Angelic Remnants

exo-pathcode-suho

ANGELIC REMNANTS

scriptwriter Liana D. S.

starring

EXO’s Suho (Kim Joonmyun)

feat SHINee’s Minho, Red Velvet Irene (Bae Joohyun), and f(x)’s Sulli (Choi Jinri)

genre Hurt/Comfort, Drama, Friendship, slight!Romance duration Oneshot (3,2K+ words) rating Teen and Up

.

.

How to fix a broken angel.

***

“Joonmyun!!!”

“Joonmyun-oppa!!!”

Dua suara, satunya ngebas memuat kelakar dan yang lain melengkingkan frustrasi, memanggil Joonmyun yang hampir membuka pintu kelas. Sepasang lengan panjang menarik Joonmyun, lalu memutar tubuh itu dan menjadikannya tameng. Joonmyun membuang napas pelan sementara pemuda yang bersembunyi di baliknya—Minho—menghindari pukulan gadis jangkung di depan Joonmyun—Jinri.

“Minho-oppa, kembalikan PR fisikaku!!!” Brutal, Jinri membuka tas sekolah kakak lelakinya, tetapi Minho dengan santai melangkah menjauh hingga pegangan Jinri terlepas. “Hanya jika kau memberitahuku nomor ponsel Jung Soojung!”

“Soojung takut pada mata kodokmu itu, tau. Dia tidak menyukaimu; hei, kembalikan!”

“Nomor ponsel Soojung dulu!”

Oppa!!!”

Choi Minho sebaya dengan Joonmyun, sama-sama kelas 3, sedangkan Choi Jinri baru kelas 1. Pertengkaran kakak-beradik ini seolah tiada habisnya. Bahkan ketika Jinri berada di lain tempat, konflik mereka berdua masih sering dibawa-bawa Minho dalam obrolan jam makan siang. Joonmyun berperan sebagai juru damai buat sepasang saudara yang nyaris tak pernah akur ini. Ya, untung hanya nyaris, karena mereka berdua sesungguhnya sama saja dengan kebanyakan kakak-beradik: saling menyatakan cinta dengan cara berdebat.

“Hei, kembalikan bukunya, nanti kuajak kau bertemu langsung dengan Jung Soojung di ruang OSIS.”

Bibir Minho mengerucut. “Aku belum berani, Myun-ah.”

“Masa bintang basket sekolah takut sama pengurus OSIS junior?” goda Joonmyun, “Sudahlah, gampang itu. Kembalikan dulu buku PR-nya Jinri.”

“Bicara dengan gadis yang disuka tidak semudah kelihatannya. Imejku yang keren ini bisa rusak berantakan cuma karena satu cewek Jung,” Mendesah keras, Minho mendaratkan buku bersampul plastik rampasannya di kepala si empunya buku, “Nih, kukasih.”

“Memang bukuku, ‘kan?” Jinri meleletkan lidah pada Minho, lalu tersenyum manis pada Joonmyun, “Terima kasih, Joonmyun-oppa benar-benar baik! Seandainya saja aku bisa menukar si kodok itu denganmu, aku pasti akan senang punya kakak!”

Joonmyun terkekeh, Minho hampir menyentil Jinri, tetapi Jinri melesat kabur sambil mengejek Minho.

“Dasar kodok tukang ngiler!!!”

“Awas kau, Choi Jinri! Puding jatahmu akan kusikat sepulang sekolah!!!”

Balasan terakhir Minho membuat Joonmyun terpaksa menyeretnya masuk kelas karena semua orang menoleh pada mereka. Duh, mana ada pemuda 17 tahun yang masih mempermasalahkan camilan dengan saudaranya di tengah keramaian?

Dalam kelas, Joohyun menggeleng-geleng heran. Sebenarnya adegan ini klasik. Joonmyun menarik-narik Minho (yang jauh lebih tinggi darinya) dengan susah-payah dan muka merah, sedang Minho sibuk melontarkan kekesalan pada sang adik nun jauh di sana. Sudah sekitar delapan bulan—berarti 240 kali—Joohyun menyaksikan ini, tetapi tetap saja kegelian. “Jangan menyusahkan Joonmyun terus, Minho-ya.” tegurnya dengan sisa tawa.

“Tapi Joonmyun kelihatannya tidak keberatan.” tukas Minho sebelum duduk di bangku samping Joohyun.

