End of A Day

coverend

EXO Lay (Zhang Yixing), miss A Fei, SNH48 Zhang Yuge

 Family, Marriage-Life, Sad, Songfic // Vignette (1,8K+ words) // General Audiences

.

[karena Kim Jonghyun pencipta lagu yang keren dan penyanyi yang luar biasa sehingga membuatku menangis waktu dengar lagu ini nyaris 24/7. don’t mind me.]

.

Kau telah melakukan pekerjaan bagus hari ini.

Kim Jonghyun, End of A Day

***

Sepulang kerja hari itu, Yixing mendapati istri dan anaknya bersikap ganjil. Istrinya, Fei, memasukkan semua menu kesukaannya untuk makan malam, padahal tidak ada hal istimewa apapun pada tanggal itu yang bisa dijadikan alasan ‘berpesta’. Putri mereka yang masih kelas 2 SD, Yuge, biasa memijat kaki Yixing setelah Yixing mandi, tetapi kali itu ia juga memijat punggung dan lengan Yixing. Ditanya kenapa melakukan itu semua, keduanya merahasiakan, sehingga keanehan-keanehan yang tak Yixing pahami terus berlanjut hingga waktu tidur, saat Yuge menyempil di antara kedua orang tuanya.

“Yuge mau tidur sama Baba dan Mama, boleh?”

“Boleh, kok, tapi kenapa?”

Yuge memeluk Yixing tanpa menjawab pertanyaannya. “Malam ini saja, deh, janji habis itu tidak mengganggu kalian lagi.”

“Biarkan saja,” bisik Fei yang kelihatannya menghendaki Yuge tidur bersama mereka, “Sekali-sekali tidur sempit-sempitan begini asyik juga. Hangat, tidak usah pakai selimut.”

Yixing terkekeh mendengarnya.

“Kamu benar. Ya sudah, Yuge, sini dekat Baba.”

Tentu saja Yuge dengan senang hati menggeliat mendekat. Lengannya melingkar makin erat di pinggang ayahnya hingga Yixing sulit bergerak, tetapi pria itu tidak menghentikan Yuge karena takut mengganggu istirahat gadisnya. Di luar dugaan, meski dengan mata terpejam, Yuge ngobrol ke sana kemari dan tidak segera terlelap, seolah-olah ingin memanfaatkan setiap detik sebelum tidur untuk berbicara dengan ayah-ibunya. Bahkan ketika kata-katanya berangsur menjelma menjadi gumaman karena kantuk yang sangat, Yuge belum benar-benar mau berhenti.

Baba jangan ke mana-mana, ya. Tetaplah di sini…”

Namun kantuk akhirnya berhasil menguasai Yuge dan setelah gumaman terakhir ini, si gadis cilik sempurna berlayar ke alam mimpi. Pelukannya melonggar, membebaskan sang ayah, dan barulah Yixing bisa bernapas lega.

“Kalian kenapa, sih? Hari ini kok kalian ‘merayuku’ dengan berbagai cara.”

“Astaga, percaya diri sekali kau,” Fei berucap geli, “Untuk apa kami merayumu?”

“Fei,” Yixing memberi penekanan pada suaranya, menegaskan bahwa ia tahu ada yang tersembunyi dan ingin tahu mengapa itu tersembunyi, “Bilang padaku.”

Meskipun ucapan dan raut wajah Yixing sesungguhnya tidak berdaya desak tinggi, Fei selalu berhasil dibuat terdesak olehnya, sehingga wanita itu kemudian menghela napas panjang dan buka kartu.

“Jangan tertawa, ya. Ini agak konyol.”

“Tidak akan.”

Jeda lagi. Fei tampak keberatan mengungkapkan alasannya memanjakan Yixing, membuat pria itu menduga-duga apa yang mungkin menghalangi Fei untuk jujur. Biasanya, Fei dan Yuge berbuat baik berlebihan jika ada maunya; barangkali mereka minta dibelikan sesuatu yang aneh dan sulit dicari? Ah, tapi buat Yixing, tidak ada benda yang ‘terlalu aneh’ atau ‘terlalu sulit dicari’ kalau Fei dan Yuge meminta.

Dugaan ini ternyata salah.

“Pernahkah kamu membayangkan,” lanjut Fei lirih, “suatu waktu di mana harimu tidak ditutup dengan keberadaan kami? Karena aku dan Yuge, hari ini, entah bagaimana sama-sama memikirkan masa depan yang tidak ada dirimu. Bodoh memang karena pemikiran itu datangnya tiba-tiba sekali tanpa picuan, tetapi ia tidak mau lepas dari benak kami. Jadi kami melakukan semua ini buatmu supaya tidak menyesal jika kau—ehem—‘menghilang’.”

