MAMA-11: Partner

11

-You’re a cold machine.-

***

“Halo. Aku Boa dan kau Sehun. Mulai besok, kau akan menjadi partnerku untuk mendemokan setiap pas de deux [1] di kelas balet.”

Modern Anthropomorphic Mechanical Assistance terbaru, MAMA-11, dibeli oleh seorang guru tari, balerina dengan jam terbang tinggi Kwon Boa. Pada hari pertama dinyalakan, MAMA-11 mendapatkan nama baru Sehun dari sang penari dan dilatih beberapa gerakan dasar balet. Sesuai ekspektasi, Sehun menguasai teknik-teknik dasar ini dengan cepat, sehingga latihan tidak membutuhkan waktu yang lama. Hari berikut-berikutnya, sang humanoid berwujud pemuda 18 tahun itu selalu menemani pemiliknya ke kelas, menjalankan tugas sebagai pasangan menari Boa sekaligus membantu Boa mengajar. Interaksi Sehun dengan Boa sebatas itu saja, setelahnya dingin dan sunyi, meski sesekali Boa mengucapkan selamat tidur sebelum menekan tombol ‘off’ Sehun pada malam hari.

Namun, semakin sering ia mendatangi kelas balet (dan bertemu banyak manusia), Sehun belajar makin banyak. Microchip sentral dalam kepalanya dapat mencerna informasi dari lingkungan dan mengaitkan hal-hal tersebut satu sama lain, tidak hanya sekadar menyimpan memori. Maka Sehun mulai memahami bahwa semua manusia memiliki perasaan dan ribuan ekspresi yang luwes…

kecuali Boa.

Menurut pengamatan Sehun, ketika tersenyum di situasi menyenangkan, sudut bibir Boa kurang naik 1,25-1,98 milimeter dari orang lain yang juga tersenyum di dekatnya. Saat menangis, air mata Boa hanya turun satu hingga tiga tetes; ini jumlah total dari dua mata yang ia miliki. Tangisan itu pun tidak disertai dahi melipat atau kedutan bibir yang pada umumnya muncul pada orang sedih. Algoritma berpikir Sehun yang sederhana mengartikan kurangnya ekspresi ini sebagai suatu malfungsi yang harus diperbaiki.

Jadi Sehun merenungkan bagaimana caranya memercikkan perasaan pada Boa. Ia mengambil cermin seukuran wajah di kamar sang pemilik, kemudian melatih ekspresinya sendiri sebagai persiapan. Kalau mampu berekspresi dengan benar, maka Sehun dapat meminta Boa untuk menirunya, dengan begitu Boa tidak akan mengalami malfungsi lagi, bukan?

***

Seminggu sebelum membeli Sehun, Boa mengalami satu dari tragedi paling mengerikan dalam hidup seorang wanita.

Ia gagal menikah.

Tunangannya—yang merupakan guru tari di akademi yang sama—lari dengan gadis lain dan tidak kembali. Akibatnya, Boa terus bersedih dalam hari-hari yang gelap dan panjang. Satu sisi otaknya, barangkali, terganggu sedikit, sehingga ketika tangisnya kering, ia kehilangan seluruh ketulusan ekspresinya.

Di saat-saat krisis ini, murid Boa yang bernama Jung Soojung muncul bersama seorang pemuda—yang baru Boa tahu belakangan ternyata bukan manusia. Kai, nama pemuda itu, adalah robot humanoid yang dirancang sebagai asisten mekanis serbabisa. Bersamanya, Jung Soojung yang biasa bermuka kaku perlahan melunak. Dari sinilah, Boa menduga, si asisten mekanis benar-benar bisa melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan pembelinya, termasuk memperbaiki hati yang telah hancur. Sang guru tari tidak banyak berharap, tetapi ia tetap membeli MAMA-11 dan memberinya nama Sehun: ‘yang unggul dan luar biasa’.

