yang hebat. Akhirnya, Chorong hanya mempermalukan diri sendiri karena terhanyut dalam musik Luhan. Bodoh juga kalau diingat, tetapi itu bukan masalah karena melodi Luhan lebih banyak memunculkan kenangan indah ketimbang rasa malu.

“Wah, lagu ini sungguh nostalgik…” Luna menatap ke dalam ruangan seraya tersenyum. Chorong mengangguk sebelum mengeluarkan harmonika Luhan dari balik lengan gaun panjangnya, mengejutkan sang adik. “Kau membawa harmonika itu?”

Chorong memutar-mutar perlahan instrumen persegi panjang itu, seolah ingin merasakan sentuhan Luhan yang tertinggal di sana.

“Ya, selalu, sejak Luhan pergi. Berada dekat benda ini membuat Luhan seakan dekat.”

Dan Chorong mulai meniup harmonika itu, menyesuaikan permainannya dengan ruang dansa.

Lagu ini…

Indahnya…

Siapa… yang memainkan?

Sudut mata Chorong berdenyut hebat; kelenjar air matanya pasti sangat aktif, tetapi dia enggan meneteskan air mata. Namun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa ia sangat merindukan sahabatnya.

Chorong diam-diam berharap Luhan akan terpanggil dengan lagu ini.

Chorong…

Memang siapa dia?

Tunggu. Pintunya…

…terbuka…

Seberkas cahaya vertikal mendadak muncul di taman hingga menembus langit. Chorong serta-merta menghentikan permainan harmonikanya dan berdiri, diikuti Luna. Mereka berdua mendekat ke sumber cahaya itu—dan menemukan lubang. Luna terbelalak.

“Jalan dari Abyss! Kenapa terbuka di tempat seperti ini?”

“Apapun alasannya, gunakan Dormouse untuk menidurkan semua orang agar pertarungan kita tidak disela,” Chorong mengomando, lebih tenang dibanding Luna, “dan siapkan Demios.”

“Baik.”

Luna berlari masuk ruang dansa. Sementara itu, sebuah segel terbuka di bawah kaki Chorong. Kabut gelap dalam jumlah besar melesak keluar. Kegelapan yang sama juga muncul dari lubang yang Luna sebut ‘Jalan Abyss’. Tekanan dua kekuatan ini berbenturan sangat hebat hingga Chorong terdorong sedikit ke belakang. Sang Glen melindungi wajahnya dengan lengan, tetapi dia masih bisa melihat kegelapan Abyss di hadapannya menjelma menjadi…

seekor kelinci?

Dua kekuatan ini akhirnya menampakkan sosok asli mereka sebagai Chain. Di belakang Chorong, muncul seekor burung gagak besar. Rantai-rantai melayang mengelilingi salah satu Chain Sayap Hitam warisan Glen terdahulu itu. Chain ini tidak lain dan tidak bukan adalah Raven. Sedang di depan Chorong, berdiri seekor kelinci hitam berukuran sebanding dengan sang gagak. Tidak main-main, Chain itu menggenggam sabit besar yang ujungnya ternoda darah, menegaskan bahwa ia sangat mematikan.

“Apa ini, pencari rekan kontrak lagi?” Raven bertanya malas. Ia cukup sering dipakai Chorong untuk bertarung melawan Chain perusuh, makanya ia bosan. Yang ditanya mengedikkan bahu, tak fokus pada Raven.

Jalan Abyss biasanya terbuka jika ada pemicu, tetapi aku tak merasakan kekuatan apapun yang mungkin membuka pintu tersebut… Apa Chain ini ‘mendobrak’ pintu dari Abyss? Atau ada sesuatu yang memanggilnya dari sini?

Sang kelinci menyeringai, memperlihatkan sederet taring yang mengintimidasi.

“Calon rekan kontrakku ternyata sudah memiliki Chain.  Pertarungan ini akan menarik sekali!”

Ucapan sang kelinci hitam mengejutkan Chorong. Chain ini mampu memilih rekan kontrak, maka jiwa Chainnya benar-benar telah sempurna. Berbeda dengan Chain baru yang asal muncul dan ambil rekan kontrak, Chain-Chain seperti si kelinci hanya akan tertarik dengan stimulus tertentu dari calon rekan kontraknya. Artinya, Chorong telah melakukan ‘sesuatu’ sebelum ini yang membuat kelinci itu ingin menjalin kontrak darah dengannya, entah apa.

