Beyond The Woods

beyond the woods

f(x)’s Luna x EXO’s Chen // Romance, Fantasy // Oneshot (2015 words –seriously) // Teen and Up

.

[Warning] POV membingungkan!

.

Can’t resist this strong feeling.

***

Malam ini malam purnama dan kau, Luna, sedang lapar.

Serigala sejenismu sudah melahap entah berapa puluh manusia yang tersesat di Hutan Terlarang ini, tetapi kau tidak bisa, sekalipun kau selalu memaksa diri untuk mengunyah satu. Kau memang aneh; bagaimanapun, di mata serigala, manusia adalah mangsa terlezat, apalagi kalau dagingnya banyak. Jangan lupakan bumbu ketakutan mereka sebelum dicabik-cabik. Tapi kau, Luna, tidak pernah tega menikmati mereka. Kau memilih berlari gila-gilaan mengejar rusa atau sekalian mati kelaparan daripada memakan manusia. Tak heran kau dipandang sebelah mata oleh serigala lain, terlebih kau satu-satunya serigala betina soliter di Hutan Terlarang. Betina harusnya segera menemukan jantan, kawin, dan membentuk klan sendiri, bukan? Beberapa pejantan yang baru berpisah dari klan lamanya sudah menawarkan diri untuk membentuk klan baru bersamamu, tetapi kau menolak karena serigala yang makan manusia ‘bukan tipemu’. Tentu saja ini membuat para pelamar mundur; mereka serigala normal yang seumur hidup tidak akan mampu menahan diri dari godaan daging manusia.

Jadi kau, Luna, pada malam purnama ini masih sendiri dan mulai jenuh dengan kesepianmu. Mau tak mau kau mempertimbangkan opsi untuk menjadi serigala normal. Dimulai dari makan manusia, lalu menemukan jantan, menandai teritori, dan membangun klan.

Kau berdiri di atas batu besar, mengendus udara, melacak keberadaan manusia. Kenapa tidak satupun dari mereka muncul ketika aku sedang berburu?, batinmu dengan moncong terangkat lebih tinggi, Jangan-jangan, hidungku tidak peka terhadap bau manusia karena tidak pernah benar-benar memburu mereka? Aish, kalau begitu aku tidak akan mendapatkan mereka, dong!

Jangan menyerah di sini, Luna! Coba berjalan lagi menuju area hutan yang lebih dekat pemukiman. Dibanding dengan jantung hutan, wilayah batas lebih banyak manusianya karena warga desa menebang kayu dan berburu di sana. Ah, ya, akhirnya kau mendengarkan saranku. Ya, berjalanlah terus ke utara—

Hei, berhenti. Lihat di sana, Luna. Ada manusia! Intailah dia, amati pergerakannya dan jangan biarkan dia kabur!

Baunya harum sekali! Aku tak mengira manusia bisa sewangi ini!

Tidak, Luna. Mestinya kau tidak menemukan wangi apapun karena ‘bau manusia’, bagi para serigala, berarti aroma anyir darah dan peluh ketakutan (bagiku itu tidak wangi, tau). Yang kau endus sekarang adalah wangi memabukkan seorang pemuda yang baru beranjak dewasa, berpadu dengan segarnya cemara di sekeliling. Hati-hati dengan bau ini! Manusia—maksudku para gadis—banyak terjerat oleh harum ini, padahal penciuman mereka tidak setajam dirimu! Jadi jangan terlalu lama mengendus dan cepat terkam dia sebelum purnama tenggelam!

Luna?

Oi, sadarlah, lelaki muda itu mangsamu! Ayo lumpuhkan dia sebelum—

Tuhan.

Dia menoleh padamu! Kalau sudah begini, dia bisa lari kapan saja! Jangan buang waktu, segera gigit dia!

