Friendly Floatees

tumblr_nie3lkb0MX1u65ggao1_500

by Liana D. S.

 – Super Junior’s Yesung (Kim Jongwoon) and EXO’s Chen (Kim Jongdae) – Family, Fluff Oneshot (<2K words) – General

[inspired by this and this]

.

.

Jongwoon tidak pernah mengambil jalur mainstream, termasuk dalam urusan menyenangkan anak.

“Ayah, Ayah, ada ikan Meno yang makan umpan Jongdae!”

Misalnya saja kali ini, bukannya ke taman ria atau toko mainan, Jongwoon mengajak putra keduanya, Jongdae, memancing bersama di laut untuk merayakan ulang tahun Jongdae yang keempat. Perjalanan ini eksklusif untuk mereka berdua saja, tanpa Jonghyun kakak Jongdae yang usil minta ampun, Jongin adik Jongdae yang masih bayi, dan Taeyeon ibu Jongdae yang terlalu berisik (‘Jongdae, hati-hati pegang kailnya!’, ‘Jongdae, awas umpannya tumpah!’, ‘Jongdae, biar Ayah saja!’) sehingga aktivitas mereka jadi berkurang keriangannya. Anak-anak lelaki Jongwoon sudah biasa dengan ide liburan ala ayah mereka, termasuk Jongdae yang sekarang cekikikan sendiri karena kailnya ditarik-tarik ikan Meno.

Meno?

“Mana Nemo? Ayo panggil ikan Nemo-nya,” Jongwoon menggulung tali pancing setelah meralat kata-kata anaknya soal ikan badut dari film animasi ternama itu, “Nemo-ya!”

Jongdae menarik napas dalam-dalam. Ia selalu suka bila disuruh memanggil seseorang—atau seekor ikan—karena itu berarti…

“NEMO-YAAAA!!!”

…dia bisa berteriak kencang-kencang tanpa ada yang menyalahkan. Ia ‘kan sedang memanggil ikan Nemo, kalau pelan-pelan tidak akan kedengaran. Jongwoon tertawa sebelum menutup mulut mungil Jongdae dengan dua jarinya yang besar-besar. “Jangan terlalu keras, nanti ikan Nemonya kaget terus berenang pulang.”

Menyadari kesalahannya, Jongdae menutup mulut dengan dua tangan. Teriakannya berubah menjadi bisikan, “Nemo-ya…” yang membuat Jongwoon tak tahan untuk mengecup puncak kepala bocah itu gemas.

Tak lama kemudian, kail muncul ke permukaan, tetapi tidak ada ikan tersangkut di sana.

“Hei, ternyata kita mengambil makanan ikan Nemo!” Jongwoon mengangkat kailnya untuk menunjukkan rumput laut yang mereka tangkap. Tangan Jongdae terulur penasaran ke arah tanaman basah itu. “Apa kita bisa jadi putri duyung kalau makan rumput laut, Yah?”

Pemikiran unik semacam ini pernah muncul dalam pikiran Jongwoon kecil, bedanya dahulu Jongwoon mengira dia akan berubah jadi ikan. Bagus kalau Jongdae berimajinasi lebih hebat; berarti Jongdae benar-benar putra Jongwoon. Buktinya ya gen pengkhayal Jongwoon yang menurun itu.

Menanggapi pertanyaan lucu Jongdae, Jongwoon bertanya balik, “Menurutmu putri duyung makan rumput?”

Sementara ayahnya melemparkan kembali kail ke dalam laut, Jongdae berpikir sejenak, membetulkan letak topi kuningnya yang nyaris diterbangkan angin, lalu menggeleng. “Putri duyung makan yang enak-enak di istana. Rumput laut tidak enak.”

“Lalu binatang apa yang makan rumput?”

“Hm…” Jemari kecil Jongdae teracung satu-satu, menghitung, “Kambing, sapi, kuda… Oh ya, kuda laut ‘kan ada ya, Yah? Apa kita akan berubah jadi kuda laut habis makan rumput laut?”

