EXO-N #23: Aftermath

athenares

a Greek Mythology fanfiction

Athena & Ares

Family, Fantasy, PG-13 for cursing and some violent descriptions

for Open Recto-verso Challenge by Niswa, prompt #8: “Life is fair because it’s unfair to everyone.”

.

“Siapa yang mengendalikan kekuatan? Itu aku, kau dengar?!” (Z.Tao – I’m The Sovereign)

***

Dalam setiap pertempuran, menang atau kalah tidak pernah jadi soal. Perang bagi Athena hanyalah wujud kepicikan pikir manusia, saat mereka tidak menemukan cara menuntaskan konflik selain dengan saling menjatuhkan. Karena itulah, tak sedetik pun Athena menikmati peperangan yang melibatkan dirinya; ayunan-ayunan tombaknya semata ditujukan untuk menghentikan perseteruan.

Wajar jika kemudian Athena melukai adik lelakinya sendiri di medan tempur.

Para nymph yang berjaga di depan kamar Ares, adik Athena, membukakan pintu untuk sang dewi, membiarkannya menengok keadaan ruangan itu sejenak sembari menyusun kata-kata terbaik untuk saudaranya. Zeus ayahnya menceramahi Ares habis-habisan atas ‘kebodohan yang benar-benar keterlaluan ini’ dan Ares, tumben sekali, diam seribu bahasa, tidak meluncurkan protes. Mungkinkah itu karena nyeri pada luka dada dan perutnya? Sebagai dewa, luka tidak akan berakibat fatal, tetapi luka yang diakibatkan senjata Athena jelas sembuh lambat sekalipun Zeus dan Apollo, dewa seni dan pengobatan, sudah turun tangan.

Beratnya rasa bersalah Athena samarkan dengan helaan napas dalam dan langkah tenang memasuki kamar.

Menyadari kehadiran putri tersayangnya, tanpa basa-basi, Zeus ‘memerintahkan’ (Tidak bisakah ia ‘meminta bantuan’ sekali saja dan jujur bahwa dia tidak pandai mendidik?, keluh Athena diam-diam, sedikit jengkel pada keangkuhan sang raja yang disalin Ares sepenuhnya) Athena untuk memperingatkan Ares agar tidak lagi mengatasnamakan kepentingan diri sehingga menyusahkan manusia-manusia yang seharusnya dibela. Anggukan takzim Athena mengiringi berlalunya Zeus dari kamar Ares—dan selanjutnya, sang dewi kembali memperhatikan adiknya.

Ares memalingkan muka kesal.

Bocah manja.

Tapi Athena menahan komentarnya dalam pemikiran saja. Dengan lembut, ia duduk di sisi ranjang Ares, hanya untuk didorong menjauh.

“Pergi, aku muak melihatmu.”

“Aku akan dengan senang hati melakukannya—nanti, setelah bicara denganmu, sesuai permintaan Ayahanda.”

“Apa lagi yang mau kaubicarakan?!” bentak Ares, “Kau cuma cari-cari alasan buat merendahkanku! Kau sama saja dengan Ayahanda, mengataiku bodoh karena memihak pasukan Troya dan menuruti Aphrodite yang tidak menyukai orang Yunani. Tidak usah menyombong lagi, pertunjukanmu di medan perang saja sudah cukup memuaskan!!!”

Meski satu sisi Athena yang memihak keadilan merasa puas menyaksikan ekspresi terluka Ares, sisi hatinya yang lain ternyata sama terluka. Jika menuruti garis akal, tidak ada alasan bagi Athena untuk tidak menghukum Ares: sang dewa berpihak pada pasukan yang terang-terang bersalah dalam perseteruan antara Yunani dan Troya, semata karena kekasihnya, Dewi Aphrodite, berhutang budi pada pangeran Troya yang memujinya sebagai ‘yang paling cantik’ dan tidak menginginkan Troya dihancurkan Yunani. Sesungguhnya, Athena berencana menempatkan Ares di garda depan pasukannya untuk membantu Yunani, tetapi pengkhianatan ini memancing murkanya.

Hal mana disesali Athena setelah perang usai.

