Cheshire and His Remaining Smile

CHESHIRE

a birthday fic by Liana D. S.

starring

f(x) Amber and EXO Chen (Kim Jongdae)

genre Friendship, Slice of Life duration Vignette (1K+ words) rating Teen (mention of child abuse)

.

(though I’m late but) Happy Birthday for September Boy and Girl, Kim Jongdae (21/09) and Amber Liu (18/09)!

wish you all the best! XD

.

“Aku pernah melihat kucing tanpa senyum, tetapi aku tidak pernah melihat senyum tanpa kucing!”Alice in Wonderland, Lewis Caroll

***

Satu hari sepulang sekolah, ketika Amber masih kelas 2 SD, ia melihat seorang anak yang duduk memeluk lutut di belokan menuju halte bus, bersandar ke tiang lampu jalan. Wajah si anak tertelungkup, jadi Amber tidak dapat mengenalinya. Mestinya sih dia bukan salah satu dari teman atau anak tetangga Amber karena tidak ada dari mereka yang berpenampilan semenyedihkan ini. Pakaian si anak compang-camping, rambutnya kusut kemerahan, tubuhnya kurus dan di beberapa tempat, terdapat luka-luka yang mulai menutup. Plus, anak itu sesekali terbatuk, dan suara batuknya kering sekali; Amber si ‘cewek jagoan’ di kelas saja sampai takut mendekat. Bagaimana tidak, suara batuk itu mirip hantu tungku ramuan yang pernah Amber tonton filmnya di televisi. Beruntung, rasa iba Amber mengalahkan ketakutannya, sehingga ia, perlahan, melangkah menghampiri anak itu. Ketika si anak menengadah, Amber agak terkejut karena ada lebam besar di sisi mukanya, tetapi lepas dari hal ini, senyum si anak sangat hangat, bersahabat, seolah memang menunggu kedatangan Amber dari lama. Agak ragu, Amber memperkenalkan diri dan anak itu pun demikian.

“Namaku Jongdae.”

Jongdae. Nama yang tidak pernah Amber dengar, tetapi setelah ini, nama bocah malang itu akan terpatri terus dalam memorinya. Amber sering mendapat pelajaran dari sang ibu, juga dari sekolah, bahwa kita harus menolong orang-orang yang membutuhkan, tetapi tidak pernah merasa mengamalkannya hingga siang itu. Amber mengulurkan sebungkus roti isi tuna yang tidak ia suka, sisa makan siang, dan Jongdae melahapnya dengan penuh syukur.

Yang mana ini cukup mengherankan karena Amber pikir tuna terlalu amis untuk dimakan manusia.

“Kau seperti kucing saja.”

Tapi Jongdae tidak keberatan disebut begitu ‘selama aku menjadi kucing yang memakan roti isi ikanmu’. Amber agak kesal dengan Jongdae yang seakan-akan mengharapkan roti isi tuna terus-terusan (padahal itu ‘kan bekalnya Amber), tetapi juga tergelitik oleh senyum tulus si bocah ikal kurus yang secerah mentari. Tahu-tahu saja, Amber berjanji untuk membawakan Jongdae roti isi lagi besok.

Dan besoknya lagi dan besoknya lagi.

Sebelum sadar, Amber sudah menambah panjang daftar temannya. Saat ia melangkah pulang, seseorang di halte bus memandanginya dengan senyum lebar.

“Apa setiap hari kau hanya makan roti isi dariku? Biasanya Ibu akan memasak buatku; ibumu bagaimana?”

“Aku tidak tinggal dengan orang tuaku. Aku tinggal dengan orang jahat.”

Pengakuan Jongdae yang mengejutkan pada suatu hari hujan ini membawa Amber ke sebuah hipotesis besar. Anak seumurannya memang selalu mengartikan ‘orang jahat’ dengan satu kata: penculik–dan Amber bukan pengecualian. Ia sudah siap-siap akan lapor polisi ketika Jongdae mencegah. Katanya, ‘biarkan saja; orang-orang jahat bisa mengalahkan polisi, jadi jangan dipedulikan‘.

Amber kembali pulang dengan seribu pertanyaan berputar-putar di otak. Sama sekali tidak terpikir oleh si tomboy bahwa ‘orang jahat’ yang Jongdae maksud adalah orang tuanya sendiri. Saking berkuasanya ayah-ibunya di rumah, Jongdae sampai berpikir bahwa polisi sekalipun tidak bisa mengalahkan mereka, sehingga bocah itu kehilangan harapan dan menyeret tubuh ringkihnya ke tepi jalan supaya, setidaknya, aman dari siksaan.

