f(4) #6: Diamond

07_4941EE3C1B1F

a tracklist fic of f(x) 4th album ‘4 WALLS’ by Liana D. S.

#6. Diamond

starring

[93-line] f(x) Luna (Park Sunyoung) and soloist Z.Tao (Huang Zitao)

genre Surrealism, Heist, Action duration Vignette (1000+ words) rating Teen and Up

.

[Warning] Surrealism, full of symbolism, DON’T THINK REALISTIC, gemstone names, bloody scene. Maaf aku suka bawain genre aneh-aneh.

.

.

Hati Sunyoung adalah berlian, dengan inti api, potongan kristal yang rapi, tingkat kekerasan tinggi, dan bukan imitasi. Harta itulah alasan Sunyoung berada di sini, menyusup lewat ventilasi, menembus Museum Jiwa berpenjagaan tinggi.

Memiliki tubuh ramping memudahkan Sunyoung menyusuri ruang panjang bergaris tengah kurang dari satu meter itu, yang kini beralih fungsi dari jalur pertukaran udara menjadi jalan rahasia. Dijebolnya kisi-kisi ventilasi agar dapat menerobos masuk ke Ruang Lukisan. Kamera pengaman masih mengamati sekeliling, tetapi Sunyoung lebih cekatan. Ia tembakkan tali setipis senar yang melilit sendi penggerak kamera selama dua puluh detik, memberinya waktu untuk menyelinap. Cepat ia bergerak menuju ruang sebelah; selain karena keterbatasan waktu, wajah-wajah tersenyum yang dipajang di Ruang Lukisan cuma membuat Sunyoung muak.

Zitao.

Pemuda inilah tokoh utama lukisan-lukisan kenangan di Museum Jiwa. Memang pantas  ia ditampilkan dan dikagumi lantaran sosoknya yang serupa Lubang Hitam di luar angkasa sana: misterius nan tak tertolak. Tentunya, setiap ada tokoh utama, selalu ada tokoh pendukung, dan masing-masing bingkai memuat pemeran pendukung wanita yang berbeda. Semua pernah terpikat oleh sang tokoh utama, semua pun sama dicampakkan. Jadilah mereka kenangan manis dalam koleksi Zitao—dan Sunyoung termasuk di antaranya.

Memikirkan ini makin menyalakan dendam si gadis muda.

Beberapa langkah dari Ruang Lukisan, Sunyoung dihadapkan pada pintu baja kokoh Ruang Perhiasan. Satu sudut bibir Sunyoung terangkat saat memasang lensa kontak dan penutup jari dari karet yang mirip bidal; inilah dua alat ‘sederhana’ ciptaannya untuk mengelabui mesin pemindai.  Verified; kode khusus palsu pada mata dan jari Sunyoung terbaca sebagai kata kunci yang benar, sehingga berlapis-lapis pintu logam bisa dibuka tanpa paksaan.

Ini dia. Ruang Perhiasan, tempat hati-hati curian Zitao disimpan, dikunci dalam kotak kaca, dilabeli dengan seksama. Sunyoung segera mencari label spesimen hatinya, tidak tertarik pada kecantikan koleksi Zitao yang lain, misalnya Russian Malachite dan Elizabethan Opal yang pasti bukan milik orang sembarang. Entah bagaimana Zitao mendapatkan hati-hati mahal itu, yang jelas kualifikasinya sebagai pencuri ulung terbukti sudah.

“Ah, ketemu.”

  1. Hope Diamond.

Pisau laser dengan teliti melubangi rak kaca dari samping, lalu Sunyoung mengulurkan tangan untuk mengambil hatinya. Seperti mimpi, Sunyoung akhirnya merasakan kembali 44 karat perasaan yang utuh: cinta, kerinduan, rasa aman… Sebentar lagi, segala perasaan itu akan—

Jleb!

“Akh!”

Hati berlian Sunyoung meluncur ke bawah, diperciki satu-dua titik darah dari pergelangannya yang tertancapi belati. Tepat waktu, Sunyoung menghindari belati kedua yang berhasil menggores pipi pualamnya sebelum tertanam pada dinding di belakang. Lantai Ruang Perhiasan merambatkan derap berat seorang lelaki, mengingatkan Sunyoung agar tetap waspada meski kesakitan. Si gadis mencabut pisau di tangannya, melemparnya ke sisi, dan melancarkan tendangan lurus kepada orang itu—sayangnya gagal. Sang Pencuri menangkis serangan, menangkap serta memuntir kaki Sunyoung, membuat gadis itu jatuh berdebam.

