EXO-N #2: Blood of The Phoenix ~超新星~

tumblr_inline_nnd2auTbbn1t6a07k_500

Jika suatu saat aku pergi, jangan khawatir. Jika suatu hari kau merindu, jangan khawatir. Jangan takut aku berubah, aku akan selalu di sisimu.”

(Lu Han – Adventure Time)

[EXO Kai & Lu Han //  Vignette // Teen and Up]

[Circus!AU – ada baiknya cari tahu dulu tentang trapeze, trampolin,  aerial silk, dan fire eating bagi yang belum tahu.]

***

Sebuah bintang akan bersinar sangat terang sebelum mati. Itulah kepercayaan semua penampil di sirkus ini—dan Kai tengah berjalan menuju akhirnya.

Lampu sorot, beratus-ratus penonton, trapeze menggantung hampa di hadapan, trampolin raksasa menunggu 15 meter di bawah kaki. Jangan lupakan sirkuit logam yang melingkar-lingkar pada panggung istimewa Kai, sebuah mahakarya seniman-seniman atraksi untuk pertunjukan solonya. Mereka menjuluki aksi kali ini ‘Blood of The Phoenix’, judul yang sebenarnya tidak begitu menarik perhatian, tetapi antusiasme penonton tetap tinggi karena yang tampil ini adalah Kai. Dia pangeran sirkus termuda, terlincah, tertampan, dengan jam terbang tertinggi dan penggemar terbanyak sepanjang sejarah kota. Kesempurnaan sosoknya diidamkan setiap penampil, tidak ada yang mampu menandingi.

Padahal waktu pertama kali dikeluarkan dari peti kemasnya, yang memenuhi Kai hanyalah keraguan dan ketakutan.

Tuan Besar, begitu cara Kai dan semua penampil sirkus ini memanggil bos mereka, menyambut Kai kecil dengan lecutan cemeti dan seringai merendahkan. Ia seret Kai keluar  seakan-akan yang ia seret itu bukan anak manusia. Ah, Kaum Rendahan memang tidak pernah dimanusiakan, toh kekuasaan berada di tangan Orang Atasan macam Tuan Besar. Mau Kai menolak, memberontak, menangis… semua itu tidak berguna. Tuan Besar sudah membelinya dan menyuruhnya berlatih dengan trapeze, trampolin, serta aerial silk, maka ia harus lakukan itu tanpa protes.

Sirkuit logam di panggung disulut api. Dengan cepat, nyalanya merambati seluruh bagian. Penonton terpana, lalu bersorak riuh. Tak pernah ada rekayasa phoenix sedahsyat ini!  Bukan kerja mudah memindahkan legenda phoenix ke media logam yang beratnya berton-ton. Perancang atraksi bahkan merencanakan bagaimana api bergerak di sirkuit itu agar tampak semirip phoenix asli yang sedang bertarung, tetapi betapapun mempesonanya burung buatan ini, jilatan api tetap menyakiti Kai. Pemuda itu menelan ludah. Bagaimana nanti ia akan beraksi di tengah kungkungan api berbentuk burung itu?

“Lakukan semampumu, Kai. Kau bekerja sangat keras untuk setiap pertunjukan; bagiku, performamu tak pernah mengecewakan, kok. Lari saja padaku jika nanti Tuan Besar tidak puas. Aku akan melindungimu! Kalau perlu akan kupatahkan leher gemuknya itu buatmu!”

Beban untuk membawakan pertunjukan sempurna tersampir di bahu setiap pekerja Tuan Besar. Beruntung, setiap mereka memiliki cara berbeda untuk meringankan beban tersebut. Dalam kasus Kai, ‘kakak sepeti kemasnya’, Lu Han, yang memainkan peran itu. Sebagai sesama Kaum Rendahan yang dipaketkan dalam satu kotak kayu saat dibeli, Kai dan Lu Han menyatu sangat cepat. Setelah memasuki sirkus dan menjalani pelatihan yang tak masuk akal di tempat Tuan Besar, potensi mereka sebagai penampil mulai tampak. Girang mengetahui bakat-bakat gemilang Kai dan Lu Han, Tuan Besar melatih mereka lebih keras seperti hewan. Tak kenal istirahat, siang dan malam seolah tak berbeda. Keduanya hancur sebelum berkembang, terutama Kai, dan hati Lu Han-lah yang paling terluka menyaksikan kehancuran itu. Karenanya, Lu Han tak pernah jauh dari Kai. Setiap malam, meski rasanya sudah sekarat, Lu Han setia mengobati cedera Kai—atau setidaknya meringankan rasa sakit Kai. Ditungguinya Kai hingga tertidur. Dipaksanya diri untuk terjaga demi meredam igauan Kai yang sering bermimpi dicambuk.

