Fatal Plot

fatalplot

Fatal Plot

scriptwriter Liana D. S.

starring

[EXO-M new formation]

Lay (Zhang Yi Xing), Chen, Xiumin, and Tao

genre Crime, Sci-fi duration Vignette (1,9K+ words) rating Mature (for bloody scene, cruel jokes, psychotic charas, and dark job)

.

No protagonists.

***

“Jadi,” Chen bertanya kesal pada Xiumin, “mau berapa kali lagi kau menghembuskan napas sekeras itu? Berisik, tau.”

“Kau tidak mengerti kita akan menyusup ke mana?!” Xiumin balik bertanya, frustrasi, “Ke Departemen Pertahanan, kau dengar aku? DEPARTEMEN PERTAHANAN! Unit lain masuk ke departemen yang lebih gampang ditembus.”

Yi Xing meletakkan telunjuk di depan bibir. Terjemahannya: jangan bilang-bilang kita mau menyusup ke mana. Pemuda berlesung pipit itu memang hemat bicara, efektif untuk menjaga rahasia.

“Yang menyusup ke departemen-departemen rawan hanya sampah. Kita seribu kali lebih buruk dari sampah, jadi mesti merusak lebih hebat!” Chen tertawa maniakal, memiting leher kawan gembilnya.  Xiumin hendak memprotes, tetapi Tao berdesis menyuruh dua orang itu untuk diam. “Sebentar lagi kita sampai di Departemen Pertahanan. Kalian sebaiknya bersiap-siap.”

“Ck,” Chen memutar bola matanya, “kau paling muda di antara kami. Jangan sok memerintah.”

“Bagaimana, ya?” Yi Xing memasang senyum manisnya (yang memuat sarkasme), “Habis dibanding kalian, Tao lebih paham medan.”

Merasa direndahkan, Chen merangsek maju hendak memukul Yi Xing, tetapi masih dengan senyum itu, Yi Xing menoleh. “Tentu kau juga penting. Kau adalah kunci misi kita. Jangan marah, Chen sayang.”

Hening.

“HUAAAA, JANGAN PAKAI SAYANG ITU, KUMOHON!!!”

Yi Xing dan Xiumin terbahak-bahak (terutama Xiumin yang dari tadi terus berurusan dengan kegilaan Chen). Sikap mengesalkan Chen selalu berhasil dibalas oleh pemimpin kelompok, Yi Xing, dengan cara sangat keibuan: panggilan sayang. Chen selalu kegelian mendengarnya dan menggeliat tak karuan, jadi bahan tertawaan seisi mobil. Kecuali Tao, anggota termuda yang bertugas sebagai pengemudi itu hanya akan tertawa jika mendengar satu lelucon khusus, bukan lelucon murah Yi Xing dan Chen.

Barisan tentara di depan gerbang raksasa Departemen Pertahanan menghalangi mobil Tao masuk. Yi Xing turun dari mobil dengan tenang, menunjukkan kartu identitas khas anggota Departemen Pertahanan. Dilakukan pula beberapa pemeriksaan lain, seperti pemindaian mata dan sidik jari, sebelum akhirnya seorang petugas bertanya siapa yang Yi Xing bawa.

“Mereka dikirim dari Pusat, tamu Pimpinan Bagian Persenjataan.”

Tao, Chen, dan Xiumin membuka masing-masing jendela di sisi mereka dan menunjukkan kartu identitas—palsu, buatan Yi Xing. “GP120, Unit Persenjataan Nasional.” baca seorang petugas, lalu memindai masing-masing tanda pengenal. Stempel emas milik negara yang terdapat pada permukaan plat pengenal mereka terbaca asli oleh pemindai, maka mereka diperbolehkan masuk.

“Keren,” Xiumin memandangi sebaris rapat pasukan di belakang, “Ada pemindai tanda pengenal segala.”

