EXO-N #5: Lugal – An Existence

BlHjmVOCIAAXbac

LUGAL – AN EXISTENCE

EXID Hani (Ahn Heeyoon), EXO Xiumin (Kim Minseok), and actress Kim Yoojung // Supranatural, Fantasy, Lugal!AU, Angst, Romance, Family // Oneshot (2K+ words) // General

.

.

[Disclaimer] ‘Lugal’ adalah semesta ciptaan baekpear aka Pat. Saya hanya meminjam.

.

.

“Bunyi air mata yang jatuh bagai hujan bertiup lembut ke telingaku, seolah-olah itu dirimu,  tetapi aku tak dapat membuktikannya.”

(EXO – Hurt)

***

Pribadi cerah Minseok belakangan tergeser oleh kemuraman yang sesekali diselipi kegusaran. Baru beberapa hari dalam suasana berkabung, pemuda itu sudah kehilangan pipi tembam yang menjadi identitasnya, pun kantung matanya menebal terus, mungkin nanti bisa menandingi tebal pipinya yang sekarang tirus. Senyum lucu yang dikagumi gadis-gadis sekampus lenyap, tertelan masa lalu tempat adik perempuannya berdiam. Ya, Minseok memang baru kehilangan Yoojung, gadis cilik manis yang amat ia sayang—kini tinggal nama saja. Biaya pengobatan penyakit ganas yang Yoojung derita tidak mampu Minseok tanggung sendiri, jadi … yah, tidak perlu ditegaskan bagaimana kisah gadis itu ditamatkan.

Namun, bagi Heeyoon, Kim Yoojung tidak pergi. Gadis belia yang mestinya sudah berangkat ke surga itu tertahan kesedihan Minseok yang berlarut-larut, sehingga di mana pun Minseok berada, Yoojung masih menyertai. Ironisnya, cuma retina Heeyoon yang mampu menangkap bayangan Yoojung, orang lain tidak sanggup, bahkan Minseok. Heeyoon jadi ragu bisa membuat Minseok percaya tentang kehadiran roh sang adik di sisinya; mana ada sih mahasiswa tingkat akhir yang dapat ‘diperdaya’ oleh hal-hal ‘sepele’ begitu?

“Jangan bolos klub hari ini. Juniormu berisik tanya-tanya aku: ‘ke mana Kak Minseok?’ Memangnya aku ini pengasuhmu apa?”

Inginnya Heeyoon menyampaikan kehadiran Yoojung pada Minseok (sorot mata gadis manis itu mendesak Heeyoon terus-terusan agar bicara), tetapi malah kalimat ini yang terucap. Entahlah, setiap berada dekat Minseok, simpul-simpul saraf di otak Heeyoon kusut masai. Terkutuklah saraf-saraf itu yang tidak mampu memahami situasi dan kondisi. Maksud Heeyoon, di saat seperti ini, Yoojung mesti diutamakan di atas kepentingan junior klub kendo. Lagi pula, memperingatkan orang yang sedang terpuruk harusnya dengan lemah lembut, bukannya memakai nada tinggi yang memprovokasi. Lihatlah, Minseok mengatupkan rahang tak suka, menyandang tasnya di satu bahu, lalu bangkit dan keluar kelas, mengabaikan Heeyoon.

Raut kecewa Yoojung mengganggu Heeyoon begitu hebatnya hingga satu-satunya anggota wanita klub kendo kampus itu segera melesat ke apartemen Minseok usai latihan.

“Minseok!” Tanpa tahu tempat dan waktu, Heeyoon menggedor pintu tempat tinggal kawan sekelasnya, panik, “Buka pintunya! Ada yang harus kukatakan padamu! Ini penting!”

“Cerewet! Langsung masuk saja!”

Oh, benarkah itu Minseok? Tak pernah Heeyoon mendengarnya demikian kasar—dan itu agak melukainya. Ah, tapi Heeyoon biasa terluka karena Minseok, sebetulnya, karena meski Minseok berbuat baik padanya, toh ia juga berbuat baik pada gadis lain. Heeyoon bukanlah seseorang yang istimewa, tetapi fakta itu ternyata tidak mencegahnya tetap datang, berusaha sebisa mungkin membantu Minseok memulai lagi dari titik terendah. Cintakah? Heeyoon sendiri tak yakin. Cinta sejati terwakili oleh perasaan Minseok pada adiknya; Heeyoon yakin miliknya tidak cukup dalam untuk disamakan dengan perasaan itu.

