Ceasefire: A Sound Beyond Shots

 I’m losing the loved ones in a storm of gunpowder. Give them back and end this ceasefire in peace.

[Warning] EXO-M in Alternate Universe! Jangan berpikir EXO-M yang ada sekarang! Unbeta’d ver.

***

EXO-M adalah idol group multinasional asal Cina yang debut pada tahun 2010 dengan single ‘Machine’ dan ‘Angel’. Grup ini langsung menarik perhatian penikmat musik, terutama dari kalangan remaja. Selain karena talenta dan pesona yang dimiliki masing-masing personel, grup ini juga memiliki dua anggota berkewarganegaraan Korea Selatan dan pada saat itu, Korean Pop atau K-Pop memang sedang digandrungi. Pun konsep single mereka banyak dipengaruhi oleh musik K-Pop walau tidak kehilangan kekentalan Mandopopnya. Dua bulan setelah debut, mereka menelurkan mini-album pertama ‘Kiss and Hug’ yang benar-benar melejitkan nama EXO-M di belantika musik Cina.

Akhir 2013, setelah sukses dengan tiga mini-album dan dua studio album, EXO-M menyatakan akan memproduksi mini-album pertama yang memuat lagu berbahasa Korea untuk melebarkan sayap ke negeri ginseng tersebut. ‘Hurt’, lagu utama dari studio album kedua ‘Moonlight’, digubah ulang dalam bahasa Korea dan dirilis sebagai single ‘pemancing’—dan single ini berhasil bertahan dalam posisi lima besar tangga lagu Korea selama beberapa minggu. Rasa penasaran fans Korea akhirnya terpuaskan dengan studio album dua bahasa ‘Exodus’ yang dirilis awal 2014. Sayangnya, setelah promosi ‘Exodus’ di Korea berakhir, EXO-M melanjutkan aktivitas di Cina dengan empat anggota saja karena personel Koreanya, yaitu Jin Zhongda—Kim Jongdae—dan Jin Minshuo—Kim Minseok, menjalankan wajib militer selama dua tahun ke depan.

***

Sekali dalam seminggu, para serdadu muda di perbatasan timur Korea Selatan akan mendapatkan anugerah paling istimewa dari Tuhan (yang disampaikan melalui komandan kompi).

Menelepon.

Jongdae dan Minseok biasanya akan menghubungi keluarga mereka, menceritakan banyak pengalaman yang mereka dapat selama pelatihan militer. Base perbatasan timur merupakan tempat paling rawan diserang Korea Utara, maka serdadu-serdadu yang ditempatkan di sana diwajibkan berpatroli lebih lama dari yang berada di base lain. Fasilitas yang mereka peroleh pun tidak terlalu memadai, tetapi justru dari hal-hal menyulitkan inilah Jongdae dan Minseok belajar menemukan kegembiraan, sekecil apapun itu.

Hari ini pun, Jongdae dan Minseok menghubungi keluarga mereka. Keluarga—yang tidak sedarah.

“Halo, Yifan? Ya, ini aku, Minseok. Jongdae mengantre di belakangku, jadi biarkan aku bicara cepat.” Berbeda dengan serdadu lain, Minseok bicara dengan bahasa Mandarin yang fasih. Mengapa? Karena ia, seperti yang banyak orang ketahui, adalah anggota dari EXO-M, boy group asal Cina yang sekarang merambah dunia musik Korea. Dan Minseok sekarang akan bicara dengan anggota grupnya yang—tentu saja—berasal dari Cina.

“Oh,” Duizhang—‘pemimpin’—Yifan kedengaran agak terkejut, “Minseok. Tumben kau menelepon kami. Apa kabar?”

“Baik,” Minseok sejenak memalingkan muka karena mendadak batuk, “Hanya agak flu. Di sini tidak ada air hangat untuk mandi, jadi ya … begitulah. Kuharap Lu Han tidak sakit flu juga; ini ‘kan akhir musim gugur.”

“Hm, dia sehat. Bagaimana Jong—“

“Kakak Pertama!!! Aku merindukanmu!!!”

“Fan, kenapa kau tidak bagi-bagi?! Baozi, hoi, ke mana saja kau?”