“Dia bukannya tidak keberatan, tetapi tidak berani memprotes,” Joohyun membenahi ikatan rambutnya sembari melirik Joonmyun sekilas, “Nah, aku dengar soal PR di luar tadi. Apa kau sudah selesaikan milikmu sendiri?”

“Iya, tadi Jinri tidak mau memberiku kontak gadis Jung yang kutaksir itu, jadi buku PR-nya kuambil. Eh, tunggu—WAAAA, AKU SAMA SEKALI LUPA! HARI INI 20 SOAL INTEGRAL DAN FUNGSI, YA?”

Joonmyun menepuk dahi, yang terjemahannya: kurasa-aku-sudah-mengingatkanmu-kemarin. Joohyun buru-buru merangkul ranselnya. “Tidak ada lagi pinjam, kerjakan sendiri!”

Tubuh panjang Minho menggelosor ke meja, mengulurkan tangan pada Joohyun yang memang ‘profesor’-nya matematika. “Joohyun-ah… jangan jahat, dong… Janji tidak akan mengganggu kencanmu dengan Joonmyun lagi, deh…

Astaga, Choi Minho, kurang keras kau bicara! Pipi Joohyun bersemu, terlebih ketika Minho mulai mengoceh lagi, “Masih kurang janjinya? Baik, aku tidak akan membocorkan rahasia kencan a la kalian saat menyelesaikan proposal kegiatan OSIS dulu, juga soal kue cokelat asin buatanmu untuk ultahnya Joonmyun, terus—“

“Ya, ya, ini PR-ku, cepat kerjakan sebelum jam pelajaran ketiga!!!”

Cengir kemenangan Minho pun tersungging. “Terima kasih!”

Akhirnya Minho sibuk menyalin PR dan Joohyun bisa bernapas lega. “Aku sakit kepala. Dasar Minho.” dumelnya, memijit-mijit pelipis. Joonmyun tersenyum. “Bukan Minho namanya kalau tidak jahil. Lagipula kenapa malu? Semua toh sudah tahu kita berpacaran.”

“Tapi semestinya detil kencan jadi rahasia kita berdua saja.”

“Terutama cokelat asin itu, pasti.”

Joohyun memukul pelan bahu Joonmyun, malu-malu menanggapi canda kekasihnya. Sekali lagi, Joonmyun tertawa kecil. Ia sangat terbiasa dengan Joohyun yang cerdas dan tegas sejak sama-sama mengurus OSIS, tetapi sisi Joohyun yang ini terlalu manis untuk tidak dinikmati. Tiap senyum malu, senyum bahagia, senyum sedih, bahkan tangis dan ungkapan kekesalan Joohyun tersimpan rapi dalam  ingatan Joonmyun. Hal-hal kecil ini, bersama kejahilan Minho, kejar-kejarannya dengan Jinri, dan ucapan terima kasih Jinri setiap ditolong, merupakan bukti bahwa bahkan untuk orang macam Joonmyun, masih ada kasih.

Maka Joonmyun memaksa senyum lembutnya bertahan sedikit lagi. Joohyun sedang curhat masalah Sooji, adiknya yang belakangan suka pakai baju seksi, membuatnya pusing karena si adik susah dinasehati. Joohyun butuh saran, atau setidaknya seseorang untuk mendengar, jadi Joonmyun memperhatikan.

Diabaikannya tatapan sinis dan bisikan tak enak dari teman-teman sekelas mengenai dirinya sendiri.

***

“Siap meluncur!”

“Tidak boleh!” Tangan Jinri menimbulkan ‘buk’ keras ketika bertemu punggung Minho, “Jangan tiba-tiba melepas tangan dari stang sepedamu kalau sedang di turunan. Kau tidak sadar akan membahayakan gadis cantik yang kau bonceng ini?”

“Berisik. Kau bukan Jung Soojung,” Minho kemudian melambai pada Joonmyun dan Joohyun, “Oke, Myun, Joohyun, aku dan Jinri pulang dulu. Belikan kami oleh-oleh kalau kalian kencan di kafe!”

“Memang siapa yang mau kencan?” Wajah Joohyun merona lagi, “Jinri-ya, laporlah kalau Minho melakukan hal aneh di jalan dan aku akan langsung mengadu pada juniorku!”

Junior yang dimaksud Joohyun tentu saja Soojung.

