Knife

Btnr98oCcAAQQqU

“Upon skin that is white as snow, the knife, like a shining monster, cries out to me.” (Knife – The TRAX)

***

–EXO’s Chen and SMEnt’s Chinese soloist Zhang Li Yin

[Romance, Dark, Fantasy — 800+ words — Mature for sick love!]

***

Bagi Jongdae, Li Yin bukan sekadar bidadari yang jatuh ke Bumi.

Semula, Jongdae memandang Li Yin tidak lebih dari manusia setengah dewa dengan sayap terluka. Sang bidadari tampak begitu lemah hingga tak bisa berdiri, jadi ketika Jongdae membawanya pulang, Li Yin tak bisa melawan, meskipun dalam hatinya terselip rasa takut. Bagaimanapun, Jongdae tetap pria asing dan Li Yin makhluk cantik yang tidak berdaya; hal-hal buruk mungkin saja terjadi, bukan?

Sementara itu, Jongdae pikir Li Yin serupa dengan burung-burung langka di hutan yang bisa dijual dengan harga tinggi jika sayapnya diobati. Ya, lihatlah sayap itu; setelah lukanya dibersihkan, yang tersisa hanya warna putih berkilauan. Lihat kulit pucat Li Yin dan rona pipinya yang menarik. Lihat kedua mata hitamnya yang jernih dan bibir mungil merahnya itu. Jangan lupakan juga tubuh rampingnya yang terbalut selapis tipis kain kahyangan.

Li Yin itu indah.

Dan seiring berjalannya waktu, ia menunjukkan pesona yang bermacam-macam, seperti kelembutannya dalam bertutur kata dan kehati-hatian untuk tidak melukai lawan bicaranya. Ia pun setia menunggu Jongdae pulang dari hutan dan mendengar keluh-kesah tentang kayu-kayu bermutu jelek hasil menebang. Kepolosannya sebagai makhluk langit yang tak banyak tahu tentang Bumi sangat menggemaskan—dan masih banyak lagi hal mengesankan yang memikat Jongdae.

Intinya, kapanpun Jongdae bersama Li Yin, ia merasa utuh sebagai seorang pria.

Karena ini pulalah, niatnya untuk menjual Li Yin terhapus. Li Yin ‘kan bukan binatang buruan dan Jongdae ingin memiliki Li Yin untuk dirinya sendiri, apalagi Li Yin menunjukkan tanda-tanda berjawabnya perasaan itu. Akhirnya, belaian-belaian ragu Jongdae berubah menjadi kecupan-kecupan berani nan menggetarkan. Lengan kokoh Jongdae kini lebih sering terlingkar di pinggang Li Yin, seolah memang di sanalah tempatnya. Sentuhan-sentuhan cermat dan hangat ini melelehkan kebekuan yang dahulu kerap mengisi ruang antara mereka. Jiwa mereka lebur dan ketika cinta meresapi seluruh celah hati, Jongdae dan Li Yin yakin ikatan mereka tidak akan pernah terputus.

Mereka melupakan satu hal.

Li Yin-lah yang pertama mengingat hal ini setelah sayapnya sembuh sempurna awal musim semi itu. Sang bidadari menghampiri Jongdae dengan berat hati, matanya kehilangan binar.

“Jongdae, terima kasih karena telah merawat dan memberiku banyak kasih selama ini… tetapi sekarang, aku harus pulang ke langit.”

Sontak Jongdae menghentikan pekerjaannya membelah kayu. Ia sisihkan kapaknya sebelum bertanya lirih pada Li Yin, “Kenapa? Tidakkah kau ingin tinggal?”

“Tentu aku mau tinggal, tetapi hukum kami melarang penduduk langit untuk berada terlalu lama di dunia manusia. Aku tak tahu hukuman apa yang akan dijatuhkan Dewan Langit pada pelanggar aturan ini, yang jelas hukumannya sangat berat,” Li Yin tertunduk sedih, “Maafkan aku…”

“Jangan minta maaf,” –Li Yin terkejut ketika Jongdae mendekapnya erat—“Percayalah, kita tak akan terpisah semudah itu selama kita masih saling mencinta.”