“Orang ini adalah milikku, jadi jangan coba-coba mendekatinya.”

Benar-benar Chain yang lebih manis dari seorang kekasih, Chorong tersenyum geli mendengar Raven mempertahankannya. Si kelinci hitam terbahak, sabitnya terangkat. “Tidak mau berbagi, ya? Kalau begitu, terpaksa aku memakai cara kasar!”

Sabit si kelinci terayun ke depan. Raven berhasil menghindar dari serangan itu sekaligus melindungi Chorong. Sang gagak lalu membalas dengan api biru besar dari paruhnya. Api itu ditepis oleh si kelinci hitam, membuat sabitnya membara. Dengan keadaan sabit yang demikian, si kelinci menerjang kembali. Hampir saja sayap Raven terpotong, tetapi beruntung, yang terbelah hanya sehelai bulu.

“Dasar gagak pelit! Kau benar-benar kekanakan; aku ingin rekan kontrakmu saja, kok, tidak lebih!”

Tawa mengerikan si kelinci tidak menciutkan Raven maupun Chorong. Sementara Chainnya mengerahkan seluruh tenaga untuk memenangkan pertarungan sengit ini, Chorong terfokus pada Chain misterius yang mendadak muncul dari Jalan Abyss itu. Ia memperhatikan setiap ucapan si kelinci, juga semua gerakannya saat bertarung. Sebagai Glen, Chorong terlatih mengenali asal-usul Chain; yang satu ini kemungkinan besar berasal dari manusia. Chain yang tercipta dari benda mati atau hewan pasti akan menyerang lebih membabi-buta, sedangkan si kelinci bertarung dengan cerdik dan ‘teratur’.

Selain itu, setiap si kelinci bicara, Chorong menemukan suara yang sangat ia kenali.

Raven melukai si kelinci dengan cakarnya. Kelinci itu terempas ke tanah, masih memegang sabit. Merasa di atas angin, Raven mendekati lawannya. “Kau tidak punya tenaga lagi. Menyerahlah.”

Dalam sepersekian detik, Chorong melihat tangan si kelinci mempererat genggaman pada senjatanya.

“Raven, pergi dari situ!”

Didorong oleh insting untuk melindungi si burung gagak, kaki Chorong melangkah sendiri ke depan Raven. Sabit si kelinci terangkat sekali lagi, membelah udara.

Wush! Trang!

“Kak Chorong!”

Satu lagi Chain menggunakan sayapnya yang terbuat dari tulang untuk melindungi sang Glen. Chorong berbalik dan mendapati Luna dengan tikus besar tertidur menggulung, melayang di atas kepalanya. Tikus itulah Dormouse yang baru saja menyelesaikan tugas menidurkan semua hadirin di pesta, sedangkan Chain berbentuk kerangka hewan bertanduk yang menangkis serangan si kelinci adalah Demios. Dua-duanya Chain milik Luna.

“Aku baik-baik saja.” Chorong menurunkan tangan sang adik dari bahunya. Itu sama sekali tidak menenangkan Luna karena gadis mungil itu berkata panik, “Kau terluka!”

Lengan atas Chorong memang tersayat, tetapi sejujurnya itu karena tepian tajam sayap Demios. Gawatnya, darah yang keluar dari lengan Chorong malah membuat si kelinci menggila. Aroma cairan pekat merah dari manusia selalu menggiurkan bagi Chain, tak terkecuali si kelinci. Ia kini tidak lagi bermain taktis. Raven dan Demios diserangnya dengan bertubi-tubi karena ingin segera mencicipi darah Chorong. Raven tentu tidak membiarkannya maju lebih jauh demi keamanan rekan kontraknya…

…maka alangkah terkejutnya Raven ketika Chorong memintanya berhenti.

“Aku akan buat kontrak denganmu, Kelinci Hitam,” –kemudian Chorong berpaling pada adiknya— “Segel Demios dan Dormouse.”

