MAMA-08: New Lives

08

I’m eternally in love.-

***

Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant edisi delapan mengalami modifikasi yang hebat pasca pembelian, sehingga ia baru diaktifkan sekitar sebulan setelah dikeluarkan dari kemasan. Usai dinyalakan pun, si robot tidak bisa dibilang langsung bekerja. Ia ‘dilatih’ lebih dahulu untuk menggunakan stetoskop, memeriksa tanda vital manekin bayi di inkubator, dan melakukan uji coba pemeriksaan radiologi dengan sistem khusus di matanya. Pelatihan selesai lebih cepat dari yang diperkirakan tim dokter dan perawat pelatih, sehingga Senin itu, MAMA-08 mengenakan jas putihnya dan menghadap dokter anak yang akan menjadi supervisornya.

“Hai, aku Song Qian, panggil Qian saja supaya tidak canggung, tanpa ‘Dokter’. Kau?”

Berbeda dengan tenaga medis pelatih Kris, Qian dokter wanita yang amat ramah.

“Maaf, tetapi saya belum memiliki nama sendiri.”

“Hee,” Qian mengerjap-ngerjap heran, “Dokter senior memang kaku sekali. Baiklah, aku akan memanggilmu… Kris. Dokter Kris, hehe, kedengarannya boleh juga. Sekarang, mari kita mulai percobaan pertama di Divisi Perinatologi!”

***

“Kejutan.”

Begitu Qian membuka pintu Ruang Perinatologi, Kris terpaku. Inkubator yang ada di sini lebih banyak ketimbang di kelas pelatihannya dulu. Sebagai tambahan, semua bayi dalam inkubator ini asli, hidup, bukan manekin. Menangani mereka jelas lain dengan menangani plastik berbentuk bayi.

Tapi satu tepukan di bahu dan senyum semangat dari Qian memberanikan Kris.

“Ayo, semangat! Lakukan saja seperti yang sudah diajarkan, oke?”

“Baik.”

Usai menjalankan prosedur standar kewaspadaan universal, Kris memasukkan dua tangannya yang besar ke lubang-lubang di sisi inkubator. Qian tegang; tangan Kris bisa saja menutup kepala bayi hingga tidak bisa bernapas atau menekan tubuh si bayi terlalu kuat.

“Pelan-pelan, Kris… Pelan-pelan.”

Gumaman Qian yang tidak disengaja ini bagaikan mantra bagi Kris. Kerangka titanium di dalam jemarinya bergerak sangat lembut. Sensor-sensor di ujung jarinya tidak ditekankan sekuat saat latihan, tetapi beruntung, hasil perekamannya tetap akurat. Detektor khusus mengizinkan Kris melaporkan tanda vital dengan terperinci dalam sekejap, termasuk kimia darah. Qian dan perawat-perawat yang bertugas terkagum-kagum dibuatnya.

Terutama Qian. Senyum bangga dan acungan jempolnya tidak akan terhapus dari folder memori dalam microchip sentral Kris.

Dari ruang perinatologi, Qian dan Kris beranjak ke ruang intensif. Kris kembali tercengang karena bayi-bayi dalam ruangan ini terlihat sangat sakit, dengan infus, inkubator, masker oksigen, dan ukuran si bayi sendiri yang terlampau kecil. “Kaget?” Qian tertawa lemah, “Aku juga tidak suka ke sini. Biar aku yang tangani, perhatikan betul-betul.”

Memeriksa bayi sebanyak itu dengan ekstra hati-hati pasti menguras energi, anehnya Qian tidak tampak lelah. Kris memang bertubuh lebih besar, tetapi mengamati Qian bekerja saja sudah membuatnya capek. (Barangkali karena daya listriknya tinggal 15%.) Daripada lelah, sang dokter wanita lebih terlihat sedih. Percakapan Qian dengan beberapa perawat tertangkap telinga Kris dan terdapat beberapa kata kunci kegawatan semacam ‘hemodinamik tidak stabil’, ‘belum boleh dibedah dulu’, dan ‘infeksi menyeluruh’ di sana.

