MAMA-10: Chang’e

10

-The moon is rising.-

[Warning] Unbeta’d MAMA spam ahead!

***

Berbeda dengan kawan-kawan robotnya terdahulu, Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant cetakan kesepuluh dipekerjakan di tempat yang istimewa. Cahaya sangat sulit masuk ke sana. Lampu hanya dinyalakan ketika ada interogasi; daya lampunya pun rendah sehingga ruangan tidak begitu terang. Sinar matahari bisa menyelusup dari jendela, tetapi bayangan sebuah pohon besar di luar mengurangi jumlahnya. Malam adalah waktu tergelap, kecuali saat purnama. Namun, Tao—nama yang diberikan para polisi untuk MAMA-10—tidak pernah mengeluh. Dia toh tidak lebih dari mesin yang dioperasikan oleh microchip kecil. Siraman cahaya dan kasih sayang bukan hal yang ia butuhkan, jadi tidak masalah baginya berada di depan penjara itu untuk waktu yang lama.

Tanpa perintah polisi, Tao tidak pernah sekalipun membiarkan jeruji besinya tertembus. Dengan tangannya yang kaku, ia remukkan siapapun yang berusaha kabur dari bui. Karena kerjanya yang efektif dan jujur, Tao dipertahankan hingga beberapa dekade—di bawah tanah. Sekali lagi, ini bukan masalah buatnya karena ia tidak merasa takut, kesepian, atau ingin tahu tentang dunia luar.

Hingga sesosok makhluk asing turun ke tempatnya. Makhluk asing yang indah, dengan rambut hitam sepunggung, sepasang mata coklat gelap, bibir merah tanpa pulasan, leher jenjang, dan postur tinggi ramping. Tao pernah mendengar ocehan seorang terpidana mati mengenai dewi bulan legendaris Chang’e; nama ini pulalah yang pertama muncul dalam benak ketika si makhluk asing dikunci di ruangan berjeruji besi. Tapi algoritma berpikir Tao tidak menerima fakta ini. Chang’e adalah dewi, sedangkan tempat ini hanya untuk para penjahat, bukan? Terlebih, menurut keterangan para polisi, ‘sang dewi’ ditahan seumur hidup; dewi sungguhan yang suci tak mungkin sudi dihukum.

“Siapa kau?” Biasanya Tao tidak begini penasaran tentang identitas tahanan, tetapi sesuatu tentang makhluk asing ini berhasil memicu rasa ingin tahunya.

Dan makhluk asing itu—wanita itutersenyum.

“Jia. Kau sendiri?” Suaranya lebih lembut dari para petugas dan tahanan yang Tao ingat.

“Aku Tao.”

“Oh. Kau sipir mekanik itu, rupanya. Mereka bilang kau mencabut nyawa lebih cepat dari algojo jika ada yang mencoba meloloskan diri.”

“Tidak. Aku hanya meretakkan tulang mereka sedikit. Menghukum mati tahanan tetap pekerjaan algojo, kok,” Tao duduk bersila di depan jeruji besi; kelihatannya percakapan kali ini akan panjang, “Kenapa kau masuk ke sini?”

“Aku membunuh,” Wanita muda itu tertawa getir, “Semua orang yang masuk sel ini membunuh, harusnya kau tahu itu kalau kau sudah lama di sini.”

Tao terbelalak. Dalam pikirannya, makhluk-makhluk—ehem, para wanita—seperti Jia tidak akan pernah mengambil nyawa. Mereka tampaknya tidak memiliki daya untuk melakukan hal sekeji itu (Tao tidak tahu apakah membunuh benar-benar keji, tetapi para petugas selalu mengatakan itu, jadi ia percaya saja).

Sementara Jia berpikir kepolosan Tao cukup manis untuk ukuran sebuah mesin penjaga penjara.

“Siapa yang kau bunuh dan kenapa?”

Jia bukan tipe orang yang suka membocorkan rahasia biarpun berada di bawah tekanan, tetapi keingintahuan Tao memancingnya sangat mudah. Walaupun semula ragu, ia akhirnya mengedikkan bahu dan menjawab.

“Kekasihku. Kalau aku tidak menusuknya sampai mati, dia akan…” Helai-helai gelap rambut Jia menutupi mata ketika ia menunduk, “…merusakku.