“Pasti, Eonni!” Jinri mengacungkan jempol gembira dan Minho yang terpojok cuma bisa cemberut. “Iya, deh, aku tidak akan ngebut…”

“Sungguh?” Joonmyun malah lebih mengkhawatirkan Jinri ketimbang kakak Jinri yang asli, “Minho-ya, kau harus hati-hati benar. Di turunan itu sering terjadi kecelakaan, bukan?”

Kadang, Minho terkesan dengan sikap serius Joonmyun yang agak berlebihan—sekaligus bersyukur karena diperhatikan. Karenanya, ia tidak meledek Joonmyun dan mengangguk tanda patuh. “Kau juga hati-hatilah. Ah, tetapi hari ini kau pulang dengan ayahmu, ya?”

Tidak ada satupun yang menyadari kegetiran dalam lengkung senyum Joonmyun tatkala menjawab pertanyaan itu.

“Tidak dengan Ayah, sih, tetapi aku dijemput.”

“Oh, setidaknya masih lebih baik dibanding mengayuh,” Minho melambai lagi, “Sampai besok!”

“Sampai besok, Oppa, Eonni!” Jinri mengikuti kakaknya melambai dan sepeda Choi melaju pulang. Tinggallah Joohyun dan Joonmyun di halaman sekolah. “Kau tidak pulang?” tanya Joonmyun pada gadis mungil di sisinya, yang segera dijawab gelengan. “Aku akan menunggu bersamamu. Kasihan kau sendirian.”

“Aku bukan anak-anak yang takut kesepian. Jangan pikirkan aku. Pulanglah duluan sebelum Sooji mengorek-ngorek lemari tempatmu menyimpan pakaian-pakaian ketatnya.”

Bibir Joohyun seketika membulat. “Benar juga! Baiknya aku cepat pulang!” Joohyun hendak berlari meninggalkan Joonmyun, tetapi sebentar kemudian ia berbalik.

“Ada apa?”

Hening. Joohyun mematung. Ditatapnya Joonmyun dalam-dalam tanpa mempedulikan manik Joonmyun yang menentangnya balik. Mata itu menyimpan sesuatu di baliknya, tetapi kali ini Joohyun tak dapat menebak. Joohyun hanya merasa bahwa jika ia pulang sekarang…

“…aku akan baik-baik saja, Joohyunie.”

Joonmyun tidak akan baik-baik.

Tapi Joohyun menyerah; toh kekhawatirannya tidak berdasar. “Baiklah, aku pulang. Jangan kangen aku.” guraunya, menutupi kecanggungan yang mendadak mengisi ruang antara ia dan Joonmyun.

“Tidak janji, ya.” Joonmyun merasa lidahnya gatal; ia jarang merayu, tetapi lumayan lega karena Joohyun tampak senang. Gadis itu melambaikan tangan, wajahnya berbinar, sebelum akhirnya pulang juga, berjalan searah dengan Minho dan Jinri.

Lengkung tipis yang sejak pagi terpaksa dipasang Joonmyun di bibir lenyap setelah Joohyun menghilang di tikungan. Joonmyun lelah tersenyum. Lelah berbohong. Lelah dicela diam-diam oleh hampir semua siswa di setiap sudut sekolah. Ia sungguh ingin bersandar pada seseorang untuk menghilangkan beban ini.

Harusnya tadi Joohyun kutahan dulu. Minho dan Jinri pasti mau jika kuminta tinggal sebentar hingga aku dijemput, tetapi….

Tidak. Tidak perlu. Joohyun, Minho, dan Jinri orang-orang terdekat Joonmyun. Joohyun pacarnya. Minho sahabatnya. Jinri adik Minho, berarti adik Joonmyun juga, terlepas tidak adanya hubungan darah antara mereka. Joonmyun tidak ingin membalas kebaikan mereka selama ini dengan tumpahan masalah. Itu akan merepotkan saja, menukar senyum mereka dengan air mata yang Joonmyun tak pernah keluarkan lagi.

Barangkali ini hukuman. Karena tidak menjadi sahabat yang baik untuk Minho. Tidak menjadi kekasih yang romantis untuk Joohyun. Tidak menjadi kakak yang selalu ada untuk Jinri.

Dan tidak menjadi anak yang baik untuk Ayah.

Biarlah. Bukankah hukuman berat adalah pembersih dosa terbaik, berapapun bobot dosanya?