Kenop pintu terputar. Heeyoon masuk dan terkejut setengah mati. Benarkah ini apartemen Minseok?

Sepatu tidak diletakkan di rak, bertumpuk-tumpuk satu sama lain. Tas kuliah dijatuhkan sembarangan di lantai, bersamaan dengan jaket. Satu kaus kaki—entah ke mana pasangannya—tertindih tempat sampah kosong yang terguling. Aneh, padahal terakhir Heeyoon dan beberapa teman berkunjung ke sana untuk menyusun makalah, tempat Minseok rapi sekali seolah dirapikan pelayan handal.

Minseok sungguh sudah kehilangan dirinya.

Ada suara dari dapur, satu-satunya ruangan yang lampunya menyala, jadi Heeyoon melangkah cepat ke sana. Minseok duduk membelakanginya, menggelosor ke meja, didampingi satu cup ramyun beruap yang belum tersentuh.

“Mau apa lagi, Heeyoon? Tidak cukupkah kau merecokiku dengan oceh—“

“Kau bukan Minseok.”

Tidak suka berbasa-basi, Heeyoon cepat memotong pertanyaan parau Minseok. Pria muda yang menelungkupkan muka di depan Heeyoon tidak memberi tanggapan, membuat gadis semampai itu membuang napas kasar.

Yoojung, sebaiknya kau tidak menggunakan bakat aktingmu untuk berbohong,” Heeyoon menegur Minseok—atau adiknya, Cup ramyun memang kesukaan Minseok di saat depresi, tetapi menyeduhnya untuk mendukung peranmu tidak akan berhasil karena Minseok terlalu sakit hingga enggan makan sekarang. Minseok yang asli akan memilih diam jika sedang kesal daripada membentak; teriakan pertamamu masih masuk akal, omelan keduamu yang tidak. Selain itu …”

Heeyoon menengok ke balik punggungnya.

“… halo, Minseok.”

Beberapa langkah di belakang Heeyoon, arwah Minseok menatap hampa ke depan. Eksistensinya tipis, nyaris melebur dalam udara—seperti Yoojung biasanya.

Minseok palsu di kursi makan bangkit. Heeyoon mendapati rasa bersalah di wajah Minseok yang itu. Tak lama berselang, tubuh itu dibungkukkan oleh roh yang mendiaminya. Sebuah suara asing menggetarkan selaput rungu Heeyoon kemudian.

“Maafkan aku, Kak Heeyoon …. Aku tak sanggup menolak permintaan Kak Minseok.”

Akhirnya, setelah sekian lama menyadari kehadiran Yoojung pasca kematian, Heeyoon mampu mendengar suaranya. Sebelum ini, Heeyoon hanya dapat melihat sosok mungil Yoojung, tanpa suara lantaran seorang Lugal–‘penghubung’ roh–macam Heeyoon dan Minseok memiliki satu saja dari kemampuan melihat atau mendengar makhluk-makhluk dari dunia sesudah mati.

“Aku tahu. Bukan salahmu, kok, Yoojung-ah,” Heeyoon tersenyum ramah, tulus, “Kakakmulah yang menyalahi hukum Lugal; para pengawas bisa menghukumnya sangat berat untuk pelanggaran ini.”

“Kumohon jangan hukum dia, Kak!” Yoojung kontan cemas, “Dia … dia cuma sedang kalut … dan-dan lagipula kami bertukar tubuh sehari saja; sebentar juga kembali!”

Heeyoon diam sejenak. Berpikir. Sudah sebesar apa keputusasaan Minseok sampai-sampai menyalahgunakan kemampuan pengendali rohnya? Apakah keinginan kuat untuk ‘menghidupkan’ Yoojung mampu mengalahkan akal sehat hingga Minseok berani memutus jiwanya sendiri dari tubuh, lalu menyambungkan jiwa Yoojung sebagai pengganti? Gila! Tidak begitu kerjanya Lugal! Kemampuan mereka ditujukan untuk arwah-arwah tertentu saja, yang butuh tubuh baru dalam rangka menuntaskan ‘kepentingan khusus’ di dunia manusia. Asal-putus-asal-sambung begini sanksinya sangat berat jika dilaporkan; mestinya Minseok sudah memperhitungkan risiko tersebut.

