Meteor Shower

12829119255_99b589f6b5_z

scriptwriter Liana D, S.

starring

EXO’s Chen and soloist Zhang Li Yin

genre Romance, Fantasy, Fairytale!AU, Drama duration Oneshot (2,9K+ words) rating Teen and Up

.

[this couple is too much for me to handle alone. not seriously beta’d, but my feels wanted it to be published.]

.

Nyanyian malam, putri, dan bintang jatuh.

***

Riak-riak tenang air laut tidak mengaburkan senandung malam yang senantiasa Chen tunggu. Meski lirih, senandung itu mampu menembus pekat langit. Chen akan berlutut di balik awan, menanti dengan sabar hingga nyanyian hebat itu mencapai pendengaran. Betapa merdu. Betapa mengharukan. Kadang, Chen memejamkan mata dan iseng membayangkan sosok yang mengantarkan suara ini padanya, namun gagal. Chen tidak bisa membayangkan siapapun tanpa tahu detil-detil mengenai si empunya suara. Yang aneh lagi, Chen tidak pernah menemukannya di tanah manapun, padahal sang pemilik senandung sepertinya sangat dekat.

“Dia hidup dalam laut, Chen. Tidak bakal ketemu di darat.”

“Oh,” Muka Chen memerah karena ketahuan sedang mencari pelantun senandung cintanya, “kau tahu dari mana?”

Bulan yang ditanya Chen mengarahkan dua matanya ke permukaan laut. “Lihat baik-baik.”

Tapi laut hanya memantulkan wajah langit dan bulan.

Tunggu.

Ada seseorang. Berenang dekat permukaan. Suara jernihnya makin jelas terdengar, meyakinkan Chen bahwa itu si penyanyi misterius yang memesonanya. Chen mencondongkan tubuh dan tepat saat itu, si pemilik suara berbalik. Ya Tuhan. Chen melihatnya. Rambut panjang gelap. Sepasang mata sayu yang berbinar cantik. Bibir merah yang melantunkan lagu kesukaan Chen. Leher jenjang. Tubuh atasnya terbalut kain putih ringan, dimainkan air selama ia berenang. Dan tubuh bawahnya—ekor ikan?

“S-siapa dia?”

“Kau memalukan, Bocah,” ejek Bulan, “Dia itu putri duyung. Jenisnya berenang ke permukaan dan menyanyi setiap siang, biasanya, tetapi dia lebih suka muncul saat malam. Ah, benar. Kau ‘kan bintang yang keluar malam hari saja, pantas kau tak mengenal satupun dari mereka.”

Chen menatap makhluk baru yang ia temukan itu nyaris tanpa berkedip. Bahagia, penasaran, debar gugup bercampur aduk karena Chen tak pernah menyaksikan kecantikan senyata ini. Bukan berarti bintang-bintang di langit tidak cantik. Mereka hanya kalah jauh kalau dibandingkan sang putri duyung. Terlebih Bulan bilang, tak ada putri duyung lain yang berenang malam hari kecuali yang satu ini. Pastilah takdir mempersatukan mereka!

Sayang, setelah mengamati cukup lama, Chen menemukan sesuatu yang kurang menyenangkan.

“Apakah setiap putri duyung… selalu terlihat sedih ketika menyanyi?”

“Tidak, yang muncul siang hari sering menyanyikan lagu gembira sambil bermain,” Bulan menengok ke laut, “Karena kau mengatakan itu… yah, aku jadi menyadari wajah murungnya.”

Sang putri duyung menyelam pulang setelah nyanyiannya usai. Chen nyaris menyusul ketika Bulan menjitaknya. “Kau mau apa?!”

“Bicara dengan putri duyung itu.”

“Bodoh, salah satu komponen cahayamu adalah api! Kau bisa padam dan hancur kalau tercebur ke laut, mengerti?!”

Astaga, Chen sama sekali lupa. Cengiran khasnya terkembang dan Bulan mendengus. “Pulanglah, ini sudah terlampau larut buat anak muda!”

Chen sempat merajuk, tetapi Bulan menyentilnya hingga Chen terlempar ke langit yang lebih tinggi. Sambil mengaduh-aduh karena sakitnya serangan Bulan, Chen melompati awan-awan untuk pulang, menyimpan satu pertanyaan besar untuk sang putri duyung. Pertanyaan yang mungkin tak akan bisa terjawab selama ia tak boleh masuk air.

