MAMA-12: Pinky Swear

 12

A soulless machine without a heart.-

***

Ada suatu masa di mana hati nurani manusia menjadi harta karun secara harfiah. Ini terjadi pada abad 30, di mana siapapun yang menemukan hati nurani akan dibayar sangat tinggi oleh pemerintah. Keadaan negeri saat itu sudah sedemikian kacau, sehingga mereka lupa hati nurani ada dalam diri mereka masing-masing. ‘Hati nurani’, mereka mengira, adalah semacam ramuan atau benda ajaib atau program komputer yang mampu menumbuhkan perasaan manusia, sehingga dimulailah pencarian besar-besaran oleh ratusan tim ke seluruh dunia untuk menemukan harta ini.

Kim Yoojung, seorang siswi jenius yang baru berusia 17 tahun, masuk dalam salah satu tim pencari yang menjelajah daerah selatan.

Ada sebuah pulau kecil di wilayah pencarian Yoojung yang dulunya merupakan pusat pemerintahan negeri, tetapi kini tidak lebih dari tempat penimbunan sampah. Peradaban yang terlalu maju di pulau itu, kata orang-orang dulu, menumpulkan kepedulian mereka terhadap lingkungan. Sekitar seabad lalu, pulau itu dinyatakan tak layak huni—dan pada waktu-waktu ini pulalah hati nurani diperkirakan menghilang dari kehidupan manusia.

Ketua tim membagi area pencarian dan para anggota tim berpencar sesuai dengan area yang ditentukan. Meski merupakan anggota termuda dari tim tersebut, Yoojung tidak keberatan untuk bertugas sendiri. Berbekal alat komunikasi dan chip agar ia dapat terlacak tim jika hilang, Yoojung melangkah ke bagian barat yang ‘gunung sampahnya’ paling besar. Pasti akan sangat lama mengurai tumpukan raksasa itu untuk mencari hati nurani di dalamnya, batin Yoojung, tetapi justru itulah yang membuatnya merasa tertantang untuk menaklukkan ‘gunung’ itu.

Namun, baru menginjakkan satu kakinya menapaki gunung rongsokan, Yoojung dihentikan oleh seseorang.

“Jangan ke sana, Nona; nanti kau jatuh kalau memanjat tanpa pengaman!”

Manusia abad 30 tidak mungkin bicara sepanjang ini dengan manusia lainnya. Yoojung menoleh dan mendapati manusia aneh itu beberapa meter di belakangnya, berlari-lari dengan wajah cemas setengah mati. Akan tetapi, tak lama berselang, Yoojung turun dari gunung sampah yang baru dipijaknya—dan si pemuda asing tampak lega.

Padahal manusia abad 30 tidak pernah berekspresi sebegitu mencoloknya.

“Apa Nona mencari sesuatu? Oh ya, sebelumnya perkenalkan,” Si pemuda asing membungkuk hormat—tradisi ini anehnya sudah punah delapan abad lalu, “aku Xiumin.”

“Kim Yoojung,” Refleks, Yoojung membungkuk pula, “Aku sedang mencari hati nurani. Barang itu amat dibutuhkan di negeri kami, sayangnya kami tidak pernah menemukannya. Tahu bentuknya saja tidak. Apa Anda tahu di mana letaknya benda tersebut?”

Bibir Xiumin membulat seketika. “Nona tak tahu apa hati nurani itu? Nona manusia, ‘kan?”

“Benar, aku manusia, tetapi aku tak tahu benda apa itu. Kau kelihatannya mengetahui banyak tentang benda ini. Beritahu aku letaknya.”

“Hm… ini benar-benar mengejutkan. Bagaimana sebaiknya… saya mengerti tetapi tidak bisa mendefinisikannya,” Xiumin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Lebih baik Nona ikut saya. Di pulau ini memang tidak ada hati nurani, tetapi saya bisa menunjukkan beberapa peninggalan yang mungkin dapat mengarahkan pencarian Nona.”

Setelah Yoojung menyatakan persetujuannya, Xiumin menggandeng tangan si peneliti cilik dan membawanya ke satu rumah tua yang luar biasa bersihnya. Beberapa bagian rumah itu diperbaiki seadanya dengan barang-barang yang dipungut dari gunung rongsokan, tetapi masih tampak manis. Perabotan-perabotan berumur ratusan tahun menghiasi tiap sudut rumah. Yoojung sempat mengusap satu sisi dinding dan tangannya masih licin; tak ada debu sama sekali.

