EXO-N #11: Altar Hell

canadaline normalside

“Insting yang tak dapat disembunyikan, kau tahu aku akan melepas hewan buas!”

(EXO – Let Out The Beast)

.

.

[SM Canadian-line feat Jessica Jung, longshot (2,1K+ words) beware! Family-Fantasy-Vampire-Bloody Scene-Teen and Up]

 but not exactly ‘Let Out The Beast’ songfic. Ini ditulis waktu mendengarkan lagu Kanon Wakeshima, ‘Suna no Oshiro’ diulang satu. (And yeah, heavily based on VampireKnight!AU by Matsuri Hino)

.

.

Belahan jiwa.

Apa itu? Bahkan jiwa adalah benda yang tak mewujud, meski hadirnya bisa dirasakan. Mana mungkin jiwa dapat dibelah, kemudian belahannya itu dilempar ke tubuh lain dengan sebuah tali merah yang mengikat keduanya agar bisa menyatu kembali? Trivial. Palsu. Dongeng anak kecil begitu cuma mempan buat Mark dan bukan buatku.

Tapi kisah Henry yang terdengar seperti omong kosong itu kini menjadi nyata di hadapanku.

“Jangan cemberut, Wendy. Malah kau harus senang karena anggota keluarga kita bertambah satu.” Henry di sebelahku berucap, senyum menjengkelkan itu masih terkembang di wajahnya. Aku bersilang lengan di bangku keluarga pengantin pria, tidak mau bicara pada siapapun saat ini. Maksudku, ayolah, Henry toh saudara Kris juga; mestinya dia tahu bagaimana sakitnya ditinggal menikah saudara yang amat disayangi. Kris seperti figur ayah bagi kami, termasuk buat Henry kakak tertuaku yang aslinya tiga tahun lebih tua dari Kris (jangan lihat mukanya, kalian pasti terkecoh), sementara Henry lebih seperti ibu. Lihat betapa cerewetnya dia yang terus memintaku tersenyum untuk menyambut Jessica, belahan jiwa Kris, dalam keluarga kami.

Belahan jiwa.

Kalau jiwa Kris terbelah, kepingannya pasti ada di tubuhku, Henry, dan Mark adikku, bukan pada desainer amatir yang numpang bekerja di perusahaan tekstil Kris itu!

“Hoo, lihat, lihat!” Mark menyikut-nyikut rusukku; padahal sebelumnya dia berada di pihakku, tetapi dasar Jessica sial, dia menyuap Mark pakai lolipop butterscotch, sehingga sekarang Mark ikut antusias mengawasi prosesi sakral ini, “Sebentar lagi Kris dan Jessica ciuman!”

Segera saja kupiting bocah itu kesal.

“Bisa-bisanya kau merelakan kakak kita yang paling berharga sedunia direbut sama penyihir jahat itu!!!”

Teriakanku agaknya terlalu keras sampai Kris, yang sebelum ini sudah menangkup wajah Jessica dan bersiap mengecupnya, menoleh ke arahku.

Sejenak irisnya berkilat merah.

Tepat waktu.

Aku menjauhkan diri dari Mark—dan sandaran kursi di belakangku retak sedikit.

Jessica terbelalak, ia balikkan tubuh Kris menghadapnya dan berbisik entahlah, tetapi Kris menghembuskan napas lelah setelah itu dan menatapku lagi. Ada rasa bersalah dalam maniknya yang kembali hitam, sekaligus peringatan agar aku tidak mengacau lagi. Kontan aku menunduk, takut. Begitulah Kris; tanpa kata pun, ia telah mampu mengendalikan kami semua. Kekuatan itu, bagusnya, tidak digunakan berlebihan; kalian ingat sandaran kursi yang retak tadi, juga irisnya yang memerah? Kris bisa menghancurkan seluruh bangku di gereja ini dalam keadaan itu jika ia berkenan.

Tapi nyatanya ia hanya memperingatkan kami untuk tidak menginterupsi.

Sial. Sikap baiknya itu membuatku makin enggan melepasnya pada Jessica.

