Obscure Sorrow: Lachecism

background3

Kukhayalkan kejatuhanku sebagai sesuatu yang sangat menyiksa sekaligus penuh pesona.

for Open Series: Obscure Sorrow by Kak Put.

***

Seorang guru besar pernah mengatakan kepadaku bahwa rasa nyeri merupakan peringatan agar kita dapat menjauhi bahaya yang lebih besar. Tentu saja aku mempercayai pernyataannya yang telah didukung berbagai teori dan riset, lagipula aku sendiri pernah membuktikan itu pada suatu masa yang jauh. Aku pernah tersandung, lututku berdarah, dan aku menangis, tapi selanjutnya tidak lagi jatuh di tempat yang sama. Aku pernah terbentur, kepalaku benjol, dan (lagi) aku menangis, tapi setelahnya selalu ingat untuk melihat sekitar sebelum lari kencang-kencang. Aku pernah tertusuk, di jantung, saat dipermalukan beberapa orang teman (yang amat kukasihi), tapi kemudian kucatat nama mereka baik-baik dan selepas itu, akulah yang mempermalukan mereka, dengan cara yang jelas lebih elit. Ah, betapa penuh kenangan, hari-hari yang lampau bersama pedih dan luka… tetapi mereka berdua yang dulu kerap menyayat-nyayatku itu belakangan jarang mampir lagi.

Semula aku berbahagia. Wajar, ‘kan; memang siapa sih yang suka digigit semut api kalau sudah tahu rasa terbakar di kulit karena racunnya? Syukur lalu kupanjatkan pada Tuhan yang telah melindungi hamba kurang ajarnya ini dari segala perkara buruk…

…namun waktu bergulir dalam ketenangan yang kelewat lama dan ganjil hingga aku kembali mendamba kehadiran Sang Luka. Sang Pedih.

Mengapa, aku bertanya, kalian tidak datang sekalipun beragam bahaya menyerbu dari ribuan arah?

Iya, sungguh. Aku tersandung dan lututku berdarah. Aku terbentur dan kepalaku benjol. Aku tertusuk di jantung. Tapi aku tidak kesakitan, sama sekali. Aku berjalan sepanjang jalur penuh serpihan kaca dengan kaki telanjang, darah bermuncrat di mana-mana tapi aku masih tersenyum mengejar kupu-kupu di atas kepala. Menangkapkan Tuan Kelinci untuk Alice yang tersesat. Mengambilkan sepatu kaca Cinderella. Goresan-goresan ini, meski sudah busuk bernanah, pasti bukan luka jika tidak menyakitkan, jadi aku teruskan bersenang-senang, diikuti tatapan cemas orang-orang tersayang. Mereka bilang aku mesti waspada: dia yang terbahak di puncak tahta akan sangat keras jatuhnya. Bersiaplah, nasihat mereka, dan iya, kudengarkan itu. Iya, kupersiapkan itu.

Tapi aku tetap bersenang-senang, dan tatapan cemas orang-orang tidak berhenti membayang.

Mereka memprediksi kejatuhanku semakin dekat. ‘Jatuh’ yang ini akan sangat luar biasa: meremukkan setiap tulang, merusak tiap persendian, mengoyak tiap serat otot… Iya, aku paham (toh tanda-tandanya juga sudah ada, kebanyakan tanda malah, sampai bosan aku), dan aku penasaran bagaimana rasanya. Sakitkah? Kalau iya, well, aku tidak sabar untuk segera menyambutnya.

.

.

lachecism

n. the desire to be struck by disaster—to survive a plane crash, to lose everything in a fire, to plunge over a waterfall—which would put a kink in the smooth arc of your life, and forge it into something hardened and flexible and sharp, not just a stiff prefabricated beam that barely covers the gap between one end of your life and the other.

TAMAT


aku dengar ‘Liana kok nulis soliloquy’ diikuti suara tawa dari kejauhan. kok ada lho org yg bikin challenge sesusah ini -.-

mengenai prompt yg kuambil, lachecism kurasa paling masuk sama tulisan curhatan ini…. tapi kalo ternyata ga masuk prompt ya sudahlah. aku nulis dulu baru milih judul dari prompt soalnya :p anyway, makasih udah ngadain open series ini kakput ^^

Advertisements

13 thoughts on “Obscure Sorrow: Lachecism

  1. YOLO KA LIANA INI WUEDAAAAAANNNNN!!! APIK LAN KUECE TENAN!!! AKU FLIPS UNIVERSE KALO BISA MAH SEKARANG JUGA SAKING BAHAGIANYA ❤ ❤ ❤ ❤ ❤

    Kak seryusan ini out of the box! Gambaran soal lachecism di kepalaku buyar seketika dan digantikan dengan yang lebih runtut dan indaaaaaaaaaaah ❤ westalah ailuvit to the inti bumi and bolak-balik sampai kempor.
    KEEP WRITING KA LIANA! ❤

    Like

  2. wahwahwah, liana ikutan hihihi refreshing banget dan jujur, aku puas banget nget nget sama hasilnya. selamat liana, dan makasih dulu udah ikutan prompt (emang susah, ya? ah tapi pada keren keren hasilnya HAHAHAHAHA) (didepak).