Tapi kalau emosi bisa mengusutkan simpul-simpul saraf Heeyoon, apa mustahil hal yang sama mempengaruhi Minseok?

Perlahan, Heeyoon mengeluarkan pedang kendonya dari selongsong. Yoojung terjajar mundur ketika pedang kayu itu berpendar redup, konstan. Tekanan kekuatan pedang itu menyudutkan semua roh, tetapi Heeyoon masih tersenyum tenang, mengurangi ketakutan Yoojung.

“Tidak akan sakit, janji.”

Prak.

Tubuh Minseok dipukul dengan hati-hati oleh Heeyoon. Roh Yoojung terdorong ke belakang, tali jiwa yang melekatkannya pada raga Minseok putus dan tubuh yang ia tinggalkan melemas. Heeyoon menangkap tubuh kosong itu sebelum membentur lantai dengan keras, membaringkannya perlahan, lalu memandang arwah Minseok galak.

“Kemari kau! Cepat masuk lagi ke badanmu!”

Ogah-ogahan, Minseok memposisikan diri bersisian dengan raganya. Pedang kendo Heeyoon kembali berpendar, kali ini tekanan kekuatannya digunakan untuk mengikat roh Minseok ke wadah semula. Heeyoon mengeratkan simpul jiwa Minseok agar tidak mudah dilepas—dan Minseok siuman tak lama setelahnya.

“Mengapa kau suka ikut campur urusan orang?”

Heeyoon berlutut di samping Minseok yang belum mau beranjak dari posisi berbaringnya. Dijawabnya pertanyaan Minseok tapi tanpa nada canda yang biasa mengiringi kalimatnya.

“Karena kau Lugal sepertiku, jadi aku merasa wajib memperingatkanmu tentang kode etik kaum kita. Itu pertama. Kedua, adikmu meminta tolong dalam diamnya untuk membuatmu merelakan kepergiannya. Ketiga—“

Prak!

Ucapan Heeyoon diinterupsi oleh dua pedang kendo yang beradu. Saat Heeyoon bicara tadi, Minseok diam-diam meraih pedangnya sendiri yang tergeletak di bawah meja dan melancarkan serangan dadakan. Beruntung, Heeyoon punya refleks yang cukup bagus, jadi ia menegakkan pedangnya di depan tubuh demi melindungi diri dari tekanan pengendali roh Minseok.

“Pergi, Heeyoon!”

Bentakan yang sekarang sungguh-sungguh berasal dari Minseok, sehingga nyeri di hati Heeyoon jadi berlipat. Meskipun begitu, tekad si gadis untuk membantu Minseok telah mengalahkan kekecewaannya. “Aku tak akan pergi sampai kau berhenti membahayakan nyawamu sendiri,” Ia menegaskan, “Akan kupastikan ikatan jiwa dan ragamu cukup kuat sehingga tidak bisa kaupotong seenaknya.”

Dorongan pedang Minseok menguat hingga Heeyoon terpaksa mundur sejenak untuk membuat jarak. Minseok berdiri, terhuyung, dan menyerang lagi dengan membabi buta. Setiap serangan itu Heeyoon tangkis sebisanya. Ia berusaha menangkap suara Minseok di antara kerasnya bunyi kayu yang berbenturan, tetapi gendang telinganya tidak menemukan sesuatu selain keputusasaan dan tangis tertahan.

“Kau tidak pernah kehilangan seseorang yang kau cintai, jadi jangan sok tahu! Kau tidak mengerti betapa gilanya malam-malamku yang penuh terisi suara Yoojung, kan? Aku merasakan keberadaannya, tetapi ia tak tersentuh, tak terlihat, semu! Padahal hanya dia yang aku miliki, untuknya aku hidup, Heeyoon! Tidak ada lagi yang tersisa dalam diriku sekarang; semua sudah Yoojung bawa pergi di hari kematiannya!”

