EXO-N #13: Going Fishing

20151020061402_esMxE

“Biarkan aku tenggelam di laut.”  (Lu Han – Deep)

***

Memancing itu butuh kesabaran, sayangnya Lu Han tidak memenuhi prasyarat itu.

“Ya Tuhan, apa populasi kaleng sarden baru saja pindah habitat ke laut?!”

Seruan frustrasi Lu Han tertelan hembusan angin sore; pada senar pancingnya terayun hampa sebuah kaleng sarden tanpa isi. Beruntung, tidak ada orang lain di sekitar situ; andai ada, bisa habis Lu Han ditertawakan karena ledakan emosinya yang konyol, khas pemancing pemula. Maklum, orang yang hobi memancing pasti suka menunggu, sementara Lu Han tidak. Ia melakukannya semata karena tidak ada kerjaan dan jenuh di rumah. Berjalan-jalan keliling kota sudah bosan, toh udaranya ya begitu-begitu saja: bau asap. Sekali-sekali, Lu Han ingin menjajal suasana anyar yang sejuk dan bebas, tetapi ia tak tahu harus ke mana. Saat meminta rekomendasi dari teman-teman kerjanya, banyak yang menyarankan Lu Han pergi memancing, maka Lu Han berangkat. Sama sekali ia lupa bahwa teman-teman yang ia tanyai itu merupakan anggota komunitas memancing; ke mana lagi mereka akan mengarahkan Lu Han? Ujungnya, pria 24 tahun bermuka bayi itu terkatung-katung di tengah laut dengan kail yang tidak juga disangkuti hewan air layak makan.

Setelah melempar kaleng ketiganya ke tempat sampah (ia sendiri juga kaget kenapa barang  itu ada di perahu sewaannya; barangkali si pemilik perahu tahu pemancing pemula sering dapat benda tidak berguna), Lu Han kembali menanti-nanti seekor ikan menyangkut di kailnya. Jenis apapun boleh, teri juga tak masalah. Pada waktu berangkat, ia memang berharap bisa memperoleh tuna raksasa seperti di televisi, tetapi menit demi menit berlalu dan Lu Han hilang semangat. Tujuannya jadi berubah: asalkan dapat ikan yang bisa dimakan, Lu Han akan pulang dan membakarnya di rumah untuk disantap bersama nasi. Makan ikan hasil tangkapan sendiri pasti menyenangkan, begitulah Lu Han membatin setiap berusaha menaikkan lagi ambang sabarnya.

Lu Han pasti akan dapat ikan. Entah satu, dua, atau tiga jam lagi.

Tapi matahari sudah hampir terbenam.

“Dengar, Laut,” Lu Han mulai mendeklarasikan tekadnya ke ufuk barat, “aku tidak akan kembali ke pesisir hingga mendapatkan ikan, walaupun itu berarti harus berada di sini sampai malam! Aku tidak akan kalah oleh massa besar air yang bodoh sepertimu! Akan kutarik ikanmu keluar dan kujadikan makan malamku, camkan itu!!!”

Kemudian hening. Lu Han duduk bersila di perahunya, bersedekap, memperhatikan pelampung mata pancingnya penuh konsentrasi. Ia sungguh tak akan tunduk pada laut yang pelitnya minta ampun ini sebab tidak ada rusa[1] yang kalah oleh laut. Rusa hanya boleh kalah oleh tanduk sesamanya. Dan amukan ibunya (ibu Lu Han sangat mengerikan jika memergoki anaknya mencuri lauk sebelum jam makan). Dan kecoak (makhluk itu di mata Lu Han menjijikkan sekali, tidak ada imut-imutnya!). Bukan laut.

Usai melalui penantian yang sedemikian panjang, bisa dibayangkan betapa gembiranya Lu Han ketika senar pancingnya menegang. Dilihat dari intensitas tegangannya, yang tersangkut pasti benda (atau ikan!) berukuran jumbo. Lu Han bangkit, perahunya sedikit oleng, tetapi tak menghentikannya untuk menarik hasil tangkapannya ke permukaan. Senyumnya melebar kala tubuhnya nyaris terjungkal akibat perlawanan si ikan.