Makna kalimat ini ternyata lebih mengerikan dari yang Li Yin kira.

Karena Jongdae memintanya tinggal sehari lagi, malam itu Li Yin belum beranjak dari rumah si penebang kayu. Ia memejamkan mata letih pada akhir hari, dengan gelisah berharap malam tidak cepat berganti pagi. Ditunggunya Jongdae dengan sabar dalam kamar; mengapa pria itu tidak muncul juga? Setiap detik yang berlalu berarti banyak bagi Li Yin—karena waktu mereka bersama makin tipis.

“Li Yin, terima kasih sudah menungguku.”

Tahu-tahu, Jongdae mengikat tangan dan kaki Li Yin ke tepian ranjang. Li Yin terbelalak, berusaha memberontak, tetapi ia tetap kalah.

“A-apa yang kau lakukan? Lepaskan… lepaskan aku…”

Dan ketakutan Li Yin kian menjadi tatkala Jongdae mengeluarkan sebilah pisau dari saku celana. Ujung pisau itu berkilatan ditimpa cahaya Bulan dari jendela.

Selanjutnya, jerit kesakitan Li Yin membelah kesunyian pondok kecil itu. Sang bidadari memohon-mohon dengan wajah dibasahi air mata agar penyiksaan ini disudahi, tetapi Jongdae tak mendengar, lebih tepatnya tak peduli. Punggung Li Yin yang telanjang berwarna merah pekat, bulu-bulu yang tercerabut dari sayapnya pun demikian.

Selesai. Jongdae menghempaskan sepasang sayap Li Yin—yang baru saja ia potong—ke lantai. Li Yin terengah-engah di atas tempat tidur; yang ia lihat kini bukanlah Jongdae yang dulu mencintainya.

Monster.

“Kau kejam…” Suara Li Yin parau bercampur isak. Punggungnya yang terluka tergesek kain seprai, menyakitkan, tetapi yang lebih menyakitkan adalah cara Jongdae memperlakukannya. Inikah sosok asli pria itu? Sepasang netranya berubah hampa, kelam tanpa cahaya. Tangan yang sebelumnya senantiasa membelai lembut Li Yin ternyata mampu merobek sesuatu dengan ganasnya. Siapa orang jahat ini sesungguhnya?

“Kembalikan Jongdae yang aku sayangi… Siapapun kau, tolong kembalikan dia…”

Tak disangka, manusia buas yang memotong sayap Li Yin itu menjatuhkan pisau berdarahnya. Satu-dua bulir bening jatuh dari maniknya yang kini dipenuhi kesedihan.

“Jongdae yang dulu kau sayangi sedang berdiri di hadapanmu, Li Yin. Dia hancur karena kau akan meninggalkannya.”

Tanpa bisa dilawan, Jongdae melumat bibir Li Yin yang gemetar, mengungkapkan kepedihannya akibat ucapan Li Yin pagi tadi. Berbeda dengan ciuman-ciuman lalu yang membahagiakan, kali ini Jongdae menghujamkan rasa sakitnya pada Li Yin, memahamkan sang bidadari bahwa tindakannya bukan didasarkan kebencian. Sebaliknya, cintalah yang menggerakkan Jongdae untuk melakukan segala cara demi menahan Li Yin. Bersama cinta itu pula, Jongdae menyisipkan rasa bersalah, sesal, dan amarah karena tidak ditakdirkan untuk menyatu dengan Li Yin selamanya.

Li Yin menangis, bukan lagi karena tusukan seribu jarum di punggungnya, melainkan karena luka Jongdae yang kini menoreh jiwanya.

“Jangan pergi. Jangan pernah pergi dariku.” pinta Jongdae pada Li Yin sebelum memperdalam ciuman mereka. Bagaimana Jongdae membisikkan ini membuktikan betapa besar cintanya kepada Li Yin—sekaligus menimbulkan pertanyaan baru dalam benak sang bidadari.