Chen tergelak seraya menyilangkan lengannya. “Kelihatan sekali kalau kau tua, tidak kenal yang begitu.”

“Chen sayang, nanti Xiumin darah tinggi lagi.”

“HUAAAA!!!”

***

Sesampainya di dalam gedung, mata tajam Chen mengamati sekitar. Xiumin dan Tao juga bersamanya, menunggu Yi Xing menyelesaikan beberapa keperluan administrasi untuk bertemu Pimpinan Bagian. Ketika Yi Xing kembali, Chen membuang napas.

“Kuharap sebelum rapat, kita dapat suguhan makanan pedas. Aku la-paar…”

Keras betul Chen bicara. Wanita di bagian administrasi memelototinya, mungkin berpikir: tidak sopan. Yi Xing pura-pura kaget, mendesis lagi dengan telunjuk di depan bibir, sementara Xiumin menyikut Chen. Tao masih diam, terfokus pada dokumen-dokumen yang Yi Xing bawa.

Mereka bertiga tahu, target mereka—‘makanan pedas’—tidak ada di sini. Pencarian harus dilakukan lebih ke dalam.

Selasar panjang menuju ruang Pimpinan Bagian lumayan lengang. Beberapa tentara saja yang tampak berlalu-lalang. Mereka berempat kembali mencari ‘makanan pedas’ mereka dan akhirnya Tao berbisik.

“Arah jam 1. Di selasar selatan, akan berbelok.”

Chen cepat menemukan orang yang dimaksud. Iris mata orang itu merah—dan Chen menyeringai diam-diam. Raut wajahnya berubah ramah saat ia mendekati tentara itu.

“Permisi. Aku Chen dari Unit Persenjataan Nasional GP120,” Chen menunjukkan tanda pengenalnya, “Ini teman-temanku: Yi Xing, Tao, dan Xiumin. Kami mendapatkan surat perintah dari Pimpinan Bagian untuk mengecek gudang senjata dan membutuhkan bantuan pihak berwenang untuk membuka gudang tersebut.”

Mata merah tentara itu—yang merupakan simbol bahwa dia salah seorang penjaga gudang senjata—berkilat ganjil. “Boleh aku periksa surat Anda?”

“Tentu.” Chen mengeluarkan selembar surat berstempel—juga palsu—dari map. Layaknya tentara lain, tentara mata merah itu memiliki pemindai yang membaca stempel Chen sebagai stempel resmi. Si tentara mengernyit. “Biasanya Pimpinan Bagian meneruskan suratnya pada kami.”

“Anda yakin tidak menerima surat itu?” tanya Yi Xing. Ia menerima anggukan. “Saya harus memeriksa arsip dulu. Mari ikuti saya.”

Sesuai rencana.

Kantor penjaga gudang senjata sangat dekat dengan gudang itu sendiri. Rangkaian pengamanan kantor ini lebih ketat dari bagian lain departemen. Setiap penjaga gudang juga memiliki ruangan pribadi yang kedap suara, bentuk penjagaan informasi-informasi penting.

Namun, panjangnya rangkaian pengamanan menuju kantor dengan cerdasnya dimanfaatkan Yi Xing.

“Chen.”

Satu panggilan dan Chen aktif tanpa perlu konfirmasi dari Yi Xing tentang perintah ini. Pada lapis keempat dari sepuluh rangkaian pengamanan otomatis, Chen membenturkan kepala si tentara penjaga ke pintu baja. Tentara itu melawan, tentu saja, menyadari bahwa empat orang dari Unit Persenjataan Nasional GP120 itu penyusup. Terlambat. Chen terlanjur menusuk jantung si tentara menggunakan tangkai kacamatanya—yang ternyata belati super tipis. Chen memainkan senjata tradisional yang sunyi itu (baca: tidak seberisik pistol) dengan mahir, tidak mengizinkan musuhnya bersuara. Tentara itu tewas tanpa noda—hanya Chen yang tahu bagaimana membunuh tanpa menyisakan darah—dan mata serta jarinya diambil.

