EXO-N #14: 偏心

tumblr_mjjadwU0of1rfyocwo1_250

“Kamu tidak adil, apa kamu bersikap egois? Matamu, hidungmu, bibirmu, apa mereka harus tetap cantik setiap kali aku memandang?” (EXO – Unfair)

***

“Curaaang.”

Cara Yixing memecah keheningan di antara mereka membuat Fei tak bisa lagi menahan tawa. Bagaimana tidak? Raut iri Yixing—kombinasi bibir mengerucut, mata menyipit, dan penggunaaan nada datar-cenderung-kesalnya yang unik saat bicara—begitu menggelikan sekaligus berharga. Perpaduan kecemburuan dan kekaguman dalam tatapannya pada putri mereka pun menggemaskan sekali. Ya, Fei sadar Yixing terlalu tua untuk disebut demikian, tetapi sayangnya, bertingkah imut tanpa diniati telah menjadi kebiasaan pria itu sejak dahulu.

“Siapa yang curang, sih, Xing? Yuge ‘kan baru lahir, salah apa dia?” canda Fei seraya membetulkan posisi bayinya—Yuge—dalam dekapan.

“Yang kubilang tidak adil itu kamu, Fei.”

“Eh?” Alis Fei terangkat penuh tanya, “Kenapa?”

“Soalnya…”

Jeda panjang. Yixing menghembuskan napas perlahan, tanpa aksara menyatakan ketakjubannya pada sang buah hati. Ia sungguh tak menyangka sesosok malaikat kecil rupawan dapat tercipta dari benihnya yang tertanam di dalam Fei, membawa cahaya baru dalam keluarga kecilnya. Memang sekarang Yuge masih cuek lantaran keasyikan minum susu, tetapi bahkan dalam keadaan seperti itu, Yuge terlihat sempurna di mata Yixing. Belum apa-apa, gadis cilik yang berusia kurang dari 24 jam itu berhasil menawan hati ayah-ibunya.

Namun tetap saja…

“…Yuge itu cantik, tapi genku tidak membekas sama sekali padanya… Perhatikanlah, dia mirip betul denganmu. Matanya, hidungnya, bibirnya, semua semanis milik ibunya. ‘Kan curang.”

Oh, itukah yang Yixing keluhkan? Rasanya kurang tepat juga kalimat tadi dibilang ‘keluhan’ karena buat Fei, Yixing terdengar seolah memujinya. Dengan mengatakan ‘semanis milik ibunya’ seperti barusan, Yixing menerbangkan kembali jutaan kupu-kupu di dasar hati Fei, padahal Fei mengira jutaan kupu-kupu itu akan selamanya lelap pasca menikah. Kepakan sayap mereka makin menggila tatkala Fei menelusuri lekuk wajah Yuge, membuktikan ucapan sang suami bahwa Yuge merupakan kopiannya dalam versi kecil.

Tak pernah Fei merasa seutuh ini sebagai perempuan.

“Xing, Yuge ‘kan anak gadis. Kalau mirip denganmu, dia jadi gadis yang tampan, dong,” Senyum malu-malu Fei yang mengiringi rayuan terselubungnya berhasil menulari Yixing, “Kau coba lagi saja, siapa tahu tahun depan dapat anak lelaki? Kalau iya, barulah kamu bisa berharap dia mirip denganmu.”

“Astaga, jangan terlalu semangat,” Yixing menyeret kursinya mendekati ranjang, lantas mengusap hati-hati perut bawah Fei yang kembali mengendur setelah sembilan bulan tegang, “Ini, dan tubuhmu secara keseluruhan, harus dipulihkan dulu agar kamu tidak letih. Kasihan juga Yuge kalau adiknya datang terlalu cepat, sementara dia masih butuh perhatian.”

Benar. Kehamilan berjarak kelewat rapat pasti akan merepotkan; bisa-bisa momen membahagiakan mereka rusak berantakan akibat perencanaan tak matang. Baguslah Yixing memahami hal ini sebab ia turut ‘merasakan’ susah-senangnya hamil, meski perutnya tidak ikut membesar. Trimester satu, Yixing harus berkawan dengan mual-muntahnya Fei, lari ke sana kemari mencari resep tradisional penghilang enek. Trimester dua, Yixing berjuang sendiri untuk beradaptasi di antara ayunan mood Fei dan stres pekerjaan. Trimester tiga, Yixing memaksa matanya terbuka tengah malam demi menenangkan Fei yang kerap ‘diserang’ kontraksi. Mereka berdua sama-sama butuh istirahat panjang yang mungkin tidak akan sepenuhnya diperoleh dengan keberadaan si kecil Yuge.

Kesimpulannya…

“Tidak apa-apa, nih, mini-Yixing-nya ditunda? Tidak menyesal?” goda Fei sembari mengancingkan pakaiannya; Yuge sudah kenyang dan ingin tidur, maka untuk sementara tugas Fei selesai.

Gelengan diterima Fei dari Yixing sebagai jawaban. “Untuk apa menyesal? Kelahiran Tuan Putri Yuge saja sudah membahagiakanku, kok. Terima kasih banyak.”