“Hehehe, mau menenggelamkanku? Kita lihat siapa yang lebih kuat!!!”

Pembuluh-pembuluh biru berebut muncul di lengan pucat Lu Han. Giginya tanpa sadar bergemeretak melawan gerakan liar ikan besar ini. Joran ditahan gila-gilaan, bunyi putaran rol pancing yang berpadu  bersama riak air mengesankan pertarungan sengit antara si ikan dan si pengail. Tak ada yang mau mengalah, tetapi di setiap pertarungan, tidak pernah ada dua pemenang.

“Ha! Dapat!!!”

Air laut menyembur ke atas, mengiringi ikan raksasa yang baru ditaklukkan Lu Han. Mengabaikan hujan mendadak akibat semburan sementara tadi, Lu Han memicingkan mata demi melihat ikan apa sebenarnya yang ia tangkap.

***

“JADI KAU ORANG YANG MEMANCINGKU?! KETERLALUAN!!!”

***

Plak!!!

Lu Han terpental ke satu sisi perahu akibat ‘tamparan’ ekor makhluk yang tersangkut mata pancingnya. Tambahan beban mendadak membuat perahu agak tak stabil; segera Lu Han menyeimbangkan perahunya dan membuka mata lebar-lebar setelah mengerjap beberapa kali. Ia tak salah  lihat, ‘kan? Maksud Lu Han…

…apa putri duyung ada di dunia nyata?!

Demi lumut kerak yang menempeli perahu ini, yang kuminta adalah ikan yang bisa dimakan, bukan… bukan…

…bukan seorang gadis laut yang cantiknya begini mendebarkan.

Lihat rambut panjang gelap yang berkilau itu. Lihat sepasang mata yang serupa mutiara hitam itu. Lihat pipi pualamnya yang bersemu kemerahan. Lihat bibir mungilnya yang masih manis meski berkedut marah. Lihat pula kulit beludrunya yang dihiasi jalur-jalur basah air laut. Pria mana yang kuat disuguhi pemandangan seindah dan seganjil ini?

“KAU MELIHAT APA, DASAR ANEH!!!”

Crash!!! Air laut kembali menciprati wajah Lu Han, dicipratkan oleh si putri duyung cantik yang aslinya lebih galak dari ibu Lu Han sendiri. Menggunakan telapak tangan, Lu Han  mengusap wajah putus asa sekalian mengeringkannya dari percikan air asin barusan.

Dia tidak bicara dengan bahasa Mandarin! Mana aku mengerti omongannya? Gadis ini imigran dari laut mana, sih? Dan dia tidak bisa dimakan, lagi; terus apa yang harus kumasak nanti di rumah?! Tuhan, tenggelamkan saja aku di laut!!!

(Keluhan si rusa masih berlanjut panjang, dalam cerita ini dipotong untuk keperluan publikasi.)

Namun, serentetan racau batin Lu Han diinterupsi oleh desis kesakitan sang putri duyung. Rupanya, ada robekan pada ekor gadis itu, ulah mata pancing Lu Han  yang sebelum ini tak sengaja menusuk ekor sang putri. Masuk akal jika sang putri berusaha melepaskan diri, tetapi Lu Han malah salah menindaklanjuti upaya itu. Ditarik ke atas ketika mata pancing masih tertanam di ekor pasti sangat menyakitkan buat sang putri—dan Lu Han jadi merasa bersalah sekali.

“Ma-maafkan aku. Biar aku obati.”

Si gadis laut menarik diri, tidak mengizinkan sentuhan pria asing pada tubuhnya, apalagi pria asing yang mencederainya.