Kemenangannya menjadi cacat sebab dia, yang biasa mengendalikan diri untuk tidak melukai kerabat-kerabatnya sendiri ketika bertempur, sempat takluk oleh nafsu ingin ‘memberi pelajaran’.

“Aku minta maaf.”

Kalimat singkat Athena membuat si dewa brutal tertegun. Kendati begitu, keningnya masih berkerut tak suka.

“Untuk apa?”

“Untuk melukaimu,” Athena menatap lurus sepasang manik merah adiknya, “Aku bersumpah tak akan melakukannya lagi.”

“Buang saja sumpahmu!” –padahal sumpah Athena adalah satu dari beberapa yang terkokoh di Olympus— “Kau dan aku melambangkan adu kekuatan tak berujung, Athena, jadi aku tidak akan berhenti bahkan setelah aku mengalahkanmu!!!”

Sesuai dugaan, Ares mengatakan hal tersebut. Bukannya tidak setuju—sebagian dari kalimat Ares memang benar adanya—tetapi Athena merasa perlu meluruskan beberapa hal. Ia menggeser duduknya supaya benar-benar bisa mengunci pandang dengan Ares selagi berpendapat.

“Dalam pertempuran, yang mesti kau kalahkan bukan aku, tetapi iblis yang bersemayam dalam dirimu sendiri. Kemenangan atasnyalah kemenangan yang sejati dan aku, hari ini, telah kalah olehnya sehingga melukaimu demikian parah di luar kendaliku,” Athena memberi penekanan di penghujung ucapannya, “Benar Nike mendatangiku, sayangnya ia tidak hinggap juga dalam jiwa ini, Ares.”

Tidak adil. Andai Nike—burung nirwana yang melantunkan melodi kejayaan—ada dua ekor, maka Athena akan lebih dari bersedia untuk berbagi dengan Ares. Pada kenyataannya, Nike hanya mau memilih satu sisi: yang dinaungi cahaya kebenaran, bukan yang ditenggelamkan suramnya kebencian. Ares tidak mau menempati sisi Athena, begitu pun sebaliknya, maka terjebaklah keduanya dalam keabadian konflik. Athena ingin membawa Ares ke bawah keteduhan yang sama, tetapi esensi diri Ares adalah nafsu, tak akan sanggup berlama-lama diam tanpa menyebabkan kekacauan.

Dan Athena berhenti mencoba. Ia biarkan Ares bertindak semaunya, dengan ia di belakang untuk menghukum Ares apabila sudah kelewat batas. Barulah setelah sekian lama, Athena mau mencoba lagi, memperbarui pemikiran adiknya yang agak sinting itu, berharap nasihatnya kali ini mencerahkan benak adiknya barang sedikit.

Ares menutup matanya dengan telapak tangan, berdesis ngilu.

“Keluar, Athena.”

“Kau yakin tidak bu—“

“KELUAR!!!”

Baiklah, misi membuka pikiran Ares kembali gagal. Athena mohon diri, tak lupa sekali lagi menyampaikan permohonan maaf. Langkah Athena setenang saat dia masuk, pula gerakannya saat menutup pintu sangat berhati-hati agar tidak mengganggu si empunya kamar. Telapak sang dewi bersandar beberapa lama pada pintu tersebut, menata hatinya yang berantakan.

Mengapa ia sanggup membimbing ribuan manusia ke jalan kebijaksanaan, tetapi tidak sanggup membawa serta Ares?

***

Sekali lagi kalah, sekali lagi dipermalukan, sekali lagi ditinggalkan oleh Nike.

Ares menulikan telinganya dari omelan tak penting Zeus, yang masih sibuk membanding-bandingkannya dengan Athena ‘sang maha cerdas’. Iya, ujung-ujungnya dia cuma bocah yang iseng masuk medan tempur karena bosan dan ingin merusuh, sementara Athena merupakan simbol kedewasaan, pecinta perdamaian yang amat dihormati. Tak pernah berubah; Zeus selalu memandang keturunannya—selain Athena—sebagai aib belaka.