Walaupun sama-sama MAMA, Sehun tidak menampakkan raut wajah sejujur Kai. Boa tidak kecewa akan hal ini; dia cukup realistis untuk menyadari bahwa Sehun hanya mesin berkerangka titanium berbalut kulit sintetis yang dibuat semirip mungkin dengan manusia. Perasaan merupakan keistimewaan milik manusia saja, jadi tidak aneh kalau Sehun belum—atau tidak—memilikinya. Namun demikian, kehadiran Sehun berhasil mencerahkan hari Boa, sedikit. Sedikit sekali.

Dan Boa terkejut karena suatu hari, Sehun senyum-senyum sendiri di depan cermin, lalu murung, tetapi sebentar kemudian tersenyum lagi.

“Kau sedang apa?”

Dengan wajah hampanya yang biasa, Sehun berpaling pada Boa. “Latihan.”

“Latihan apa?”

“Latihan untuk melatih raut wajah Boa-noona.

Alis Boa terangkat. “Melatih raut wajahku?”

“Senyummu berbeda dengan senyum orang lain yang lebih lepas. Kalau kau menangis pun berbeda dari orang lainnya.  Kau sedang rusak dan aku akan mengajarimu supaya bisa berekspresi dengan normal lagi.”

‘Rusak’?

Penjelasan sederhana sang robot membuat Boa sejenak melupakan sakitnya ditinggal kekasih yang lama. Kepolosan Sehun untuk memperbaiki ‘kerusakannya’ cukup menyentuh, bahkan biarpun Boa tahu itu sudah diprogramkan. Tanpa Boa menginginkan, sudut-sudut bibirnya naik, kali ini tingginya pas dengan rata-rata orang yang Sehun amati, tetapi tak lama. Hampir saja Sehun mematahkan anggapannya bahwa Boa rusak, tetapi… ah, ternyata Noona masih rusak, begitu pikirnya.

“Aku bukan mesin, mana bisa rusak? Lagipula, kalau masalah raut wajah, mestinya aku yang melatihmu.” Boa memberi isyarat pada Sehun untuk keluar kamar. Patuh, Sehun melangkahkan kaki panjangnya mengikuti sang guru tari.

Dan setelah duduk berhadapan dengan Sehun di ruang makan, Boa bingung.

Kenapa aku bilang akan mengajarinya berekspresi, sedangkan perasaanku mulai menumpul?

Jelas Boa tidak bisa diam terus. Sehun di seberangnya menunggu, jadi Boa menyeret kursinya maju. Kedua ibu jarinya lalu ditempelkan pada sudut-sudut bibir Sehun.

“Ketika kau ingin tersenyum,” Boa menaikkan ujung bibir Sehun sedikit, membuat sang humanoid tampak aneh, “kau tidak boleh melakukannya tanpa merasa senang. Secara teknis, mustahil kau bisa merasa, maka kau tidak akan tersenyum, tetapi keajaiban bisa terjadi, ‘kan? Sekarang ingatlah kenangan-kenangan di mana kita menari berdua—dan tirukan wajahku.”

Sehun membongkar folder memori dalam microchipnya. Satu persatu rekaman menarinya dengan Boa terputar ulang.

Ia masih tidak merasakan apapun.

Sementara Boa lebih memilih memutar ulang masa lalu dengan mantan calon suaminya untuk memancing senyumnya sendiri. Masa-masa bahagia itu rupanya masih mampu membangkitkan kebahagiaan yang sejenak mengembangkan senyum Boa. Masa-masa ketika mereka masih berduet, mendemokan pas de deux  untuk dua kelas sekaligus. Masa-masa mereka berkencan di sela mengajar. Masa-masa mereka tampil berdua di panggung sebagai penari balet profesional.

Masa-masa yang sudah pergi.

Boa gagal tersenyum. Bibirnya melengkung sedih, genangan kecil di kelopak matanya tumpah juga ke pipi. Buru-buru ia menghapus air mata itu. Ah, kenangan manis kini berubah mengerikan—Boa jadi tidak bisa lepas dari kesedihannya sendiri. Ia tidak bisa tersenyum tulus saat satu sisi dirinya sangat merindukan seseorang hingga terasa sakit.

