EXO-N #17: Epilog

betray

by Liana D.S.

with [Chinese actor] Wu Yi Fan & [Naruto (anime)] Uchiha Itachi

genre Family, Friendship, Sad length Ficlet (700+ words) rating Teen and Up

posted for Crossover Challengefic by Zulaipatnam

.

[Disclaimer] Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke adalah karakter dari anime Naruto milik Masashi Kishimoto, jadi bukan milik saya. Fanart yang dijadikan cover juga bukan milik saya, saya cuma ngedit saja.

.

“Kata-kata yang ingin kuucapkan, kata-kata yang hilang, akan kuungkapkan padamu walaupun agak sedikit canggung.” (EXO – Sing for You)

***

Kemarin, penghuni sel sebelah dapat pembesuk. Dari hasil menguping, Wu Yifan menyimpulkan bahwa ‘tetangganya’, pria tua yang suka encok itu, dijenguk anak dan cucu sehari sebelum eksekusi mati. Pertemuan terakhir ini diceritakan dengan begitu dramatis oleh sang tahanan kepada rekan satu selnya, tetapi entah kenapa Yifan tidak merasa tersentuh.

Walaupun ya, ada satu sisi diri Yifan yang terusik ketika si kakek menyinggung soal keluarga.

Sepuluh tahun belakangan, ‘keluarga’ agak berubah makna dari perspektif sang pria pirang. Kendati sudah memiliki keluarga baru—tidak lain ya lelaki bersurai hitam diikat yang tengah berjalan di sampingnya ini—Yifan belum lupa (dan masih lumayan rindu) pada saudara sedarahnya. Kenangan akan senyum berlubang serta tangisan pengiring lutut berdarah sang adik enggan minggat dari benak Yifan. Tidak terlalu mengganggu memang, mengingat Yifan sudah menemukan sosok kawan senasib dalam diri Uchiha Itachi, tetapi pemikiran tentang Wu kecil tidak pernah sungguh-sungguh lenyap.

Omong-omong, jika Yifan punya Wu kecil, Itachi pun memiliki Uchiha kecil yang berharga. Yang membuat Yifan penasaran adalah: sebenarnya bagaimana perasaan Itachi sekarang ini terhadap si Uchiha kecil, berkaitan dengan waktu mereka yang sebentar lagi habis? Tidakkah Itachi ingin melihat adiknya untuk terakhir kali (seperti Yifan)?

“Tidak terlalu.”

Yifan tidak kaget ketika Itachi menjawab pertanyaan keduanya yang belum terungkap tadi. Biasa, Itachi memang agak aneh karena selalu mampu membaca isi pikiran orang, tetapi hal ini malah memudahkan mereka membicarakan perkara-perkara sulit. Terkekeh pelan, si pirang menanggapi jawaban singkat Itachi.

Tidak terlalu, berarti masih ada sedikit keinginan bertemu. Mengapa ‘permintaan terakhir’ yang diberikan panitia padamu kau buang begitu saja, bukannya kau pakai untuk memenuhi keinginan itu?”

“Hal yang sama mesti kutanyakan padamu.”

Sialan. Yifan yang ingin mengorek rahasia Itachi jadi kena senjata makan tuan. Ia, meski aslinya tidak ingin menuturkan kisah sedih, tidak bisa serta-merta menolak menjawab Itachi sebab ada sesuatu yang memaksa, tak bisa dilawan, dari tatapan tajam si Uchiha. Akhirnya, Yifan mengungkap rahasianya sendiri dengan cara terbasi yang ia tahu.

Basi, tapi cukup mewakili.

“Adikku sudah 25 tahun, tidak lagi perlu seseorang untuk dipegangi supaya kuat berdiri. Andai dia butuh pun, dia layak mendapatkan orang yang lebih baik dari bajingan seperti kakaknya. Jadi, untuk apa meminta adikku menemuiku kalau aku tidak lagi berarti buat dia?” –Dinginnya udara membantu Yifan mengenali malam walaupun matanya tertutup kain hitam—“Aku selesai, Uchiha. Giliranmu.”

“Sama denganmu,” –Dasar tidak kreatif, cela Yifan, dan Itachi sama sekali tidak menggubris— “tapi kalau di kali lain, di tempat lain, aku dipertemukan lagi dengannya, kupastikan kisah kami akan berubah lebih baik.”