(Atau setidaknya begitulah yang Ares pikir hingga mendapati kekecewaan seorang ayah di mata Zeus, bukan rasa jijik, tatkala menatapnya.)

Pendengaran Ares baru berfungsi kembali saat sosok Athena memasuki jangkauan pandangnya. Untuk apa dia kemari?!, batinnya sebelum berdecak kesal, Huh, pasti disuruh Ayahanda menasihatiku juga. Sialan!

Prasangka inilah yang mendasari tindakan Ares berikutnya.

“Pergi, aku muak melihatmu.”

Tapi Athena bergeming. Terbacalah kepedihan pekat di balik iris kelabunya, sesuatu yang lumayan mengherankan Ares. Apa yang disedihkan seorang pemenang pertempuran? Nyanyian Nike merupakan lagu terindah yang melambungkan para ksatria, termasuk mereka berdua, lalu mengapa awan kemuraman turun sebegitu rendahnya di wajah sang dewi setelah diperdengarkan senandung itu?

“Aku minta maaf.”

Kening Ares berkerut, makin tak mengerti. Minta maaf? Athena, yang dibela dan diagungkan bahkan oleh dewa-dewi Olympus, minta maaf pada ‘anak’ sepertinya?

“Untuk apa?” –Pertanyaan ini diajukan semata demi menjawab rasa penasaran; Ares toh tidak akan memaafkan Athena untuk apapun.

“Untuk melukaimu. Aku bersumpah tak akan melakukannya lagi.”

Lelucon murahan macam apa ini? Kalau Ares tidak sedang kesakitan sekali, ia pasti akan tertawa terbahak-bahak. Peperangan tanpa perlukaan adalah omong kosong besar. Justru di situlah kesenangannya, Athena bodoh! Membelah, memenggal, membantai… tanah mesti dibanjiri warna merah agar pesta bisa dimulai! Dikenal sebagai dewi paling cerdas, Athena rupanya hanya seorang romantisis konyol!

“Buang saja sumpahmu! Kau dan aku melambangkan adu kekuatan tak berujung, Athena, jadi aku tidak akan berhenti bahkan setelah aku mengalahkanmu!!!”

(Iya, mulut yang mengasari Athena itu bergerak menuruti kehendak sisi tergelap Ares, satu-satunya asal suara hati yang bisa Ares dengar, menutup matanya supaya tidak melihat suatu perkara dari sudut pandang berbeda. Teriakan si hati begitu berisiknya sampai Ares tidak menyadari ada sesuatu yang terlewatkan.

Aslinya, ada satu perasaan ini, kecil sekali mirip sebutir debu, yang lumayan menggetarkan ketika Athena mengaku menyesal menyakiti Ares. Getaran itu bukan seperti getar Bumi saat Poseidon sang dewa gempa marah, tidak, melainkan menyerupai getar dawai lira Apollo, halus saja tapi tak dapat diabaikan. Kemenangan senantiasa menjadi fokus Ares dalam sebuah pertempuran… tetapi tanpa disangka-sangka, Athena menghargai hal lain di atas itu.

Athena menghargai kehidupan, termasuk milik adik lelakinya yang liar.

Itu mengusik Ares.

Sedikit.)

Deklarasi perang tiada akhir tadi harusnya cukup untuk mengusir Athena. Ares sudah membuat dirinya cukup jelas: bahwa pembicaraan ini tidak usah diteruskan. Mau diperpanjang sejauh apa juga, Ares masih akan tetap menyemai amarah di kalangan manusia, memperbesar pertengkaran supaya terjadi kontak fisik intens yang akan melukai kedua pihak terlibat, kemudian bersenang-senang dalam kepungan bau anyir serta patahan senjata. Namun, barangkali Athena terlalu senang menemani adiknya itu. Ia perlama kunjungannya yang menjemukan dengan lebih banyak wejangan.

“Dalam pertempuran, yang mesti kau kalahkan bukan aku, tetapi iblis yang bersemayam dalam dirimu sendiri. Kemenangan atasnyalah kemenangan yang sejati dan aku, hari ini, telah kalah olehnya sehingga melukaimu demikian parah di luar kendaliku. Benar Nike mendatangiku, sayangnya ia tidak hinggap juga dalam jiwa ini, Ares.”