Kemampuan penarikan kesimpulan yang luar biasa. Tidak sedikitpun terlintas dalam benak Jongwoon bahwa kuda laut bisa makan rumput laut. Benar. Kuda di darat makan rumput, kemungkinan besar kuda di air sama saja. Jongwoon mengusak rambut Jongdae pelan sebagai hadiah atas kalimatnya yang cerdas. “Ayah tidak tahu, Jongdae-ya, tetapi mungkin saja. Ah, bagaimana pula caranya? Kuda laut mulutnya tidak sama dengan kuda di darat.”

“Memang mulutnya seperti apa—hua!” Perhatian Jongdae teralih pada senar pancing yang tiba-tiba menegang. Bocah itu menggulungnya (dengan bantuan Jongwoon tentu saja), berharap dapat ikan besar karena sesuatu di dalam laut itu kuat sekali menarik kailnya.  Napas Jongdae tertahan ketika sesuatu yang ia tangkap mulai mewujud di permukaan air.

“Waa!!!”

Itu memang ikan. Ukurannya kira-kira setelapak tangan Jongwoon; tidak terlalu besar, tetapi gerakannya yang liar setelah terpancing menakutkan Jongdae. “Ayah, Ayah, jauhkan! Lepaskan ikannyaaa!!!” jeritnya dengan wajah tersembunyi di dada Jongwoon. Tubuh Jongdae gemetar hebat dan dia menjerit lagi saat sepercik-dua percik air dingin dari si ikan mengenai kulit tangannya yang telanjang.

“Tidak apa-apa, Jongdae-ya. Dia cuma ikan. Sudah, sudah.” Dengan cekatan, Jongwoon memasukkan hasil tangkapannya ke dalam ember. Jongdae mengintip dari balik tubuh ayahnya; ikan yang seram itu menghilang. “Ikan ke mana?”

“Sembunyi darimu. Ayah ‘kan bilang tadi, kalau kau teriak-teriak, ikannya takut.” Sekali lagi Jongwoon melemparkan kailnya. Tipuan murah ini ternyata berhasil memadamkan ketakutan Jongdae—lihatlah bocah itu, dengan berani memegang tongkat pancing Jongwoon kembali. Mereka menunggu bermenit-menit dalam kesabaran, diselingi cerita-cerita tentang laut. Jongwoon membongkar semua memori tentang memancing bersama sang ayah karena di situ, termuat berbagai dongeng dari dunia bawah air. Ada kisah klasik putri duyung dan istananya, penyu-penyu menari, kerang mutiara, dan sebagainya yang menyingkirkan kebosanan Jongdae.

“Aku pernah nonton di film kartun, penyunya bisa bikin gelembung super—hatsyiii!!!”

Ups. Udara mulai mendingin. Jongwoon merapatkan jaket Jongdae dan menarik putranya mendekat. Menggunakan saputangan, dibersitnya ingus Jongdae yang terancam mengalir keluar. Di saat bersamaan, Jongwoon mengecek jam tangan: pukul tiga lebih dua puluh satu. Ah, sembilan menit lagi menuju ‘pertunjukan utama’ pada setengah empat sore, berarti Jongdae masih harus melawan udara laut yang kurang bersahabat ini sembilan menit ke depan. Jongwoon tidak boleh membiarkan anaknya flu, tentu saja. Pertama, Taeyeon akan membunuhnya jika Jongdae sampai sakit dalam perjalanan ini. Kedua, mengurus anak yang flu—seperti Jonghyun minggu lalu—itu super menyusahkan. Ketiga, kasihan Jongdae kalau tidak bisa teriak-teriak versus kakaknya gara-gara sakit. Jadi untuk menghangatkan putranya, Jongwoon memindahkan Jongdae dari sisi perahu ke pelukannya yang senyaman selimut.

“Ayah, ada yang menyangkut lagi!”

Tapi yang namanya anak jelas tidak menyadari perhatian-perhatian kecil yang orang tua mereka tunjukkan, bukan begitu? Jongwoon sendiri, selayaknya orang tua lain, juga tidak terlalu peduli dan menggulungkan tali pancing untuk Jongdae. Ia tersenyum geli mendapati kejutan lain di ujung tali.