Oh.

Leher Yixing tercekat. Ia tahu suatu saat nanti akan dijemput kematian dan meninggalkan Fei serta Yuge, tetapi hal ini tidak pernah benar-benar mengganggunya. Pria 32 tahun yang sehat dan bahagia sepertinya memang jarang tersentuh pikiran-pikiran gelap dan berkat Fei, kekhawatiran Yixing yang terkubur rutinitas kerja dan keharmonisan keluarganya jadi mengemuka. Andaikan Fei—atau malah Yuge—yang duluan meninggalkannya, bagaimana ia akan bersikap? Akankah akhir harinya berbeda? Apakah kepergian Fei atau Yuge kelak akan menjadikan hatinya hampa selamanya?

Merenungkan ini membuat hati Yixing mencelos. Ia tertawa canggung dan mengalihkan pembicaraan, menyiratkan keinginannya untuk mengabaikan pikiran yang mampir tanpa izin tersebut.

“Tidakkah itu terlalu berlebihan? Barangkali pikiran itu muncul karena ayunan moodmu? Ah, tapi Yuge yang tidak sedang hamil juga merasakannya; kira-kira kenapa, ya?”

Gagal. Fei masih menatapnya lurus-lurus, menuntut jawaban. Di balik pandang Fei, Yixing menemukan kepedihan tersembunyi yang ikut menyakitinya.

Kira-kira apa yang harus kami lakukan saat tiba waktunya kau, orang yang kami sayang, tidak kembali pada kami?

Apa, ya? Yixing sendiri tak tahu kalimat apa yang mampu melenyapkan kemuraman Fei. Ia tidak biasa berkata bijak dan memilih-milih kata yang melambungkan semangat, maka satu-satunya cara adalah dengan mengembalikan pertanyaan itu pada dirinya. Apa yang akan ia lakukan tanpa Fei dan Yuge? Bagaimana menguatkan jiwanya dalam kesepian hingga mereka bertemu lagi di tempat yang lebih indah?

“Menurutku,” ujar Yixing, berhati-hati, “bagaimanapun hari kita berjalan, di manapun dijalankan, kita tetap akan menyatu di akhir. Hari kita hanya akan ditutup oleh satu sama lain, tidak ada pilihan.”

“Benarkah? Bahkan jika kau, atau aku, atau Yuge, meninggal nanti?”

Yixing menelan ludah, samar, sulit.  Siapa yang tidak sakit ketika membayangkan diri berpisah dengan orang-orang terkasih? Tapi kemudian, setelah berpikir lebih jauh, senyum Yixing perlahan terkembang. Hari-hari yang gelap memang tak terelakkan, tetapi bukankah roda kehidupan berputar terus? Kegelapan tidak abadi; cahaya pasti akan menggantikannya di waktu yang tepat.

“Bahkan jika kita ‘pulang’ di saat berbeda, tempat pulang kita tetap sama, Fei. Ini dapat diumpamakan dengan kehidupan kita sehari-hari. Kau pulang kerja lebih siang dariku untuk menjemput Yuge dan mengerjakan tugas rumah, sedangkan aku pulang petang, tetapi lepas jam itu, kita ‘kan selalu bersama-sama.”

Analogi yang bagus. Fei mulai bisa menerima penjelasan Yixing, tetapi isu kematian masih mengganjal hatinya. Padahal Fei ‘kan tinggal ‘menunggu gilirannya’ saja untuk menemui Yixing (atau kalau Fei yang mati duluan, maka ia tinggal menunggu Yixing ‘naik ke tempatnya’), lalu?

Tunggu.

Masalahnya justru ada dalam penantian itu. Saat menunggu Yixing pulang, Fei (dan Yuge) selalu menyibukkan diri supaya dapat menanggulangi kerinduan mereka pada sang kepala keluarga. Mereka akan sangat gembira setibanya Yixing di rumah. Hal itu, hebatnya, masih berlangsung setelah sepuluh tahun pernikahan Yixing dan Fei, seolah cinta Fei dan Yuge untuk Yixing (pun sebaliknya) tidak berkurang sedikit jua. Nah, bagaimana jika penantian mereka ini tidak ada ujungnya? Siapa yang tahu kapan mereka akan menyusul Yixing ke ‘tempat lain’ itu? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Seratus tahun? Mereka akan lelah sendiri dalam ketidakpastian.