Jadi, apa kefasihan berbahasa si tengil pengantar pesan Hermes menulari Athena… atau Apollo merasukinya hingga bisa merapal puisi sebasi itu? Yang mana pun, Ares tak kuat mendengarnya lebih lama lagi. Ia akan muntah, sungguhan, walaupun bagaimana Athena menyatakan kekalahan lumayan menghiburnya. Ha. Tapi Athena kalah oleh dirinya sendiri. Kurang ajar, apa kata-kata tadi disengaja untuk menyindir Ares? Kalau dipikirkan, ujaran Athena seolah mempertegas bahwa ‘aku tak terkalahkan kecuali oleh diriku, tentu saja. Lihat, ‘diriku’ masih bisa mengalahkan meskipun kalah!’ Cih. Racun berkedok madu. Ares membayangkan tangannya mengambil tombak dan menusukkannya ke perut Athena, memuntirnya sampai darah bermuncrat ke mana-mana, biar Athena kapok bermanis-manis seperti tadi. Dorongan ini sayangnya tidak didukung oleh tubuhnya yang masih dalam fase penyembuhan, sehingga kebencian Ares kian meluap, mengaduk-aduk dasar dadanya, enggan dienyahkan.

“Keluar, Athena.”

Athena tampak masih cemas. Persetan. Kesendirian malah lebih bagus buat Ares sekarang ini. Mana Athena paham soal kegusaran yang menyiksa Ares jika sang dewi tidak pernah merasakan emosi serupa? Aih, perempuan itu mulai buka mulut lagi, dasar keras kepala. Ribut pula.

“KELUAR!!!”

Setelah kebanyakan berpetuah, Athena akhirnya mau berbalik dan pergi. Perlukah Ares menerangkan betapa bangga ia ketika menemukan raut takluk di wajah kakak perempuannya?

Yang menyebalkan, perasaan yang bergulung-gulung tadi belum mau musnah.

(Seperginya Athena, Ares mencengkeram alas tempat tidurnya hingga kusut. Athena boleh banyak berteori dan Ares tidak menyimak sama sekali, tetapi hari ini lain. Dewi Perang yang Tak Terkalahkan dengan lapang dada menyatakan dirinya ‘kalah’, lantas menyebut Nike yang singgah di pundaknya tidak menyinggahi hatinya yang berbalur dosa. Dosa karena telah melukai seseorang tanpa dasar kuat.

Segumpal perasaan memuakkan yang Ares tahan di dasar dada sejatinya bukan keinginan memuntir tombak di perut Athena. Itulah rasa iri karena tidak memiliki kebijaksanaan sebesar Athena—dan ketika setitik kebijaksanaan itu mulai meresapi Ares akibat ucapan Athena, Ares sulit menerimanya.

Tidak adil, memang, kisah penciptaan Ares ini. Mengapa harus Athena yang memborong semua kebaikan sementara Ares bergelimang salah? Ares ingin sedikit, sedikit saja, bertindak sehati-hati Athena, tetapi terkutuklah pintu-pintu jiwanya yang tertutup tanpa kunci pembuka.

Yang ganjil, pada pagi berikut, kerinduan Ares pada wangi darah dan kehancuran tidak semenggelegak sebelumnya. Masih ada, tetap besar, namun berkurang—entah siapa yang mencurinya.)

TAMAT


ya ya pairnya emang WTH sekali but they have the feels *mungkin aku delulu. maaf ya pat aku ganti jajaran castmu. ada empat sih yg kuganti dr jajaran dodek-nya pat: ares, athena, aphrodite, dan hefestus.

aku mengucapkan terima kasih banyak yg sudah follow dan memberikan komentar membangun atau sekedar menyemangatiku ttp nulis, your reviews are precious teman2 TT tapi blkgan selain buat nulis fic aku mager beraaat hiks

 dan utk niswa… MAAP AU-NYA BERAAT TT aku sdh sedetil mungkin menulis keterlibatan dua dewa-dewi ini di Perang Troya sih, detil yg perlu utk cerita saja tentunya. semoga kamu ngerti sehingga bisa mereview dg enak *bow

jikai! dodekatheon retold! (memenuhi request tertunda  dr beberapa pembaca :p)