Aneh, padahal dia tidak segemuk kebanyakan mangsa lezat yang diceritakan teman-temanku… tetapi kenapa… dia terlihat sangat menggiurkan…

Bukan perasaan itu yang harusnya muncul dalam hatimu, Luna. Mana rasa laparmu? Kenapa cakarmu melemah? Dia menggiurkan bagimu, benar, tetapi bukan sebagai mangsa. Kau ‘tergiur’ oleh rambut hitam ikalnya yang agak berantakan, manik kelam misteriusnya yang terbingkai indah oleh bulu mata, dan garis rahang yang memperkuat penampilannya. Jangan terkesima oleh bahu lebar dan dada bidangnya; pandanglah itu semua sebagai gumpalan besar otot yang gurih, jadi lompat dan kunyah sekarang! Ayo, jangan cuma diam memandangi kaki kokoh berbalut celana selutut dan sepatu bot itu!

Tunggu.

Debar jantungmu meningkat, Luna. Berdeburan seperti laut berombak. Semua yang ada di sekitarnya mengabur kala dia menatapmu.

Aku tidak bisa bergerak.

Paksalah dirimu. Awan hitam mulai menutup purnama dan kekuatanmu akan menurun drastis setelah Bulan sempurna menghilang. Jika itu terjadi, selamanya kau tidak akan pernah mencicipi manusia! Bukankah kau ingin merobek daging mereka? Merasakan kenyal jantung dan paru-paru mereka? Karenanya, bergeraklah!

Pemuda itu masih mengunci pandangnya denganmu. Aku temukan ketakutan di matanya, tetapi tidak sebanyak binar yang (bagimu, Luna) mengalahkan cahaya bintang-bintang. Dia mengagumimu, kurasa, dan jantungnya berdetak seirama denganmu.

Ini gila. Mungkinkah pemuda itu merasakan getar yang sama, Luna?

Kau tidak menjawabku karena mata birumu terlalu fokus pada lengkung bibirnya yang menawan. Oh, Luna. Kau tidak bisa menciumnya. Ingat, kau butuh bibir manusia untuk menjelajah bibirnya—dan apa yang kau punya di sini? Moncong, Luna. Moncong yang akan mengoyak tiap serat ototnya. Setiap taring dalam mulutmu akan melukai lidahnya nanti, bukan begitu?  Dan hei, barusan Bulan mengejekmu. Kau hanya hewan buas, katanya, jadi…

…kau tak akan menyatu dengan manusia.

Awan menyembunyikan purnama sepenuhnya dan kau tak sempat melangkah lebih jauh. Kakimu kehilangan kekuatan, tidak mampu menyangga beban tubuhmu, sehingga kau tumbang. Kau menjerit putus asa dalam hati ketika bulu-bulu di kakimu lenyap. Sepasang kaki depanmu menjadi dua lengan ramping dengan telapak berjari lentik, sedangkan kaki belakangmu berangsur memanjang, paha dan betis mulai jelas batasnya. Wajahmu pun berubah bujur telur, biru safir matamu terganti coklat gelap, moncong bertaring terganti hidung bangir dan bibir merah mungil.

Kesempatanmu untuk memangsa manusia pada purnama ini musnah sudah, Luna. Memang setiap purnama, kau tak bisa mengendalikan perubahanmu. Kau ingin selamanya menjadi serigala, tetapi fakta bahwa kau teraliri darah manusia dan serigala membuat itu mustahil. Ada waktu-waktu di mana kau menunjukkan sisi lemahmu, sisi manusiamu, salah satunya ketika purnama—dan kau tak suka.

“Padahal sedikit lagi,” Perlahan kau bangkit, tanganmu gemetar menyangga tubuh, “Padahal sedikit lagi aku bisa makan manusia dan jadi senormal teman-teman!!!”

Pemuda di seberangmu maju selangkah.

“Kau… manusia?”

Kau menoleh jengkel pada si penanya, tetapi ia meluluhkanmu dalam sekejap dengan tatapannya yang sulit dijelaskan. Bagiku, tatapannya itu tak berbeda dari yang lain-lain, tetapi hatimu berkata ada kehangatan dan perhatian dalam maniknya yang sehitam malam. Sumpah? Di mana?

“Ya. Aku manusia… di saat-saat tertentu saja. Sebagian besar hidupku kuhabiskan dalam bentuk serigala—dan aku hampir menerkammu tadi.” Kau tertunduk, masih terdengar kesal. Dia tidak menanggapimu dan kau berteriak menyembunyikan malu, “Sudah pergi sana! Jangan terus-terusan melihatku! Aku tahu aku manusia serigala yang payah dan tidak bisa makan manusia, tidak usah mengejekku!”