Deru mobil terdengar dari arah gerbang. Joonmyun, yang semula duduk berteduh, segera bangkit dan melangkah gontai ke sana. Jemputannya sudah tiba, menimbulkan keriuhan kecil akibat kasak-kusuk penasaran para siswa.

“Kenapa ada mobil polisi?”

“Lihat, mantan ketua OSIS itu ditangkap!”

“Kukira Kim Joonmyun orang yang lurus, ternyata dia…”

“Duh, itu ‘kan karena ayahnya masuk penjara! Dia dipanggil sebagai saksi! Jangan sembarangan menyebar gosip, deh!”

“Tapi tetap saja—“

Joonmyun menulikan telinganya dari semua pembicaraan menyakitkan tentang dirinya. Ralat. Ayahnya.

Dua orang polisi, satu pria dan satu wanita, membawa Joonmyun ke kantor polisi untuk keperluan penyidikan. Joonmyun kooperatif, maka tidak ada perlakuan kasar yang ia terima. Dua polisi itu malah seperti orang tua, menanyakan bagaimana kelasnya tadi, apakah Joonmyun sudah makan siang, dan sebagainya. Senyum palsu kembali muncul di wajah Joonmyun. Pemuda itu sesungguhnya menertawakan ironi dalam mobil polisi ini, di mana ia merasa menjadi anak sungguhan tanpa orang tua aslinya mendampingi.

***

Minho tidak basa-basi lagi. Petang itu, ia nekat membawa kabur sepeda motor pamannya dan melesat ke rumah Joonmyun. Tadi Joohyun menelepon, tersedu-sedu mengabarkan bahwa rumah Joonmyun disegel. Ponsel Joonmyun tidak aktif sehingga Joohyun gagal menghubunginya. Tanpa pikir panjang, Minho meminta Joohyun menunggunya. Jinri merengek minta ikut karena ia ingin tahu kondisi Joonmyun-oppa-nya dan, biarpun sambil mendecak kesal, Minho mengizinkan Jinri ikut.

Sial! Aku tahu kabar burung tentang Joonmyun selalu gila, tetapi aku tak percaya yang satu ini benar!

Keadaan rumah Joonmyun lengang. Hanya ada empat petugas, memeriksa rumah, dan Joohyun di luar gerbangnya. Minho sempat khawatir ‘tertangkap basah’; ia terlihat belum cukup umur untuk mengendarai motor, tetapi beruntung, para polisi sedang disibukkan oleh tugas lain.

Fokus mereka kurang baik, batin Minho.

Tapi fokusnya sendiri bergeser ke garis polisi yang melintangi gerbang rumah mewah Joonmyun.

Eonni!” Jinri melompat dari sepeda motor, serta-merta memeluk Joohyun. Pipi Joohyun sembab, bawah matanya agak membengkak. “Jinri… Minho… ini…”

“Iya, aku tahu,” Minho menyusul adiknya turun, “tetapi Joonmyun pikir kita tidak tahu.”

“Apa, sih? Oppa, Eonni, jelaskan padaku! Apa Joonmyun-oppa melakukan tindakan kriminal?”

“Nanti saja tidak apa-apa ‘kan, Jinri-ya? Tidak baik membicarakan keburukan di tempat terbuka begini,” Kentara sekali getar suara Joohyun, “Minho, apa kau tahu rumah Eunwoo-ahjumma yang baru?”

Minho mengangguk mantap. “Sayangnya, aku tidak bisa mengantarmu ke sana. Motorku…”

“Tak masalah. Bonceng saja Jinri, kau cukup beritahu aku alamatnya. Jangan lupa nyalakan terus ponsel kalian, siapa tahu aku tersesat dan menghubungi kalian.”

Minho-Jinri dan Joohyun berpisah lagi setelah Joohyun memahami rute yang harus ia tempuh. Dalam kekalutan dan hujaman pertanyaan-pertanyaan penasaran Jinri, Minho memacu sepeda motornya ke rumah ibu Joonmyun, Kim Eunwoo. Sementara itu, Joohyun menghela napas berulang-ulang di dalam taksi—dan mengutuk diri sendiri karena gagal meredakan isaknya. Kacau. Padahal ia tak boleh kelihatan hancur di hadapan Joonmyun.

