EXO-N #12: Endless Waltz

endless

“Hatimu yang pasti terasa sakit, akan kurengkuh erat-erat.” (EXO – Promise)

[Longshot!3,1K+words, Vampire!AU, sekuel Altar Hell tapi bisa dibaca sebagai stand-alone, minim edit!]

***

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup.

Rumus waltz terulang terus di kepala kami berdua, seirama dengan alunan cello Kris dan gesekan biola Henry. Aku berusaha menikmati aliran tarian ini, tetapi gagal. Bukan karena aku sedang mengenakan sweater dan celana—pakaian yang sangat tidak cocok untuk ballroom dancing—pun bukan karena rapatnya jarakku dengan Chanyeol. Ya, walaupun yang kedua itu lumayan berpengaruh, masalah utama ketidaknyamananku tidak bersumber dari sana.

Kucoba menatap Chanyeol, belajar berkawan dengan takdir. Kutelusuri rambut keperakannya yang agak berantakan, matanya yang mengabu, dan bibirnya yang sedikit pucat.

Bibir itu masih menyunggingkan senyum untukku, padahal aku—yang sudah mengubahnya menjadi monster—tak layak lagi mendapatkannya.

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup.

Kejadian ini bermula dari permohonanku pada Chanyeol untuk menemaniku ke pesta dansa di Kediaman Hong. Reaksinya, sesuai dugaanku, adalah tersedak.

“Aku bukan cowok waltz seperti kakak-kakakmu, apa kau gila?!” semburnya, namun aku belum mau menyerah. Kugunakan segala pendekatan, mulai ‘cowok hiphop juga harus belajar anggun!’ sampai ‘masa kau melangkah ke kiri dan kanan mengikuti irama saja tidak bisa?’, tetapi dia tetap menolak. Merasa di ujung tanduk, aku menghempaskan tubuh lelah di sofa ruang klub akustik, 100% yakin pesta dansa minggu depan tak akan menyenangkan. Chanyeol, melihatku muram mendadak, bertanya apa pentingnya memiliki pasangan di pesta itu.

“Penyelenggara pesta itu mantanku.”

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup.

“Park Chanyeol, berapa kali harus kuingatkan, lututmu!” bentak Kris, kakakku, saat sekali lagi lutut kami bersinggungan akibat pace Chanyeol yang terlalu cepat. Kami memang sedang melatih langkah-langkah dansa kami—ya, entah kenapa Chanyeol langsung setuju menjadi pasanganku begitu aku menyebut ‘mantan’. Konsekuensi dari keputusannya itu adalah ‘latihan sialan ini’, begitu gerutunya sebab dia lebih menyukai Henry, kakak sulungku yang sabar, untuk melatih kami.

Bukan ‘pria jangkung seram tukang marah’ ini.

Mendengus kesal, Chanyeol menentang mata Kris tanpa sungkan-sungkan.

“Aku sedang berusaha, Kakak.”

Geli juga melihat Kris dan Chanyeol saling melempar tatapan kesal. Dari awal, Kris memang tidak menyetujui kedekatanku dengan Chanyeol, bahkan meskipun hanya sebatas sahabat, tetapi sikap baik Chanyeol padaku selama ini membuatnya luluh. Selain itu…

“Sudah, ulangi saja lagi. Wendy, persempitlah jarakmu dengan Chanyeol supaya kau bisa membimbingnya mengikuti langkahmu.”

…Jessica, kakak iparku, amat mendukung hubungan kami; mana bisa Kris bertindak di luar keinginan istri tercintanya?

“Dan kau, Tuan Besar,” Sambil tertawa kecil, Jessica menyikut Kris yang memberengut seperti beruang, “jangan halangi adikmu menemukan pangeran tampannya. Toh mereka serasi.”

Sontak aku kehilangan kendali atas kakiku sendiri, tempo Chanyeol ikut kacau, dan kami nyaris terjungkal bersama.

“Kami tidak serasi!!!”

—atau  mungkin, kami masih kelewat malu untuk mengakuinya.

Malam itu, Henry menyambut Chanyeol penuh semangat dan langsung mendorongnya ke kamar Kris untuk ‘dipermak habis’, sedangkan aku berdandan bersama Jessica. Ia menata rambutku jadi cepol kecil yang cantik dan membiarkan beberapa helai rambut ikalku jatuh ke bahu, memakaikanku gaun berhias lace yang luar biasa, dan jangan lupakan pulasan Scarlet no. 22 di bibirku, spesial pilihan Jessica juga.

“Kamu terlihat seperti seharusnya seorang Nona Muda Wu pada usia ini: anggun dan mempesona.”

Aku ingin percaya, tetapi Jessica begitu menawan di sampingku. Seberapapun mempesonanya aku, apa maknaku jika berada dalam jangkauan cahayanya?

Ternyata, sekeluarnya dari ruang rias, yang pertama kali Chanyeol pandang tetap aku. Dia bungkam, aku kaku, tetapi semburat merah di wajah kami enggan berdusta.