Sehun, tentu saja, meniru ekspresi ini. Sudut bibir diturunkan, dahi dikerutkan, mata mengerjap-ngerjap menahan tangis (padahal Sehun tidak ikut menangis). Wajah tampannya berubah persis alien di film sci-fi. Geli, Boa memukul pelan lengan si robot dan menyuruhnya berhenti meniru. “Ini bukan senyum, tetapi wajah sedih. Dan wajah sedihmu jelek, tau.”

“Tapi aku hanya meniru Noona. Aku jelek karena Noona juga jelek.”

Ya, hentikan kubilang!”

Boa tertawa, sengau, dan Sehun mengatur frekuensi suaranya, disengau-sengaukan supaya sama. Kerut-kerut sedih yang masih bersisa membuat wajah Sehun makin aneh. Karena gemas, Boa menepuk dua pipi Sehun bersamaan, menahan si humanoid agar tidak pasang wajah aneh lagi.

“Ya, ya, sudah. Aku mengerti aku jelek kalau menangis,” aku Boa seraya mengusap cepat pipinya yang basah, “Nih, aku tersenyum sungguhan sekarang. Setelah kulepaskan kau, coba tirukan senyumku.”

Tangan Boa turun dari pipi Sehun—dan saat itulah, Sehun tersenyum.

Bukan karena meniru Boa.

“Aku senang Noona sudah tidak rusak lagi. Sekarang Noona sudah terlihat seperti manusia lainnya.”

Betapa manis. Betapa polos. Betapa perhatian. Seperti kertas yang dimasukkan penyerut, memori tentang tunangan Boa hancur menjadi serpihan setelah senyum jujur pertama Sehun terkembang. Lembar kehidupan baru dibuka; belum ada seorang pria pun yang tampak di sana, tetapi Boa yakin suatu saat pasti akan datang. Selama itu, Boa akan menunggu bersama partner menarinya yang bertubuh logam ini.

Buncah gembira dalam dada Boa ujungnya hanya keluar sebagai tawa kecil.

“Terima kasih, Sehun.”

***

Benar bahwa Boa telah ‘kembali’ ke dunia manusia, tetapi giliran Sehun yang kini terseret keluar batasnya sebagai mesin. Ia tersenyum, merasa senang, dan dirambati sengatan-sengatan kecil yang tak jelas di dalam tubuhnya setiap kali melihat Boa.

Mesin normalnya tidak mengalami ini.

Sekali lagi Sehun berpikir ada yang rusak—yaitu dirinya—tetapi ganjil, ia tidak ingin memperbaiki kerusakan itu.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

.

[1] pas de deux: istilah dalam balet untuk tarian berpasangan pria dan wanita

Advertisements

13 thoughts on “MAMA-11: Partner

  1. IH SWEET BANGEEEEEET- aku gak tau mau komen apalagi ini sweet banget-banget. Terus castnya juga Sehun-Boa ya ampun ((shipper diem-diem))
    Lucu banget ;;;_;;; dan kasian juga ya Boa gagal nikah… Duh siapa sih cowoknya hajar aja tuh sama Sehun! ((Ya))
    Tapi ini momennya ala-ala mama sama anak banget deh gemeeess ><

    Like

    1. LAH SHIPPER BOAHUN okeh ternyata crackpair ini ada yg ngefans XD
      cowok yg ninggal ibu boa tuh yunho :p bercanda2. dan YA BENER BANGET BOAHUN DIMANA2 JATUHNYA MAMA-ANAK padahal aslinya pairingan romance :p
      makasih sdh mampir ya!

      Like

  2. Ya ya ya, sehunna berasa kaya noona killer deh.
    Eh,, kaistal nyempil .
    Apalagi itu covernya mengekspektasi banget sama ceritanya. Akkkkk..suka..