***

Kontras dengan rumah (mantan) suaminya, tempat tinggal Kim Eunwoo sederhana tetapi nyaman. Satu lantai, bertaman kecil. Dari luar terkesan bersih. Jalanan di depan rumah pun tidak sering dilalui kendaraan bermotor yang bising. Joohyun pikir suasana damai ini akan sangat membantu penyembuhan luka hati Joonmyun. Ia tentu akan membantu juga, semampunya.

Tanpa sadar, genggaman Joohyun pada tepi cardigannya mengerat. Joonmyun selalu memberinya nasihat bagus. Menyimak kisahnya. Bersimpati. Nyaris tidak pernah memegang tangan, tidak pernah pula memeluk, apalagi mencium, tetapi senantiasa membuat hatinya hangat. Joohyun wajib membalas dengan lebih hebat, tidak cuma semampunya.

Tapi bagaimana?

“Joohyun,” Tahu-tahu saja Minho tiba, “kenapa tidak masuk duluan?”

“Aku menunggu kalian. Aku… sudah lama tidak ketemu Ahjumma… Takut kalau suasananya canggung…”

Bohong, sih. Minho dan Jinri tahu, hanya tidak mau membahasnya. Jinri menggandeng Joohyun dan mengajaknya masuk. Minho berjalan pelan di belakang mereka, memikirkan beberapa hal terburuk dan jalan keluar untuk Joonmyun dari hal-hal itu.

“Maaf, ya, Joonmyun masih mandi, jadi kalian harus menunggu dulu. Sebentar lagi dia turun. Kalian mau minum cokelat? Ah, apa kalian sudah makan? Minho biasanya menambah seporsi lagi di sini biarpun sudah makan di rumah.”

Eunwoo tidak sepandai Joonmyun dalam menyembunyikan perasaan. Minho dan Jinri hapal ciri ini: Eunwoo akan lepas dari nature pendiamnya dan jadi sangat cerewet jika sedang kalut. Tidak apa-apa. Dinilai dari pakaian formal yang Eunwoo kenakan, kemungkinannya dua: dia baru pulang kerja atau dari kantor polisi, dimintai kesaksian. Sama-sama melelahkan, jadi aktingnya yang buruk ini dapat dimaklumi.

“Ehm… apa saja boleh kok, Ahjumma. Ehe, terima kasih banyak.” ucap Minho. Joohyun menyikut Minho, menganggapnya tidak sopan. Seperginya Eunwoo, Minho baru menanggapi Joohyun, berbisik sepelan mungkin. “Eunwoo-ahjumma itu beda dengan Joonmyun. Kalau sedih justru lebih suka sibuk sendiri daripada diam atau berinteraksi dengan orang lain. Sudah, biarkan.”

Beberapa menit berlalu. Joonmyun masuk ruang tamu dengan nampan, di atasnya ada empat gelas cokelat panas. Secara naluriah, Joohyun mengambil alih nampan Joonmyun; jemarinya sempat menyapu punggung tangan Joonmyun karena itu.

Punggung tangan itu dingin.

Dan gemetar.

“Bagaimana kalian tahu aku di sini?” tanya Joonmyun, dan Minho sangat membenci senyum topeng kawannya ini. Sepintas lalu, senyum itu indah, tetapi mengerikan bagi Minho dan Jinri yang telah lama mengenal Joonmyun. Joohyun saja, yang baru dua tahun delapan bulan mendalami Joonmyun, terpaku di kursinya, ngeri. Seakan-akan ia menyaksikan jiwa Joonmyun tercabik, menyisakan tubuh kosong.

“Joohyun menonton berita tentang ayahmu di televisi. Ia meneleponmu karena khawatir, tetapi tidak kau angkat. Dia ke rumahmu, ternyata rumahmu disegel polisi. Dia juga yang menyarankan kami semua berangkat ke sini,” Minho menyesap cokelatnya, “Jadi, ada yang mau kaujelaskan pada kami? Terutama pada si pendek ini yang tontonannya acara musik melulu.”

Jinri, pada siapa olok-olok ‘si pendek’ merujuk, tak terima. “Aku juga lihat berita, kok, tetapi…” Ia tertunduk, “…baru tahu kalau ayah Joonmyun-oppa tersangkut kasus korupsi dan pencucian uang… L-lagipula tidak semua stasiun televisi menayangkan kasus ini karena kasusnya tidak besar…”

Bukan kasus besar. Ya. Korupsi terjadi setiap hari, beberapa berhasil dibongkar, yang lainnya tidak. Yang dibongkar pun tidak semuanya diungkap media.