Jackpot, Xing.” Chen mengayun-ayunkan sepasang mata dan satu telunjuk dalam kantung plastiknya. Yi Xing tersenyum lembut. “Temanku yang pintar. Terima kasih.”

Di depan gudang senjata, Xiumin terampil mengutak-atik mesin kata sandi. Terbobol. Itu lapis pertama. Lapis kedua, sial, lagi-lagi pemindai. “Butuh mata ini barangkali?” Chen mengangkat kantungnya, bermaksud membantu, tetapi Xiumin mendorongnya. “Maaf, bau amis membuatku mual.” ucap sang ahli komputer, jemarinya menggeser-geser layar. Ajaib, seluruh sistem mendadak tidak berfungsi dan membiarkan pintu-pintu berikutnya terbuka. Hanya karena satu pemindai yang Xiumin ‘tewaskan’. Inilah yang kerap Yi Xing sebut ‘sihir Xiumin’.

Senjata yang tersimpan di Departemen Pertahanan tidak semurahan machine gun atau senjata laras panjang dalam jumlah besar. Tabung raksasa di hadapan Yi Xing dan kawan-kawannya sekarang bahkan bukan senjata.

Itu Replicator.

Dari situlah tentara-tentara baru dihasilkan. Teknik penggandaan genetik dimanfaatkan untuk melahirkan pasukan berbakat dalam waktu cepat tanpa pelatihan panjang. Bahan dasar tentara instan ini adalah DNA para penjaga gudang yang memiliki pola tertentu untuk mengaktifkan reaksi berantai. Gampangannya, Replicator punya pengamanan juga, dengan pola DNA tentara mata merah sebagai kata sandi. Karena perbanyakan manusia berbahaya jika digunakan sembarangan, maka Replicator dianggap ‘senjata’ yang mesti dijaga oleh orang-orang terpercaya.

Dan Chen, seperti yang Yi Xing katakan sebelumnya, adalah kunci yang membuat mesin itu mau bekerja.

“Waktunya bermain hompimpah,” Chen mengeluarkan kubus yang dua sisi berdekatannya hilang, “Ulurkan tangan kalian.”

Memandang kosong ke depan, Tao mengulurkan tangan, telapaknya tertelungkup. Xiumin bergidik, tahu apa yang akan Chen lakukan. “Aku ‘kan sudah bilang, aku benci bau amis.”

“Ya sudah, sini,” Pengertian, Yi Xing menutup hidung Xiumin, “Sekarang, ulurkan tanganmu.”

Xiumin patuh setelah hidungnya ditutup Yi Xing. Yi Xing pun mengulurkan tangan setelah mengucapkan satu mantra istimewa anak-anak: ‘gunting, batu, kertas!’.

“Semuanya kertas, Xing.” tawa Chen, merobek ‘kertas-kertas’ itu dengan belati tangkai kacamatanya. Darah mereka jatuh satu-satu ke kubus Chen yang tak bertutup. Setelah darah yang masuk kubus sudah cukup, Yi Xing menggunakan saputangan untuk menghentikan keluarnya cairan pekat di tangan kawan-kawannya. Kubus berpendar redup, tanda proses pembalikan materi genetik mereka—RNA—menjadi DNA telah selesai. Darah di dasar kubus berubah menjadi kabut merah. Chen memasukkan potongan organ si tentara ke alatnya dan melemparkan kubus itu pada Xiumin.

“Bisa tidak kau kasih peringatan dulu sebelum melempar barang padaku?” tanya Xiumin yang sedikit gelagapan menerima operan Chen.

“Kau saja yang mudah kaget dan gugup,” Chen tersenyum miring, apalagi melihat muka Xiumin yang menceng-menceng takut darah, “Cepat gabungkan DNA kita dengan milik tentara itu!”

