EXO-N #3: Taking Tears

tears

scriptwriter Liana D. S.

starring

IU (Lee Jieun) and EXO’s  Chen (Kim Jongdae)

genre Romance, Drama, slightmentioned!Crime duration Ficlet (800+ words) rating Teen and Up

.

.

“Sekarang giliranku menangis. Berikan padaku air mata itu kali ini.” (EXO – My Turn to Cry)

***

“Aku mimpi buruk semalam.”

Jongdae membuka percakapan di telepon. Jieun bisa melihat senyum pria itu dari balik kaca yang memisahkan mereka. Orang biasa akan menganggap senyum Jongdae konyol; Jieun juga, sebenarnya, tetapi seiring waktu, senyum itu bermakna lebih bagi si gadis. Ada kedamaian yang ditawarkan oleh lengkung manis bibir Jongdae. Rasa cinta. Kerinduan. Kadang kegetiran. Kali ini, komponen pahitlah yang paling kentara dari senyum itu.

“Mimpi apa?”

“Memimpikanmu menangis,” Jongdae terkekeh pelan, “dan ketika aku akan memelukmu, aku terbangun. Aneh, ya? Mana mungkin monsterku satu ini jadi cengeng?”

Ya! Jangan sebut aku cengeng!”

Sial. Sial. Kenapa suara Jieun bergetar begini? Padahal maksudnya meninggikan suara adalah untuk menciptakan atmosfer bahagia, supaya pertemuan mereka ini terasa sama dengan kencan-kencan sebelumnya. Sayang, sekuat apapun Jieun, ia dapat berubah serupa kolam emosi kalau di hadapan Jongdae. Terlebih, kini ia disuguhi masa depan di mana ia akan berpisah dengan sang kekasih. Padahal bahu Jongdae merupakan tempat yang paling nyaman untuk bersandar. Tangan Jongdae adalah satu-satunya tangan yang mampu menyalurkan ketenangan pada Jieun. Candaan Jongdae menjadi pewarna dalam kehidupan monoton Jieun—dan masih banyak hal yang akan Jieun rindukan jika ia berpisah dari lelaki muda itu.

Oh, Tuhan.

Menyaksikan air mata jatuh di pipi Jieun membuat Jongdae mengulurkan tangan, lupa bahwa ada kaca yang membatasi mereka berdua. Ujung-ujung jemari kurus itu menyentuh dinginnya sekat, gagal mencapai pipi Jieun yang terus basah. Gadis di seberang menghapus air matanya berulang-ulang, tetapi tangis mana yang tidak bandel? Apalagi Jieun menyimpan banyak air mata di bawah samaran tangguhnya.

“Hei, cukup. Jieun, berhenti.”

“Kalau bisa, sudah kulakukan dari tadi,” Jieun menghela napas dalam, sangat berharap itu mampu menghilangkan sesak dadanya—ternyata tidak, “Kenapa sih, dari semua orang yang mungkin mengalami hal ini, harus kau yang terpilih? Masih banyak orang jahat lain yang pantas memperoleh hukuman berat, sedangkan kau… Ah, apakah Tuhan tidak pernah melihat segala upayamu untuk menyenangkanku selama ini?”

“Iya, Jieun, aku mengerti. Tidak usah keras-keras; paman-paman berseragam di belakang memandangimu, tuh. Kau tahu aku tidak suka monsterku dipandangi orang lain.”

Terkekeh lagi.

Jieun menggigit bibir, berusaha tidak tergugu. Normalnya, tawa ringan Jongdae tadi akan memercikkan keceriaan yang sama, tetapi tidak sekarang. Jieun sadar tawa itu akan segera hilang dari hidupnya, sehingga mendengar tawa itu tidak lagi menggembirakan baginya.

“Dekatkan wajahmu ke kaca.”

Jieun mengerjap cepat sebelum mengernyit. “Jangan memintaku melakukan hal-hal aneh. Kita tidak punya banyak waktu.”

“Justru itu, cepat lakukan apa yang kuminta.”

Menyerah, Jieun mencondongkan tubuh ke kaca. Jongdae pun demikian.

“Sebentar, ya,” Jongdae menempelkan jemarinya sekali lagi di sekat, menggerakkan kelimanya secara melingkar, dan kemudian menggenggam, seolah menarik sesuatu dari Jieun, “Sudah selesai.”

Selanjutnya, Jongdae melemparkan sesuatu dalam genggaman tangannya (yang harusnya hanya terisi udara) ke mata. Ajaib; tak lama berselang, walaupun masih tersenyum, Jongdae menitikkan air mata yang sama dengan Jieun.