Sesuatu yang buruk akan terjadi pada salah satu bayi, simpul Kris dengan sederhana tanpa mengaitkannya dengan kemuraman Qian.

***

“Anda sangat hebat.”

Qian membawa Kris pulang karena pembelajaran di rumah sakit dirasanya kurang mencukupi. Usai Qian bersantap malam, mereka berdua mempelajari hasil-hasil pemeriksaan bersama untuk dipresentasikan dengan tim bedah anak besok. Saat inilah Kris memuji Qian, membuat sang dokter mengusap tengkuk malu-malu. “Tidak juga, kok…”

“Tapi Anda tahan melakukan berbagai pemeriksaan dan berkomunikasi dengan banyak orang tua tanpa mengeluh. Saya sendiri sudah lemas ketika hari berakhir.”

“Ya ampun, robot manapun kalau dayanya lupa dicharge pasti akan lemas,” Qian menertawakan kepolosan Kris seraya melirik kabel panjang dari tubuh si robot yang terhubung dengan stop kontak, “Lagipula… melihat bayi-bayi sakit membuatku tidak bisa tenang sampai mereka sembuh. Misalnya ini.”

Pandangan Kris berpindah ke hasil pemeriksaan radiologi yang sudah dicetak Qian.

“Bayi ini mengalami radang usus, jadi dia tidak bisa makan dan harus diinfus. Nah, bayangkan kalau tiga hari kau tidak dicharge, tetapi dipaksa untuk menjalankan tugas sehari-hari. Seperti itulah apa yang dirasakan para bayi sakit. Makanya…” Qian menekuk lutut di atas kursi kerja, “…aku tidak boleh kelelahan dulu karena bayi-bayi itu sedang berjuang juga untuk hidup.”

Itu menjelaskan lekuk-lekuk sedih yang tergurat di wajah Qian saat melakukan pemeriksaan. Kris ikut memahami rasanya sedikit. Waktu dulu masih berlatih, Kris tidak pernah keluar kelas, sehingga setelah diperbolehkan keluar, udara yang berbeda terasa sangat menyenangkan. Yah, Kris ragu apa ia benar-benar ‘merasa’, tetapi kata apa yang lebih tepat menggambarkan buncah menyesakkan dalam kerangka penyusun dadanya?

Ada banyak jiwa baru yang terancam pergi lagi sebelum sempat merasakan kehidupan. Kekecewaan mereka pasti sama dengan kekecewaan Kris jika ia tidak pernah keluar dari ruang latihan sempitnya.

“Kasihan.”

“Siapa?”

“Bayi-bayinya,” Kris menunjuk berkas-berkas yang ia pelajari, “Ini berarti aku harus lebih teliti lagi sebagai pemeriksa supaya mereka dapat ditangani dengan tepat.”

Eh?

“EH?! Kau bilang apa tadi?!” Qian mendadak melompat dari kursi dan menangkup tangan Kris, matanya berbinar, “Kau robot yang mestinya hanya menjalankan perintah, tetapi sekarang kau bersungguh-sungguh mau membantu kami di Divisi Perinatologi?”

Semula Kris membelalak kaget karena sikap Qian, tetapi kemudian tersenyum. “Aku bersedia.”

“Kyaaa!!! Aku senang sekali!!!” Lengan ramping Qian terlingkar pada leher si asisten mekanis; hampir saja Kris terjungkal, “Kau sungguh melebihi ekspektasiku!”

Dan pelukan itu menjerat Kris, dalam artian positif. Sang robot tidak akan bisa lagi keluar dari pengabdian sejati di rumah sakit karena Qian telah menyeretnya masuk terlalu dalam.

“Oke, sudah diputuskan!” Qian bangkit dan mengepalkan satu tangannya ke atas, “Kita akan menyusun jadwal harian supaya kau bisa bangun pagi dan belajar di sela-sela kesibukan. Selain itu, aku akan melatih senyummu supaya bisa menyenangkan para pasien! Uwaah, pasti seru!”