“Xiumin…” Yoojung sejenak ragu, “…oppa, apa ini rumahmu?”

“Ya, di sinilah aku belajar tentang hati nurani manusia. Aku ingin sekali punya, tetapi yah, ‘kan tidak mungkin mesin memiliki sesuatu seindah itu.”

Mesin?

Pertanyaan ini terpaksa Yoojung simpan karena Xiumin sudah mendudukkannya di ruang tengah. Setelahnya, Xiumin berlutut di depan televisi dan menelusuri rak berisi DVD. Astaga. DVD? Itu media penyimpanan yang sangat kuno! Barang antik macam itu kalau dijual pasti mahal sekali.

“Nona Yoojung, mau yang kanan atau yang kiri?” Xiumin mengangkat dua keping DVD, satu di masing-masing tangan. Secara acak, Yoojung menunjuk yang kanan dan Xiumin memasukkannya dalam player.

Film. Tentang sebuah keluarga. Kepala keluarganya pergi berperang. Mendadak Yoojung ingat ayahnya. Pria tua yang selalu pergi pagi hari ketika Yoojung masih terbalut piyama dan aroma bangun tidur. Bila pria itu mulai beranjak ke pintu dengan setelan kerjanya, Yoojung hanya bisa menatapnya kosong.

Meski ada denyut nyeri dalam dada yang tidak bisa Yoojung jelaskan sebabnya ketika mengantarkan ayahnya sampai depan pintu.

Denyut yang telah lama musnah itu muncul kembali ketika menonton film ini.

Lebih tepatnya ketika memandangi ekspresi Xiumin yang mulai berubah pada klimaks film.

Setelah istri dan anak-anak yang ditinggalkan pria itu melalui berbagai rintangan untuk bertahan hidup di zaman perang, mereka harus mendapati si pria tewas di satu pertempuran. Mereka menangis di depan jasad si pria yang berlumur darah.

“Nah, ini merupakan salah satu jejak hati nurani yang saya maksud. Lihat orang-orang ini, Nona Yoojung. Mereka menangis karena sedih, dan sedih merupakan salah satu manifestasi dari hati nurani manusia,” Xiumin menekan satu tombol di remote control dan video terhenti, “Mari kita selesaikan di sini dan berganti ke yang lain.”

Demi Tuhan, Yoojung melihat kaca-kaca kecil menggenangi mata Xiumin saat mengganti DVD-nya.

Video berikutnya lebih bahagia dan penuh warna. Lelucon-lelucon dilontarkan, semua orang dalam tayangan bertingkah konyol. Lagi-lagi, sesuatu dalam diri Yoojung tergelitik, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan tawanya. Sedangkan Xiumin di sampingnya sudah kehilangan kaca-kaca kecil tadi dan tergelak riang.

“Nona, perhatikanlah betul-betul. Bagaimana Nona tidak tertawa? Ini merupakan salah satu jejak hati nurani manusia, lho, yaitu rasa gembira.”

“Benda yang mana yang merupakan hati nurani?” Yoojung memicing untuk memperhatikan, tetapi Xiumin menggeleng cepat. “Tidak akan kelihatan di layar. Nona harus mendalami tayangan ini sampai Nona bisa tergelak sepertiku. Nah, kalau Nona sudah bisa, barulah Nona dapat menemukan hati nurani itu dalam diri Nona sendiri.”

Dua alis Yoojung naik, penasaran. “Jadi hati nurani bukanlah sesuatu yang kasat mata?”

“Bukan. Itu sesuatu yang harus dilatih.”

Yoojung mengangguk-angguk paham, tetapi kemudian berdiri dan mematikan DVD player langsung. “Maaf, Xiumin-oppa, tetapi butuh waktu yang lama bagiku untuk mendalami semua ini. Boleh kupinjam DVD-DVD-mu?”

“Oh, tentu, tetapi tidakkah kau ingin menonton di sini?” Xiumin bangkit dari kursinya, tersenyum sedih—entah bagaimana Yoojung tahu, “Sejujurnya sih aku mengharapkanmu lebih lama tinggal… Kau tahu, sudah 797 tahun aku sendirian di pulau ini tanpa manusia, jadi  aku langsung senang saat menemukan—“

“Tunggu. Berapa ratus tahun?”