Chanyeol dalam balutan tuxedo sungguh menyita napasku.

Dan thanks lace, napasnya pun tersita.

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup.

Para undangan Bangsawan Hong spontan berhenti berdansa ketika Kris dan Jessica menginjakkan kaki di ruang pesta. Para pria menyilangkan tangan di depan dada, para wanita mengangkat sedikit bagian bawah gaun mereka, lantas semua memberi hormat.

“Selamat datang, Tuan dan Nyonya Wu.”

Kris dan Jessica membalas salam mereka sama sopan. Diam-diam, kutarik lengan Chanyeol yang bertaut dengan lenganku agar ikut membungkuk seperti mereka. “Ini etika kami; pelajarilah baik-baik.” bisikku. Samar Chanyeol mengangguk patuh; baru kali itu ia kehilangan semua canda dalam rautnya.

Pesta kembali dilanjutkan. Kami berempat tidak langsung bergabung dengan para tamu, melainkan terlebih dulu menyapa tuan rumah, yaitu Bangsawan Hong dan putranya, penyelenggara pesta ini, mantan tunanganku, Joshua.

“Senang bertemu denganmu lagi, Wendy.”

Tidak banyak hal yang berubah pada diri Joshua: keramahannya masih lekat, selera humornya masih menggelitikku. Aku senang dia dan keluarganya tidak memusuhi kami usai pembatalan pertunangan oleh Kris ‘dengan sangat terpaksa’ beberapa tahun lalu. Ayahnya bahkan menggodai kami berdua untuk berdansa sekali lagi, membuatku tertawa canggung.  Kris memahamiku: raut bersahabatnya yang amat superfisial berhasil mengingatkan Bangsawan Hong bahwa…

“Sayang sekali, adik saya telah memilih pasangannya, Tuan Hong; jangan tersinggung, Josh.”

“Tentu tidak, Kris, karena aku juga punya,” –Gadis di sampingnya itu, aku kenal, adalah putri bangsawan juga, sepupu jauh Joshua— “Mari, kita bisa turun menari sekarang. Tuan Park, awas, Wendy suka menginjak sepatu rekan dansanya.”

“Begitukah?” –Aku terkejut setengah mati; dari mana asalnya sikap santai Chanyeol ini? Sebegitu cepatkah ia menyesuaikan diri?—“Akan kupastikan langkahku aman nanti.”

Joshua berjalan pergi dan Kris mengetuk dahi Chanyeol dengan telunjuk sebelum menyusul ke lantai dansa.

“Kau mulai berani sekarang, jadi jangan coba-coba kacaukan tarianmu dengan Wendy atau kau tahu akibatnya.” ancamnya. Jessica di belakang memberi isyarat yang kupahami sebagai ‘kakakmu-tidak-suka-Chanyeol-jadi-sok-menawan-jangan-terlalu-dipikirkan’.

Kecemburuan Kris bukan masalah besar bagiku, tetapi mengenai Chanyeol…

…entahlah.

Dia berubah drastis dalam waltz dan aku tak yakin mampu menanganinya, apalagi setelah ia memeluk pinggangku erat.

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup.

Rumus waltz terulang terus di kepala kami berdua, sialnya Chanyeol jadi bagus sekali sekarang dan ketukanku berantakan, seperti dulu waktu anak-anak, pertama belajar waltz bersama Kris. Kumohon, Chan, jantungku harus diselamatkan dari detakan kencang yang kau timbulkan! Jangan terlalu dekat!

“Joshua itu… benar-benar cuma mantan kekasihmu, ‘kan?”

Aku mengangguk. “Kris tidak menyukainya, aku pun tidak menganggapnya lebih dari teman, terlepas dari status pertunangan kami saat itu. Kenapa memangnya?”

“Tidak ada apa-apa,” –Cepat aku memejam gugup lantaran Chanyeol terus memperpendek jarak wajah kami dan baru berhenti setelah ujung hidungnya menyentuh keningku—“soalnya dia kelihatan… berbahaya. Buatmu.”

Penutup kalimat ini membuatku tertegun.

“Ada yang lain di balik sikapnya. Sorot matanya berbohong, Wen, dan apa yang tersembunyi di sana sangat dingin.”

Sejujurnya, aku juga menemukan hal yang sama.

“Aku takut dia melukaimu,” Pada langkah berikut, Chanyeol menggeser tubuhnya lebih rapat lagi denganku, “Kau tahu andai itu terjadi, aku tak bisa melakukan apa-apa untuk melindungimu, ‘kan?”

Kugigit bagian dalam bibirku sedikit. Chanyeol orang yang ceria, namun perhatiannya pada beberapa hal (atau orang) kadang terlampau besar, termasuk padaku, dan lenyaplah sisi cerianya nyaris seketika.

Tapi aku tidak mau menjadi sumber kecemasannya.

Tanganku yang berada pada punggungnya bergerak lembut, sirkuler, berusaha menenangkan.

