MAMA-07: Suho

07

-I already no longer have wings, my eternal life has been snatched away, but i still feel the sole reason for happiness.-

***

[Pengenalan] Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant (MAMA) adalah robot berbentuk manusia yang dirancang sebagai asisten serbabisa. Secara fisik, MAMA tersusun dari kerangka titanium, kulit sintetis, dan jaringan penyangga dari silikon. Sistem fungsional robot ini berada dalam microchip sentral di kepalanya. Sistem ini memampukan robot berinteraksi dengan pemiliknya, sehingga dapat menyesuaikan kemampuan diri dengan kebutuhan si pemilik. Agar dapat bekerja optimal, daya listrik MAMA harus diisi ulang minimal tiga hari sekali dan dinonaktifkan selama proses pengisian ulang. Meski demikian, dengan efisiensi kerja normal (85-90%), MAMA dapat bertahan hingga lima hari tanpa pengisian ulang daya.

***

Bae Joohyun gadis yang buruk rupa. Rambutnya memutih sebelum usia 20, kulitnya terlalu pucat seakan-akan tidak teraliri darah, dan lengan serta kakinya menyusut akibat jarang digunakan. Anak-anak kecil yang bertetangga dengannya tiap hari berteriak mengejek ke arah jendelanya: ‘hantu putih, hantu putih!’, sedangkan beberapa orang yang sempat dikenalnya di luar rumah sebelum jatuh sakit—kebanyakan dari mereka sudah kuliah sekarang—hanya menatapnya sekilas sebelum kembali menyibukkan diri. Mungkin mereka malu memiliki teman dengan penampilan semengerikan Joohyun.

“Kau cantik.”

Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant-07 adalah pengecualian. Usai diaktifkan oleh orang tua Joohyun dan memperoleh nama baru ‘Suho’, MAMA-07 langsung mendapat perintah untuk selalu memuji Joohyun. Maka ia lakukan. Awalnya, Suho mengucapkan ini atas dasar perintah, tetapi seiring bergulirnya waktu, bagaimana Joohyun tersipu karena pujian itu telah membangkitkan sesuatu yang Suho kira tak akan ia rasa.

“Aku tahu aku cantik.” Joohyun tertawa kecil dan Suho tersenyum lega. Gadis itu telah berubah, dari muram menjadi ceria dan cenderung percaya diri. Meski demikian, sifat pemalu Joohyun belum hilang—lihatlah caranya menunduk cepat dan memalingkan wajah tiap dipuji—dan inilah yang paling Suho suka dari gadis itu.

“Tapi Suho… sesungguhnya ‘cantik’ lebih tepat untukmu… M-maksudku bukan dengan cara yang feminin. Kau—indah,” ralat Joohyun dengan gugup, merendah seperti biasa, “Kau juga pandai, baik, kuat, dan selalu menyenangkanku. Seperti malaikat. Atau jangan-jangan, kau memang dikirim dari surga?”

Lidah Joohyun agak geli karena tak biasa memuji seseorang; ia lebih sering mengagumi dalam diam. Namun demikian, Suho masih tersenyum, tidak keberatan akan rayuan yang menurut Joohyun basi ini. “Tidak, aku tidak berasal dari surga,” sangkalnya, “tetapi meski bukan malaikat, aku pasti akan selalu melindungimu.”

Janji itu sudah beberapa kali diikrarkan, tetapi Joohyun tetap tergetar karenanya. Ia penasaran, kira-kira apa yang membuat pelayannya satu ini begitu setia? Padahal Joohyun membosankan, tidak banyak tahu dunia, gagap teknologi, dan ke mana-mana harus naik kursi roda yang didorongkan Suho karena tidak kuat jalan sendiri. Di luar sana, banyak gadis sehat yang jauh lebih menarik, bukan?

“Kalau kau mau berhenti sebagai pelayanku, aku mengizinkan, Suho. Aku tidak ingin kau terikat denganku hanya karena kontrak kerja. Lagipula aku sudah lebih baik sekarang,” Joohyun tertawa getir, “Daripada menunggui kematian seorang gadis sekarat, tidakkah lebih menyenangkan pergi keluar dan mencari orang baru untuk dicintai?”