“Aku bisa saja membunuhmu,” –Beberapa sentimeter dari wajah Sunyoung, jemari panjang musuh hampir menyentuh Hope Diamond—“Beruntung, kau terlalu cantik untuk mati.”

Heh. Pujian semacam ini pernah, ralat, tidak lagi melambungkan Sunyoung.

“Ya, beruntungnya aku,” Sunyoung menarik tangan Sang Pencuri ke bawah sekuat mungkin dan menjejakkan kakinya ke perut pemuda itu, “karena akhirnya mampu melukaimu, Huang Zitao!”

Manuver barusan lumayan melumpuhkan, sebenarnya, tetapi tidak untuk Huang Zitao Sang Pencuri. Ia terjajar mundur, tetapi tidak akan tumbang dalam waktu dekat, Sunyoung tahu. Sebagai antisipasi setelah mengamankan hati berliannya, dua pisau sekaligus Sunyoung lemparkan lurus menuju dada Zitao—dan semua ditepis dengan tangan kosong. Zitao terkekeh, menikmati agresivitas yang baru ia temukan pada salah satu mantan kekasihnya. Sebaliknya, Sunyoung merasa amat terhina.

Apa dia meremehkanku? Aku bukan anak perempuan cengeng yang pantas direndahkannya!

Zitao memangkas jarak, tenang tak tergesa, sementara Sunyoung bersiaga.

“Untuk apa repot-repot mengambil hati berlianmu, toh masih banyak hati di luar sana yang bisa kau miliki, benar?”

Tangan Zitao terulur, hendak merebut koleksi kesukaannya, tetapi Sunyoung tidak tinggal diam; Hope Diamond kini terlarang untuk Sang Pencuri. “Kau harus membujukku lebih baik!” ucapnya saat menyingkirkan tangan Zitao, lalu melayangkan satu demi satu pukulan yang sebagian besarnya berhasil ditahan. Kemampuan bertarung Sunyoung masih rendah, menurut Zitao, maka pertarungan ini dijadikannya permainan pengusir bosan belaka. Tak ada perlawanan dari si pemuda hingga ia menyadari sesuatu.

Si cantik ini rupanya menyembunyikan rencana lain?

Buak! Prang!!!

Serangan telak Zitao menghempaskan Sunyoung ke salah satu kotak kaca, memecahkan kotak itu tetapi tidak isinya. Sunyoung memekik parau sebab Zitao menginjaknya di ulu hati, namun ia belum mau menyerah meski napasnya terpatah-patah. Tatapan berkilatnya fokus pada batu mulia langka yang bersarang di hati Zitao, sedemikian cerah dan menggoda.

Padahal sedikit lagi aku bisa merusak engsel pintu hatinya!, decih Sunyoung. Sayang Zitao keburu mengunci dadanya, tidak mau kecolongan. Ia lesakkan tumit sepatu ke tubuh Sunyoung lebih jauh; pada matanya berpadu ganjil nafsu membunuh dengan keinginan menguasai perempuan muda yang tengah mengerang di bawah kakinya.

Bukankah wanita yang sedang berjuang itu menakjubkan?

“Kalau kau tidak sesulit ini, aku akan melepaskanmu begitu saja, Sayang. Sekarang, menyerahlah.”

Sunyoung terengah, berusaha bergerak tetapi selalu gagal. Genangan kecil mulai terbentuk di sudut kelopak si gadis akibat rasa nyeri yang bercampur kecewa. Tak pernah ia sefrustrasi ini, barangkali karena Zitao membuatnya seolah jadi taklukan. Kalah. Lumpuh seperti dulu saat Zitao masih punya izin mengupasnya hingga ke inti, menguaknya sampai tak tersisa secuil pun misteri.

Bahkan hati.

Pencuri, Sunyoung memendam geram, Dia bukan lelaki sejati, hanya pencuri!

Crat!

“Argh!”