Entah apa yang Jia maksud dengan ‘merusak’, yang jelas pasti mengerikan karena wanita muda itu memeluk diri sendiri setelah mengatakannya. Tao kembali dibuat heran. Ia pernah ‘merusak’ (baca: menghajar tahanan perusuh), tetapi tahanan yang tenang tidak menjadi targetnya. Jia tidak menampakkan ciri-ciri ‘perusuh’ itu, lalu… “…kenapa kekasihmu mau merusakmu?”

“Jangan tanya aku. Mungkin memang hobinya merusak apa yang masih bagus. Dan berhenti bertanya karena aku tidak bisa menjawab semua.”

Tao diam. Mengamati lecet di sudut bibir Jia. Turun ke leher yang dihiasi jejak kebiruan. Ke pergelangan yang dilingkari bekas ikatan berwarna merah. Mendadak Tao ingin tahu sesakit apa rasanya luka-luka itu dan tidak keberatan memindahkan semua luka itu ke tubuhnya. Mustahil memang, tetapi sungguh, hiasan-hiasan itu malah meruntuhkan kesempurnaan Jia jika diamati dengan teliti.

Tangan kiri Tao melewati jeruji demi bisa menyentuh telapak Jia yang tersayat (oleh apa, tidak ada yang tahu), tetapi Jia refleks menarik tangannya kesakitan. Ketakutan. Malu. Tao pun kaget. Padahal ia belum merasa menyentuh Jia, tetapi ia lupa bahwa sensor di kulit Jia lebih peka.

“Maaf. Sakit sekali, ya?”

Ini pertama kali Tao merasa cemas.

Dan ini pertama kali pula Jia dicemaskan seseorang… sesuatu… tidak, seseorang. Tao lebih manusiawi dari manusia asli yang telah menyakitinya.

“T-tidak. Tidak apa-apa,” Jia membalikkan tubuh, menekuk lutut dengan punggung bersandar di jeruji besi, “Aku lelah. Boleh aku tidur?”

“Silakan.”

Tao nyaris bangkit dari duduknya ketika Jia memanggil. Suaranya kian lirih, agak tak jelas karena tertutup lengan, tetapi permohonannya tetap terdengar oleh sang humanoid.

“Tolong jangan pergi. Duduklah memunggungiku dan berjagalah di sini.”

Tao tidak menolak; toh tidak ada tahanan lain yang harus ia awasi. Ia ikut bersandar di jeruji besi, di luar penjara, punggungnya menempel dengan Jia. Punggung wanita itu dingin dan terasa sempit kalau dibanding miliknya yang lebar, tetapi entah mengapa, Tao betah berada dalam posisi tersebut. Selain itu, aliran listrik yang menjalari tubuhnya seakan meningkat ketika tersentuh kulit Jia, sekalipun masih terhalang pakaian.

Dan sengatan-sengatan itu makin kuat ketika jari mereka bertaut—ditautkan Jia.

“Dulu aku mengira kalau masuk penjara itu sangat menyeramkan,” Jia menengadah, “tetapi Bulan dari sini terlihat bagus juga. Dan aku bersyukur di sini aku tidak sendiri.”

“Kau ditahan sendirian, Jia. Di sini tidak ada sel lain. Tidak ada tahanan lain.”

“Aku satu-satunya tahanan di ruang ini, tetapi kau ada.”

Saat Jia kembali tertunduk, satu desah lega lolos dari bibirnya.

“Dan itu cukup buatku, Tao.”

Menit-menit berlalu dalam senyap. Ketegangan perlahan menguap dari tubuh sang tahanan wanita, tanda bahwa ia sudah terlelap. Tao menoleh ke belakang; Jia tertidur dengan cahaya Bulan menimpa wajah. Di luar algoritma berpikirnya yang biasa, Tao menerka-nerka apakah memang sedamai ini wajah Jia sebelum masuk penjara. Ataukah malah lebih buruk? Jika kekasih Jia memperlakukannya dengan kasar, maka mustahil gadis itu dapat merasakan ketenangan.

