MAMA-09: Moons

09

Two moons.-

***

Pria tua tetangga Ji Yeonhee memiliki robot mutakhir berbentuk manusia untuk merawatnya. Robot itu termasuk Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant, tepatnya edisi kesembilan, dan si kakek menamai MAMA-09 ini Chanyeol. Si kakek menganggap Chanyeol cucu laki-laki yang setia dan bahkan menyekolahkan Chanyeol di SMA yang sama dengan Yeonhee. Di sekolah inilah, Chanyeol belajar banyak hal baru, termasuk persahabatan…

…dan segala komplikasinya.

Malam itu, karena nilai geografinya anjlok, Yeonhee ditugaskan membuat peta bintang langit Seoul. Kakek Chanyeol menyuruh sang cucu menemani Yeonhee karena gadis itu membutuhkan teropong untuk mengerjakan tugas—dan tangan kiri Chanyeol, sebenarnya, telah dimodifikasi menjadi teropong standar. Dengan berat hati, Chanyeol pun berangkat ke lapangan sekolah bersama Yeonhee.

Dengan berat hati?

“Kok tidak kelihatan?” Yeonhee memukul-mukulkan teropong ke telapak tangan. Chanyeol memutar bola matanya malas. “Memangnya akan kelihatan dengan dipukul-pukulkan begitu? Kau belum melepaskan penutup lensanya!”

Si gadis berkuncir tinggi cemberut. “Kalau sudah tahu, bantu lepaskan, kek!”

“Aku sudah cukup membantu, tau,” Chanyeol menunjuk lengan kirinya yang tinggal separuh, “Lagipula, kau belum minta maaf soal kalung ajaib Kakek yang kau putuskan rantainya!”

“Itu bukan salahku! Kamu juga, sih, masih percaya saja pada keajaiban yang Kakek bilang, seperti anak kecil!”

“Kakek tidak bohong! Sejak kalungnya putus, aku selalu dirundung kemalangan!”

“Itu karena kau kehilangan fokus dan terlalu memikirkan kalung itu!”

“Terserah, tetapi aku tidak akan membantumu membuat peta bintang, dasar payah!”

“Kau lebih payah! Aku tidak akan bicara denganmu lagiiii!!!”

Dan keduanya kembali saling mendiamkan selama tiga puluh menit ke depan. Yeonhee sibuk menerka-nerka mana Orion, Taurus, Gemini, dan lainnya, sedangkan Chanyeol berbaring telentang di atas rumput dengan tangan kanan sebagai bantal. Sesekali ia lirik Yeonhee yang mulai menggambar di kertas A3.

Dia bisa tidak, sih?

Tapi Chanyeol cepat-cepat menggeleng, berusaha tidak peduli. Dia di sini karena Kakek menyuruh, plus teropong di tangannya dipinjamkan Kakek pada cewek payah itu, jadi dia hanya menunggu tangannya dikembalikan. Tidak lebih.

Anehnya, semakin Chanyeol berkeras untuk mengabaikan Yeonhee, sakit kepalanya bertambah hebat.

Padahal sekrup-sekrup di kepalaku sudah dikencangkan Kakek tadi siang, kenapa sakit lagi? Masa kendur, sih?

Sementara itu, Yeonhee yang melihat Chanyeol mengetuk-ngetuk kepala jadi mencemaskan teman robotnya. Mulut gadis itu terbuka, hendak bertanya, namun urung. Kalau dia pusing, barangkali itu karena ia membentakku! Rasakan!, begitu batinnya ketika menuliskan koordinat di kertas gambar. Ia kembali mengamati langit, tetapi bintang yang ia gunakan sebagai patokan menggambar mendadak hilang. “Eh? Apa bintangnya bergeser?” Yeonhee melangkah ke kanan dan meneropong lagi, tetapi sudut pandang yang berganti mengubah tampilan langit yang Yeonhee amati. Bingunglah gadis itu karena sama sekali tidak paham bagaimana mempetakan bintang.

Di saat seperti ini, robot pintar macam Chanyeol biasanya akan membantu Yeonhee.

“Apa lihat-lihat?”

Uh! Dasar jelek! Wajah Yeonhee merona sampai ke telinga karena tertangkap basah memandangi Chanyeol. “S-siapa yang melihatmu? Aku cuma… eum… teringat sebuah robot baik hati yang selalu membantuku dulu, dan itu bukan kau, Chan!”

Lagi-lagi, Chanyeol dan Yeonhee saling memunggungi, sama-sama menyembunyikan penyesalan. Keduanya sadar bahwa bertengkar melukai mereka berdua, tetapi tidak ada yang cukup berbesar hati untuk minta maaf duluan.