Luna melaksanakan perintah Chorong dengan dahi berkerut. Raven tak terima, tetapi tetap memberi jalan pada sang Glen untuk mendekati si kelinci.

“Jangan terlalu dekat.”

Chorong mengangkat satu tangannya. “Aku tahu apa yang kulakukan, Raven. Tenanglah.”

Sang kelinci hitam rupanya tidak sabaran. Ia menjatuhkan Chorong dengan pangkal sabitnya dan menahan sang Glen agar tetap terbaring di tanah. Luna terkesiap, hendak maju, tetapi Chorong menggeleng pelan, isyarat untuk diam dan menunggu.

“Hehe, saatnya membuat kontrak, Nona.”

Chorong memandang Raven. Awalnya sang gagak tidak mengerti mengapa, tetapi begitu gadis itu diam-diam menggambar lingkaran kecil di tanah, Raven akhirnya mengerti. Gadis itu tersenyum ketika sebuah lingkaran segel pembatas terbentuk di bawah tubuhnya. Si kelinci dibelenggu tali-tali tak kasatmata, menariknya menjauh dari Chorong. Sang Glen dengan mudah menyingkirkan pangkal sabit yang menahannya, kemudian bangkit.

“Raven!”

Atas perintah Chorong, sang gagak maju dan menyemburkan api terbesarnya ke arah Chain yang terkekang itu. Si kelinci menjerit kesakitan, nyaris tumbang. Karena ia sudah dilemahkan, segel pembatas yang dibuka Raven dapat bekerja lebih optimal. Kekuatan Abyss si kelinci memudar—dan tubuhnya secara bertahap berubah.

Chorong kembali mendekati si kelinci setelah menghisap darah segar dari luka di lengannya.

Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatanku untuk bisa bersama denganmu lagi, walaupun kau sekarang sudah menjadi Kelinci Hitam… Tidak, tidak. B-Rabbit lebih cocok untukmu, Temanku.

***

Manis.

Darah ini… milik gadis itu?

Cahaya apa yang menyelimutiku ini? Aku… terbangun…

***

Luna menutup mulutnya dengan kedua tangan usai Chorong menyegel Raven—dan mencium Chain barunya untuk menjalin kontrak darah. Yang lebih mengejutkan lagi, Chain itu telah berubah wujud menjadi manusia karena segel pembatas kekuatan…

…sehingga bukannya mencium B-Rabbit—nama baru si Chain—Chorong mencium kawan masa kecilnya.

“Mustahil…” Manik hitam Luna melebar, “…Luhan, Putra Iblis, telah lepas dari kungkungan Abyss…”

***

Pemuda pirang itu tersadar setelah tersentuh kehangatan yang lembut di dahinya. Secara naluriah tangannya merabai sesuatu yang hangat itu, menebak-nebak. Kelopak matanya masih berat untuk membuka, jadi ia hanya mengandalkan saraf-saraf di jarinya untuk mengenali lingkungan baru ini.

Tangan yang halus…

“Selamat pagi, Anak Kuda.”

‘Anak Kuda’. Panggilan yang tak asing bagi Luhan, si pemuda pirang, tetapi ia sendiri lupa di mana pernah mendengar itu. Ia menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang gadis di sampingnya. Gadis inilah yang meletakkan tangannya di kening Luhan—dan merawat Luhan semalaman.

“Kamu… Chorong, ‘kan?”

Gadis itu mengangguk heran. “Kau mengingatku? Ingatan Chain saat masih jadi manusia biasanya tidak bertahan.”

Luhan berkedip pelan beberapa kali, berpikir. Ia Chain. Tapi sekarang bentuknya manusia. Tapi Chorong bilang Luhan dulunya juga manusia. Tapi bagaimana Luhan tahu gadis di depannya bernama Chorong jika berkenalan saja tak sempat? Kepala Luhan berdenyut-denyut, berusaha keras menata memori kemarin dan sebelum-sebelumnya.

Sementara Chorong yang mendengar erang kesakitan Luhan meletakkan tangannya lagi di kening Luhan. “Kalau kau sulit ingat, biar aku ceritakan semuanya dengan lengkap. Kau Luhan, dulu manusia, tetapi jatuh ke Abyss dan menjadi Chain berbentuk kelinci hitam. Kau keluar lewat Jalan Abyss dan bertarung dengan Chainku supaya bisa menjalin kontrak denganku. Sekarang, kau adalah Chainku; aku menamai bentuk Chainmu sebagai Black Rabbit. B-Rabbit singkatnya.”