Tapi kemudian Lu Han lenyap dan ketenarannya seketika tenggelam. Tinggal Kai sendiri di panggung yang luas ini, mempertontonkan puluhan atraksi dengan hati (dan tubuh) berdarah.

Kai tersenyum miring. Mengejek dirinya yang tak bisa membenci Lu Han sekalipun kepergian Lu Han membuatnya merasa dikhianati.

Lu Han mungkin sudah mati sekarang, jadi ada baiknya aku segera menyusul.

Ia melompat ke trapeze terdekat, berputar sekali, dan kini ia berdiri di atas silinder logam pendek itu. Cahaya lampu sorot menghujani Kai, menyerukan pada penonton, ‘Ini dia Pangeran Kai yang akan menumpahkan darah phoenix!’ dan itu cukup untuk memicu gempita dalam tenda sirkus agung ini.

Kai menarik napas, menyesuaikan diri dengan irama musik pengiring. Satu. Dua. Ditariknya pedang yang terselip di pinggang. Satu. Dua. Lidah burung api palsu nyaris mencapainya. Satu. Dua. Mulut si burung bergerak membuka.

Dan Kai menjatuhkan diri langsung ke dalamnya. Pedangnya lurus mengarah ke pusat sirkuit api.

“Bagiku, bintang tidak hidup hanya untuk mati. Bintang hidup untuk bersinar, jadi aku, dan kamu, harus tetap hidup, Kai.”

Sirkus Tuan Besar memang berbeda. Selain menyuguhkan drama luar biasa, Tuan Besar juga menambahkan bumbu kesukaan Orang Atasan: kekuasaan. Kekuasaan itu ditunjukkannya dengan membunuh artis-artisnya sendiri, yang merupakan Kaum Rendahan, menggunakan embel-embel kisah tragis untuk ‘hiburan semata’. Senior-senior Kai dulu diperintahkan untuk ‘berkorban’ dalam sebuah pertunjukan solo terakhir, yang cerita tokohnya selalu ditutup dengan kematian paling menyayat jiwa. Ternyata, Orang Atasan suka membayar untuk menyaksikan Kaum Rendahan meregang nyawa, sehingga kejahatan sadis ini berlanjut.

Tibalah giliran Lu Han ‘menghibur’ Orang Atasan.

Drama solo Lu Han itu bertajuk ‘Blood of The Phoenix’. Kai ingat memeluk Lu Han erat-erat dan sesenggukan segera setelah jadwal pertunjukan diumumkan. Sempat terlintas ide untuk menggantikan Lu Han, tetapi sambil tertawa getir, Lu Han menjitak Kai, mengatakan bahwa ‘kau bodoh sekali, Dik’ (dan caranya memanggil Kai dengan ‘Dik’ itu memecah hati Kai berkeping-keping). Ujungnya, Lu Han tetap membawakan ‘Blood of The Phoenix’ untuk Festival Musim Panas, tetapi tak sampai selesai. Ia memanfaatkan trapeze dan kemampuannya sebagai pelahap api untuk menghanguskan atap tenda, kemudian melarikan diri.

Sejak itu, Kai benar-benar sebatang kara.

Kai berulang kali menari dan melompat, menebas api yang mengepungnya, seakan-akan berusaha mencacah si phoenix. Panasnya makhluk logam menyala itu serupa dengan neraka. Peluh Kai bercucuran tak henti-henti, di dahi, di pelipis, menyamarkan air mata yang turun berbarengan.

Lihatlah, Lu Han. Aku menamatkan aksi solomu untukmu. Mungkinkah di suatu tempat, kau tersenyum bangga padaku? Selama ini aku terus iri pada kau yang melakukan manuver-manuver hebat dan hei, sekarang aku menggantikanmu! Aku hebat, ‘kan? Aku lebih hebat darimu!

Burung phoenix menghindar ke samping dan menerjang Kai. Sang pangeran berlutut, kali ini memotong cakar. Sang phoenix berteriak kesakitan, efek suara yang diputar oleh teknisi sirkus berdenging di telinga Kai. Sayang, walaupun kepalanya sakit sekali karena suara itu (atau karena kelelahan berlatih), Kai masih harus terus ‘bertarung’. Ia menggunakan lentingan trampolin untuk melambungkan tubuhnya. Phoenix mengejar, tetapi Kai bergantung terbalik di trapeze dan memotong cakar si burung yang satunya. Gemuruh menyambut manuver heroik Kai dari barisan penonton, memercikkan sedikit kegembiraan, tetapi ia sadar ada satu orang terpenting yang mestinya menyaksikannya sekarang.

Tanpa Lu Han, pertunjukan ini tidak lebih dari satu lagi hiburan untuk Orang Atasan.

Dan Kai benci itu.

Bahkan hingga detik-detik menjelang kematianku, kau tidak muncul?