Di halte bus, satu senyum tipis tersungging ke arah langit. Jongdae mencari-cari cara menyembunyikan diri ke balik awan sana, yang tidak terjamah satupun tangan kejam.

“Kau menungguku? Maaf, ya… Habis aku tidak ke sekolah di hari Minggu, jadi aku tidak ke sini, deh…”

“Tidak apa-apa, Amber. Terima kasih tetap mau datang untukku… Maaf juga sudah mengganggu liburanmu…”

Sebagai siswa sekolah dasar, Amber menghitung hari dengan cermat supaya tahu kapan hari libur yang menyenangkan tiba, tetapi Jongdae tidak pernah berhitung. Tak ada bedanya Senin dan Minggu; ia masih menunggu di jalan, mengharap belas kasihan orang-orang selain Amber–yang sayangnya tak pernah ada. Amber sendiri sedang asyik memanggang kukis dengan kakak dan ibunya (ayahnya ada, sih, tetapi karena beliau mengacaukan dapur lebih baik ditaruh di ruang tengah saja untuk jadi tukang cicip) ketika mendadak teringat Jongdae. Amber tidak ke sekolah, maka ia tidak melewati halte dan tidak memberi teman kurusnya itu roti tuna. Panik, Amber ‘mencuri’ beberapa kukis matang, mengabaikan kue gosong yang terselip, dan pamit ‘ke tempat teman’ dengan sekeranjang kukis itu.

Tidak sia-sia usaha Amber. Jongdae menunggunya dengan senyum lebar yang biasa. Mereka makan kukis bersama di halte dan Amber sempat ingin mengajak Jongdae ke rumahnya. Malu, Jongdae menolak. Nanti rumahmu kotor, dalihnya, membuat Amber tergelak. Coretan krayonnya Kak Jackie sudah cukup bikin rumah berantakan; tidak usah khawatir membuatnya tambah parah.

Tapi Jongdae tetap tak mau pergi, jadi Amber, setelah matahari sudah tepat di atas kepala, pamit pulang dengan keranjang kosong di tangan. Senyum Jongdae mengiringi kepergiannya. Amber kemudian menghilang di tikungan–dan Jongdae batuk. Parah. Bajunya merah, basah, amis.

“Anak yang kau bilang duduk di halte bus itu ke mana, Am?”

“Ibu tidak melihatnya? Jackie, kau pasti tahu orangnya; kau ‘kan sudah kuberitahu cirinya.

“Tidak ada, tuh, anak ikal kurus berpakaian lusuh di halte. Sudah pergi, kali.”

“Itu tidak mungkin! Jalan saja dia tidak kuat!”

Amber itu anak gadis, betul, tetapi tingkahnya tak karuan. Wajar jika kakinya cedera gara-gara latihan taekwondo berlebihan. Ia sakit hati karena tidak bisa ikut turnamen dan seminggu lebih hanya berdiam di kamar sambil sesenggukan. Tidak terlintas Jongdae sama sekali di pikiran Amber yang sedang muram. Tapi luka hati toh pada akhirnya sembuh juga–dan usai ‘masa kelabunya’ lewat, Amber langsung ‘lompat’ dari tempat tidur. Untung saja kakinya tidak patah untuk kali kedua. Ia sampaikan kecemasan tentang Jongdae pada keluarganya, pagi-pagi sebelum mereka berangkat ke lokasi kerja masing-masing…

…tetapi kemudian ia menerima laporan bahwa Jongdae lenyap.

Dan sebuah berita menyakitkan yang tersebar di kelas menyambut Amber sekembalinya dia dari cuti sekolah.

“Kau tahu tidak, anak seram dan bau yang biasanya duduk sendirian di halte itu? Waktu kau tidak masuk kemarin, Amber, kami melihatnya diangkut ke mobil ambulans. Darah di mulutnya banyak sekali sampai tumpah ke jalan. Ibunya Richard yang jadi perawat di rumah sakit bilang anak itu meninggal.”

“Benar, penyakitnya mengerikan sekali. Kalian pernah dengar sakit paru-paru yang di film-film sedih itu, ‘kan? Tubelosis? Tukurososis?”