“Ehm…” Lu Han menggaruk-garuk kepala canggung, mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini tanpa bicara karena percuma, ia dan sang putri tidak saling memahami. Sebagai percobaan, diraihnya kotak P3K yang disiapkan pemilik perahu untuk setiap penyewa, mengeluarkan kasa dan obat dari sana, lalu memulai drama bisunya. Ia menunjuk-nunjuk luka sang putri, mengambil kasa, dan menepuk-nepuk udara dengan kasa itu untuk menjelaskan niatnya merawat si gadis. Tak lupa ia sunggingkan senyum senatural mungkin agar sang putri duyung merasa nyaman.

Berhasil. Si gadis laut mulai luluh. Takut-takut, ia beringsut mendekati Lu Han, membiarkan lukanya dirawat. Lantaran Lu Han tidak berbuat macam-macam dan terus fokus pada lukanya, kecurigaan si putri duyung pun lenyaplah. Ia tatap Lu Han penuh syukur, dengan senyum tipis yang tanpa sadar terukir, tetapi yang memalukan, saat itulah Lu Han mendongak.

Astaga.

Lu Han tahu dirinya tampan, tetapi tak ada gadis yang pernah menatapnya seintens itu! Dia ‘kan jadi salah tingkah dan gadis laut itu pun sama. Keduanya menunduk nyaris bersamaan; barulah debur dalam dada Lu Han teratur mereda. Selanjutnya, pria muda itu mengumpulkan keberanian untuk menatap si gadis sekali lagi, memperkenalkan diri dengan telunjuk terarah pada diri sendiri. “Lu Han.” ucapnya, sebelum menunjuk gadis yang baru ia tolong. Sang putri duyung tampak bingung.

“Lu Han. Wǒ shì Lù Hán[2],” –dan menunjuk lagi si gadis laut—“Kamu?”

Ragu-ragu, Chorong menunjuk dirinya sendiri.

“Aku?” Masih dengan bahasa yang tak Lu Han mengerti, sang putri bertanya, dan usai menerima anggukan (Lu Han yakin ‘na’ dalam bahasa sang putri pasti berarti ‘aku’), ia malu-malu menjawab, “Chorong. Naneun… Chorong imnida[3].

***

Pukul tujuh malam, bukannya tiba di rumah dengan seember penuh ikan, Lu Han malah membawa pulang seekor manusia—jika itu kata ganti yang tepat.

Mengendap-endap agar tidak ketahuan tetangga, Lu Han memanggul Chorong yang terselimuti jaket, memasukkan sang putri segera ke bathtub penuh air, dan menghembuskan napas lelah di sisi bathtub. Acara memancing hari ini ganjil benar. Ikan tidak muncul satu pun di laut seluas itu sebab kaleng-kaleng sarden menggeser tempat mereka. Sekalinya muncul ikan, ikannya setengah manusia yang galak dan tidak mengerti Mandarin tapi cantiknya luar biasa. Satu jam di tengah laut dihabiskan Lu Han dalam dialog berbahasa isyarat hanya untuk memahami cerita Chorong yang, rupanya, terseret arus begitu jauh hingga salah rumah.  Terakhir, entah kerasukan apa, Lu Han tiba-tiba berjanji akan memulangkan Chorong ke perairan selatan Cina dan merawat Chorong sambil jalan, padahal kapan dia bisa mencuri waktu di sela pekerjaannya untuk menjalankan misi Negeri Dongeng ini?

Aku. Tidak. Akan. Memancing. Lagi!

“Lu Han!”

Yang dipanggil menengadah, menyangka Chorong membutuhkan sesuatu—

“Kena kau!”

—tetapi serangan air dari gadis itu membuatnya terkesiap kaget dan kuyup setengah badan. Seolah mengajak bermain, Chorong terkekeh seraya menaikturunkan ekornya, memercikkan lebih banyak air dari bathtub ke arah Lu Han. Tawanya kian lepas setiap kali Lu Han gelagapan.

Menyaksikan keceriaan Chorong seperti ini membuat Lu Han gagal menyesal telah pergi memancing.