“Xing, apa kau tahu beratnya menanti?” –Arti lain dari pertanyaan ini adalah: ‘kau kira menunggu pertemuan kembali denganmu itu mudah?—“Karena penantian kami selama ini terasa… yah… berat.

“Aku tidak tahu. Yang pernah kurasakan adalah beratnya rasa rinduku pada kalian ketika sedang di kantor,” –dan ini tidak main-main; Yixing menautkan jemarinya dengan Fei untuk menyatakan kesungguhannya— “Apa boleh buat? Penantian semacam itu memang perlu untuk mengakhiri hari dengan manis. Kalau aku gampang bertemu kalian, aku bisa bosan juga, ‘kan?”

Fei cemberut. Beraninya kau bosan denganku, ujarnya seraya mengetuk pelan dahi Yixing dengan ujung telunjuk. Yixing tertawa kecil dan buru-buru meralat, “Itu berlaku juga buat kalian. Kalau kalian keseringan melihatku, ‘kan tidak seru. Rasa sayang kalian padaku akan terkikis.”

Mana bisa begitu? Ini ‘kan Yixing, yang Fei terima kekurangan serta kelebihannya, yang Fei sukai apa adanya. Kebosanan memiliki peluang muncul amat rendah dalam keluarga mereka yang sudah bertahan selama sepuluh tahun. Dan mungkin yang Yixing katakan itu benar: salah satu faktor penjaga cinta mereka adalah kesabaran untuk saling menanti.

Jadi, sekalipun kematian membawa duka mendalam, penantian yang agak lebih lama mestinya tidak masalah buat Fei dan Yuge.

“Kalau begitu, berjanjilah satu hal padaku,” Kurva tipis di bibir Fei ketika mengucapkan ini begitu melegakan Yixing, “Jika suatu saat ‘hariku’ selesai, kau akan menutupnya dengan mengatakan ‘kau telah bekerja keras, terima kasih’ padaku.”

“Tentu, kalau aku ingat,” –Dahi Yixing diketuk lagi oleh Fei—“Baik, baik, akan kucoba. Biarkan aku latihan dulu.”

“Eh?”

Yixing, dengan lesung pipinya yang masih kentara sekali, beralih pada Yuge yang sudah lelap dalam dekapan. Diciumnya rambut halus si gadis cilik sebelum mengusapnya sayang.

“Yuge, kamu telah bekerja keras hari ini. Kamu hebat. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik dan rajin untuk Baba.”

Ah. Kini Fei mengerti apa yang Yixing maksud ‘berlatih’ dan sangat tersentuh olehnya. Yixing memang tidak menyampaikan kata-kata barusan semata-mata untuk ‘latihan’, melainkan atas dasar ketulusan. Getar yang lembut dalam jiwa Fei itu kembali lagi ketika Yixing menghapus air matanya yang nyaris jatuh.

“Fei, kamu juga sudah bekerja sangat keras. Terima kasih sudah setia menantiku, meski jam lemburku panjang. Terima kasih pula sudah menjaga anak-anak untukku,” –tentu, Xing, tentu; itu sama sekali tak masalah, Fei membatin—“Sekarang giliranmu.”

Entah lusa, entah besok, entah malam ini, Fei bisa saja kehilangan Yixing, sehingga setiap kesempatan yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menyatakan betapa besar perasaannya untuk sang suami. Meski awalnya agak malu-malu, rasa terima kasih Fei berhasil terungkap.

“Yixing, kamulah yang bekerja paling keras hari ini. Kamu pria yang sangat hebat. Terima kasih sudah menghidupi kami semua, merindukan kami selagi bisa, dan menyayangi kami setiap waktu.”

Sebelum ini, Yixing dan Fei beranggapan bahwa kejujuran mengungkapkan perasaan hanya ada dalam roman picisan. Mereka tak menyangka efeknya bisa sedahsyat ini. Dada mereka sesak oleh paduan manis rasa haru dan takut kehilangan, padahal mereka tidak bertukar puisi, sebatas berterima kasih dengan sederhana. Selama beberapa detik, tak ada yang buka suara. Napas mereka teratur, senada, dan dengan ketenangan inilah gejolak dalam jiwa mereka teredam.

Fei-lah yang pertama angkat bicara.

“Tadi itu cukup?”

Yixing mengiyakan. Diraihnya telapak tangan Fei dan dikecupnya punggung tangan itu dalam keremangan kamar yang menyamarkan rona bahagia si wanita.