Mischievous Grin, Hermes

Advertisements

7 thoughts on “EXO-N #23: Aftermath

  1. Niswa, aku vote fict-nya kak liana untuk masuk top 3 event kamu ya 🙂 dan selanjutnya *buru2 ngubur fict punya sendiri*haha*
    kak lianaaa, ah ini pairing-nya crack ya. pertama kali baca tapi somewhat aku bisa ikut enjoy baca pairing baru ini 😀 pengolahan karakter Ares ini tuh yang paling mengesani(?) hatiku jikalau aku pakai pendekatan mimetis dengan karakter asli mas zitao yang terkadang terlalu frontal dan kekanak-kanakan itu, uhuhu. pengolahan karakter dewa-dewi ini udah top kak, toppp.
    terus narasi dalam kurung yang bertebaran di fict ini adalah variasi yang makin mbedain fict-nya kak liana dari yang lain, dan lagi-lagi itu mengesani(?) diriku 😀
    terus pertama kali juga aku menemukan satu kata unik di sini, -perlukaan- (sebut saja aku norak :D) dan aku ngga akan bahas soal ini terdaftar di KBBI atau tidak tapi jujur kata ini baru banget untukku. haha. (ketahuan malas menggauli KBBI)
    (satu lagi sebelumnya, tanpa baca cast, berbekal lihat poto sebelah wajah itu aku kira sehun eh ternyata mas zitao, huhu.)

    ah, kak liana, maafkan atas komentarku yang semrawut ini T_T anyway, kak liana yang semangat ya untuk segalanya! nulisnya, kuliahnya juga. hehe. stay health 😀 ayo semangattt 😀

    Like

  2. Ya ampun sebel banget sama ares
    Dari semua dewa-dewi paling sebel sama ares-aphrodite, tapi kalo versi mars masih agak mending sih
    Athena tumben agak mellow
    Awalnya aku ga bisa bayangin seulgi jadi athena
    Seulgi kan semacam yixing versi cewek alias kadang suka lama nyambungnya
    Tao cocok banget jadi ares,
    Jadi penasaran sama pasangan paling miris aphrodite-hephaestus
    Kalo TaoSeul couple ga terlalu random sih, aku pernah baca fic mereka di aff tapi sayang ga lanjut, padahal ceritanya seru

    Like

  3. Seulgi itu emang pairable banget kak. Meskipun kadang jadinya malah crack-pair XD
    Ares emang dimana-mana mesti nyebelin yah. Dan kurasa Tao itu lumayan cocok dapet sisi emosiannya Ares. Secara wajah garang sudah oke. Mau bentak-bentakan juga boleh. HUHU
    Kalo selama ini sih, orang kan cuma bisa nge-judge Ares itu yang nyebelin lah, pembuat onar lah, dan baru bisa paham gimana perasaannya dia sering dibanding-bandingin sama athena. Athena kan anak kesayangannya Zeus, jadi yah jelas Ares banyak ngiri.
    Ini keren sekali lah senpai. Aku mau ngetik panjang tapi entar malah jadi blabbering ga jelas XD Maap baru bisa mampir. Keep writing. 🙂

    Like

  4. Hfff. Tarik napas panjang dulu, karena aku akhirnya membaca fiksi ini sebanyak tiga kali. Dua kali waktu pertama di-pingback, satu kali waktu mengoreksi, hehe.

    Oh ya sampai lupa, selamat malam, Kak Liana. Mudah-mudahan penilaianku bisa meningkatkan semangat kakak dalam menulis Dodekatheon Retold (bener kan?) ini, ya 🙂

    1. Kesesuaian prompt dan konsep rectoverso dengan tulisan.
    – Aku suka banget cara kakak ngolah konsep rectoverso-nyaaa, nggak membosankan. Nggak seperti membalik dua sisi mata uang, selesai. Tapi ada bumbu lain yang disematkan di dua sisi tersebut, yang amat “berkebalikan”. Nancep rectoverso-nya. Kalau prompt-nya, cukup dapet lah, meskipun tidak terlalu mendetail (hanya tersirat) tapi udah okelah.