Zitao limbung, menutup mata kirinya yang dialiri likuid pekat merah. Tidak buang tempo, Sunyoung—yang baru melesatkan serpihan kaca ke manik Zitao—menggunakan pisau terdekat dalam jangkauannya untuk merusak engsel pintu hati Sang Pencuri. Zitao tersudutkan; penglihatan tinggal sebelah betul-betul merugikannya, tetapi ia, seperti Sunyoung, benci dikalahkan. Maka dengan susah-payah, Zitao menemukan momen yang tepat dalam duel ini untuk mencabut Hope Diamond dari rongga dada pemiliknya…

“Sampai jumpa. Perkuat dirimu dan hadapi aku lain hari.”

…lalu mendorong Sunyoung keluar dari jendela teratas Museum Jiwa.

***

Sunyoung tenggelam.

Museum Jiwa dikelilingi kolam melingkar; ke sanalah Sunyoung jatuh. Beberapa detik, ia biarkan dirinya terbenam agar air dapat membasuh kekecewaannya. Maksud Sunyoung, ayolah, siapa yang tidak sedih hartanya dicuri kedua kali setelah berusaha mati-matian memperolehnya?

Tapi tak lama, Sunyoung berenang menepi. Mengangkat dirinya dari air. Dari balik baju basah yang memeluk erat setiap inci tubuhnya, Sunyoung merasakan degup yang agak berubah. Ia rogoh saku pakaiannya, memastikan barang itu benar-benar ada dalam genggaman, dan oh.

Oh. Malam ini tampaknya tidak terlalu sia-sia. Sunyoung tersenyum menang, memandang sekilas jendela dari mana ia jatuh, dan berbalik.

Sampai jumpa pula, Zitao.”

…karena mereka pasti akan bertemu lagi. Sunyoung butuh Hope Diamondnya, sementara Zitao sendiri pasti akan mengejar Alexandrite yang berdenyut-denyut di tangan Si Gadis Pencuri.

TAMAT

.

.

.

.

.

sorry TT genre ini kuharap ga terlalu susah dipahami. aku sudah berusaha membuat simbolisme, action, dan surrealismenya sesederhana mungkin, tapi ah entahlah. karena satu, aku ga pernah nemu fic heist (alias colong-mencolong ala orang-orang elit macam Ocean’s Series yang ga pernah kutonton) tulisan author indo. dua, fic action pun kurang sekali. tiga, mbayangin luntao berantem kyk begini bikin gemeteran juga tapi aku ngefeel, soalnya di f(x) kalo ada yg cocok jadi tokoh fic action romance menurutku ya mbak luna ini (because amber stays on pure crime-action genre hahaha) dan fic luntao itu, sekalinya ada di AFF (biasanya) pasti gereget banget >< *ship baru. empat, aku keingetan pelajaran kebumian yg ada permata2nya gini huhu

duh maafkan rant ini. maklum empat hari ga nulis berasa hampa banget hidupku…. begitu ada kesempatan lgsg word vomit…

Advertisements

10 thoughts on “f(4) #6: Diamond

  1. WOW JUST WOW
    Gatau yakak tapi aku udah baca dua ff kakak yg surreal dan dua2nya castnya tao dan aku SUKA?!? BGT?!?
    Mungkin kalo kakak belom nemuin genre yg expert bagiku kakak cocoknya surreal soalnya dapet bgt dan tumben ini luna sama tao wkwk
    Dan…simbolism nya emang bener2 disederhanain bgt kok keknya siapapun yg baca pasti ngerti.
    Trus aku ngartiinnya kek…luna dan tao tuh sama2 gapernah mau ngalah dalam hubungan jadi terpisah pun mereka masi bakalan ngarep buat ketemu karna toh hati mereka masi sama si pasangan satu sama lain jadi aku suka bgt. Kalo dibikin yg nggak surreal bisa jadi genrenya kek hurt/comfort gitu huhu sotoy bgt emang tapi kan semua orang punya penafsiran masing2 hihi
    Keep writing kak~~

    Like

    1. iya soalnya mbak luna itu cocok sama karakter2 rada 4d kyk taochen gitu hahaha, dan sejujurnya shipper taolun kyknya lebih byk :p
      btw terjemahan kamu itu sangat masuk sekali sama ceritanya, aku senang akhirnya ada yg mngerti *nangis terharu
      makasih ya puti dah mampir!