    Dan dari keseluruhan cerita aku paling suka perumpamaanmu tentang penyerut kertas itu,,

    Like

  3. Kak liana ini sweet banget aku diabetes kok bisa bisanya sehun sama mbak boa. Terus tunangannya siapa tuh kak? Hahah ternyata sehun dibeli habis mbak boa ngeliat kai toh

    Like

  4. yah, itu ujung-ujungnya kenapa jadi sehun yang ‘rusak’?hahaha, lol 😀
    betewey, aku menikmati baca mama series ke-11 ini 🙂
    entah kenapa, aku pribadi malah lebih conding ke genre family, deh, khusus ff ini. meskipun di epilog udah jelas banget kalau sehun mulai suka sama boa begitupun sebaliknya, aku malah nangkep afeksi(?) yang diberikan humanoid kepada boa itu hanya sebatas rasa(ini lagi..hee) dari seorang adik kepada kakaknya lho…haha, aneh deh emang penalaranku yang satu ini. 😀
    tetapi ada satu hal yang mengganjal kak, satu doang dan sedikit alias ga banyak sih jd menurutku ga disturbing banget..dan kalau boleh aku kasih review, khususnya di bagian yang berbunyi:
    Seperti [kertas yang dimasukkan penyerut], memori tentang tunangan Boa hancur menjadi serpihan setelah senyum jujur pertama Sehun terkembang.
    nah, di situ penalaranku malah nangkep kalau penyerut itu dimasukkin ke si kertas, padahal kan harusnya kertas yang dimasukkin ke dalam penyerutnya kan?
    nah, alangkah baiknya apabila kak liana meletakkan -ke dalam- sebagai frasa pelengkap kalimat di atas supaya tidak jadi ambigu..
    jadinya

    Seperti kertas yang dimasukkan [ke dalam] penyerut, memori tentang tunangan Boa hancur menjadi serpihan setelah senyum jujur pertama Sehun terkembang.

    gimana? ada perbedannya kan sm yg di atas?
    hee, itusih menurutku kak 🙂
    but overall, aku suka sama story-line-nya 🙂 ringan dan sederhana but ttp delightful! 🙂
    dan maaf atas kata2ku di komentar ini yang kurang sreg sama kak liana, toh, kita semua jg masih belajar 😉
    so keep writing kak! 🙂

    Like

  5. Hah, mungkin saatnya untuk melupakan masalah usia 😀

    Demi apa, ini manis banget, kak!!! ><
    Juga sampe sekarang aku masih penasaran siapa tunangannya mba Boa?

    Suka banget sama fic satu ini, kak. Apalagi ditambah KaiStal-couple yang ikut nyempil sebentar disini…

    The best banget-lah! ^^

    Keep writing, ya, kak Li! ❤

    Like

  6. Bentar, kak. Cowok yg ninggalin boa itu yunho? YUNHO?!

    </3

    Pdhl aku suka yun-boa tapi mas yunho nya……….

    INI MANIS BANGET YAAMPUN! Aku suka sama sehunnya! Polos-polos lucu imut kantongin-able banget! Aaa apalagi line-line terakhirnya itu yaampunnn……. biarlah sehun rusak terusss!

    Sukaaa! <33 kak liana semangat terus yaa 😀

    Like

  7. Yah mereka berdua ini, malah inget yang exo90:2014 yang guestnya boa itu. sehun kan malu-malu kucing pas disuruh praktek only one. haha dasar XD
    Dan disini kenapa dia polos sangat ya, lucu deh. trus kenapa aku bayangin yang ninggalin boa itu om kangta. haha apalah ini
    Sudah ya kak Li, aku menyampah doang disini. Keep writing!

    Like

  8. Halo, aku datang bersinggah untuk membaca series MAMA yang lainnn hehehe
    Ini kok Sehun polos pake banget sihh ya ampunnn, untung Sehun ngga se chubby xiumin klo ngga ku cubit mulu karena dia yg jadi anak manisss
    Ngomong2 klo aku jadi Boa dibilang ‘rusak’ tih pengen ngomong “asdgkggkglfl” untuk Sehun klo bukan udah kujadiin sarden aja orang yg ngomong gitu hehe
    Overall, ini cerita heartwarming sekalii, makasihh

    Like

    1. halo ardan, sebelumnya terima kasih karena sudah mampir di series MAMA. iya padahal aku pingin bikin cerita yg manis buat xiumin tapi jatuhnya ttp aja sedih T.T tapi untung deh kalo kepolosan sehun di sini dapat mengobati luka hatimu haha. makasih sekali lagi karena sudah mampir dan komen!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s