Cak Di

Cak, dalam bahasa Jawa (terutama di Surabaya), merupakan panggilan untuk laki-laki yang lebih tua, seperti ‘kakak’ atau ‘abang’.

Cak Di. Kedengarannya mirip nama tukang bakso keliling yang jadi penyedia logistik utama anak kos. Pakaikan saja pria ini kaus tua yang agak kusut, celana pendek, topi lusuh, dan sandal jepit; jangan lupa gerobak isi daging bulat-bulat untuk dijajakan—maka jadilah ia pujaan siswa-siswa perantau berkantung tipis yang ingin makan murah. Dengan kepribadiannya yang ramah, santun, plus muka bulatnya yang senantiasa menampakkan ekspresi menyenangkan meski dihias keriput, dagangannya dijamin laku keras.

Tapi tidak.

Pria di hadapanku ini tidak sedang memakai kaus kusut, topi lusuh, atau mendorong gerobak bakso. Dengan seksama, ia memperhatikan presentasiku tentang penilaian biomarker tumor untuk memperhitungkan prognosis pasien kanker paru. Rasanya aku ingin mati saja setiap ia menanyaiku hal-hal baru yang sama sekali tidak dibahas saat bimbingan skripsi. Bukankah sebelumnya ia sudah sepakat untuk tidak menerorku begini?

“Bagaimana implikasi dari penelitianmu di rumah sakit? Jika penelitian ini digunakan untuk mengetahui prognosis saja, apakah berpengaruh pada pemilihan regimen terapi?”

Tiga puluh menit dan ini pertanyaan pamungkasnya (akhirnya muncul juga pertanyaan mudah!). Samar kuhembuskan napas lega; kujawablah pertanyaan ini sesuai apa yang sudah dilatihkannya padaku ketika bimbingan. Dia tersenyum tipis dan kudapati kejahilan dalam senyum itu. Argh, jadi dia cuma mau mengerjaiku menggunakan pertanyaan-pertanyaan horor tadi?!

Yah, tapi kalau orang pandai sih terserah, bebas berbuat apa saja pakai ilmunya.

Keluar dari ruang ujian skripsi, Cak Di menepuk puncak kepalaku—yang masih lebih rendah dibanding puncak kepalanya. Heran, kenapa pria ini bisa sebegitu tingginya?

“Kerja bagus, Dika. Takenteni revisimu Senin isuk.[1]

Aku mengangguk, berterima kasih. Seumur-umur tidak pernah aku merasakan sentuhan bersahabat seorang pria tua yang senyaman milik Cak Di (bahkan tidak dari ayahku sendiri yang dipanggil Tuhan sebelum aku lahir). Kadang aku berpikir, beginikah rasanya seorang anak lelaki yang dipuji ayahnya? Hei, jelas aku akan sangat senang kalau Cak Di sungguhan jadi ayahku…

…tetapi untuk sekarang, Cak Di menjadi dosen pembimbing sekaligus penguji skripsiku saja sudah cukup. Dia telah mengajariku banyak hal, walaupun baru satu setengah tahun aku mengenalnya melalui bimbingan tugas akhir.

Di antara pelajaran yang banyak itu, antara lain, adalah kerendahan hati.

Dan bersikap santai pada semua orang, setinggi apapun ilmu yang dipunyai.

“Ya, Cak—maksud saya, Prof. Terima kasih untuk hari ini.”

Dia tertawa karena aku keceplosan; beruntung dosen lain tidak mendeteksi ketidakpatutan bicaraku ini. Apa boleh buat, dia sendiri yang minta dipanggil begitu setiap tatap muka untuk konsultasi; ‘kan aku jadi kebiasaan.

Setelahnya, Cak Di bergabung dengan dosen lain yang sudah lebih dulu masuk lift. Aku tidak ikut masuk ke sana karena harus berbelok ke sekretariat eksekutif mahasiswa. Sekilas kutangkap kilauan tanda pengenal Cak Di sebelum berbalik menjauhi lift. Di sana tertulis:

Prof. Dr. dr. Diandra Wijaya, SpPA(K)

Cak Di, bagiku, bukan sekadar pendidik, tetapi inspirator. Suatu saat, aku akan menyusulnya, mengatakan bahwa Muhammad Ardika, ‘si ceking kurang protein’ ini—begitulah dia biasa mengataiku sambil bercanda—bisa menjadi ahli patologi anatomi yang sehebat dan sebaik dirinya.

TAMAT

.

.

.

.

.

[1] Jawa: saya tunggu revisinya Senin pagi.

Advertisements

7 thoughts on “Cak Di

  1. Yey, liana bikin orific yey…
    Ku kan jadi baper karena ku juga sudah mulai menyongsong sekeripsi, hiks.
    ((Berharap bgt dpt pembimbing+penguji kyak cak di))

    Ah, keren lah ini li…. meski fic aku gatau apa2an soal patologi-anatomi-yang-bisa-bikin-kepala-mendadak-botak…
    janjangan liana ahli patologi anatomi ya?

    Like

  2. AHHHH ORIFICNYA KEREN KAK LIANAAAA, SUKAA! ♥

    Aku demen banget sama gaya bahasanya yaampun gatau kenapaa. Temanya juga ttg revisi2 skripsi, aku jd inget pas papa aku bimbingan skripsi dan aku nungguin sampe bosen stgh mati duhh mana hampir setiap minggu revisii

    Sukaa! Semangat terus ya kak nulisnyaa! 😀

    Like

    1. halo evelyn *big hug
      lagi sibuk banget ya? gapapa gapapa santai, udh kelas akhir ya mbak? *inget Li kamu juga smt 7 kuliah ini *maap
      soal revisi skripsi…. kalo buat kamu tunggu tgl mainnya saja hahaha *ketawa evil
      makasih sdh mampir lagi!

      Like

  3. Aku baru mampir ke sini. Halo kak! Hahhaa
    tertarik sama orificnya dan, ya ampun, biomarker tumor? Itu utk skripsi? Salut dah.. aku aja buat skripsi nya standar banget =_=

    Aku lagi ngincar tema2 medical, udah lama nggak baca..dan taraa, kyknya di sini bakal nemu banyak.

    Salam kenal dan trimakasii buat ceritanya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s