Kenapa kau sedih?

Oh, satu lagi.

“Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

***

Malam-malam berikutnya, senandung sang putri duyung kian menyayat hati. Chen menerjemahkan raut sendu sang putri sebagai rindu. Putri duyung cantik itu merindukan seseorang—yang Chen pastikan bukan dirinya.

Tiba-tiba, Chen merasa sakit.

Suatu ketika, sang putri duyung menghilang bersama senandungnya. Chen langsung ribut dan gelisah, seolah ia akan mati jika tidak mendengarkan lagu sang putri. Tergopoh-gopoh, ia hampiri Bulan. “Ke mana Putri Duyung pergi?”

“Jangan bingung dulu,” Bulan membalikkan tubuh Chen, “Dia di sana.”

Alangkah lega Chen ketika mendapati sang putri terlelap beralaskan pasir pantai. Chen berjingkat riang, mendekati awan yang tepat berada di atas pesisir, dan mengerutkan dahi kemudian. Pandangnya teralih pada Bulan.

“Ekornya menjadi kaki?”

Bulan mengedikkan bahu.

Sang putri duyung akhirnya terbangun. Perlahan duduk. Ia tampak terkejut dengan sepasang kaki baru yang ia miliki. Digerakkannya kaki-kaki itu sedikit—dan mengerang pelan. Chen yang sensitif seketika cemas. Apa kau kesakitan? Mana yang sakit? Kakimukah?

Tapi putri duyung itu memaksa berdiri dan menapaki pasir dengan dua kakinya. Langkah tertatih sang putri menggetarkan Chen yang terus mengawasi dari langit. Ke mana kau akan pergi? Bukankah kakimu masih sakit? Bisakah kau mencapai tujuanmu dengan selamat?

Beberapa kali terjatuh, beberapa kali pula bangkit. Meski demikian, senyum tipis secara mengejutkan menghiasi bibirnya. Senyum yang tidak terarah pada Chen, tetapi tetap memaku Chen di tempat.

Senyum bahagia sang putri yang pertama kali itu mengagumkan sekaligus menyakiti Chen.

Dengan wajah tertekuk, Chen berangsur menarik diri menjauhi pesisir. Bulan bertanya ada apa. Menggeleng lemah, Chen memutuskan untuk pulang lebih cepat malam itu ke langit yang lebih tinggi.

Putri duyung itu pasti akan pergi menuju orang yang ia rindukan. Orang yang ia cintai. Dan siapapun itu, jelas, bukan Chen.

Biarlah. Toh putri duyung Chen yang tercinta akan lebih banyak tersenyum sekarang. Dan senyum itu luar biasa: penuh cinta, harapan, dan kebahagiaan. Membayangkan ini membesarkan hati Chen sedikit, mengantarnya tidur. Menemaninya melewati malam. Ya, tidak apa-apa. Esok, ia akan mendengar senandung bahagia pertama sang putri duyung.

***

“Kenapa putri duyung itu tidak menyanyi lagi? Bukankah dia sudah bahagia dengan Pangeran Entahlah yang selalu menemaninya di istana? Apa ini cuma perasaanku atau memang ia lebih sering murung sejak masuk istana itu?”

“Kau cemburu?”

Chen menatap Bulan galak. Bulan menelan ludah dan berdeham sebelum menjawab, “Aku dengar dari Matahari, putri duyung itu menukar suaranya dengan sepasang kaki pada penyihir laut.”

“Hah?!” Chen terlonjak bangkit. Percik-percik cahaya di tubuhnya sampai rontok. Menukar? Apa-apaan? “Tidak tahukah ia betapa berharga suaranya?”

“Justru karena itu berharga, maka sepadan dengan kaki yang ia inginkan. Biasa, transaksi jahat penyihir. Lagipula, ia sangat mencintai pangeran itu, maka ia rela mengorbankan apa saja demi bisa bertemu.”

Omong kosong, Chen menggeleng cepat tak terima. Pengorbanan dalam cinta? Bohong! Cinta tidak pernah meminta korban. Apa berdiri dekat jendela menara dengan wajah muram begitu berarti mencinta? Putri duyung itu tidak mencinta, tetapi menyiksa diri!

