EXO-N #7: Kesepian 40%

MILK

“Kau terburu-buru seperti petir, cahayanya yang penuh kenangan menerangi sekilas lalu membakarku hingga terasa sakit, tetapi kemudian kutemukan segelas susu dingin di dapur. Apa yang akan kulakukan?”

(EXO – Thunder x f(x) – MILK)

.

[Warning] Mention of alcoholic drinking and bar! This is surrealism; don’t think realistic!

***

Jongdae tidak akan lagi memesan Kesepian kalau pergi minum. Mencicipinya sedikit saja berefek lebih parah dari tequila dan vodka yang mengandung 40% alkohol. Lebih baik minum susu. Susu murni 100%. Bagus untuk kesehatan, bagus pula untuk jiwa yang terluka.

Mengapa bisa begitu rupa?

Pada suatu malam, Jongdae dan kekasihnya baru saja putus. Kata-kata setajam belati menusuk jantung masing-masing, api amarah membakar keduanya, dan di akhir hari, jantung mereka sudah tidak berbentuk lagi. Keduanya berjalan ke arah berlawanan, membawa emosi yang masih meledak-ledak, tetapi Jongdae, baru beberapa langkah, sudah menyadari bahwa ia sangat keliru dengan memutuskan hubungan. Gumpal-gumpal otot dalam dadanya berdenyut tak teratur, memohon agar Jongdae kembali dan meminta maaf pada gadisnya.

Jongdae tentu saja gengsi.

Maka, bukannya berbalik menuju sang mantan kekasih dan mengaku salah, malamnya Jongdae malah menikung ke bar, memesan sebotol Kesepian dengan kepekatan cukup tinggi. Jongdae bukan ‘peminum sejati’, tetapi dari testimoni orang-orang, ia tahu bahwa Kesepian lebih ampuh dari brandy dalam mengusir kepedihan. Merilekskan saraf. Menyembuhkan jiwa yang baru pecah berantakan.

Hal itu terbukti benar.

Beberapa menit sejak menandaskan isi sloki terakhir, Jongdae melangkah ringan ke lantai dansa, tanpa beban menggerakkan tubuhnya sesuai irama musik yang berdentum. Meski bukan penari terbaik dan pesonanya sudah menguap setengah akibat mabuk, daya pikatnya masih cukup besar untuk menawan satu-dua gadis di lantai itu.

Salah satunya Sunyoung.

Jongdae dan Sunyoung bertukar sapa saat jarak mereka telah terpangkas cukup banyak oleh dinamika lautan manusia di lantai dansa. Awalnya yang terjadi hanya transaksi senyum dan saling menyebut nama, tetapi keduanya menyadari bahwa tak satu pun dari mereka memiliki jantung yang utuh. Ya, jantung Sunyoung pun sudah berubah jadi serpihan. “Gara-gara pacarku,” ceritanya, “Dia membentakku: ‘lebih baik kita putus saja!’, seolah aku ini cuma pengganggu.”

Jongdae membulatkan bibir. Masalah mereka rupanya hampir sama. Melalui Sunyoung, si pemuda ikal memahami bagaimana seorang wanita bila dipatahkan cintanya dan jadi merasa bersalah. Jangan-jangan kekasihnya juga semenderita Sunyoung? Ah, tapi kekasih Jongdae tidak terlihat keberatan dengan keputusan Jongdae untuk menyudahi hubungan. Sebaliknya, sang mantan seakan mengharapkan itu terjadi; Jongdae masih ingat bagaimana sore ini, mantan kekasihnya bersyukur kepada Tuhan karena ‘telah lepas dari belenggu Kim Jongdae’. Apa-apaan?

Yah, walaupun demikian, sesungguhnya Jongdae menyesal sudah berbuat begitu kasar pada sang mantan kekasih.

Sedangkan Sunyoung mendadak terisak di dada Jongdae.

“Aku tahu aku salah dan harus memperbaiki diri, tetapi dia ‘kan tidak perlu membentakku begitu? Dia sangat mengerikan ketika sedang marah, Jongdae. Aku hanya berusaha melindungi diriku dari ketakutan dengan balik membentak, tetapi ….”

Kalimat ini tak selesai. Wajah Sunyoung yang sudah memerah sejak sebelum bertemu Jongdae kini dibasahi leleran peluh. Gadis itu terhuyung, mengeluh mual dan sakit kepala berat. Ini merupakan efek samping Kesepian (Sunyoung ternyata minum juga), memang agak lama munculnya, dan Jongdae pun mulai merasakan. Setengah sadar, Jongdae merangkul Sunyoung dan menariknya keluar bar. Telapak Jongdae yang hangat bergerak sirkuler di punggung Sunyoung selama si gadis memuntahkan seluruh isi lambungnya ke selokan terdekat.