Sang phoenix marah, ia menyemburkan api ke tempat Kai bergantung. Cepat Kai berpindah, bergulung tiga kali di udara sebelum menangkap batang logam trapeze di seberang dan menebas ekor sang phoenix.

Pertunjukan hampir mencapai puncak.

“Aku ingin kita sepanggung suatu hari nanti, membawakan atraksi ala ksatria di panggung sungguhan, bukan ‘panggung hewan’ begini. Aku tak peduli pada kematianku yang hampir pasti esok hari; mimpi itu akan terus hidup.”

Pada malam terakhirnya bersama Kai, inilah yang Lu Han ucapkan sebagai pesan perpisahan. Kai, yang matanya sudah bengkak sekali waktu itu, hanya bisa mengangguk putus asa. Ia juga berharap itu terwujud…

…tetapi Lu Han…

…tak tersentuh lagi oleh dua tangannya yang gemetar.

…tak bisa mendengar panggilan lemah dari dasar batinnya.

Lu Han terlalu jauh, terlepas dari janji untuk senantiasa mendampingi ‘adik peti kemasnya’.

Setelah ini, Kai akan mengarahkan pedangnya ke jantung sang phoenix. Artinya, ia akan masuk dalam api yang menyala-nyala, membiarkan tubuhnya hangus hingga ke tulang, kemudian teknisi akan membuat api di sirkuit terpecah dan padam (alias kematian phoenix). Sisa kerangka Kai (jika masih ada) usai api dipadamkan akan menjadi penutup yang memukau. Seorang pangeran mempertaruhkan nyawanya sendiri demi mengalahkan makhluk bengis… apa lagi yang lebih indah dari kisah macam itu?

Dan itu akhir yang indah juga untuk kisah Kai. Di surga, mungkin ia bisa bertemu Lu Han. Atau kalau Lu Han belum ke sana, ia bisa menunggu sambil istirahat panjang.

Maka Kai meluncur. Matanya tertutup, ujung pedangnya tinggal beberapa langkah lagi menyentuh api.

***

“Kai, bukankah ini panggung soloku?”

***

Eh?

Tiba-tiba saja, pedang Kai terlempar, lebih tepatnya dilemparkan oleh seseorang hingga menancap tegak pada trampolin. Kai membuka mata, tetapi sebelum sempat memahami situasi, ia diayun ke atas oleh orang asing ini. Refleks, Kai menangkap trapeze terdekat dan berayun ke tiang—yang ceritanya merupakan salah satu dari ‘pohon-pohon di hutan’. Kai menatap ke bawah, mencari-cari orang yang menginterupsi aksi finalnya. Tidak sulit untuk mengenali pemuda bertinggi sedang, bersurai hitam lurus, dan berwajah agak cantik itu. Si pemuda kini tengah bergantung santai menggunakan aerial silk yang entah bagaimana menyangkut di atas tenda. Orang Atasan mencak-mencak, ingat betul ‘Blood of The Phoenix’ sebelumnya yang kacau akibat ulah orang ini, sedangkan Tuan Besar dan antek-anteknya sudah bersiap untuk menyergap mantan artis mereka.

“Lu Han!”

Sang pengguna aerial silk berputar menghadap Kai yang barusan memanggil. Senyum kekanakan ditukar sebagai bentuk rekonsiliasi singkat, lalu Lu Han kembali bergaya angkuh pada Orang-orang Atasan yang secara harfiah kini berada di bawahnya. Ironi yang cantik, bukan?

“Oi, kalian, tenang dulu,” Tubuh ringan Lu Han bergulung-gulung pada aerial silk, mengejek, “Kalian sungguh mirip monyet kecurian pisang dari atas sini.”

Orang-orang Atasan kian meradang. “Lu Han! Dasar perusak, mati kau!” –dan kalimat semacamnya dilontarkan pada Lu Han. Tak acuh, sembari masih menari-nari dengan sutranya di atas sirkuit api, Lu Han menenggak sebotol minuman dan menyemburkan sebagian isinya ke arah Orang Atasan. Minuman itu jelas bukan minuman biasa karena api di sirkuit membesar ketika berkontak dengannya, menyambar beberapa Orang Atasan di barisan depan. Mereka terbakar, beberapa dari rambut hingga kaki, ada juga yang hanya terbakar sebagian. Yang tidak terbakar panik, berusaha mematikan api, sementara Lu Han tertawa maniakal.

“Suka panas? Tidak, ya? Aku dan Kai juga tidak suka, kok! Hahahahaha!!!!!”