Ah, benar bahwa kurungan ini sangat membatasi, tetapi di sinilah Jia benar-benar aman dari tangan-tangan yang hendak menjamahnya.

Tao melepaskan tangan dari Jia dan berjalan menjauhi sang tahanan. Terlalu banyak letupan-letupan baru dalam dadanya yang tak mau hilang ketika bersama Jia—barangkali besok, ia akan meminta polisi untuk mereparasinya. Cepat saja, supaya Jia tidak terlalu lama sendirian.

***

Selama ini, penjara merupakan tempat mimpi buruk menjadi kenyataan, tetapi setelah Jia datang, definisi itu berganti. Jeruji besi adalah pelindung Jia dari para perusak. Tangan penghancur Tao kini akan membelai lembut milik Jia, meyakinkan gadis itu bahwa ia memiliki teman. Menghapuskan ketakutan serta tangisnya. Memberinya harapan untuk merasakan kebebasan suatu hari nanti.

Dan Jia mulai menemukan senyum tulusnya yang lama terkubur.

Dalam kegelapan penjara bawah tanah, cahaya akhirnya mendapatkan bentuk yang baru.

***

TAMAT

Advertisements

11 thoughts on “MAMA-10: Chang’e

  1. Ngambang Li endingnya, aq masa nebak ntar Tao minta keringanan gtu ke pengadilan spy ga ngehukum mati Jia. Hahh,, sudahlah.

    Eh ya, aq tau ini Jia Miss A kan, tp ntah np pas baca aq bayanginnya Jia ini OC. Habis gmn, aq kurang tau Jia kek gmn, tp feel nya tetep dpt klo pun Jia ini OC. Great Liana!!
    Cover nya jg keren, dark gmn gtu,,

    Like

    1. aduh iya ngambang banget ya? iya karakter jia di sini juga kurang pas dia kan adorkable gimana gitu *sama sih tao juga
      lain kali aku perbaiki deh kak ficku uuuh. series ini memang ga layak post banget tapi mau gimana lagi :p

      Like

  2. yosshh!! akhirnya couple yang ditunggu-tunggu muncul juga 😀 taoxjia everubadeh!!!!!
    yaaa, makin ke sini aku makin ngulet(?) baca mama series ini, kak liana, kok bisa-bisanya sih ngejumpalitin imej tao yang tadinya suka pecicilan gaje jadi humanoid sipir penjara yang patuhnya ga ketulungan tapi teteup polosnya masih nempel 😀 itu keliatan unyu dan adorable? yess, aku malah ga nangkep feel dark-nya kecuali suasana penjara yang suram itu hee^^
    suka banget sama karakter jia yang agak rapuh dan feminin tapi gitu2 doi berasil ‘ngelawan’ kekasihnya sampe dia dipenjara gitu.hee, suka banget deh 🙂 menurutku pribadi sih, karakter canon dr jiaxi ini cocok untuk diubah jadi apa aja 🙂 itu menurutku lho,hehe..

    dan, untuk kerangka cerita, alhamdulillah, aku ga menemukan cela yang patut dicurigakan 😉 apalagi pas liat catetan kalau series ke-10 ini unbeta, dan setelah baca ky udh dibeta gitu kan keren 🙂 hehe

    yoshh!! ini keren abis, dan selamat ya kak liana sudah surpassed project kece ini!!!! 🙂 aku bakal ngelanjutin baca kedua series terakhirnya, *ppyong 😀

    Like

  3. AMPUN INI MANIS BANGET GILAAAA AKU GAKUATTTTT !

    Hai kak lianaaaa! *lambai-lambai* Lama tak jumpaa 😀 pas berjumpa disuguhin yang manis sekali seperti ini :”)

    Aku suka banget yaampunn! <3333 Aku suka gimana jia nemuin kehangatan baru di penjara, dimana tangan tao sekarang punya fungsi yang baru. Aaahhh ini sweetness overload banget! { } kak liana semangat terus yaa nulisnyaa 😀 maaf ini komentarnya pendek banget huhuhu 😦

    Like

  4. Iya ini fluff banget, taonya manis banget perlakuin jia kayak gitu. Gapengen merusak lebih jauh. Dan ya aku suka couple ini kak, garagara fic ini hihi. Keep writing kak! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s