    anyway, ini prompt yang membayangiku. aku pengen bangeeet ngerjain ini sejak aku nulis yg pertama pertengahan tahun lalu. tapi gagal melulu takut terlalu ekstrem. padahal sumpah penasaran sekali. rada salah juga sih gegara aku ngartiinnya secara harfiah. dan kamu ngerjain ini secara metafor ASDKFKGLHJSHA bagus bangeeeeeettttt.

    awalnya emg pada ragu mau ikutan, dan pas jadi tulisannya HEU MASTERPIECE SEMUA. aku suka ini li, suka banget. mungkin karena sebagian diriku sering ngerasa kaya apa yg kamu tulis ya. aku pengen jatuh aja, pengen lecet lecet dan sebagainya, biar sakit banget sampe mati rasa sekalian (reverse psychology gak sih?). juga pengen jatuh duluan, biar di masa depan gak usah jatuh lagi. x))

    lebih ekstremnya, aku sampe pengen ‘being strucked by disaster’ biar tetep membumi dan tau bersyukur. apa yg udah dipunya patut disyukuri. juga buat membentuk kita biar tangguh karena hidup gak cuma lurus lurus aja kan ya. lah aku malah curhat di sini HAHAHAHA.

    koreksi minor dari aku, sekali pun harusnya dipisah pun-nya. karena pun adalah satu kata sendiri yg berdiri utuh kecuali di dua belas perkecualian. ehe. yg lainnya udah gak ada alias mulus banget.

    makasih udah ikutan ya lianaa, makasih udah nulis jujur. semoga jadi legaa paling gak ada manfaatnya deh ehehe. keep writing ❤ ❤ ❤ ❤

    ps: kemaren tuh owner WS berencana mau ngeboyong mini event anak-anak ke sana. gak tau rencananya jadi atau enggak sih, heu (udah kubocorin aja). kalo jadi mungkin aku akan kembali lagi ke sini atau ngejapri kamu buat bahas ini yaaa. 🙂

    Like

    1. kak maap baru bales *rlab
      jadi ya ini, soliloquy itu kalo sepatah aja agak (agak, lho, kak) gampang ditulisnya (walaupun ini rada2 sambil emosi ditulisnya heu maklum curcol), tapi masalahnya kudu masuk prompt sehingga belepotanlah nyari dan untunglah nemu yg pas.
      astaga mati aku lupa koreksi itu coba…. duh kuharap di fic selanjutnya nggak ada heu kak maafkan aku dan terima kasih atas koreksinya.
      dan terima kasih pula atas event menulis jujur ini ahahaha XD keep writing too!

      Like

  3. Wow, Liana, aku salut, dari lachecism, jadi sesuatu yang indah tetapi berdarah-darah, yet strong di saat bersamaan *ketahuan suka menye* Ah, aku nggak tahu mau komen apa lagi yang jelas aku suka sama setiap kalimatnya. Nyess banget.

    Like

  4. Aku baca artinya dulu dan pas baca tulisan kak liana cuman bisa Wow wow wow doang hahaha. Definisinya agak horror yang desperate, tapi kak liana berhasil untuk ngerubah jadi yang… kuat dan punya harap ♥

    Pas ditusuk di jantung aku kaget LOL. Baru sadarnya pertengahan lagi ini banyak metafora (yang emang jagonya kak liana).

    Baguuus kak 👍

    Like

    1. hai sher 🙂 iya emang definisi lachecism itu lgsg menangkap perhatianku krn lumayan ‘aku’, ngarep ada bencana krn kyknya mau ada tapi ga jadi2 *dan sekarang akhirnya kejadian beneran hukuman kali yak* tapi aku melihat ada sedikit sinisme dalam definisi itu dan… ya gitu deh… perasaanku campur aduk sendiri jadinya hehe
      makasih udah mampir ya sher

      Like

  5. banyak orang yang beranggapan kalau sebuah cerita tanpa dialog itu terkesan datar, tapi persepsi itu selalu patah setiap aku baca karya-karya penulis macam Kak liana ketika menggunakan sudut pandang aku. yang namanya cerita terkesan datar buakan cuma dilihat dari segi ‘banyak dialog-nya’ saja, melainkan bagaimana seorang penulis menyuarakan jalan cerita dari seseorang yang ada di dalam pikirannya. dan kak liana berhasilkan membuktikan itu.

    soal koreksi, jujur. aku sudah baca berulang kali dan aku setuju sama La Princessa di atas; minor koreksi dan secara keseluruhan mulus 🙂

    semangat terus untuk menulis dan kuliahnya kak(oh sekarang udah libur kah? kalo gitu, selamat berlibur 😀 hehehe) salam ohorat! 🙂

    Like

    1. salam ohorat juga xian ihiiy
      ya ampun percayakah kamu kalo aku termasuk org yg bosan kalo ga liat dialog dan plotless
      padahal menulis semacam ini (semi-semi nonfiksi) itu perlu lho. dan lumayan buat dijadikan tumpahan curhatan.
      syukurlah kalo banyak yg suka, makasih sdh mampir ^^

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s