Sekali lagi Lu Han menyemburkan minumannya, kali ini tekniknya berhasil memunculkan lidah api besar. Terbukti, kemampuannya sebagai pelahap api belum berkurang sedikit jua. Satu tiang tenda mulai meleleh. Orang-orang Atasan kocar-kacir. Membiarkan orang-orang yang hangus, Lu Han mengaitkan kakinya ke salah satu trapeze untuk berayun ke tiang di samping Kai.

“Hai, Adik,” Lu Han mengulurkan tangan, tulus, tetapi tangannya yang lain menjatuhkan botol minuman ke sirkuit api, “Mari kita tutup atraksi ini bersama.”

Buncah yang mengemuka dari dasar hati Kai kini lebih besar dari kebahagiaan yang ia dapat dari sorakan penonton selama ini. Disambutnya tangan Lu Han hangat, sedikit gemetar karena gugup, tak lama setelahnya genggaman itu mengerat.

“Terima kasih sudah kembali untukku, Lu Han.”

“’Kembali’? Aku tidak pergi ke mana-mana, selalu di dekatmu, menunggu momen yang tepat untuk mewujudkan mimpi kita,” –Senyum Lu Han yang itulah yang membuat Kai merasa dunia hina tempatnya tinggal ini sedikit berharga— “Omong-omong, minuman tadi akan meledakkan tempat ini dalam dua puluh detik. Ayo segera keluar. Atapnya sudah kulubangi untuk masuk tadi.”

Kai tergelak.

“Kau gila, tetapi aku menyayangimu.”

Dan dua bintang terbang ke langit, mencari tempat baru untuk bersinar, meninggalkan bumi yang mengabu di bawah sayap mereka.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

.

kalo udah ada yg nonton mv solonya Lu-jie yg ‘That Good Good’, apa kalian shock? melihat mas Lu dgn sok swagnya ngedance itu bikin aku rada asdfghjkl soalnya. untuk mini album ‘Reloaded’ itu juga, aku kurang suka lagu2nya. yah gapapa sih mas Lu Han jadi swag tapi setidaknya jgn drastis lah. kalo dibandingin sama punya tao, lagunya bagus punya tao malah, walaupun suara masih dipegang mas luhan.  utk lagu ‘Adventure Time’ ini aku sengaja kutip bagian yg paling aku suka, *dan aku nyimpen lagunya sebenernya cuman buat dengerin bagian depan2nya, begitu tengah dia nyanyinya kayak orang mabuk // dan suaranya kalo di autotune (?) itu mirip banget bapak hangeng di wild cursive siaaaaaal*  -.- dan album reloaded ini nuansa SM-dissnya kental sekali kyk lagu2 Tao di album pertama.

Advertisements

10 thoughts on “EXO-N #2: Blood of The Phoenix ~超新星~

  1. Kurang paham sama dunia persirkusan, tapi kayaknya Kai cocok banget, dia kan gemulai banget kalo udah nari (?)
    Aihhhh KaiLu duo kesayangan walaupun lebih sayang sama SeKai dan LuLay *tetep*
    Luhan mah judulnya aja mini album tapi berasa single album doang
    That good good sebenernya lumayan, makna lagunya keren, cuma rap-nya aja yang agak gimanaaaaa gitu sampe terngiang-ngiang kebawa mimpi
    Tapi dance-nya menyelamatkan mv
    Kalo adventure time, nyerah deh, emang beneran kayak orang mabok *akhirnya ada yg sependapat juga*
    Sedikit kecewa sama album luhan, padahal soundtrack yang dia nyanyiin keren *belum move on dari tian mi mi*

    Like

  2. Aiiih, Liana, ini mah epik epik, jjang deh. 🙂
    bagus banget, aku suka settingnya, alurnya juga gak ketebak, aku kira bakal sad ending, ternyata enggak 🙂
    dan tentu saja sindirannya itu lo, makjleb sekali, ahaha, 😀
    duo visual EXO emang harus latihan lebih keras kan????

    Like

  3. Baru pernah baca yang tentang sirkus. Dan ternyata bener-bener DAEBAK!! 😀 Pairnya KaiLu *seketika baperr/eh/
    Begitu baca ff ini, aku coba dengerin lagu Adventure Time. ‘Eh, ini suaranya Luhan? Kok kaya bukan Luhan?’
    Sedih deh trio mantan sindir-sindiran sama SM

    Like

  4. Duo visual ini bener-bener meng-ambyar-kan hatiku kak. mesti keinget mereka pas di wolf drama. :’)
    Dan yah, aku suka banget latarnya. sirkus-sirkus gitu, emang nggak sulit ya kak? banyak adegan yang lumayan susah di deskripsikan. tapi kalo buat kak Li semua mungkin sih ya hehehe 😀
    Pokoknya luv banget sama idenya, sering-sering bikin yang beginian ya kak. karena aku sendiri lelah dengan kungkungan romance yang menstrim, dan pengen lepas segera XD
    Keep writing! ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s