“Oh,” Pemuda itu tampak kaget sebelum mengangkat sudut-sudut bibirnya jahil, “Kau lebih galak sebagai manusia, ternyata.”

Seharusnya itu mengesalkanmu, tetapi entahlah, kau malah merasa senang mendengarnya bicara. Dia tidak berniat mengejek; barangkali dia hanya memancingmu bicara lebih banyak. Akan tetapi, dia manusia dan itu mencegahmu mendekat. Manusia dan serigala ditakdirkan untuk terus berkonflik, bukan saling berteman, bukan? Yah, meski demikian, kurasa kemungkinanmu lepas dari si pemuda nyaris nol. Kau sudah membiarkan dirimu terjerat dan mengabaikan kata-kataku untuk segera melahapnya, jadi nikmatilah pahitnya penyesalan, Luna.

Pemuda itu menangkap kemurunganmu. Dia maju lagi selangkah. Kau, yang terbiasa menutup diri, benci ‘dibaca’ sedemikian mudah oleh orang lain, maka kau menggertak dengan cara yang paling menyedihkan.

“A-aku ini memang galak, tau! Jangan mendekat! Aku akan berubah lagi untuk menyerangmu!”

Gagal. Pemuda itu justru menghampirimu tanpa ragu lagi setelah kau menggertak. “Aku takut.” –katanya di sela tertawa, membuatmu melemparnya dengan sekepal tanah dan tidak kena. Kau makin malu, tetapi kemudian ia berlutut untuk mensejajarkan tingginya denganmu. Darah berebut naik memerahkan pipimu ketika dia meminta maaf dengan tulus.

“Menurutku kau tidak payah. Kau kuat dan berani dalam kesendirian; tidak banyak wanita—atau betina, untuk kasusmu—yang mampu melakukannya. Berbanggalah.”

Dia tersenyum ramah kepadamu dan hanya padamu. Begitu indahkah senyum itu sampai-sampai kau lupa berkedip? Senyum itu, bagiku, tidak selebar dan sesilau senyum-senyum bahagia lain, tetapi bagimu, itu senyum lembut yang memercikkan berbagai perasaan menyenangkan dalam satu waktu. Cintakah ini? Bukankah terlalu dini untuk menyebut ini cinta? Kau tak dapat menamai rasa suka, gugup, dan haru yang diakibatkan kata-kata serta gerak-gerik pemuda itu, maka kau menyamarkan semuanya dengan memalingkan wajahmu yang merona, berusaha ketus.

“Jangan bersikap seolah-olah kau mengetahui bagaimana manusia serigala betina hidup!”

“Ya, aku tidak tahu, karenanya aku ingin mengenalmu.”

Aku tidak mencuri degup jantungmu, Luna, jadi bukan salahku kalau jantungmu melewatkan satu degup. Salahkan dia, yang mencoba mengikuti arah pandangmu tapi selalu kau hindari, yang pada akhirnya menahan wajahmu dengan satu telapaknya. Kulitmu memanas di bawah kulitnya yang sedikit kasar, sentuhan maskulin yang begitu kontras dengan halus pipimu—dan sesuatu dalam dirimu terbangun. Sesuatu yang pada betina normal akan terangsang jika merasakan gesekan bulu beraroma daging buruan.

“Tidak banyak manusia serigala di hutan ini,” Jemarinya bergerak menuruni rahang, lalu berhenti tepat di bawah bibirmu; sapuan kulitnya begitu menegangkan, “Kaulah yang pertama kutemukan dan…”

Kalimatnya menggantung. Kau rasakan gemetar tangannya sebelum turun darimu. Dia mendesah pelan dan untuk pertama kalinya rona yang sama mewarnai pipi kalian. Sikap santainya sebelum ini membuatmu tak sadar bahwa bukan kau saja yang dikuasai perasaan ganjil ini. Aku mendengar detak jantungnya, Luna, yang jauh lebih cepat darimu sampai-sampai aku khawatir dadanya akan meledak. Dalam hatinya terdapat keinginan untuk menjamahmu dan memilikimu, tetapi dia mati-matian menekan keinginan ini. ‘Baru pertemuan pertama,’ dalihnya, ‘Selain itu, dia sedang lemah dan aku tak mau menghancurkannya.’ Dia hati-hati sekali, bukan? Dan demimu juga, Luna, dia melawan bayangan dari dasar jiwanya, mencegah nuraninya dibutakan oleh kerakusannya atasmu.