Bukan.

Chen hanya sulit menerima fakta bahwa putri duyung itu mencintai orang lain sedemikian besar.

Bulan tak bisa memulihkan cahaya Chen yang terus meredup. Bintang itu bersembunyi di balik teman-temannya yang lebih terang supaya tidak ketahuan sedang menangis. Untuk cintanya yang tidak bersambut. Untuk putri duyung yang juga tersedu di menara. Untuk penyesalannya karena tidak berani menyeberang langit dan berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan.

***

Belum lama ini, Chen belajar untuk berdamai dengan perasaannya. Benar ia masih sakit setiap menemukan sang putri menatap kosong ke awang-awang, tetapi merasa sakit tidak akan membantu menyelesaikan masalah. Daripada terus muram, Chen memilih memikirkan cara menyadarkan pangeran itu akan cinta sang putri duyung tanpa harus turun dan bicara langsung. Malam-malam Chen yang sunyi dihabiskan dalam perenungan panjang—yang berakhir hari itu.

Chen menyaksikan beberapa putri duyung melingkar di dekat tebing. Rambut mereka terpangkas sebatas tengkuk, ujungnya berantakan tanda dipotong kasar. Salah satu dari mereka melempar pisau ke atas. Sang putri bisu diminta untuk melumuri pisau itu—yang diperoleh para putri duyung melalui sebuah transaksi sihir menggunakan rambut—dengan darah pangeran. Darah itulah yang akan mengembalikan ekor dan suara sang putri, sehingga sang putri bisa hidup bahagia seperti dulu di laut. Chen terbelalak.

Mereka menyuruhnya membunuh orang yang ia cintai?!

Bertambah terkejutlah Chen ketika putri itu masuk istana dengan membawa pisau pemberian kawan-kawannya. Mustahil! Apakah putri duyung itu akan benar-benar membunuh? Karena keputusasaannya yang tak berujung selama ini? Harus bagaimana Chen sekarang? Mencegah? Tapi ia tak bisa masuk; cahayanya akan menarik perhatian prajurit yang berjaga di seantero istana. Diam dan menunggu? Sial, itu tidak masuk pilihan!

Namun, belum lama, sang putri keluar istana, berlari sekencang mungkin ke pinggir tebing. Tak memedulikan kakinya yang seakan tertusuk ribuan jarum. Debur ombak menenggelamkan pisau yang ia lempar; pisau itu bersih tanpa setitikpun warna merah. Chen menyimpulkan sang putri tidak bisa membunuh. Tentu saja. Sang putri pasti tak akan sampai hati, bahkan untuk sekadar menggores kulit pangeran. Putri itu tak bisa menutupi isaknya. Ia amat kelelahan. Lelah tersenyum untuk pangeran yang ternyata harus menikah dengan putri kerajaan lain. Lelah mencintai secara searah. Dengan segala kelelahan itulah, sang putri berniat memasrahkan tubuhnya pada laut.

Ia jatuh. Menjatuhkan diri, lebih tepatnya, bersama hati yang hancur berkeping-keping, yang ia yakin tak akan utuh lagi.

Dan Chen menerabas hukum alam yang tidak membolehkannya menyentuh air.

“Chen, jangan!!!”

Bulan terlambat. Chen terlanjur melesat dari langit, diikuti berkas cahayanya, lurus menuju sang putri.

Byur!

***

Jika kau tidak menemukan cinta sejatimu di atas sana setelah mendapatkan sepasang kaki ini, pada waktu yang tak kau duga, kau akan mati. Jiwamu akan larut dalam buih di lautan.

Li Yin teringat ucapan penyihir yang menukar suaranya. Barangkali inilah ‘waktu tak terduga’ yang dimaksud penyihir itu. Cinta yang mati-matian Li Yin pertahankan hanya kesia-siaan. Tragis memang dan Li Yin tidak menyalahkan siapa-siapa. Mencintai bukan suatu kesalahan. Ia selalu berpegang pada keyakinan bahwa mencintai adalah sebuah anugerah. Sekalipun ia ditakdirkan melebur menjadi buih karena mencintai, itu tak masalah.

“Bangun dan sapalah laut teman lamamu, Putri.”