Suara-suara tak diundang memotong kalimat Yifan. Yang pertama bicara adalah Zitao, ‘Adik Keenam’, disusul Lu Han, ‘belahan jiwa’ Minseok yang merasa dikhianati karena jarang ditelepon. Mereka berdua begitu berisik sampai Jongdae, yang jauh dari telepon, mendengar mereka. Pemuda bersudut bibir tegas itu membentuk tanduk rusa dengan dua jari—‘ini Kakak Kedua?’—juga lingkaran di depan mata untuk meniru panda—‘dan si mata panda Tao?’. Minseok yang kebetulan menoleh ke belakang mengangguk sambil mendesah panjang, tetapi di bibirnya tersungging senyum.

“Biaya menelepon ke Cina mahal, jadi tidak diizinkan oleh sersan, tetapi berhubung kalian sedang ke Seoul, aku bisa menelepon. Kalian sehat-sehat saja, ‘kan?”

“Iya. Apalagi Zitao, dia tambah banyak makan sekarang! Kalian berdua cepatlah kembali, kalau tidak Zitao akan bertumbuh terus—ke samping! ‘Kan tidak ada lagi yang menghabiskan makanan selain dia!”

Bunyi gemerisik menyela Lu Han sebelum suara Zitao terdengar di seberang. “Tidak, Kakak Pertama! Duizhang juga membantuku makan, kok!”

Gemerisik lagi, lalu disambung suara Yifan. “Maaf, Minseok, tadi kacau—pst, aku sudah memasang loudspeaker, Lu Han. Oh ya, maaf lagi, apa ada yang ingin kau ceritakan?”

“Yah … di sini kami masih berlatih melawan angin dingin musim gugur. Cuaca tidak begitu bagus, tetapi terlepas dari flu ringan, aku dan Jongdae baik-baik.”

Hening. Bukannya melankolis, tetapi serius, dada Minseok rasanya penuh hingga sulit bicara, padahal banyak sekali yang ingin ia ceritakan dalam waktu yang terbatas. Mendengar suara-suara familiar ini setelah setengah tahun putus kontak benar-benar melegakan sekaligus … mengharukan? Well, Minseok tidak akan pakai kata yang terakhir karena akan sangat memalukan jika ia terharu saat mendengar suara adik-adiknya yang konyol.

“Yixing mana?”

“Sebentar.” Yifan pasti sedang menyerahkan ponsel pada penari utama grup, si lesung pipit yang sering blank, Zhang Yixing. Minseok mengetuk-ngetukkan jarinya di pinggir meja telepon—jatah meneleponnya hampir habis—sebelum terdengar suara gemetar dari si ‘Adik Keempat’.

“Kakak Pertama cepat pulang … Hiks … Anu … Kalau kau butuh tonik, aku akan … hiks … mengirim dari sini … Jagalah kesehatanmu, Jongdae juga …”

Anomali. Zitao ceria sekali tadi di telepon, padahal Yixing sesenggukan. Situasi yang terjadi sungguh berlawanan dengan biasanya. Yang jelas, karena Yixing bukan seseorang yang cengeng seperti Zitao, tangisannya ini menyentuh Minseok. Pastilah si lesung pipit merasakan tekanan perasaan yang lebih hebat. Minseok tidak akan bertanya kenapa Yixing menangis hingga sebegitu rupa, sebaliknya dia tersenyum dan mengatakan bahwa ‘satu setengah tahun lagi aku pulang’ dan ‘fokuslah pada kegiatan-kegiatan solo kalian selama kami di sini’.

Barulah ketika jatah teleponnya habis, Minseok mengaku pada dirinya sendiri bahwa kerinduannya pada orang-orang itu sangat besar.

“Asyik, giliranku!” Jongdae melangkah maju dengan gembira, menerima gagang telepon dari Minseok dan menekan nomor Yifan sekali lagi. Minseok menunggu di luar antrean, sekali lagi menghembuskan napas berat. “Rasanya berapa pun waktu yang kita punya untuk menelepon tidak akan cukup, Jongdae-ya.

“Tidak apa-apa, aku akan mengatasinya dengan kemampuan rapku.”

Kalau kau mencari seseorang yang bisa merusak suasana dramatis, Jongdae-lah orangnya.

“Halo—“

Wassup, Duizhang, tadiakudanKakakPertamamainsepakbola, lalukamimenangdanlolosdarihukumanlarisepuluhputarankelilinglapanganlumpur! Hariinikamijugalatihanmenembakdanmelempargranat, akuterlukasedikittapitakmasalah! BagaimanakabardramaKakakKedua, apapemainpendukungnyacantik? Katakanpadanyauntuktidakjelalatan, pacarnyamenunggudiBeijing! DanKakakKeempat, janganmenangis! Akuakanpulang18bulanlagisupayakitabisabuatsubunitakustik! Yeah, danmungkinakubisamasuksubunithiphopjugadenganDuizhangdanZitao! Yo, any question?”