Kamis, 21 September 2000, Amber tak akan pernah lupa tanggal di mana ia pertama kali menangisi seseorang begitu kencangnya di kelas. Semua anak tak tahu dan tak menyangka teman perempuan mereka yang garang bisa berubah jadi sekolam air mata akibat berita yang–menurut mereka–biasa-biasa saja ini.

‘Biasa-biasa saja’–karena mereka tidak memiliki kasih sayang sebesar Amber.

Kematian Jongdae memancangkan satu tekad tak terpatahkan dalam jiwa Amber: menjadi seorang dokter dan pembaharu sistem sosial. Ia berjuang keras hingga titik itu. Semangatnya tak putus-putus sampai akhirnya berhasil membangun sebuah klinik khusus perawatan tuberkulosis, penyakit yang sama yang merenggut nyawa sahabatnya, dan merintis berdirinya lembaga perlindungan anak resmi di bawah naungan pemerintah. Banyak penderita tuberkulosis terselamatkan, banyak anak mendapatkan senyum mereka kembali pasca melalui hidup penuh kekerasan, tetapi sesal yang senantiasa menggantungi Amber membuatnya tak bisa puas. Harus lebih banyak menolong orang lagi. Harus lebih banyak menjaga nyawa lagi.

Karena kucing pemakan roti isi tuna itu meninggalkan senyumnya di halte bus untuk mengawasinya.

TAMAT

Advertisements

8 thoughts on “Cheshire and His Remaining Smile

  1. Kakaaaakkkk mata ini banjir dengan airmataku. Awal ceritanya seneng dan gemesin soalnya bayangin masih kecil lucu gitu. Kakak bisa banget kayanya bikin diksi yang bener-bener bikin pembaca ngerasa jadi anak-anak lagi. Eh gatau kenapa pas baca bagian Jongdae meninggal dan Amber nangis diksinya kaya langsung bikin nyesek. Yah jadi baper deh kak 😥
    Aku juga suka kak dengan judulnya yang bikin penasaran, pas dibaca ugh efek bapernya kayanya agak lama nih seperti fanfic kakak yang End of The Day backsoundnya kalau dibaca berulang-ulang T.T huft.
    Duh kok abis baca ini, rasanya aku ingin buat fanfic angst juga tapi sekarang lagi kena serangan write block u,u
    Semangat ya kak, aku tunggu fanfic kakak yang lain (terutama exo-m member kak hehe) 😀

    Like

    1. uwaaa maafkeun aku membuatmu menangis huhu. aku tuh agak kecenderungan kalo bikin birthday fic jatuhnya sedih. padahal ini aku ketiknya kurang edit tapi syukurlah kalo feelnya tetep nyampe. eh tapi ini jgn disamain kyk end of the day ya soalnya kalo end of the day backsoundnya lebih nyesek dari ficnya kan :p
      dan
      KALO KAMU MAU BIKIN FIC ANGST TAK TUNGGU HUAAAA AERI GAK COMEBACK2 SAMA MAS JONGDAE KAN SAYA RINDU
      *sorry capslock bermasalah
      makasih ya sudah mampir! X)

      Like

  2. Lianaaaaaa, ….
    Ini kenapa abang Jongdae kamu bunuh dengan kejamnya????
    Tanggung jawab Li, hidup in lagi si abang trus nikahin sama mbak amber,
    huaaaaaaaaaaaaaaa,,,,, *tissu mana tissu*,
    T_T

    pesan moralnya langsung nusuk, Li. jjang.
    aku mah baper kalo nemu something tentang kekerasan sama anak2, hiks. 😦
    pengen tak bawa pulang itu Kim Jongdae yang masih kelas 2 SD, kasian banget kamu nak, aku rawat aja boleh ya, daripada di jalan gitu. *sobbing*

    Like

  3. Awalnya aku mikir ini pasti Amber sama Chen kisahnya bahagia soalnya masih anak esde kan masa-masa paling bahagia/eakk/
    Makin kesini makin ughh, nyesek banget. Ngga bisa bayangin anak kecil pakaian kumal ternyata punya penyakit tuberkulosis 😢
    Keep writing ya kak!

    Like

  4. Ah pulang kuliah dibikin baper gegara baca ff kakak nih huhuhu *eh kenapa nyalahin y?*
    Keren banget gila suka sama setiap kata”nya. Ini bukan angst? Tapi ko angsty bgt si ka hiks
    Haduh nyedek bgt bayangin mas Jongdae begitu T_T
    asdf!@#$#$% ga tau lg deh ka mau komen apa
    Maaf ya semua komen ku nyampah doang hhu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s