Apakah cinta memang selalu indah dan menyakitkan pada satu waktu?

***

CBekOWYVAAEZCHb

“An angel’s pure wings are cut by knife. That was so that my love could be protected forever, until the end.” (Knife – The TRAX)

***

END

.

.

.

.

.

OTL salahin lagu ini yg bikin chen jadi psycho. suaranya bapak Jay TRAX juga sih bikin sakit. terus fotonya ibu Liyin yg angelic kalem gitu kan bikin makin ngefeel *kamu aja kali Li *that awkward feeling when no one ships your OTP

dan chenchen itu sangat shippable! aku baru sadar haha. akhir2 ini aku juga ngefeel ke luna-chen (cie yg dipairing di musikal), sama iu-chen hayoh gimana. yg masih ga ada feel itu kalo chen sama oc :p 

Advertisements

12 thoughts on “Knife

  1. KAK LIANAAAA INI MALEM2 AKU DIKASIH PSYCHO!JONGDAE DUH DUH DUH DUH GIMANA INI PENGEN CAKAR-CAKAR JONGDAE BENERAN. TEGA KAMU MAS TEGA! *nangis bareng ibu liyin*

    Ini kenapa sih aku baru liat foto poster ffnya, pdhl ini kalo gasalah cover album nya zhang liyin kan? Itu serius bajunya kayak baju pengantin yaampun. Disini dia jadi bidadari lagi duh! Feelnya langsung ihh. Mana dia kesannya kalem-kalem gitu kan. Padahal mah dorky juga kalo aslinya keluar.

    Aku gatau ini bener apa engga tapi aku ngerasa ini alurnya agak cepet. Atau emang sengaja dibikin gini? Gatau deh aku, tapi yang pasti aku masih sangat enjoy bacanyaa. Aku senyum-senyum kayak orang idiot nih bacanya pas awal-awal. Tetapi berakhir menggenaskan……………

    Kak liana semangat terus yaa nulisnyaaa 😀

    P.s. BUKAN KAK LIANA DOANG YANG SHIP CHENYIN KOKK, INGAT AKU JUGA SHIPPER MEREKA KAKKKK 😦 kalo soal jongdae-oc, paling juara sih jongdae-nala HEHEHE

    Like

    1. aduh iya. sebenernya intinya kan cuma mas jongdae yg nahan ibu liyin biar ga pergi, momen yg sebelumnya di antara mereka itu cuman dijelasin dikit2 aja. hehe tapi jadi berasa kecepetan y alurnya? iya deh buat fic berikutnya aku improve.
      makasih sdh baca evelyn XD

      Like

  2. Salah banget baca ini sambil denger let out the beast x_x
    haduhhh Jongdae, walaupun psycho tapi kamu laki banget ya ampun
    jadi ikut sebel sama liyin jie, bibirnya chen juga sangat mengalihkan konsentrasi
    awal-awal kirain bakal kayak mv missing you rupanya semi maleficent rada gantung
    jangan mulai dengan suara pak jay, karena emang suara dia keseringan bikin sakit hati
    luna-chen-iu ,-,
    Luna-chen sih setuju, tapi iu sama suho aja *lho*

    Like

    1. halo ^^ kamu ndengerin let out the beast haha feels. ih kenapa sebel sama liyin-jie? *terlalu lemah *iya sebenernya aku juga gak suka protagonis lemah but oh well ibu liyin gak bisa dibikin terlihat kuat dgn penampilan seperti itu *huwaa jangan ngomongin bibirnya chen!
      kamu ngikutin TRAX juga dan tau suara bapak jay? hebat! XD lah iu sama suho berasa crackpair yak. gapapa sih tapi monggo2 saja, shipper mah bebas :p
      makasih udah mampir!