“Aku akan baik-baik, Chan. Jangan berpikir macam-macam, ah; ini pesta, kita harus senang-senang!”

Gagal. Chanyeol memang tersenyum, tetapi anak matanya sesekali masih terarah pada Joshua di sudut lain, seakan Joshua benar-benar akan menyerangku. Berulang-ulang kutegaskan bahwa instingnya salah…

“ARGH!!!”

…dan ironis, akulah yang lengah.

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup—

…lalu Chanyeol berteriak. Aku terkesiap dalam dekapannya yang tiba-tiba. Suasana pesta jadi mencekam.

Mataku memerah.

Di seberang sana, iris Joshua terarah pada kami, penuh kemenangan. Mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya, segera kutarik Chanyeol ke samping hingga kami terjerembab berdua. Sekali lagi Chanyeol menjerit; kudengar keretak dari kakinya yang terpuntir tak alami. Manuverku tadi rupanya tidak berhasil menyelamatkannya dari kekuatan Joshua. Punggung Chanyeol yang jadi sasaran pertama Joshua basah, lengket, sama dengan kakinya…

…berlumur darah.

“Hentikan. Hentikan ini, Josh!”

Prak!!!

Hampir semua kaca di ruangan—jendela, vas, lampu kristal—pecah oleh lejitan tak wajar dari kekuatanku. Kuakui kontrolku memang tidak baik, semakin parah akibat ketakutanku kini. Rasa ngeri menyerbuku dari berbagai penjuru: aku takut kekuatan terkutukku dapat merenggut nyawa seseorang, takut pesta ini berubah menjadi medan perang antara Hong dan Wu, takut kehilangan Chanyeol, dan takut dikuasai rasa haus.

Karena darah Chanyeol menggenangi lantai.

Manis. Harum. Menggiurkan.

Dalam kegelapan, kudapati Jessica mencabut pedang yang tersembunyi di balik lekuk gaunnya, lurus menuju Joshua. Cekatan, Joshua menghindari serangan Jessica dan kilau iris merahnya kembali. Jessica cepat tanggap; ia berbalik, gelas di belakangnya pecah oleh kekuatan Joshua. Pedangnya terayun lagi, mengincar jantung Joshua, namun Jessica kalah cepat kali ini. Bahunya yang tak terlindung disobek Joshua menggunakan tekanan kekuatan dari matanya–

–yang kini memerangkapku.

Sorot matanya berbohong dan apa yang tersembunyi di sana sangat dingin.

Joshua tahu-tahu sudah berpindah ke dekatku, menaikkan daguku kasar, bertanya lembut. Keramahan palsu, kurang ajar.

“Kita belum berakhir, bukan, Wendy Wu?”

Kutepis tangannya jijik.

“Vampir darah murni seharusnya mencintai anggota kaumnya yang setara, bukan—“ Joshua memiringkan kepala Chanyeol, “—manusia lemah seperti dia.”

“Jangan sentuh Chanyeol!”

“Oh, Wendy. Melindungi kekasih barumu? Aku tersan—“

Buak!

Itu Chanyeol.

Aku tidak tahu apa yang menguatkannya untuk memukul Joshua dalam keadaan kehabisan darah, yang jelas gerakannya sangat melegakanku. Kurasa sudut-sudut bibirku waktu itu terangkat membentuk senyum, cepat juga pudarnya karena kemudian Chanyeol mendesis kesakitan dengan leher tercekik—dicekik Joshua. Meski nyawanya terancam, Chanyeol masih sanggup mengutarakan kebenciannya.

“Monster.”

“Memang, dan gadismu sama saja denganku.”

Tawa Joshua diinterupsi oleh ayunan pedang Jessica yang melukai sisi tubuhnya. Sedikit lagi, senjata antivampir itu bisa menembus dadanya, padahal.

“Joshua Hong, menyerang manusia adalah kejahatan berat.”

“Tapi semua adil dalam cinta dan perang, Nyonya Pemburu Vampir. Tanya ayah-ibuku, deh.”

Alangkah terkejutnya aku kala Tuan dan Nyonya Hong—orang-orang yang kuanggap tidak akan terlibat dalam pertengkaran ‘kekanakan’ begini—bangkit dari kursi mereka dengan iris menyala, cakar tajam siap mencabik, dan rambut kemilau keemasan mirip milik putra mereka. Full-blown, pure blood vampire. Keterlaluan.

Apakah kami akan saling serang cuma karena urusan cinta dan manusia?

Mencengkeram pedangnya, Jessica melaju ke arah tiga vampir tanpa sedikit pun gentar. Bukan mudah menghindari serangan tiga pasang iris sekaligus, tetapi kakak iparku itu tetap maju meski terluka. Aku merasa harus menolongnya, lagipula urusanku dengan pemuda Hong itulah pangkal semua kekacauan ini.

Mataku berdenyut. Segalanya memerah dalam pandanganku. Sial, seseorang benar-benar akan terbunuh olehku… ini tidak boleh terjadi! Kekuatan yang tertahan di dalam tubuhku membuat denyutan ini semakin menyakitkan….