“Maafkan aku menyentuhmu,” Keheningan antara kalian akhirnya pecah, “Kau pasti terkejut.”

“Mm… tidak terlalu.” Nyatanya kau tidak menolak untuk terhanyut dalam sentuhannya yang asing selama beberapa detik barusan. Jawaban ini melegakannya. Dia kemudian mengajakmu melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Idenya muncul saat perutmu tanpa tahu malu bergemuruh, lantang menagih janji siang tadi: ‘hei Perut, nanti malam aku akan mengisimu penuh-penuh dengan manusia!’—yang sayangnya tidak terpenuhi.

“Kau lapar.” Dia tertawa dan kau, meski malu berat, memuji merdu tawanya dalam diam.

“Mau berburu denganku?”

Sontak kau menengadah. “Apa?”

“Berburu. Mungkin agak sulit di malam hari karena hewan-hewan sudah pulang ke sarangnya, tetapi—“

“Tidak. Kau tidak bawa senjata apapun untuk berburu.” sahutmu. Manusia membutuhkan senapan, panah, atau tombak sederhana untuk melumpuhkan mangsa karena tubuh mereka tidak memiliki fitur-fitur berburu. Dia tidak membawa satupun, lalu?

Saat kau bertanya-tanya mengenai ini, manik hitamnya mendadak berkilau keemasan. Kuku-kuku tangannya menajam dan kau mendapatkan jawaban.

“Aku bawa taring dan cakarku, jadi ayo kita lakukan dengan cara serigala.”

Napasmu tertahan, Luna. Iris emas dengan celah di tengahnya itu memancarkan betapa tegas jati diri sang pemilik, betapa cerdik strategi berburu yang telah ia susun, dan betapa tangguh manusia ramah ini sesungguhnya. Kau patuh di bawah komandonya yang tak terucap, takluk pada otoritasnya sebagai seorang—seekor—pejantan. Makhluk buas yang tersimpan di dalammu mengemuka bersamaan dengan makhluk buas dalam dirinya.

Bahkan dalam wujud yang berbeda, ia masih menawanmu, Luna.

Bulu putihmu yang bersih dan halus serasi dengan bulu keperakannya yang beraroma khas pemburu. Tubuhmu tampak manis bersanding dengannya yang bertubuh besar. Moncongnya yang lebih panjang darimu terangkat, mengendus udara, dan menurutmu ia terlihat sedikit angkuh. Angkuh dengan cara yang kau sukai. Ia telah menentukan arah perburuan dan memimpin jalan, mengisyaratkanmu untuk segera bergerak.

Di belakang, kau menelan keindahan sosoknya bulat-bulat.

Oh, dia menyadari tatapan kagummu, Luna. Lihat bagaimana ia melambatkan langkah untuk menyamaimu serta merapatkan jaraknya denganmu? Pejantan-pejantan sebelumnya pernah ‘merayumu’ lebih hebat, tetapi hanya pemuda ini—pejantan ini—yang mampu merebut hatimu dengan caranya yang sederhana. Kau tak pernah merasa begini terlindung di dekat seekor pejantan, sementara dia, di sisi lain, merasa terlengkapi. Maka saat ia mendekatkan ujung moncongnya pada lehermu, kau memberikannya akses selebar mungkin. Satu pintumu terbuka, dia masuk, dan kau mengurungnya di dalam supaya tidak ada yang menggantikan tempatnya.

Dia pun melakukan hal yang sama.

‘Aku Chen’, katanya; kau heran karena kepercayaanmu padanya sudah sangat besar bahkan sebelum ia menyebut nama, ‘Kau?’

‘Luna,’ Kau menghela napas, ‘dan… uh… kau bisa melakukan ini nanti setelah kita selesai berburu.’

Kau lega karena dia segera menarik diri, tidak melemahkanmu lebih jauh dari itu. Sebagai serigala, ia memang tidak tersenyum, tetapi entah bagaimana kau tahu bagian manusianya sedang tersenyum sekarang.