      Like

  3. LIANAAAAAAAAA /sumpah liana gumoh liat kapslokku bertebaran dimana-mana/
    wehehehe, aku mau bombardir komen deh udah lama tidak main kelapakmu dudududu

    dan ini jadi salah fokus malah mau komen notenya iu-chen? plis kamu kesambet darimana liiii? bahahaha
    tapi gapapalah kalo ada ide aku mau baca, mau banget banget banget lah. entah mau dijadiin saiko, oon ga ketulungan weh apa pun lah li, buat dua orang kaka kesayangan /bhaaaak/
    atau bikin tiga-tiganya sekalian luna-chen-iu, mba luna ama mba iu kan cecinguan tuhhhh naaaah……/tifa mulai ngelantur/

    buat cerita atuhlah punyamu selalu unpredictable banget ko, entah itu komedi, saiko, dan teman-temannya semuanya paporit yhaaaa

    Like

  4. haaii Li *sok akrab
    q udah lamaaaa bgt gk komen ff km soalnya gk prnh buka internet jg hahaa berasa tinggal di utan
    mungkin km jg udh lp kl q prnh komen ditmpt km hehee
    apapun ceritanya asal ada jongdae bebeb didalemnya gk bakalan dilewatin deh pkqnya, ada liyin jie jg disini *bukan otp sih tp tetep suka
    oh yya q penasaran km nie chen bias yyaa?? soalnya aku jugaa *gk da yang nanya
    euhmm kn otp km chenyin sama luna-chen-iu, but how about chen-bomi???
    penasaran aja cie gmn pndpt chen stan soal mreka, soalnya rumor mreka tiap tahun keluar mulu tuh
    udah ah banyak nyepamnya aku sih hehee
    ppyong

    Like

    1. hai ^^
      sebelumnya aku berterima kasih karena sudah mampir dan komen hehe walaupun sumpah aku lupa kamu siapa maafkan akuuuuu *bow *hug
      iya aku chen bias! chen biased di dunia ini sedikit sekaliiiiii. kai biased aja banyak banget padahal kan chen-kai sama2 in charge of sexiness *apa
      chen-bomi? huhu setelah aku agak mendalami apink kok aku merasa mbak bomi itu terlalu unyu buat chen ya? iya sih mbak luna sama iu tuh unyu tapi luna ada aura strongnya dan iu ada seksinya, jadi aku agak ngefeel. tapi gak tau lagi kalo nyari fic mereka terus tiba2 ngeship :p

      Like

      1. wajar kalo km lupa org q komennya udh dr jaman sblm kmerdekaan hahaa
        chen bias jg banyak kq buktinya tiket musical pas tanggalnya dia sold out dlm wkt krg dr 1 mnt keren gk tuh
        cm di INA chen emg rada2 kurang merakyat aja *maksudnyaapa
        biar q tebak, km mulai mendalami apink gr2 rumor chenxbomi yang sering muncul yyaa?*soktau *inikenapamalahjadigosip
        udah ah pkqnya sering2 bikin ff chen yyaah kalo perlu chenxbomi soalnya walopun mreka sering kena rumor jarang banget yang bikin mreka
        annyeoong
        salam kecup basah dari benny chen

        Like

  5. Aku langsung melesat setelah tahu ini genrenya dark. Dan kerasa banget waktu bapak jongdae mainin pisau itu ya ampun, psycho chen XD
    Aku belum tahu lagu itu sih ya, karena minim info soal lagu-lagunya TRAX. Tapi nanti akan kucoba dengerin hehe.
    Baca fic ini kayak merinding2 gimana gitu kak. Entah bagian mana yang bikin merinding but dark nya ngena banget. Trus pas sekrol2 ke bawah, aku kira itu pic hantu serem gitu. ealah mas chen toh -,-
    Keep writing kak Li!

    Like

  6. Kepala aku berdenging *lebay*
    Aku pikir pertamanya bakal kaya mv SMTB missing you. Eh ternyata
    Ga nyangka abang Jngdae bisa d buat se psycho ini
    Cover mba Liyin nya udah bikin angst & dark. D tambah pic Jongdae yg menyeramkan itu uwoowwow
    Satu lg ff keren hasil karya ka Li *four thumbs up*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s