Namun, dua tangan yang hampir sama besar menutup mataku, satu dari bawah dan yang lain dari samping. Satu telapak pucat berkeringat dingin, yang lain hangat cenderung panas.

“Wendy,” Suara lemah itu memanggil, asalnya dari seseorang dalam pelukanku—yang sudah di ambang batas sadarnya, “tenanglah. Semua akan baik-baik saja….”

Telapak itu kemudian jatuh, membuat mata kiriku dapat melihat sosok yang baru saja terpejam. Air mata yang menggenang tak dapat lagi kutahan untuk tumpah.

Bahkan hingga akhir, Chanyeol masih ada untukku.

Sementara itu, pemilik telapak di sampingku berbisik tegas seraya mengusap tangis yang mulai meninggalkan jejak basah pada pipiku.

“Joshua dan keluarganya telah menyakitimu, maka mereka akan mendapatkan balasannya, Wendy. Dariku,” Kris lalu menutupkan tangan ke dua mataku sekaligus, menggantikan tangan Chanyeol, “jadi jangan mengintip.”

Balasan?

Samar kurasakan ikatan segel pemburu vampir yang menahan kekuatan Kris melonggar. Aku tercekat; mungkinkah Jessica melepaskan segel yang ia pasang pada Kris agar kekuatan darah murni Kris dapat dipakai sepenuhnya? Tapi berbeda dengan milikku, kekuatan Kris itu sangat berbahaya!

Satu persatu, aura vampir di sekitarku menghilang; tamu undangan rupanya lebih memilih melarikan diri ketimbang terlibat dengan pertarungan dua keluarga darah murni. Tindakan yang cukup cerdas, tetapi Keluarga Hong tidak melakukannya. Mengetahui Kris akan melepaskan kekuatan secara penuh, pasukan Joshua malah bertambah banyak—tekanan kekuatan mereka begitu mencekikku, sehingga tanpa melihat pun aku tahu berapa jumlah mereka.

“Nah, seperti yang kubilang, semua adil dalam cinta dan perang. Nyonya Pemburu Vampir mestinya paham melepas segel dari vampir sepertimu itu dilarang, Kris, dan lihat sekarang,” Kudengar kalimat sinis Joshua, menantang sekaligus tertantang, “Kalian berdua bisa dihukum Asosiasi Pemburu dan Dewan Vampir, lho, kalau melanggar aturan.”

“Diam, Joshua.”

Lantai di bawahku berderak. Rontokan langit-langit ballroom Hong jatuh ke tanganku. Kris akan segera menghancurkan tempat ini, pasti; dugaanku itu dikuatkan oleh suhu tinggi yang melingkupi sekitar. Bunyi retakan dinding makin jelas tertangkap olehku, bersamaan dengan teriakan satu-dua vampir yang entah dihabisi Jessica atau Kris. Joshua sendiri kusangka sedang terpojok. Pekik tertahannya sempat memasuki liang telingaku, memberitahuku bahwa dia baru saja terluka.

Aku benci mengakui betapa aku menginginkan kematian Joshua karena ia telah membuat Chanyeol sekarat.

“Dosamu, Tuan Muda Hong, akan membakarmu dalam neraka jika kau tidak memohon pengampunan. Kuberi waktu sedikit lagi; cepat katakan maaf pada Wendy dan Chanyeol.” ujar Kris. Aku berharap Joshua cukup bijak mengambil keputusan… sayangnya tidak. Ia tertawa, berusaha menunjukkan kemenangannya walaupun kalah.

“Meminta maaf pada manusia yang telah merebut Wendy? Dalam mimpimu saja, Kris!!!”

***

Selanjutnya aku merasakan medan energi Kris meliputiku. Cahaya terang menyusup masuk ke retinaku dari celah-celah jarinya, berwarna merah-jingga menyala, melahap reruntuhan Kediaman Hong dan puluhan jerit vampir darah murni kala mereka meregang nyawa.

Beruntung, tak kutemukan suara Joshua di sana.

Lebih baik jangan karena aku ingin menutup semua kisah tentangnya. Dia bukan lagi pemuda ramah yang dulu kukenal, melainkan iblis pembunuh manusia.

Dan aku amat membenci iblis.

***

Kris akhirnya menurunkan tangan dari mataku. Tak lagi kulihat api, tidak juga tubuh-tubuh bergelimpangan, hanya puing-puing hangus dan Jessica. Ia menghampiri kami dengan sedikit tertatih, maka Kris melangkah cepat ke sisinya untuk membantu.

“Jangan cemaskan aku,” Jessica menatap lurus pada pemuda yang kudekap, “Dialah yang aku khawatirkan.”

Spontan aku beralih pada Chanyeol kembali. Segala perasaan bercampur dalam hatiku, menghujamku seketika bersama serentetan ingatan: lengan Chanyeol yang bertaut padaku, sikap kikuknya yang berubah penuh percaya diri di depan Joshua, peringatannya mengenai  rahasia di balik iris Joshua, dan dingin tangannya yang mencoba menenangkanku.

