[Random Scene] Nothing Else Matters

hqdefault

“Jiwa adikmu itu terlalu berharga, tidak bisa ditukar dengan sembarang jiwa, termasuk jiwamu.”

Kepada orang yang tersenyum miring padanya ini, Chen menyuguhkan penghormatan dan memendam kebencian. Masih dengan sudut-sudut bibir terangkat, pemuda itu lantas bertanya.

“Lalu jiwa mana yang bisa kuambil untuk mengganti milik Kai, Tuanku?”

Kata terakhir membuat Chen setengah mati menahan gidikan jijik. ‘Tuan’? Sial. Kalau bukan demi adiknya, mana mau Chen diperbudak pembunuh orang tuanya seperti sekarang? Dalam hati pun, sebenarnya Chen tidak pernah tunduk pada pria ini; ia hanya menunggu waktu yang tepat selagi mempersiapkan pemberontakan besar-besaran dan menjaga Kai di saat bersamaan.

Pria di hadapan Chen menjentikkan jari. Empat lembar foto melayang pelan dari meja kerja pria itu, berjejer di depan Chen untuk diamati. Tiga gadis dan satu pemuda, Chen tak mengenal mereka semua, dan sebelum diminta, sang tuan telah memberikan penjelasan.

“Cuma empat gadis ini,” –oh, yang ‘laki-laki’ itu ternyata gadis juga?—“yang jiwanya semahal milik adikmu. Cukup serahkan salah satu jiwa mereka padaku dan Kim Kai akan terbebas dari kontrak. Tentu saja, setelah kau menyetor salah satu jiwa gadis ini padaku…”

Telunjuk kurus panjang si pria terarah ke jantung Chen.

“…jiwamu masih akan kupanen dan kujual.”

Tapi Chen tidak menganggap ini masalah. Lihat senyumnya yang masih bertahan di wajah, tak menyiratkan beban atau ketakutan sedikit juga.

“Aku mengerti. Lagipula, memang aku hanya menginginkan Kai yang lepas dari kontrak kita,” ujarnya, “Jadi, itu saja? Kurasa aku bisa melakukan pekerjaan ini dalam satu hari.”

“Kepercayaan diri yang bagus, tetapi segala ucapan perlu pembuktian, dan aku sangat menantikannya.”

Hingga pembicaraan berakhir, senyum Chen tidak berkurang kadarnya sama sekali .

“Anda tak akan kecewa.”

Segera setelah perintah untuk Chen diberikan, Kai—yang sedari tadi mengintip dari celah pintu—berbalik dan melangkah mantap menjauhi ruangan itu. Dalam kepalanya terbayang empat wajah di dalam foto, pemilik jiwa-jiwa bernilai tinggi yang pasti akan ia rebut.

Ya.

Jika kakaknya demikian egois dengan tidak melibatkannya dalam pengambilan keputusan sulit ini, Kai pun tidak akan ragu mengambil langkahnya sendiri untuk melindungi Chen.

Karena selain Chen, bagi Kai tidak ada hal lain yang lebih penting.

end?

.

.

.

.

.

sorry for sudden word vomit. scene ini begitu saja muncul dalam kepalaku tapi kalo dibikin chapter aku ga bisa janji. so aku membuat ini semata2 karena aku pingin nulis. semoga ekspektasi kalian tidak terlalu tinggi :p kalau mau nerusin ini sesuai versi kalian sendiri juga boleh kok 🙂

Advertisements

13 thoughts on “[Random Scene] Nothing Else Matters

  1. ah, chenchen ❤ aku suka ih sama aura kekakakkan dia di sini meski rada egois sih ya. wah kak, belum pernah aku baca word vomit sebagus dan sekeren ini. huhhu. semoga kaak liana berkenan untuk melanjutkan ini 😀

    Like

  2. word vomit macam apa…………..

    Masa awalnya aku kebayang scene ala ala bangsawan jaman dahulu kala li XD trus pas ada kata foto disebut, oh, aku salah setting/plak/ciyeh.exo-fx.ciyeh.mas.chen.sama.mas.kai.sama.mbak.mbak.fx.mau.rebutan.jantung/gak/

    Sori rusuh li/dibuang/

    Like

    1. but serius kak ini word vomit hahaha. iiiiih kok ketauan si kalo fx? trs aku jadi kepingin nerusin ini jadinya aaak jgn memancingku bikin chapter entar ga tamat lagi….
      tapi.
      aku berterima kasih kakak mau mampir ke sini berhubung ini kerandomannya ga ketulungan, idenya dari jin tempayan soalnya *apa *sudah ga jaman :p

      Like

      1. word vomitnya kece, udah itu aja, habis, dari kalimat yang menjelaskan foto langsung ketauan itu mas mas yang sejatinya mbak sesungguhnya adalah amber wkwkwk

        gak usah chapter gapapa liii oneshot aja XD, aku kalau pas bisa mampir, pas ada yang posting dan bisa komen juga insyaaAllah aku bakal datengin kok wkwkw

        Like

  3. Gak tau aku suka sama yang kayak gini, sepenggal cerita. Depannya gak ada, endingnya entah bagaimana, tapi aku suka aja. Aku merasa kakak hebat bisa nulis + berani ngepost sepenggal cerita gini, kalo aku cuman dapet ide sepenggal gak bakalan ketulis terus lupa LOL.

    Anyway ini seru buat dibaca. Dan lebih serunya lagi kalo baca tulisan kakak, latarnya suka beda, kayak ini kebayang jaman kerajaan. Lanjutin aja kak ceritanya X) tapi kalo enggak gak apa-apa sih, ending di sini udah bagus.

    Like

    1. halo sher… eh padahal aku bikin random writing kyk gini gara2 kamu dulu sempat bikin serupa tapi jauh lebih pendek hehe. dan itu membuat pembaca lebih bisa berimajinasi sebetulnya, apalagi klo kalimat yg dimunculkan pendek bgt kan.
      makasih sdh mampir ya 😀

      Like

    1. halo ^^ iya mungkin apa yg akan kai lakukan akan diungkap di chap setelahnya *kyk yg ada lanjutannya aja* krn ini random writing sih ya jadi blm tentu aja terusannya :p gantung bgt emang maafkan akuuu. but terima kasih sdh mampir! XD

      Liked by 1 person

  4. AAAAAAAAAAAAA aku cinta endingnyaaaa dan apa itu vomit word apaaaaa
    aslik masi penasaran sama “–oh, yang ‘laki-laki’ itu ternyata gadis juga?—”
    dan, ya, sedikit guling-guling tida rela ketika Ka Liana konfirmasi kalo ini kemungkinan ngga ada lanjutannya, padahal penasaraaaan :”
    But still, it’s beautiful as it is!!! Lavlavlavit 😀

    Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaand,
    Ka Liana keep writing ❤

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s