Baru Jieun mengerti apa yang Jongdae lakukan: pria itu memindahkan tangisnya.

Seperti itulah biasanya Jongdae menghapus kesedihan Jieun, bersikap seolah-olah air mata bisa ditransfer. Jieun tak tahu apakah Jongdae benar menangis sedih karena seperti yang sebelumnya telah diungkapkan, Jongdae masih tersenyum ketika air matanya turun. Mungkin nature Jongdae sebagai pria bahagia memang sulit lepas. Mungkin juga inilah seni unik yang Jongdae kuasai sehingga jiwa Jieun senantiasa terlindung dari luka permanen.

Bagaimanakah Jieun akan bertahan sepeninggal Jongdae, kira-kira?

“Kau tidak perlu lagi mengambil air mataku begitu. Sudah terlalu sering kau merebut rasa sakitku, sekarang biar aku merasakannya sendiri. Hitung-hitung, aku bisa mempersiapkan diri untuk hidup tanpa seseorang yang akan mengeringkan air mata ini.”

Raut Jongdae, akhirnya, berubah sangat sedikit. Cerah senyumnya agak lesap meski belum sepenuhnya hilang. Ia terpaksa mengaku bahwa kehilangan Jieun sangat sulit buatnya. Entah berapa kali dalam seminggu belakangan ia berusaha melenyapkan semua kenangan tentang Jieun, tetapi percuma. Tak peduli berapapun banyaknya foto lama yang dibuang, juga barang-barang kecil hadiah Jieun yang dimusnahkan, kenangan itu akan terus lekat selama Jongdae mencintai Jieun.

Tentu saja, ini berarti selamanya.

“Aku minta maaf,” Jongdae menelan ludah; isaknya ditahan di tenggorokan, “jika setelah ini tidak bisa lagi menyusut air matamu, bahkan memperparah rasa sakitmu.”

“Tidak, kok. Yang kau lakukan selama ini sudah lebih dari cukup, Jongdae,” –ya, apa lagi yang bisa Jieun minta kalau Jongdae sudah menyerahkan seluruh jiwa buat menjaganya?—“Aku… aku menyayangimu.”

Jieun sering anti bermanis-manis, maka pernyataan cinta yang blak-blakan ini mengejutkan. Jongdae mengeratkan genggaman pada gagang telepon.

“Sungguh? Meskipun aku seorang pembunuh?”

.

.

.

.

.

“Ya, meskipun kau pembunuh. Karena kau Kim Jongdae,” –pria yang nasibnya terjebak antara kurungan seumur hidup dan hukum gantung usai membunuh orang yang mencoba memerkosa kekasihnya—“jadi ya, aku akan terus mencintaimu.”

.

.

.

.

.

Jongdae menutup muka dengan sebelah tangan. Hingga sipir menyatakan waktu kunjungan Jieun selesai, yang terdengar dari telepon Jieun tidak lebih dari perpaduan isakan dan ucapan terima kasih berulang. Itu kali pertama dan terakhir titik rapuh Jongdae terekspos di depan Jieun. Yang menyedihkan, Jieun tidak sanggup menenangkan Jongdae dengan belaian yang sama seperti Jongdae dulu menenangkannya.

Karena sidang pada hari berikutnya memutuskan sang terdakwa kasus pembunuhan  dihukum gantung.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

pairingan ini cukup kudukung sebenernya. tapi lebih ndukung kyungsoo-jieun sih. masalahnya kalo mukanya abang kyungsoo dijadiin penjahat itu cocoknya yg psycho terus kabur dari penjara. gak cocok buat hukuman mati.

 semoga ini tidak aneh karena sebenernya hukuman mati sendiri sdh gak ada di korea sejak tahun 1997 (lagian kejahatan jongdae agak tergolong ringan juga but oh well this is an act of impulse anyway). berharap juga ini sedikit berbeda dari songfic my turn to cry yg lain ^^

BTW MAS JONGDAE MAU ULTAH BESOK! GAK ADA YANG MAU BIKININ DIA FIC APA GITU SOALNYA INI BUKAN FIC SPECIAL ULTAHNYA DIA?

terima kasih sudah membaca!