“Lihat, Jongdae-ya, sepatu kecil!”

Segera setelah sepatu itu mendarat di perahu, Jongdae mencocokkan kakinya di samping si sepatu, sayangnya sepatu itu kesempitan buat dia. “Kurang besar…”

“Kita hadiahkan saja pada Jongin.”

Bibir Jongdae mengerucut. Sepatu itu sebetulnya masih cukup bagus, dengan petir biru di antara warna putih yang dominan, dan Jongdae ingin memilikinya. Ah, apa boleh buat, kekecilan sih, tidak akan nyaman di kaki.  Lagipula, sepatu itu cuma sebelah, mana bisa dip—

Oh iya.

“Lho, tapi itu hanya satu.”

“Karena itulah kita cari pasangannya.”

Well, Jongwoon memang anti mainstream. Bahkan sepatu untuk anaknya ia cari di laut, sekecil apapun kesempatan untuk menemukan sepasang. Memancing sungguh mengalami pergeseran makna gara-gara ayah satu ini: dari ‘perburuan ikan’ menjadi ‘perburuan harta karun’ (yang membuat kegagalan memancing kali ini—mereka baru dapat satu ikan selama satu jam—tidak terlalu bermakna). Menurut Jongwoon, barang-barang aneh yang ia temukan selama memancing akan membawa kesan sendiri-sendiri, apalagi yang bermerek ternama seperti sepatu tadi. Aneh, sih; daripada dibuang ke laut, bukankah lebih baik dijual ke toko barang bekas?

Atau jangan-jangan, sepatu tadi milik seorang anak yang tenggelam?

Uh.

Tanpa sadar, Jongwoon mengeratkan pelukannya pada Jongdae. Pria itu menggeleng; baginya, mustahil Jongdae akan dimangsa ganasnya lautan.

Lagipula, laut tidak bakal suka rasa Jongdae dan akan memuntahkannya semisal Jongdae jatuh ke laut.

Jangan tanya bagaimana rasa Jongdae. Jongwoon tidak pernah mencicipi. Hei, Jongdae ‘kan memang bukan makanan, melainkan anak Jongwoon (garis bawahi ini, tebalkan, miringkan), maka tidak seharusnya Jongdae dimakan (oleh manusia maupun laut), benar?

Sentuhan Jongdae pada lengan Jongwoon menyadarkan ayah muda itu dari lamunannya.

“Ayah, ada bebek!”

Sebuah bebek karet mengambang di samping tali pancing.

Jongdae dan mainan klasik ini memiliki sejarah panjang pasca dipertemukan oleh takdir di kamar mandi. Satu hari, ketika otak bocah lelaki pendek itu mulai berfungsi sebagai pengingat, ia berendam bertiga bersama Jongwoon dan Jonghyun. Dalam bak mandi terdapat beragam benda lucu, contohnya robot-robotan (punya Jonghyun dan dia tidak mau berbagi), beberapa bola kecil, dan bebek karet. Tuan Ungu, bebek tua yang dinamai sesuai warnanya dan telah hidup dari zaman Jongwoon bayi, langsung membuat Jongdae jatuh cinta, terlebih ketika tangan Jongwoon tanpa sengaja memencet mainan karet itu. Keluarlah bunyi ‘kwek!’ yang membuat Jongdae tergelak tak henti-henti. Begitu sukanya Jongdae pada mainan itu sehingga ia tidak mau keluar dari bak kecuali bersama Tuan Ungu. Mainan serupa ada di laut sekarang, warnanya kuning, dan ini membingungkan Jongdae. “Apa ada orang yang berendam di laut?” tanyanya pada Jongwoon, berhubung sepengetahuannya, bebek karet adalah teman berendam.

“Tidak, Jongdae-ya,” Senyum Jongwoon melebar, “Hari ini, semua bebek karet berkumpul dengan ibu mereka.”

“Hah? Bebek karet punya ibu? Masa, sih, Yah? Aku tidak percaya.” ucap Jongdae sok tahu, meniru lagak Jonghyun setiap mendengar ‘mitos’. Masa bodoh dengan definisi ‘mitos’, yang jelas pose aku-tidak-percaya Jonghyun itu keren.

