f(4) #4: X

tumblr_nwmn72AYmI1qbgdrko1_500

a tracklist fic of f(x) 4th album ‘4 WALLS’ by Liana D. S.

#4. X

starring

f(x) Luna (Park Sunyoung) and EXO Chen (Kim Jongdae)

genre Dystopian Romance duration Ficlet (600+ words) rating Teen and Up

.

.

Chemical-X. Sekali terpapar tidak akan dapat pulih selamanya.

Bahan kimia itu mencemari air di saluran kota sejak 4 bulan lalu, saat kontrol terhadap industrialisasi (termasuk dalam hal pembuangan limbah) menurun drastis. Siapa menyangka sampah berkonsentrasi rendah yang dianggap tidak berbahaya ini mampu menyebabkan mutasi neuronal pada 75% populasi? Dan terus bertambah. Kota digerogoti wabah aneh yang tidak dibawa agen biologis. Orang-orang bermental kacau tumpah ke jalan: kadang hanya melangkah lesu tanpa tujuan jelas, kadang meneriakkan sesuatu tanpa makna, kadang menggigit yang lain sehingga penyakit tersebar makin luas. Dalam seratus hari, otak manusia-manusia yang ‘berubah’ ini akan rusak total, dan keluaran selanjutnya sangat mudah diprediksi.

Di tengah situasi yang sedemikian degeneratif, Park Sunyoung bertemu dengan Kim Jongdae.

Saat itu, Sunyoung terjebak dalam kepungan mayat hidup, penderita Sindroma X yang hendak mengajaknya ‘berteman’. Lantaran pada dasarnya, gadis itu tidak ahli menggunakan senjata, ia menembak sembarangan menggunakan Glock-17 warisan mendiang ayahnya demi membuka jalan keluar dari kerumunan. Tentu saja sia-sia; jumlah musuh yang dihadapinya sama sekali tak sepadan. Beruntung, sebuah ledakan berhasil membuka satu sisi lingkaran. Corvette tua yang tampak tak terawat menerobos masuk, berhenti tepat di depan Sunyoung, dan pengemudinya—Jongdae, si pelempar peledak—memerintahkan Sunyoung segera naik.

Jongdae menolong Sunyoung dari kesepian abadi, karena itu Sunyoung sangat bersyukur bertemu dengannya.

Memang Jongdae bukan tipe Sunyoung—karena tulang pipi menonjol ‘mengurangi poin visual’, menurut si gadis—tetapi seiring waktu, Sunyoung berubah amat menghargai Jongdae, begitu pula sebaliknya. Semula Sunyoung memandang Jongdae sebagai orang aneh yang diselamatkan Tuhan dari Sindroma X, sementara Jongdae menganggap Sunyoung adik kecil penakut yang sok berani dan gegabah. Namun, Sindroma X telah membuat mereka kehilangan orang-orang tercinta, menorehkan sejarah pahit, dan masing-masing mereka saling berusaha mengisi ruang kosong yang ditinggalkan. Kendati lelucon berlebihan dan pertengkaran tak penting kerap menyisip di antara mereka, sesungguhnya terlambat untuk menghilangkan ‘perasaan tak diundang’ yang sudah berakar kokoh jauh di lubuk hati. Sunyoung yang tidak mendengarkan lelucon Jongdae atau Jongdae yang tidak dicereweti Sunyoung tak ubahnya penderita Sindroma X: hampa. Perpisahan di antara mereka terlarang, sehingga mereka masih melangkah beriringan hingga detik ini.

Jongdae dan Sunyoung akhirnya berhasil menembus area isolasi, sekitar 20 kilometer lagi menuju kebebasan sejati. Sunyoung mengungkapkan berbagai rencananya dengan penuh semangat selagi Jongdae menyimak. Jeda sejenak; Sunyoung mengatur napas sambil tertawa malu setelah ditegur Jongdae—‘kalau cerita santai saja, aku masih bisa mendengarmu, kok’—dan selanjutnya, si gadis merasa jemarinya ditautkan dengan jemari kurus yang lebih besar. Milik Jongdae. Ritual malam sebelum tidur ini biasa saja jika tidak ada logam dingin memisahkan tangan Sunyoung dari Jongdae.