Leherku tercekat ketika bibir Kris dan Jessica bertemu, seolah mereka berdua saja yang ada di depan altar. Dari cara Kris memejam lembut bersama Jessica, menikmati momen mereka berdua, aku bisa merasakan betapa pekatnya cinta dalam atmosfer di antara mereka. Padahal sebelum ini, yang Kris nikmati adalah waktunya belajar memasak dengan Henry. Mengiringiku bernyanyi dengan cello raksasanya di rumah. Membantu Mark mengerjakan PR. Kesenangan bersama kami itu pasti tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan kebahagiaan yang ia dapat dari Jessica.

Tanpa sadar, kugigit bibir bawahku iri.

Aku tentu tidak bisa mencegah Kris mencinta lantaran sebagian besar waktunya tidak pernah benar-benar untuk dirinya sendiri, melainkan untuk keluarganya. Aku. Henry. Mark. Dan sekarang, dia ingin waktu menyenangkannya tidak terusik. Kris sangat menyayangi Jessica, terlihat dari sorot mata teduhnya yang terus jatuh pada setiap lekuk wajah wanita itu. Kakakku akan melupakan kami bertiga dan Jessica berhak egois untuk menguasainya secara penuh.

Entah mengapa, mataku terasa panas, terlebih saat pendeta menutup prosesi pernikahan ini.

Mungkin… pada akhirnya aku harus rela bilang… ‘Selamat datang, Jess—

***

“Wendy, Mark, menunduk!”

Henry menyurukkan tubuh kami berdua ke bawah kursi. Aku urung protes meski kepalaku sakit sebab seberkas cahaya ungu melintas tepat di atas kami. Jantungku seolah berhenti berdetak; aku kenal betul cahaya itu!

“Kris, bagaimana dia?” tanyaku panik, ingin berdiri tapi Henry mencekal tanganku. Dialah yang melongok untukku, mengecek situasi.

“Dia baik-ba… whoa!”

Sebuah senjata bintang nyaris menancap ke tenggorokan Henry kalau refleksnya tidak bagus. Dia tampak tak senang ketika senjata ninja film kartun itu terus melayang ke arahnya, jadi seperti Kris…

…irisnya pun memerah.

Senjata-senjata itu hancur menjadi debu logam.

“Jessica Jung, kau pengkhianat!”

Berbagai suara yang berasal dari depan pintu kapel mendengungkan satu kalimat ini berulang-ulang. Siapa mereka? Andai tangan Henry tidak terus menahanku di bawah kursi, pasti aku sudah mendongak dan meremukkan tulang orang-orang itu satu persatu. Biarpun aku tidak suka Jessica (atau belum… yeah, terserah), tuduhan tidak berdasar seperti ini sama sekali bukan gayaku!

Keletak-keletuk sepatu hak tinggi Jessica menggema di kapel yang mendadak sepi.

“Pengkhianatan apa yang kau maksud ini, Pimpinan? Aku ‘kan hanya menikah, bukan keluar dari Asosiasi.”

“Selain itu,” –Oh, suara berat ini milik Kris—“ada isu beredar di kalangan kalian bahwa Jessica tidak bersedia membunuh vampir dalam daftar buronannya, yaitu aku, dan isu ini sengaja disebarluaskan supaya kalian bisa menghentikan pernikahan ini. Namaku memang tidak ada dalam daftar buronan, jadi aku harap kalian bisa mundur dan membiarkan kami meneruskan.”

Beberapa anggota kelompok itu berbisik-bisik sendiri, terutama yang di baris belakang—kelihatannya mereka paling pengecut, komentar Mark. Hah, mestinya ucapan Kris bisa menciutkan nyali mereka!

Pemimpin kelompok itu, sayangnya, keras kepala sekali. Aku berhasil mengintip sedikit dari bawah kursi bersama Mark dan kulihat si pemimpin mengarahkan pistolnya pada kakak keduaku.