Minseok berlutut di samping antrean dengan wajah disembunyikan di balik lengan. Ia mengigit bibir dalamnya supaya tidak tertawa kencang. Bisa-bisa sersannya akan memerintahnya melakukan Wonsan pok-gyeok [1] sebagai hukuman karena berisik di base.

Aku tidak mengenal Kim Jongdae, aku tidak mengenalnya!

Sementara di sebuah hotel di Seoul, empat pemuda Cina yang mendengar rap Jongdae menunjukkan respon sama: mulut menganga macam ikan kehabisan air. Tiga detik kemudian, barulah mereka menanggapi dengan cara yang berbeda.

Rapmu hebat sekali, Kakak Kelima! Ayo kita minta agensi untuk bikin subgrup hiphop bertiga sama Duizhang!” Ini Zitao, tawa hi-pitchnya tidak ketinggalan.

“Hehe, Jongdae lucu …” Yang sengau tentulah Yixing.

“Yifan, matikan teleponnya.” Ini Lu Han. (Yang langsung dibalas: ‘yo, KakakKeduayangtidakbisangerapdiamsaja!’.)

Terakhir adalah sang pemimpin grup yang pernah menghabiskan masa remajanya di Amerika.

Your rap sucks,” Bahasa Inggris Yifan yang kental dengan aksen Kanada mensmash Jongdae tanpa ampun, “Setelah wajib militermu selesai, pulanglah cepat biar bisa belajar ngerap dengan benar. Jaga dirimu dan Minseok baik-baik, Pendek.”

Ah, yes, Brother … Any other questions?”

“Ya, kau belajar ngerap bahasa Mandarin di mana? Pengucapanmu belepotan.”

Seketika Jongdae cemberut. “Duizhang, jangan bilang begitu. Aku belajar ngerap di sela latihan supaya bisa menyampaikan banyak hal dalam sedikit waktu menelepon. Dan ngerap bahasa Mandarin itu susah sekali, tau!”

Yifan ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara seseorang yang meminta Jongdae segera mengakhiri telepon menimbulkan seruan kecewa tiga pemuda Cina lainnya. Lu Han segera merebut ponsel dari Yifan dan ngerap dengan nada ngawur; siapa peduli soal posisinya sebagai salah satu vokalis utama EXO-M?

“Kembalilahketendamudansampaijumpadibattlerapberikutnya!”

Tut … tut …

Jongdae meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya. Dari sudut mata, Minseok dapat menangkap kesedihan di wajah rekannya yang lebih muda. tetapi hanya sekilas. Jongdae sudah paham posisinya sebagai pencerah grup, maka pria muda berambut cepak itu tersenyum lagi layaknya kucing ke arah Minseok.

“Ayo, Hyeong, kita kembali ke camp. Aku janji akan mengalahkan si rusa gigi maju itu di battle rap kalau nanti pulang ke Cina.”

Sang hyeong menyampirkan lengannya di bahu Jongdae sebagai bentuk dukungan tanpa kata. ‘Pulang ke Cina’, katanya? Memang rumah mereka ada di Cina?

Tapi ‘rumah’ memang bukan selalu tempat di mana keluarga kandungmu berada. Rumah adalah di mana kau dikelilingi orang-orang yang sayang padamu. Bagi Jongdae dan Minseok, Yifan, Lu Han, Zitao, dan Yixing termasuk ‘orang yang menyayangi mereka’. Tawa empat orang ini, termasuk milik Yixing yang agak parau tadi, memulihkan tenaga dua serdadu muda berambut cepak melewati 18 bulan yang tersisa.

Suara-suara inilah pengobat rindu yang terkubur dalam letusan senjata laras panjang.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

Footnote: [1] arti literalnya: pemboman Wonsan. Serdadu akan meletakkan kepala di lantai/ tanah, dengan badan dilengkungkan dan seluruh berat badan tertumpu ke kepala dan ujung kaki. (seperti ini)

.

.

.

.

.

jam sembilan malem, bingung mau bikin cerita MAMA-nya Xiumin kayak apa, jadilah ngepost hal gaje ini.