Ah, Luhan ingat sekarang. Ia baru saja menghancurkan satu Chain di Abyss ketika pintu menuju dunia manusia terbuka. Dari pintu itu mengalun samar serangkaian nada indah, membangkitkan kenangan yang asing. Ia keluar melalui Jalan Abyss itu dan membuat kontrak darah dengan Chorong.

“Kau dan melodi itu pasti sangat penting bagiku di masa lalu, sayangnya tak ada yang berbekas padaku kini.”

Chorong menggigit bagian dalam bibirnya diam-diam. Luhan tidak mengingatnya, sebuah kenyataan pahit baginya yang selalu mengingat Luhan. Akan tetapi, Chorong maklum; efek kekuatan Abyss merusak manusia hingga ke jiwanya, sehingga saat Luhan terlahir kembali sebagai Chain, wajar jika memorinya hilang. Lagipula, bukankah Chorong sendiri yang secara tidak langsung menghapus kenangan Luhan dan mengubahnya menjadi monster?

Mungkin ini hukuman, Tanpa sadar, Chorong menelusuri wajah Luhan dengan jemarinya, karena sudah membuangmu ke dalam kegelapan yang mencekik tanpa alasan jelas. Maafkan aku, Lu… Aku tak akan mengulanginya lagi.

Dalam diam, Luhan terus berusaha menyingkirkan kesedihan yang muncul akibat muramnya Chorong. Padahal ia tak merasa dekat dengan Chorong, tetapi sesuatu memaksanya untuk menimbulkan binar di mata Chorong sekali lagi…

Benarkah aku yang dulu menyayangi Chorong sedemikian besar? Jika iya, kenapa rasa itu tak tersisa sama sekali?

Kenapa aku ingin ia tersenyum?

Chain harusnya hanya menghendaki kebebasan dan kekuatan, tetapi…

“Ini bodoh, tapi kuakui bahwa aku…” Helai-helai rambut menutup mata Chorong untuk menyembunyikan linangan air mata, “…merindukanmu.”

Genggaman Chorong pada telapak tangan Luhan mengerat, memahamkan Chain setengah manusia itu akan hebatnya perasaan si gadis.

“Aku tak akan membiarkanmu direnggut Abyss untuk kedua kali. Tak akan lagi. Aku akan melindungi hidupmu yang kedua ini dengan sekuat tenagaku.”

Bahkan jika seluruh dunia menolak, akan kubuktikan bahwa kau bukan pengancam harmoni Abyss. Kau hanya temanku yang bermata merah. Teman terbaikku.

Bodoh. Untuk apa isakan ini?

***

Tiba-tiba, Luhan menarik Chorong hingga gadis itu nyaris tertelungkup di atasnya. Tangan Luhan menahan tubuh Chorong supaya tidak bergerak. Wajah mereka begitu dekat dan entah mengapa udara di antara mereka memanas.

“Lupakah kau bahwa aku ini Chainmu? Apapun masa lalunya, Chain harus melindungi rekan kontrak, bukan sebaliknya. Mau dikemanakan harga diriku sebagai kelinci terkuat di Abyss jika kau yang melindungiku?”

Ibu jari Luhan mengusap air mata Chorong yang hampir tumpah.

“Aku yakin kau yang dulu kukenal tidak mudah menangis.”

Lidah Chorong kelu. Kenapa jantungnya berdebar tak karuan saat memandang Luhan sedekat ini? Apakah karena ia bahagia sudah menemukan sahabatnya meskipun dalam keadaan hilang ingatan? Atau karena manik merah darah Luhan yang menyembunyikan sisa-sisa kasih sayang? Atau itu semata-mata karena ketegasan garis wajah Luhan yang menawan sebagai pemuda 20 tahun?

Yang manapun, Chorong menyukai perasaan baru ini. Begitupun Luhan. Benar bahwa ingatannya tentang Chorong tersapu kegelapan Abyss, tetapi tidak semua. Kasihnya pada gadis itu menjadi salah satu yang meninggalkan jejak—yang kini bertambah dalam.