Untuk pertama kalinya sejak diaktifkan, Kris tertawa. Semangat Qian memang mengesankan, tetapi… “…kita masih harus membuat presentasi untuk besok.”

“Ups.” Qian duduk lagi, meringis malu sebelum kembali menekuni laporan. Kris sendiri tidak langsung beralih pada dokumennya. Ia mencuri beberapa detik untuk menikmati kecantikan dokter supervisornya yang kekanakan, dalam diam mengagumi cinta sang dokter yang selamanya tak pernah ia miliki.

***

Ada dua hal yang melekatkan Kris dengan Divisi Perinatologi. Pertama, karena microchip sentralnya kini peka terhadap penderitaan para bayi. Kedua, karena kesehatan mereka akan mengembangkan senyum Qian, yang lebih ampuh dari pengisi ulang daya manapun dalam membangkitkan semangat Kris. Tahun-tahun berlalu cepat dan Kris masih memeriksa pasien, tersenyum pada mereka, serta merasakan semangat Qian di ruang perinatologi sekalipun dokter supervisor pertamanya itu telah lama pergi.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

Maaf aku belum bales komen (lagi) T.T aku sangat senang kalian masih mau mampir para pembacaku tapiiii modemku yang ngadat memisahkan kita….

Advertisements

18 thoughts on “MAMA-08: New Lives

  1. Ini angst endingnya kak :v
    mba qian meninggal gitu, dan yi fan jadi dokter anahk huhuhu
    aku jadi kepikiran itazura na kiss. disitu yuki furukawa kan juga dokter anak ngahaha

    Like

    1. masa sih padahal ini sudah kubikin seaman mungkin lho. maksudku di sini adalah karena mas wu itu robot, jadi dia itu ‘abadi’ sedangkan mbak qian kan bisa tua dan akhirnya mati… gitu…. tapi iya sih pada akhirnya ini gak menyatu hehe. uh aku kenapa selalu gagal bikin fluff ya? *gulung

      Like

  2. HAAAAAAAA!!!!!
    pasti fanfan ganteng poll pakai jas dokter dan jas lab itu,ahh!!!gabisa bayanginnya, terlalu indah!!!! ahh, kak liana tau ga sih!!??naskah mama series ke-8 ini serasa kaya scene dalam film bergenre sci-fi olahan marvel studios atau dc comics 😀
    aku tuh kaya dibawa ke dalam ruangan mereka, ngeliat bagaimana mereka melakukan tindakan. dan, wuah, istilah-istilah asing itu, ahh, gausah diragukan lagi deh siapa y

    Like

    1. BENAR MASA DIRI INI NGAREP WAKTU NTAR UDH MASUK RS KETEMU DOKTER KAYAK BEGINI
      *salah fokus
      *skripsi aja belum selesai
      walah marvel? jadi malu. padahal gak sampai begitu huhu, mungkin detilnya kali ya yg bikin berasa begitu *padahal gak detil2 amat ini mah apaaa
      but makasih sdh suka!

      Like

      1. ADUH!!AMINNNN!! 🙂
        *haha, ayoo semangat untuk sekeripsinya, kak!! 😀 :D*
        detil mengenai istilah kedkoteran sama latar suasananya emang mumpuni kak 😀 *aku serius* heee
        yap 😉

        Like

  3. Ahhhh kak liana mah sama leader line jahat terus, ini kris dibuat qian-nya meninggal juga.. Kayanya kak liana ada dendam terpendam sama leader line/? Btw yang ini nge-feel sekali

    Like

    1. sebenernya aku gak mau ngebully kakak victoria tapi mau bagimana lagi yg terpikir ide seperti ini huhu. gagal lagi dah bikin romance tanpa angst. ya sudah, tapi syukurlah kalo ini feelnya ada XD

      Like

  4. uwoo.. Bagian yg kutunggu.. KRISS!! Hahaha
    Pengen liat kris pake jas dokter… U,U
    Chemistry dua orang ini cukup unik.. Mau ibu-anak maupun pria-wanita sama2 cocok..!