“Kris Wu, bersalah atas pembunuhan darah murni dari klannya sendiri, Klan Oh,” –Hah? Itu lebih omong kosong dari dongengnya Henry!—“maka sudah pasti kau masuk daftar buronan kami karena telah merusak kedamaian di kalangan vampir. Dengan tidak membunuhmu, Jessica Jung mengkhianati sumpahnya kepada kami, karena itu hukuman yang ia terima akan lebih besar.”

Kelompok di depan kapel mulai melangkah masuk, masing-masing mengeluarkan berupa-rupa senjata—semuanya senjata pembunuh vampir—dan bahkan, si pemimpin sudah menembak! Cahaya ungu itu lurus… menembus…

“Kris!”

Henry membekapku, tetapi terlambat. Para pemburu vampir itu telanjur mengetahui keberadaan kami bertiga.

“Ada vampir lain, ya?”

Jessica, yang baru memotong jalur cahaya ungu itu menggunakan pedangnya untuk melindungi Kris, maju lebih jauh menghadapi anggota asosiasinya sendiri.

“Jangan. Dekati. Mereka.”

Dia terdengar sama marah dengan Kris ketika menyuruh orang-orangnya menjauhi kami.

Dan aku benci mengakui ini—aku cukup tersentuh karenanya.

“Whoa, whoa, tenang, Teman-teman!” Henry tiba-tiba berdiri, dengan gaya konyolnya mengacungkan tangan ke dua sisi, berusaha melerai, “Iya, iya, aku ada di sini, main petak-umpet sama kedua adikku di bawah bangku, tetapi tidak ada pertumpahan darah, oke? Ini pesta pernikahan; kalau kalian mau makan-makan di tempat kami, gratis, kok! Nanti malam kalian bisa datang ke acara resepsi!”

Aku dan Mark saling memeluk di bawah bangku. Henry kadang tidak pandai mencairkan suasana, makanya aku khawatir. Semoga leluconnya tidak memperparah ketegangan ini…

.

.

.

.

.

“Tentu saja tidak ada pertumpahan darah. Bukankah darah murni akan melebur dan hilang setelah mati?”

.

.

.

.

.

Dor!

“Argh!!!”

Trang! Trang!

“Wendy…. Wendy, apa yang terjadi? Henry, Kris, Jessica…” Mark menggumam takut dalam dekapku.

Aku harus menjawab apa, Adikku?

Jessica menebasi kawannya sendiri dengan pedang anti-vampirnya—yang juga mematikan manusia biasa.

Kulit pucat Henry hampir tidak tampak lagi, tertutup warna merah pekat di sekujur tubuh akibat cakar dan taringnya yang merobek para pemburu vampir itu.

Kris—jangan tanya padaku. Sejak pemimpin kelompok mengancam akan membunuh kita secara tersirat, Mark, beberapa anggota kelompok telah ia habisi menggunakan kekuatan mengerikan yang ia bilang tak akan dilepas, jauh lebih besar dari kekuatan peretak sandaran kursi tadi. Warna merah pun nyaris menodai seluruh pakaian pengantinnya.

Aku menganggap pernikahan Kris dan Jessica mimpi buruk, tetapi menyaksikan Kris, Henry, bahkan Jessica rela bermandi darah demi melindungiku dan Mark…

…terpaksa kutarik kembali kata-kataku.

Pertarungan inilah neraka yang sesungguhnya!

“Ha, ketemu dua ekor!!!”

Aku terbelalak, Mark menahan napas ngeri.

Seorang dari pemburu vampir menemukan kami!

Tekanan emosi tiba-tiba yang sangat hebat memicu kekuatanku untuk keluar. Mataku berdenyut nyeri dan seluruh pandanganku memerah. Telingaku berdenging, berusaha melawan dorongan dari dasar jiwaku yang mulai berubah menjadi bisikan untuk membunuh. Tidak bisa! Bagaimanapun, tugas membunuh hanya untuk Henry dan Kris apabila diperlukan.

Aku. Tidak. Boleh. Membunuh!

Crash!!!

Spontan iris mataku kembali mengabu. Pria jahat di depanku terbelah dua—

–oleh pedang Jessica.