“Tuh, lihat saja sendiri.” Dagu Jongwoon mengarah ke selatan. Jongdae berpaling dari ayahnya dan terkesima.

Terbelalak.

Tubuh bergetar.

Jantung berdebar kencang.

Mulut menganga dengan kekaguman menggantung di ujung lidah.

Jongdae kini mirip sekali seperti dengan ikan ‘Meno’ yang megap-megap sekeluarnya dari akuarium.

***

“BEBEK RAKSASAAAA!!!!”

***

Kim Jongwoon tidak pernah melalui jalan mainstream, termasuk urusan ulang tahun anak yang kebanyakan orang menganggap remeh. Entah sebuah kebetulan atau jawaban atas doa Jongwoon supaya bisa memberi hadiah berkesan (atau hasil rajinnya Jongwoon mencari informasi event menarik di kota), peringatan 30 tahun Proyek Mainan Terapung oleh seniman seluruh dunia bertepatan dengan hari ulang tahun Jongdae. Dulu, seorang oseanograf Amerika pernah mencoba meneliti arus laut dengan melepaskan puluhan ribu mainan karet dan timnya akan menyelidiki pergerakan mainan-mainan itu. Kendati dinilai kurang sukses, penelitian ini justru menginspirasi para seniman untuk membuat parade bebek karet.

Maka Jongwoon membawa Jongdae memancing di tempat yang jarang ikan ini supaya si anak dapat menyaksikan keagungan bebek kuning 54 kaki yang diikuti ratusan bebek karet ukuran normal. Pria itu tanpa malu-malu membawa tongkat pancing ketika perahu-perahu lain membawa peralatan merekam—kebanyakan milik wisatawan yang ingin mengabadikan event ini.

“Waaah!!! Bebeknya be-saaaaar dan anaknya ba-nyaaaak!!!” Kegirangan yang melanda Jongdae menimbulkan deguk seperti orang menangis, tetapi tidak. Ia hanya sesak karena terlalu gembira, tak menyangka ada Ibu Bebek yang sebesar dan selucu ini. Laut menjadi mirip pelangi karena bebek-bebek warna-warni, menyemarakkan parade mainan yang mengaktifkan imajinasi kekanakan Jongdae. Dari bak mandi mana saja kira-kira semua bebek ini datang, terutama yang raksasa? Ah, tetapi dari manapun mereka, surga bebek karet ini keren sekali!

“Wiiii, Tuan Ungunya… hik… ada ba-nyaaaaak!!! Ayah… hik… lihat, lihat!”

Astaga, Jongdae sampai cegukan saking senangnya. Jongwoon geli sekaligus kasihan melihat putranya gelagapan; mungkin ia harus membantu Jongdae bernapas sekarang. Ia balikkan tubuh si anak menghadapnya. “Jongdae-ya, tarik napas. Hirup yang banyak sampai dadamu menggembung…” –Melalui hidung, Jongdae menyedot udara meniru ayahnya—“…lalu hembuskan dari mulut.” Bibir Jongdae membulat, membuang napas, dan ia mulai mampu mengendalikan gelombang euforia yang melandanya.

“Bagus. Sekarang ayo kita lihat bebek lagi.”

Jongdae duduk manis di pangkuan Jongwoon, menghadap laut. Bebek besar berenang tenang melewati perahunya, menghalangi sinar mentari, dan rasa takjub menerpa Jongdae sekali lagi. Ia juga dibuat heran oleh anak-anak bebek yang patuh sekali pada ‘ibu’ mereka. Padahal Ibu Bebek itu diam saja, tidak seperti ibu Jongdae yang sedikit-sedikit melarang, tetapi anak-anaknya tidak ada yang berenang keluar jalur. Semua mengekori ibu mereka tanpa protes.

“Yah, Ibu Bebek itu pernah marah seperti Ibu, tidak?” tanya Jongdae, bergidik sedikit. Kalau bebek sebesar itu marah, bayangkan betapa menggelegar ‘kwek!’ yang akan terdengar.