Tapi bagi Joonmyun, jelas, ini kasus besar. Raksasa. Raksasa penghancur hidupnya.

“Menjelaskan. Apa yang belum jelas? Jinri sudah tahu kasus hukum apa yang menjerat ayahku. Kau,” –memandang Minho—“dan Joohyun malah duluan tahu. Lalu?”

“Kenapa kamu bungkam soal ini?” Pertanyaan itu meluncur tak terkendali dari mulut Joohyun, “Kenapa sepanjang hari, kamu terus berbohong? Tidakkah itu menyakitkan, memendam kepahitan tanpa sedikitpun berbagi?”

Hening. Joonmyun tidak lagi tersenyum.

“Aku punya racun,” ujarnya, setengah bergumam, “Kalian tahu ini racun. Aku ingin kalian meminumnya tanpa alasan jelas hanya karena aku diharuskan meminumnya oleh seseorang. Apa kalian masih mau berbagi denganku?”

“Tidak, tetapi menceritakan masalahmu dan minum racun itu sangat berbeda.” sahut Minho, realistis.

“Untukku sama, tidak, lebih buruk,” sela Joonmyun, “Seperti mencekoki kalian dengan racun yang mestinya membunuhku, tetapi justru aku yang selamat dan kalian yang mati. Kita tidak boleh bersama dalam kesedihan. Aku tidak bersama kalian untuk tujuan itu, bukan?”

Jinri mulai kehilangan sosok Joonmyun pada titik ini. Pandangannya beralih pada segelas cokelat yang ia hirup dengan takut-takut. Lain dengan Joohyun, ia tegas menghadapi sosok Joonmyun. Yang bagaimanapun.

“Kalian datang saja, aku sudah senang sekali. Aku tidak butuh kata-kata penghiburan karena aku baik.”

“Baik?” Minho menyerang, nadanya berubah, “Luar biasa. Cuma kau anak yang merasa baik ketika ayahnya terancam hukuman mati.”

Deg!

Tidak bisa.

Joonmyun sadar ia tidak boleh mengertakkan rahangnya. Tidak boleh menggenggam sandaran tangan pada kursi. Tidak boleh kehilangan raut kosongnya. Tapi gagal.

Ayahnya sangat mungkin dihukum mati. Kesaksiannya di kepolisian tidak membantu banyak, tetapi menguatkan terwujudnya kemungkinan tersebut. Joonmyun pandai, dia tahu penggelembungan rekening dan beberapa ‘proyek’ yang sempat ia curi dengar dari percakapan ayahnya di ponsel, jika kebetulan ayahnya ada di rumah. Buat apa menutupi daging busuk, baunya tetap akan tercium—ini prinsip Joonmyun, maka ia ungkap semuanya. Selesai. Dengan kesaksiannya, daftar tugas polisi tidak akan bertambah panjang. Kekayaan negara yang diambil ayahnya akan dikembalikan. Hukum tegak dan para penjahat jera sebelum memiliki niat untuk berbuat jahat lagi.

Semua senang.

Kecuali ayahnya, jelas. Dan Joonmyun. Mantan ketua OSIS yang menerapkan peraturan sekolah dengan disiplin. Malaikat pelindung junior yang juga dihormati senior. Langganan pujian guru-guru. Itu gelar-gelarnya dulu. Sekalipun malaikat, yang namanya anak koruptor tetap saja anak koruptor. Anak koruptor, dengan keluarga yang terpecah semudah gelas kaca, ayahnya ditembak mati karena rakus makan uang rakyat. Sialnya, koruptor itu pria yang Joonmyun kasihi. Pria yang membuat Joonmyun menyesal karena sebagai anak tidak bisa membentengi ayahnya dari bujukan iblis. Setelah peluru algojo menembus kepala ayahnya, adakah yang tersisa dari Joonmyun? Tak ada jaminan.

Satu.

Dua. Tiga. Lama-lama deras.

Joonmyun tertunduk, membiarkan tetes-tetes yang jujur itu jatuh ke pangkuan. Percuma berlagak sesempurna malaikat, sayapnya terlanjur dipatahkan berita korupsi di media massa. Tidak, siapa yang malaikat? Joonmyun manusia, baru 17 tahun, perasaan mudah sekali mengambil kendali atasnya.

“Ayah…”

Lirih memanggil. Tapi sosok yang diharapkan tidak datang.