‘Apa kau baru saja memberiku izin untuk menandaimu?’

Dia menggodamu lagi. Panas merambati tubuhmu saat sadar soal ‘penandaan’ yang ia maksud. Ia akan meninggalkan jejak baunya pada tubuhmu. Artinya pula, kau akan menjadi miliknya—tidak, dia membuang jauh-jauh kata ‘milik’. Dia menghargaimu sebagai betina, sebagai wanita, dan sebagai dirimu sendiri yang berhak untuk tidak mengikat diri pada siapapun. Dia tidak mengucapkan ini, tentu saja, tetapi caranya memperlakukanmu sebagai manusia, berjalan mengiringimu dalam wujud serigala, hingga permintaan tersiratnya yang menggetarkanmu telah menjelaskan segalanya.

Bibirmu terkunci rapat.

Namun kau meletakkan kepalamu di ceruk lehernya sebagai jawaban. Sebentar saja, lalu kau melangkah cepat meninggalkannya karena malu; gestur tadi biasanya hanya dilakukan betina pada pasangannya dalam klan.

Padahal baik kau, Luna, dan dia, Chen, belum memiliki klan sendiri.

Kau menyampaikan pesan tersembunyi di balik sikap manjamu dan dia menangkap pesan itu dengan sangat baik. Dia melangkah cepat menyusulmu.

‘Terima kasih.’

Dan bisikan lembutnya meleburkanmu dalam malam yang mulai menghangat.

***

TAMAT

Advertisements

16 thoughts on “Beyond The Woods

  1. Ngebingungin apa kak Liana aku ngerti dengan jelas sekali kok POV-nya. Ini semacam tulisan tersiratnya perasaan Luna. Baca-nya enak banget kak. Dan twist-nya aku suka banget!! Ternyata mas Chen serigala juga toh. Kukira manusia biasa, kalian cepet cepet nandai lahan ya, harga tanah mahal (((lho)))

    Like

  2. POV disini sesuatu dalam diri Luna yaa…
    waah ternyata chen itu manusia srigala juga yaaa.. bagus bagus jd Luna ga sendirian lg..hehe

    Like

  3. aaaaaaaaccccckkkk
    bunuh saja saya bunuh
    gak kuat abis liat tl JD shirtless di TEL, buka blog ini malah disuguhin yanng kayak gini huhuuu
    apalagi ada benny chen n nina luna disini
    gk bisa bayangin JD grepek2 luna kyk gitu walopun dlm bntuk srigala hhuuuwwaaaaa*nangisdarah *authortanggungjawab
    ‘Apa kau baru saja memberiku izin untuk menandaimu?’ apanya yang ditandai Jongdae sayang, apanya? sini aku mau kok ditandain sama kamu *duuuaaaarrrr
    Liana pokoknya kamu harus tanggung jawab, soalnya kamu udah bikin hati saya yang udah potek gara2 liat JD shirtless ini semakin potek 😥
    baca fict ini tu serasa kyk fict versionnya wolf gitu yya (gak)
    but anw makasih yyaahh ❤

    Like

    1. APA SHIRTLESS DI EXOLUXION SERIUS KAK *iya aku pernah liat juga sih tapi kuarter atas doang, sampe bahu terus langsung aku tutup lagi gak kuat.
      ini kak, sebenernya fic pelampiasan karena pairingnya luna di in the heights si sunggyu. bukannya gak restu sih mereka juga cocok soalnya tapiiiii aku butuh momen chen lunaaaaa
      sorry kak ini membangkitkan feel2 yg ga bener pasca puasa huhu. pengaruh estrogenku kali. *abaikan.
      makasih sdh mampir kak! XD

      Like

  4. Kak Li, ini apaan lagi! Aku tereak sendiri dalem kamar gegara chen yang manly pake banget. apalagi sama mba luna huhuhu TT TT
    Dan yah, aku menunggu-nunggu fic kakak yang berbau wolf semacam ini. Aku sampe bingung mau komen apa karena ini keren pake banget. kepikiran darimana kak pake pov itu? Pertamanya sih agak bingung, tapi begitu diterusin ‘oh ini something di dirinya luna’ gitu ya. 😀
    Juga adegan romance ala serigala yang sulit dibayangkan XD but selalu keren bingo!
    Oh satu lagi, tumben banget pake mba luna kak. Biasanya bawa liyin sunbae kalo sudah menyangkut jongdae. hoho 😀