Xiumin berdecak. Mata dan telunjuk itu masih anyir, tetapi apa boleh buat? Diambilnya segulung kabel USB pendek, kemudian menggunakannya untuk menyambungkan kubus Chen dengan laptop. Sederet kode genetik dari DNA mereka dan si tentara terbaca, memusingkan yang tidak mengerti, tetapi bagi Xiumin, menyambungkan kedua jenis gen ini seperti main puzzle sederhana. Letupan-letupan kecil mulai muncul dari kubus, kian besar seiring banyaknya kode genetik yang telah dihubungkan.

Tao gelisah.

“Meledak.”

Xiumin memiringkan kepala tak mengerti, tetapi Yi Xing yang serba tahu menyampirkan lengannya pada Tao. “Iya, kubusnya meledak-ledak. Nanti kamu boleh meledakkan yang lebih besar. Tahan dulu, ya.”

Tao mengangguk. Wajahnya sekilas kecewa, mirip anak-anak yang harus menunda membeli es krim. Lumayan normal dan imut buat Xiumin—toh Tao paling muda.

Tapi karena tahu apa yang harus Tao tahan, Xiumin tidak jadi menganggapnya normal.

“Selesai,” Xiumin menekan ‘disconnect’, melepaskan kubus dari laptop, lalu menyerahkannya pada Chen, “Nih.”

“Oke, sup gennya sudah matang,” Chen memasukkan kubus rakitannya ke salah satu port Replicator, “Selamat menikmati.”

Warna hijau Replicator berganti merah, tanda bahwa proses fotokopi genetik sedang berlangsung. Lima belas menit. Tao makin resah dan Chen sangat terganggu dengan itu. “Kalau kau tidak berhenti mondar-mandir, aku akan—“

“Sudah, Chen sayang, kau main saja dengan Xiumin. Tao, sini.”

Karena dilarang berisik, Chen cuma bisa bergidik pelan mendengar sayang-nya Yi Xing. Itu pun setelah mencengkeram Xiumin, menyalurkan keinginannya berteriak. Chen memandang Yi Xing seolah bisa membunuhnya dengan itu, tetapi yang dipandang tidak merespon. Yi Xing terus mengelus-elus rambut Tao, bertanya, “Kenapa, Chen?”

Ting!

“Oh, Tuhan, terima kasih!!! Akhirnya aku bisa terbebas dari pemimpin yang tak pernah kusetujui kehadirannya itu dan beraksi!!!” Chen bersorak gembira, bangkit dan berbalik. Ada dua belas orang di hadapannya: Yi Xing, Chen, Xiumin, dan Tao yang baru, dikali tiga. Proses replikasi berhasil.

Xiumin terkesan dengan kopian dirinya, tetapi pusing begitu melihat kopian Chen.

Satu Chen saja bikin sakit kepala dengan suara kalengnya itu, apalagi empat?!

Tao—dan semua salinannya—kini terlihat lebih ceria. “Sudah boleh?” tanyanya—mereka—pada para Yi Xing.

Angguk.

Xiumin, Chen, dan Yi Xing segera berpegang pada Tao begitu bocah jangkung itu mengeluarkan benda serupa tongkat estafet dengan antena kecil di ujungnya. Dalam satu kedipan, mereka berpindah dari ruang Replicator ke atap Departemen Pertahanan. Ribuan tentara di bawah sana, yang baru menyadari adanya ancaman, mengarahkan senjata pada para penyusup. Ratusan tembakan lolos, tetapi Tao sudah membawa kawan-kawannya berteleportasi ke dinding raksasa yang melingkupi Departemen Pertahanan.

“Pengalihan,” Xiumin sekali lagi terkagum, “Hebat, Tao!”

“Hehe, aku tahu.” Ada kesombongan kekanakan dalam suara Tao yang menyenangkan Xiumin. Bocah pendiam itu ternyata tidak semembosankan yang ia duga.