“Sangat cukup, kok. Aku senang sekali,” Yixing membenahi selimut Fei yang agak turun melewati bahu, “Kita lakukan lagi besok?”

“Setuju,” Dengan berat hati, Fei memejamkan mata; bahkan ia tidak rela kelopak matanya sendiri menghalanginya dari melihat Yixing, “Selamat malam.”

Sebelum matanya tertutup penuh, Yixing menyempatkan diri untuk menikmati kecantikan asli istrinya, juga kepolosan wajah putrinya yang tengah bermimpi. Kalaupun salah satu dari mereka meninggalkan Yixing atas takdir Tuhan, Yixing tidak akan mengutuk Tuhan untuk itu. Sebaliknya, ia akan berterima kasih karena Tuhan sudah memberi kesempatan baginya untuk mencintai orang-orang seberharga mereka.

Sebentar kemudian, Yixing memejam, menyusul Fei.

“Selamat malam juga. Mimpi indah.”

***

Fei terbangun esok paginya dengan mata basah. Yuge bergelung di sampingnya, alur-alur sungai kecil membekas di pipi gadis itu. Bedanya, tangis Yuge seakan masih baru. Mungkin memang masih baru karena Yuge menangis dalam mimpi.

Mimpi yang, sepertinya, persis dengan milik Fei.

Arah pandang Fei bergeser beberapa derajat, dari putrinya ke sisi ranjang yang biasa ditempati suaminya.

Sisi itu kosong.

Lesu Fei melangkah untuk membuka tirai. Matahari bersinar cerah, seakan memaksa Fei dan Yuge untuk bangkit dari keterpurukan. Fei mencoba. Yuge pun demikian. Keduanya berpegang pada apa yang Yixing pesankan di masa lalu, pesan yang dititipkan lewat mimpi-mimpi indah di mana mereka masih bertiga.

Fei mengangkat sudut-sudut bibirnya. Mereka masih bertiga, kok. Mereka hanya perlu menunggu hari berakhir agar bisa bersama kembali. Seperti dulu. Karena di penghujung hari yang berat, di sanalah Yixing berada, bersama kehangatan senyumnya, bersama canda-tawanya, bersama segala kasihnya.

Tapi ‘hari’ mereka baru dimulai.

“Yuge, Sayang, ayo bangun. Nanti terlambat, lho.

Fei harus segera menyiapkan seragam dan sarapan untuk Yuge yang akan masuk sekolah lagi setelah hampir seminggu keluar dari rumah sakit.

.

.

.

--Aksi perampokan disertai pembunuhan terjadi di sebuah rumah di kawasan elit Kota Haikou sekitar pukul 01.00 dini hari pada Rabu (07/10). Korban merupakan satu keluarga berjumlah tiga orang: satu orang tewas dan dua lainnya luka-luka. Korban tewas Zhang Yixing (32) mendapatkan dua tusukan di dada karena memberikan perlawanan, sedangkan istrinya, Zhang Fei (36) yang saat ini masih kritis, diserang di bagian perut. Putri mereka, Zhang Yuge (8), mengalami luka ringan. Polisi masih menyelidiki kasus perampokan yang pelakunya diduga berjumlah lebih dari satu orang ini.—

***

TAMAT

.

.

.

.

.

.

sekalinya bikin xingfei panjang kok jadinya begini ya.

sebenernya mau dipos di IFK tapi liat tulisan SC baru langsung minder dan sembunyi lagi saya. terima kasih sebelumnya sudah mau membaca! here, have a selca-collage gift! (ya yg kanan sendiri itu punya Zhang Yuge SNH48, unyu kan ^^)

zhangfam

Advertisements

21 thoughts on “End of A Day

  1. aaaaaaaaa kak liana kok bikin baper sih yaampun kata” nya menyentuh sekali duh aku sampe speechless jadinya, mas yixing cocok bgt dibikin karakter kyk gini dan yuge kenapa fotonya bisa mirip gitu sama yixing aw… cerita nya jjang, i love you kak~

    Like

    1. huaaa benarkah ini menyentuh, padahal sejujurnya aku sendiri lagi kalut waktu nulisnya *duh lagu jonghyun tuh emang -.-* sehingga ga merasa maksimal. syukurlah kalo perasaannya masih tersampaikan. makasih sdh baca!