Fei hendak menekankan bahwa dirinyalah yang harus berterima kasih karena menerima pendampingan dari Yixing yang tak kenal lelah, tetapi satu kecupan lama di kening serta-merta membungkam wanita itu. Melalui sapuan hangat bibir Yixing, banyak pesan dan perasaan tersampaikan bersamaan. Yixing tahu, tak akan cukup ratusan ‘terima kasih’ menggantikan jerih-payah Fei selama sembilan bulan sembilan hari sepuluh jam 37 menit ke belakang. Tak akan mampu beribu ‘maaf’ menukar tiap butir peluh yang wanita itu cucurkan beberapa jam lalu di kamar bersalin. Tak akan sebanding sejuta ‘aku mencintaimu’ dengan darah dan air mata seorang ibu yang menyertai kedatangan Zhang muda ke dunia. Tapi Yixing ingin Fei membaca jiwanya tanpa serangkai huruf, mendengar suaranya dalam kesunyian, dan beruntung, Fei dapat meresapi semua ini dalam rentang waktu yang singkat.

“Maaf sebelumnya menyebutmu curang,” bisik Yixing kemudian, “Sebetulnya aku sangat bersyukur Yuge mirip denganmu. Bukankah Tuhan amat murah hati, memberiku dua paket keindahan dalam ukuran berbeda?”

Yixing bukan pria romantis, tetapi sekalinya mengucapkan sesuatu yang manis, Fei tidak dapat menyembunyikan kemunculan semburat merah di pipi dan getar halus dalam hati. Tersipu, dipukulnya perlahan lengan atas Yixing untuk mengalihkan perhatian.

“J-jangan kebanyakan menggombal, Xing. Tolong ambilkan air, aku sangat haus.”

“Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia.”

Lesung pipi Yixing tercetak dalam saat ia tersenyum, memesona Fei entah untuk kali keberapa. Tanpa protes, pria itu meraih gelas di atas meja samping ranjang dan mendekatkan ujung sedotan ke bibir Fei. Untuk detil terakhir itu saja, Fei sudah lumayan tersentuh, tetapi sebelum ia minum, Yixing terlebih dulu menyibakkan helai-helai rambutnya yang jatuh ke sisi bibir agar tidak mengganggu. Dengan suksesnya, sentuhan penutup Yixing itu membuat Fei kelimpungan lagi seperti gadis remaja yang baru mengenal cinta.

Curang. Padahal dulu Yixing sudah pernah mencuri hati Fei, haruskah sekarang hatinya dicuri lagi?

***

TAMAT

.

.

.

.

.

[long rant ahead]

ujianku belum selesai, sebenernya, tapi godaan menulis sangat besar! senin selasa masih ada lagi (dan ditambah gong penelitian besar hari selasa dengan 10 subyek manusia sekaligus mestinya membuatku pusing) tapi lihat aku sekarang kejang2 di depan laptop karena

“Jinjja isanghan geo aneunde
Amu mal haji malgo deureobwa”

MAS UMIIIIIIIIN YOU’RE SO UNFAIR GA USAH NGOMONG MAS GA USAAAAAH!

Jadi seperti yg kita ketahui bahwa SM kalo milihin title song itu suka ga nyambung, selalu OOT dari keseluruhan albumnya. ‘Sing for you’ itu nuansanya emang friendship abis *yg mana aku sudah dapet idenya tapi blm ketulis* tapi yg lain feelnya adalah ROMANCE FLUFFY GAK KARUAN! demi ikan paus! ‘Unfair’, ‘Girl x Friend’, ‘On The Snow’ semuanya mainstream romance tapi lagunya enak, wae T.T kalo kyk gini mana bisa aku lepas dari romance. plus otakku masih berkabut gara2 ujian obgyn yg luarh biasah hilarious (skor puji rochyati masih bikin aku sakit hati sampe sekarang) sehingga kebawa sampe fic bahasnya orang melahirkan….

jadi maafkan aku yg lagi2 bawa romance ketika hype sing for you itu friendship-sad….. smoga feelnya tersampaikan.

P.S. ini juga untuk menebus dosaku yg telah ngetroll kemarin. sumpah di post ‘D-1: Real’ itu ada link ficnya, tapi kyknya ga ada yg nemu hehe krn emang bener2 hidden, kalian harus teliti untuk mencarinya :p. aku memang post di tempat lain krn itu rada2 random dan aku malu ngepost di WP, jadi ngepostnya di akun yg lebih tersembunyi

Advertisements

7 thoughts on “EXO-N #14: 偏心

      1. Eh kak, maaf kepotong banyaaakkk TT
        Jadi, aku mulai komen ya kak. Hehe
        /tarik napas/
        Diksi kakak bagus banget kak selalu. Aku sukaaaaa ><
        Maafkan aku ya kak dari tadi kepotong mulu komennya TT

        Like

  1. Keren kaakkkkk ihhh Yixing ya ampun minta diculik banget diem2 menghanyutkan. Unfair pas awal denger gak ngeh tp pas comeback stage ya ampun jongin pls kacamata aplagi mucore hari ini outfitnya cemmacem mulai dr dyo-police chanyeol-chef baek-dr huffftt totally keren banget trus comeback ini umin kebanjiran part ckckckck #curhat

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s