“Tentu tidak. Lihat anak-anaknya, semua manis dan menurut. Kalau anak-anak Ibu menurut tidak, ya?” Jongwoon menutul pipi Jongdae. Yang ditanya menunduk; benar, ia dan Jonghyun masih suka main di tempat kotor, teriak-teriak tak jelas, bergulat… Bagaimana Taeyeon tidak marah? Diam-diam, Jongdae berjanji akan memperbaiki sikap bersama Jonghyun nanti (kalau ingat).

Dari sudut matanya, Jongwoon menemukan beberapa bebek ‘mematuki’ perahu. Mereka pasti terapung di arah yang salah dan tersangkut.

“Jongdae-ya, bebeknya tersesat.”

“Mana?” Jongdae melongok ke luar perahu, “Ah, iya. Mereka ditinggal pergi!”

“Ambil mereka dan apungkan di sisi lain perahu. Lihat Ayah.” Jongwoon mengangkat dua bebek karet dan memindahkan mereka supaya bisa menyusul bebek besar. Jongdae mengikuti. Awalnya, ia takut terjungkal ke air saat menolong bebek, tetapi lengan Jongwoon melingkarinya meyakinkan sehingga Jongdae berani mencondongkan badan ke luar perahu dan ‘menyeberangkan’ bebek-bebek yang malang melewati perahunya. Bocah bertopi kuning itu melambai semangat sambil berdiri usai teman-temannya merapat menuju ibu mereka.

“Dadah, Bebek-Bebek!!! Hati-hati di jalan!!!”

Sementara Jongdae memberi salam perpisahan pada para bebek, Jongwoon terus memperhatikan putranya, mencegah Jongdae terlalu banyak bergerak agar perahu tidak oleng. Senyum tipis tersungging di wajahnya tatkala mengecek perekam video yang bekerja diam-diam, menyimpan kenangan menyenangkan sore ini. Suatu hari, makna dari peristiwa bebek raksasa ini akan berubah: Jongdae sekarang melihat bebek-bebek mainan itu sebagai sesuatu yang benar-benar hebat, tetapi di hari depan, bukan mustahil yang Jongdae lihat hanya balon bebek raksasa dan mainan-mainan karet yang sembarangan dibuang. Tidak, Jongwoon tidak mau Jongdae jadi orang dewasa yang mainstream, membosankan, dan berorientasi pada uang begitu.

Harapan Jongwoon saat menekan tombol ‘stop’ pada perekam adalah agar kasih yang coba ia sampaikan hari ini dapat tersampaikan pula pada putra-putri Jongdae kelak.

***

TAMAT

.

.

.

kenapa aku kecanduan KidFic? salahkan foto childhoodnya anak EXO yg kawaii2 itu T.T dan waktu nemu foto cover di atas, gak tau kenapa langsung nyahut kalo itu jongdae. yang kuherankan adalah kenapa jongdae yg sekawaii ini begitu gede jadi in charge of sexiness -.- *maaf Liana mulai delusi

dan yeay bapak Yesung kembali ke duniaku ^^ bapak ini sudah lama kutinggalkan padahal aku suka suaranya dan juga karakternya. jujur aku rada2 ngeship YeHan (Yesung x Hangeng) :p kenapa? LIAT DEH ANAK MEREKA JUGA COUPLE YANG KAWAII! mereka bisa jadi naruto-sasuke-boruto-sarada bagian dua haha lagian kemampuannya juga nurun satu ngedance satu nyanyi

sayangnya momen YeChen itu jarang poll. YeJong (Yesung-Jonghyun SHINee) aja banyak di SMTOWN! yesung seringnya sama baek, chen seringnya sama kyu (kenapa kalian tukeran ayah?!)

duh tapi fic ini sendiri aku rasa kurang memuaskan gimana dong. aku mau coba bereksperimen dengan vocab tapiii jatuhnya selalu aneh jadi aku balik2 lagi ke kata2 yg umum kupake…