“797 tahun.”

Mata Yoojung melebar, sedikit, tanda kaget, dan ekspresi pertama Yoojung yang lebih ‘luwes’ ini manis sekali menurut Xiumin. “Oppa berasal dari delapan abad yang lalu?! Kau bukan manusia! Kau ini apa, sebenarnya?”

“Aku? Aku robot humanoid jenis Modern Anthropomorphic Mechanical Assistant—hm, prototip purba, barangkali kau tidak pernah dengar. Nama asliku MAMA-12, tetapi pemilikku terdahulu menggantinya jadi Xiumin. Sebelumnya aku ditugaskan untuk membersihkan rumah, tetapi sejak pemilikku meninggal, aku membersihkan apa saja yang bisa kubersihkan, termasuk gunung rongsokan yang tadi kita lewati.”

Yoojung mengerjap-ngerjap, memproses penuturan Xiumin ini perlahan. Jadi Xiumin adalah robot berbentuk manusia? Diciptakan pada abad 22? Dan dia bertahan sendirian di pulau sampah ini selama berpuluh-puluh dekade? Sendirian?

Memikirkan dirinya berada dalam posisi Xiumin menyesakkan Yoojung. Sedikit. Sekali lagi, sedikit.

“Aku… akan kembali.”

Xiumin menengadah, Yoojung tertunduk.

“Aku akan kembali kalau sudah bisa menemukan hati nuraniku sepenuhnya melalui video itu.” ulang Yoojung, terbata. Demi mendengar ini, mendung yang membayangi Xiumin hilang seketika. Sang android maju beberapa langkah dan mengacungkan kelingking kanannya di hadapan Yoojung.

“Janji?”

Yoojung tidak mengerti.

“Orang-orang di abad 22 masih menautkan kelingking untuk mengikat janji,” jelas Xiumin sambil tersenyum lebar; detak jantung Yoojung sedikit mencepat ketika menerima senyum itu, “Jadi, tautkanlah kelingking Nona denganku agar aku percaya Nona tidak berbohong.”

Oh. Bahkan hal trivial macam ini saja sangat umum di abad 22, ya? Ragu, Yoojung mengaitkan kelingkingnya dengan milik Xiumin. Dan oh lagi, ternyata sengatan-sengatan listrik yang sedikit menyenangkan dapat ditimbulkan oleh tautan kelingking. Luar biasa. Xiumin benar-benar robot yang menarik. Yoojung tak akan ingkar janji. Ia akan menemui Xiumin lagi supaya bisa mempelajari robot itu lebih dalam.

Lagipula, wajah bulat Xiumin sedikit menggemaskan. Sayang kalau Yoojung tidak kembali untuk menikmatinya.

***

Seminggu berlalu.

Yoojung berlari seraya tertawa senang. Beberapa peneliti lainnya demikian pula. Ada juga yang agak jengkel gara-gara lari Yoojung terlalu cepat untuk mereka yang sudah tua. Mereka melompati sampah-sampah yang berceceran sepanjang jalan menuju rumah Xiumin seolah sedang lomba lari rintangan; bersemangat sekali. Hati nurani sungguh membuat seluruh tim pencari lebih ‘manusiawi’. Ya, sebelum ini, mereka lebih mirip mesin dibanding manusia, tetapi berkat menekuni video-video yang Yoojung bawa,  sedikit demi sedikit mereka berhasil menjadi ‘manusia’ seutuhnya.

Dan untuk itu, Yoojung ingin berterima kasih. Sekalian memenuhi janjinya untuk menemani si robot yang kesepian.

“Xiumin-oppa!” Si gadis membuka pintu rumah. Peneliti-peneliti yang lebih tua melihat sekeliling. “Lengang sekali, Yoojung-ah. Kau yakin orang ini benar ada?”

“Iya, 100% yakin! Dia lucu, baik, dan rajin bersih-bersih! Tuh, aku saja masih mengingat ciri-cirinya setelah seminggu tidak ketemu!” Bahkan semangat remaja Yoojung jadi membara hebat gara-gara hati nurani yang baru ia dapat kembali. Ketua tim menggodainya, berkata, “Jangan-jangan, Yoojungie jatuh cinta sama oppa ini?”

Rona merah Yoojung pun tidak muncul sedikit sekarang.