Pistol.

“Untuk apa ini?”

“Untukmu bertahan, Sunyoung-ah.”

Sunyoung meminta penjelasan lebih. Nihil hasilnya. Tangan Sunyoung masih Jongdae genggam, dekat dengan jantung, ketika pria itu mendahuluinya berlayar ke alam mimpi. Bahkan detak jantung Jongdae bagai irama pengantar tidur bagi Sunyoung kini; tanpanya mana bisa Sunyoung terlelap?

Namun, esok harinya, detakan menenangkan itu lenyap bersama segala senyum dan akal sehat Jongdae.

Pagi, Sunyoung tersentak bangun karena tahu-tahu, Jongdae mencekiknya. Tak tersisa sedikitpun kelembutan dan pengampunan pada mata Jongdae yang biasa berbinar. Susah-payah Sunyoung melepaskan diri dan menyambar pistol yang semalam Jongdae titipkan.

Alasan di balik permintaan Jongdae semalam telah tersaji gamblang di hadapan. Telunjuk Sunyoung melingkari pelatuk. Beku. Timah panas tertahan dalam magasin.

Perjuangan ini harus kuakhiri dengan gemilang.

Akan kubunuh Jongdae.

Dan sendiri lagi?

Nyatanya, Sunyoung tidak mampu melawan hukum tak tertulis mengenai mereka berdua, bahwa perpisahan merupakan larangan. Senjatanya tergeletak begitu saja di tanah, Jongdae merobohkannya tanpa peringatan, dan tak lama berselang, leher si gadis mengucurkan darah, membentuk jalur-jalur merah, menodai sisi bibir Jongdae pula.

Persetan dengan Chemical-X yang dapat meresapi kulit melalui paparan saliva dan tidak ada antidotnya.

Lebih baik Sunyoung sakit selamanya ketimbang melepaskan Jongdae dan kembali merasakan siksaan kesepian.

TAMAT

Advertisements

13 thoughts on “f(4) #4: X

  1. Halo kak, kakak kayaknya seneng bawa dystopia (terus ini ngingetin aku sama zombie apocalypse LOL), menurutku sulit juga nulis yang temanya gini.

    Awalnya manis-manis gitu, terus kebawah pembawaannya makin mellow, aku pikir Chen bakal ngelindungin Luna terus mati gimana. Ternyata dia jadi mutan juga ya? :”” Terus kok dia bisa gitu kak? (Maaf ya, ada dan aku tidak memerhatikan huft)

    Anyway, aku suka sama tulisan kakak, fleksibel banget. Mau berat bagus, manis okay, terus berhubungan sama kedokteran juga bisa 👍👍 Keep writing kak 🙂

    Like

    1. aduh sher aku mah ga begitu fleksibel sebenernya krn aku stuck to romance heu. coba bikin friendship, apalagi girlband member, pasti ga ada yg baca hiks.
      anyway, itu luna kan digigit, jadi dia kyk ketularan zat kimia X dalam badannya jongdae gitu lah. utk mekanismenya aku blm neliti :p
      makasih sdh mampir sher!

      Like

  2. Aih sedap sekali ini genre nya, serada berat tapi ada manis dan ngilu2nya hahay.
    Trus kata2 ‘Sunyoung yang tidak mendengarkan lelucon Jongdae atau Jongdae yang tidak dicereweti Sunyoung tak ubahnya penderita Sindroma X: hampa.’ Itu astaga jedus2 gitu aku suka feelsnya~
    Sama ‘kalo ngomong santai aja, aku bisa dengar kok’ ih dasar si jongdae ini gemar sekali bermanis2 mulut. Dan yang terakhir2 pas tidur juga romantis meski berakhir tragis huhu why twist : (
    semangat nulis terus kak!