Advertisements

17 thoughts on “Friendly Floatees

  1. hahaha…. lucu banget baca ff ini… kebayang unyunya chen kecil begitu liat bebek raksasa… pasti pengen cubit pipi trz peluk trz bawa pulang… 😛

    seru bgt punya bapa antimainstream begituuu

    Like

  2. Kim Jongdae kenapa imut banget sihhhhhh
    bebek ungu *tepok jidat*
    Papi Jongwoon, ampun lah om, anda luar biasa
    kimjong+tae family *cuma bisa geleng-geleng*
    ternyata ada juga yg sependapat kalo lay-hangeng kayak bapak-anak, kebanyakan bilang lay mirip dongek hiks, padahal dari jaman debut lay auranya udah hangeng banget *jadi kangen hangeng*
    semoga next time ada moment yechen x), mereka kan sesama absurd tapi lucu

    Like

    1. akhirnya ada yg bilang kim jongdae imuuuut yak berhasil *rolls* iya kan imut kan sampe2 foto covernya itu aku jadiin wallpaper laptopku *pengakuan dosa apa ini
      dan benar sekali aku agak gak terima xing2 disamain sama hae tapi gimana emang mirip hu. tapi kalo secara sifat mas xing itu miripan sama bapak han ^^
      yep aku butuh duet ye-chen di smtown dengan segeraaaa
      hehe makasih udh mampir ya!

      Like

  3. Aiiguuuuu
    URIJONGDAE NOOMU KIYYOOWWOOOOOO *gaknyantai
    ottokeeee
    jongdae yya ntar kalo kita punya anak, bikin yang lucu kyk kamu gitu yyaahh ?? *dirajamexol
    kim jong family juga unyu maksimal
    aahhh tau ah semuanya unyu
    makasih yyaa Liana udah bikin fanfict yang unyu seunyu cintaku buat jongdae ini ❤

    ppyyong

    Like

  4. Bisa ngga si baby jongdae aka chen ini di bungkus terus dibawa pulang???? duhhh kok mereka itu lucu banget sih?????
    ngga nyangka si absurd Yesung ternyata bisa terisi hal bermakna seperti hadiah ngeliat bebek karet, serius itu aku terenyuh kak, ngga tau kenapa
    Ini mana si chen bener2 yaaa, aku ngga ngerti lagi dia disini gemez maximal nan pollll, pengen punya mesin waktunya doraemon terus pergi pake pintu kemana aja buat pergi ke waktu chen ngambil foto yg jadi cover ff ini, sayang mesinnya blom ada huhuhu
    Makasih untuk ff yg heartwarming seperti ini kak :)))

    Like

  5. Yeay kak liana tidak membawa ff yang belakangnya tiba tiba sedih/? Ini bikin senyum seneng banget kak. Jadi inget saat adik aku kecil juga ngomong kupu-kupu jadi puku puku dan lapangan jadi panganan..
    Dan project bebek karetnya memang bagus banget lucu emash!! Kaya dek Chen/? Tapi lebih lucu lagi pas bebek besarnya kempes kak: ‘))) keep writing kak li!

    Like

  6. Halo,aku balik lagi setelah kecantol drabble yang berguguran dari ifk dan berujung penasaran buat blogwalking ke blognya kak liana X”D dan tanpa sengaja menemukan fic ini dengan mas kjw sebagai cast :”3 ficnya sederhana tapi maknanya berarti sekali plus ugh pasangan bapak dan anak kim ini ucul bin imut sangat <33 semoga kim family ini ada sequel atau seriesnya h3h3 :"""

    Btw lika garis 98 pengunjung baru hehe salam kenal ^^

    Liked by 1 person

  7. Aahhh lucu bgt cover nya. Tak menyangka kalau kamu selucu itu dimasa lampau nak hihihi
    Uh emang deh Jongwoon selalu anti mainstream hohoho
    Lagi” keinget dear my family dan ospek deh. Selalu seneng cerita family begini
    Dan selalu suka sm kata” yg kakak pake d setiap fic nya. Something bgt gitu :* Kakak suka makan buku apa si bisa dapet vocab macam begini”? hihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s