Jinri mendekat. Memeluk Joonmyun tanpa ragu. Tersedu lebih keras, padahal Joonmyun terisak sesekali saja. Gadis itu putus asa, tak tercetus dalam benaknya kalimat penyembuh yang mampu menolong Joonmyun. Tapi ia menyayangi Joonmyun. Sangat. Ia ingin Joonmyun tahu bahwa untuk setiap malaikat yang jatuh, akan ada tangan-tangan yang menangkapnya. Sepasang tangan Jinri yang memeluk Joonmyun dari depan. Sepasang tangan Joohyun yang menangkup tangan kanan Joonmyun. Sepasang tangan Minho yang menepuk bahu Joonmyun, menguatkan.

“Kami di sini, Myun. Kami di sini.”

Mereka di dekatnya. Sentuhan mereka tidak terbatas di kulit, tetapi jauh menjangkau Joonmyun yang baru sadar pentingnya membuka diri.  Membiarkan tangan-tangan itu masuk dan membalut lukanya sebelum bernanah. Merajut serpihan-serpihan harap menjadi sayap yang utuh supaya sang malaikat dapat kembali terbang. Dengan tangannya yang bebas, Joonmyun menyentuh tangan-tangan itu, satu-satu.

Dalam keadaan terburuk, mereka yang setia mendampingimu adalah pecinta sejatimu.

Tulisan ibu Joonmyun dalam sebuah buku itu terbukti bukan bualan.

Dan Joonmyun bersyukur tangan-tangan pecinta sejatinya merengkuhnya sebelum ia retak lebih jauh.

***

Oppa cengeng.”

“Atas dasar apa kau mengataiku cengeng? Yang nangis bombay itu kau, ingat!”

Bertengkar lagi. Joonmyun melerai seperti biasa. “Kalian tidak cengeng. Aku yang cengeng.” katanya sengau saat mengantar Choi bersaudara dan Joohyun ke depan rumah. Jinri menggeleng berulang-ulang. “Tidak, Joonmyun-oppa menangisnya cuma sebentar. Minho-oppa tuh, tidak menangis tetapi matanya berkaca-kaca terus.”

Karena dendam pagi harinya, Minho menyentil kening Jinri lagi, yang sekarang berhasil. “Ha! Rasakan! Dari tadi disuruh pakai helm tidak dipakai-pakai, dasar tukang ngomel!”

“SAKIT, TAU!”

“Oh ya, Joohyun, lebih baik kau kuantar pulang saja. Gantian dengan Jinri. Sudah larut, nih.”

Jinri memukul kakaknya lagi karena diabaikan. Joohyun nyengir. “Tidak usah, aku—“

“Akan kuantar,” Joonmyun menautkan tangannya dengan sang kekasih, “Ada sepeda, kok.”

Sengatan listrik kecil tak pernah absen merambati Joohyun jika bersentuhan dengan Joonmyun, mempercepat aliran darah ke wajahnya.

“T-tapi kau akan capek mengayuh malam-malam…”

“Daripada kau pulang sendiri, aku tidak tahu apa kau akan aman atau tidak. Hitung-hitung balas budi untuk hari ini.”

Aih, kenapa Joonmyun tersenyum begitu tulus? Joohyun ‘kan tak kuat menolak.

“Yah, kalau kau bersikeras sih… terserah. Pokoknya jangan sampai ada di antara kalian berdua yang masuk angin!” Minho memperingatkan seraya mengencangkan helmnya, “Kami pulang dulu, sampaikan terima kasihku sekali lagi pada Eunwoo-ahjumma, ya!”

“Joonmyun-oppa istirahatlah yang banyak!”

Itu pesan cinta sederhana Choi bersaudara untuk Joonmyun sebelum pergi. Joonmyun masuk sebentar untuk mengambil jaket dan pamit pada ibunya, sementara Joohyun menunggu dengan kaki terayun-ayun senang. Cahaya Joonmyun telah menemukan jalan pulang. Joohyun akan pastikan cahaya itu tidak berkeliaran lagi meninggalkan pemiliknya.

Tubuh Joohyun mendadak terselimuti jaket besar. Gadis itu menoleh dan…

…cup.

“Pipi basah tak menyenangkan dicium, jadi jangan sering-sering menangis, Joohyunie,” –nyatanya Joonmyun mendaratkan bibirnya di pipi basah Joohyun yang lain—“Terima kasih banyak. Aku akan menguatkan diriku supaya pipimu tidak pernah dibasahi air mata lagi.”