“Luhan…”

“Hm?”

Semburat merah mewarnai pipi pualam Chorong. Ia tak tahu kenapa sebuah ide memalukan mendadak terbersit di benaknya. Barangkali karena ia kelewat senang bisa bertemu Luhan lagi. Ide memalukan itu adalah…

“Tolong lindungi aku, baik sebagai Luhan maupun B-Rabbit. Itu bagian dari kontrak kita.”

…memohon perlindungan.

Glen tidak memohon, mereka memerintah. Glen tidak dilindungi, mereka melindungi.

“Apa dengan itu kau akan berhenti memelukku seerat ini?”

“S-siapa yang memelukmu?!”

“Kau, Chorong.”

Namun demikian, di hadapan Luhan, Chorong tetap gadis biasa yang memiliki sisi rapuh.

Bagaimanapun, hubungannya dengan Luhan akan selalu jujur seperti ini.

***

“Raven itu Chain Sayap Hitam yang ‘diwariskan’ pertama kali dari Glen sebelumnya padamu, ya?”

“Benar. Kenapa, Lu?”

“Dia kuat sekali. Aku ingin jadi sepertinya!”

“Jangan konyol. Kalau mau jadi Chain, kau harus merasakan siksaan Abyss dulu, tau! Itu sakit.”

“Tidak apa-apa! Kalau aku jadi Chain, aku akan membuat kontrak denganmu, jadi aku bisa melindungimu seperti Raven!”

“…”

“Chorong-ah? Kau kepanasan, ya? Mukamu merah sekali, ayo berteduh!”

“T-tidak! Muka siapa yang merah?”

***

TAMAT

ada nggak ya K-Popers yang nonton Pandora Hearts? Universe-nya Pandora Hearts itu lumayan ribet soalnya. *Kenapa pula anime2 fantasi Universe-nya ribet banget* Aku g yakin bisa menjelaskan detilnya dengan baik, tapi kalo ada yang nonton, mungkin akan lebih mudah mengerti. Emang ada beberapa hal yg g sesuai, tapi terima aja deh ya :p

Makasih sdh baca! (dan maaf masih belum bales2 komen juga)

Advertisements

9 thoughts on “Retrace 0: Down The Rabbit Hole

  1. Haii kaak, sebenernya aku ga mau komen ff di atas, tapi ff lainnya. *soalnya yang di atas belum kebaca, hehe.
    Sumpaah kak, yang makeup removal bikin potek banget. aku ngedumel sendiri pas baca. Kalo yang sehun mah lucu banget, aaah, sehun ge udah gede, wkwkw.
    Figthing kak, semangat nulis ya!

    Like

    1. hai 🙂 yah salah tempat komen ehehe, ini mah komennya dibawah mestinya.
      tapi gapapa XD
      kenapa kan diosio cocok banget sama tante sojin/ wut/ g bgt/ tapi nuansa2nya yah… gitu lah. do kyungsoo cocok buat fic romance yg seksi begini haha
      dan sehunie. iya dia sudah besar. skrg masnya *ehemluhanehem* yg sudah besar.
      makasih udah komen ya!

      Like

  2. Haii Liana, maaf aku nyepam komentar ._.
    Ya ampun aku belum liat Pandora’s Heart sih, tapi gara-gara baca ini aku jadi penasaran pengen liat wkwk

    Tulisanmu bagus baget akk saya suka saya suka ^^
    Kereen!! Keep writing, Liana ^_^

    Like

  3. Hola Li, ninggalin jejak dulu ya, hahay, padahal blm baca.
    Ntar dulu ya, soalnya skrg aq tmbah sibuk. Mana di krjaan bosku nambah job aq, jd ga bs curi2 wktu bwt buka wp ky dulu. Sedihnya..

    Eh, pandora heart? Aq pnah baca komiknya sie, tp blm smp selesai. Ini chorong jd alyss nya kah?

    Like

  4. Aku Kpopers yg suka anime juga ko ka hehehe
    Pandora hearts pernah baca aja si sekilas” belum pernah nonton, jd ga begitu mudeng
    Tp keseluruhan selalu keren seperti biasanya
    Sugoiiiiii

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s