Di langit, sebagian purnama tertutup kegelapan. Chanyeol  tiba-tiba teringat penuturan kakeknya tentang cermin Bulan. Kalau seseorang memandang langit dengan hati berkabut, maka entah itu bulan sabit, purnama, atau bulan cembung, mereka semua akan terhalang awan. Sebaliknya, jika dipandang dengan gembira, Bulan akan selalu benderang sekalipun berbentuk sabit tipis.

“Yeonhee.”

“Chan.”

Aish, sepertinya Yeonhee punya pemikiran sama mengenai purnama ini. Dasar gadis peniru.

“Kau dulu.”

“Kau dulu.”

Keduanya menghembuskan napas panjang. Mereka berdua ternyata sama-sama peniru.

“Kalau begitu, aku dulu,” Yeonhee berucap, “Aku capek bertengkar seperti ini, jadi aku akan menceritakan yang sebenarnya. Aku memang memutuskan rantai kalung kesayangan Kakek yang dihadiahkan padamu, tetapi itu karena… karena anjing tetangga masuk tanpa izin ke ruang tamu Kakek. Waktu kita belajar bersama, kamu pergi ke kamar mandi sebentar karena mau membetulkan sekrup di mulutmu, ‘kan? Saat itu, aku juga meninggalkan ruang tamu untuk ambil jus. Ketika kembali, anjing tetangga membawa kalung itu, jadi aku menariknya. Anjing itu lari, kalungnya terlanjur putus, dan kau marah sebelum aku sempat menjelaskan.”

Setelah mencerna kisah Yeonhee, sudut mata Chanyeol melengkung turun. Jadi begitu? Diam-diam, Chanyeol meloloskan tiga kancing teratas kemejanya, lalu membuka semacam laci kecil di dadanya. Dalam laci itulah, tersimpan kalung yang Yeonhee maksud, sudah pulih dan bersih karena dibetulkan Kakek. Akan tetapi, benar kata pria tua kesayangan Chanyeol itu bahwa persahabatan yang putus lebih sulit diperbaiki dibanding kalung.

Seraya mengancingkan pakaiannya kembali, Chanyeol melirik Yeonhee. Gadis itu masih enggan menoleh padanya, pura-pura menggambar padahal kertasnya bersih. Semburat merah di muka Yeonhee pun belum hilang, yang Chanyeol kenali sebagai tanda tertahannya perasaan si gadis di dalam. Pasti Yeonhee bimbang akan bilang maaf atau tidak.

Seseorang harus bertindak seperti lelaki sejati sekarang!

Dan yang jelas bukan Yeonhee.

“Aku—“

“Aku minta maaf!” Chanyeol mendahului, “Aku… menyesal sudah menuduhmu. Mestinya aku tidak segampang itu marah karena kau ‘kan tidak sengaja. Selain itu, Kakek  sudah membetulkan kalungnya, jadi tak masalah.”

Yeonhee tersenyum. Kini ia tidak ragu lagi untuk memperbaiki persahabatan mereka karena gengsi yang semula mengisi atmosfer sudah dilenyapkan Chanyeol. Ia berbalik menghadap si robot dan membungkuk dalam. “Aku juga minta maaf… karena selalu ceroboh.”

Entah bagaimana, Yeonhee tahu di seberang sana Chanyeol pun tersenyum. Wajahnya kembali merah ketika Chanyeol mendekatinya. Dalam keadaan masih membungkuk, Yeonhee melihat kaki Chanyeol berhenti tepat di hadapannya.

Dan tahu-tahu, kalung berbandul bulan sabit milik kakek Chanyeol melingkar di leher Yeonhee. Kilau perak yang berayun pelan itu mengejutkan si gadis, membuatnya tegak kembali.

“Chan, anu—“

“Itu…” Entah kenapa pipi Chanyeol panas—mungkinkah hubungan arus pendek?—ketika menatap Yeonhee, “…Kakek berpesan untuk memberikan kalungnya padamu sebagai pengingat bagi kita berdua untuk tidak mengulang pertengkaran ini.”

Hanya desir angin yang mengisi keheningan di antara mereka, walaupun di dada mereka masing-masing membuncah kegembiraan yang mewujud dalam senyum tipis. Jantung Yeonhee berdegup kencang, sedangkan Chanyeol merasa sengatan listrik kecil-kecil merambati kerangka titaniumnya—yang cukup aneh karena titanium bukan konduktor listrik.

“A-ah, sebaiknya kita kerjakan PR-mu dan cepat pulang! Aku kedinginan!” Chanyeol meraih tangan Yeonhee dan mengajaknya duduk di atas rumput. Tangan Yeonhee dingin, tetapi beberapa saat kemudian menghangat dalam genggaman Chanyeol.

“Jadi, aku harus menggambar dari mana dulu?”

“Akan lebih mudah kalau kita berpatokan pada Bulan—“

***

Sebelum bertengkar dengan Yeonhee, Chanyeol selalu menganggap persahabatan hanya dipenuhi hal-hal baik. Ia salah. Konflik-konflik kecil seperti ini ternyata mampu mempermanis hubungannya dengan Yeonhee. Satu hal yang lebih hebat lagi dari berakhirnya pertengkaran mereka berdua adalah terbuktinya teori lucu kakek Chanyeol mengenai Bulan.