Tuhan tidak mempermainkan garis hidup manusia, Yifan dan Itachi percaya. Dengan siapa seseorang terikat, bagaimana bahagia dan duka berputar bergantian, termasuk juga cara satu kisah ditamatkan, segalanya disesuaikan dengan baik-buruknya manusia itu sendiri. Yifan dan Itachi boleh saja dianggap sebagian besar orang sebagai penjahat kelas kakap, namun dalamnya jiwa siapa bisa baca kecuali Yang Maha Kuasa? Bahkan Yifan dan Itachi sendiri tak tahu apa yang menanti mereka setelah timah panas melubangi dada; hadiah atau hukuman. Mereka lebih siap untuk yang kedua, tetapi jika mereka menerima yang pertama…

…mungkin, senyum juga tangis Wu dan Uchiha kecil yang punya jutaan makna itu akan kembali mewarnai hidup mereka.

Perpisahan tidak selamanya, Yifan dan Itachi berbisik dalam hati tatkala para eksekutor memposisikan mereka di tengah lapangan. Sepasang jiwa yang terlibat komitmen abadi untuk main petak umpet cuma akan berpisah sementara sebelum saling mencari lagi. Dan berpisah lagi. Dan bertemu lagi. Di penghujung hari, mereka masih akan tetap bersama, apapun tantangannya.

Empat belas laras senjata, terbagi dalam dua kelompok, diarahkan ke beberapa titik vital pada tubuh Yifan dan Itachi. Semua bebunyian yang ditimbulkan senjata-senjata tersebut terdengar mirip lonceng maut.  Tinggal menghitung detik sebelum tirai panggung mereka ditutup.

Kata-kata sayang selalu terasa ganjil diucapkan, tetapi batin yang gemetar menunggu kematian ternyata lebih mahir berbahasa. Dengan bibir terkatup, Yifan dan Itachi menyampaikan pesan cinta sederhana yang rumit terjemahnya. Bukan puisi namun mencerminkan dalamnya afeksi. Surat yang berkali-kali dirombak, dirobek, akhirnya terkirim tanpa perangko maupun jasa pos.

Tepat setelah tujuh peluru mengoyak para terpidana, surat-surat ini tiba di tujuannya.

Dua penembak jitu menghembuskan napas letih, samar, sebelum melangkah mundur bersama rekan-rekan mereka, dengan berat hati mengizinkan tim dokter memeriksa keadaan para terhukum.

Wu Shixun dan Uchiha Sasuke baru saja menulis epilog paling emosional untuk cerita orang-orang terkasih mereka.

***

TAMAT

.

.

padahal beberapa ficku dulu sering bikin orang nangis. sekarang? tearjerker mission: failed miserably.

ha. oke ini gak maksimal. satu, karena rumahku dalam keadaan yg gila dan tidak kondusif (jgn tanya gilanya gimana, plis). dua, karena aku lagi baper habis tahu hani-junsu pacaran (itu crackship yg jadi canon, sungguh, dan aku jadi bingung lagi cari otp buat bang umin *penting amat hidupku). tiga, susah menulis fiksi dengan setting eksekusi mati, tapi aku pingin nyoba. maapkan aku mbok jul, ficletnya ga bisa sependek buatan anda huhuhu…. setidaknya ini masih kurang dari seribu kata.

anyway, kurasa semua tau siapa wu shixun. itu nama mandarinnya maknae exo kok, in case ada yg ga tau. ^^

Advertisements

5 thoughts on “EXO-N #17: Epilog

  1. epilog yang menyedihkan, seriuss! ahhh, ini pertama kalinya aku baca crossover fiction dan well, aku jaddi sukaaa! 🙂 hehe
    as always, nice writing kak lianaaa 😀

    Like

  2. lia!!!!! aku baru datang, maafkanlah diriku ini T.T
    well, pertama aku terkejut-jut baca endingnya, jadi adek mereka yang dirumpiin didetik-detik terakhir ternyata jadi eksekutor? waow!!! segila apa Sasuke ama Sehun?
    ini keren, apalagi obrlan didetik terakhir mereka hidup. bermanfaat sekalor. wkwkwkwkwk

    Like

  3. Ko aku pengen ketawa pasa baca bagian Yifan ‘nyebut’ Itachi kakek. Apakah makhluk tangguh Uchiha satu itu setua itu?
    Seperti biasa. Cerita kakak selalu bagus
    Tapi maap nih, ko ada satu kata yg ga srek gitu?
    “Dengan bibir terkatup, Yifan dan Itachi menyampaikan pesan cinta sederhana yang rumit ->terjemahnya.” Bagian terjemahnya kaya rada gimana gitu
    Tapi uwow. Menyayat sekali. Mengingat yang satu mati tragis yang satu keluar dan bikin tragis *apalah* T_T
    Ditunggu crossover selanjutnya kekeke

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s