Suara siapa? Bukan suara pangeran yang gagal dibunuh Li Yin, pasti, tetapi suara itu riang dan hangat. Sehangat lengan-lengan yang kini merengkuhnya dalam sebuah pelukan. Dekat sekali. Li Yin membuka mata dan disambut dua manik hitam berbinar serta seulas senyum haru.

Manusia?

Tapi manusia tidak bisa bertahan maupun berbicara dalam laut.

“Siapa?”

Sejenak pemuda yang memeluk Li Yin itu tertawa kecil tanpa menjawabnya. “Suaramu pulih!”

Benar. Li Yin baru menyadari itu dan sangat senang karenanya. Pemuda itu kelihatan lebih senang lagi. “Aku Chen,” –jarak mereka memudahkan Li Yin merasakan detak jantung pemuda itu yang amat cepat— “sebuah bintang. Rumahku di langit dan aku… menyukai nyanyianmu yang indah itu sejak lama.”

“Kau menyukai nyanyianku?”  Li Yin tersipu, “Terima kasih. Aku… aku Li Yin.”

Li Yin. Li Yin. Nama itu berputar dalam ingatan Chen dan enggan pergi.

“Nah, sekarang kau sudah sampai di rumah dengan selamat. Kau nyaris lenyap tadi, tetapi entah bagaimana, kakimu malah berubah menjadi ekor kembali. Syukurlah.”

Li Yin pikir itu aneh. Jika ia harusnya mati sebagai buih karena tidak mendapatkan cinta sejatinya di darat, kenapa Chen dengan begitu saja menghentikan kutukan tersebut?

Apakah sebenarnya cinta sejatiku… ialah…

Tiba-tiba, Chen merintih. Pelukannya pada Li Yin melonggar. Tubuhnya tergigit dingin dari segala penjuru hingga sulit digerakkan. Titik-titik gelap menutup pandangan, makin lama makin besar. Cahaya yang meliputinya terpencar ke mana-mana sebelum ditelan air.

Astaga.

“Salah satu komponen cahayamu adalah api!”

“Chen?”

“Kau bisa padam kalau tercebur!”

“Chen!”

Tangan Chen terlepas dari Li Yin. Tak ada lagi yang menahan tubuhnya untuk melayang di air, menjauh, menjauh dari sang putri duyung. Ujung jemari Chen sempat berusaha meraih Li Yin sebelum mati rasa.

Jangan pergi. Aku belum mengatakan bahwa… aku…

***

Li Yin terengah-engah. Ia berhasil membaringkan Chen di pantai, tetapi bukan berarti masalah selesai. Chen sekarat. Tubuhnya beku tanpa sinar. Ia bernapas lambat dan degup jantungnya tidak sehidup sebelumnya. Li Yin tercekat. Bintang harusnya tidak pernah masuk air, tetapi Chen menabrak peraturan itu karena ingin menolong Li Yin. Yang artinya, jika Chen mati, Li Yin-lah yang bersalah.

“Hebat,” –tapi dalam keadaan bagaimanapun, senyum lembut Chen tidak pernah pergi—“Aku merasa hangat meski baru saja tenggelam…”

“Jangan bicara dulu, Chen,” Li Yin menangkup tangan sang bintang lebih erat, “Tunggulah. Aku akan mencarikanmu cahaya!”

“Tidak. Tunggu…” Lemah Chen menggenggam tangan Li Yin balik, “Aku tak butuh cahaya. Aku hanya ingin kau mendengarkan kisahku…”

Danau kecil menggenangi pelupuk mata Li Yin, bening nan pedih. “Jika kau tidak mendapatkan cahaya, kau bisa padam untuk selamanya dan aku tak akan pernah melihatmu lagi… Kumohon biarkan aku berjuang dengan sungguh-sungguh kali ini untuk cintaku…”

Berjuang untuk cinta?

Dengan tangannya yang telah kebas, Chen menyentuh wajah Li Yin. Telunjuknya yang menggigil menyusut air mata sang putri sebelum jatuh. Ia selalu membenci air mata itu. Ia ingin menggantinya dengan senyum yang tadi mampir sejenak. Parau, Chen mencoba membesarkan hati gadis di hadapannya.