Dari sudut mata, Heeyoon melihat Yoojung menangis sunyi, sementara Minseok samar mendengar permintaan maaf adiknya, berulang-ulang.

Aku memahamimu!!!” Sesak rasanya dada Heeyoon karena apa yang Minseok rasakan tidak jauh berbeda dengannya, “Apa yang tampak di hadapanku tak senyata perkiraanmu. Kau ada sekaligus tiada, Minseok. Bahkan ketika rohmu masih terikat dengan ragamu, kau tampak mati bagiku! Itu sama saja dengan dirimu yang tak menemukan Yoojung, bukan? Justru kau yang tak mengerti betapa besar keinginanku untuk menghidupkanmu kembali dan betapa sakitnya aku karena keinginan itu tidak terwujud!”

Pedang Heeyoon tertumbuk begitu keras dengan milik Minseok hingga patah dua. Heeyoon jatuh, senjatanya terlempar ke sisi, dan pedang Minseok nyaris mengenainya. Gadis itu memejam rapat, takut, tetapi berikutnya, tak ada yang terjadi. Heeyoon membuka sebelah matanya sedikit. Pedang Minseok berhenti beberapa mili di depan hidungnya, tidak berlanjut melukainya. Air mata Minseok jatuh sebutir, bersamaan dengan meluncurnya pedang kendo itu dari genggaman.

“Jadi, menurutmu aku harus berhenti, Yoojung-ah? Menurutmu Heeyoon lebih benar?”

Oh. Rupanya, Minseok tidak meneruskan serangannya karena ditahan Yoojung. Gadis mungil itu memperoleh keberanian akibat tindakan Heeyoon, sehingga bisa memegangi Minseok dengan tangan transparannya. Bibir Yoojung bergerak-gerak, membisikkan sesuatu yang tak dapat didengar Heeyoon, dan itu terefleksi pada monolog Minseok selanjutnya.

“Aku tidak mau mengirimmu ke dunia arwah. Tidak sekarang, Yoojung-ah. Aku masih ingin kau ada di sini, di dunia manusia, sekalipun hanya suaramu yang tertinggal.”

Heeyoon berdiri, susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh. Bernapas terasa sulit saat getar pedih suara Minseok mencapai indranya. Kepergian Yoojung telah membuat Heeyoon melihat banyak sisi yang sebelumnya tersamarkan: bahwa Minseok, seperti orang kebanyakan, juga tidak selamanya ceria. Ada titik rapuh yang jika disenggol sedikit akan memecahkannya dan itu Yoojung. Sayang, Yoojung ingin kakaknya melepasnya, mengirimnya dengan kemampuan Lugal ke dunia arwah, jadi baik suara atau wujud transparannya tidak tertinggal di dunia manusia.

Minseok menghela napas dalam sebelum meraih pedang kendonya dan berbalik.

“Heeyoon, kau bisa melihat Yoojung, bukan?”

Yang ditanya mengiyakan.

“Bisa kau ulurkan tanganku ke arahnya? Untuk terakhir kali sebelum berpisah, aku ingin ‘menyentuhnya’.”

Barangkali karena melakukan sesuatu demi Minseok, Heeyoon sedikit kehilangan sifat cengengnya. Tangis sudah menggenangi pelupuk matanya, tetapi tidak cukup banyak untuk mengalir keluar dan Heeyoon cukup bagus menahannya, meski sebuah pisau imajiner menusuknya ketika meraih tangan Minseok. Tangan yang dingin itu digerakkannya menuju pipi Yoojung yang ‘basah’. Sekali, dua kali, tangan Minseok bergerak naik-turun, mengusap udara seakan pipi adiknya dapat teraba.

“Kau akan mengirimnya ke dunia arwah, bukan?” bisik Heeyoon. Kepala Minseok terangguk berat. Kedua belah tangan Heeyoon lantas menemukan jalan ke genggaman Minseok yang longgar, mengeratkannya di sekeliling pedang kendo.

“Buka segelnya. Akan kubantu kau mengirim Yoojung pulang.”

Minseok menelan ludahnya sulit. “Pulangnya Yoojung adalah ke rumah ini, Heeyoon, bukan ke sana.”

“Minseok.”