Bahwa di langit yang menaungi perdamaian, Bulan akan menggandakan diri.

Chanyeol malah melihat empat malam ini, yang semuanya indah.

Satu di langit, kali ini tidak tertutupi awan, genap 360 derajat. Yang kedua di leher Yeonhee, terbuat dari perak. Dua sisanya adalah lengkung mata cantik Yeonhee ketika tersenyum—yang terakhir ini disimpan dalam folder memori khusus di microchip sentral Chanyeol.

***

TAMAT

Advertisements

14 thoughts on “MAMA-09: Moons

  1. AMPUN AMPUN AMPUN KALIMAT2 TERAKHIRNYA GOMBAL2 MANIS IHHHH

    Kayaknya baru di MAMA-09 deh yang robotnya bisa marahin tuannya sendiri XD iya dong, chanyeol gitu. Malah kalo chanyeol terlalu serius aku gabisa bayanginnya hehehehe. Baca ini jd kayak mengenang exo next door

    Ini lucu banget kakkk! Chanyeolnya minta dikantongin marah2 imut gituuu! <33 Pengen pesen MAMA ginian juga kak, masih ada stock ga nihh? Hehehe kak liana semangat terus yaaa! Ditunggu lanjutannyaa 😀

    Like

    1. eh, ini tuannya chanyeol kan kakeknya bukan yeonhee hehe.
      kamu kantongin chanyeol pake apaaa hahaha gak cukup sayang *pake karung goni *nih jiwa psikopat muncul gara2 liat kyungsoo di i remember you

      Like

  2. Wah kak liana overdose sama Exo Next Door, padahal aku nonton aja gajadi soalnya part junmyeon dikit sekali. Dan terlalu fluff, hati ini tak akan kuat..

    Tapi yang ini bagus banget fluff-nya pas, ga bikin diabetes ❤

    Like

    1. lah nyari junmen di END XD sebenernya part mas itu lumayan banyak kalo dibandingin exo-m T.T apalagi di episode berapa itu bener2 dedicated for junmen kan, yg dia keluar rumah sakit dan terpincang2 ke ruang latihan itu.
      makasih sdh baca ya!

      Like

  3. Waaaaa,,,, akhirnya Li, dari series Mama mu itu yang paling tak tunggu ya part nya chanyeol. Soalnya q penasaran siapa yg bakal kamu sandingin sama si happy virus satu ini, kalo kmu mau bikin sm Wen rada aneh kayaknya. Heumm,, ini feelnya kerasa banget kaya di END walopun beda alur.
    Dan satu lagi yg bikin ekspektasiku kacau, gimana bs liat robot brbentuk manusia yg tangannya cm separo doang,, apa kaga ngeri itu kalo orang lewat kaga tau klo chan ntu robot

    Like

    1. hah iya detil soal tangan putus itu aku lupa nulis. bener juga sih. mari kita menganggapnya nyopot tangan di lapangan yg lagi sepi itu *yea
      sebenernya gak aneh2 banget kok kak kalo disandingin sama wendy soalnya dia kan koplak juga, jatuhnya malah komedi ntar :p *lama aku gak nulis genre itu. omong2 soal chanwen kemarin aku nonton film peterpan di tv dan terpikir sesuatu kan. mungkin aku bakal bikin remake fairytale itu nanti

      Like

  4. tuh mas kyung, mereka sudah bahagia kamu ga usah nyempil-nyempil. sakit sendiri kan? wakaka

    ini unyu bet sih li, jadi kayak dibalik galak terbitlah perhatian. lol

    Like

  5. akkkkkkk, aku telat banget baru baca sekarang nih kak!! :/ maaf 😦
    ta-tapiii, astaga, aku baru tahu kalau chanyeol itu roamntis(?) juga yah.hahaha, yah entahlah hal di atas bisa diklasifikasikan romantis apa ndak tp sepertinya masuk klasifikasi!!! 🙂 yesss, aku suka banget sama interaksi antara yeonhee dan chanyeol, ah!!! berantem mulu tapi selalu memendam rindu(?) hahahahaaaa 😀
    ah, suka banget lah sama series yang satu ini 🙂 tinggal 3 lagi ya?aduh, udah mau abis aja mama series-nya 😦
    hee, semangat terus untuk kelanjutan series ini dan project yang lain 😉 😉 🙂

    Like

  6. Apa ini series? 😀
    Fic-nya bikin jadi inget romantisnya ChanHee couple…
    Ah, andai robot macam Chan bener-bener ada, langsung aku beli saat itu juga! *apaini
    Pokoknya ditunggu kelanjutannya!!! ;D

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s