“Ketua bicara apa? Sudahlah, pokoknya ayo kita berkeliling untuk mencarinya! Dia adalah subjek penting untuk penelitian, tidak boleh sampai menghilang!”

Akhirnya delapan orang peneliti menyebar, memasuki kamar-kamar kosong dari rumah bergaya klasik itu. Karena rumahnya lumayan besar, menemukan Xiumin membutuhkan waktu yang lama. Yoojung menghela napas lelah. Padahal ia kira Xiumin akan menonton video di ruang tengah seperti minggu lalu, ternyata tidak. Hanya videonya yang masih terputar, tetapi tidak ada siapapun yang menyaksikan.

Berarti Xiumin-oppa belum lama memutarnya. Mungkin ia pergi sebentar karena—

“Hua!!”

Karena kurang awas, Yoojung tersandung kabel dan jatuh berdebam. Si gadis mengusap-usap tubuhnya yang terasa sakit sebelum mengamati kabel yang melintangi jalannya. Kabel itu keluar dari celah pintu sebuah ruangan tertutup, di kanan koridor yang Yoojung lalui. Dengan hati-hati, Yoojung mendorong pintu ruangan itu dan mencari ujung kabelnya.

Ketemu. Si kabel berujung pada punggung bawah Xiumin.

Oppa?”

Tak ada jawaban. Kepala Xiumin tertelungkup di atas meja. Tangan kirinya terkulai di sisi tubuh, sementara tangan kanannya terlipat di depan wajah. Di antara jemari kanannya terselip pena, di bawah lengannya ada surat.

***

2 Maret 2981. Untuk Nona Yoojung. Ini adalah permintaan maaf dan ucapan terima kasihku untukmu.

Dua hari sebelum aku menulis surat ini, aku sakit kepala dan mendengar retakan-retakan dalam tubuhku sendiri. Virus-virus sudah mengambil alih direktori utama yang tertanam dalam microchip sentral—alias ‘otak’—dalam kepalaku, tidak bisa dibersihkan lagi dengan aplikasi antivirus. Selain itu, fisik dari microchip itu sendiri sudah hancur dan leleh akibat panas yang dihasilkan oleh tubuhku. Kau tahu, komputer akan memanas jika tidak dimatikan dalam waktu yang lama; aku pun sama. Sebagai tambahan, kerangka tubuhku—sekalipun terbuat dari titanium—tidak bisa bertahan lebih lama, apalagi aku tidak pernah direparasi selama delapan abad.

Maka ketika kau menemukan surat ini, aku sudah mati selamanya. Seperti manusia yang pergi ke surga.

Aku minta maaf karena mengingkari janjiku sendiri. Aku pergi sebelum sempat bertemu denganmu, tetapi apa yang bisa kau harapkan dari robot setua diriku?

Dan terima kasih untuk waktu menyenangkan tempo hari. Meski saat itu Nona Yoojung bilang belum memiliki hati nurani, tetapi hei, menurutku kau sudah memilikinya. Aku melihat wajah terkejut, malu-malu, dan rona pipimu; kupikir itu manis sekali! Aku yakin kalau kau sudah mendapatkan hati nuranimu semuanya, kau akan bisa tersenyum dengan sangat cantik!

Terakhir, aku ingin kau memiliki banyak teman supaya tidak pernah kesepian sepertiku.

–Salam, Xiumin.

***

Ketika para peneliti mendengar isakan anggota termuda mereka dari sebuah kamar, mereka segera menuju kamar tersebut dan membukanya. Dalam kamar itu, Yoojung memeluk seorang pemuda sembari terus tersedu. Si gadis peneliti menggenggam sepucuk surat yang tulisannya dikaburkan air mata.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

.

ha, akhirnya bisa ngisi author notes juga. 

pertama. kyungsoo di ‘i remember you’ mengerikan. aku selalu berpikir dia bakal muncul dari bawah kolong tempat tidurku dan megangin kakiku waktu malem pas aku tidur dalam gelap. 

kedua. video eye contact EXO diambil pas jaman XOXO, semua orang bingung cariin leaknya yg OT12. jongdae so deadly cute tapi kyungsoo juga. (kyungsoo itu aktor yg luar biasa ya, psycho bisa, cute bisa, sok ganteng bisa, boyfriend material bisa. bunuh aja)

ketiga. aku habis nonton xoxo exo *telat banget emang* dan mendadak kangen krislutao.

keempat. aku lagi pingin bikin fic horor. menurut kalian member exo mana yg paling serem? (abaikan akting kyungsoo yg menyeramkan)

Advertisements

11 thoughts on “MAMA-12: Pinky Swear

  1. aq langsung keinget film kartun Astro waktu baca di awal2. Tapi juga tiba2 keinget doraemon, si robot masa depan.
    Feelnya buat aq susah banget Li, tapi idenya great banget sih ini.