Wanita itu tersenyum padaku.

Kontras dengan penampilannya yang berantakan dan seram, senyum yang terulas di bibirnya kurasakan amat menenangkan.

“Jangan cemas, Wendy. Mark, kau juga. Ini akan segera berakhir.”

Aku dan Mark hanya mampu mengangguk hampa.

Seluruh pemburu vampir yang menyerbu kami sudah berubah menjadi setumpuk pasir kecuali satu. Si pemimpin kelompok. Ia hampir dipenggal oleh Jessica, tetapi Kris mencegah. Ia menghampiri sang pemimpin yang sekarat, lalu meremas kepala pria itu tanpa ampun. Satu jeritan ngilu lolos dari si pemimpin sebelum melebur sebagai ribuan partikel halus di tangan Kris.

“Kau mendapatkan sesuatu dari otaknya?” tanya Henry, tidak sedikit pun memuat canda. Kris mengiyakan. “Orang-orang ini bisa jadi dimanfaatkan Sehun untuk menghabisiku. Pikiran mereka benar-benar terdistorsi, sehingga kasus pembunuhan Klan Oh yang tak pernah ada itu tertanam dalam ingatan mereka sebagai suatu peristiwa besar. Cerdik juga Sehun memanipulasi mereka, tetapi lebih baik buatnya menghadapiku langsung,” Ia menganalisa, “Sica, menurutmu anggota Asosiasi yang lain juga berada di bawah pengaruh musuh?”

“Tidak,” Jessica melirik pendeta tua di depan altar, “Temanku di sini masih memegang teguh kode etik Asosiasi Pemburu. Dia kuminta mengawasi pernikahan ini agar dapat melaporkan kemungkinan pelanggaran peraturan.”

Pendeta tua itu tersenyum.

Mark dan aku ternganga lantaran tubuh tua itu berangsur tegap, keriput di wajah sang pendeta menghilang—dan muncullah sosok pria tampan yang kira-kira hanya sedikit lebih tua dibanding Henry.

“Prediksi Ketua Ahn memang tepat sekali. Jadi, aku kembali sekarang, atau kalian ingin prosesi ini ditutup dengan formal seperti pernikahan lain?”

“Tidak usah, Jaejoong. Kami lebih suka pernikahan yang unik. Pergilah, dan oh ya—terima kasih untuk hari ini.”

Kris dan Henry membungkuk, ikut mengucapkan terima kasih, kemudian pria yang dipanggil Jaejoong itu memberi salam terakhir sebelum hilang bersama angin. Aku berdiri pelan-pelan, Mark mengekor, dan Kris cepat mendekati kami. Mengecekku dan Mark dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Wendy, Mark! Kalian baik-baik saja? Ada yang terluka?”

Alangkah berharganya raut khawatir Kris itu. Kupikir setelah menikah, ia tidak akan pernah menatap kami seperti itu lagi.

Bukankah ini berarti kami masih sangat berharga buatnya?

“Aduh, aduh, perutku sakit! Kris, ini gawaaat!”

Facade tenang Kris memang paling hebat, karenanya kepanikan sebesar apapun tidak akan mewujud berlebihan pada wajahnya. Iya, Kris panik disebabkan tipuan murah Mark yang haus perhatian; bisa kalian bayangkan bagaimana Kris mati-matian mempertahankan wajah datarnya? Henry sudah menahan kikikan di balik punggung, tidak ingin mempermalukan Kris lantaran Kris bisa saja meretakkannya seperti sandaran kursi sebelum ini.

Sedangkan Jessica mengetuk pelan dahi Mark; baru kusadari ternyata ia orang yang hangat. Kesan pertamanya sama persis dengan Kris, tetapi rupanya ia lebih mudah mengungkapkan perasaannya ketimbang kakakku.

Dan aku suka senyum Jessica yang cerah itu.

Jangan bilang padanya.

“Perutmu sakit gara-gara lapar? Kalau begitu, ayo kita pulang dan makan pai buah buatanku!”