    Like

    1. chen manly haha sekali2 biar gak ngetroll doang. uh ya pov-nya agak bermasalah nih kyknya, tapi beruntung pada akhirnya gak membingungkan. haha mbayangin adegan romance wolfnya susah ya? iya aslinya itu aku agak2 nyontek dari sebuah situs bahasa inggris yg bener2 ngisahin fluffnya manusia serigala waktu mereka jadi serigala dan penggambarannya ya kayak gitu. gapapa dah kalo masih bingung soalnya aku belum nemu author indonesia yg bikin adegan romancenya serigala huks T.T
      liyin sunbae? hiyaa bagiannya ada di ‘Knife’ :p ibu liyin setelah kupikir2 lagi kekaleman kalo buat wolf!au
      terima kasih udh mampir ya!

      Liked by 1 person

  5. uhm, well setelah lama tak bertandang ke planet utopia Kak Liana, akhirnya sekarang kesampaian juga, ah 🙂 🙂
    dan, setelah baca INI!!! INI APA!!!???!!! DUARRRR, INI KEREN BANGET KAK LIANA 😀 :”””

    salut banget sama sudut pandang yang dipakai sama Kakak. jujur ya, Kak Liana itu beautifully genius!!!!! SEMUANYA KUSUKA, EA! wolf-thingy yang sukses buat baver dedeq ke jaman Xoxo dan sebangsanya! huhu, pokoke iki poll tenan!! 😀
    karya selanjutnya ditunggu Kak and tetep semangat 😀 😀 ❤

    Like

    1. huwaa dengan hormat saya menerima pujian dari xian *bow* tapi aku masih banyak kalah dari author2 lain kok :p
      tapi fic ini malah bikin baper ke jaman xoxo yak. sama sih. aku juga masih nungguin video eye contact yg ver ot12 dibocorin. evil banget kan :p
      makasih udh baca ya!

      Liked by 1 person

      1. 🙂 setiap author punya ciri kekhasannya masing2 kan, dan Kak Liana ini one of a kind 🙂 pokoknya, top! 😀 apalagi untuk soal fantasi, beuh jangan ditanyaaa. ini udah lahannya 😀

        nahhhh…Kakak emg demen banget buat kami-kami nih baver ke masa itu ketika baca pairingan ber12 dan sebangsanya itu :””””
        ah, serius?! ih aku baru tahu. ih, kezel,,,ahh
        hee, sama2 ya Kak 😉

        Like

  6. I LOVE YOU KAK LIANA I LOVE YOUUUUUUUUU…. aku seneng bgt pas nemu ff luna×exo begini.. ini emm keren lucuk manis gimana gitu ya ampun aku boleh minta satu yang kayak chen gak kkkk~ aku selalu suka karya kamu. as good as always. kak aku kangen pair kristoria di ff mu loh. bikin ya pls

    Like

    1. i love you too XD luna-biased ya? duh emang kalo bias jarang dimunculin di fic itu rasanya sakit berdarah gimana gitu kan.
      kristoria? astaga padahal aku baru mau mensakralkan pair itu jadi pair ibu anak aja dan move-on ke krissica tapi ada yg request gimana dong? galau deh aku. gapapa nanti kalo ada feel yap ^^
      makasih udh mampir!

      Like

  7. Ugh walau dengan gaya penulisan yg beda dr biasanya *menurut ku* (bener ga si?) tetep keren gila dan suka bgt bgt ka
    Bacanya bikin merinding dan fly sendiri
    WOWOWOWOW *ga nyantei ga nyantei*
    Ga nyangka pair ini bisa sedapet ini feel nya pas baca hohoho Daebak!

    Like

  8. Povnya nggak ngebingungin kok kak. Ganyangka chen juga serigala hehe. Chen disini gentle banget sama luna. Dan aku kira di awal luna bakal makan manusia pertama yang dia temuin. Eh malah dia terpesona hihi. Chen emang mempesona apalagi senyumnya. Keep writing kak! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s