Gara-gara bisikan ini, Joohyun sampai harus berpegang pada Joonmyun untuk berdiri dari kursinya. Kakinya serasa lumpuh. Eunwoo pun dibuat cemas, kalau-kalau Joohyun demam karena wajah gadis itu berubah semerah kepiting rebus. Joohyun tentu tidak bisa bilang alasan sesungguhnya.

Dasar Joonmyun.

Sepanjang perjalanan, sebelah lengan Joohyun terus terlingkar di perut Joonmyun. Mengerti usaha Joohyun untuk menghangatkannya, Joonmyun mengeratkan lengan Joohyun padanya dengan sukarela. Joohyun tersenyum; tangan Joonmyun terasa hangat dalam sarungnya.

“Jaketku dingin karena angin. Kau bisa beku seperti makanan di supermarket kalau tersentuh.” ucap Joonmyun ketika Joohyun menyandarkan kepala di punggungnya.

“Tidak apa-apa.”

Ya, tidak apa-apa. Karena di punggung itulah sepasang sayap Joonmyun yang tak terlihat berangsur terkembang, melawan pedihnya luka.

Punggung itu tidak lagi menghadapi dinginnya kebencian dengan Joohyun bersandar di sana.

***

TAMAT

gatau kenapa ini jadi panjang T.T i have too much feels for this leader. duh.

Advertisements

11 thoughts on “Angelic Remnants

  1. huhu.. Aku hampir nangis tadinya.. Tapi pertengkaran choi bersaudara bikin suasana harunya buyar.. Haha
    Aku suka kopel 2J ini.. Aku juga suka persahabatan Minho-Suho.. Dan aku juga suka duo choi ini bersaudara..
    Aah.. Kesimpulannya.., aku suka fic iniii..
    Gomapata..

    Like

    1. iya segala pair di sini entah kenapa serasa real yak. surene, hoho brothers (suho minho maksudnya), trs choi bersaudara >.< pas banget emang feelku sama mereka oh god.
      buat mas suho kita harus memberi banyak feel emang krn leader satu ini krg mendapat cinta *ciah
      thanks for liking ! XD

      Like

  2. Ehm, setauku itu memeletkan deh Li, bkn meleletkan, koreksi sdkt ya. Hahay.

    Wah, SuRene, pdhl baru aja kmrin aq bikin XiuRene. Tp ini duo leader jg cocok kok dipair-in, jd smart couple deh, sm2 pnter sih mrk.

    Demi apa minho ama jinri gokil bgt, bikin gemes aja liat tingkah mrk. Oh ya nasihat buat Minho, kalo suka ama soojung buruan tembak soalnya jongin jg ngeceng itu cewek #ngarang cerita sndri

    tuh kan, tuh kan, psti d blkg ada belokan di plotnya. Hahay, daebak lah buat Liana

    Like

    1. XIURENE HAHAH BISA JADI BISA JADI! AKU MAMPIR YA KAK NTAR
      oh ya minho. jgn disejajarin sama jongin kak nanti jongin kalah ganteng *yea
      tapi menurutku pribadi sih ini plot twistnya g begitu twisting/? kyk biasanya hehe. oh ya mkasih koreksinya ya kak, tapi kok aku searching susah ketemu ya… di kbbi online juga ga ada (meleletkan juga ga ada sih tapi entah kenapa itu kok sering dipakai ya?)
      makasih sdh mampir kak!

      Like

  3. Kali ini aku ngga tau mau komen apa saking kerennya fic ini. Jadi ninggalin airmata sama sisa ketawa aja ya.. 🙂 keren bgt..

    Like

  4. Bukannya sedih atau berlinangan air mata *lebay baca fic ini, aku malah ngakak liat kakak-beradik Choi yang- Ya ampun, mereka ini KOCAK banget!! :v

    Juga feel saya dengan SuRene juga ngena banget…
    Huhuhu… Sepertinya Suho memang bener-bener ‘a broken angel’ :3

    Like

  5. aaahhh friendshipnya berasa bgt… ade kakak choi rusuh bgt tp bikin suasana ga sedih2 lg.. dan copel itu sweet diakhir cerita..

    kereeen bgt dgn berbagai feel yg ada di cerita ini…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s