Sesal kemudian memenuhi rongga dada Jongdae, mengaduk serpihan jantung yang terserak di dalamnya. Mungkinkah di tempat lain, kekasihnya yang jarang tersentuh alkohol itu mabuk berat karena stres dan pingsan akibat kadar Kesepian yang kelewat tinggi? Perlukah Jongdae mengunjungi gadisnya, sekadar memastikan bahwa si gadis baik-baik saja? Sayang, Jongdae tak bisa serta-merta meninggalkan Sunyoung; lagipula—gara-gara minum Kesepian—ia lupa di mana alamat kekasihnya.

Untuk menebus dosa, Jongdae memutuskan untuk mengurus Sunyoung dulu.

“Katanya efek Kesepian dapat dinetralkan dengan segelas susu,” ucap Jongdae di sela engahan; tubuhnya menyender di tiang lampu jalan karena segalanya tampak berputar, “Apartemenku tidak begitu jauh, kok. Ayo kita ke sana; aku baru saja beli beberapa kotak susu cair.”

Sunyoung pasrah. Ia sampirkan lengan rampingnya melalui leher Jongdae, terus ke bahu, sementara lengan Jongdae terlingkar di pinggangnya. Jongdae sangat tak stabil, tetapi entah bagaimana Sunyoung merasa aman. Paling tidak Jongdae berupaya menjaganya, tidak seperti sang mantan yang pasti akan menyuruh Sunyoung pulang sendiri karena ‘kau punya dua kaki dan tidak ada yang patah!’. Keterlaluan.

Yah, bukan berarti mantan Sunyoung tidak pernah manis. Memang pria itu tidak romantis, tetapi kalau sedang tulus, maka menggendong Sunyoung di punggung dari kantor sampai rumah pun tak masalah.

Sebenarnya … kekasih Sunyoung juga tidak jelek-jelek amat.

Kepala Sunyoung tersandar lesu di bahu Jongdae, diam-diam berharap bahu itu milik kekasih yang ia rindukan.

Adik Jongdae sedang mengikuti camp musim panas, sehingga apartemen Jongdae jadi sepi sekali. Hal ini bagus karena sang adik tidak perlu melihat Jongdae yang mabuk membawa wanita yang juga mabuk ke dalam rumah—sesuatu yang tak pantas ditiru. Niat Jongdae tidak buruk, hanya saja adiknya itu mulai dewasa, pikirannya suka lari ke mana-mana.

“Tunggu di sini.”

Setelah membaringkan Sunyoung di sofa ruang tamu, Jongdae susah-payah masuk dapur, mengambil dua gelas bersih (dan memecahkan satu akibat kelumpuhan koordinasi motoriknya) serta sekotak susu dari kulkas. Ia lega sekali ketika menghempaskan pantat ke sofa; akhirnya bisa duduk. Bersama Sunyoung, ditandaskannya cairan putih dingin yang mengisi gelas untuk menenangkan badai di perut dan kepala.

Juga hati.

Seteguk, penglihatannya menjadi bening, tanpa bintik, tanpa kunang-kunang. Dua teguk, segala racun Kesepian dalam pembuluh darah seakan terbilas, menyegarkan. Tiga teguk, serpihan jantung dalam rongga dada lengket dengan satu sama lain, menyatu kembali dan hampir utuh. Empat teguk, kenangan-kenangan pahit hilang, menyisakan mimpi-mimpi indah yang diukir bersama dengan orang tercinta.

Lima teguk.

Jongdae dan Sunyoung meletakkan gelas mereka yang tinggal dibasahi selajur warna putih. Wajah mereka masih bersemu merah, kali ini bukan karena mabuk, melainkan karena malu. Kontak mata tidak segera diputus, dua jantung yang utuh kembali berdetak gugup.

Tak lama setelahnya, Jongdae terkekeh.

“Mengapa kita bodoh sekali?” tanyanya tanpa perlu dijawab, “Baru putus sehari sudah separah ini sampai-sampai minum sebotol Kesepian dengan konsentrasi tinggi. Bukankah semestinya kita saling jujur dari awal daripada mabuk tak karuan begini?”

Sunyoung tertunduk, setengah hidup menahan rasa ingin mengubur diri. Maksud Sunyoung, seseorang bisa mabuk, tetapi bahkan orang yang mabuk mengenali mantan kekasihnya sendiri—dan dia tidak! Oh, bayangkan, selama mabuk tadi, Jongdae terus berada di sampingnya, mendengarkan keluh kesahnya tentang ‘mantan kekasih’ yang sebenarnya adalah Jongdae sendiri!

“Jadi …”

Beranjak dari sofanya, Jongdae menghampiri Sunyoung dan menghapus sisa susu di bibir gadis itu dengan ibu jari. Sisa tawanya menjelma menjadi senyum tipis yang memaku Sunyoung di tempat.

“… kita baikan saja, ya?”

Sunyoung ingin diam. Atau menolak. Jual mahal. Berusaha tidak peduli untuk menunjukkan betapa kecewanya ia akan sikap Jongdae sore ini. Akan tetapi, setiap ingatan tipis mengenai apa yang Jongdae lakukan untuknya dari bar hingga apartemen membuatnya tidak bisa menggeleng atau berkata tidak.

“Kita mulai lagi, Dae, dan kali ini lakukan dengan kesadaran penuh.”