Suho mendesah panjang sebelum menangkup sepasang telapak mungil Joohyun. “Kumohon jangan katakan itu lagi. Kau bukan gadis sekarat bagiku. Kau masih memiliki banyak harapan dan semangat untuk terus hidup, maka apapun vonis dokter, kau tidak sekarat. Dan aku bekerja untukmu bukan semata-mata karena kontrak kerja.”

Tidak perlu puluhan kata lagi untuk menjelaskan kalimat terakhir Suho. Caranya menatap Joohyun cukup menjelaskan perasaannya. Suho boleh jadi hanya mesin, dengan intelegensi buatan yang amat terbatas, tetapi sejak mendalami dunia Joohyun, ia berubah. Joohyun adalah kecantikan yang rentan dan membutuhkan penguatan, keingintahuan yang menuntut untuk dipuaskan, cinta terpendam yang menunggu disalurkan. Suho seorang yang mampu memenuhi itu semua.

Jika Suho tidak bertemu dengan Joohyun, maka kehidupannya sebagai asisten mekanis mungkin tidak akan seindah ini.

Maka Joohyun adalah sesuatu yang tak ternilai baginya.

Satu ketika, pasangan Bae pulang dengan wajah berseri, memberitahu Joohyun bahwa ada opsi terapi yang mungkin dapat memperpanjang hidupnya. Suho ingat sekali Joohyun langsung memeluknya. Tidak ada teriakan girang atau tawa berlebihan, tetapi pelukan itu dengan gamblang menyampaikan kegembiraan si gadis. Suho baru saja akan ikut gembira saat suami-istri Bae mengajaknya bicara secara terpisah.

“Joohyunie kemungkinan besar bisa sembuh dengan pengobatan ini, tetapi kaki dan tangannya akan lumpuh total sebagai efek samping. Bagaimana kami harus menyampaikan ini, Suho?”

***

Joohyun berlari. Joohyun mampu berlari sekarang. Rambutnya kini berwarna hitam pekat, tebal bergelombang. Bukan wig; ini hasil dari pengobatan yang sudah ia jalani. Kulit cerahnya agak kemerahan terkena sinar matahari. Tubuh yang dulu kelewat kurus jadi berisi, walaupun masih ramping, dan Joohyun tampak segar karenanya.

Tapi senyum Joohyun tidak terkembang. Sepulang dari rumah sakit, ia langsung menuju kamarnya untuk menemui Suho.

Joohyun membuka pintu kamarnya kasar. Suho di kursi rodanya—kursi roda Joohyun—menoleh, terkejut akan metamorfosis luar biasa dari Bae Joohyun yang terengah-engah di ambang pintu. “Hai,” sapanya dengan senyum lebar, “kau cantik sekali.”

“Suho…”

Melihat satu-dua sungai kecil menuruni mata Joohyun, Suho menjadi cemas. “Joohyun, ada apa? Masih sakitkah?”

Tidak berjawab. Joohyun menubruk dan mendekap Suho erat-erat. Terisak selama beberapa menit. Oh, andai sistem saraf elektriknya masih ada, Suho pasti bisa memeluk balik Joohyun dan mengusap punggung gadis itu lembut.

Tapi Suho tidak bisa.

“Kenapa kau tidak menolak permintaan Ayah dan Ibu? Kenapa kau menyerahkan begitu saja pemicu dalam sistem kendali tubuhmu untuk dipasang padaku? Kau ‘kan jadi tidak bisa bergerak!”

Sesuai dugaan Suho. Sang humanoid melirik kerangka lengan dan kakinya yang dipotong hingga menyisakan pangkal, meninggalkan kulit sintetis yang kempes tanpa penyangga dalam. Sebelum operasi Joohyun, bagian itu memang diambil dan pemicu listrik yang menggerakkan Suho dipilah-pilah dari sana. Pemicu ini diintegrasikan dengan otak dan sumsum tulang belakang Joohyun sehingga memungkinkan si gadis bergerak bebas.

“Apalah pentingnya untukku. Kau dapat hidup normal sekarang, seperti yang selalu kau impikan, itu lebih utama. Lagipula, aku hanya mesin yang dirancang agar bisa membantu pemilik.” jawab Suho tenang.