“Dari dulu kau berjuang untuk cintamu. Sekarang saatnya istirahat dan mengeringkan semua air mata itu. Berbahagialah. Kau tidak melebur menjadi buih, bukan? Ekormu pun kembali bersama suaramu. Dan kau tahu bahwa masih banyak kasih untukmu meski bukan dari seorang pangeran. Dariku.”

Telapak Li Yin diletakkan Chen tepat di atas jantungnya. “Ini berdenyut dengan semangat,” –Ajaib, Li Yin merasakan degup dalam dada itu menguat—“saat kau menyentuhnya. Lihat, bahkan jantungku menyukaimu. Mataku, telingaku, segalaku mengagumimu. Senyummu di malam kau mendapatkan kaki adalah senyum terindah yang pernah kulihat, meski bukan untukku.

Tidakkah kau ingin tersenyum seindah itu lagi?”

Menyimak kisah Chen menyesakkan Li Yin. Ia bahagia mendapatkan balasan setelah selama ini mencinta secara searah. Juga menyesal tidak menyadari perasaan Chen dari awal. Juga takut Chen pergi dengan semua cintanya. Juga turut merasakan sakitnya luka lama Chen.

Ternyata, Li Yin menyakiti Chen selama ini tanpa ia menyadari.

Chen menghembuskan napas lega ketika senyum Li Yin akhirnya mengembang.

“Terima kasih untuk selalu bersamaku… dan maaf telah melukaimu…” Li Yin membawa telapak Chen ke pipinya, “Kau ingin aku tersenyum, bukan? Lihatlah, aku bahagia karenamu. Aku… sangat mencintaimu, Chen.”

Mimpikah ini?

Sang putri duyung jelita, yang suaranya mendampingi Chen melalui malam, yang begitu rapuh hingga Chen takut merusaknya pada sentuhan pertama… barusan mengatakan apa? Bukankah kalimat itu mestinya ditujukan untuk pangeran?

Dingin kembali menghujam tubuh Chen kasar, bersamaan dengan air matanya yang jatuh ke atas pasir.

“Kenapa?” Chen terkekeh malu, “Kenapa… aku menangis mendengar itu darimu? Pasti ini hanya mimpi, ya? Karena sosokmu… semakin kabur, Li Yin…”

Kabur?

“Tidak,” Li Yin mendekap Chen erat-erat, “Jangan pergi, Chen!”

Giliran Chen yang merasakan degup jantung Li Yin sekarang. Cepat. Tak teratur. Tak ingin kehilangan. Berarti pernyataan cinta tadi bukan khayalan Chen semata.

“Aku sangat beruntung, bukan,” Mata Chen perlahan menutup, tangannya yang basah dan dingin meluncur turun dari genggaman Li Yin, “mendapatkan cinta dari seseorang sesempurna dirimu?”

Senyum Chen memudar.

Napasnya hilang.

Jantungnya berhenti berdegup.

“Bohong,” Li Yin menyentuh pipi Chen yang beku, “Kau masih hidup, ‘kan? Kau masih mendengarku, ‘kan, Chen?”

Ratusan garis berkilau mencoret langit. Bintang-bintang menangis bersama Li Yin yang memeluk tubuh kaku Chen makin erat. Berharap itu bisa mengembalikan Chen dan seluruh perasaannya. Kenapa tubuh itu tidak juga menghangat? Padahal Li Yin telah menyelimutinya dengan banyak kasih. Kenapa benda dalam dada Chen tidak berdenyut? Padahal tangan Li Yin telah berada di atasnya. Ke mana senyum di bibir yang telah pucat itu? Padahal Li Yin telah mengecupnya untuk mengembangkan senyum itu lagi.

Terlambatkah aku?, tanya Li Yin di sela isaknya.

***

“Iya, aku bohong. Aku masih hidup, kok.”

Apa?

“Chen!” Semburat merah muda mewarnai pipi pualam Li Yin, “Tapi bagaimana…”

“Itu,” Chen menunjuk rontokan cahaya bintang di langit yang satu-satu memasuki tubuhnya, “Teman-temanku yang tidak berani turun menangis karena kita. Cahaya mereka jadi jatuh padaku. Nyawaku terselamatkan dengan cara yang ganjil, ’kan?”

Li Yin memalingkan wajahnya yang panas. Jadi ketika ia memeluk dan mencium Chen tadi, Chen tahu?