Kini bukan cuma tangannya yang dingin.

Seluruh tubuhnya pun dingin.

Tidak.

“Chan,” Kuguncang dia perlahan, “Chan, bangun.”

Tak ada respon. Dia terus memejam seolah tidur—memang tidur.

Tapi kumohon, Tuhan, jangan biarkan ia tidur selamanya.

“Chan! Chan! Chanyeol! Park Chanyeol! Ayo bangun! Chanyeol!” teriakku bercampur isak. Chanyeol bergeming, hembusan napasnya kian lemah menerpa kulitku. Darahnya tidak henti-henti mengalir keluar, membasahi gaunku, menggenangi kakiku, menyiksaku dengan haus yang sangat.

“Gadismu sama saja denganku.”

Hatiku mencelos kala kalimat Joshua terngiang dalam benak. Betapapun tidak sukanya aku, Joshua tetap benar: aku ini monster juga. Ketika aku harusnya menolong Chanyeol dan takut kehilangan dia, justru bau darahnyalah yang menarik perhatianku. Chanyeol membantuku bahkan ketika dia tidak mampu membantu diri sendiri, sedangkan aku malah bergumul dengan perasaanku terlalu lama sampai tidak bisa menyelamatkannya. Aku selalu bilang menyukai Chanyeol—padahal mungkin itu cuma keinginanku meminum cairan pekat dalam nadinya.

“Kau mencintai Chanyeol, jadi kau tidak boleh membiarkannya pergi.”

Aku menengadah. Kris menatapku dalam, menjawab keraguanku.

Ah. Nyatanya, aku tak bisa memungkiri ini: aku sangat mencintai Chanyeol dan tidak mau terpisah darinya, termasuk oleh maut. Biarlah terdengar basi; aku tidak bisa mengungkapkannya dengan cara yang lebih baik. Aku lantas menyadari arti di balik ucapan Kris tadi—karena kami tidak boleh terpisah, ada satu upacara yang wajib kulakukan untuk ‘menghidupkan’ Chanyeol.

Kris melakukan hal yang sama pada Jessica di depan altar.

Demi Chanyeol, aku harus melakukannya pula.

Sembari menggumamkan kata ‘maaf’ tak berbalas, kusibak kerah kemeja Chanyeol, membuka akses lebih lebar untukku menuju pembuluh lehernya. Kelokan nadi yang sebelumnya tersembunyi tampak jelas di depan iris merahku. Lajur-lajur pipa kecil berisi darah di bawah kulit Chanyeol berdenyut cepat karena isinya hampir habis.

Pada pipa itulah, kutancapkan taringku dengan penuh rasa bersalah.

Seteguk. Dua teguk. Kupaksa diriku berhenti sebelum tenggelam dalam darahnya yang manis. Selanjutnya, kugigit telunjukku sendiri kuat-kuat, memasukkan darahku ke dalam mulut, dan meminumkannya pada Chanyeol.

Selesai.

Aroma pekat darah yang dihantarkan angin enggan pergi. Warna keemasan dari akar rambutku menjalar ke ujung, melenyapkan warna hitam yang selama ini menyamarkannya. Chanyeol sedikit berbeda; surai hitam aslinya berubah keperakan, sedikit berkilau ditimpa cahaya Bulan, sebenarnya indah jika sebabnya bukan karena gigitanku.

“Wen… dy…”

Sepasang mata Chanyeol masih berbinar indah ketika menatapku, mungkin lega menemukanku baik-baik saja, dan dia tersenyum tipis.

“Syukurlah kau tidak apa-apa… Hei, kenapa kau menangis?”

Cukup. Kumohon biarkan aku menyesali tindakan kejiku. Kau terlalu baik, Chan…

“Aku baru mengubahmu menjadi vampir.”

…sebab setelah mengetahui ini, kau masih tersenyum dan bilang ‘tak masalah; yang penting kau selamat dari mantan pacarmu’.

Rasanya ingin kuakhiri hidupku dan menyerahkan semuanya padamu.

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup.

Mestinya waltz kali ini sesempurna bayanganku.

“Oi, tidak usah cengeng, deh,” Chanyeol mengetuk pintu kamarku sepulang dari pesta berdarah itu—sengaja aku mengunci diri karena kepalaku seakan mau pecah, “Kita belum selesai menari tadi, ‘kan? Percuma aku latihan susah-susah kalau akhirnya seperti itu saja.”

“Aku tidak peduli!”

…dan untuk apa pula Chanyeol peduli? Orang normal akan lebih kebingungan beradaptasi dengan perubahan tubuhnya sebagai vampir baru ketimbang melanjutkan dansa yang tertunda.

“Tapi aku peduli,” Suara Chanyeol melunak; tak pernah kudengar dia selembut itu dan aku lumayan tersentuh akan usahanya, “Kau bilang waltz itu penyembuhmu, lalu kenapa tidak kita lakukan bersama supaya kau tidak terus-terusan sakit hati? Kris dan Henry sudah siap di lantai bawah dengan cello dan biola, jadi… eum… please?”