    Fic horor? Aq prnah baca fic horor nya Lay, coba bikin deh.

    Like

      1. Iya astro boy.

        Betewe ada satu lagi yg belakangan ngganjel di benakku.
        Itu sangar bener ya xiumin bisa smp berabad-abad hidupnya kaga error, padahal d.o aja wktu ngurus minah ga selama itu ud rusak.

        Like

  2. Hai, kak! Maaf nongol lagi disini 😀
    Walau cuma cerita fiksi, tapi penjelasan soal ‘hati nurani manusia yang hilang berabad-abad lagi’ sempet bikin aku kaget. Semoet mikir juga, apa itu bakal bener-bener terjadi???

    Oke, lupakan.

    Dan aku juga setuju banget kalo kakak berencana buat fic horror karena sejauh yang aku liat, kakak jarang banget buat fic horor. Dan member EXO yang paling serem?

    Hanya Do Kyungsoo seorang, kak!!! ><

    Tapi Kai juga cocok, sih.

    Like

  3. Xiumin emang selalu dibuat paling tua, dan dari series kakak paling sering dibuat sedih sebelum sesudahnya merasakan kesenangan/?
    Tapi ini bagus banget T_T
    Semangat terus kak liana! iya kalau yang eye contact itu memang zaman xoxo harusnya ada yang krislutao hu kangen.

    Lah, kak? Ga nyadar muka junmyeon se serem itu? Atau mungkin luhan. Muka-nya muka muka gampang stress. /ga

    Like

  4. Comment series MAMA nya aku rapel disini aja ya ka
    Pas de deux nya berasa Kai Krystal banget ko. Suka hihihi
    Yg recorder hampir aja ketipu sm sad end, tp ya lumayan lah. Walau masih gereget
    Music class nya apalah. Itu Baek jd robot cerewet amat, ada app nya yg error kali ya bisa jd secerewet itu hahaha
    Yg newborn entah kenapa aku ngerasa feel nya Jongdae sm mama Liyin itu anak sama mamak. Dan setiap ff kaka yg pake cast mereka berdua selalu failed dapet feel romance, dapetnya ibu-anak mulu huhuhu Maafkan. Mungkin efek dulu baca Ospek di AO3 (Liyin jadi mamaknya sahabat” Jongdae)
    Yg learning… entahlah. Cuma bisa ketawa” bayangin ekspresi DO + ga nyangka dia tetep inget Minah walau udah sewindu
    Broken birthday nya ngakak, Lay nya memang se’rusak’ Lay seperti biasanya wkwkwk *ditimpuk* Walau sempet down gara” dia nya kesakitan, jd kebaynag dikenyataan yg dia selalu berusaha baik” aja walau lagi sakit huhu
    Suho nya ituloh… T_T kenapa jd angsty begitu ka?!!! Kan kacian teteh Joohyun ga bisa d peluk *apasi*
    Ini cerita -mantan- leader satu ini pun kenapa sad end?! 😥 Dan sm kaya ChenLi, ini feel nya dapetnya ibu-anak (kebiasaan baca ff family mereka mungkin ya)
    Yg moons ya layaknya Next Door lah ya, couple koplak wkwkwk
    Chang’e nya keren, polisi merangkap algojo berhati lembut. Mewakili Tao banget si hihihi
    Duh dedek Sehun ga sopan, seenaknya ngomong k mba Boa dia itu rusak -walau emang beneran ‘rusak’ si *plak- Hahaha Sehun style banget. Polos bin watados
    Pinky swear nya pun angsty begini. Dikira bakalan nemuin Umin dalam kondisi error kaya DO dan bisa d repair, ternyata tidak huhuhu
    Okay. Maaf kepanjangan dan spam hhu OVERALL AKU SUKA DAN KEREN BANGET!!!!! :*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s