    Like

    1. iya aku pernah baca fic di FFn itu mas wu jadi dokter garang yg pinter bela diri coba apalah kan.
      makanya waktu bayangin mas wu pake jas dokter itu langsung yg… uhukbersemumerahpipiiniuhuk
      dan KENAPA BANYAK YG BELUM MOVE ON DARI HUBUNGAN IBU ANAK KRISTORIA ya sudah barangkali homo homini lupus terlalu nancep di kepala :p
      makasih sdh baca!

      Like

    1. uh, sebenernya ini bersatu sih, cuman karena mas wu kan robot sedangkan ibu qian manusia jadilah satunya ‘abadi’, satunya menua dan akhirnya meninggal. gitu… memang gak bisa hidup bahagia selamanya hehe. but anyway makasih sdh baca!

      Like

  5. AMPUN VICTORIANYA MATI?! DIA MATI?! KENAPAAAAAHHH KAK KENAPAAAHHHHHHH :(((((((

    Pertama, aku mau jejeritan dulu karena ini kris (HEHE) kedua ini kedokteran! Yey! Doctor!wu itu bener2 favorit aku serius! Dapet banget dia jd dokter2 dingin ganteng lagi baca dokumen pake kacamata ampun klepek2 pasiennya. Aku mikir di bagian yg kris sama vic ke ruang rawat bayi yg sakit itu. Tangan kris segede itu, bayinya bisa digendong pake satu telapak tangan kali ya 😐

    Ngomongin vic, kayaknya emg gabisa dipisahin dr image kekanakan yaa hahaha aku demen liat dia senyum2 terus, kayak anak2 yang selalu gembira

    Sukaaaaa! Kak liana semangat terus yaaa 😀

    Like

    1. kakak victorianya mati karena sudah tua neng. *kyknya maksudku di fic ini rada gak tersampaikan ya* jadi mas wu itu kan robot sehingga secara natural dia ‘ga bisa mati’, sedang kak victoria kan nambah tua nambah tua terus.
      dan
      HUWAA KAMU JANGAN NYEBUTIN KAKAK KRIS GENDONG BAYI AH MATI DIRI INI
      DAN JANGAN SEBUT MAS WU PAKE JAS DOKTER BACA DOKUMEN PAKE KACAMATA NO WAY NOOOO it’s too much for me too handle!
      dan kakak vic, uh kangen aksi koplaknya dia di variety deh sumpah, g begitu ngikutin f(x) lagi gara2 mereka ga comeback2 T.T

      Like

  6. Kak, ini kenapa jatuhnya jadi angst? T_T
    Tapi, seperti biasa, fic-nya menarik banget. Dan Kris sebagai robot, bener bener cocok, inget gimana dinginnya seorang Wu Yifan ><
    Leader-couple (?) ini entah kenapa juga manis sekali 😀
    Suka, suka, suka!!!

    Like

  7. Akhirnya kok kayak victoria udah gak serumah sakit lagi sama kris gitu kak? Gapapa, yang penting kris si pria dingin bisa senyum lagi hihi. Keep writing kak! 😄

    Like

  8. ini mengingatkanku waktu pkl di rs dan dapat kasus PICU. Tiap pagi, siang, sore selalu nengokin si adik yang hilang timbul kesadarannya. Seneng waktu si adek sonmolen tapi sedih waktu sorenya balik ke coma. Semua teman yang di ICU/ PICU bilang datang ke ruangan itu serasa ditampar, sedih tapi kayak ngerasa nggak berguna. Udah, gitu aja curhatnya
    Maaf ya malah curhat
    Btw, aku ngeliat vic-kris itu kayak ibu-anak… atau kakak-adik… atau mentor-murid

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s