Bagaimana ia berusaha mengikuti bahasa ibuku dengan logat Seoulnya membuatku tersenyum simpul. Apa dia mencoba bersikap imut untuk membujukku? Ah, Chanyeol yang sudah jadi vampir pun tetap seperti ini: konyol, tidak berpikir panjang, tapi sangat perhatian terhadap orang lain.

Selain darahnya yang terlaruti darahku, segala hal tentang Chanyeol rupanya masih sama.

Maka kuterima uluran tangannya setelah aku membuka pintu. Pasrah kuikuti langkah penuh semangatnya ke ruang tengah, di mana Kris sedang menyetel cello dan Henry menyandarkan biola pada bahunya. Mereka berdua tersenyum geli—ya, Kris juga—ketika kami turun dengan sweater, kemeja denim kedodoran (kuduga Chanyeol dipinjami Kris buat menginap semalam ini), dan celana training.

“Kalian ini mau menari waltz atau jogging?” celetuk Henry.

Mundur, kanan, miring, tutup. Mundur, kiri, miring, tutup.

Rumus waltz terulang terus di kepala kami berdua, seirama dengan alunan cello Kris dan gesekan biola Henry. Aku berusaha menikmati aliran tarian ini, tetapi gagal. Bukan karena aku sedang mengenakan sweater dan celana—pakaian yang sangat tidak cocok untuk ballroom dancing—pun bukan karena rapatnya jarakku dengan Chanyeol. Ya, walaupun yang kedua itu lumayan berpengaruh, masalah utama ketidaknyamananku tidak bersumber dari sana.

Kucoba menatap Chanyeol, belajar berkawan dengan takdir. Kutelusuri rambut keperakannya yang agak berantakan, matanya yang mengabu, dan bibirnya yang sedikit pucat.

Bibir itu masih menyunggingkan senyum untukku, padahal aku—yang sudah mengubahnya menjadi monster—tak layak mendapatkannya.

“Chan, aku—“

“Jangan bilang maaf,” sahutnya, “Berhenti menyalahkan dirimu. Kau menghisap darahku untuk menolongku, bukan?”

Usai menenggelamkanku dengan lembut dalam ceruk lehernya, Chanyeol kembali menegaskan bahwa hari ini penuh kecelakaan. Kami cuma kurang beruntung di pesta itu, bukannya tertimpa kutukan apalah yang sering kusebut saat menyinggung proses transformasinya. Aku mungkin sedih karena melihatnya berubah menjadi makhluk lain, tetapi dia bilang dia yang lebih sedih melihatku, sehingga rela menjadikan dirinya tempat bersandarku supaya aku tidak lagi khawatir berlebihan terhadap segala hal, termasuk ganasnya para vampir yang mengelilingi Keluarga Wu.

“Aku tidak suka waltz, tapi kalau buat menyenangkanmu, menarikan waltz abadi pun tidak jadi masalah.”

Kuhela napas panjang sebelum memukul dadanya pelan dengan kepalan tanganku.

“Tidak usah bicara macam-macam. Aku malu.”

Lagipula, kehadirannya saat ini—tawa cerianya, lengannya yang melingkariku, dan langkah dansanya yang semakin baik—bagiku berarti lebih dari kata-kata cintanya.

TAMAT

.

.

.

.

.

wendy-chanyeol di sini baru ttm hahah, aku bingung bikin scene chanyeol ‘nembak’ wendy. 

dan

DEMI APA AKU NULIS CHANWEN SEPANJANG INI CHENLUNA AJA GA PERNAH KUBIKIN PUANJANG BEGINI!

*abaikan

dan kalo ada yg kaget aku pasang anak 17 satu ini, fyi aku ga benci joshua, cuman namanya terlalu banyak muncul di blog lain sehingga pingin bereksperimen tapi bohong, aslinya aku rada kesel juga, dia ini siapa kok ambil2 penggemar exo semuanya? No, no, i mean really, aku bukan hatersnya dia, cuman muka dia agak vampir-ish gimana gitu, dan antagonisnya anime vampire knight ada yg mukanya sealus/? dia, so… yeah.

Advertisements

14 thoughts on “EXO-N #12: Endless Waltz

  1. Hai Liana. INI KEREN BANGET, SERIUS. Aku kayak baca novel fantasi, rasanya dapat semua. Aku suka banget. Apalagi ada Kris (aku jarang baca ff soal dia) dan Kris punya kekuatan yang keren.

    Aku suka bagian pertarungan di pesta dansa itu, seru, dan cara deskripsi kamu bisa dengan mudah untuk dibayangin. Kemudian, interaksi antara Kris dan Wendy yang nutup mata itu juga manislah (Kris kelihatan kayak Kakak yang jagain adiknya).
    Cuma yang bagian transformasi Chanyeol itu… Aku kurang ngerasa, soalnya proses transformasinya belum kamu jelasin (kalau aku gak salah baca ya).
    Yang pasti keseluruhan dari cerita kamu ini aku suka. Soal Joshua, aku malah gak tau Joshua itu yang mana (sekarang aku cuma ngikutin EXO atau SM artis yang lain).
    Semangat Liana nulisnya, aku tunggu cerita vampir yang lain.