“Oi, bintang sialan, pulang sekarang juga!”

“Kami sudah 100% yakin kau mati tadi!”

“Kembali ke sini biar aku bisa memukul pantatmu!”

Chen duduk perlahan, tawanya lebar hingga tepian matanya berkerut lucu. “Terima kasih untuk cahaya kalian, Teman-teman! Iya, iya, sebentar lagi aku pulang!”

Li Yin ikut tertawa. Selain karena geli akan sikap bintang-bintang di atas sana, ia juga senang menyaksikan tawa lepas Chen. Ia kira tawa itu akan menghilang. Tanpa senyum Chen, dunia ini jelas akan hampa dan gelap…

Tahu-tahu, Chen mendaratkan bibirnya tepat di tepi bibir Li Yin, mengejutkan sang putri.

“Terima kasih,” Rona wajah Chen yang manis meyakinkan Li Yin bahwa Chen tidak jadi meninggalkannya, “untuk kecupanmu yang menghangatkanku.”

Li Yin tertunduk malu, tetapi sebentar kemudian menengadah.

“Kau akan pulang ke langit? Apakah kita akan berpisah?”

Pahitnya rindu yang belum-belum sudah muncul dalam tatapan Li Yin mengingatkan Chen pada masa-masa di mana Li Yin merindukan pangeran. Ekspresi getir itu. Chen menghela napas panjang. Ia tidak mau menyiksa Li Yin. Cukup ia saja yang merasakan pedihnya rindu, dulu ketika cinta Li Yin masih menjadi milik orang lain.

“Kita akan bertemu lagi, Li Yin,” Chen menatap Li Yin lurus-lurus, “Besok malam, menyanyilah di pantai ini. Bimbing aku dengan suaramu. Kalau kau mendengarku membalasmu, maka tunggu aku karena aku sedang dalam perjalanan menujumu.”

Li Yin mengangguk. “Ide yang bagus. Besok akan kunyanyikan sebuah lagu khusus untukmu, bukan lagi senandung tentang rindu yang perih itu. Jadi, kau harus datang.”

“Aku memiliki lagu sendiri darimu? Aku merasa sangat terhormat,” Chen mendaratkan satu lagi ciuman, kali ini di kening Li Yin, “Akan kutunggu nyanyian itu besok. Sampai jumpa.”

Fajar telah dekat. Waktu Chen tidak banyak. Dengan berat hati, ia berbalik dan menjejaki udara menuju langit. Li Yin pun berenang pulang, tetapi belum jauh dari permukaan, ia mencuri pandang ke angkasa. Chen melakukan hal yang sama ke laut. Sebentar saja, lalu sesuai perintah Matahari, ia bersembunyi di langit yang lain.

***

“Burning love disperses and chases along the wind

Dust and sand similarly dance in the breeze

Calling out your footsteps 

With an anxious heart, urging with effort.”

“The distant bottom of your heart

Can it also feel

The overwhelming flow of longing that has melted into love under this sky?”  

 Gadis yang menanti di atas pasir pantai itu terkejut mendengar seseorang menjawab nyanyiannya. Diangkatnya wajah menghadap langit. Bintang itu ada di sana. Melesat dengan cahaya terang mengekor di belakang.

***

Konon, dahulu dikatakan bintang jatuh ke laut. Ternyata, bintang jatuh ke atas pantai berpasir untuk menemui kekasihnya, putri duyung yang setia menyenandungkan cinta. Ketika bintang turun ke pantai, cahayanya tertinggal sedikit di angkasa, mencoretnya dengan cantik. Bintang-bintang lain yang turut bahagia menari di atas, sehingga berkas cahaya yang mencoret langit makin banyak. Coretan-coretan berkilau itulah yang kelak disebut sebagai hujan meteor.

***

TAMAT

oh my, too much drama. T.T 

Advertisements

20 thoughts on “Meteor Shower

  1. owhh.. Kereeen…
    Jongdae ituuu..lucuu.. Bahkan saat sedih juga lucu..
    Baca fic ini, sambil ngebayangin wajah jongdae, bikin senyum2 sendiri..
    Dann,, aku makin jatuh cinta dgn karya2mu.. Meski seringkali salah menangkap pesan tersirat yg ada, tapi aku ga pernah bosen baca tulisan2mu kemudian meninggalkan komen2 yg ga bermutu.. Hehe..
    Keep writing!!