      Like

  2. aku terpesona?????!!!! ❤
    luntao bahkan aku baru baca sekarang tapi ini bagus banget cocok banget sama mereka berdua :') dan setelah kupikir-pikir ini aslinya agak sedih ya kak??? bener gak sih kak kalo mereka sebenernya sama-sama belum bisa move on dari satu sama lain gitu? makanya hatinya luna itu masih di tao karena dia sendiri sebenarnya masih sayang? apalagi kalimat "Sunyoung butuh Hope Diamondnya, sementara Zitao sendiri pasti akan mengejar Alexandrite yang berdenyut-denyut di tangan Si Gadis Pencuri." jadi…?
    hehehehehe gak tau sih aku sotoy aja maaf ya kak :')
    terus terus bahasa yang kakak pake huhuhuhuhuhuhu luv luv pokoknya, terus 'Museum Jiwa', 'Ruang Perhiasan', 'Ruang Lukisan' itu kreatif banget kak akh aku ngefans berat! ya pokoknya kak liana pantes banget kalo disuruh bikin action/surreal gini karena jujur aku bacanya deg-deg-an (sambil was-was kalo ada guru masuk soalnya aku baca di kelas wkwk) apalagi pas adegan tarungnya HUHU, kakak deskripsiinnya bagus banget!!!
    udah itu aja ya kak komentarku maaf tidak bermutu sama sekali dan maaf telat soalnya aku bacanya kemarin hehehehe :'3 kapan-kapan bikin genre kayak gini lagi ya kak! 😀

    Like

    1. hehe halo meyda! *tebar confetti *gelarin red carpet
      jadi ya ini interpretasinya bisa macem2 ya, dan penerjemahan kamu itu gak salah2 amat. aku sendiri sih menerjemahkan ini tuh semacam : tao mutusin luna, tapi hati luna dibawa juga sehingga luna ga bisa nyukain cowok lain (ya kalo gini sih intinya gagal move on juga :p), makanya luna kesel terus nyuri hatinya balik, eh gagal. malah hati tao yg dia ambil
      gitu deh hehe tapi krn ini symbolism jadi terjemahannya bebas lah XD
      makasih sdh mampir ya mey, komen telat gapapa kok yg penting komen XD

      Like

  3. YYYAAAAAAAAAAAA
    MBACA FIC TAOTAO SELALU BIKIN PERASAAN NANO NANO APALAGI KALO KAK LIANA YG BIKIN U.U
    tiba-tiba inget mv mas jidi yang heartbreaker itu, yg di dalem hatinya/? Kayak ngoleksi hati- aduh gimana deskripsiinnya~ tapu dalem bentuk apel gitu deh. /kalimatku muter/
    tapi ini keren huks :’3
    aku suka genre yg rada kayak begini gituu.. Haha.

    Mbayangin luna ama tao berantem itu mmmmmmhmm… Keren bngettt… Apalagi sampe matanya dilukain gitu.. Huweee…. *kasih kompresan ke tao

    pokoknya-ini-keren-pake-buuuuaaangettt! (y) 😉 🙂 😀

    Like

  4. Serius aku dah berusaha komen setelah baca di IFK fic ini. Tapi wordpress berkhianat padakuu, tiba-tiba aja error -__-

    Jadi kadang aku suka sebel. Kak, kenapa sih bisa produktif bgt nulis? Kalo webe nih aku jamin kak liana cuma sehari-dua hari trus sembuh /sotoy/
    Dan surrealnya selalu selalu selalu kena!!! Udah deh itu aja. Nggak mutu maaf ya wkwkw keep writing kak~^^

    Like

  5. Omayyo sasuga lili senpaaaaiiiiiiii
    Beneran ya, inspirasi itu anugrah luar biasa. Iri sekali sama org2 kayak lili yg kayaknya gampang bgt ngintip dr celah yg beda, aku nemuin celahnya aja susah sekaliii..
    Dan aku ga paham kenapa km harus minta maaf.. Hhaha i mean, ayolah, you did a great job, ngapain harus minta maaf?
    Wkwk aku keknya udah ketularan budaya keprancisan, suka sebel sama org yg baik, yg udah bekerja keras, tp masih aja minta maaf utk sesuatu yg sebenernya ngga perlu. Aku malah suka jd pengin jahatin.. Wkwk
    Nah. Kalo aku skg baru harusnya minta maaf karna udah nyinyir.. Hheu
    Maaf ya, suka sebel sih, semoga lili nggak tersinggung.. Hhuhu

    Tuh kan ngoceh apa eneng ini udah oot banget.
    Pokoknya ini cantik ya, dan mahal. Kayak berlian2 yg kamu deskripsikan di sana.
    Makasih ❤❤❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s