Mark mengusap dahi-dahinya sambil nyengir lebar. “Aku suka paimu, Jessica; sebaiknya kita segera pulang supaya bisa buat banyak! Wendy!”

“A-apa?!” Aku yang asyik memperhatikan Jessica jadi gugup tanpa alasan, bodoh benar, “Tidak, aku tidak akan membantu Jessica memasak, biar dia repot sendiri! Kita pulang sekarang; aku tidak suka renda-renda pada baju ini, uh, ingin ganti!”

“Aduh, Tuan Putri Wendy memang cerewet sekali, Sica. Maafkan, ya. Aku akan tarik dia keluar dan menyiapkan mobil buat pulang,” Henry mengaitkan satu lengannya di leherku dan lengan lainnya di leher Mark, “Ayo, Anak-anak, jangan menoleh ke belakang!”

“Hee, kenapa?” Mark mencium aroma adegan dewasa, lanjutan ciuman Kris dan Jessica di depan altar, tetapi ia tak tahu apa, sementara aku yang sudah mengerti langsung menutup matanya. “Tidak usah lihat; kau itu belum 17, tahu!”

“Hei, tapi tahun depan aku berumur 17! Kris, Jessica, bantu aku dari nenek sihir ini!”

“Berisik kau! Siapa yang nenek sihir, heh?!”

“Sudah, sudah, biarkan Kris dan Jessica berdua dulu. Kalian pacaran denganku saja, hahaha… dan Mark, aku akan memberitahumu nanti setelah kita makan.”

“Siap!”

“Oi, Henry, kau tidak serius, ‘kan?!” Wajah Jessica tampak terbakar rona malu, sedangkan Kris di belakangnya tertawa kecil. Tawa itulah yang berhasil membuat hari berdarah ini lebih berwarna dan aku harus berterima kasih pada Jessica untuk itu.

***

Belahan jiwa.

Bagaimana Kris dan Jessica saling mengetahui bahwa mereka membawa separuh cinta untuk satu sama lain? Pernahkah kekhawatiran tidak dapat mencocokkan diri dengan kehidupan keluarga besar Kris terlintas dalam benak Jessica? Atau sebaliknya, mungkinkah Kris memikirkan kesanggupannya menjaga Jessica ketika ia sendiri sudah memiliki tiga orang untuk dijaga?

Barangkali dua orang yang ditakdirkan untuk bersama hanya akan merasakan keberanian dan kekuatan. Aku jadi penasaran seperti apa rasanya.

Soalnya saat Kris menggigit telapaknya dan meminumkan sejumlah darahnya pada Jessica melalui sebuah ciuman dalam, juga saat Jessica memberi Kris jalan menikmati darah pada pembuluh lehernya, termasuk saat Jessica bertransformasi secara bertahap menjadi vampir (yang kata Henry sangat menyiksa bagi manusia), tidak tersirat sedikit pun ketakutan atau rasa sakit pada keduanya.

“Selamat datang, Jessica.”

Kugumamkan ini tanpa kecemburuan. Upacara pertukaran darah barusan telah meresmikan status Jessica sebagai milik Kris, ralat, milik kami semua.

Dia keluarga kami sekarang.

TAMAT

.

.

.

.

.

the sudden canadian-line feelssss bikin aku kejang2 lagi di depan laptop.

canadaline vampireside

(sorry gak nemu fotonya mark yg lagi pirang :p barangkali krn dia vampir yg masih kecil)

sumpah padahal aku sudah ngetik seri 4 Walls dengan lagu Diamond, tapi lagu ‘Suna no oshiro’ OST Vampire Knight keputer terus gtau kerasukan apa langsung pingin pasang canada-line sbagai vampir!

kalian masih inget seri homo homini lupus yg castnya china-line SM? *kalo nggak gapapa, emang aku ga post di sini tapi di IFK dan AO3 doang* aku takut kisah vampir2an ini akan jadi semacam itu huks soalnya feelku banjir buat canadian-line. padahal waktuku sudah ga sebanyak dulu utk bikin fic berseri huahua.

gapapa dah. kubikin cerita lepas2 aja ya, kalo sempet so jgn terlalu mengharap.

