EXO-N #4: Singgasana

“Menanggalkan aura malaikat, kukenakan mahkota penguasa untuk hatiku.”

(Z.Tao – Imperial Crown)

[Warning] Major surrealism and symbolism!

***

Sekali lagi terluka. Sekali lagi tumbang. Sekali lagi, sebuah singgasana kosong tanpa penghuni.

Hangat pasir pantai menyambut Tao yang basah kuyup usai diaduk arus keputusasaan. Ketika pemuda itu membuka mata, kilasan-kilasan pertarungan di balairung istana jiwa menghujam benaknya tanpa ampun. Pada putaran kenangan itu, terdapat Jia, kecantikan yang menurutnya ‘salah tempat’, penguasa hatinya yang lari ke takhta lain dan mengenakan tiara baru. Ingin Tao lemparkan tiara itu ke lantai hingga hancur, lalu memasangkan mahkota dari istana jiwanya sendiri pada Jia. Seperti dulu.

Tao mendesis saat memar-memar di tubuhnya menjerit, minta diobati dengan segera. Seketika ingatan manis-pahit tentang Jia hangus, ditukar dengan bayang-bayang kekalahan menyakitkan yang dilekatkan ‘si penculik’ padanya. Penculik ini tidak lebih dari penyusup kurang ajar yang membuat Jia mengempaskan mahkota lamanya dan menolak Tao, padahal ketika mencintai Tao, Jia berkuasa penuh atas seluruh istana. Singgasananya adalah satu-satunya kursi di ruang hati Tao, sedangkan di tempat si penculik? Jia menjadi yang kedua, singgasananya lebih rendah dibanding milik si penculik sendiri.

Setelah sekian lama menyeret langkah, Tao tiba di istananya yang hampa, kehilangan ratu. Ingatan-ingatan menyesakkan mengenai Jia masih tergelar di lantai balairungnya, mirip karpet merah. Lukisan-lukisan indah senyum Jia tidak bergeser, bingkainya pun tak cacat digerus waktu. Mahkota bertatahkan cinta tersandar lesu ke singgasana, bosan menunggu kepulangan pemakainya terdahulu, tetapi tiap sentinya belum kehilangan kilau. Aih, kurang apakah Jia selama tinggal di sini, sebenarnya? Jika gadis itu menghendaki sesuatu, Tao bersedia mengupayakan, kok.

Tapi, segala upaya dan rencana tidak sempat mewujud karena waktu Tao terbatas.

Rontokan dari langit-langit balairung menggores wajah Tao, membuat si pemuda mendongak demi mendapati retak-retak lebar dalam istana jiwanya. Panjang. Merambat ke pilar-pilar. Sebuah jiwa akan runtuh jika dibiarkan tanpa penguasa terlalu lama dan sayangnya begitulah kondisi istana Tao sekarang. Ia salah dengan bersikukuh menjadikan Jia satu-satunya penguasa hatinya, sampai-sampai istananya tidak terurus dan jadi rapuh. Sebentar lagi, bangunan tua itu akan mengubur Tao dalam puing-puing; tidak ada yang bisa diperbuat untuk memperbaikinya. Tahu dirinya tak memiliki cukup waktu untuk mencari penguasa baru, Tao duduk di singgasana, menanti ajal menjemput sembari mengusap-usap cinta yang melekat di mahkotanya.

Bening cinta yang menghiasi mahkota Tao memantulkan sisa-sisa harapan pada mata pemiliknya. Harapan itu tidak mau mati cepat. Ia memohon-mohon pada Tao agar menyelamatkan diri sebab jika Tao selamat, maka harapan itu juga akan tetap hidup. Tao tak tega mendengar harapan itu mengiba, sehingga terputarlah otaknya, mencari jalan keluar dari situasi genting ini.

Oh, tunggu.

Mengapa tidak Tao saja yang mengenakan mahkota itu, daripada mencari wanita lain untuk menyangga istana ringkihnya? Ide yang agak konyol, sih, karena hal itu sama saja dengan mencintai diri sendiri, tetapi apa boleh buat? Dalam keadaan darurat, bermacam alternatif pemecahan masalah patut dicoba selama dasarnya kuat.

Maka, Tao mengenakan mahkota cintanya sendiri.

Tak disangka, dinding-dinding istana yang retak menutup sempurna. Guncangan yang tadi terasa akibat akan hancurnya bangunan menghilang tak berbekas. Karpet kenangan membersihkan dirinya dari rontokan plafon, lukisan-lukisan membetulkan posisi mereka yang agak bergeser, dan—hei!—luka-luka yang Tao dapat dari penculik Jia sembuh total.

Baru Tao mampu menyusun hipotesis tentang bagaimana penculik itu berhasil menawan Jia.

Si penculik memiliki dua singgasana dalam hatinya, dengan singgasana miliknya sendiri lebih besar. Itu berarti ia mencintai dirinya sendiri, sehingga istananya kokoh walaupun ditinggalkan wanita; penguasa istana jiwanya toh tidak akan berganti. Di lain pihak, Tao menjadikan orang asing sebagai penguasa hatinya, sehingga wajar bila istananya rawan hancur. Jia, tentu saja, takut dengan kondisi istana yang goyah ini dan memilih untuk cari aman saja. Dari perenungannya, Tao menyimpulkan bahwa ia harus mencintai diri sendiri dulu agar istana jiwa ini bertahan selamanya dan mampu melindungi orang-orang yang kelak masuk ke dalamnya. Siapakah yang lebih layak berkuasa dalam satu istana jiwa selain si empunya jiwa itu sendiri?

Satu helaan napas dalam menandakan betapa Tao puas akan jawaban ini. Ia turun dari singgasana, melangkah menyusuri karpet kenangan yang harum, siap menjemput mimpi-mimpinya dengan istana baru yang utuh, bersimbah cahaya pagi.

“Tao.”

Dan seperti dugaan Tao, wanita kesayangannya muncul lagi dengan senyuman tenang,  mirip gambar-gambar berbingkai di balairung.

“Boleh aku masuk? Istanamu kelihatannya baru direnovasi.”

TAMAT

Advertisements

4 thoughts on “EXO-N #4: Singgasana

      1. Hai liana, hai…krik…krik… /lalu sok awkward/

        Lapaknya liana mah layak buat diampirin~~ ;_; kece kece gitu kok tulisannya, justru karena pendek kan jadi aku bisa langsung baca li, waks, gak masalah kok, aku penyuka surealisme walaupun gak pinter nulisnya soalnya, dan bikin surealisme yg model gini kan gak gampaang huhu…..kalimat kalimat simbolis kamu cantik ;_;

        wehee, sama sama~ insyaaAllah lain kali mungkin masih bakal mampir lagi XD

        Like

  1. Halo kak. Udah baca ini kemaren tapi baru sempet comment hehehe.

    YA AKU SUKA BANGET SAMA SYMBOLISMNYA. Aku udah baca sepertiga, dan ngulang lagi karena pas awal agak bingung, tapi makin dibaca ini cantik banget :””

    Keep writing kak 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s