Tanpa ada kata lain mengiringi, Heeyoon menyelusupkan jemarinya ke sela-sela jari Minseok, mengunci tangan itu agar Minseok tidak lagi goyah, tetapi tidak terlalu erat supaya Minseok tidak terluka. Satu helaan napas kemudian, masih dengan tangan Heeyoon melingkarinya, Minseok menghunjamkan ujung pedangnya ke lantai. Sebuah segel hitam terbuka di bawah kaki mereka dan tubuh Yoojung berangsur melebur menjadi titik-titik kecil di atasnya. Bibir Yoojung melengkungkan senyum—yang pertama dan terakhir sejak kematiannya—dan bergerak teratur, membentuk pola yang bisa Heeyoon baca sebagai ucapan terima kasih.

Segera setelah Heeyoon melepaskan tangannya, Minseok terduduk lemas di lantai. Ia remas bagian depan kemeja yang melindungi dadanya, diaduk emosi yang sangat. Kenangan tentang Yoojung masih bersisa sekalipun rohnya sudah berpindah ke alam lain, menggores Minseok seperti runtuhan gelas kaca. Heeyoon berpindah ke depan Minseok, hendak menghapus air mata sang kawan, tetapi niatnya urung karena Minseok mencekal tangannya duluan.

Tahu-tahu, wajah Minseok sudah mendarat di pundak Heeyoon.

“Aku lelah. Pinjam bahumu sebentar.”

Heeyoon tahu ada lebih banyak hal yang disimpan Minseok dari sekadar kelelahan. Membuat keputusan yang 180 derajat berlawanan dengan kata hati bukan perkara mudah. Konsekuensi perpisahan mendadak harus ditanggung sendiri oleh hati yang masih belum sembuh, tetapi biarpun mengetahui ini, Minseok tetap mengirim Yoojung ke dunia arwah selamanya karena itulah hal yang benar untuk dilakukan.

Tak pernah Heeyoon bersikap sehati-hati sekarang, hingga napasnya pun ia sinkronkan dengan Minseok. Jemarinya secara naluriah menelusuri punggung Minseok yang entah sejak kapan terasa begini sempit.

“Jangan pergi seperti adikku, Heeyoon.”

Jantung Heeyoon seakan lupa bagaimana cara berdetak selama sepersekian sekon. Dia berani jamin, dirinya masih bukan gadis yang istimewa bagi Minseok, tetapi bagaimana permohonan lirih ini ditujukan padanya terasa … surreal. Apalagi ketika satu lengan Xiumin, entah dalam keadaan sadar atau setengah sadar, melingkari pinggang Heeyoon lembut, namun menuntut.

“Walaupun aku seorang Lugal pendengar, jangan tinggalkan suaramu saja seperti Yoojung.”

Barangkali Minseok jadi sedikit rusak karena terlalu sedih. Dari semua orang yang memahami kematian, Lugal mestinya tahu bahwa ‘tidak meninggal’—seperti permintaan Minseok—adalah hal yang mustahil. Heeyoon makin sesak, tetapi ia biarkan Minseok bergumam, menumpahkan apa yang terpendam.

Telapak Minseok yang gemetar berpindah ke bahu Heeyoon yang bebas.

“Aku ingin tidur. Kalau bisa selamanya.”

“Kau tidak perlu tidur selamanya untuk menghilangkan rasa letih itu, tetapi kalau hanya beberapa menit, aku bersedia meminjamkan bahu ini buatmu.”

Sebenarnya tidak, Dalam hati Heeyoon mengatakan hal yang berkebalikan, Satu jam, satu hari, satu tahun pun aku bersedia menjadi tempat bersandarmu. Dan akan selalu begitu.

***

Minseok sudah jenuh dengan kesemuan. Kesemuan Yoojung. Kesemuan teman-teman yang tidak memahami dukanya. Kesemuan dalam senyum cerianya. Ia menginginkan sesuatu yang berbeda, yang bisa dilihat, didengar, disentuh, dirasakan.

Bagi Minseok, hanya Heeyoon yang senyata itu. Maka ia dekap Heeyoon dengan hati-hati, takut Heeyoon berubah semu seperti segala yang pernah ia cinta.

***

TAMAT

.

.