“Dasar jahil!”

Yah, Lu Han pikir memancing tidak buruk-buruk amat, terlebih jika seorang putri manis yang mau menemanimu main air di kamar mandi tersangkut pada kailmu.

TAMAT

[1] Lu, dalam bahasa Mandarin berarti ‘rusa’

[2] Mandarin: Aku Lu Han.

[3] Korea: Aku Chorong.


 

a.n. sorry blm blogwalking, blm balesin komen, blm bikin fic buat sing for you (dan malah bikin lagu ini duluan). but seriously, mungkin sing for you terlalu banyak memberikan feel *empat lagu itu semuanya menimbulkan feel krn munculnya suara2 asing (termasuk chankai yg ternyata suaranya ‘bisa ballad’)* sehingga aku jadi bingung mau nulis apa saking terlalu ngefeel >< 

Advertisements

16 thoughts on “EXO-N #13: Going Fishing

  1. bahhhhhhh, ikan duyung kebawa arus sampe ke perairan cina ini udah wow banget. hahaha, ga bisa ngakak sama sikap luhan yang terlalu mendramatisir keadaan di sini. haha. sifat asli di samping ke-manly-an luhan finally mendapatkan spotlight 😉
    well, for the story-line, no comment; fantasy yg sudah menjadi santapan sehari-hari kak liana is da best 🙂

    nnahhh, padahal aku sengaja ke sini untuk menikmati Sing For You ala kak liana lho. hehe. okee, untuk proyek selanjutnya semangat ya kak 😉 ditunggu bangettt

    Like

  2. Yaampun ini menghilangkan stress tinggiku akibat luhan yang (lagi-lagi) sakit dan (lagi-lagi) matanya kuyu. I relaly hate it-_-
    Dan aku berhasil kaget sendiri tau alurnya begini plus… gaya penulisan kakak berubah banget. Maksudnya berubah jadi lebih santai gituu suka-suka hehehe. Wb-nya dah sembuh nih jadinya? Ditunggu ya fiksi2 lainnya! Hwaiting!

    Like

    1. haa niswa maaf baru bales TT jadi ya mas luhan, aku baru tau dia lgi sakit, percuma banget dia susah2 keluar dari exo ujungnya overwork juga. but anw, aku sendiri kok malah merasa gaya nulisku begini2 aja ya? cuman karakternya luhan aja yg kubikin unyu di sini ahahaha
      makasih udah mampir niswa!

      Like

      1. Grrr iya nggak guna emang si luhan mau keluar exo. Badannya ya begitu, kebanyakan kerja tetep aja berujung sakit. Sakitnya sama lagi kayak pas di exo-_- oke kembali kasih, kak li!^^

        Like

  3. Yaampuuun wkwkwkwk aku ngakak ih. Ternyata Luhan dapet ikan duyung cantik ya x’D Sebelumnya kemarin aku udah sempet visit ke sini tapi aku belum sempet ngubek-ngubek blog ini. Baru pertama baca fict di sini langsung terhibur, duhh gimana fictnya yang lain yahh. Imajinasinya kerennn. Bener gaya menulisnya santai banget, rapi, aku sukaaa. Keep imajinatif, keep writing! ^-^. Follback aku ya hehe.

    Like

  4. Kak, kenapa aku malah membayangkan cerita ini sebagai prolog nya The Little Mermaid? Jadi Luhan itu sebagai pangerannya yang pertama kali ketemu sama Ariel (chorong) Aduh, apa yang salah denganku.. >.<

    Like

  5. Sesuai saran, aku ngubek-ngubek isi blog kakak dan alhasil nemu ff ini.
    Uwooo… ini unyu ngga ketulungan. Tingkahnya Luhan apa lagi. Coba aja kalo setiap mancing dapetnya putri duyung cantik kyak mbak Chorong, pasti laut rame didatengin cowok-cowok jomblo. /duh, imajinasi tingkat dewa\

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s