Dinding utara, selatan, timur, dan barat sudah ditanami masing-masing satu tongkat estafet berantena—alias bom—oleh para Tao. Beberapa personel departemen  melepaskan tembakan, tetapi Tao dan kawan-kawan berpindah lagi ke mobil yang terparkir di luar gerbang. Bagus. Chen ternyata ingat memasukkan logam dari mobil untuk disalin di Replicator, walaupun Yi Xing sendiri lupa.

Yi Xing melempar senyum penyemangat pada klonnya di mobil sebelah.

Sampai jumpa.

Empat mobil melesat meninggalkan Departemen Pertahanan.

***

BAM!!!!

***

Tao tertawa. Xiumin agak tidak siap menerima fakta kalau tawa Tao itu hi-pitch, persis anak perempuan, jauh dari kesan ‘pembunuh berdarah dingin’ pada pandangan pertama. Chen melengos. Berisik, dan dia menertawakan ledakan yang tidak lucu. Kenapa dia tidak tertawa waktu aku memotong mata dan jari tadi?, batinnya.

“Kita berhasil, kita berhasil!” Tao melonjak-lonjak girang di kursi, kakinya menginjak pedal gas. Yi Xing juga girang tanpa menampakkannya. “Benar, kita berhasil. Itu karena kehebatanmu. Akan lebih hebat lagi jika kau bersedia memelankan mobil kita, Tao.”

“Kenapa? Menyetir dengan kecepatan tinggi ‘kan bentuk perayaan.”

“Iya, sih, tapi—“

“TAO, HEI, TAO, PELAN-PELAN!!! AWAS ADA POHON!!! ARGH, MOBIL INI MAU TERBALIK!!! APA KAU GILA, PELANKAN!!!”

Tao cemberut. Xiumin benar-benar tidak bisa diajak balapan. Lain dengan Yi Xing yang mengangkat bahunya santai, geli akan kepanikan si ahli komputer. Chen juga lebih baik. Dalam diam, ia menyumbat telinga dengan earphone dan mendengarkan lagu rock di tengah kebut-kebutan tanpa lawan ini.

Perlahan Tao menurunkan tekanan kakinya pada pedal gas. Xiumin bersandar lega, meskipun wajahnya sudah seperti pelangi, merah-kuning-hijau tak karuan. Yi Xing menyodorkan termos berisi sup hangat yang semula terletak di dasbor. “Pereda mual.” jelasnya sebelum menyandarkan punggung pada jok dan memejamkan mata.

Sejauh ini tidak ada inhibisi. Kelompoknya akan bebas merusak selama setidaknya seminggu ke depan.

***

“Ada berita buruk. Lebih buruk dari kehamilanmu.”

“Apapun itu, kau tetap harus bertanggung jawab untuk bayi ini!!!”

“Entahlah.”

“Apa maksudmu? Menikahiku dan menafkahi bayi ini tidak sesulit itu, ‘kan?”

“…HIV-ku positif, Sayang. Kau mungkin tertular juga.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Fatal Plot

CAST

Yi Xing as Glycoprotein Receptor (gp-120-gp-41 Complex)

Chen as Reverse Transcriptase

Xiumin as Integrase

Tao as Protease

Red-eyed Soldier as Reversely-transcripted DNA

??? as Man with HIV

??? as Man with HIV’s couple

.

SCRIPTWRITER

Liana D. S.

.

inspired by the biography of

Human Immunodeficiency Virus (HIV)

.

“The greatest crime story with no single protagonist is only a hundred nanometers long.”

—Liana D. S.—

.

fin

.

.

.

.