    Like

    1. hai puti, aduh maaf telat banget TT wah aku kalo feel chenluna selalu berhasil kayaknya tapi pair lain tidak wkwkwk harus latihan dulu nih nulis romance sepertinya :p duh sejujurnya aku blm nemu expert di genre apa, kalo puti kan udh jelas: comedy nyahaha
      makasih udah mampir ya!

      Like

  3. Kak Li💞

    Yaampun si Luna pengorbanan banget, tapi kenapa Chen kek gitu 😦 Kak prequelnya dong hehe. Aku penasaran sama masa lalunya Luna dan Chen. Chen jangan-jangan udah jadi zombie?

    Btw, ka aku fans tulisan kakak hehe. Keep writing kak💞

    Like

  4. whaa zombie!! salah satu genre film yg paling aku gasuka HAHAHAHA. dih di dunia ini kalo ada hal yg aku benci 1. silent readers, 2. zombie HAHAHAHAHAHA

    oke balik ke komen, aku baru ini memperhatikan detail tulisan liana, cenderung deskriptif ya dan dikit dialognya. untungnya diksinya ringan sih jadi aku suka hehehe, gak bikin mikir yg berat berat karena kalo dikit dialog tapi diksinya berat bikin pusing heuheuheu.

    anw aku mau komen masalah penulisan angka dan pun yg sering banyak salah aku temui. buat angka, seandainya dibacanya masih satu kata ditulisnya pake huruf li (misal: empat), kalo lebih dari satu kata baru pake angka kecuali di awal kalimat. detailnya dicek di sini deh https://id.wikisource.org/wiki/Pedoman_Umum_Ejaan_Bahasa_Indonesia_yang_Disempurnakan#I._Angka_dan_Bilangan

    trus penulisan pun juga harusnya dipisah, karena pun itu satu kata utuuh yg bisa berdiri sendiri. kecuali di beberapa kata yg lazim dianggap padu, detailnya dicek di sini https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Pedoman_ejaan_dan_penulisan_kata#Penulisan_kata poin 8.

    beberapa kali kalo aku gak salah sih yaa, aku juga nemu salah penulisan di mana dan dimana tp di sini gak ada jadi aku gabisa ngasih contoh. lain kali aja ya, semoga sih udah gak ada salahnya.

    semangat liana :))

    Like

    1. right. makasih koreksinya kak put sudah kuampirin tautannya ^^ dan SERIUS KAK ‘DIMANA’ PERNAH MUNCUL DI TULISANKU ya maaf saya heboh sendiri soalnya kesalahan macam ini paling kuhindarin argh
      ya sudah kak, lain kali kuperbaikin lagi dan terima kasih udah mampir!

      Like

  5. Halo… sepertinya daku baru disini salam kenal yah 🙂
    Sedang cari bahan bacaan dengan genre dystopia dan nemu ini deh. Secara keseluruhan aku suka deh. Di awal cukup keren menjelaskan apa yang terjadi dengan adanya pandemik yang melanda dunia, sunyoung jadi salah satu orang yang bertahan trus ketemu sama jongdae yang punya nasib serupa tapi endingnya kok sunyoung ngalah gitu aja padahal tembak aja tuh jongdae kan tinggal dikit lagi keluar daerah isolasi…ah~cinta emang sulit kayaknya hhaha
    Thanks for sharing ^^

    Like

    1. hai ^^ kyknya kamu penulis fiksi asli ya, wah seneng bgt kedatengan pembaca di luar fandom, soalnya ini kan fanfiksi hehe. first attempt nulis dystopian romance, syukurlah kalo suka ^^ makasih sdh baca!

      Like

      1. hhaha, dulu aku juga nulis ff tapi sekarang secara paksa berhenti dan baru mau mulai belajar nulis-nulis lagi ^^
        start yang bagus buat first attempt, yo! semangat project lanjutannya

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s