.

.

.

sorry for this lengthy piece.

Advertisements

7 thoughts on “EXO-N #5: Lugal – An Existence

  1. Hati ini sobek sobek pas baca bagian awal
    Cuma endingnya *ini mau nahan teriak tapi kkkkaaaaaa*
    Heeyeon tetep yaaa, terlihat lebih manly dari minseok *dilempar sepatu*
    Aduhhh ga tahan sama endingnya *masih nyengir lebar*
    Tapi agak semi buyar pas hani nangis, kebayang nangisnya di CS2 episode 1 soalnya x)
    Beneran dehhh kemaren pengen nyerah sama ship yang sudah semi karam tapi kembali berlayar lagi gara-gara fict ini 😀

    Like

  2. Kak Li omo omo! Ini apaan ini, xiu dan adeknya trus ditambah mba-mba seksi cem mba hani XD
    Aku beneran kaget waktu liat updatenya, lugal kak Li udah muncul. Apalagi pas liat castnya haha XD Dan begitu baca, udahlah .. ambyar duniaku.
    KEREN BANGET HUAAAA!! Merasa gagal jadinya aku membuat AU ini. Mana itu alatnya udah canggih, pedang kendo suka suka ❤ Tukar nyawa juga sangat amat keren yaampunn. Dan endingnya ga lepas dari romansa otp ini huhu 😀
    Keep writing kak~

    Like

  3. XIUHAN 2.0 aaaaaaaccccckkkk
    hani tuh galak tapi manis banget, liat aja dalam marahnya dia aja masih perhatian banget sama minseok
    aaddduuuhhhh
    beneran gagal move on dari ship ini, pd hal kn minseok bentar lg maen drama sama nuna nuna manis gimana doong
    semoga xiuhan tetap berlayar 2015 n thn2 berikutnya
    semangat yya Li, kapan bikin Jongdae lagi???
    bubye ❤

    Like

    1. i still remember you kak ahai.
      dan ya soal minseok
      YA AMPUN APALAH KIM SO EUN PADAHAL SEBELUMNYA SAMA BAPAK SONG JAE RIM yg asdfghjkl gantengnya LAH KOK TERUS SAMA BAKPAO *eh *umin juga ganteng kali
      aku udah bikin jongdae lagi sih kak hahaha, kindly check kalo lagi ga sibuk 🙂
      makasih sdh mampir!

      Like

  4. LIANAAAAA…..
    aku nggak kuat… aku nggak kuat…
    #lambai2 ke kamera.

    *culik minseok *culik heeyeon *kasihin ke KUA

    udah lama padahal ini di save page.ku,, baru sekarang bisa baca.
    mianhe mianhe hajima *nyanyi lagunya taeyang

    ini kenapa ceritanya nganu banget. di awal2 dibikin sedih gegara yoojung mati, trus pas mas umin nyerang hani smpai dialog mrk buat bikin yoojung pergi feel nya campur aduk Li. ikut sedih karena baper sm kondisi umin. tpi juga senyum2 gaje en mgkin smp nahan napas buat shipper ky aku, karena bayangin tiap interaksi skinship dr ritual mrk,, yang mbak hani nggenggam tangannya mas umin, trus pas akhir2 itu beneran bikin diabetes kata2mu.

    betewe aku malah keinget anime bleach gara2 ff.mu ini

    Like

  5. 👍👍👍👍👍👍👍 Serius keren nih ceritanya Li… (#sokkenalsokdeket.. kayak di angkot yang penuh bingit 😜) Banyak alesan buat baca cerita ini.. Yang pertama ofc posternya. Minseok keren banget.. *cubitgemes* trus, main castnya Minseok ama Hani, couple yang ketemu di Crime Scene, dan cocok kok kalo di jadi in pair kayak gini.. Trus Lugal, yang aku ga tau apa dan bikin penasaran… Dan finalnya, the story.
    Ceritanya jjang banget… Temanya unik.. Eksekusinya juga dapet.. Berasa deg-degannya Hani pas di’senderin’ ama Minseok.. Hehe..
    Thank you, it’s so refreshing to be here.. Dan kenyataannya emang ‘rumah’ Liana ini nyaman banget buat didatengin… 😘

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s