Advertisements

15 thoughts on “Ceasefire: A Sound Beyond Shots

  1. Spot. Ye pertama yeeee.
    Ka liana kebiasaan banget paragraf terakhirnya bikin sedih :’D
    Terus yang rap itu kok jadi kayak killerbee di naruto ya kak.. terus aku kefikiran kalau yifan sama luhan nyanyi di exodus.. ah kangen

    Like

    1. padahal aku gak kepingin bikin ini sedih sumpah.
      dan YAHAHAHA ADA YANG TAU KILLERBEE LAGI HAH tuh orang falsnya gak ketulungan tapi jongdae kan gak fales.
      iya, mbayangin krislu di exodus T.T *tapi mendingan jangan *ntar EXO-L mati semua kalo mereka ikut Call Me Baby sama Love Me Right

      Like

      1. Iya kak niatan doang, ga dijalanin huhuhu..
        Hahaha parah sih suara killerbee, emang suara jongdae ga fals, cuma kok aku bacanya malah pake cara killerbee ngerapp huhu..

        Krislu nyanyi cmb sama lmr ovaries exploded kak wkwk

        Like

  2. Sumpah Li, paling lama bacanya tuh ya pas ngerapnya jongdae. Dan geli juga habis itu minseok brlagak aku tdk mengenalnya.

    ‘anomali’, suka diksimu satu ini, drpd blng ‘terbalik’, kmu pake kata itu.

    Heol, emg setelah chanyeol mama yg tak tunggu itu ya uminnie, kapan diposnyaaa.
    Eh, kmu bingungnya knp? Coba dong bikin xiumin sama irene,,

    Like

    1. hehe makasih kak fafa udah mampir ke sini 🙂 padahal ini fic setengah mateng yg sudah kebelet dipos….
      xiurene? tapi2 suho… *yea* iya aku bingungnya soalnya ide buat mas umin itu semuaaaa angst T.T padahal aku pingin bikin yg fluffy unyu2 sama kim yoojung *kan sama2 muda *bohong banget :p

      Like

  3. di saat EXO-M mengalami krisis identitas dgn ‘lulusnya’ beberapa member, ini bagai angin segar..
    Aku suka…aku suka..
    Dan… Oh.. Bagian rap Chen bikin aku hampir keselek..

    Like

  4. ka liana, aku harus balik ngeja lagi grgr rap nya chen. oke…kalo aku di posisi xiu juga paling bakal pura2 ga nganggep chen itu temen. sadis.
    kenapa kok tbtb jadi kangen krislutao duh:”)

    Like

  5. telat banget bacanya, huhu, sori Kak Liana T_T /haaa payah banget lau, Na T_T/

    KAK! PLEASE, KUKIRA BAKAL ADA ADEGAN TEMBAK-TEMBAKAN ATAU APAP GITU EH INI MALAH ‘TEMBAK-TEMBAKKAN’ KATA! PLEASEEE, HEOLLLL T_T /sori kepslok jebol/

    tetapi, saat baca ini aku jadi throw back ke masa wolf di mana mereka paling bahagia, khususnya ekso-em…./ini menurutku/

    en, seperti biasa, story line Kak Liana selalu keren dan fresh 😀 yang ini sukses buat aku ngikik sendiri di depan layar T_T semua part di vignette ini favoritku, huhu 😀
    selain Jongdae yang ngerap salah satu remarkable part adalah ketika Yifan bales nge-diss rap-nya Si Jongdae, loll /maafkeun aku, Chen-ssi/

    semakin hari, aku semakin suka sama tulisannya Kak Liana, pokoke ❤ lah 😀

    sori atas komen rusuhku, keep writting 😀

    Like

  6. KAKAAAAAK, TANGGUNG JAWAB FEELING AKU CAMPUR ADUK NEEEH. Adududuh, kangen yifan kaaaaak ㅠㅠ Cerianya Jongdae emang killer banget emang!!! Senyam senyum aja gegara jongdae. Minseok jugak! aduh, abang bapao!!!

    Like

  7. Aku sampe ga ngedip baca rap nya Jongdae hahaha
    Aku ga tau harus bayangin rap ala” siapa, tp tiba” dengan bodhnya rap ala killerbee yg terlintas dikepala wkwkwk
    Dan pas Lu bales rap aku malah cengo, jadi cuma bisa bayangin ala baca cepat hihihi
    Ngakak pula sama kelakuan Minseok yg suka so so ga mau ngakuin adiknya itu hahaha
    Aih jadi merindu enam makhluk ini tinggal sekandang lagi *opo toh ndo*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s