“Tidak! Kau bukan hanya mesin! Sama seperti kau yang tidak pernah menganggapku sekarat, bagiku kau itu… kau itu…” Tubuh Joohyun merosot, kepalanya kini berada di pangkuan Suho, “…malaikat.”

Ya. Suho tidak lagi menyangkal bahwa dirinya malaikat. Malaikat pelindung Joohyun—dan karena itu, ia wajib melakukan apapun yang perlu untuk membahagiakan si gadis.

“Hei, lihat aku.”

Joohyun menengadah. Demi Tuhan, Suho ingin menghapus air mata itu langsung, tetapi karena keterbatasannya, Suho cukup menggunakan senyum tulusnya untuk melenyapkan kesedihan Joohyun.

“Hanya tangan dan kakiku yang pergi, bukan kebahagiaanku, dan kebahagiaan itu ada selama kau merasakannya juga. Jadi berbahagialah. Untukku.”

***

TAMAT

.

.

.

.

.

.

angelic!suho is always my fav. btw di foto atas mas suho ganteng banget huhu. biasanya aku gak begitu mengapresiasi karena mas suho itu gantengnya terlalu lembut tapi kok di foto itu… T.T sudahlah.

satu lagi. aku butuh beta reader.

eh, satu lagi ding. aku minta maaf belum bales komen. *bow

Advertisements

21 thoughts on “MAMA-07: Suho

  1. Siaaalll abis dari kolam fluffnya 05 trus kenapa nyemplung lagi di angst 07…. ah….ㅠㅠ
    kok kayaknya di semua fic Suho-nya Liana, Suhonya pasti berakhir somehow sedih ya? nggak bisa perfectly punya happily ever after, gitu..

    Like

  2. waaaaa, emosional banget sih 😦 yes, emosiku terkuras baca ficlet yang kelewat heart-warming ini, kak liana..aduh, apalagi, dialog-dialognya yang errrrrr, bikin melting sumpah 😀 😀 /-\\\\
    “Apalah pentingnya untukku. Kau dapat hidup normal sekarang, seperti yang selalu kau impikan, itu lebih utama.”
    “Hanya tangan dan kakiku yang pergi, bukan kebahagiaanku, dan kebahagiaan itu ada selama kau merasakannya juga. Jadi berbahagialah. Untukku.”
    ah, semuanya ngena sekali di hatiku ini 🙂
    ending di atas termasuk happy ending buatku, toh kebahagian tidak selamanya harus sempurna kan?. :””) ah, kak liana, thanks so much for painting my night after taraweh with this heart-warming ficlet 🙂 🙂
    semangat untuk kelanjutan mama series dan karya yang lain!! 🙂
    fighting 🙂

    Like

    1. xian ajarin aku bikin fluff. apalagi buat mas suho sumpah aku bingung mas ini kalo mau di fluffin itu gimana… habis dia itu lho mukanya membawa kesan kalem yg angsty. aku pingin bikin ending bahagia yg bahagia tapi selalu gagal kalo mas ini jadi cast…
      tapi syukurlah kalo kamu masih suka hehe.

      Like

      1. aduh kak liana salah alamat, aku mah ga terlalu pandai bikin fluff :/ ah, kalau boleh aku kasih saran, coba deh, kakak ngebayangin orang2 somplak di kelas atau sekitar rumah kakak, terus coba adaptasikan sifat2 koplak mereka yang agak mirip dengan kaksuho itu, terus kasih gubahan sedikit ala imajinasi kak liana…yah krn selama ini, aku selalu pakai metode itu untuk buat fluff untuk membangun karakter si tokoh itu.hehe..semoga bisa dicoba, kak
        nah, emang sih, suho mukanya gitu…full of pasrah dan terlalu adem untuk di-apalah-apalah-kan….haha. tapi, apapaun karakternya kak suho, aku tetap padamu, kaksuho!!! *dilirik panas oleh yifan,halah*
        pasti dong 😉

        Like

  3. Kak lianaaa
    Aku mau nangis beneran yang ini so fluff sekali, kaya diatuh beneran angel. Apalagi bagian, “…kebahagiaan itu ada saat kau merasakannya juga. Jadi berbahagialah. Untukku.”