      Like

  2. Sumpah kak, baper banget. ini lagi bacanya sambil dengerin lagunya jonghyun.jadi tambah baper T^T Waktu liat mvnya aku gigit bibir nahan nangis, hyaaaa.
    YIXING GEEE! Kenapa kamu harus mati?!!! Hiks, keren banget kak. AKu tidak bisa berkomentar lagi, huhu.
    Bye bye Kak.
    Btw kak, maaf banget aku komen jarang-jarang walupun aku selalu baca cerita kakak. Intinya semua ceritanya keren, hihihi.

    Like

    1. gapapa kok, aku tau ga setiap org punya waktu buat komen ^^ dan IYAAAA PADAHAL STORYLINENYA YA GITU2 AJA TAPI KOK LEHERKU RASA TERCEKAT NONTON MV ITU ya sdh barangkali gara2 suaranya jonghyun ya.
      makasih udah mampir! 🙂

      Like

  3. Kaaaaakkk, lagi-lagi bikin fanfic yang bikin baper. Ah sebel kenapa feelnya ini sama dashyatnya seperti saat baca fanfic JongdaexJieun kemarin. Air mata di pelupukku udah turun satu. Huft. 😥
    Dan diksinya ngena banget kak, walaupun bacanya diulang dulu karena akunya kurang niat (baca fanficpun perlu niat yang kuat kak). Mungkin itu aja kak, maafin aku ya kalo review ini isinya hanya begini aja huhuhu T.T
    Pokoknya keep writing kakak ^^

    Like

  4. huwahhhh, aku udah ngerasa ada gelagat aneh saat baca di pertengahan kak. kaya, pasti yixingnya yang udah gaada nih; yixing yang lagi berkhayal; dan ternyata ini malah sebaliknya; oemji, feixing ❤ ❤ ❤ ❤
    dibandingkan romance-nya, aku justru lebih condong ke bagian family-nya, yess, i'm so done with this </3 setiap pesan yang disampaikan layge sama feijie itu kaya sentilan buat aku juga gitu di kehidupan(?)ku saat ini.
    intinya, fict ini sukses banget menyampaikan nilai sosial kepada kami, para pembaca baperan 😀 :"""
    kak liana juga melakukan pekerjaan yang bagus bukan cuma hari ini, tapi hari hari ke belakang dan hari hari ke depan dengan ficts2-nya ^^
    keep writing kakli ❤ ❤

    Like

  5. uuwwaaa
    udah berapa abad aku gak berkunjung ke tempat ini???
    sekalinya dateng, eh ada keluarganya xing ge yang bikin bingung *loh
    gmn gk bingung cerita ini tu bikin q pengen nangis, terharu tapi bikin senyum2 juga liat mereka pada manis bangett
    apa daya generasi baper ini hanya bisa pasrah
    dan foto yang paling kanan itu kayak Zhang Yixing 2.0 mirip banget coba
    bubye Li ❤

    Like

  6. Dan ternyata itu semua cuma mimpi,
    mimpi yang kerasa nyata.
    Pak xing, tenanglah di alam sana /lhoh/

    ikut sedih li,

    eh, tapi, tapi, ada yg ngganjal buat aq ini. Ga pnting jg sih.
    Itu, yixing td bilang kalo gajinya kecil yak, tp napa itu berita bilang di kawasan elit? Pemikiran ga pntingku ~> wah, pak xing dng gaji sgtu berani KPR rmh di kawasan elit ya,,
    /abaikan/

    Like

  7. Sudah kuduga 😦 kalo awalnya itu terlalu manis mesti ada sesuatu di akhirnya. Apalagi udah jelas-jelas ini genrenya sad. Ah sudahlah, mana tega aku sama mas yixing. Kebapakannya itu kental sekali. Bisa apa aku kak TT TT
    Niatnya main kemari buat cari referensi fic fantasy-nya kak Li karena udah berminggu-minggu kena wb dan susah mau nulis lagi. Eh malah, dapet yang beginian. Family-nya itu bikin ambyar. 😥 Ku jadi merindukan Park-family :’)
    Keep writing~ ❤

    Like

  8. Kenapa feel ga enak ku selalu bener si ka? Ko klop gitu si ka kesannya? *apa coba*
    Bikin nangis kejer dalam hati nih. Mau tidur jd ga bisa deh (kenapa nyalahin gue? *kata kakak*) hiks Yixing hiks
    Salah emang baca fic kakak di jam” harusnya manusia tidur(?)
    KEREN BANGET KA KEREN *ga nyantei
    AAAAAA DI BIKIN SPEECHLESS LAGI KAN!!!! *sorry caps jebol

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s