.

a/n: ada yang ngira ini ceritanya virus HIV? dan oh ya, kubus pencampur gennya Chen itu bayangin aja kayak lambangnya album EXODUS. kan sisinya juga hilang dua, perhatikan baik-baik. dan satu lagi, AKU LEGAAAA BANGET BISA LEPAS DARI KUNGKUNGAN DRABBLE KARENA UDAH SELESAI NIH CHALLENGEKU HAHAHA.

menurut kalian aku harus nulis satu post khusus terkait ini tentang siklus hidup HIV yang mudah dimengerti?

Advertisements

15 thoughts on “Fatal Plot

  1. Aq malah keinget film Terminator 2 : judgement day yg dimainin pakdeq ya Li, Arnold Schwarzenegger. Hahay. Wktu mau ngehancurin gedung Cyberdine ntu

    I’m never thinking kalo ini ank2 Hiv. Eo? Berarti 4 anak ini kakak adek? Atw cuma anak2 yg senasib? Whatever lah, aq cm menikmati kata demi kata yg kau rangkai, and least, speechless sndri pd knyataan di akhir itu.
    Liana dng plot twist? Ra gumun.
    Hahay

    Like

    1. wahaha kakak pake ngaku2 ponakannya pakde arnold lagi. deuh -.-
      jadi sebenernya mereka ini komponen dari virus hiv, ada enzim2, materi genetik, n permukaannya. anggapannya yah… mereka itu keluarga tdk sedarah gitu deh, klo dalam bentuk org. biasalah kak film penjahat2 begini gengnya kyk apa :p

      Liked by 1 person

  2. tunggu tunggu… jd ceritanya 4 manusia itu adalah virus HIV?? yang nembus pertahanan tubuh kita terus bikin replika-replikanya abis itu ngebom dan menghancurkan pertahanan kita??

    kalo bener.. waaahh ga kepikiran sama sekali pas baca, tadinya aku pikir ada hubungannya ama cerita Harry Potter pas nyebut2 Departemen Pertahanan, tau-taunyaaa… dan cerita ini nunjukin banget kalo kamu adalah anak kedokteran.. hehe
    kerenlah pokoknya…

    Like

  3. ini keren abis, mikirnya njebolin pentagon ternyata departemen pertahanan itu pertahanan tubuh manusia.

    kak li emang selalu bikin kejutan di akhir cerita ya

    Like

  4. YAAMPUN KAKK JADI MEREKA ITU VIRUS?! VIRUS HIV?!

    Atulah aku gapaham kenapa akhirnya mereka malah ternyata virus huft TAPI INI KEREN ASTAGA AKU GA NYANGKA CHEN SAYANG KAMU TERNYATA VIRUS SELAMA INI :””””” Aduh bisa kepikiran begini yaa golden banget sihh. Daebak, thor dulu deh :””D hehehe

    Aku suka karakter2 disini aduhh yixing yang pendiem gitu yaanpun hati ini gakuat nganggep dia pasti cool banget, xiumin ahli komputer yaampun aku demen tokoh di cerita ginian yg jadi peretas nya gituu, tao yang serius imut banget minta dikantonginnn pas terakhir2, sama CHEN SAYANG KAMU BERISIK2 GEMESIN GITU YA ADUH MAIN2 SAMA MATA DAN JARI ORANG

    SUKA BANGET KAKAKKK! Aduh walauoun pas baca description nya ini exo-m new formation lgsg baper2 gimana gt ya. Apalagi kalo dikaitin sama sekarang exo-m tinggal (uhuk) tiga (uhuk) TAPI APAPUN ITU AKU SUKA LAHH, GA NYANGKA BANGET INI SEMACEM REPLIKASI VIRUS HIV. Semangat terus kak lianaaa! 😀