(tapi ide pair masing2 vampir ini pun udah ada ya terus gimana dong huks. a little obvious hint below)

canadaline pair

Advertisements

19 thoughts on “EXO-N #11: Altar Hell

  1. AKU KOMEN PERTAMA MAU JOGED SENANG DULU~~~
    Kak Liana this is my fav kris-otp dan aku pernah berfikir bahwa keduanya memang vampire sekali aku gak kuat aku gak kuat feels ini. Mark sama Yeri kak? Kenapa gak sama aku aja hehehehe ((slapped)) But homo homini lupus was one of many fics yang paling aku bela-belain bacanya sampai ke AO3 biar dapet notif kalau update. Walaupun ini nantinya jadi cerita lepas aku rapopo loh kak. Walaupun aku masih teringat college post-an kakak yg belum dibuat au-nya.. hm.. semangat kak li!

    Like

    1. JANGAAAN MARK ADEKKU
      *ga *ngaku2 *adiknya wendy padahal
      lah iyak kok banyak yg nagih AU dari collage itu padahal aku ga berniat bikin tapi sudahlah ya, jalan pikirku bisa berubah sewaktu2 :p
      makasih dah baca ya!

      Like

  2. OEMJI. INI GAKUAT BANGET AKU SUKA~
    OKE. AKU JADI PENGEN LIAT CERITA MARK-YERI. (capslock jebol)

    Kakak, ini bener-bener bagus banget. Vampire, theme yang emang kesukaan banget. Tadinya aku mau searching fic yang ada sangkut-pautnya sama vampir. Tapi setelah aku buka wp aku nemu ini jadi aku gajadi menjelajahnya(?)

    Ini fic beneran nemenin malem minggu 😀 (ketauan jones) aku tunggu cerita lepas canada-line nya. Semangat kakak~

    Like

    1. nah kan mark yeri lagi yg ditunggu mwahahaha iya tenang ya they’re otw :p
      aku juga jones kok soalnya kalo ga jomblo mana mungkin aku bikin fic sepanjang ini sambil kejang2 depan laptop *tos dulu
      makasih udah mampir ya, cerita canada-line lainnya ditunggu aja XD

      Liked by 1 person

  3. KAK LI!! YA AMPUN INI APAA, CANADIAN LINEE ITU BENER-BENER BIKIN AMBYAR. BIAS SEMUA ISINYA HUHU
    Dan yah, kak Li baru pertama kali pake cast dari mini rookies ya? Apa udah pernah sebelumnya? Mereka itu unyu banget lah pokoknya 😀
    AU Vampir ala kakak ini bener-bener fav deh. Apalagi pake cast china-line or canadian-line. Serius, nggak bisa berhenti excited XD
    Homo homini lupus? Ya ampun terusin dong kak Li. Itu fic yang ninggalin kesan banget loh.
    Udahlah. bingung mau komen apa lagi .-.
    Keep Writing! ^^

    Like

    1. AKU JUGA GATAU KERASUKAN APAAA MEREKA TIBA2 MASUK KE KEPALAKU DAN TAU2 AKU NGEFEEL SAMA MEREKA TERMASUK HENRY
      i can’t help it TT
      utk cast rookies sebenernya dulu pernah masukin jaehyun sama yuta tapi sekilas doang. mark gapernah. *padahal dia itu lucu banget kenapa aku gapernah masukin dia sebelumnya
      nah HHL udah tamat kan ya, skrg kyknya mau masukin seri vampir2an ini ke seri EXO-N, nyempil2 gitu hehe dan cast utamanya canadian line :p *aslinya pingin bikin chanwen terus merambat jauh jadi family gini :p
      makasih udah baca ya!