    Like

    1. wah kayaknya gagal nih bikin adegan sedihnya ahaha, emang muka jongdae itu susah dibayangin terharunya. tapi WAKTU PERFORM BREATH SAMA KAKAK LIYIN ITU LOH EKSPRESINYA ASDFGHJKL
      sudahlah. gapapa, terima kasih sdh menyukai karyaku dari dulu TT soalnya kalo dibanding author2 yg aku tau progres kemampuan nulisku paling lambat….

      Like

  2. HE, LIANA! INI KAN CERITANYA MERMAID, NAPA BISA JADI BAGUS BEGINI DNG CARA SUDUT PANDANGMU YG BERBEDA.
    #mian, capslock jebol.

    Huft, smpet spot jantung pas chen kehilangan cahaya itu. Kirain bakal sad end.
    dasar chen sialan, trnyta dy cm ngerjai mbk li yin doang. Trus smpet2’a cari ksmpatan nyium liyin. Haish,,

    Like

    1. baguskah? yeay!!! ini idenya waktu ndengerin baby don’t cry coba. kan katanya lagu itu terinspirasi dari cerita mermaid2an gitu…
      sebenernya aku sangat tergoda bikin ini sad end tapi aku g tega matiin jongdae *lagipula romancenya jongdae ga pantes kalo dibikin mati2 :p* jadi ya begini deh, cuman dibikin nyaris mati tapi gara2 bintang2 di langit nangisin dia cahaya mereka jadi masuk dan ngidupin dia lagi.
      dan ya, belakangan kenapa aku suka nulis adegan skinship sampe kiss ya? >< satu2nya yg membangun feel romantis cuman itu yg aku tau TT
      anyway, thanks for reading! XD

      Liked by 1 person

  3. KAK LIANA AKU HARUS MULAI DARI MANA DULU INI KOMENNYA? KENAPA TOMBOL LIKE CUMA ADA SATU? KENAPA?! AKU GA PUAS KALO CUMA SATUUUU!

    Tadinya nahan2 bacanya abisnya aku lg ulangan semester, pengen baca besok aja karena besok selesai semesteran. TAPI APALAH DAYAKU INI CHENYIN AKU GACUKUP KUAT UNTUK GA BACA.

    HUHUHU INI INDAH BANGET SIH CHEN UDH NGADUK2 HATI AKU DARI SEDIH SAMPE SENENG SAMPE SEDIH LAGI SAMPE SENENG LAGI. MAUMU ITU APA SIH MAS?! INI HATI MAS INI HATIIII <////3

    Duh suka banget bacaan dongeng kayak gini ngingetin sama masa kecill :"" apalagi ini pake putri duyung versi asli, ga versi walt disney. Yg versi asli aku baca di gramed sampe speechless, ternyata ceritanya miris banget. Apalagi diperkuat dengan dengerin baby don't cry huhuhu gakuat lah gakuat

    YA TAPI INI DIKAITIN SAMA METEOR YA KEREN LAH AKU MAU NGOMONG APA 😦

    Sudahlah aku gatau mau komrn apa lagiii. Percayalah kak, this fic just made my day :"D fanfic chenyin favorit aku lah sudah iniii <33 SEMANGAT TERUS KAK LIANAA, MAKASIH FANFIC NYAAA HUHUHU :""""D

    Like

    1. hai. maap telat banget ya jadi ini apa banget panjangnya haha tapi gapapa.
      ceritanya aku gangguin anak yg lagi semesteran ya? maafkan aku lagi….
      anyway, pair ini sebenernya dulu bukan OTPku buat kakak liyin tapi FEEL MEREKA ITU MEMANG >.< APALAGI KALO ADA INTERAKSI SELALU CHEN YG NGAWALI DGN RADA TERSIPU GIMANA KAN AKU LELAH. apalagi sampe 2015 januari kemarin mereka masih nyanyiin breath di cina padahal masa promosinya udh selesai….
      (satu lagi inspirasinya sih sebenernya krn liat update weibonya kakak liyin pake baju renang waktu liburan ke thailand *coret)
      akhirnya FF ini lahirlah.
      makasih kembali sudah baca!!! kapan2 komen panjang lagi yak! *big hug