    Like

    1. ya ampun apalah ini haha, sore2 dapat komenan panjang itu lebih sesuatu dari jambulnya tante syahrono.
      jadi ya ini sebenernya penggambaran gimana virus hiv itu mbobol sel imunitas tubuh kita. komplotannya yixing ini adalah satu virus hiv yg utuh. kalo virus hiv kan ada bagian yg buat nusuk sel, buat nggandain diri dan sebagainya nah mereka nih sama.
      DAN YA KITA SAMA2 FANGIRLING AN SAMA CHEN SUDAHLAH YA AKU MEMANG SUKA BANGET KARAKTER COWOK GANTENG PSYCHO MACAM JONGDAE-YA INI.
      iya dong exo-m new formation, sekarang aku gak enak ati kalo mau masukin yg dua ntu… pertama mau pasang enam juga sbnernya tapi gak muat, aku gak tau juga yg dua dijadiin apanya virus hiv kan.
      satu lagi.
      EXO-M MASIH BEREMPAT GAK SIH ADUH TAO YA PULANG NAK… T.T
      ah, sudahlah random lagi, makasih sdh mampir ya huhu.

      Liked by 1 person

      1. YA KALO BERTIGA ENTAR MAKNAENYA CHEN DONGGGGG ENTAR YANG NGERAP SIAPAA YANG SUKA MANJA2 NYEBELIN SIAPAAAA? :””” AH LAMA2 EXO JD BANTET SEMUA INI KALO YG TINGGI PADA KELUAR SEMUAHH HUHUHU

        Like

  5. Huaaahhh… Aku baca ini lima kali balik dulu baru paham apa maksudnya… Huh… Super keren deh… Xiumin dibuat lucu banget disini.. :v
    maaf ya eon.. Kayaknya komennya ngga maksud bgt.. :v 🙂

    Like

  6. Duh, saya tertipu mentah-mentah baca ini!
    Dikira cerita ini bakal ada adegan macam film-film aksi dan aku pikir mereka itu teroris atau apa, tapi ternyata…

    Ah, sudahlah, yang penting fic kakak bagus dan seru! ❤

    Like

    1. halo aiko ^^ huhu terima kasih sdh ngomen di setiap ficku ya, aku bingung ngebalesnya satu2 gimana, jadi kuharap salam singkat ini saja cukup! sekali lagi terima kasih banyak *and keep following me *bow

      Like

  7. Tiba2 nyasar kesini gara2 kemaren baca ficnya kak Liana yang MAMA-12 nya Xiumin sama Yoojung… >.< aku jadi penasaran sama fic2nya kak Liana yang laen dan jadilah aku ke sini ^^
    Aku seperti reader2 yang laen juga tertipu waktu baca fic ini :") aku kira ini ceritanya tentang agen rahasia yang lagi jalanin misi yang ada hubungannya sama perang, eh taunya ternyata tentang virus HIV yang lagi nyebarin virus ke tubuh manusi… ya ampun ga nyangka. Baca fic ini bener2 bikin aku ternganga-ngingi (?) lah pokoknya… asik banget baca fic2nya kak Liana… 😀 Apalagi yg castnya EXO-M wkwk
    Eh btw, salam kenal ya Kak… Aku Nike 96liner 😀 😀

    Like

    1. halo nike ^^ hehe aku minta maaf sebelumnya tapi aku sempet ngeklik blogmu. eh tapi kebanyakan di sana majang poster aku gak nemu ficnya… *kurang menjelajah* maap yaa
      makasih ya udh mau baca fic2ku ^^

      Like

      1. kak liana udah mampir ke blogku kah? waah… gpp kak.. 😀 emang akhir2 ini aku lagi banyak bikin artwork macam poster header sama banner… aku udah jarang bikin fanfic… ^^
        jangan baca fanficku kaaaak T_T masih acak2an dan jelek banget T_T

        Like

  8. Ga mudeng sampe akhir kalo empat makhluk tampan itu jadi virus HIV hahaha
    KIrain mau jebol departemen pertahanan negara, ternyata antibody manusia ckckck
    Aku padahal udah bayanginnya bakal kaya terminator dkk, ternyata eh ternyata daku tertipu
    Jenius sangat deh ka Li ini. Bikin nganga selama baca nya hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s