    2. Karakterisasi.
    – Huft, tanpa perlu narasi yang membosankan, aku bisa menangkap dengan baik karakter dari Athena dan Ares, juga sang ayah Zeus. Sebetulnya jadi lumayan tertarik dengan mitologi Yunani, berhubung aku cuma tahu soal kotak Pandora. Coba lain kali aku mampir ke dodekatheon retold yang lain.
    – Tapi, ada tapinya. Aku tidak bisa membayangkan cast yang ada, huhu. Jadi, ini kuanggap murni orific karena apa, ya, lebih bagus begitu, mungkin. Karena aku bukan orang yang bisa membayangkan jika namanya diganti, hehe. Tapi it’s okay, lah, itu hak kakak untuk membuat imagine cast sebagai tao atau siapalah.

    3. EyD
    Ada beberapa kesalahan berbahasa yang kutemukan, sebagai berikut:

    a. Zeus ayahnya ….. -> ini seharusnya ditulis dengan koma menjadi “Zeus, ayahnya, ……
    b. memperhatikan -> kata berimbuhan ini seharusnya menjadi “memerhatikan”. Karena kata dasarnya perhati, dan huruf k,t,s,p itu kalau ketemu imbuhan pasti lebur.
    c. Sesudah kata “tapi” seharusnya diberi tanda koma (,)
    d. Sesudah kata “dan” yang terletak di awal kalimat harus menggunakan koma (,). Selain itu, kata “dan” seharusnya tidak diletakkan di awal paragraf.
    e. Mau tanya, perlukaan itu apa, ya? Aku nggak pernah dengar hehe. Menurutku di konteks kalimat kakak, pakai kata “luka” pun nyambung, kok.

    Selebihnya, aku suka alur dan tema yang dibawakan. Pesan moralnya dapet, ending-nya pun oke punya. Tetap semangat menghasilkan karya-karya baru, ya.

    Salam hangat,

    Niswa

    Like

    1. huwaaha aku fokus ke koreksinya, thanks niswa! terutama poin D, iya aku tau itu salah tapi sayangnya ada suatu appeal dari kata ‘dan’ atau ‘tapi’ (padahal yg bener ‘tetapi’, aku tau, tapi kadang feelnya ngenaan pake ‘tapi’… yah sudahlah ntar aku benerin lagi :p) untuk membuatnya jadi penegasan di awal kalimat (kamu kedengeran kayak dosen pembimbing skripsiku btw, serius), sehingga aku mengesampingkannya saat menulis hingga saat ini, kesalahan itu seperti kesalahan yg menarik utk dilakukan berulang T.T. ‘perlukaan’, yeah, itu cuma iseng masang, sama kayak luka cuman biasanya di modulku dosen2 pada nulis perlukaan so maaf itu boros.
      aku mau mendiskusikan bbrp poin juga nih.
      A. koma mengapit penjelasan itu memang memudahkan, tapi aku pernah liat beberapa penulis yg ga pake. bener kamu sih tapi kurasa
      C. ga kebalik? kalo ‘akan tetapi,…’ memang iya, tetapi kalo ‘tetapi’ itu justru sebelumnya bukan? sumbernya di sini: http://berbahasa-bersastra.blogspot.co.id/2012/06/pemakaian-tanda-baca-sesuai-eyd.html
      overall correction discussion: ini masalah serius, aku justru menemukan feel dalam kesalahan penulisan. parah kan?
      anyway, makasih banyak koreksinya love you niswa! XD

      Like

      1. Untuk poin yang c, itu maksudku kalau tapi-nya ada di awal kalimat atau awal paragraf. Kalau di pertengahan memang iya, di belakang kata ‘tapi’.

        Dan yeah, untuk penggunaan “tetapi” itu juga aku masih belom bisa nerapin sepenuhnya. Masih enakan pake tapi gitu hehe. Iyaa kita sama-sama belajar kak liana ^^

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s