      Like

      1. Eh serius ini salah satu inspirasinya foto-foto teh liyin di thailand itu? Kenapa gak dibikin macam Kabut 2.0 aja *ketawa jahat* *eaaa* *udah baca di aff masih nguber ke sini juga*

        Like

  4. Pas liat judulnya keinget lagu lady luck D:
    YA AMPUN JONGDAE NYEBELIN BANGET
    UDAH SEDIH-SEDIH NGIRAIN NGANA BAKALAN MATI GA TAUNYA
    SUMPAH DEH OM LO JAIL BANGET
    dan mbak Li Yin, yang sabar ya cinta sejatinya resident troll

    ehhh baru keinget juga chen artinya bintang
    Huzzzaaaahhhhh, ceritanya keren banget
    semi angst cuma twist
    aaaakkkhhhhh OM JONGDAEEEEEEE

    Like

    1. lady luck? uh aku belum ndengerin…. emang lagunya ttg apa sih?
      semuanya pada spazzing jongdae nih ahahaa bangga aku. biasanya kalo ff exo yg bikin spazzing itu ffnya anak2 exo-k (kecuali suho*sad), sama krislu.
      iya mau dibikin mati awalnya tapi ga pantes jongdae dibikin mati2 gitu kan. resident troll is immortal *hea *apa
      anyway, makasih sdh mampir! XD

      Like

      1. lady luck : my lady upgrade version + moaning nyaris sepanjang lagu D:
        *chanyeol sama tao menghayati banget uhuh-nya*
        *translation part kai sama lay bikin kayang*
        gimana ga spazz ff jongdae-liyin
        yang kemaren let out the beast yang sekarang……. 😀

        Like

  5. Yaaa Liana, tanggung jawab aku terharu. Aku suka banget dongeng-dongeng dan pas baca ini omg aku gatau harus gimana. /sedot ingus/
    Jadi inget cerita Little Mermaid :3
    Chen kau mengombang-ambingkan perasaanku. Jantungku ikut berhenti berdetak pas -kukira- Chen mati dan eh ternyata enggak. Dasar :v
    Semangat terus nulisnya, Liana! Makasih banget udah nulis FF yang amazing ini :”) tadinya mood ku ancur lebur luluh lantah minah tapi berkat baca ini jadi berbalik 180derajat /loh curhat/
    *Angkat dua jempol*

    Like

    1. ahahaha padahal ini rada2 ngambang gitu nulisnya uhuhu habis gimana my ChenYin feels killing me, sampe bingung gimana nuanginnya ke tulisan.
      tapi syukurlah kamu suka, kalo mau minta pertanggungjawaban ke chen aja XD
      makasih sdh mampir!

      Like

  6. Aah Chen.. not really romantic but fun.. you are a witty star with a good voice hmm..
    Sekilas, keinget Ksatria, putri and bintang jatuhnya Dee.. tapi yang ini more romantic.
    Ahaa.. rontokan cahaya dr bintang-bintang yang lain? Hihi.. istilahnya..
    Sukaa ama percakapan si Bulan dan si bintang Chen.. like mother and son.. eeh, sebenarnya siih mo blg kek ahjumma -katakanlah penjaga perpus yang diam-diam mengamati kisah cinta si peran utama- ama anak lelaki tokoh utama di drama-drama hahaha..
    Suka adegan endingnya.. dan berasa ikutan blushing ama si duyung..
    Ya ampuuun.. ini sweet looh.. too much ampe takut diabetes saia hehe..
    I like it ♡

    Like

  7. Anyway, apa kak Li terinspirasi dari cerita H.C Andersen?
    Soalnya ceritanya agak mirip-mirip gitu sama cerita dongeng, tapi ada perubahan sedikit dari kak Li ending. Bener, gak? :3

    Tapi, ya, fic kakak malah jauh lebih bagus. Dan…

    CHENYIN!!!

    Ya ampun, saya bener-bener suka sama tu orang :v

    Ah, mungkin segini dulu cuap-cuap (?) gak jelas saya. Tenang aja, kak, cuap-cuap saya ini akan menghiasi setiap fic kakak :3

    Jadi, semangat terus, ya, kak!!! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s