    P.s: aku belum baca Kris x Jessica, nanti aku baca setelah ini. 🙂

    Like

  2. aaaa a aaaa kaklia akhirnya :” udah nungguin banget series yang ini, bah.

    sewaktu selesai baca, rasanya pengin nangis, like, ‘KENAPA CEPET BANGET SELESAINYA?’. ngga kerasa banget dan aku butuh lagi yang kayak gini, ugh!

    ini keren banget, ok. seperti komen aku di Altar Hell, serasa baca novel terjemahan gitu ah kzl :” apalagi wendychanyeol manis banget di sini. tipe manis yang ngga menye.

    terus terus, untuk kesekian kalinya, aku suka cara kaklia deskripsiin klimaksnya. dan entah kenapa makin kesini jadi suka banget sama sudut pandangnya wendy. kayak… pas aja gitu. ngga nyeleneng. ;_;

    dan ohya, dimana baby mark? LOL.

    Like

  3. Yahh gimana ya kak. Biarpun pair nya chanwen…. Tohh selipan kris yang aha aha aye nya masih betebaran and i like it. Hehe.

    Iya, agak gimana gitu kaka rela nyelipin joshua disini, tapi kalo diliat liat emang mukanya itu kaya ada somethingnya, nahhlo vampir beneran kali lu ya josh.

    Keren ka. Jangankan wendy aku aja senyam senyum bacanya gara gara chanyeol rela waltz tanpa akhir buat wendy. Yang scene dansa di rumah keluarga hong, yang sebelum joshua ngamuk itu kok romantis bgt ya.

    Satu lagi. Suka bgt sama kata kata wendy yang ‘apalah aku yang mempesona tapi masih dalam jangkauan cahayamu’ iya gitu kali katakatanya (males roll up) itu kok kaya mba wendy yang cans gils bilang ‘akumah apa atuh cuma ceceran bumbu batagor ‘

    Kerenlah kak ditungunggu chanwen nya lagi

    Like

  4. ohmygod Lianaaaa apa iniiii huhu. aku baru sekarang ini lho baca cerita chanwen dan ternyata mereka lucu yaaa. dua duanya sama sama rame di grupnya masing masing, tapi di sini kamu nyeritain Wendy yang suka insecure keliatan lebih manusiawi, dan masuk gitu ke karakternya aku sukaaa :”

    fyi sebenernya aku menghindari baca cerita yang berbau bau vampir. apaya, semenjak demam Twilight dan vampir-berkilau muncul kayaknya banyak banget ff yang ceritanya tentang vampir, dan jujur aja gara gara waktu itu aku nonton Twilight bayangan vampir yang klasik, elegan, classy di mata aku berubah hahah xD terlalu kemakan sama ceritanya sih. aku nontonin film film vampir jadul tuh mereka yang pake baju gaya Victoria, tinggal di kastil, semuanya keren dan elegan eh tiba tiba ada vampir berkilau muncul hancur imajinasi aku semua 😐 tapiiiii di sini kamu ngejabarinnya keren, aku suka. aku masih kebayang Wendy, Chanyeol, Kris, Jessica pake baju jaman dulu gitu pas ke pesta (dan di bayanganku all of them were really, really gorgeous.) dan kebayang banget ballroom keluarga Hong itu gimana. aku sampe searching foto Joshua pas baca notes kamu, and yes, dia punya aura vampir banget ahahah xD
    dan Chanyeol… omg aku suka banget sifat bubbly dia di sini. dia emang pacar-able banget sih huhu. ayo Li kutunggu ceritanya Chan nembak Wendy hehe.

    and… what did I spot here… Canadian-line!! wohoooo. aku suka deh. aku bayangin Henry itu kakaknya Wendy yang paling ramah, bubbly mirip mirip Chanyeol. terus kali Kris luar biasa galak, yang mana kalo Chan ngapel sama si Kris langsung dipelototin, ditanyain macem macem. but still aku suka bagian Kris overprotective banget ke Wendy pas di akhir x)) dan really, Jessicaaaa huhu. dia badass banget di sini. makasi udah bikin bias aku keren gini Liiii huhuhu. aku belum baca Altar Hell btw :”

    dan… ini kayaknya udah kepanjangan ya. maafkeun :(( intinya aku suka banget banget. keep writing yaahh!!<3