***

Jongdae tidak akan lagi memesan Kesepian 40% kalau pergi minum. Tidak akan lagi—karena mencicipinya sedikit saja berefek sangat fatal. Kesepian membuat Jongdae jujur tetapi mabuk, sedangkan Sunyoung tidak mau dicintai dalam keadaan setengah bermimpi.

TAMAT

Advertisements

16 thoughts on “EXO-N #7: Kesepian 40%

  1. Hm,, Chen dan Luna.
    Aah.. ternyata oh ternyata..lo lagi, lo lagi hahaha…
    Oke, pernyataan tentang: Jongdae dan menari, seingatkku Jongdae yang itu memang hmm.. agak payah soal menari #piss, oopss.. apakah sudah ada perbaikan?
    Dan… I wanna give an applause for kebaikan susu murni! Plok..plok.. plook.. susu murni emang efeknya dahsyat banget.. dari bisa bikin mabuk ilang.. ampe bikin hati yang patah tersambung lagi, dan (yang ini paling dahsyat) bikin 2 orang mantan jd balikan lagi.. widiiih..
    Anyway.. it’s so sweet but I can handle it well.. and yes, I need sweet thing in enough porpotion like this one.
    ‘Key, approve!
    Selamat kaliaan… hehe..

    Like

  2. Puk puk Chen sama Luna baru putus. Tapi akhirnya balikan juga gara-gara minum susu murni XD
    Ga ada komentar tentang diksi. Selalu bagus dan mengalir/? Aku jadi sedih karena diksiku kabur semua gatau ke mana 😥
    Keep writing yak! ^^

    Like

  3. HAHAHAHA HAI LIANAAAA
    aku sedang berusaha balik ke peradaban nih setelah selama ini tinggal di goa dan cuma kenal jongin ehehehehe

    ini lucuuu, seger, konyol, romantis. aku udah nebak nih pasti ketemu mantan masing masing deh eh bener kan hahaha. kupikir surealisnya bakal berat eh taunya cuma simbolisme kesepian doang yha hehe

    sejujurnya teori susu itu mirip sama salah satu ffnya dira hanggukffindo yg castnya sehun abis patah hati juga. tp beda sih pengerjaan sama plotnya jadi gak usah khawatir

    maaf ya komennya pendeek keep writing lianaa 🙂

    Like

  4. Halo, Kak. Kayanya kita udah pernah kenalan, tapi kok kayanya juga belum pernah ya😂😂

    Ini ceritanya bagus kaa. Diksinya kakak ituloh :””) Loh sampe aku gatau mau komen apa lagi😂😂 Maapkeun kalo komenanku pendek plus spam dan nggak mutu. Hehe.

    Keep writing kaa💞

    Like

  5. Eyaaakk~ biasanya yg gini2 lagi kesepian bin galau tak ada sang pujaan hati menemani diri ini (halah)

    Tapi idenya lucu dan bahasanya juga so ucul bekos ku juga serada suka genre surreal~
    Tapi jujur saja ku dah nebak kalo sang mantan itu sebenarnya si Luna/Chen sendiri wkwk still good tho and keep writing kaka~~

    Btw, sebenernya Luna itu chara kakak kan yaa? Wkwk

    Liked by 1 person

  6. aku juga gk mau dicintai JD dalam keadaan setengah bermimpi
    baru tau susu murni bisa bikin mantan balik lagi, harus sering2 minum susu murni kalo gitu *edisibaper
    aku gk bisa konsen Li baca fict ini, gr2 keinget tadi diasian song festival JD pake kaoskaki kebalik *hhuuwwaaa
    serasa pengen kesana benerin kaoskakinya dia *siapaelo
    yasudah lah chen luna makin hari makin manis aja
    keep writing yya Li, maafkan komen gk mutu ini 😦
    bubye ❤

    Like

    1. kak dila jangan baper :p
      dan SUMPAH MAS JONG KAOS KAKIAN KEBALIK aih siapa sih yg masangin?
      gapapalah, walaupun kaos kaki kebalik yg penting tetep ganteng dan suaranya tetep cetar X)
      makasih udah mampir kak!

      Like

  7. LOH YAAMPUN!! aku mikirnya udah ke mana-mana coba. masa kukira mantannya jongdae sama mantannya sunyoung tenryata ada apa-apanya. terus akhirnya yaudah lah jongdae-sunyoung jadian aja wong sama-sama ditinggalin eh taunyaaaa xD

    yaampun aku udah sok serius mau nebak ini surrealnya di mana, taunya di bagian mereka mesen Kesepian itu yaaa hehe. lucu ceritanyaaa hehehe. keep writing lianaa. maaf komen aku gak mutu gini x(

    Like

  8. OH My, hahahahaha, plotnya nipu banget ya. salah aku gak tau lagi kalo nama aslinya Luna itu Sunyoung.
    Jadi daritadi Luna marah2 itu live di depan mantannya sendiri gitu? Wah daebak kamu Li. 😀
    kisah cintanya Abang Jong memang selalu antimainstream, hahahaha,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s