      Liked by 1 person

  4. YAAMPUN. OMAIGERD ;~~~;
    seperti ada kupu-kupu di perutku. ah. ini. sangat. hebat. aku. suka. aku. butuh. lebih!!!!
    /tarik napas/ ok. udah excited banget liat posternya kok ada Mark….pertamanya tertariknya gara-gara itu lalu aku liat ada wendy unnir terus apalagi aku juga liat canadian-line ;~~~~;

    suka. suka. suka banget ah ga tau harus mau ngomong apa. pokoknya ini paket komplit heu ;~; guyonnya dapet banget dan entah kenapa suka aja kaklia ngambil dari sudut pandangnya wendy!!!!! aku berasa baca novel terjemahan ;~;

    pairingnya mark itu yeri kan ya. hm aku agak ngga suka tapi its ok deh ㅋ dan itu pairingnya henry siapa?!?!?! mirip CL….atau bukan? nggatau hehe

    pokoknya aku suka banget ini. mwa

    Like

    1. hai shiana hehe. org2 pada heboh ya aku masukin mark. kok tepat bgt ide pertama yg muncul di benakku utk story lain vampire!AU ini adalah dia :p
      CL? HAHAHA ITU AMBER! XD KETIPUNYA JAUH BANGET NYAHAHAH di teaser red light mbak amber jadi beda bgt emang huhu
      makasih udah baca ya!

      Like

      1. YA AMPUN HAHAHAHAHA JAUH BANGET YA AKU DARI AMBER KE CL ABISNYA MIRIP SIH HEHEHEHEHE ga kepikiran sama sekali kalo amber aduh ;~;
        ahh ga sabar deh kalo ada story yang fokusnya ke Mark :B :'”)

        Like

  5. AAAAAAAAAAAAAAA LAMA NGGA MAMPIR KESINI DISUGUHIN AKANG YIPAN YANG—— EMEJING BANGET GINI! ><
    tapi ini juga keren banget. Kris-sica itu jarang aku nemu ffnya. :3
    oya kak, aku baru buat blog, baru mulai nulis, tolong review-in dong kak. Aku masih butuh 'pencerahan' dari penulis profesional kayak kakak ini. 🙂
    thanks ya kak.
    Hwaiting! Keep writing /banyakin ff yipan yaw :3 (eak mesen gini emang boleh? :v )

    Like

  6. *SPEECHLESS*
    *banting hape*
    LIANA…. INI APAAAA?
    kenapa keren banget,,,

    duh! kenapa di sini aku malah concern sama mark ya? jadi adik bungsu rasa2nya nggemesin bgt.
    kmu tak dukung kalo lagi banjir feel vampire. klo ada ide yang keluarga Park aq nunggu deh.
    *nunjuk pict terakhir*
    *eh, kok ada Yeri?*

    dari satu ide tentang belahan jiwa itu, kmu bikin alur yg apik kaya gini. fiuuhhh,,

    Like

  7. INI BENER-BENER JUARA KAK YAAMPUN. AKU SUKA INI BANGETTT KAK.

    Aku bisa komen apa coba. Yang di awalnya wendy gasuka sama jessica, bikin aku gasuka juga tau kak, persuasif banget itu wendy haha.

    Dan setelahnya ternyata jessica baik banget haduh, aku bisa apaaaa. Henry disitu juga garing unyu-unyu gimana gitu haduhh. Dan kris tetep oke, lelaki dingin. Bikin cintaaa.

    Ini keren kak. Bikin lagi yang kayak gini ya hehe. Keep writing kak! 😄

    Like

  8. Halo kak aku reader baru^^
    Tau blog ini dari blog sebelah.
    Btw aku udah ‘ngubek-ngubek’ isi blog ini, satu kata yg tiba2 kepikiran habis baca ff ini itu: INI KEREN BANGET SERIUS!!
    Dalam hati ngomong, kenapa daridulu gue ga nemu blog ini?
    Karena sumpah kak ffnya kece gilak, penggunaan bahasanya rapi, pemilihan diksinya tepat, dan dapet feelnya juga^^
    Aku jg minta maaf kak di ff sebelumnya aku ga sempet komen.-. Maaf banget soalnya aku bentar lagi mau UN (pelajar smp masihan) dan ini aja aku buka hp diem2. Kangen baca ff:”
    Salam kenal ya kak^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s