    Ugh.. aku tidak dapat membendung semua feels ini. Ya kak liana, kakak dapat azab karena hampir selalu menyakiti joonmyun dalam hampir semua ff kaka._.v

    Like

    1. aduh azab, serem banget istilahnya tapi ini cuman di FF doang kok tersiksanya, di dunia nyata mas suho disiksa membernya sendiri. *yea
      aku bingung gimana mau bikin fluffnya mas ini dia terlalu dewasa utk nggombal biasa…. jatuhnya jadi angst lagi angst lagi… lagian salahin muka dia yg terlalu angelic sehingga bawaannya kita pingin nyiksa…. *author psycho ini…

      Like

      1. Emang mukanya bully-able sekali kak liana, mari kita berdoa untuk junmyeon..
        Iya pasti kalau ff junmyeon jarang ada yang gombalan remaja kaya ff chanyeol ataupun sehun. Tapi gausah salahin muka dia kak emang mukanya begitu :”)) Kak liana memang jago mempsikopatkan junmyeon /?

        Like

  4. KAK LIANA INI GIMANA NAPASNYA KALO MANIS BANGET GINI HUHUHU SURENEEE :””””””

    Serius apa sih ini, aku baca udh sambil senyum2 sendiri, tangan meringkel2 gajelas. Ampun ini mah jatuh cinta sajaaaaaaahhhh. Apalagi kalimat terakhir mas junmen duh duh duh malaikat memang :”)

    Tp tiba2 aku keinget muka suho pas nyanyi baby dont cry pas adegan2 terakhir 😐 serius ini dibikin film dengan ekspresi suho yang sedemikian, aku bakalan jd org pertama yang ngakak di bioskop

    Aku lanjut yang lain ya kak lianaaa, semangat teruss! 😀

    Like

    1. seandainya mas suho itu muka akting sedihnya pas *gak kayak yg di Exo next door itu* ini pasti bakal lebih angsty lagi :p
      iya kan surene itu, mbak irene sih mukanya imut gemesin dan masuho *terutama di posternya*tunjuk atas* manly banget jadinya kan langsung yg….. T.T
      makasih sdh mampir ya!

      Like

  5. Aish, SuRene!!! Another leader-couple (?) again!!! ><
    Selain KrisToria, aku juga mulai jatuh cinta sama couple pendek ini!!! /digampar/
    Pertama baca ini, aku rasa bakal full of fluff, tapi lagi-lagi jatuhnya ke angst T_T

    Pokoknya semangat terus untuk kak Liana! ^^

    Like

  6. Halo Kak Li!~

    Pas liat mbak Irene sakit dan rambut nya memutih gitu jadi inget benjamin button.

    Sepi banget jadi Irene, untungnya ada mas Angel ini yang rela ngorbanin dirinya.

    Kerasa roomancenya kak! Duh, Mas Suh, jadi robot aja baik tenan?! Kenapa? Wkwk coba kak bikin karakter mas suho jd yg demen nindas orang *iniapa* haha

    ciao kak Li papai~

    Like

  7. halooo… aku lagi blogwalking dan gak sengaja mampir kesini…. salam kenal…
    sekalian aku komen yaaa…
    plisss… ini sweet banget… gak tau kenapa aku malah mewek coba hahaha… semuanya nyentuh banget… suho nya emang sosok angel banget… keren…
    robot aja mau berkorban, kenapa manusia yang lain engga ya? aku nyesss nya disitu aja.. udah lah hati aku dibuat luluh lantah (?) sama ficlet ini… apalagi suho bias aku…

    aku izin ngubek-ngubek ff yang lain yaaa 🙂

    Like

    1. halo, salam kenal juga ya ^^ wah ini bikin mewek ya? *sodorin tisu* tapi fic ini tuh sebenernya terlalu kayal dan agak ‘nglangkahi’ kodrat/? krn ya kali ada segumpal kabel/? yg bisa ngalahin ciptaan Tuhan kan.
      but anyways, aku senang kalau kamu senang ^^ silakan ngubek2 ya, maaf baru bales komen kamu.

      Like

  8. Iya suho angelic banget disini. Sabar banget kayaknya dia. Dan posternya suho diatas emang dia kelihatan ganteng, bener tuh kak liana.

    Aku terharu pas suho dengan gentle berkorban kak. Manis banget dia kak. Keep writing ya kak! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s