January, 1991

tumblr_inline_mzkhjaGGG31rxd936

Minseok punya tetangga baru yang imut sekali. Ini kata ibunya, sih, karena ia sendiri tidak melihat apa imutnya sepasang suami-istri muda yang bahasa Koreanya belepotan itu. Sambil memainkan sarung tangan besar yang ia temukan di bawah gantungan mantel, Minseok memperhatikan para tamu dari luar negeri ini. Apa yang mereka bicarakan? Seru betul, ibunya saja sampai cekikikan. Gawat. Padahal Minseok sudah mencium aroma bubur labu di dapur tadi. Pasti ibunya sudah selesai masak buat dia, tetapi kalau keasyikan mengobrol seperti ini, makan siang Minseok bisa tertunda. Seketika wajah Minseok tertekuk, minta segera disuapi. Mau menangis, tetapi ibunya sudah memperingatkan agar ia tidak cengeng di depan tamu. Lagipula, Minseok ‘kan gentleman, makan siang yang tertunda beberapa menit tidak akan bikin dia menangis.

Wahai Nyonya Kim—ibu Minseok—yang sedang menjamu tamu, tolong jangan lama-lama membuat bayimu menunggu.

“Astaga, sampai kelupaan!” Nyonya Kim menggendong Minseok yang sembunyi di samping sofa dan memamerkan bayinya yang belum lewat usia 1 tahun itu, “Kenalkan, Tuan, Nyonya Lu, ini putra saya Minseok.”

Oh.

Minseok baru tahu, setelah melihat dari dekat, kalau ternyata wanita muda yang jadi tamunya juga memangku bayi. Umur bayi laki-laki yang sedang mengunyah biskuit itu kemungkinan sama dengan Minseok. Atau lebih muda, tidak jauhlah, paling 1-2 bulan. Berbeda dengan Minseok yang sudut matanya meruncing ke atas, mata bayi si tamu bulat berbinar. Pipi si bayi juga tidak setembam Minseok—oh, itu harus. Kebanggaan Minseok ‘kan pipi bulat kemerahannya yang mirip bakpau kacang merah; kalau dalam hal ini dia tersaingi, ia akan kehilangan harga diri sebagai bayi gendut.

Ah, mungkinkah bayi ini yang dibilang Nyonya Kim ‘imut’? Menurut Minseok tidak, tentu saja, karena yang lebih imut adalah biskuit dalam genggaman tetangga ciliknya. Warna coklat madu yang familiar meyakinkan Minseok kalau itu biskuit susu favoritnya. Uh, mengingat tekstur lembut dan rasa manis-agak-hambar dari si biskuit membuat Minseok tambah lapar.

Jadi, Minseok tidak basa-basi lagi.

“Aaaa!!! Da, da!!!”

Dalam pangkuan ibunya, Minseok meronta, meraih-raih ke depan. Nyonya Kim kaget, berusaha menenangkan putranya dalam rasa malu; ibu mana yang tak malu saat tahu putranya ingin makan makanan punya tamu? Sementara itu, bayi di seberang meja berhenti mengunyah. Mata bulatnya mengerjap-ngerjap, berpikir sejenak.

Tangannya yang memegang biskuit kemudian terulur ke arah Minseok.

“Oh, bagus, Han. Biskuitnya Ibu berikan, ya?” ucap si tamu wanita, lalu mematahkan bagian biskuit yang belum kena liur bayinya dan memberikan potongan itu pada Minseok. Hap! Biskuit pun langsung masuk mulut. Tidak ada bubur labu, biskuit pun jadi, ini peribahasa spesial Minseok dalam keadaan lapar. Pipi tembamnya bergerak-gerak semangat selagi menikmati biskuit susu yang citarasanya sedikit lebih mengena di lidah. Rupanya bukan merek yang biasa—dan ada madu di dalamnya. Mungkin ini dibeli di negara asal si tamu. Barang impor. Pantas lebih enak.

Di seberang meja, si bayi tamu tergelak karena geli melihat pipi kenyal Minseok  yang bergerak terus seperti puding.

“Aduh, maaf sekali, Nyonya Lu, biskuitnya jadi dimakan Minseok…” Nyonya Kim membungkukkan tubuhnya sedikit tanda menyesal, kemudian beralih pada putranya, “Hei, tunggu sebentar dong, Sayang, buburmu sudah siap kok di belakang…”

Benar sudah siap, tetapi Minseok toh tidak makan-makan juga. Cuek, Minseok melumatkan biskuit itu dengan bantuan lidah dan langit-langit mulut karena giginya masih kecil, belum bisa menghancurkan makanan.

Gelak yang sempat terhenti dari seberang meja kembali terdengar, bahkan tubuh mungil si bayi berguncang-guncang karena semangatnya. Minseok, si pemilik pipi lucu yang ‘ditertawakan’, jadi ikut tergelitik dan tertawa pula.

Well, berhubung bayi si tamu sudah memberinya biskuit, Minseok akui bayi itu lumayan imut.

“Tidak apa-apa, Nyonya Kim, Lu Han selalu suka berbagi, kok.” Nyonya Lu menggeleng, menanggapi permohonan maaf nyonya rumah seraya tersenyum lembut.

Lu Han.

Si mata rusa itu tidak memperkenalkan diri secara verbal, tetapi Minseok kecil tahu-tahu saja merasa akrab dengannya.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

siapa kangen XiuHan boleh ngacung.

sebenernya foto di atas itu aku gak yakin bener2 xiumin tapi bayi itu punya xiumin-ish vibe/? yang kuat! liat mata sama pipinya deh uh gak kuat hamster banget! dan yah, di foto itu bayinya udah agak tuaan (lebih dari 1 tahun) tapi cuman itu foto yg pas buat fic ini…

makasih sudah baca ya, kukasih bonus nih!

Bonus 1: mini Lu

b-ykfk9ccaaegu5

Bonus 2: prewedding shots

xiu-luh-kiss

Bonus 3: trailer ‘In The Heights’ Chen cut kalo yg belum liat (alias Chencing machine in action)

Advertisements

12 thoughts on “January, 1991

  1. Haloo Liana. Duh, lama tidak berkunjung dan tahu-tahu XIUHAN!!!! OMG! Tahu aja kamu, Li, aku kangen banget sama mereka ;—;
    Nah, tuh, bisa nulis paragraf panjang (: Iuuuuuwww, kebayang-bayang wajahnya little Minseok, duh yang nggak bisa diem liat makanan, duh pipinya yang kenyal seperti pudding, sini aku gigit :v wkwk
    Deskripsinya jelas, imut-imut dan kebayang banget betapa menggemesinnya mereka :3

    P.s bonus foto no. 2 bikin baper abis ;-; I miss XiuHan moments so bad.
    Semangat Liana!! (:

    Like

  2. ga kebayang interaksi bocah umur 1 taun yg berbagi… pasti unyu bangeeett…
    ituu foto bayi di atasnya lucu bangeeett… pipinya minta dicubit bangeett…

    sering2 ya bikin ff makhluk2 unyu ky gini 🙂

    Like

  3. AAAAAAAAAAA XIUHAN!!!!!!!!! *maaf ga nyantei*
    Lucu bangeeeeetttttttt. Mau dong punya anak kaya begitu *hush*
    Ah meski sudah sebesar ini pun kalian tetep lucu dan imut ko *apasi*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s