Advertisements

16 thoughts on “EXO-N #3: Taking Tears

  1. Waaahhhh, kak fanfict ini membuat saya rada baper gimana yaaaa :”” huhuhu feelnya dapet banget kak. Pairingnya juga suka banget. Diksinya juga ga diragukan lagi seperti biasa. Hehehe 😀
    Keep writing ya kak! ^^

    Like

  2. whoooaaa… kalo aku bakal guling2 di kantor polisi biar dae ga dihukum mati *ngelawak*

    sblm baca note di bawah sempet kepikiran juga masa iya sampe dihukum mati dgn kejahatan ky gitu, tp ya cerita ini punya kamu jd aku ya baca aja sambil baper..hehe

    feelnyaaa ituuuu bikin yg baca butuh seseorang yg “taking tears” jugaa..

    Like

    1. eak malah guling2 di kantor polisi lagi kan jadi salah.
      uh soal ketentuan hukumnya emang setelah kupikir ini kurang riset sekali jadi berasa sinetron T.T lain kali g bikin yg baper2an lagi dah, balik ke genre comedy ajah :p
      makasih sdh mampir!

      Like

    1. iya kak aku bikin dia mati soalnya otakku lagi dijejali angst mulu nih hayo gimana. hehe syukur deh, biasanya kalo shipper ikut merasa sedih berarti feelnya sampai *ea
      duh maap ya kak blm bikin chan-dy lagi huhu. aku hrs baca blognya pat aka baekpear dulu kyknya soalnya ide chan-dynya dia lumayan *tapi angst semua
      makasih sdh mampir ya kak!

      Liked by 1 person

  3. yaallah kak, kayanya kaka demen bgt menistakan bang chen setiap dipasangin sama jieun ya :”””””
    padahal sudah tertera di genre ya, slight crime, slight, tapi entah selama baca ini, aku kaya terbawa ke dalam suasana di mana jieun yang matanya berkaca2 tatapan sama chen, tangan mereka sentuhan di kaca, senyum juga senyum pait :””””” dengan latar fisikal ruang kunjungan penjara yang minim justru kakliana ngebangkitin emosi kita pakai penceritaan emosi keduanya-jieun-jongdae yang tik tak tik tak, saling nyambung gitu, uhhhh :””) *kapan bisa menulis seperti ini, juga, plak*

    Like

  4. Liaaa aku lg di dalem bis perjalanan menuju kantor dan stalking blogmu lalu menemukan ini….
    Ah, liaaa….
    Aku iri sama kemampuanmu membuat suatu cerita mengalir, aku suka caramu mengganbarkan karakterisasi tokoh disini… yaastaga jongdae, salah apa kamu nak, kamu kan melakukan hal yg benar… /gak kak, gimana2 bhnub org ttp salah/ huhuhuuu
    Ku udah mbrebek mili(?) tau gak?
    Aku udah berkaca2 di dalem bisa sampe diliatin orang huhuhuu….
    Aku cinta banget sama cara kamu deskripsiin ‘transfer air mata’ yg dilakuin jongdae….
    ASTAGA ASTAGA AKU SESEK NAPAS
    Aku pengen nangis juga terus dielapin sm jongdae /gakboleh/
    Tuh kan lia aku nyampah kan, maaf yaa… lapak komenmu kusampahi… mmpung lg ga mabok darat… sekian.
    /lalu lia yg mabok baca komenan absurd ini/

    Like

    1. huahaaa kakak mampir kemari *gelarin karpet merah
      jadi ya aku tidak menyangka kakak membaca fic yg menurutku agak keluar style ku ini. sungguh aku gak biasa membangun suasana sedih dalam sebuah fic tapi ternyata berhasil pada kakak ya?
      *sodorin jongdae buat ngelapin air mata kakak
      sampe diliatin org di bis segala lagi hua >< maafkan aku kak sudah membuat kakak seperti ini. ini sungguh masih jauh kalau dibandingin fic angst kakak yg sebuah potret kemarin itu lho.
      but anyway, makasih sdh mampir ya kak 🙂

      Like

      1. Wakakkaka masa keluar dari style? Dusta kamu liaa hahhaaa….
        Itu berarti kamu hebat bisa mainin semua genre loh :*
        Iya iNi gak ada apa2nya emang sama sebuah potret ku, karena punyamu jauh lebih luaaar biasaaa (ini aku beneran li, hohoho)
        Jebolan ifk mah tidak diragukeunn…. huhuhu, aku ijin mau ngobrak abrik yg lain, mau stalkingg blogmu kalo pas luang hohohohh, jan bosen liat aku ya lii :))

        Like

  5. Sedih karena jongdae yang ngelindungi jieun malah dihukum mati. Sedih banget kalo jadi jieun, ditinggal pacar yang dihukum gantung. Nice fic kak, keep writing! 😄

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s