    Like

    1. YA AMPUN KOMEN PANJANG *terbang ke surga *eh *mati dong
      duh maap banget kak fik baru bales sekarang…
      jadi ada bbrp hal yg mau kubahas di sini. pertama soal vampir berkilau, sejujurnya aku merasa beruntung ga pernah nonton twilight bagian itunya hahaha, cuman sekilas2 doang itupun di iklan tv. aku nontonnya dari anime vampire knight sih kak ahaha dan di sana walau settingnya modern day ttp aja classy sampe gulung2 sendiri di dpn laptop kadang2. makanya aku ciptain karakter2 di sini *krissica terutama doh ya aku putus asa sama sisi ice-nya ni dua org* sekeren itu *yah walaupun mungkin ga sekeren yg di anime sih but i’m trying, aku tdak mau kris nista apapun yg terjadi*
      gak kepanjangan kaaaak bikin oneshot pun takapah XD makasih udah komen kakak!
      PS ditunggu ffnya, akhir2 ini banjir orific bagus tapi hatiku ga bisa pindah dari ff gimana dong TT

      Like

      1. ((terus aku malah bales)) vampire knight!! aku cuman ngikutin season awal doang sih, tapi thanks to vampire knight (dan temen yg ngenalin aku ke dunia anime selain naruto) aku ga segitunya lagi ilfeel ama cerita vampir ehe.

        aku pun mau bikin fanfic lagi, Li, tapi apa daya dunia kpop lagi menjemukan, bias aku keluar semua huhu. rekomen dong sekarang kpop yang lagi banyak penggemarnya siapa sih? haha. kalo ada mood ff lagi pasti kucoba x) ((maaf ya malah menuh-menuhin komen boks kamu huhu. jangan marah)).

        Like

  5. AAAAAAAAAAAAAAAAAAA PECEYE DEMI APA AKU MAU KARUNGIN DIA BUAT AKUUUU!!! SEMPET SYOK JUGA ADA MAS NJOSH DISINI HNGGGGG….. ><

    aku sukaaaaaa banget yg iniiiii….
    Walaupun njosh bukan biasku -lirik woozi- tapi disini dia keren, walau jahat juga gapapa /weks

    btw kakak nyadar gak kalo njosh mirip sama taotao itu tuh, pas 17 jaman adore u, nggak banget, cuma matanya sama cara senyumnya bikin baper ulala gitu deh /ihiks /cari tisu

    aku suka karakter krisnya /abaikan fakta kalo dia absurd/

    nggak ada kata buat ngomen lagi nih. :3 terlalu excited gitu. Wkwkwk..
    Sekuel lagiiiiiiii… Sekarang henrynya gitu :3
    :v

    Like

    1. jangan syok, aku lho ga kenal 17 hahahaks cuman melampiaskan kegemesanku krn ni anak org (baca: joshua) banyak bgt fansnya, sesekali dinistain ah :p
      kapan joshua mirip tao? gantengan joshua lah *dilempar double stick sama si panda* tapi kalo iya aku cari dah.
      iyaaaa kakak kris itu jgn dianggep nista nanti beneran nista. padahal dia kan keren, cuman kadang rada ga beres ajah XD
      weh ada yg request henry ahahaha aku terharu :’) secara dia itu fansnya dikiiiit
      ditunggu aja ya dan makasih udah mampir!

      Like

  6. Meleleh baca ini. entah kenapa aku bisa ngerasain feel TTMan mereka, di mana mereka pada malu2 kucing kalo digodain. hahahaha,,,
    wah,, makasih lho Li, kamu buat ini. aku baca ini pas banget di tgl ulang tahunnya si yeolo. kaya semacem present buat dia walau emang kmu bikinnya ga pas tgl 27.

    betewe aku pas tahu mantannya wendy itu Joshua langsung kepikiran Narin, soalnya ntu anak gila banget sama member seventeen yg namanya Joshua. aku aja tahu member 17 yg namanya Joshua itu juga dari dia.

    ah, aku juga kangen si mocha nih Li,, (lirik komenan atas).
    terakhir aku liat henry itu waktu nonton drama Go Haera di rumah temenku. gaje banget dia.
    bikin dia sama amber lagi dong. hahahay

    Like

    1. nah iyak, target pembacaku itu sbnernya trmasuk kak narin tapi entahlah dia blm muncul2 juga sampe skrg -.-
      kakak kangen henry juga?! waiiii ternyata ada yg ngangenin mochi :p tapi akhir2 ini feelku ke henber agak kurang soanya henber kan ga cocok dibikin romance fluffy, pdhal sekarang lagi ngefeelnya sama yg fluffy2 dulu hahaha. nyusul dah ntar ceritanya.
      makasih kak udah mampir!

      Like

  7. EXO-N 11 Jadi kakak mau bikin vampire series after homo homini lupus???? *ga nyantei* AAAAAAAAAAAA
    Eh btw kenapa dedek Mark nya g sama rookies lg? Ada yg blasteran Amrik juga soalnya kalo ga salah hehehe Tp neng Yeri juga boleh lah *aku ini kenapa*
    EXO-N 12 Uh WenYeol nya unyu deh. Manisnya pas, gulanya takar sendiri ya? *dikata iklan kopi*
    Ayo ayo HenBer dan dedek Mark nya kekeke

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s